Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Retak

Langkah kaki jenjang itu kembali memijak lantai marmer yang dingin, membawa tubuhnya masuk ke dalam sebuah bangunan yang seharusnya disebut rumah. Zira Falisha, wanita berusia 37 tahun yang kecantikannya seolah tak luntur oleh waktu, menarik kopernya dengan gerakan lesu. Baru saja dua minggu ia menghirup udara kebebasan di Indonesia, mencoba melarikan diri dari sesaknya suasana di London. Namun, baru beberapa langkah ia memasuki ruang tengah, beban yang sempat terangkat itu kini kembali menumpuk, lebih berat dan lebih menghimpit dadanya.

Suara gesekan roda koper di lantai marmer itu tiba-tiba terhenti ketika sebuah suara bariton yang dingin menyambutnya dari arah kanan.

"Masih ingat punya suami?"

Zira menoleh perlahan. Di sana, Raka Tristan Laurent berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Pria berusia 40 tahun itu menatapnya datar, seolah kepulangan istrinya bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, melainkan sebuah interogasi yang tertunda.

"Bukankah aku sudah katakan padamu, jika di Indonesia aku akan tinggal lebih lama," sahut Zira dingin. Ia tidak ingin memulai keributan di menit pertama kepulangannya. Ia hanya ingin mencapai kamarnya, merebahkan tubuh, dan memejamkan mata.

Namun, Raka tidak membiarkannya lewat begitu saja. "Bahagia sekali tampaknya bertemu dengan pria yang dulu begitu menyukaimu."

Zira menghentikan langkahnya. Keningnya mengerut dalam, ia memutar tubuh sepenuhnya untuk menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. "Apa maksudmu, Raka?" desisnya tajam.

"Jangan berpura-pura, Zira. Sekarang, katakan padaku. Apa saja yang kalian lakukan di sana?" Raka melangkah mendekat, wajahnya mengeras menahan kecemburuan yang tidak pada tempatnya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto di mana Zira tengah duduk bersama seorang pria.

Zira memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. "Raka, demi apapun! Kayden adalah sepupu dari ayah Xander, dan kamu tahu betul itu. Dia keluarga!"

"Tapi dia menyukaimu! Semua orang tahu itu!"

"Lalu kenapa kalau dia menyukaiku?! Setidaknya aku tidak gila sepertimu!" sentak Zira. Suaranya melengking, memecah kesunyian rumah yang megah namun hampa itu. Suasana seketika berubah panas, penuh dengan ketegangan yang memicu adrenalin.

"Gila katamu?" Raka melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka dengan alis yang terangkat satu, menantang.

"Ya! Gila! Di sini yang berselingkuh itu kamu, Raka! Kamu mau menjadikanku kambing hitam atas kesalahan menj1jikkan yang kamu buat itu?!" teriak Zira. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, siap tumpah bersama emosi yang meledak-ledak.

Raka mengangguk-angguk kecil, matanya ikut berkaca-kaca karena amarah. "Sejak awal aku sudah katakan, aku tidak setuju dengan ide bayi tabung menggunakan rahim wanita lain. Tapi kamu yang memaksaku, bukan? Kamu yang mengatur semuanya! Lalu, saat aku bersamanya karena proses itu, kamu justru marah?"

Zira mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Tangisnya pecah, menyuarakan luka yang selama berbulan-bulan ini ia kubur dalam-dalam. "Aku mengizinkan wanita lain mengandung benihmu, Raka. Aku memberikan izin padanya untuk meminjamkan rahimnya agar kamu bisa memiliki keturunan, bukan berarti kamu punya hak untuk mencintainya! Bukan berarti kamu boleh tidur dengannya di luar prosedur medis!"

Zira menarik napas tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. "Aku sadar atas kondisi rahimku yang bermasalah. Aku tahu kedua orang tuamu menuntut cucu dariku setiap hari. Tapi jika pada akhirnya kalian justru jatuh cinta dan bermain di belakangku seperti ini, untuk apa ada prosedur bayi tabung?! Untuk apa aku berkorban menahan harga diriku sebagai istri?!"

Perasaan sesak itu kini benar-benar meledak. Zira teringat betapa kerasnya ia berjuang. Segala macam program kehamilan telah ia jalani. Dua kali ia mencoba bayi tabung dengan rahimnya sendiri, namun keduanya berakhir dengan kegagalan yang menghancurkan jiwanya. Dokter mengatakan bahwa peluangnya hampir nol, dan di titik lelahnya itulah, ia mengambil keputusan gila, menitipkan benih suaminya di rahim wanita lain. Ia tak pernah menyangka bahwa keputusan itu justru menjadi pintu bagi kehancuran rumah tangganya.

"Sekarang, aku hanya minta satu hal. Berikan aku waktu untuk berpikir, Raka. Berikan aku waktu untuk merenung, apakah aku masih harus bertahan dengan seorang suami yang sudah mengkhianati istrinya!" sentak Zira.

Tanpa menunggu jawaban, Zira berbalik dan menarik kopernya dengan kasar. Ia melangkah menaiki tangga dengan kaki yang gemetar, ingin segera menghilang dari hadapan Raka yang masih terdiam mematung. Namun, baru setengah jalan ia menaiki anak tangga, sebuah suara lembut yang memuakkan terdengar dari arah lantai bawah.

"Apa Kakak marah?"

Zira membeku. Ia menoleh perlahan dan melihat wanita itu. Wanita muda yang kini tengah mengandung, wanita yang menjadi alasan mengapa rumah tangganya berubah menjadi neraka. Wanita itu kini menghampiri Raka dengan wajah yang dibuat seolah-olah sangat prihatin.

Rasa benci seketika menjalar ke seluruh pembuluh darah Zira, mencapai ubun-ubunnya hingga kepalanya terasa ingin pecah. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengepalkan tangan kuat-kuat.

"Ayo kembali ke kamar, kamu harus banyak istirahat. Ingat kondisi bayimu," ucap Raka dengan nada yang jauh lebih lembut, seraya merangkul bahu wanita muda itu untuk membawanya pergi.

Zira mengembuskan napas kasar, pemandangan itu seperti pisau yang mengiris jantungnya berkali-kali. Ia segera berlari menuju kamarnya dan membanting pintu hingga tertutup rapat. Begitu kunci berbunyi klik, pertahanannya runtuh total. Ia menghempaskan kopernya ke lantai dan berlari ke arah lemari besar di sudut kamar.

Zira menarik sebuah kotak kayu yang ia sembunyikan di bagian paling bawah. Kotak itu berisikan tumpukan jarum suntik bekas dan botol-botol obat dari program bayi tabung yang pernah ia jalani. Dengan teriakan histeris, ia melemparkan kotak itu ke dinding.

"ARGHHHHH!"

Suara pecahan kaca dan plastik beradu dengan teriakan frustrasinya. Tak puas sampai di situ, Zira mulai membanting segala macam perabotan yang ada di dekatnya. Lampu tidur, bingkai foto, hingga vas bunga hancur berkeping-keping. Rasa stres dan depresi yang sudah ia bendung selama berbulan-bulan kini menguasai kesadarannya.

Ketika tenaganya habis, Zira jatuh terduduk di atas lantai yang penuh dengan serpihan jarum suntik. Ia menjambak rambutnya sendiri, menangis tersedu-sedu hingga dadanya terasa sakit.

"Kenapa semesta tidak pernah adil padaku ... kenapa? Hiks ... kenapaaaaa!" teriaknya pilu, suaranya teredam oleh dinding kamar yang tebal.

Matanya yang sembab menatap nanar ke arah tumpukan jarum suntik yang berserakan. Jarum-jarum itu adalah saksi bisu betapa ia sudah menyiksa tubuhnya sendiri demi mendapatkan satu nyawa di dalam rahimnya. Namun hasilnya selalu nol. Kosong.

"Apa tidak bisa satu nyawa saja diberikan padaku? Satu saja ... hiks ... satu saja, aku mohon ... aku mohon ...," rintihnya dengan suara serak, memohon pada kekosongan yang tak memberinya jawaban. Di dalam kamar yang kini berantakan itu, Zira merasa menjadi wanita paling malang dan kesepian di seluruh dunia.

___________________________

Rilis juga akhirnyaaaa😆 jangan lupa dukungannya yah kawan, maaciiii🤩

Bentar, aku tuh agak lupa umur pernikahan Zira, dan dimana dia tinggal kalau di cerita papa tiri anti bakteri. Kalau ada yg inget bisa komen yaaah🤧

Terpopuler

Comments

Rosy

Rosy

waduh,aku tipe pengingat yg buruk nih..biasanya kak @🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀 yg masih ingat 🤭

2026-04-08

15

j4v4n3s w0m3n

j4v4n3s w0m3n

nongol juga zira ... baru baca part pertama udah nyesek gini ....klw masalah pelakor aku kan mengebu gebu bacanya dan akan mengomentari si pelakornya dgn hujatan hujatan yg udah aku siapkan 🤭🤭🤭🤭🤭klw baca cerita yg ada bau pelakornya panas tiris njr aslina ...dada darah sama esmosiku suka ikut.naik meski hanya cerita ..berarti cerita itu berhasil mengobrak ngabrik esmosiku🤭🤭🤭🤭🤭tapi tahan tahan tahan jangan esmosi ...lanjutttt kaka😁

2026-04-09

4

kaylla salsabella

kaylla salsabella

perasaan ku dulu si zyra tinggal di London yang di Singapura itu si kay🤭🤭🤭

2026-04-09

10

lihat semua
Episodes
1 Retak
2 Luka Zira
3 Ceraikan Suamimu Dan Menikahlah Denganku!
4 Rahasia Zira
5 Kebingungan Raka
6 Dingin
7 Zayra Bocah Menggemaskan
8 Ketakutan Raka
9 Gangguan Pagi
10 Ketakutan Ivy
11 Baby Girl
12 Biarkan Mati Rasa
13 Papa Kay
14 Kepanikan Kayden
15 Langkah Cepat Berondong Tua
16 Keterkejutan Raka
17 Perdebatan Panas
18 Kemarahan Ibu Raka
19 Penghinaan Untuk Ivy
20 Pertemuan Malam
21 Manjanya Kayden
22 Pebinor?
23 Cepatlah Bercerai
24 Kehancuran Baru Untuk Raka
25 Ancaman Untuk Ivy
26 Sembilan Kebaikan Yang Hancur
27 Ayah ...
28 Selamat Datang Kembali Putri Kecil Ayah~
29 Yakin?
30 Bocah Keramat
31 Berikan Aku Ruang Untuk Masuk~
32 Bayi Yang Tak Lagi Ada
33 Kekesalan 2 Bocil
34 Will You Marry Me?
35 Kamu Yakin Zira?
36 Rencana Menikah
37 Saltingnya Berondong
38 Aku Yang Tidak Sehat!
39 Bucin Akut
40 Tidak Sabar
41 Wedding Kayden & Zira
42 Pasutri Baru
43 Wanita Asing
44 Baju Tempurnya Mana?
45 Siapa Wanita Itu?
46 Malam Yang Di Tunggu
47 Badmood nya Zayra
48 Drama Kay
49 Panggilan Yang Di Dambakan
50 Malam Hangat
51 Harapan Sang Bunda
52 Jadwal Hubungan
53 Trauma Yang Kembali
54 Jatahku Ganti Pagi Ya?
55 Kesibukan Opa Xander
56 Drama Papa Dan Anak
57 Agar Lebih Semangat
58 Telat Datang Bulan?
59 Kekhawatiran Kayden
60 Hasil Yang Di Tunggu?
61 Kehamilan Zira
62 Papa Keleeee
63 Ngidam
64 Gara-Gara Sate
65 Menuruti Bumil
66 Rainbow Baby
67 Masa Lalu?
68 Terjebak
69 Pasrahnya Kayden
70 Siap Menerima Resiko
71 Nasehat Xander
72 Berbaikan
73 Cuala Papa
74 Menanti Kelahiran
75 Persalinan
76 Welcome Baby Boy
77 Menjadi Orang Tua
78 Bayi Setleees
79 Mantan Mertua
80 Cinta Abadi
81 Cerita Baru
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Retak
2
Luka Zira
3
Ceraikan Suamimu Dan Menikahlah Denganku!
4
Rahasia Zira
5
Kebingungan Raka
6
Dingin
7
Zayra Bocah Menggemaskan
8
Ketakutan Raka
9
Gangguan Pagi
10
Ketakutan Ivy
11
Baby Girl
12
Biarkan Mati Rasa
13
Papa Kay
14
Kepanikan Kayden
15
Langkah Cepat Berondong Tua
16
Keterkejutan Raka
17
Perdebatan Panas
18
Kemarahan Ibu Raka
19
Penghinaan Untuk Ivy
20
Pertemuan Malam
21
Manjanya Kayden
22
Pebinor?
23
Cepatlah Bercerai
24
Kehancuran Baru Untuk Raka
25
Ancaman Untuk Ivy
26
Sembilan Kebaikan Yang Hancur
27
Ayah ...
28
Selamat Datang Kembali Putri Kecil Ayah~
29
Yakin?
30
Bocah Keramat
31
Berikan Aku Ruang Untuk Masuk~
32
Bayi Yang Tak Lagi Ada
33
Kekesalan 2 Bocil
34
Will You Marry Me?
35
Kamu Yakin Zira?
36
Rencana Menikah
37
Saltingnya Berondong
38
Aku Yang Tidak Sehat!
39
Bucin Akut
40
Tidak Sabar
41
Wedding Kayden & Zira
42
Pasutri Baru
43
Wanita Asing
44
Baju Tempurnya Mana?
45
Siapa Wanita Itu?
46
Malam Yang Di Tunggu
47
Badmood nya Zayra
48
Drama Kay
49
Panggilan Yang Di Dambakan
50
Malam Hangat
51
Harapan Sang Bunda
52
Jadwal Hubungan
53
Trauma Yang Kembali
54
Jatahku Ganti Pagi Ya?
55
Kesibukan Opa Xander
56
Drama Papa Dan Anak
57
Agar Lebih Semangat
58
Telat Datang Bulan?
59
Kekhawatiran Kayden
60
Hasil Yang Di Tunggu?
61
Kehamilan Zira
62
Papa Keleeee
63
Ngidam
64
Gara-Gara Sate
65
Menuruti Bumil
66
Rainbow Baby
67
Masa Lalu?
68
Terjebak
69
Pasrahnya Kayden
70
Siap Menerima Resiko
71
Nasehat Xander
72
Berbaikan
73
Cuala Papa
74
Menanti Kelahiran
75
Persalinan
76
Welcome Baby Boy
77
Menjadi Orang Tua
78
Bayi Setleees
79
Mantan Mertua
80
Cinta Abadi
81
Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!