Bab 3—Mendapatkan Kemampuan Aneh

Besoknya, di tempat brifing toko Naufal malam hari.

"Aku sudah dengar dari atasanmu, Naufal. Targetmu bulan ini kurang dua belas juta atau lima unit, Naufal! Kalau sampai jam operasional toko tutup kamu tidak bisa menjual satu pun, silahkan kembalikan seragam mu dari sini dan keluarlah!”

Suara itu datar, namun dingin menusuk, berasal dari pria tua yang berusia sekitar lima puluh tahunan. Naufal hanya bisa menunduk di depan meja manajer toko. Di sampingnya, Andre tersenyum sinis, memutar-mutar kunci mobil barunya di jari telunjuk.

"Sudah kubilang, Pak. Anak SMK ingusan seperti dia memang tidak cocok di sini. Mentalnya mental kerupuk," cibir Andre tanpa saring. “Harusnya saat penempatan kemarin, bapak jangan terima dia disini, biarlah dia ditempatkan oleh perusahaan brand hpnya di tempat lain.”

Naufal mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih.  Ia kira ini semua gara-gara siapa? Setiap dia mendapatkan customer, Andre selalu datang merusuh merebut pelanggannya, merebut stok miliknya, bahkan pelanggan janjian dia pun direbut pula.

Padahal itu termasuk seri flagship tinggi, sekali jual seharga belasan juta dan direbut oleh senior kaparat ini.

"Tapi Pak, kemarin ada pelanggan yang mau ambil dua unit R 14, tapi Kak Andre merebut user saya—-”

BRAK!

"Kamu berani memfitnah saya?!" Andre membentak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari hidung Naufal. “Emang kamu ada bukti.”

“Bukti cukup jelas, pak … dia bilang stok r-14 disini gak ada.”

“Kenyataan memang gak ada.”

“Ada, kak … kan aku udah ambil jauh-jauh dari pusat!”

“Itu kelamaan, makanya aku setir ke brandku … A-56 juga lebih bagus dari seri r-14 milikmu.”

Manajer itu mengibaskan tangan, tidak peduli. "Sudah, sudah! Jangan buat keributan! keluar! Selesaikan target mu atau angkat kaki, siap-siap untuk dipecat Naufal.”

Naufal mengepal tangan erat, wajah emosi keluar. Ia butuh uang sekarang, jangan bercanda kalau dia keluar siapa yang menafkahi orang rumah.

Ia berjalan keluar ruangan dengan bahu merosot. Di lantai toko yang megah dengan lampu-lampu LED berkilauan, ia merasa seperti debu. Padahal, ia butuh pekerjaan ini. Ibunya baru saja keluar dari rumah sakit dan tabungannya nyaris nol.

Waktu sudah semakin larut malam, belum ada pelanggan masuk ke toko. Naufal menghela napas, toko setengah jam lagi sudah mau tutup, Andre bahkan sudah siap-siap untuk melepaskan hp demo—display yang terpasang di meja, sembari membawa kunci dan tempat khusus hp demo.

Andre menatap Naufal yang berdiri mematung di toko ini, lalu tertawa sinis. “Hahaha, belum jualan ya, Naufal? Kasihan sekali! Ya, mau jualan pun mustahil … habisnya itu 12 juta! itu bukan angka yang bisa dituntaskan satu malam … manajer juga jahat sekali.”

Naufal menggeram kesal. “Kak, kalau saja kakak tidak merebut pelangganku terus, tidak mengambil user janji ku ini semua tidak akan terjadi …”

“Ha?!” Andre adalah orang yang bringas menatap Naufal garang. “Ngomong apa lo barusan, anjing! Bocah fresh graduate kemarin sore aja belagu!”

Siska yang juga jaga toko, cuma cuek saja masih sibuk main sosmed. Sekarang mata dia menatap Naufal.

Siska mengalihkan pandangannya sejenak dari layar iPhone miliknya, menatap Naufal dari atas ke bawah.

"Lagian lo juga sih, Fal. Udah tahu kerja sebagai sales tuh yang penting closing. Kalau lo nggak bisa jaga user lo sendiri, ya jangan nyalahin Kak Andre. Di sini tuh siapa yang cepat dia yang dapat," cetus Siska pedas.

“Siska lo sebenarnya ada di pihak siapa sih?”

“Gue gak ada dipihak siapa-siapa … cuma netral doang.”

Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Naufal yang sedang tertunduk, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh pemuda itu.

"Dunia nggak bakal kasihan sama air mata lo, Fal. Cowok itu dinilai dari hasilnya, bukan dari seberapa banyak dia ditindas. Makannya kalau gak mau diinjak-injak kamu harus injak balik! Kalau lo emang punya tanggung jawab di rumah, ya tunjukin mental lo! Jangan cuma pasrah kayak keset di depan mereka."

Naufal membelalakan mata lebar. Seperti biasa ini cewek suka bikin dia bingung sebenarnya dia ngapain sih? Mulut tajem gak bisa direm, tapi dibilang kaya peduli .. dia gak begitu yakin.

“Seperti biasa … lo bikin orang bingung.”

“Itu terserah lo.”

Siska kembali menjauh, suaranya kembali meninggi dan ketus. "Udah sana, mending lo siap-siap beresin barang di loker. Lo udah pasti dipecat malam ini kalau cuma bisa melamun kayak orang bego. Gue capek lihat muka pecundang lo itu!"

Meskipun kata-katanya menyakitkan, Naufal bisa melihat tangan Siska sedikit gemetar saat menggenggam ponselnya—sebuah tanda bahwa ia sebenarnya muak melihat ketidakadilan Andre, namun ia sendiri harus bersikap keras untuk bertahan di toko itu.

Naufal merasakan dadanya sesak. Ketidakadilan ini begitu nyata. Ia menatap deretan kotak ponsel di belakang etalase yang kini terasa seperti ejekan. Ia butuh uang untuk biaya kontrol ibunya besok, tapi dunia seolah sepakat untuk menghancurkannya malam ini.

Tiba-tiba, pintu toko yang sudah hampir dikunci terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah gontai. Penampilannya sangat biasa, hanya memakai kaos oblong pudar dan sandal jepit yang sudah tipis. Di bahunya tersampir tas kain lusuh. Pria itu terlihat seperti orang yang tersesat di kemegahan mal.

Andre yang biasanya sigap menyambut orang, hanya melirik sekilas lalu membuang muka. Ia lanjut mencabuti kabel alarm di HP demo.

"Fal, tuh ada 'ikan teri' datang. Urus sana. Paling cuma mau tanya harga charger atau numpang tanya jalan keluar. Pas banget buat perpisahan lo sama toko ini," cibir Andre.

Siska melirik pria tua itu, lalu menatap Naufal dengan tajam seolah memberi kode 'Ini kesempatan terakhir lo, jangan sampai lo lepas lagi'. 

'Kalau lo lepas gue bakal maki lo mati-matian!’

Namun di mulut, ia tetap berkata sinis.

"Duh, udah mau tutup kok datang ke sini... udah miskin sok mau ke toko HP lagi. Sono Fal, urus gih. Jangan sampai lo dipecat dengan kondisi nol closing hari ini. Malu-maluin lulusan SMK aja! Lo lupa slogan SMK .. ? Ayo sebutin bareng- bareng, SMK bisa … SMK Bisa …”

“Iya, bisa gila maksudnya.”

Naufal tidak membantah. Dengan senyum profesional yang dipaksakan, ia mendekat. 

"Selamat malam Pak, ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari tipe smartphone seperti apa?"

Pria itu melihat-lihat hp demo–display dengan ragu, sesekali menyentuh dan mencoba hp-hp tersebut. "Saya cari yang kameranya bagus untuk anak saya sekolah, tapi... anggarannya terbatas."

"Halah, paling juga mau cari cicilan tanpa DP," gumam Andre keras-keras dari kejauhan, memancing tawa sales lainnya.

Wajah pria itu memerah, ia tampak malu dan hendak berbalik pergi. Menjadi bahan gosip di toko ia jadi sangat malu.

 Naufal merasa hatinya teriris. Ia tahu rasanya dipandang rendah karena penampilan. Tapi ini terlalu keterlaluan, mentang-mentang Manajer tidak ada mereka bicara sembarangan. 

"Jangan didengarkan, Pak. Mari saya tunjukkan tipe yang paling sesuai dengan kebutuhan Bapak," ujar Naufal tulus.

Naufal menatap layar-layar ponsel di depannya, tapi pandangannya kosong.

Angka target itu seperti menghantuinya, berputar-putar di kepalanya tanpa henti.

Dua belas juta… dalam setengah jam? Mustahil. Naufal tidak bermaksud menghina, namun meski bapak tua ini benar-benar membeli hp palingan cuma seri 2 jutaan dan belum cukup.

Dadanya terasa berat. Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang selama ini ia tolak mati-matian… muncul begitu saja.

Apa… gue memang gak cocok di sini?

Bayangan wajah ibunya dan para adik yang menunggu di rumah dengan perut kelaparan muncul lagi. Dan ucapan Siska yang selalu tajam, pedas, tapi berupa motivasi kalau diambil hikmahnya.

Nafasnya tercekat. Kalau dia mundur siapa yang akan mengurus mereka!?

“Gue… gak boleh kalah sekarang…” gumamnya lirih, hampir tidak terdengar.

Tangannya gemetar saat meraih hp demo di meja—  saat tangan Naufal menyentuh hp demo untuk melakukan probing (perkenalan produk), tiba-tiba dia tersetrum oleh sengatan listrik. 

“Aduh!” 

kepalanya mendadak berdenyut hebat. Sebuah suara dingin, jernih, dan tanpa emosi bergema di otaknya.

[Ding!]

[Selamat sistem analisis Nilai kembali aktif]

[Menemukan inang yang cocok]

[Progres wairsan 60% … 80 % … 100%]

[Proses pewarisan sistem berhasil!]

[Progres penyatuan dengan tuan rumah]

[Sistem Analisis Nilai Sedang Sinkronisasi... 10%... 50%... 100%!]

[Selamat! Inang telah mengaktifkan saya

[ sistem analisis nilai Kembali aktif!]

Tiba-tiba, pandangan Naufal berubah. Di atas kepala pria bersandal jepit itu, muncul sebuah panel transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.

> [Target: Budi Santoso]

> [Identitas: Pemilik yayasan pendidikan sekolah dasar yatim piatu (Menyamar)]

> [Budget: Rp 150.000.000  (seratus lima puluh juta)]**

> [Kebutuhan: 50 Unit Smartphone untuk CSR Pendidikan]**

> [Tingkat Kepercayaan pada Sales: 5%]

> [Menurun drastis atas penghinaan di toko, Budi berencana untuk mencari toko lain]

Mata Naufal membelalak hampir keluar dari kelopaknya. Apa-apaan ini!? Tiba-tiba data muncul di kepala nya, namun yang paling terkejut adalah nominal yang dia butuhkan dan banyaknya unit hp

"Mas? Kenapa melamun? Kalau memang tidak ada yang murah, saya permisi saja," ujar pria itu, suaranya terdengar kecewa.

Naufal tersentak. Ini kan layar notifikasi yang dia lihat kemarin malam, kok kembali lagi? Ia sangat tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi jika barisan tulisan data itu benar. Ini adalah kesempatan. Tahu ini adalah satu-satunya kesempatannya. Jika ia berhasil menutup penjualan ini, Andre dan manajer sombong itu akan sujud di kakinya.

"Tunggu, Pak!" Naufal menahan langkah pria itu. "Bapak tidak butuh smartphone murah. Bapak butuh perangkat yang tahan lama untuk jangka panjang, dan kebetulan... saya tahu persis apa yang Bapak cari untuk lima puluh anak di yayasan Bapak."

Langkah pria itu terhenti. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang sangat berbeda dari sebelumnya. "Bagaimana kamu tahu saya butuh lima puluh unit?"

Naufal tersenyum, auranya mendadak berubah menjadi sangat tenang dan penuh percaya diri. "Karena saya tidak hanya melihat penampilan Bapak, saya melihat kemungkinan saja."

Dari kejauhan, Andre tertawa meremehkan. "Lihat si bodoh itu, malah membual! Siap-siap berkemas, Naufal. Malam ini kamu jadi pengangguran! Hahaha!”

Siska tidak ikut mengolok-ngolok, dari tatapan itu dia tahu satu hal. Akhirnya orang yang dia hormati kembali berjaya seperti sedia kala! Ia tersenyum samar-samar. 'Nah bagus gue suka semangat itu .. itu baru Naufal yang kukenal!’

Naufal tidak membalas. Ia hanya menatap panel sistem yang kini berkedip - kedip.

[Tingkat Kepercayaan Target Meningkat: 45%... 60%...] 

Terpopuler

Comments

.

.

crazy up Thor, baru di awal udah ceritanya sambil seruput kopinya ☕🤭

2026-04-25

1

3RSEL

3RSEL

tadi nya mau maraton bacanya 🤦🤦🤦 ga tahan juga

2026-04-25

1

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ

ayo gasss Naufal bikin Andre melongo nanti luu dapat closingan puluhan juta dari bapak Budi Santoso 🤭

2026-04-25

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1—Permainan Kotor Sang Senior
2 Bab 2—Tulang Punggung Sang Keluarga Dan Notifikasi Aneh
3 Bab 3—Mendapatkan Kemampuan Aneh
4 Bab 4--Tawaran Maut Sang Sales
5 Bab 5--Closing 50 unit Bangkitnya Sang Pecundang
6 Bab 6--Makanan Untuk Keluarga
7 Bab 7--evaluasi Bulanan
8 Bab 8--Ketertarikan Sang Trainer Dingin
9 Bab 9--Datangnya Pelanggan baru Dan Misi Dadakan
10 Bab 10--Melayani Pelanggan
11 Bab 11--Strategi Up Seling Dan Tanga Keberuntungan
12 Bab 12--Pelunasan Dan Naik Level?
13 bab 13--Level 2
14 Bab 14--Pelayan Sombong
15 Bab 15--Acara Makan, Membahagiakan Ibu Dan Rara
16 Bab 16--Misi Belanja
17 Bab 17--Konsultasi fashion Dari Sang Siska
18 Bab 18--Meruntuhkan Kesombongan Trainer Angkuh
19 bab 19--Bagi bagi Brosur, Dan Calon Pelanggan sultan
20 Bab 20--COD Dan Keterkejutan Senior Sombong
21 Bab 21--COD Dan Hadiah Keuntungan selangit
22 Bab 22--Mencari Rekan Bisnis Baru
23 Bab 23--Ketertarikan Manajer cantik
24 Bab 24--Memperbaiki HP Rongsok
25 Bab 25--Menjual Hp rongsok dan menyewa tangan titisan dewa
26 Bab 26--Tangan Dewa Kredit auto acc
27 Bab 27--Melawan Preman
28 Bab 28--Jatuhnya Kekuasan Senior Sombong
29 Bab 29--Bagi-Bagi sedekah berakhir untung
30 Bab 30--Beli rumah
31 Bab 30.5--Kejutan Untuk Rara Dan Ibu Sarah
32 Bab 31--Bagas si BG
33 Bab 32--Live Streaming Pemancing Musang Birahi Dan Buaya Betina
34 Bab 33--Efek Live Edan Diserbu Massal
35 Bab 34--Drama Murahan Si BG
36 Bab 35--Menghentikan Drama Sampah Si BG
37 Bab 36--Acara Gede
38 Bab 37—Fangirl Bayangan
39 Bab 38—Acara Titan phone
40 Bab 39—Saatnya War
41 Bab 40--Acara Dimulai
42 Bab 41--Suami Bayangan sang Artis
43 Bab 42--Manajer cantik Yang Penakut
44 Bab 43--Misi The Rising Star Selesai, Menjadi Top 1 Sales OMNI
45 Bab 44--Pertemuan Dengan Paman Rahmat
46 Bab 45--Kunjungan Sang Trainer Cantik
47 Bab 46--Sang Trainer Mulai Kepincut
48 Bab 47--Pembawa Materi Yang Mengejutkan
49 Bab 48--Dengan Tegas Kutolak
50 Bab 49--Rencana Gila Si Sales Dan Pindah Toko
51 Bab 50--Gery Si Veva
52 Bab 51--Penjualan Pertama Di Toko Baru
53 Bab 52--Ide Jenius Si Sales Edan
54 Bab 53--Jejak Investigasi Sales Pertama
55 Bab 54—Mengantar Pulang Sang Trainer Cantik
56 Bab 55—Membeli Ruko
57 Bab 56—Gery Iri Dan Sosok Penguntit Dari Bayangan
58 Bab 57--Dua Singa Dan Kedatangan Sang Idol Legenda
59 Bab 58--Pembeli Dari Kenalan Lama
60 Bab 59--Gery Mulai Bertindak
61 Bab 60--Ancaman Untuk Gery
62 Bab 61--Konsekuensi Karena salah lawan
63 Bab 62--Tawaran Lagi
64 Bab 63--Tari Aku Butuh Kamu!!
65 Bab 64--Tawaran Untuk Tari
66 Bab 65--Satria
67 Bab 66-- Membantu Satria
68 Bab 66.5--Membantu Satria #2
69 Bab 67--Detik Detik terakhir
70 Bab 68--Pesta Dari OMNI Untuk Sang Legenda
71 Bab 69--Pesta Dari Sahabat
72 Bab 70--Drama Jaket Ketinggalan
73 Bab 70.5--Misteri Sang Penyelamat Yang Terungkap
74 Bab 71--Langkah awal
75 Bab 72--Rapat Para Brand
76 Bab 73
77 Bab 74--wawancara dan seleksi
78 Bab 75--Gadis Penyuka Bisbol
79 Bab 76--Lala
80 Bab 77--Kedatangan Lala ke ruko
81 Bab 78--Menenangkan Sang Dewi
82 Bab 79--Hasil Dan Ternyata Ini sandiwara?
83 Bab 80--
84 Bab 81—Acara Dimulai
85 Bab 82—Grand Opening
86 Bab 83--Wawancara
87 Bab 84--Sang Legenda Berbelanja
88 Bab 85
89 Bab 86—Wawancara Dadakan Dari Si PR
90 Bab 87—Membawa Pulang Kakak Ipar Nakal
91 Bab 88—Makan Malam
92 Bab 89—Wanto
93 Bab 90—Menjadi Trainer Dadakan
94 BAB 91--Kerjasama Dengan Arka Group
95 Bab 92--rapat dadakan
96 Bab 93--Luna Wijaya malu
97 Bab 94--Hadiah Edan sistem
98 Bab 95
99 Bab 96
100 Bab 97
101 Bab 98—Cairan Minuman Edan Untuk Karyawan
102 Bab 99—Pergi Bersama Tari
103 Bab 100—Rian
104 Bab 101—Sari Otot
105 Bab 102—Melawan Hama
106 Bab 102.5—Musnahnya Sandiwara Rian
107 Bab 103—Munculnya Sang Rival
108 Bab 104—Baku Hantam
109 Bab 105
110 Bab 106
111 Bab 107--Ajakan Perang Bisnis
112 bab 108--Permainan Dimulai
113 Bab 108.5--Permainan Dimulai
114 Bab 109
115 Bab 110--Taruhan Sang Rival
116 Bab 111--Ruko Tetangga
117 Bab 112--kekalahan telak
118 Bab 113--Makan Malam Dan Kembalinya kehidupan Normal
119 Bab 114--Melihat turnamen bersama Adik
120 Bab 115
121 Bab 116
122 Bab 117--Home run
123 bab 118
124 Bab 119
125 Bab 120
126 Bab 121—Kerjasama Dengan Holding Lin Crop
127 Bab 122
128 Bab 123—Pengakuan
129 Bab 124—Kelahiran Aethel (END)
130 EPILOG—Menjadi Penguasa Industri Teknologi
131 PROMOSI NOVEL BARU
132 PROMO NOVEL BARU#2
133 NOVEL INI DAPAT ADAPTASI
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Bab 1—Permainan Kotor Sang Senior
2
Bab 2—Tulang Punggung Sang Keluarga Dan Notifikasi Aneh
3
Bab 3—Mendapatkan Kemampuan Aneh
4
Bab 4--Tawaran Maut Sang Sales
5
Bab 5--Closing 50 unit Bangkitnya Sang Pecundang
6
Bab 6--Makanan Untuk Keluarga
7
Bab 7--evaluasi Bulanan
8
Bab 8--Ketertarikan Sang Trainer Dingin
9
Bab 9--Datangnya Pelanggan baru Dan Misi Dadakan
10
Bab 10--Melayani Pelanggan
11
Bab 11--Strategi Up Seling Dan Tanga Keberuntungan
12
Bab 12--Pelunasan Dan Naik Level?
13
bab 13--Level 2
14
Bab 14--Pelayan Sombong
15
Bab 15--Acara Makan, Membahagiakan Ibu Dan Rara
16
Bab 16--Misi Belanja
17
Bab 17--Konsultasi fashion Dari Sang Siska
18
Bab 18--Meruntuhkan Kesombongan Trainer Angkuh
19
bab 19--Bagi bagi Brosur, Dan Calon Pelanggan sultan
20
Bab 20--COD Dan Keterkejutan Senior Sombong
21
Bab 21--COD Dan Hadiah Keuntungan selangit
22
Bab 22--Mencari Rekan Bisnis Baru
23
Bab 23--Ketertarikan Manajer cantik
24
Bab 24--Memperbaiki HP Rongsok
25
Bab 25--Menjual Hp rongsok dan menyewa tangan titisan dewa
26
Bab 26--Tangan Dewa Kredit auto acc
27
Bab 27--Melawan Preman
28
Bab 28--Jatuhnya Kekuasan Senior Sombong
29
Bab 29--Bagi-Bagi sedekah berakhir untung
30
Bab 30--Beli rumah
31
Bab 30.5--Kejutan Untuk Rara Dan Ibu Sarah
32
Bab 31--Bagas si BG
33
Bab 32--Live Streaming Pemancing Musang Birahi Dan Buaya Betina
34
Bab 33--Efek Live Edan Diserbu Massal
35
Bab 34--Drama Murahan Si BG
36
Bab 35--Menghentikan Drama Sampah Si BG
37
Bab 36--Acara Gede
38
Bab 37—Fangirl Bayangan
39
Bab 38—Acara Titan phone
40
Bab 39—Saatnya War
41
Bab 40--Acara Dimulai
42
Bab 41--Suami Bayangan sang Artis
43
Bab 42--Manajer cantik Yang Penakut
44
Bab 43--Misi The Rising Star Selesai, Menjadi Top 1 Sales OMNI
45
Bab 44--Pertemuan Dengan Paman Rahmat
46
Bab 45--Kunjungan Sang Trainer Cantik
47
Bab 46--Sang Trainer Mulai Kepincut
48
Bab 47--Pembawa Materi Yang Mengejutkan
49
Bab 48--Dengan Tegas Kutolak
50
Bab 49--Rencana Gila Si Sales Dan Pindah Toko
51
Bab 50--Gery Si Veva
52
Bab 51--Penjualan Pertama Di Toko Baru
53
Bab 52--Ide Jenius Si Sales Edan
54
Bab 53--Jejak Investigasi Sales Pertama
55
Bab 54—Mengantar Pulang Sang Trainer Cantik
56
Bab 55—Membeli Ruko
57
Bab 56—Gery Iri Dan Sosok Penguntit Dari Bayangan
58
Bab 57--Dua Singa Dan Kedatangan Sang Idol Legenda
59
Bab 58--Pembeli Dari Kenalan Lama
60
Bab 59--Gery Mulai Bertindak
61
Bab 60--Ancaman Untuk Gery
62
Bab 61--Konsekuensi Karena salah lawan
63
Bab 62--Tawaran Lagi
64
Bab 63--Tari Aku Butuh Kamu!!
65
Bab 64--Tawaran Untuk Tari
66
Bab 65--Satria
67
Bab 66-- Membantu Satria
68
Bab 66.5--Membantu Satria #2
69
Bab 67--Detik Detik terakhir
70
Bab 68--Pesta Dari OMNI Untuk Sang Legenda
71
Bab 69--Pesta Dari Sahabat
72
Bab 70--Drama Jaket Ketinggalan
73
Bab 70.5--Misteri Sang Penyelamat Yang Terungkap
74
Bab 71--Langkah awal
75
Bab 72--Rapat Para Brand
76
Bab 73
77
Bab 74--wawancara dan seleksi
78
Bab 75--Gadis Penyuka Bisbol
79
Bab 76--Lala
80
Bab 77--Kedatangan Lala ke ruko
81
Bab 78--Menenangkan Sang Dewi
82
Bab 79--Hasil Dan Ternyata Ini sandiwara?
83
Bab 80--
84
Bab 81—Acara Dimulai
85
Bab 82—Grand Opening
86
Bab 83--Wawancara
87
Bab 84--Sang Legenda Berbelanja
88
Bab 85
89
Bab 86—Wawancara Dadakan Dari Si PR
90
Bab 87—Membawa Pulang Kakak Ipar Nakal
91
Bab 88—Makan Malam
92
Bab 89—Wanto
93
Bab 90—Menjadi Trainer Dadakan
94
BAB 91--Kerjasama Dengan Arka Group
95
Bab 92--rapat dadakan
96
Bab 93--Luna Wijaya malu
97
Bab 94--Hadiah Edan sistem
98
Bab 95
99
Bab 96
100
Bab 97
101
Bab 98—Cairan Minuman Edan Untuk Karyawan
102
Bab 99—Pergi Bersama Tari
103
Bab 100—Rian
104
Bab 101—Sari Otot
105
Bab 102—Melawan Hama
106
Bab 102.5—Musnahnya Sandiwara Rian
107
Bab 103—Munculnya Sang Rival
108
Bab 104—Baku Hantam
109
Bab 105
110
Bab 106
111
Bab 107--Ajakan Perang Bisnis
112
bab 108--Permainan Dimulai
113
Bab 108.5--Permainan Dimulai
114
Bab 109
115
Bab 110--Taruhan Sang Rival
116
Bab 111--Ruko Tetangga
117
Bab 112--kekalahan telak
118
Bab 113--Makan Malam Dan Kembalinya kehidupan Normal
119
Bab 114--Melihat turnamen bersama Adik
120
Bab 115
121
Bab 116
122
Bab 117--Home run
123
bab 118
124
Bab 119
125
Bab 120
126
Bab 121—Kerjasama Dengan Holding Lin Crop
127
Bab 122
128
Bab 123—Pengakuan
129
Bab 124—Kelahiran Aethel (END)
130
EPILOG—Menjadi Penguasa Industri Teknologi
131
PROMOSI NOVEL BARU
132
PROMO NOVEL BARU#2
133
NOVEL INI DAPAT ADAPTASI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!