Menyusun rencana

Setelah Rumi dan Nurdin pulang, pemakaman Maryani segera di lakukan setelah matahari terbit, para warga mulai menggali tanah dan Jamal juga Saidah tidak di ijinkan mengurus jenazah Maryani dengan cara yang benar. semuanya di lakukan secara adat kampung cadas, bahkan kain kafan Maryani tidak di buka, tetap di biarkan tertutup dan terikat dengan perut Maryani yang di tusuk tiga jarum oleh Narno.

‎"Makananmu Malak, bisa kamu ambil besok malam" batin Narno menyeringai.

‎Tidak ada yang tahu di balik adat pemakaman ibu hamil yang meninggal di sana, Narno berperan besar dalam adat dan cara memakamkan jenazah ibu hamil, itu karena dia membutuhkan bayi untuk tumbal kejayaan yang dia anut, dan itu tidak mungkin dia dapatkan dengan cara menculik bayi warga, dia menggunakan cara memberikan bayi bayi yang di kubur bersama ibunya untuk santapan jin peliharaannya yang bernama Malak.

‎"Aku pikir aku harus seperti tiga tahun lalu, sengaja meracuni seorang ibu hamil, tapi ternyata Maryani mati sendiri, itu lebih bagus" sinis Narno

‎"Kasihan Maryani, dia hamil besar dan meninggal tapi suaminya kerja di kota" ucap seorang warga

‎"Itulah sebabnya aku meminta warga di sini tetap tinggal di kampung cadas, biarkan orang masuk tapi kita tidak akan menganggap mereka, lihat! ini adalah bukti kalau keberadaan laki laki sebagai suami itu penting di sisi istrinya!" teriak Narno dan semuanya setuju.

‎"Lihat Jamal siapa yang membantumu mengurus jenazah Maryani! kami! dan orang orang yang kamu sanjung itu justru meninggalkan kalian!" ejek warga

‎"Dasar warga tidak berguna! kalau saja kalian bukan keturunan Arsana, kalian sudah aku usir sejak lama dari sini!" bentak Narno lalu pergi setelah pemakaman selesai.

‎Saidah kembali menangis, dia mengusap nisan Maryani yang hanya berupa sebuah batu, Saidah bahkan menciumi batu itu karena dia merasa sudah tidak becus menjaga Maryani.

‎"Maafkan ibu nak, ibu sudah salah pada kamu, Kaelan pasti marah pada ibu karena ibu sudah membunuh kamu" lirih Saidah

‎"Apa yang kamu katakan Bu, kamu tidak salah, ini musibah, harusnya kita ucapkan innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, bukannya malah meratapi semuanya, kita tunggu apa yang akan di lakukan Mbah Rumi dan Nurdin, Mbah Rumi benar, Kaelan kita itu anak angkatnya Karna, nama anak kita sama dengan nama putranya, dia pasti akan menolong kita" bujuk Jamal

"Kaelan pasti datang hari ini pak, Kaelan kita pasti bisa merasakan kalau istrinya sudah tiada dan anaknya dalam bahaya" ungkap Saidah

"Dia harus datang Saidah, dia harus datang" jawab Jamal mengusap rambut istrinya yang masih memeluk nisan Maryani.

‎°°°°°°°°°°°°

‎Di kampung Mahoni, lima tetua sedang berkumpul membahas masalah Maryani yang bayinya jelas masih hidup, Rumi bahkan tidak tidur dan meminta Abidin untuk membantunya bicara dengan Karman, Karna dan Panca. mereka merupakan tetua yang di hormati di sana dan memiliki kemampuan gaib yang tidak di miliki orang biasa.

‎"Berani sekali mereka menguburkan menantuku dengan cara yang tidak benar, akan aku hancurkan kampung itu!" kesal Karna.

‎"Sabar nak, kamu jangan emosi, bapak tahu kamu marah karena Kaelan sudah menitipkan istrinya pada kamu dan kedua orang tuanya, tapi Rumi yang seorang tetua kampung di sini saja tidak di hormati di sana, apalagi mereka yang tidak punya kemampuan apapun" bujuk Karman ayah dari Karna.

‎"Tapi pak, mereka sudah keterlaluan, Mbah Rumi sudah bilang kalau Maryani itu seorang muslim tapi mereka malah memakamkan Maryani secara adat kampung cadas" jawab Karna

‎"Kita lakukan sesuatu untuk mengambil kembali jasad Maryani, setelah itu periksa kembali bayinya karena biasanya, saat ini meninggal maka si bayi juga akan ikut meninggal" ucap Panca

"Panca benar, kita ambil jasadnya dan kita kuburkan dengan layak" jawab Abidin

‎"Aku sudah memasukkan kantil milik Abidin pada mulut Maryani, harusnya jasadnya bisa utuh dalam satu minggu" ucap Rumi

‎"Itu cukup, malam ini juga kita ambil jasad Maryani" ucap Abidin

‎"Bagaimana Mbah?" tanya Panca

‎"Aku setuju, kita makamkan Maryani di kampung Mahoni" jawab Karman

‎"Karna akan panggil Kalana untuk melindungi kita dan dia yang akan mengambil jasad Maryani" ucap Karna

‎"Tidak, kampung itu juga di jaga oleh makhluk bernama Malak, jangan kirim Kalana atau Narno akan tahu kalau itu ulah kita, kita harus kirim Kaelan, Kaelan yang akan membawa jasad istrinya itu" jawab Karman

‎"Mbah Karman benar, Narno mengenal kita dan jin pelindung kita, sebaiknya kirim Kaelan, dia mampu" jawab Panca

"Kapan Kaelan sampai? tadi kamu menelepon Kaelan kan?" tanya Karman

"Katanya sudah sampai di hutan kampung sukun pak, sekitar dua jam lagi dengan menaiki motor" jawab Karna

"Dua jam cukup untuk kita menyusun rencana, aku akan meminta Prawira anakku untuk menjemput Kaelan di perbatasan kampung cadas dan kampung Mahoni, kita katakan rencana kita pada Kaelan dan setelah itu kita siapkan pemakaman secara langsung setelah Kaelan berhasil membawa jasad Maryani di perbatasan" ungkap Panca

"Sampai di perbatasan?" tanya Karna

"Kita minta Kalana dan Ireng bersiap di sana membawa Kaelan dan Maryani supaya lebih cepat, dengan begitu Narno tidak akan bisa menuduh kita karena dia tidak bisa mengejar Kaelan" jawab Panca

"Aku akan ke kampung cadas lagi dengan alasan melayat, aku dan kang Abidin akan ke sana membawa buah buahan untuk di bagikan pada warga atas nama Maryani" ucap Rumi

"Buah itu tidak akan mereka terima Rumi, bagi warga kampung cadas, makanan dari rumah yang orangnya baru meninggal itu adalah sesuatu yang menjijikan, mereka menganggap makanan itu sudah di cicipi arwah orang yang meninggal itu" ucap Karman

"Tapi aku tidak punya alasan lain ke sana selain itu" jawab Rumi

"Tidak apa apa Rumi, ayo kita ke sana sekarang, perjalanan ke sana cukup jauh karena kita berjalan kaki" ucap Abidin

Panca pulang ke rumahnya untuk bicara dengan sang putra yang bernama Prawira, usia Prawira memang lebih muda hari Kaelan karena Prawira baru berusia enam belas tahun, tapi Prawira adalah tetua muda di kampung yang nantinya akan menggantikan Panca, jadi dia akan di libatkan dalam setiap urusan warga di kampung Mahoni.

Prawira juga langsung berangkat ke perbatasan kampung Mahoni dan kampung cadas untuk menjemput Kaelan, dia menunggu di sama sampai satu jam lebih dan akhirnya Kaelan tiba, Lelaki berperawakan tinggi dengan rambut panjang sebahu karena dia memang menyukai rambut panjang setelah Maryani sering mengusap rambutnya saat mereka duduk berdua ataupun tidur bersama.

"Kak Kaelan" sapa Prawira memeluk Kaelan yang matanya terlihat sembab.

"Antar aku langsung ke makam Maryani, aku ingin membawa istri dan anakku bersamaku" ucap Kaelan.

Terpopuler

Comments

Nurr Tika

Nurr Tika

moga berhasil tanpa narmo tau

2026-04-26

0

neni nuraeni

neni nuraeni

wiih mantaaap semoga bayinya msih hidup,,,pst tu bayi bkl sakti deh semoga aja agar bisa mmbsmi tu manusia yg brnma narno... narno, lnjut thor

2026-04-26

0

lihat semua
Episodes
1 Maryani
2 Masalah
3 Menyusun rencana
4 Penggalian
5 Kemarahan Kaelan
6 Siasat Narno
7 Tertipu
8 Solusi
9 Kembali ke kampung cadas
10 Mulai di ikuti
11 Mencoba menolong
12 Sosok berbahaya
13 Mulai tahu
14 Draft
15 Gangguan pertama
16 Terlihat
17 Bersedia membantu
18 Ulah Kaelan
19 Cemburu
20 Menunggu kabar
21 Tak bisa menahan diri
22 Kecurigaan Kaelan
23 Kecerobohan
24 Rencana jahat
25 Kebingungan
26 Bentrokan
27 Masih belum pasti
28 Jebakan Karna
29 Salbiah keluar
30 Jebakan untuk Salbiah
31 Salbiah terjebak
32 Anak Kunti
33 Bisa keluar
34 Penyelesaian dari Karman
35 Narno pasrah
36 Gangguan saat pesta
37 Angin Rana
38 Suasana canggung
39 Kaelan mulai curiga
40 Mencoba menghasut Narno
41 Narno melawan
42 Tiga tahun berlalu
43 Kemampuan Kalingga
44 Membujuk Narno
45 Aksi pertama Kalingga
46 Narsih ketahuan
47 Sisa pengaruh
48 Anak monyet
49 Membalikkan fitnah
50 Terjebak
51 Target selanjutnya
52 Nasib Jayandanu
53 Gangguan lain
54 Tujuan awal Narno dulu
55 Pasar cadas
56 Kepanikan Kaelan.
57 Berusaha keluar
58 Mencari jalan
59 Menggunakan pilihan terakhir
60 Kalingga lemah
61 Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62 kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63 Jin teman Kaivalya
64 Memaksa Malak mundur
65 Kekhawatiran Karman
66 Narsih diam Asih keluar
67 Celetukan Kalingga
68 Siasat baru Narsih
69 Badriah
70 Kalingga mau pacaran
71 Kalingga waspada
72 Kedatangan Narsih dan Asih
73 Kemarahan Narsih
74 Kaelan Arsana
75 Drama Kaelan
76 Hasutan Malak
77 Tirta terjerat
78 Menghilangkan Pelet
79 Menolong Tirta
80 Asih sekarat
81 Pelet Tirta
82 Kedatangan Badriah
83 semakin terikat
84 Jebakan Malak
85 Kinanti hilang
86 Rencana baru Malak
87 Penyerangan
88 Perang gaib di mulai
89 Perang gaib 2
90 membebaskan Kinanti
91 Memulihkan diri
92 Membujuk bocah dewasa
93 Tak ada jalan sembuh
94 Terbebani
95 Kalung hitam
96 Masalah Maryani
97 Banyak waktu berlalu
98 Mencari sosok dalam kabut
99 Dugaan
100 Sehelai rambut merah
101 Akhirnya....
102 Ekstra bab
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Maryani
2
Masalah
3
Menyusun rencana
4
Penggalian
5
Kemarahan Kaelan
6
Siasat Narno
7
Tertipu
8
Solusi
9
Kembali ke kampung cadas
10
Mulai di ikuti
11
Mencoba menolong
12
Sosok berbahaya
13
Mulai tahu
14
Draft
15
Gangguan pertama
16
Terlihat
17
Bersedia membantu
18
Ulah Kaelan
19
Cemburu
20
Menunggu kabar
21
Tak bisa menahan diri
22
Kecurigaan Kaelan
23
Kecerobohan
24
Rencana jahat
25
Kebingungan
26
Bentrokan
27
Masih belum pasti
28
Jebakan Karna
29
Salbiah keluar
30
Jebakan untuk Salbiah
31
Salbiah terjebak
32
Anak Kunti
33
Bisa keluar
34
Penyelesaian dari Karman
35
Narno pasrah
36
Gangguan saat pesta
37
Angin Rana
38
Suasana canggung
39
Kaelan mulai curiga
40
Mencoba menghasut Narno
41
Narno melawan
42
Tiga tahun berlalu
43
Kemampuan Kalingga
44
Membujuk Narno
45
Aksi pertama Kalingga
46
Narsih ketahuan
47
Sisa pengaruh
48
Anak monyet
49
Membalikkan fitnah
50
Terjebak
51
Target selanjutnya
52
Nasib Jayandanu
53
Gangguan lain
54
Tujuan awal Narno dulu
55
Pasar cadas
56
Kepanikan Kaelan.
57
Berusaha keluar
58
Mencari jalan
59
Menggunakan pilihan terakhir
60
Kalingga lemah
61
Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62
kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63
Jin teman Kaivalya
64
Memaksa Malak mundur
65
Kekhawatiran Karman
66
Narsih diam Asih keluar
67
Celetukan Kalingga
68
Siasat baru Narsih
69
Badriah
70
Kalingga mau pacaran
71
Kalingga waspada
72
Kedatangan Narsih dan Asih
73
Kemarahan Narsih
74
Kaelan Arsana
75
Drama Kaelan
76
Hasutan Malak
77
Tirta terjerat
78
Menghilangkan Pelet
79
Menolong Tirta
80
Asih sekarat
81
Pelet Tirta
82
Kedatangan Badriah
83
semakin terikat
84
Jebakan Malak
85
Kinanti hilang
86
Rencana baru Malak
87
Penyerangan
88
Perang gaib di mulai
89
Perang gaib 2
90
membebaskan Kinanti
91
Memulihkan diri
92
Membujuk bocah dewasa
93
Tak ada jalan sembuh
94
Terbebani
95
Kalung hitam
96
Masalah Maryani
97
Banyak waktu berlalu
98
Mencari sosok dalam kabut
99
Dugaan
100
Sehelai rambut merah
101
Akhirnya....
102
Ekstra bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!