Penggalian

Sampai di kampung cadas sore hari, Kaelan langsung ke makam Maryani karena Jamal, Saidah, Rumi dan Abidin sudah menunggu di sana, Abidin bahkan sudah menyiapkan kain kafan baru yang dia bawa di balik pakaian yang dia pakai.

‎Banyak tatapan sinis di terima Kaelan, semua warga yang berpapasan dengannya tak ada yang bersikap ramah, mereka hanya mencibir dan menatap datar Kaelan juga Prawira. bahkan Narno juga mengikuti Kaelan ke makam Maryani karena dia khawatir Kaelan melakukan sesuatu yang akan membuat usahanya gagal.

‎"Kami memakamkan Maryani dengan adat kampung ini" ucap Narno

‎"Kenapa tidak menungguku? aku suaminya dan berhak memakamkan Istriku!" bentak Kaelan

‎"Jangan kurang ajar pada tetua kami!" bentak Beno

‎"Tetua itu harusnya bisa memberikan contoh yang baik, aku sudah bukan bagian dari kampung ini sejak tiga tahun lalu dan aku akan membawa istriku bersamaku!" jawab Kaelan membuat Prawira dan Abidin terkejut karena bukan Itu rencana mereka.

‎"Kak..."

‎"Kamu ingin membawa jasad istrimu! silahkan, tapi jangan salahkan aku kalau kalian akan menemukan kesialan karena sudah menggali kuburan di kuburan kampung cadas, Jamal! kamu tahu kan apa alasannya!" bentak Narno

‎"I.. iya Mbah" jawab Jamal yang tahu bahkan menyaksikan sendiri bagaimana orang orang yang hendak mencuri jasad di kampung cadas meninggal di tempat bahkan dalam keadaan mengenaskan.

‎Itu di sebabkan karena tanah yang ada di pemakaman itu adalah tanah milik dari makhluk bernama Jayandanu, sesosok kelabang raksasa yang merupakan sekutu Narno dan juga bawahan Malak.

‎"Iya nak, kita berdo'a saja untuk Maryani, jangan menantang Mbah Narno" bujuk Saidah

‎"Ayo nak, kita do'akan Maryani, Mbah sudah bawa banyak buah untuk penghuni tempat ini' bujuk Rumi menarik tangan Kaelan yang masih menatap tajam Narno.

‎Kaelan mengalah, dia berjalan menuju ke makam Maryani sambil sesekali berbalik memastikan Narno pergi dan ternyata berhasil, tipuan Kaelan yang mengatakan akan membawa jasad Maryani berhasil, karena Kaelan mengatakan itu supaya Narno marah dan mengancam Kaelan di depan warga, jadi jika jasad Maryani hilang warga tidak akan menuduh Kaelan karena Jamal dan Saidah ketakutan anaknya itu meninggal.

‎"Jadi itu rencana kamu?" tanya Abidin sudah hampir memarahi Kaelan

‎"Iya Mbah, itu supaya Narno percaya kalau Kaelan takut dan akan di cegah bapak juga ibu untuk tidak melakukan hal bodoh, dan lihat, dia tidak mengikuti Kaelan lagi sekarang" jawab Kaelan

‎Kaelan mengusap nisan Maryani, dia kembali menitikkan air matanya karena terlambat datang untuk menemani istrinya melahirkan, semua itu juga tidak di sangka Kaelan yang tahu Maryani akan melahirkan dua minggu lagi jadi Kaelan terus bekerja lembur di resort supaya bisa cuti lebih lama.

‎"Maryani, aku sudah membelikan kalung untuk kamu, aku hanya bisa memberikan cincin pernikahan biasa saja dulu, sekarang aku bawa kalung untuk kamu, tapi kamu malah pergi" ungkap Kaelan

‎"Lihat, aku bawa gelang kaki untuk anak kita, dalam mimpiku dia perempuan, dia pasti cantik kalau memakai gelang kaki ini, bahkan pak Sagara memberikan hadiah anting juga untuk anak kita tapi... mungkin tidak akan bisa di pakai"

‎"Maryani rambutku sudah semakin panjang, ayo kamu bangun dan usap rambutku seperti saat kita bersama dulu, aku tidur di pangkuanmu dan kamu mengusap rambutku sampai aku tertidur"

‎Air mata Kaelan terus mengucur deras di depan pusara Maryani, Saidah dan Jamal bahkan ikut menangis tak terkecuali Rumi, Abidin dan Prawira, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun.

‎"Eeaaa....."

‎"Pak, apa kalian mendengar sesuatu?" tanya Kaelan karena merasa mendengar suara samar.

‎"Tidak nak, suara apa?" tanya Jamal

‎"Tidak tahu pak, tapi ada suara... pelan tapi masih terdengar..."

‎Kaelan melihat sekeliling karena dia khawatir ada orang yang memantau mereka, tapi tidak ada siapapun dan Kaelan tahu kalau warga kampung itu tidak akan keluar rumah setelah pukul lima sore, dan saat itu sudah masuk pukul lima lebih lima belas menit.

"Mungkin itu suara Jayandanu" ucap Prawira

‎"Sudah masuk waktu suruf, sekarang saatnya" ucap Rumi

‎"Baik Mbah" jawab Kaelan dan Prawira

‎Keduanya berdo'a terlebih dahulu, Abidin memagari tempat itu dengan pagar gaib supaya orang orang mengira mereka sudah pulang dan tidak terlihat di sana, Jamal dan Saidah tetap di dalam pagar itu untuk mengurus jenazah Maryani.

‎Srak. Srak.

‎Kaelan dan Prawira mulai menggali tanah makam Maryani, mereka memastikan menggalinya dengan hati hati karena makam di sana tidak di lengkapi dengan bambu sebagai penghalang tanah dengan jasad, jasad manusia di kubur di sana sama layaknya dengan bangkai yang sudah mati.

‎"Eeaaa... Prawira, kamu dengar kan?" tanya Kaelan

‎"Tidak kak"

‎"Cepat gali, anakku ada di dalam dan hidup, dia sudah lahir!" ucap Kaelan yakin bahkan menggunakan tangannya supaya tidak menyakiti bayinya kalau iya dia sudah lahir di dalam kubur.

‎"Nak bertahan, ayah akan mengeluarkan kamu secepatnya nak, jangan menangis, ayah di sini kamu jangan takut" ucap Kaelan terus menggali hingga tak terasa waktu sudah masuk waktu mahgrib.

‎"Nak, itu kain kafannya sudah terlihat" ucap Jamal yang memegang senter supaya Kaelan bisa melihat dengan jelas.

‎"Maryani sayang, aku di sini, kamu masih hidup kan" ucap Kaelan segera membersihkan tanah yang ada di kain kafan Maryani, Prawira naik dia melihat ke sekeliling karena khawatir makhluk bernama Malak itu datang dan memergoki mereka, di tambah dengan makhluk bernama Jayandanu yang biasanya muncul saat setelah isya.

"Segera bawa naik Maryani" ucap Abidin

‎"Oek... Oek... Oek..."

‎Kain kafan yang sudah kotor itu terlihat bergerak di bagian perut bawah Maryani yang masih tertutup tali, saat Kalean membukanya, semua orang terperanjat karena seorang bayi merah terlihat menangis dan bergerak lemah dengan tali pusar yang melilit lehernya.

‎"Masya Allah kang, bayi Maryani keluar sendiri dari jalan lahirnya, bahkan tidak ada darah sama sekali, Kaelan segera berikan dia, bayi kamu harus segera di urus!" ucap Rumi

‎Kaelan begitu terkejut, seorang bayi muncul dari dalam kain kafan Maryani yang sudah terlihat kotor dan bahkan bayi itu meringkuk memeluk perut Maryani yang sudah terbujur kaku dengan wajah pucat dan membiru.

‎"Maryani.... bangun sayang, anak kita juga hidup, kamu juga harusnya hidup, aku sudah di sini" bisik Kaelan memeluk Maryani dengan masih menggendong anaknya yang masih terlilit tali pusar.

‎"Kaelan bayimu bisa meninggal berikan dia padaku" ucap Rumi tapi Kaelan tetap mengusap pipi Maryani agar terbangun.

Terpopuler

Comments

Nurr Tika

Nurr Tika

lanjut thor

2026-04-28

0

lihat semua
Episodes
1 Maryani
2 Masalah
3 Menyusun rencana
4 Penggalian
5 Kemarahan Kaelan
6 Siasat Narno
7 Tertipu
8 Solusi
9 Kembali ke kampung cadas
10 Mulai di ikuti
11 Mencoba menolong
12 Sosok berbahaya
13 Mulai tahu
14 Draft
15 Gangguan pertama
16 Terlihat
17 Bersedia membantu
18 Ulah Kaelan
19 Cemburu
20 Menunggu kabar
21 Tak bisa menahan diri
22 Kecurigaan Kaelan
23 Kecerobohan
24 Rencana jahat
25 Kebingungan
26 Bentrokan
27 Masih belum pasti
28 Jebakan Karna
29 Salbiah keluar
30 Jebakan untuk Salbiah
31 Salbiah terjebak
32 Anak Kunti
33 Bisa keluar
34 Penyelesaian dari Karman
35 Narno pasrah
36 Gangguan saat pesta
37 Angin Rana
38 Suasana canggung
39 Kaelan mulai curiga
40 Mencoba menghasut Narno
41 Narno melawan
42 Tiga tahun berlalu
43 Kemampuan Kalingga
44 Membujuk Narno
45 Aksi pertama Kalingga
46 Narsih ketahuan
47 Sisa pengaruh
48 Anak monyet
49 Membalikkan fitnah
50 Terjebak
51 Target selanjutnya
52 Nasib Jayandanu
53 Gangguan lain
54 Tujuan awal Narno dulu
55 Pasar cadas
56 Kepanikan Kaelan.
57 Berusaha keluar
58 Mencari jalan
59 Menggunakan pilihan terakhir
60 Kalingga lemah
61 Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62 kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63 Jin teman Kaivalya
64 Memaksa Malak mundur
65 Kekhawatiran Karman
66 Narsih diam Asih keluar
67 Celetukan Kalingga
68 Siasat baru Narsih
69 Badriah
70 Kalingga mau pacaran
71 Kalingga waspada
72 Kedatangan Narsih dan Asih
73 Kemarahan Narsih
74 Kaelan Arsana
75 Drama Kaelan
76 Hasutan Malak
77 Tirta terjerat
78 Menghilangkan Pelet
79 Menolong Tirta
80 Asih sekarat
81 Pelet Tirta
82 Kedatangan Badriah
83 semakin terikat
84 Jebakan Malak
85 Kinanti hilang
86 Rencana baru Malak
87 Penyerangan
88 Perang gaib di mulai
89 Perang gaib 2
90 membebaskan Kinanti
91 Memulihkan diri
92 Membujuk bocah dewasa
93 Tak ada jalan sembuh
94 Terbebani
95 Kalung hitam
96 Masalah Maryani
97 Banyak waktu berlalu
98 Mencari sosok dalam kabut
99 Dugaan
100 Sehelai rambut merah
101 Akhirnya....
102 Ekstra bab
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Maryani
2
Masalah
3
Menyusun rencana
4
Penggalian
5
Kemarahan Kaelan
6
Siasat Narno
7
Tertipu
8
Solusi
9
Kembali ke kampung cadas
10
Mulai di ikuti
11
Mencoba menolong
12
Sosok berbahaya
13
Mulai tahu
14
Draft
15
Gangguan pertama
16
Terlihat
17
Bersedia membantu
18
Ulah Kaelan
19
Cemburu
20
Menunggu kabar
21
Tak bisa menahan diri
22
Kecurigaan Kaelan
23
Kecerobohan
24
Rencana jahat
25
Kebingungan
26
Bentrokan
27
Masih belum pasti
28
Jebakan Karna
29
Salbiah keluar
30
Jebakan untuk Salbiah
31
Salbiah terjebak
32
Anak Kunti
33
Bisa keluar
34
Penyelesaian dari Karman
35
Narno pasrah
36
Gangguan saat pesta
37
Angin Rana
38
Suasana canggung
39
Kaelan mulai curiga
40
Mencoba menghasut Narno
41
Narno melawan
42
Tiga tahun berlalu
43
Kemampuan Kalingga
44
Membujuk Narno
45
Aksi pertama Kalingga
46
Narsih ketahuan
47
Sisa pengaruh
48
Anak monyet
49
Membalikkan fitnah
50
Terjebak
51
Target selanjutnya
52
Nasib Jayandanu
53
Gangguan lain
54
Tujuan awal Narno dulu
55
Pasar cadas
56
Kepanikan Kaelan.
57
Berusaha keluar
58
Mencari jalan
59
Menggunakan pilihan terakhir
60
Kalingga lemah
61
Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62
kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63
Jin teman Kaivalya
64
Memaksa Malak mundur
65
Kekhawatiran Karman
66
Narsih diam Asih keluar
67
Celetukan Kalingga
68
Siasat baru Narsih
69
Badriah
70
Kalingga mau pacaran
71
Kalingga waspada
72
Kedatangan Narsih dan Asih
73
Kemarahan Narsih
74
Kaelan Arsana
75
Drama Kaelan
76
Hasutan Malak
77
Tirta terjerat
78
Menghilangkan Pelet
79
Menolong Tirta
80
Asih sekarat
81
Pelet Tirta
82
Kedatangan Badriah
83
semakin terikat
84
Jebakan Malak
85
Kinanti hilang
86
Rencana baru Malak
87
Penyerangan
88
Perang gaib di mulai
89
Perang gaib 2
90
membebaskan Kinanti
91
Memulihkan diri
92
Membujuk bocah dewasa
93
Tak ada jalan sembuh
94
Terbebani
95
Kalung hitam
96
Masalah Maryani
97
Banyak waktu berlalu
98
Mencari sosok dalam kabut
99
Dugaan
100
Sehelai rambut merah
101
Akhirnya....
102
Ekstra bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!