3. Pemakaman

Langit siang itu mendung, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti keluarga besar Pak Santoso. Awan kelabu menggantung rendah, angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah. Sejak pagi, rumah duka tak pernah sepi dari pelayat yang datang silih berganti.

Tangis lirih terdengar dari dalam rumah. Beberapa kerabat mencoba menenangkan Bu Santoso yang terus menangis tanpa henti. Kehilangan suami tercinta dalam waktu yang begitu mendadak membuat hatinya seakan ikut runtuh.

Di sudut ruangan, Raya duduk terpaku.

Matanya sembab, wajahnya pucat. Ia bahkan tidak tahu harus menangis atau tidak. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang datang bertubi-tubi. Dalam waktu kurang dari satu jam, hidupnya berubah drastis—menjadi istri, lalu janda, dan kini… kehilangan ayahnya.

Raya menatap ke arah jasad ayahnya yang sudah terbujur kaku, dibalut kain kafan. Dadanya sesak.

"Ayah…” lirihnya hampir tak terdengar.

Tangannya gemetar saat ia mencoba menyentuh ujung kain kafan itu. Dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang biasanya selalu hangat memeluknya.

"Maafin Raya, Yah!” suaranya pecah. “Raya belum sempat bikin Ayah bangga…”

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Satu per satu, hingga berubah menjadi isak yang tak bisa dibendung lagi.

Beberapa orang mendekat, mencoba menenangkan. Namun rasa kehilangan itu terlalu besar untuk sekadar dihapus dengan kata-kata.

Tak lama kemudian, proses pemberangkatan jenazah dimulai.

Suara doa menggema pelan, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Para pelayat ikut mengiringi, langkah mereka berat, suasana hening hanya diisi oleh tangis yang tertahan.

Raya berjalan di antara kerumunan, langkahnya lemah. Beberapa kali ia hampir terjatuh jika tidak ditopang oleh kerabat di sampingnya.

Saat keranda diangkat, Raya menatapnya dengan pandangan kosong.

Itu benar-benar ayahnya.

Ayah yang tadi pagi masih sempat berbicara dengannya… kini pergi untuk selamanya.

"Ya Allah…!” bisiknya pelan, suaranya nyaris hilang terbawa angin.

Di pemakaman, tanah sudah digali. Lubang itu terlihat begitu dalam—seakan menjadi batas antara dunia yang fana dan keabadian.

Hujan rintik mulai turun, menambah suasana sendu.

Satu per satu, orang-orang mengelilingi liang lahat. Doa kembali dipanjatkan. Raya berdiri tak jauh dari sana, tubuhnya kaku, matanya tak lepas dari setiap proses yang terjadi.

Saat jasad Pak Santoso mulai diturunkan ke dalam liang lahat, Raya tak mampu lagi menahan dirinya.

"Ayah…!” teriaknya, suaranya pecah penuh keputusasaan.

Ia melangkah maju, namun segera ditahan.

"Raya, Nak… ikhlasin…” ujar seseorang dengan suara bergetar.

Namun bagaimana mungkin ia mengikhlaskan secepat itu?

Baru saja ia kehilangan segalanya.

Ayahnya adalah tempat terakhirnya bersandar. Satu-satunya orang yang selalu mempercayainya tanpa syarat.

Dan sekarang… semuanya hilang.

Raya jatuh berlutut di tanah yang mulai basah oleh hujan. Tangannya mencengkeram tanah, seolah ingin menghentikan waktu agar tak berjalan lebih jauh.

"Ayah… jangan tinggalin Raya!” tangisnya pilu.

Orang-orang di sekitarnya ikut menunduk, beberapa tak kuasa menahan air mata. Pemandangan itu begitu menyayat hati.

Tanah mulai ditimbun perlahan.

Setiap sekop tanah yang jatuh terasa seperti menghantam hati Raya. Ia hanya bisa menatap, tak berdaya, saat sosok yang paling ia cintai benar-benar menghilang dari pandangannya.

Hingga akhirnya… hanya tersisa gundukan tanah.

Dan keheningan.

Setelah semua selesai, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hujan pun perlahan reda, menyisakan udara dingin yang menusuk.

Namun Raya masih di sana.

Duduk diam di depan pusara ayahnya.

Matanya kosong, air matanya sudah hampir habis. Ia bahkan tak tahu harus merasa apa lagi.

"Raya janji, Yah…” bisiknya lirih, suaranya serak.

"Ayah tenang aja… Raya bakal jadi orang yang kuat. Raya bakal wujudin semua cita-cita Ayah…”

Tangannya menyentuh tanah makam itu dengan lembut.

"Raya bakal buktiin… kalau Raya bisa… bikin Ayah bangga…”

Angin berhembus pelan, seolah membawa pergi kesedihan yang terlalu berat.

Namun jauh di dalam hati Raya, luka itu baru saja dimulai.

Dan tanpa ia sadari, hidupnya ke depan… akan jauh lebih keras dari yang pernah ia bayangkan.

***

Sementara itu, di tempat yang berbeda…

Mobil hitam milik Kamil melaju membelah jalanan kota tanpa ragu. Wajahnya terlihat tegang, namun ada sorot kepuasan yang tak bisa ia sembunyikan. Tangannya menggenggam setir erat, seolah masih mengingat jelas apa yang baru saja ia lakukan.

Ia baru saja menjatuhkan talak tiga… tepat setelah akad.

Bukan karena emosi. Bukan pula karena terpaksa. Melainkan… pilihan.

Pilihan yang menurutnya adalah bukti cinta.

Beberapa menit kemudian, mobilnya memasuki area parkiran sebuah apartemen mewah. Ia turun dengan langkah cepat, nyaris tergesa. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju lift, menekan tombol lantai tujuan dengan jari yang sedikit bergetar.

Ding.

Pintu lift terbuka.

Kamil melangkah keluar, berjalan menyusuri lorong panjang yang sunyi. Ia berhenti di depan sebuah pintu, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menekan bel.

Tak butuh waktu lama.

Pintu itu terbuka.

Seorang wanita berdiri di sana—Amanda.

Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan riasan tipis. Namun saat melihat Kamil, keningnya sedikit berkerut.

"Kamil?” suaranya terdengar heran. “Bukannya hari ini lo nikah?”

Kamil tersenyum.

Senyum yang sulit diartikan.

"Boleh gue masuk dulu?” tanyanya pelan.

Amanda mengangguk, meski masih diliputi rasa bingung. Ia memberi jalan, membiarkan Kamil masuk ke dalam apartemennya.

Begitu pintu tertutup, suasana mendadak hening.

Kamil berdiri di tengah ruangan, menatap Amanda lekat-lekat. Seolah memastikan bahwa wanita di hadapannya ini nyata—bukan sekadar angan yang selama ini ia perjuangkan.

"Ada apa, Mil? Lo bikin gue deg-degan,” ujar Amanda sambil menyilangkan tangan di dada.

Kamil menghembuskan napas panjang.

Lalu…

"Aku udah lakuin,” ucapnya pelan, namun tegas.

Amanda mengernyit. “Lakuin apa?”

Kamil mendekat selangkah.

"Aku nikahin dia… dan langsung aku talak.”

Hening.

Wajah Amanda langsung berubah. Matanya membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Lo… apa?” suaranya nyaris berbisik.

"Aku talak dia. Talak tiga,” ulang Kamil tanpa ragu. “Selesai saat itu juga.”

Amanda mundur satu langkah.

"Lo serius?” tanyanya, suaranya mulai bergetar. "Lo gila, Kamil?!”

Namun Kamil justru tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan.

"Enggak. Justru ini… bukti kalau aku serius sama kamu.”

Amanda terdiam.

"Semua ini aku lakuin demi kamu, Man,” lanjut Kamil, suaranya melembut. “Aku mau buktiin kalau gak ada siapa pun yang bisa gantikan kamu di hidup aku. Bahkan… pernikahan itu pun gak berarti apa-apa buat aku.”

Setiap kata yang keluar dari mulut Kamil terdengar mantap.

Yakin.

Seolah ia benar-benar percaya dengan apa yang ia katakan.

Namun Amanda justru menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Ada keterkejutan.

Ada ketakutan.

Dan… entah kenapa, ada sedikit keraguan yang mulai menyelinap di hatinya.

"Mil…” ucapnya pelan. “Lo sadar gak sih… apa yang barusan lo lakuin itu?”

Ia tak melanjutkan kalimatnya.

Karena bahkan ia sendiri tak tahu harus menyebutnya sebagai apa.

Cinta?

Atau… kehancuran?

Kamil melangkah lebih dekat, menatapnya penuh harap.

"Gue cuma mau lu tahu,” katanya lirih, “gue rela ngelakuin apa aja buat lo.”

Ruangan itu kembali hening.

Namun kali ini… bukan karena damai.

Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit mulai tumbuh di antara mereka.

Terpopuler

Comments

ceuceu

ceuceu

ga sabar liat kehancuran kamil manusia durjana

2026-07-13

2

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Semoga Amanda tidak mencintai Kamil

2026-08-26

0

Yunita Asep

Yunita Asep

tunggu aja lu y kamil, karma berlaku...!

2026-08-24

0

lihat semua
Episodes
1 1. Menikah
2 2. Tekad Raya
3 3. Pemakaman
4 4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5 5. Dihujat
6 6. Sesal Bu Rahma
7 7. Doa Raya
8 8. Dipecat
9 9. Demi Ego
10 10. Bu Aida Pergi
11 11. Berawal Dari Percakapan Itu
12 12.Lamunan Raya
13 13. Amarah Kamil
14 14. Pertemuan Pertama
15 15. Menyalahkan Orang Lain
16 16. Pagi Yang Berbeda
17 17. Bukan Siapa-siapa
18 18. Melawan
19 19. Ditahan
20 20. Yang Disalahkan
21 21. Di Kantor Polisi
22 22. Penangguhan Penahanan
23 23. Dipaksa Menjauh
24 24. Permohonan Laporan Dicabut
25 25. Maaf Yang Dipaksakan
26 26. Diterima Kerja
27 27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28 28. Ditinggalkan
29 29. Mengaku Hamil
30 30. Menghubungi Kamil
31 31. Permohonan Amanda
32 32. Diundang Podcast
33 33. Dilamar Amanda
34 34. First Kiss
35 35. Izin Dari dr. Andra
36 36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37 37. Jadi Talent
38 38. Saat Raya Bersinar
39 39. Bukan Sekedar Imajinasi
40 40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41 41. Saat Andra Mulai Melunak
42 42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43 43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44 44. Akad Yang Tak Terucapkan
45 45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46 46. Mematangkan Konsep
47 47. Batas yang Kembali Terlewati
48 48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49 49. Rumah Yang Hangat
50 50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51 51. Tiga Tahun yang Hilang
52 52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53 53. Langkah yang Tak Terhenti
54 54. Pak Hasan Kembali Murka
55 55. Pagi yang Penuh Kejutan
56 56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57 57. Badai Tanpa Angin
58 58. Diantara Ingatan Yang Samar
59 59. Cinta di Hadapan Penolakan
60 60. Nama yang Belum Diakui
61 61. Cinta yang Dipertanyakan
62 62. Wanita di Balik Luka
63 63. Obrolan di Ruang Keluarga
64 64. Langkah Nekad Amanda
65 65. Senyum yang Berbeda Arti
66 66. Hati Orang Tua yang Hancur
67 67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68 68. Raya di Mata Pak Hasan
69 69. Satu Pengakuan
70 70. Lamaran Demi Menutup Aib
71 71. Hari Ketika Semua Berakhir
72 72. Kembali Ke Indonesia
73 73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74 74. Malam Penuh Penyesalan
75 75. Wajah dari Masa Lalu
76 76. Salting di Pagi Hari
77 77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78 78. Make Over dan Make Baper
79 79. Kejutan Di Pagi Hari
80 80. Antrean Untuk Masa Lalu
81 81. Pasien Bernama Masa Lalu
82 82. Tenang Itu Bernama Raya
83 83. Curhat di Ruang VIP
84 84. Pembuktian Seorang Raya
85 85. Rahasia yang Mulai Tercium
86 86. Jadi Bintang Tamu
87 87. Suara yang Dirindukan
88 88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89 89. Pertemuan dan Perbandingan
90 90. Malam Penuh Pengakuan
91 91. Lampu Hijau untuk Raya
92 92. Ucapan Selamat Tidur
93 93. Wanita Masa Depanku
94 94. Ketika Kenyataan Menampar
95 95. Di Ambang Pintu Maaf
96 96. Panggilan Sebelum Tidur
97 97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98 98. Undangan Makan Malam
99 99. Lamaran Tidak Langsung
100 100. Pulang Seorang Diri
101 101. Amanda Mengandung Anakku?
102 102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103 103. Berpacu Dengan Waktu
104 104. Mengaku Mempelai Pria
105 105. Sebuah Suara Lantang
106 106. Disuruh Memilih
107 107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108 108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109 109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110 110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111 111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112 112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113 113. Gunting Pita
114 114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115 115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116 116. Dibalik Kepanikan Kamil
117 117. Di Balik Topeng Kesedihan
118 118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119 119. Takdir Menemukan Jalannya
Episodes

Updated 119 Episodes

1
1. Menikah
2
2. Tekad Raya
3
3. Pemakaman
4
4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5
5. Dihujat
6
6. Sesal Bu Rahma
7
7. Doa Raya
8
8. Dipecat
9
9. Demi Ego
10
10. Bu Aida Pergi
11
11. Berawal Dari Percakapan Itu
12
12.Lamunan Raya
13
13. Amarah Kamil
14
14. Pertemuan Pertama
15
15. Menyalahkan Orang Lain
16
16. Pagi Yang Berbeda
17
17. Bukan Siapa-siapa
18
18. Melawan
19
19. Ditahan
20
20. Yang Disalahkan
21
21. Di Kantor Polisi
22
22. Penangguhan Penahanan
23
23. Dipaksa Menjauh
24
24. Permohonan Laporan Dicabut
25
25. Maaf Yang Dipaksakan
26
26. Diterima Kerja
27
27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28
28. Ditinggalkan
29
29. Mengaku Hamil
30
30. Menghubungi Kamil
31
31. Permohonan Amanda
32
32. Diundang Podcast
33
33. Dilamar Amanda
34
34. First Kiss
35
35. Izin Dari dr. Andra
36
36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37
37. Jadi Talent
38
38. Saat Raya Bersinar
39
39. Bukan Sekedar Imajinasi
40
40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41
41. Saat Andra Mulai Melunak
42
42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43
43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44
44. Akad Yang Tak Terucapkan
45
45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46
46. Mematangkan Konsep
47
47. Batas yang Kembali Terlewati
48
48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49
49. Rumah Yang Hangat
50
50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51
51. Tiga Tahun yang Hilang
52
52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53
53. Langkah yang Tak Terhenti
54
54. Pak Hasan Kembali Murka
55
55. Pagi yang Penuh Kejutan
56
56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57
57. Badai Tanpa Angin
58
58. Diantara Ingatan Yang Samar
59
59. Cinta di Hadapan Penolakan
60
60. Nama yang Belum Diakui
61
61. Cinta yang Dipertanyakan
62
62. Wanita di Balik Luka
63
63. Obrolan di Ruang Keluarga
64
64. Langkah Nekad Amanda
65
65. Senyum yang Berbeda Arti
66
66. Hati Orang Tua yang Hancur
67
67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68
68. Raya di Mata Pak Hasan
69
69. Satu Pengakuan
70
70. Lamaran Demi Menutup Aib
71
71. Hari Ketika Semua Berakhir
72
72. Kembali Ke Indonesia
73
73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74
74. Malam Penuh Penyesalan
75
75. Wajah dari Masa Lalu
76
76. Salting di Pagi Hari
77
77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78
78. Make Over dan Make Baper
79
79. Kejutan Di Pagi Hari
80
80. Antrean Untuk Masa Lalu
81
81. Pasien Bernama Masa Lalu
82
82. Tenang Itu Bernama Raya
83
83. Curhat di Ruang VIP
84
84. Pembuktian Seorang Raya
85
85. Rahasia yang Mulai Tercium
86
86. Jadi Bintang Tamu
87
87. Suara yang Dirindukan
88
88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89
89. Pertemuan dan Perbandingan
90
90. Malam Penuh Pengakuan
91
91. Lampu Hijau untuk Raya
92
92. Ucapan Selamat Tidur
93
93. Wanita Masa Depanku
94
94. Ketika Kenyataan Menampar
95
95. Di Ambang Pintu Maaf
96
96. Panggilan Sebelum Tidur
97
97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98
98. Undangan Makan Malam
99
99. Lamaran Tidak Langsung
100
100. Pulang Seorang Diri
101
101. Amanda Mengandung Anakku?
102
102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103
103. Berpacu Dengan Waktu
104
104. Mengaku Mempelai Pria
105
105. Sebuah Suara Lantang
106
106. Disuruh Memilih
107
107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108
108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109
109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110
110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111
111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112
112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113
113. Gunting Pita
114
114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115
115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116
116. Dibalik Kepanikan Kamil
117
117. Di Balik Topeng Kesedihan
118
118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119
119. Takdir Menemukan Jalannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!