DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

1. Menikah

Raya menatap pantulan wajahnya di cermin, jemarinya tanpa sadar menyentuh pipinya sendiri. Ia hampir tak mengenali dirinya. Riasan yang lembut namun elegan membuat wajahnya bersinar. Mata itu tampak lebih hidup, meski di dasar hatinya tersimpan kegugupan yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

Kebaya putih yang melekat sempurna di tubuhnya membuatnya terlihat anggun. Sederhana, tapi berkelas. Seperti sosok yang hari ini akan ia jalani—seorang istri.

"Kamu cantik banget, Ray… Ibu sampai pangling melihatnya," ucap sang ibu dengan mata berkaca-kaca, penuh haru.

Raya tersenyum kecil, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Ini semua berkat MUA yang sudah profesional, Bu," jawabnya ringan sambil menoleh pada Mbak Mira yang berdiri di sampingnya.

Mbak Mira tersenyum bangga. "Bukan cuma karena make up, Mbak. Memang dari sananya sudah cantik."

Suasana hangat itu terpotong saat suara dari luar kamar terdengar.

"Mempelai laki-laki sudah datang! Tolong mempelai perempuan siap-siap. Dalam sepuluh menit lagi akad akan dilaksanakan!"

"Itu suara Om Irwan," gumam Raya pelan.

"Baik, Mas!" sahut Mbak Mira lantang, lalu segera merapikan kembali kerudung Raya, memastikan setiap lipatan jatuh dengan sempurna.

Sementara itu, Pak Santoso dan istrinya bergegas keluar dari kamar pengantin. Wajah keduanya memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba.

Di halaman rumah yang telah disulap menjadi tempat akad yang sederhana namun indah, rombongan mempelai pria sudah terlihat. Mobil-mobil terparkir rapi, dan beberapa pria berseragam batik turun sambil membawa hantaran.

Pak Santoso melangkah maju dengan senyum lebar, tangannya terulur menyambut seorang pria paruh baya yang berjalan paling depan—ayah dari Kamil.

"Assalamu’alaikum…" sapa Pak Santoso hangat.

"Wa’alaikumussalam…" jawab pria itu, menjabat tangan Pak Santoso erat. "Akhirnya… hari yang kita tunggu datang juga, San."

"Iya…" suara Pak Santoso sedikit bergetar, matanya berbinar. "Terima kasih sudah datang. Silakan, silakan masuk."

Istri Pak Santoso pun ikut menyambut para wanita dari pihak mempelai pria dengan senyum ramah.

"Silakan Ibu… mari masuk," ucapnya lembut sambil menyalami satu per satu.

Beberapa keluarga tersenyum hangat, membalas sapaan dengan penuh sopan santun. Suasana terasa khidmat sekaligus hangat, diiringi lantunan shalawat yang diputar pelan dari pengeras suara.

Di antara rombongan itu, Kamil berjalan dengan langkah tenang. Wajahnya tampan, rapi dengan jas dan peci hitam yang menambah kesan berwibawa. Sekilas, ia tampak seperti pengantin pria pada umumnya.

Namun, jika diperhatikan lebih dalam… ada sesuatu yang berbeda.

Senyumnya.

Tipis. Dingin. Dan entah mengapa… terasa seperti menyimpan sesuatu yang tak diketahui siapa pun.

Pak Santoso sempat menatapnya sekilas, lalu tersenyum bangga.

"Itu Kamil, tampan sekali kan?" bisiknya pada istrinya.

"Iya… tampan sekali," jawab sang istri pelan.

Tak ada yang menyadari… di balik penyambutan hangat itu, ada takdir yang sedang bersiap meruntuhkan segalanya.

Sepuluh menit lagi, akad akan dimulai.

Dan kehidupan Raya… tak akan pernah sama lagi.

Pintu kamar pengantin perlahan terbuka.

Raya melangkah keluar dengan hati-hati, jemarinya menggenggam ujung kebaya putihnya agar tidak tersandung. Langkahnya pelan, anggun, seolah setiap pijakan menyimpan doa dan harapan. Suasana di dalam rumah mendadak lebih hening, beberapa pasang mata menoleh, terpaku pada sosok pengantin perempuan yang berjalan menuju masa depannya.

Raya menunduk sedikit, senyum tipis terukir di bibirnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Antara gugup… dan pasrah.

Di depan, tempat akad telah tertata rapi. Hamparan karpet, meja sederhana, dan kursi yang telah diisi oleh para saksi serta keluarga terdekat. Pak Santoso sudah duduk di sana, mengenakan setelan terbaiknya, peci hitam terpasang rapi. Wajahnya terlihat tegang, tapi juga penuh kebanggaan.

Saat melihat putrinya datang, matanya langsung berkaca-kaca.

Raya menghentikan langkahnya sejenak… menatap ayahnya.

Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.

Ini untuk Ayah… batinnya.

Lalu, tanpa sengaja, pandangannya bergeser ke arah pria yang akan menjadi suaminya.

Kamil Riza Mahendra

Pria itu duduk tegap, terlihat tenang. Raya menatapnya beberapa detik, lalu dengan kikuk ia melemparkan senyum kecil. Senyum yang lebih mirip bentuk sopan santun daripada perasaan yang benar-benar lahir dari hati.

Kamil membalasnya… sekilas. Singkat. Sulit ditebak.

Raya segera mengalihkan pandangannya, lalu melangkah mendekat. Ia menyalami kedua orang tuanya terlebih dahulu.

"Ibu…" suaranya lirih.

Sang ibu langsung memeluknya erat, tak mampu menahan haru.

"Jadi istri yang baik ya, Nak…" bisiknya dengan suara bergetar.

Raya mengangguk pelan, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia lalu menyalami ayahnya. Pak Santoso menggenggam tangan putrinya lebih lama dari biasanya.

"Maafkan Ayah… kalau selama ini belum bisa jadi yang terbaik!" ucapnya pelan.

Raya menggeleng cepat. "Ayah jangan bilang begitu… Raya bahagia."

Meski entah mengapa, ada perasaan aneh yang menyelip di hatinya.

Setelah itu, Raya beralih kepada kedua calon mertuanya. Ia menyalami mereka dengan penuh hormat.

"Mohon doa restunya, Om… Tante," ucapnya sopan.

Keduanya mengangguk, tersenyum tipis.

Acara pun dimulai.

Seorang penghulu duduk di depan, membuka akad dengan khutbah singkat. Suaranya tenang, mengalun mengisi ruangan. Semua yang hadir larut dalam suasana sakral itu.

Hingga akhirnya tiba pada inti dari segalanya.

Ijab kabul.

Pak Santoso menarik napas dalam. Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam tangan Kamil. Suasana mendadak hening. Bahkan suara napas pun terasa begitu jelas.

"Dengan ini saya nikahkan dan kawinkan engkau, Kamil Riza Mahendra dengan putri saya, Raya Aprillia Safitri, dengan mahar seperangkat alat shalat dan perhiasan emas seberat lima belas gram, dibayar tunai."

Hening.

Semua mata tertuju pada Kamil.

Tanpa ragu, pria itu menjawab dengan lantang, suaranya tegas memecah keheningan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Raya Aprillia Safitri dengan mahar tersebut, dibayar tunai."

"Sah!" seru para saksi hampir bersamaan.

Beberapa orang mengucap syukur, terdengar lirih ucapan Alhamdulillah di berbagai sudut ruangan. Senyum dan rasa haru mulai bermunculan.

Raya menunduk, napasnya terasa berat.

Air matanya akhirnya jatuh juga.

Ia kini resmi menjadi seorang istri.

Namun entah mengapa… di tengah kebahagiaan itu, hatinya justru terasa asing.

Seolah… sesuatu yang tak terlihat sedang menunggu untuk menghancurkan semuanya.

"Sudah sah, ya? Aku sudah jadi suaminya, kan?”

Suara Kamil tiba-tiba terdengar lantang, memecah suasana haru yang baru saja menghangat. Ia berdiri dari duduknya dengan tegap, tatapannya menyapu seisi ruangan.

Beberapa tamu saling berpandangan, bingung dengan sikapnya yang mendadak berubah.

"Iya… Alhamdulillah, sudah sah, Nak,” jawab Pak Hasan, ayahnya, dengan senyum bangga yang belum sempat pudar.

Namun tidak dengan Pak Santoso.

Dahi pria itu berkerut. Ada sesuatu yang terasa janggal.

Dan detik berikutnya… semuanya runtuh.

"Kalau aku sudah sah menjadi suaminya Raya,” lanjut Kamil dengan suara dingin, “maka saat ini juga aku talak Raya Aprillia Safitri… dengan talak tiga.”

Hening.

Sunyi yang mencekam.

Seolah waktu berhenti berputar.

Raya terbelalak. Tubuhnya membeku di tempat. Ia menatap Kamil dengan mata yang membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Apa…?” bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang benar-benar keluar.

"Ibu…” gumamnya lirih.

Sang ibu menatapnya dengan wajah pucat pasi, air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar, menutup mulutnya sendiri, seakan tak sanggup menerima kenyataan yang begitu kejam.

"Ya Allah… ini apa maksudnya?” suaranya pecah.

Beberapa tamu mulai berbisik panik. Suasana yang tadinya penuh doa berubah menjadi riuh penuh keterkejutan.

Pak Santoso berdiri setengah dari duduknya, wajahnya memerah, napasnya memburu.

"Kamil… kamu… apa maksudnya ini?” suaranya berat, penuh tekanan.

Namun belum sempat ia mendapatkan jawaban—

Bruk!

Tubuhnya tiba-tiba ambruk ke lantai.

"Ayah!!”

Teriakan Raya menggema, suaranya pecah penuh kepanikan. Ia berlari menghampiri, berlutut di samping tubuh ayahnya yang tergeletak tak berdaya.

"Ayah! Ayah bangun… Ayah!” tangisnya histeris, mengguncang bahu Pak Santoso yang sudah tak merespons.

Beberapa pria langsung mendekat, mencoba membantu.

"Cepat! Angkat! Bawa ke rumah sakit!” teriak seseorang.

"Ibu… Ibu…” Raya menoleh, air matanya tak terbendung.

Sang ibu sudah terduduk lemas, hampir pingsan, ditopang oleh beberapa wanita di sekitarnya.

"Pak Santoso kena serangan jantung!” teriak seseorang lagi, membuat suasana semakin kacau.

Di tengah kepanikan itu…

Kamil justru berdiri santai.

"Kamil, kamu apa-apaan sih?!” bentak ayahnya, emosinya meledak.

Namun pria itu hanya tersenyum.

Senyum tipis… penuh kemenangan.

"Ini kan yang Papa mau?” katanya sambil menoleh pada Pak Hasan. “Aku menikahinya. Aku sudah menuruti keinginan Papa.”

Nada suaranya berubah dingin, tajam.

"Tapi… aku menalaknya sesuai keinginanku.”

Ruangan seketika dipenuhi amarah.

"Kamu gila?!”

"Kamu menghancurkan hidup orang!”

"Ini pernikahan, bukan permainan!”

Suara-suara itu menggema, tapi Kamil tak peduli.

Ia justru merapikan jasnya dengan santai, seolah tak ada yang terjadi.

Raya masih terduduk di lantai, memeluk tubuh ayahnya yang lemah. Tangisnya pecah tanpa henti. Dunia yang baru saja ia masuki sebagai seorang istri… kini hancur bahkan sebelum ia sempat menjalaninya.

"Kamil…” panggilnya lirih, penuh luka.

Namun pria itu bahkan tak menoleh.

Dengan langkah tenang, ia berbalik… dan berjalan pergi meninggalkan semuanya.

Meninggalkan kekacauan.

Meninggalkan duka.

Meninggalkan seorang wanita… yang hidupnya baru saja ia hancurkan dalam hitungan detik.

Terpopuler

Comments

Ranny

Ranny

Pernikahan bisa di batalkan loh karena mereka belum berhubungan badan kan, lihat saja kau pasti kena karma Kamil tega banget kau permainkan pernikahan dan hati seorang wanita semoga kau jena laknat nya Allah

2026-07-29

0

Lisa sari katriani

Lisa sari katriani

Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir di karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏

2026-08-05

0

Elin Erliana

Elin Erliana

KLO ini dunia nyata aku cari santet meskipun tak tau dimana itu santet

2026-07-20

0

lihat semua
Episodes
1 1. Menikah
2 2. Tekad Raya
3 3. Pemakaman
4 4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5 5. Dihujat
6 6. Sesal Bu Rahma
7 7. Doa Raya
8 8. Dipecat
9 9. Demi Ego
10 10. Bu Aida Pergi
11 11. Berawal Dari Percakapan Itu
12 12.Lamunan Raya
13 13. Amarah Kamil
14 14. Pertemuan Pertama
15 15. Menyalahkan Orang Lain
16 16. Pagi Yang Berbeda
17 17. Bukan Siapa-siapa
18 18. Melawan
19 19. Ditahan
20 20. Yang Disalahkan
21 21. Di Kantor Polisi
22 22. Penangguhan Penahanan
23 23. Dipaksa Menjauh
24 24. Permohonan Laporan Dicabut
25 25. Maaf Yang Dipaksakan
26 26. Diterima Kerja
27 27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28 28. Ditinggalkan
29 29. Mengaku Hamil
30 30. Menghubungi Kamil
31 31. Permohonan Amanda
32 32. Diundang Podcast
33 33. Dilamar Amanda
34 34. First Kiss
35 35. Izin Dari dr. Andra
36 36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37 37. Jadi Talent
38 38. Saat Raya Bersinar
39 39. Bukan Sekedar Imajinasi
40 40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41 41. Saat Andra Mulai Melunak
42 42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43 43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44 44. Akad Yang Tak Terucapkan
45 45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46 46. Mematangkan Konsep
47 47. Batas yang Kembali Terlewati
48 48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49 49. Rumah Yang Hangat
50 50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51 51. Tiga Tahun yang Hilang
52 52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53 53. Langkah yang Tak Terhenti
54 54. Pak Hasan Kembali Murka
55 55. Pagi yang Penuh Kejutan
56 56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57 57. Badai Tanpa Angin
58 58. Diantara Ingatan Yang Samar
59 59. Cinta di Hadapan Penolakan
60 60. Nama yang Belum Diakui
61 61. Cinta yang Dipertanyakan
62 62. Wanita di Balik Luka
63 63. Obrolan di Ruang Keluarga
64 64. Langkah Nekad Amanda
65 65. Senyum yang Berbeda Arti
66 66. Hati Orang Tua yang Hancur
67 67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68 68. Raya di Mata Pak Hasan
69 69. Satu Pengakuan
70 70. Lamaran Demi Menutup Aib
71 71. Hari Ketika Semua Berakhir
72 72. Kembali Ke Indonesia
73 73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74 74. Malam Penuh Penyesalan
75 75. Wajah dari Masa Lalu
76 76. Salting di Pagi Hari
77 77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78 78. Make Over dan Make Baper
79 79. Kejutan Di Pagi Hari
80 80. Antrean Untuk Masa Lalu
81 81. Pasien Bernama Masa Lalu
82 82. Tenang Itu Bernama Raya
83 83. Curhat di Ruang VIP
84 84. Pembuktian Seorang Raya
85 85. Rahasia yang Mulai Tercium
86 86. Jadi Bintang Tamu
87 87. Suara yang Dirindukan
88 88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89 89. Pertemuan dan Perbandingan
90 90. Malam Penuh Pengakuan
91 91. Lampu Hijau untuk Raya
92 92. Ucapan Selamat Tidur
93 93. Wanita Masa Depanku
94 94. Ketika Kenyataan Menampar
95 95. Di Ambang Pintu Maaf
96 96. Panggilan Sebelum Tidur
97 97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98 98. Undangan Makan Malam
99 99. Lamaran Tidak Langsung
100 100. Pulang Seorang Diri
101 101. Amanda Mengandung Anakku?
102 102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103 103. Berpacu Dengan Waktu
104 104. Mengaku Mempelai Pria
105 105. Sebuah Suara Lantang
106 106. Disuruh Memilih
107 107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108 108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109 109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110 110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111 111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112 112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113 113. Gunting Pita
114 114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115 115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116 116. Dibalik Kepanikan Kamil
117 117. Di Balik Topeng Kesedihan
118 118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119 119. Takdir Menemukan Jalannya
Episodes

Updated 119 Episodes

1
1. Menikah
2
2. Tekad Raya
3
3. Pemakaman
4
4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5
5. Dihujat
6
6. Sesal Bu Rahma
7
7. Doa Raya
8
8. Dipecat
9
9. Demi Ego
10
10. Bu Aida Pergi
11
11. Berawal Dari Percakapan Itu
12
12.Lamunan Raya
13
13. Amarah Kamil
14
14. Pertemuan Pertama
15
15. Menyalahkan Orang Lain
16
16. Pagi Yang Berbeda
17
17. Bukan Siapa-siapa
18
18. Melawan
19
19. Ditahan
20
20. Yang Disalahkan
21
21. Di Kantor Polisi
22
22. Penangguhan Penahanan
23
23. Dipaksa Menjauh
24
24. Permohonan Laporan Dicabut
25
25. Maaf Yang Dipaksakan
26
26. Diterima Kerja
27
27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28
28. Ditinggalkan
29
29. Mengaku Hamil
30
30. Menghubungi Kamil
31
31. Permohonan Amanda
32
32. Diundang Podcast
33
33. Dilamar Amanda
34
34. First Kiss
35
35. Izin Dari dr. Andra
36
36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37
37. Jadi Talent
38
38. Saat Raya Bersinar
39
39. Bukan Sekedar Imajinasi
40
40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41
41. Saat Andra Mulai Melunak
42
42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43
43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44
44. Akad Yang Tak Terucapkan
45
45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46
46. Mematangkan Konsep
47
47. Batas yang Kembali Terlewati
48
48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49
49. Rumah Yang Hangat
50
50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51
51. Tiga Tahun yang Hilang
52
52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53
53. Langkah yang Tak Terhenti
54
54. Pak Hasan Kembali Murka
55
55. Pagi yang Penuh Kejutan
56
56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57
57. Badai Tanpa Angin
58
58. Diantara Ingatan Yang Samar
59
59. Cinta di Hadapan Penolakan
60
60. Nama yang Belum Diakui
61
61. Cinta yang Dipertanyakan
62
62. Wanita di Balik Luka
63
63. Obrolan di Ruang Keluarga
64
64. Langkah Nekad Amanda
65
65. Senyum yang Berbeda Arti
66
66. Hati Orang Tua yang Hancur
67
67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68
68. Raya di Mata Pak Hasan
69
69. Satu Pengakuan
70
70. Lamaran Demi Menutup Aib
71
71. Hari Ketika Semua Berakhir
72
72. Kembali Ke Indonesia
73
73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74
74. Malam Penuh Penyesalan
75
75. Wajah dari Masa Lalu
76
76. Salting di Pagi Hari
77
77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78
78. Make Over dan Make Baper
79
79. Kejutan Di Pagi Hari
80
80. Antrean Untuk Masa Lalu
81
81. Pasien Bernama Masa Lalu
82
82. Tenang Itu Bernama Raya
83
83. Curhat di Ruang VIP
84
84. Pembuktian Seorang Raya
85
85. Rahasia yang Mulai Tercium
86
86. Jadi Bintang Tamu
87
87. Suara yang Dirindukan
88
88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89
89. Pertemuan dan Perbandingan
90
90. Malam Penuh Pengakuan
91
91. Lampu Hijau untuk Raya
92
92. Ucapan Selamat Tidur
93
93. Wanita Masa Depanku
94
94. Ketika Kenyataan Menampar
95
95. Di Ambang Pintu Maaf
96
96. Panggilan Sebelum Tidur
97
97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98
98. Undangan Makan Malam
99
99. Lamaran Tidak Langsung
100
100. Pulang Seorang Diri
101
101. Amanda Mengandung Anakku?
102
102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103
103. Berpacu Dengan Waktu
104
104. Mengaku Mempelai Pria
105
105. Sebuah Suara Lantang
106
106. Disuruh Memilih
107
107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108
108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109
109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110
110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111
111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112
112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113
113. Gunting Pita
114
114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115
115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116
116. Dibalik Kepanikan Kamil
117
117. Di Balik Topeng Kesedihan
118
118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119
119. Takdir Menemukan Jalannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!