5. Dihujat

Pak Hasan masih terlihat emosi, tapi kini dia sudah duduk disamping Bu Aida. Kamil juga masih terlihat bingung, dia merasa serba salah, meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang marah, atau tetap berdiri di sana. Saat dirinya mau memutuskan meninggalkan kedua orang tuanya, Hakim kakak tertua dan istrinya_Sarah datang dengan wajah pias.

"Gawat Pa, kejadian tadi di pernikahan Kamil dan Raya viral. Keluarga kita dihujat." Hakim memperlihatkan media sosialnya.

Pak Hasan yang tadinya masih membara kini perlahan duduk di samping Bu Aida. Nafasnya masih berat, dadanya naik turun menahan emosi yang belum sepenuhnya reda. Sementara itu Kamil berdiri beberapa langkah dari mereka, wajahnya diliputi kebingungan. Kakinya seperti terpaku di lantai—ingin pergi, tapi juga tak punya keberanian meninggalkan kedua orang tuanya dalam keadaan seperti itu.

Baru saja ia hendak melangkah mundur, suara langkah tergesa terdengar dari arah pintu.

Hakim, kakak tertuanya, datang bersama sang istri, Sarah. Wajah keduanya pucat, napas mereka sedikit terengah, seolah habis berlari.

"Gawat, Pa…” suara Hakim terdengar tegang. "Kejadian tadi di pernikahan Kamil dan Raya… viral. Keluarga kita dihujat habis-habisan.”

Semua langsung menoleh.

"Viral?” ulang Bu Aida lirih, tangannya mulai gemetar.

Hakim tanpa banyak kata langsung menyodorkan ponselnya. Layar itu menampilkan video—detik-detik Kamil mengucapkan talak tepat setelah akad. Suara-suara tamu yang panik, Raya yang terdiam syok, hingga Pak Santoso yang rubuh… semuanya terekam jelas.

Bu Aida menatap layar itu dengan mata membesar. Jari-jarinya bergetar saat mulai menggulir kolom komentar.

Satu per satu kata-kata itu seolah menampar hatinya.

[Gak punya hati banget itu laki.]

[Baru akad langsung talak? Ini bukan manusia.]

[Kasihan banget si cewek… dihancurin di depan umum.]

[Keluarga cowoknya pasti sama aja. Gak punya adab.]

[Semoga dibalas setimpal!]

Nafas Bu Aida tercekat.

Komentar demi komentar semakin kejam.

[Ini penghinaan, bukan pernikahan.]

[Laki-laki kayak gini jangan dikasih kesempatan hidup enak!]

[Kasihan orang tua si perempuan… pasti hancur.]

[Jadi istri, jadi janda, langsung jadi yatim.]

[Ya Allah kasian banget. Moga keluarga laki-laki diadzab oleh Allah.]

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tangannya tak lagi kuat memegang ponsel itu hingga sedikit gemetar.

"Ya Allah…” suaranya pecah. “Kenapa jadi seperti ini?”

Pak Hasan yang tadi diam, kini rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam ke arah Kamil—lebih dingin dari sebelumnya.

"Lihat…” ucapnya pelan tapi penuh tekanan. "Ini akibat dari perbuatan kamu.”

Kamil menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia melangkah mundur satu langkah, merasa seisi ruangan kini menekannya.

Hakim menghela napas panjang, wajahnya masih tegang.

"Bukan cuma itu, Pa…” lanjutnya. "Nama keluarga kita ikut terseret. Banyak yang mulai cari tahu siapa kita. Ini bisa berdampak ke bisnis, ke semuanya.”

Sarah yang sejak tadi diam, menatap Kamil dengan kecewa.

"Kamu gak cuma menghancurkan hidup Raya…” ucapnya lirih tapi menusuk. "Kamu juga menghancurkan nama baik keluarga ini.”

Sunyi.

"Makanya punya otak dipakai dikit Mil!" Hakim terlihat emosi.

Tak ada yang berani bicara lagi.

Tiba-tiba ponsel di tangan Bu Aida bergetar. Nama salah satu sahabatnya muncul di layar. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengangkat telepon itu.

"Ha… halo…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Belum sempat ia berkata banyak, suara di seberang langsung menyeruak, terdengar jelas penuh emosi.

"Jeng… saya gak nyangka keluarga kalian sesadis itu. Kalau memang dari awal gak niat menikahkan putranya, harusnya jangan disetujui. Jangan mempermalukan anak orang seperti itu!”

Bu Aida terdiam. Bibirnya bergetar.

"Padahal selama ini aku salut sama keluarga Jeng Aida… kalian itu dikenal baik, gak memandang harta, mau bermenantukan orang biasa. Tapi ini... ini keterlaluan, Jeng. Kasihan sekali itu anak perempuan, jadi istri langsung jadi janda. Kehilangan ayahnya pula.”

Setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris pelan.

Air mata Bu Aida jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

"I… iya… saya…” suaranya patah, tak sanggup melanjutkan.

Namun suara di seberang tak berhenti.

"Ini bukan cuma soal kalian lagi, Jeng. Ini sudah jadi pembicaraan semua orang. Nama keluarga kalian sekarang… benar-benar hancur.”

Deg.

Kalimat itu seperti menghantam tepat di dadanya.

Bu Aida terisak keras. Tangannya refleks memegang dada, seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat di sana.

"Sa… sakit…” lirihnya pelan.

Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. Nafasnya mulai tak beraturan, wajahnya memucat.

"Maaaa..” Hakim langsung bergerak cepat, menangkap tubuh ibunya yang mulai limbung.

Pak Hasan yang tadi masih diliputi amarah, kini langsung panik. “Aida!”

Sarah ikut mendekat, membantu menopang tubuh Bu Aida yang semakin lemah.

"Ma, tarik napas… pelan-pelan, Ma…” ucap Sarah panik.

Namun Bu Aida terus terisak, tangannya masih mencengkeram dada.

"Kenapa jadi seperti ini… Ya Allah… keluarga kita…” ucapnya terbata-bata di sela tangis.

Suasana di ruang tamu itu berubah mencekam dalam hitungan detik. Tangis tertahan, napas yang memburu, dan rasa bersalah yang menggantung di udara seolah menyesakkan dada siapa pun yang berada di sana.

Bu Aida tampak semakin lemah. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi, sementara air matanya terus mengalir tanpa bisa ia bendung. Tangannya mencengkeram dada, seakan ada beban berat yang menekan hatinya.

Pak Hasan yang melihat kondisi istrinya langsung panik. Tanpa pikir panjang, ia berseru tegas, suaranya bergetar namun penuh keputusan.

"Kita bawa mama ke rumah sakit! Hakim, siapkan mobil!"

"Baik, Pa!" Hakim menjawab sigap. Ia langsung berbalik, langkahnya cepat menuju meja tempat kunci mobil biasa diletakkan.

Namun belum sempat ia menjauh, suara lirih Bu Aida menghentikannya.

"Gak usah..." ucapnya terbata, napasnya tersengal. "Mama gak kuat... kalau harus dihujat netizen..."

Semua terdiam.

Kalimat itu jatuh seperti pisau, menorehkan luka yang lebih dalam dari sekadar sakit fisik. Bukan hanya tubuhnya yang lemah, tapi juga hatinya yang hancur karena malu dan tekanan.

Hakim menghentikan langkahnya. Ia menoleh ragu ke arah ayahnya.

Pak Hasan menghela napas panjang, rahangnya mengeras. Ia menatap istrinya dengan penuh rasa iba, lalu perlahan menggenggam tangan Bu Aida.

"Jangan khawatir," ucapnya pelan namun tegas, mencoba menenangkan. "Kita gak akan dihujat..."

Ia berhenti sejenak. Tatapannya perlahan bergeser, tajam menusuk ke arah Kamil yang berdiri membatu di sudut ruangan.

"...kita kan bukan bagian dari orang yang gak punya perikemanusiaan."

Kalimat itu terdengar dingin, penuh makna. Tidak perlu teriakan, tidak perlu amarah meledak—tatapan dan nada suaranya sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti.

Kamil menunduk. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, ia tidak mampu membalas satu kata pun.

Sementara itu, tangis Bu Aida pecah semakin keras. Bukan hanya karena sakit yang ia rasakan, tapi karena kenyataan pahit yang harus ia terima—bahwa luka terbesar dalam hidupnya justru datang dari anak yang ia lahirkan sendiri.

Terpopuler

Comments

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Kesian orangvtak berdosa kena impaknya.Ibu yg tulus di hujat natizen kerana perbuatan anak lelakinya.

2026-08-26

0

Yati Syahira

Yati Syahira

kamil juga ngalamin dihinakan dan dihancutkan jgn jumawa

2026-07-18

0

Mutaharotin Rotin

Mutaharotin Rotin

smoga cepat dapat karma si kampret Kamil

2026-07-19

0

lihat semua
Episodes
1 1. Menikah
2 2. Tekad Raya
3 3. Pemakaman
4 4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5 5. Dihujat
6 6. Sesal Bu Rahma
7 7. Doa Raya
8 8. Dipecat
9 9. Demi Ego
10 10. Bu Aida Pergi
11 11. Berawal Dari Percakapan Itu
12 12.Lamunan Raya
13 13. Amarah Kamil
14 14. Pertemuan Pertama
15 15. Menyalahkan Orang Lain
16 16. Pagi Yang Berbeda
17 17. Bukan Siapa-siapa
18 18. Melawan
19 19. Ditahan
20 20. Yang Disalahkan
21 21. Di Kantor Polisi
22 22. Penangguhan Penahanan
23 23. Dipaksa Menjauh
24 24. Permohonan Laporan Dicabut
25 25. Maaf Yang Dipaksakan
26 26. Diterima Kerja
27 27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28 28. Ditinggalkan
29 29. Mengaku Hamil
30 30. Menghubungi Kamil
31 31. Permohonan Amanda
32 32. Diundang Podcast
33 33. Dilamar Amanda
34 34. First Kiss
35 35. Izin Dari dr. Andra
36 36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37 37. Jadi Talent
38 38. Saat Raya Bersinar
39 39. Bukan Sekedar Imajinasi
40 40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41 41. Saat Andra Mulai Melunak
42 42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43 43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44 44. Akad Yang Tak Terucapkan
45 45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46 46. Mematangkan Konsep
47 47. Batas yang Kembali Terlewati
48 48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49 49. Rumah Yang Hangat
50 50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51 51. Tiga Tahun yang Hilang
52 52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53 53. Langkah yang Tak Terhenti
54 54. Pak Hasan Kembali Murka
55 55. Pagi yang Penuh Kejutan
56 56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57 57. Badai Tanpa Angin
58 58. Diantara Ingatan Yang Samar
59 59. Cinta di Hadapan Penolakan
60 60. Nama yang Belum Diakui
61 61. Cinta yang Dipertanyakan
62 62. Wanita di Balik Luka
63 63. Obrolan di Ruang Keluarga
64 64. Langkah Nekad Amanda
65 65. Senyum yang Berbeda Arti
66 66. Hati Orang Tua yang Hancur
67 67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68 68. Raya di Mata Pak Hasan
69 69. Satu Pengakuan
70 70. Lamaran Demi Menutup Aib
71 71. Hari Ketika Semua Berakhir
72 72. Kembali Ke Indonesia
73 73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74 74. Malam Penuh Penyesalan
75 75. Wajah dari Masa Lalu
76 76. Salting di Pagi Hari
77 77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78 78. Make Over dan Make Baper
79 79. Kejutan Di Pagi Hari
80 80. Antrean Untuk Masa Lalu
81 81. Pasien Bernama Masa Lalu
82 82. Tenang Itu Bernama Raya
83 83. Curhat di Ruang VIP
84 84. Pembuktian Seorang Raya
85 85. Rahasia yang Mulai Tercium
86 86. Jadi Bintang Tamu
87 87. Suara yang Dirindukan
88 88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89 89. Pertemuan dan Perbandingan
90 90. Malam Penuh Pengakuan
91 91. Lampu Hijau untuk Raya
92 92. Ucapan Selamat Tidur
93 93. Wanita Masa Depanku
94 94. Ketika Kenyataan Menampar
95 95. Di Ambang Pintu Maaf
96 96. Panggilan Sebelum Tidur
97 97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98 98. Undangan Makan Malam
99 99. Lamaran Tidak Langsung
100 100. Pulang Seorang Diri
101 101. Amanda Mengandung Anakku?
102 102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103 103. Berpacu Dengan Waktu
104 104. Mengaku Mempelai Pria
105 105. Sebuah Suara Lantang
106 106. Disuruh Memilih
107 107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108 108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109 109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110 110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111 111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112 112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113 113. Gunting Pita
114 114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115 115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116 116. Dibalik Kepanikan Kamil
117 117. Di Balik Topeng Kesedihan
118 118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119 119. Takdir Menemukan Jalannya
Episodes

Updated 119 Episodes

1
1. Menikah
2
2. Tekad Raya
3
3. Pemakaman
4
4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5
5. Dihujat
6
6. Sesal Bu Rahma
7
7. Doa Raya
8
8. Dipecat
9
9. Demi Ego
10
10. Bu Aida Pergi
11
11. Berawal Dari Percakapan Itu
12
12.Lamunan Raya
13
13. Amarah Kamil
14
14. Pertemuan Pertama
15
15. Menyalahkan Orang Lain
16
16. Pagi Yang Berbeda
17
17. Bukan Siapa-siapa
18
18. Melawan
19
19. Ditahan
20
20. Yang Disalahkan
21
21. Di Kantor Polisi
22
22. Penangguhan Penahanan
23
23. Dipaksa Menjauh
24
24. Permohonan Laporan Dicabut
25
25. Maaf Yang Dipaksakan
26
26. Diterima Kerja
27
27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28
28. Ditinggalkan
29
29. Mengaku Hamil
30
30. Menghubungi Kamil
31
31. Permohonan Amanda
32
32. Diundang Podcast
33
33. Dilamar Amanda
34
34. First Kiss
35
35. Izin Dari dr. Andra
36
36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37
37. Jadi Talent
38
38. Saat Raya Bersinar
39
39. Bukan Sekedar Imajinasi
40
40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41
41. Saat Andra Mulai Melunak
42
42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43
43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44
44. Akad Yang Tak Terucapkan
45
45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46
46. Mematangkan Konsep
47
47. Batas yang Kembali Terlewati
48
48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49
49. Rumah Yang Hangat
50
50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51
51. Tiga Tahun yang Hilang
52
52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53
53. Langkah yang Tak Terhenti
54
54. Pak Hasan Kembali Murka
55
55. Pagi yang Penuh Kejutan
56
56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57
57. Badai Tanpa Angin
58
58. Diantara Ingatan Yang Samar
59
59. Cinta di Hadapan Penolakan
60
60. Nama yang Belum Diakui
61
61. Cinta yang Dipertanyakan
62
62. Wanita di Balik Luka
63
63. Obrolan di Ruang Keluarga
64
64. Langkah Nekad Amanda
65
65. Senyum yang Berbeda Arti
66
66. Hati Orang Tua yang Hancur
67
67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68
68. Raya di Mata Pak Hasan
69
69. Satu Pengakuan
70
70. Lamaran Demi Menutup Aib
71
71. Hari Ketika Semua Berakhir
72
72. Kembali Ke Indonesia
73
73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74
74. Malam Penuh Penyesalan
75
75. Wajah dari Masa Lalu
76
76. Salting di Pagi Hari
77
77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78
78. Make Over dan Make Baper
79
79. Kejutan Di Pagi Hari
80
80. Antrean Untuk Masa Lalu
81
81. Pasien Bernama Masa Lalu
82
82. Tenang Itu Bernama Raya
83
83. Curhat di Ruang VIP
84
84. Pembuktian Seorang Raya
85
85. Rahasia yang Mulai Tercium
86
86. Jadi Bintang Tamu
87
87. Suara yang Dirindukan
88
88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89
89. Pertemuan dan Perbandingan
90
90. Malam Penuh Pengakuan
91
91. Lampu Hijau untuk Raya
92
92. Ucapan Selamat Tidur
93
93. Wanita Masa Depanku
94
94. Ketika Kenyataan Menampar
95
95. Di Ambang Pintu Maaf
96
96. Panggilan Sebelum Tidur
97
97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98
98. Undangan Makan Malam
99
99. Lamaran Tidak Langsung
100
100. Pulang Seorang Diri
101
101. Amanda Mengandung Anakku?
102
102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103
103. Berpacu Dengan Waktu
104
104. Mengaku Mempelai Pria
105
105. Sebuah Suara Lantang
106
106. Disuruh Memilih
107
107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108
108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109
109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110
110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111
111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112
112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113
113. Gunting Pita
114
114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115
115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116
116. Dibalik Kepanikan Kamil
117
117. Di Balik Topeng Kesedihan
118
118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119
119. Takdir Menemukan Jalannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!