4. Ketika Penyesalan Tak Datang

Angin sore kembali berembus pelan, menyapu dedaunan kering di sekitar makam yang masih merah. Suasana semakin lengang, menyisakan duka yang menggantung di udara.

Pak Hasan dan Bu Aida masih berdiri di hadapan Raya. Wajah mereka dipenuhi rasa bersalah yang tak tertutupi. Sementara Raya berdiri dengan tenang, meski jelas terlihat betapa rapuh hatinya saat ini.

Pak Hasan kembali menunduk dalam. “Nak Raya… kami benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Kesalahan anak kami… terlalu besar.”

Raya terdiam sejenak. Tatapannya kembali jatuh ke pusara ayahnya. Napasnya naik turun, menahan gejolak yang terus berusaha ia redam.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya.

"Om… Tante…” suaranya lembut, tapi kali ini terdengar lebih tegas.

"Saya tidak menyimpan dendam kepada Ayah dan Ibu. Juga kepada siapa pun yang tidak terlibat dalam kejadian ini,” ucapnya pelan. “Saya tahu… tidak semua orang menginginkan hal ini terjadi.”

Bu Aida langsung menangis lagi, bahunya bergetar hebat.

Raya melanjutkan, kali ini dengan sorot mata yang berbeda—lebih dalam, lebih kuat.

"Tapi untuk Mas Kamil…” ia berhenti sejenak. Rahangnya mengeras, menahan luka yang kembali menganga.

"Untuk saat ini, saya tidak bisa mengatakan saya memaafkannya,”

Pak Hasan tersentak kecil. Dadanya terasa semakin sesak.

Raya menatap lurus ke depan, bukan kepada mereka, melainkan seolah berbicara pada takdir yang telah menghancurkan hidupnya dalam sekejap.

"Apa yang dia lakukan… bukan sekadar kesalahan,” lanjutnya lirih namun tajam. “Itu adalah kedzaliman.”

Suasana mendadak terasa semakin dingin.

"Saya serahkan semuanya kepada Allah,” sambung Raya. “Biarlah Allah yang membalas apa yang telah dia lakukan kepada saya… dan kepada almarhum ayah saya.”

Air mata kembali jatuh di pipinya, tapi kali ini ia tidak berusaha menyekanya.

"Saya yakin… Allah Maha Adil.”

Pak Hasan memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Kata-kata itu menghantamnya jauh lebih keras daripada amarah atau teriakan.

Karena yang dihadapi mereka bukan kemarahan…

melainkan luka yang diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.

Raya kembali menunduk ke arah makam ayahnya.

"Saya menerima semua ini sebagai takdir,” ucapnya pelan. “Mungkin… ini sudah jalan hidup saya. Dan mungkin juga… ini cara Allah menunjukkan bahwa kami memang tidak seharusnya berada di dunia yang sama.”

Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri.

"Keluarga kami hanya keluarga sederhana… tidak punya apa-apa. Sementara keluarga Om dan Tante… memiliki segalanya.”

Senyum tipis terukir di bibirnya, namun begitu menyakitkan untuk dilihat.

"Jadi… tidak perlu merasa terlalu bersalah. Mungkin sejak awal… saya memang tidak pantas berdampingan dengan Mas Kamil. Saya gak tahu diri, gak menolak perjodohan tersebut.”

Bu Aida langsung terisak lebih keras, hampir kehilangan keseimbangan. Pak Hasan segera memapah istrinya, tapi dirinya sendiri pun nyaris runtuh.

Ucapan Raya bukan hanya penolakan halus—melainkan luka yang dibungkus dengan keikhlasan.

Dan justru karena itulah… rasa bersalah itu menjadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan.

***

Amanda berdiri di ambang pintu apartemennya, menatap punggung Kamil yang perlahan menjauh. Tangannya masih menyilang di depan dada, wajahnya datar tanpa ekspresi berarti. Tidak ada senyum, tidak juga kesedihan. Hanya perasaan hambar… dan sedikit rasa tidak nyaman yang ia tahan sendiri.

Sejak awal, hatinya memang belum pernah benar-benar terbuka untuk pria itu.

Kamil terlalu memaksa.

Terlalu ingin memiliki.

Dan hari ini… Amanda seperti melihat sisi paling gelap dari dirinya.

Menikahi seorang wanita, lalu menalaknya saat itu juga.

Baginya, itu bukan sekadar kesalahan. Itu adalah kebiadaban yang dibungkus atas nama cinta.

"Ok ya, Manda, aku pulang dulu. Besok ke kantor aku jemput, kita bareng.”

Suara Kamil terdengar ringan, seolah tak terjadi apa-apa hari ini. Seolah ia baru saja melewati hari biasa.

Amanda menghela napas pelan sebelum menjawab.

"Gak usah, Mas. Aku terbiasa pergi dan pulang kerja bareng Amel.”

Nada suaranya lembut, tapi jelas. Ada jarak yang sengaja ia ciptakan.

Kamil terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Senyum yang menurutnya meyakinkan… tapi bagi Amanda, justru terasa memaksa.

"Tapi pikirkan lagi pinangan aku ya, Man. Ingat… aku sudah menalak wanita yang baru saja kunikahi. Semua ini bukti kalau aku cuma cinta sama kamu.”

Kamil menatapnya dalam. Penuh harap. Penuh keyakinan… yang terasa aneh.

Amanda tidak membalas tatapan itu.

Ia justru memalingkan wajahnya.

Ada rasa risih yang menjalar pelan di dalam dadanya.

Bukti cinta?

Tidak.

Di matanya, itu bukan bukti cinta. Itu bukti bahwa Kamil mampu menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah… demi keinginannya sendiri.

Dan itu… menakutkan.

"Udah malam, Mas. Hati-hati di jalan,” ucap Amanda singkat, berusaha mengakhiri percakapan.

Kamil mengangguk, meski terlihat sedikit kecewa. Namun ia tidak memaksa lagi. Ia berbalik, melangkah santai menuju mobilnya.

Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar menyala.

Amanda tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan dari kejauhan.

Mobil itu perlahan menjauh… hingga akhirnya hilang dari pandangan.

Baru setelah itu, Amanda menutup pintu apartemennya.

Klik.

Suasana langsung hening.

Ia menyandarkan punggungnya di pintu, memejamkan mata sejenak.

"Apa yang sebenarnya dia pikirkan…” gumamnya lirih.

Bayangan wajah seorang wanita yang bahkan belum pernah ia temui terlintas di benaknya.

Wanita yang hari ini… menjadi korban.

Menjadi istri… hanya untuk beberapa menit.

Lalu… menjadi janda dalam hitungan waktu yang bahkan belum sempat disebut sebagai pernikahan.

Amanda menggeleng pelan.

"Kalau dia bisa melakukan itu ke orang lain… apa jaminannya dia gak akan melakukan hal yang sama ke aku nanti?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tanpa jawaban.

Sementara itu…

Di jalanan kota yang mulai lengang, mobil Kamil melaju dengan kecepatan stabil. Lampu-lampu jalan berderet, menemani perjalanan malamnya.

Di dalam mobil, Kamil justru tampak begitu santai.

Sebuah lagu diputar pelan, dan ia ikut bersenandung kecil.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada penyesalan.

Yang ada hanyalah perasaan puas.

Puas karena ia merasa telah membuktikan sesuatu.

"Sekarang kamu pasti percaya, Manda…” gumamnya sambil tersenyum.

Tangannya mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama lagu.

Baginya, apa yang ia lakukan hari ini adalah pengorbanan.

Pengorbanan atas nama cinta.

Ia tidak pernah berpikir… bahwa di balik“pengorbanan” itu, ada hati yang hancur. Ada keluarga yang terpukul. Ada seorang wanita yang hidupnya berubah dalam sekejap.

Sesampainya di rumah, Kamil memarkirkan mobilnya dengan santai. Ia bahkan masih bersiul kecil saat keluar dari mobil.

Langkahnya ringan, seolah tak memikul dosa apa pun.

Pintu rumah terbuka.

Namun begitu ia masuk…

Suasana yang berbeda langsung menyambutnya.

Sunyi.

Tegang.

Dan… dingin.

Tidak seperti biasanya.

Kamil mengernyitkan dahi.

"Kenapa sepi banget…” gumamnya.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, suara berat tiba-tiba terdengar dari ruang tengah.

"Kamil.”

Langkahnya terhenti. Suara itu… tidak asing. Dan nadanya… penuh amarah yang ditahan. Perlahan, Kamil menoleh.

Di sana…

Pak Hasan sudah berdiri dengan wajah merah padam. Di sampingnya, Bu Aida duduk dengan mata sembab, bekas tangis yang belum benar-benar kering.

Dan di atas meja…Sebuah foto pernikahan yang baru saja terjadi pagi tadi… tergeletak begitu saja. Menjadi saksi bisu… dari kehancuran yang baru saja dimulai.

Kamil menoleh dengan tatapan tak percaya saat suara ayahnya menggema di ruang tengah.

"Anak kurang ajar! Baru pulang setelah membuat wajah ayah ibumu ini malu di hadapan semua orang.”

Belum sempat Kamil membuka mulut—

"Plak!”

Tamparan keras dari Pak Hasan mendarat tepat di pipinya. Kepalanya terhuyung ke samping. Suara itu menggema, memecah keheningan rumah yang sejak tadi terasa menekan.

Kamil memegang pipinya yang terasa panas. Matanya menatap ayahnya dengan sorot tidak terima.

"Papa… menampar aku hanya untuk membela wanita kampung itu?” ucapnya dengan nada sinis.

Ucapan itu seperti menyulut api yang sudah lama ditahan.

"Wanita yang kamu bilang kampung itu… jauh lebih bermartabat dibanding kamu.” bentak Pak Hasan, suaranya bergetar menahan amarah.

Namun Kamil tidak mundur. Bukannya sadar, ia justru tersenyum miring.

"Pelet apa yang dia pakai, sampai Mama dan Papa ngebet banget bermenantukan dia?”

"Cukup, Mil!” suara Bu Aida pecah di sela tangisnya.

Wanita itu bangkit dari duduknya, langkahnya goyah. Matanya sembab, wajahnya pucat karena terlalu banyak menangis.

"Mil… harusnya kamu menolak kalau memang gak mau dijodohkan. Kami juga gak pernah memaksa kamu…” ucapnya lirih, suaranya bergetar hebat.

Kamil terdiam sesaat, tapi bukan karena tersentuh.

Tatapannya masih keras.

Pak Hasan kembali bersuara, kali ini lebih dalam, lebih berat… penuh kekecewaan.

"Iya!, kalau gak setuju, kamu bilang! Bukan bikin malu seperti itu!” suaranya meninggi. “Kamu tahu gak akibat perbuatan kamu tadi?”

Kamil mengernyit.

"Apa maksud Papa?”

Suasana mendadak berubah.

Tangis Bu Aida pecah semakin keras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar.

Pak Hasan menarik napas panjang, seolah butuh tenaga besar untuk mengucapkan kalimat berikutnya.

"Akibat perbuatanmu…” suaranya mulai serak, "…dua orang jadi janda. Dan tiga orang jadi yatim.”

Jantung Kamil seperti berhenti sesaat.

"Maksud Papa?” ulangnya, kali ini nadanya tidak lagi setinggi tadi. Ada sedikit kegelisahan yang mulai merayap.

Bu Aida menurunkan tangannya dari wajahnya. Air matanya terus mengalir tanpa henti.

"Pak Santoso…” suaranya terputus oleh tangis, "…meninggal dunia, Mil.”

Seolah petir menyambar di siang bolong.

Kamil membeku.

"Meninggal…?” gumamnya pelan, tidak percaya.

"Dia kena serangan jantung… di perjalanan menuju rumah sakit, dia meninggal. ” lanjut Bu Aida dengan suara hancur.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah masuk ke rumah itu… Kamil kehilangan kata-kata.

Bayangan wajah Pak Santoso yang tadi pagi masih duduk di kursi akad… terlintas di benaknya.

Wajah seorang ayah yang penuh harap, yang menitipkan putrinya dengan tangan gemetar, yang bahkan belum sempat benar-benar tersenyum bahagia, kini—sudah tiada.

Langkah Kamil mundur satu tapak.

Namun anehnya… bukan penyesalan yang pertama kali muncul di wajahnya.

Melainkan kebingungan… dan sedikit ketidakpercayaan.

"Gak mungkin…” gelengnya pelan. “Itu bukan salahku…”

Pak Hasan tertawa pahit. Tawa yang lebih menyakitkan daripada amarah.

"Bukan salah kamu?” ulangnya lirih. "Kalau bukan karena kamu yang menalak anaknya di depan semua orang… dia gak akan jatuh. Dia gak akan kena serangan jantung.”

Setiap kata terasa seperti pukulan.

"Dia meninggal dengan membawa rasa hancur sebagai seorang ayah.” suara Pak Hasan meninggi lagi. “Dan kamu bilang itu bukan salah kamu?!”

Kamil terdiam.

Rahangnya mengeras.

Namun egonya… masih berdiri tegak.

"Aku gak nyuruh dia mati.” jawabnya dingin.

Kalimat itu membuat Bu Aida terisak semakin keras.

Sementara Pak Hasan menatap putranya dengan mata yang kini tidak hanya marah, tapi juga penuh kekecewaan yang dalam.

"Kamu… bukan cuma gagal jadi suami,” ucapnya pelan namun tajam, “kamu juga gagal jadi manusia, Mil.”

Kalimat itu menggantung di udara. Menusuk lebih dalam dari tamparan tadi. Dan di sudut ruangan,

foto pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan, kini berubah menjadi simbol dari tragedi yang merenggut segalanya.

Terpopuler

Comments

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Dia mencintai Amanda yg tak tau lagi mencintainya.Terlalu percaya diri kerana dia tampan dan kaya.Semoda di hari2 mendatang tiada wanita yg benar2 mencintainya termasuk Amanda.

2026-08-26

0

🌹🪴eiv🪴🌹

🌹🪴eiv🪴🌹

dari pintu apartemen bisa liat parkiran mobil🤣

2026-07-28

3

Papah Agel Almahdali

Papah Agel Almahdali

tadi ngomong nya elu gue si manda. sekarang udah Mas aja.

2026-08-12

0

lihat semua
Episodes
1 1. Menikah
2 2. Tekad Raya
3 3. Pemakaman
4 4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5 5. Dihujat
6 6. Sesal Bu Rahma
7 7. Doa Raya
8 8. Dipecat
9 9. Demi Ego
10 10. Bu Aida Pergi
11 11. Berawal Dari Percakapan Itu
12 12.Lamunan Raya
13 13. Amarah Kamil
14 14. Pertemuan Pertama
15 15. Menyalahkan Orang Lain
16 16. Pagi Yang Berbeda
17 17. Bukan Siapa-siapa
18 18. Melawan
19 19. Ditahan
20 20. Yang Disalahkan
21 21. Di Kantor Polisi
22 22. Penangguhan Penahanan
23 23. Dipaksa Menjauh
24 24. Permohonan Laporan Dicabut
25 25. Maaf Yang Dipaksakan
26 26. Diterima Kerja
27 27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28 28. Ditinggalkan
29 29. Mengaku Hamil
30 30. Menghubungi Kamil
31 31. Permohonan Amanda
32 32. Diundang Podcast
33 33. Dilamar Amanda
34 34. First Kiss
35 35. Izin Dari dr. Andra
36 36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37 37. Jadi Talent
38 38. Saat Raya Bersinar
39 39. Bukan Sekedar Imajinasi
40 40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41 41. Saat Andra Mulai Melunak
42 42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43 43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44 44. Akad Yang Tak Terucapkan
45 45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46 46. Mematangkan Konsep
47 47. Batas yang Kembali Terlewati
48 48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49 49. Rumah Yang Hangat
50 50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51 51. Tiga Tahun yang Hilang
52 52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53 53. Langkah yang Tak Terhenti
54 54. Pak Hasan Kembali Murka
55 55. Pagi yang Penuh Kejutan
56 56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57 57. Badai Tanpa Angin
58 58. Diantara Ingatan Yang Samar
59 59. Cinta di Hadapan Penolakan
60 60. Nama yang Belum Diakui
61 61. Cinta yang Dipertanyakan
62 62. Wanita di Balik Luka
63 63. Obrolan di Ruang Keluarga
64 64. Langkah Nekad Amanda
65 65. Senyum yang Berbeda Arti
66 66. Hati Orang Tua yang Hancur
67 67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68 68. Raya di Mata Pak Hasan
69 69. Satu Pengakuan
70 70. Lamaran Demi Menutup Aib
71 71. Hari Ketika Semua Berakhir
72 72. Kembali Ke Indonesia
73 73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74 74. Malam Penuh Penyesalan
75 75. Wajah dari Masa Lalu
76 76. Salting di Pagi Hari
77 77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78 78. Make Over dan Make Baper
79 79. Kejutan Di Pagi Hari
80 80. Antrean Untuk Masa Lalu
81 81. Pasien Bernama Masa Lalu
82 82. Tenang Itu Bernama Raya
83 83. Curhat di Ruang VIP
84 84. Pembuktian Seorang Raya
85 85. Rahasia yang Mulai Tercium
86 86. Jadi Bintang Tamu
87 87. Suara yang Dirindukan
88 88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89 89. Pertemuan dan Perbandingan
90 90. Malam Penuh Pengakuan
91 91. Lampu Hijau untuk Raya
92 92. Ucapan Selamat Tidur
93 93. Wanita Masa Depanku
94 94. Ketika Kenyataan Menampar
95 95. Di Ambang Pintu Maaf
96 96. Panggilan Sebelum Tidur
97 97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98 98. Undangan Makan Malam
99 99. Lamaran Tidak Langsung
100 100. Pulang Seorang Diri
101 101. Amanda Mengandung Anakku?
102 102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103 103. Berpacu Dengan Waktu
104 104. Mengaku Mempelai Pria
105 105. Sebuah Suara Lantang
106 106. Disuruh Memilih
107 107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108 108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109 109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110 110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111 111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112 112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113 113. Gunting Pita
114 114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115 115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116 116. Dibalik Kepanikan Kamil
117 117. Di Balik Topeng Kesedihan
118 118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119 119. Takdir Menemukan Jalannya
Episodes

Updated 119 Episodes

1
1. Menikah
2
2. Tekad Raya
3
3. Pemakaman
4
4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5
5. Dihujat
6
6. Sesal Bu Rahma
7
7. Doa Raya
8
8. Dipecat
9
9. Demi Ego
10
10. Bu Aida Pergi
11
11. Berawal Dari Percakapan Itu
12
12.Lamunan Raya
13
13. Amarah Kamil
14
14. Pertemuan Pertama
15
15. Menyalahkan Orang Lain
16
16. Pagi Yang Berbeda
17
17. Bukan Siapa-siapa
18
18. Melawan
19
19. Ditahan
20
20. Yang Disalahkan
21
21. Di Kantor Polisi
22
22. Penangguhan Penahanan
23
23. Dipaksa Menjauh
24
24. Permohonan Laporan Dicabut
25
25. Maaf Yang Dipaksakan
26
26. Diterima Kerja
27
27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28
28. Ditinggalkan
29
29. Mengaku Hamil
30
30. Menghubungi Kamil
31
31. Permohonan Amanda
32
32. Diundang Podcast
33
33. Dilamar Amanda
34
34. First Kiss
35
35. Izin Dari dr. Andra
36
36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37
37. Jadi Talent
38
38. Saat Raya Bersinar
39
39. Bukan Sekedar Imajinasi
40
40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41
41. Saat Andra Mulai Melunak
42
42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43
43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44
44. Akad Yang Tak Terucapkan
45
45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46
46. Mematangkan Konsep
47
47. Batas yang Kembali Terlewati
48
48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49
49. Rumah Yang Hangat
50
50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51
51. Tiga Tahun yang Hilang
52
52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53
53. Langkah yang Tak Terhenti
54
54. Pak Hasan Kembali Murka
55
55. Pagi yang Penuh Kejutan
56
56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57
57. Badai Tanpa Angin
58
58. Diantara Ingatan Yang Samar
59
59. Cinta di Hadapan Penolakan
60
60. Nama yang Belum Diakui
61
61. Cinta yang Dipertanyakan
62
62. Wanita di Balik Luka
63
63. Obrolan di Ruang Keluarga
64
64. Langkah Nekad Amanda
65
65. Senyum yang Berbeda Arti
66
66. Hati Orang Tua yang Hancur
67
67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68
68. Raya di Mata Pak Hasan
69
69. Satu Pengakuan
70
70. Lamaran Demi Menutup Aib
71
71. Hari Ketika Semua Berakhir
72
72. Kembali Ke Indonesia
73
73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74
74. Malam Penuh Penyesalan
75
75. Wajah dari Masa Lalu
76
76. Salting di Pagi Hari
77
77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78
78. Make Over dan Make Baper
79
79. Kejutan Di Pagi Hari
80
80. Antrean Untuk Masa Lalu
81
81. Pasien Bernama Masa Lalu
82
82. Tenang Itu Bernama Raya
83
83. Curhat di Ruang VIP
84
84. Pembuktian Seorang Raya
85
85. Rahasia yang Mulai Tercium
86
86. Jadi Bintang Tamu
87
87. Suara yang Dirindukan
88
88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89
89. Pertemuan dan Perbandingan
90
90. Malam Penuh Pengakuan
91
91. Lampu Hijau untuk Raya
92
92. Ucapan Selamat Tidur
93
93. Wanita Masa Depanku
94
94. Ketika Kenyataan Menampar
95
95. Di Ambang Pintu Maaf
96
96. Panggilan Sebelum Tidur
97
97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98
98. Undangan Makan Malam
99
99. Lamaran Tidak Langsung
100
100. Pulang Seorang Diri
101
101. Amanda Mengandung Anakku?
102
102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103
103. Berpacu Dengan Waktu
104
104. Mengaku Mempelai Pria
105
105. Sebuah Suara Lantang
106
106. Disuruh Memilih
107
107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108
108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109
109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110
110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111
111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112
112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113
113. Gunting Pita
114
114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115
115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116
116. Dibalik Kepanikan Kamil
117
117. Di Balik Topeng Kesedihan
118
118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119
119. Takdir Menemukan Jalannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!