Aku Bukan Anak Kuntilanak

Aku Bukan Anak Kuntilanak

Maryani

Hujan turun begitu deras di kampung cadas, sebuah kampung yang masih memegang teguh adat istiadat di sana, bahkan untuk masuk ke dalam kampung itu di butuhkan perjalanan yang begitu panjang melewati banyaknya jurang batu dan jalan yang begitu licin.

"Aakhhhh! Perutku sakit Bu" ucap seorang perempuan yang sedang menahan rasa sakit karena dia terjatuh di kamar mandi setelah mencuci piring.

"Tahan nak, Mbah Rumi dan dokter Nurdin sudah di panggil sejak sore, tapi mereka belum sampai, pasti terjebak hujan" ucap sang ibu mertua yang bernama Saidah begitu terlihat khawatir.

"Darahnya semakin banyak Saidah, bagaimana kalau terjadi sesuatu, kamu jaga Maryani aku akan menyusul Mbah Rumi ke kampung bukit Mahoni" ucap suami dari Saidah yang bernama Jamal.

"Tapi ini sudah malam kang, bagaimana kalau terjadi sesuatu, di rumah tidak ada siapapun, Kaelan masih belum pulang dari kota" ucap Saidah khawatir

"Mau bagaimana lagi, rumah kita jauh dari tetangga, mereka juga pasti ketakutan dengan hujan petir di luar, aku harus melakukan sesuatu untuk cucu kita dan Maryani, kasihan mereka" jawab Jamal dan akhirnya Saidah mengangguk setuju

"Maryani, kamu tahan ya nak, kamu kuat karena ibu di sini, kamu pegang golok ini, ibu mau mengunci semua pintu dan jendela dulu, nanti bapakmu bawa kunci cadangan" bujuk Saidah

"Jangan lama Bu, perut Maryani sakit sekali" lirih Maryani

"Iya nak, ibu akan cepat" jawab Saidah mengusap keringat dingin yang keluar dari kening Maryani.

Maryani Sujana adalah seorang perempuan muda berusia dua puluh satu tahun, dia menikah dengan Kaelan Rahmadi yang sekarang berusia dua puluh lima tahun, mereka menikah sejak tiga tahun lalu dan itu adalah kehamilan pertamanya. Di kampung cadas memang para remaja sering di nikahkan di usia dini, namun Kaelan yang bersekolah di kota memilih untuk menikah di usia yang menurutnya cukup karena dia tidak mau terikat dengan adat yang menurutnya terlalu mengikat dan tidak masuk akal.

Para warga juga kurang menyukai Kaelan yang sempat ingin membuka sekolah di sana tapi tetua di sana menolak keras, hingga Kaelan menyerah dan memilih menjadi seorang karyawan di sebuah resort di Jakarta.

Kembali ke keadaan Maryani, Saidah sudah menyiapkan air panas di termos, selimut dan beberapa kain untuk berjaga jaga apabila menantunya itu melahirkan, semuanya sudah di siapkan sejak awal karena memang kehamilan Maryani sudah masuk bulan ke sembilan.

"Aakhhhh... Bu sakit sekali!" lirih Maryani

"Sabar nak, ibu juga tidak tahu harus bagaimana, harusnya kalau mau melahirkan kamu sudah mulai pecah ketuban tapi kamu juga tidak mengeluarkan darah" ucap Saidah

"Sakit Bu...."

Saidah semakin panik, apalagi tubuh Maryani juga terlihat lemas karena terus menahan rasa sakit yang tak tertahankan, keringatnya bahkan sudah membasahi pakaian yang dia pakai sampai Saidah harus beberapa kali mengganti pakaian Maryani.

"Haus..."

"Ini nak, kamu minum dulu air gula merahnya"

"Bu..."

"Iya nak"

"Kapan kang Kaelan pulang?"

"Kata pak RT dua hari lagi, gerbang resort kan di buka seminggu sekali di hari Jum'at"

"Dua hari.... Apa Maryani bisa bertahan"

"Jangan bicara sembarangan, kamu pasti akan bertahan, melahirkan anak kalian dan merawatnya bersama"

"Maryani ngantuk Bu..."

"Jangan tidur, kamu pegang tasbih ini, baca bacaan tasbih bersama ibu"

"Maryani.... Nak" panggil Saidah mengusap pipi Maryani yang terasa dingin.

"Iya Bu..."

"Baca tasbih"

"Subhanallah...."

"Kalau tetua tahu kita ikut agama orang orang di kampung mahoni, mereka pasti murka" ucap Saidah

"Kita pindah saja ke sana Bu, Maryani ingin anak Maryani bisa sekolah dan berkumpul dengan anak anak yang baik" ungkap Maryani

"Nanti kita bahas dengan bapak kamu ya"

"Iya..."

Saidah terus membaca tasbih dengan mata yang mulai mengantuk, dia tidak menyadari kalau Maryani juga sudah mulai memejamkan matanya bahkan tasbih yang dia pegang sudah terjatuh. Hingga suaranya ketukan mengagetkan Saidah yang sudah tertidur.

Tok. Tok. Tok.

"Bu... Aku lupa kunci rumah di dalam jaket!" teriak Jamal

"Astagfirullah, pak itu kamu?" tanya Saidah masih tidak menyadari kalau Maryani sudah memejamkan matanya.

"Iya ini aku, buka pintunya Mbah Rumi sudah di sini bersama dokter Nurdin" jawab Jamal

Saidah segera berdiri dan menuju ke ruang tamu, dia membuka pintu dan begitu senang ketika melihat suaminya sudah datang bersama Rumi seorang dukun beranak dan anaknya Nurdin yanh seorang dokter dari kampung Mahoni.

"Mana anakmu?" tanya Rumi

"Di kamar Mbah, sudah saya minta memegang golok" jawab Saidah

"Ayo ke sana, perasaanku tidak enak" ucap Rumi

"Bu, biar Nurdin tunggu di sini saja" ucap Nurdin

"Iya, nanti kalau ada luka yang harus di jahit ibu akan panggil kamu" jawab Rumi.

Saat masuk ke dalam kamar, Rumi dan Saidah begitu terkejut karena melihat Maryani sudah terpejam dan tubuhnya sedikit membiru, bibirnya bahkan sudah begitu pucat dan Rumi segera memeriksa perut Maryani.

"Bayinya sungsang, kalian tidak pernah periksa kandungan?" tanya Rumi

"Tidak pernah Mbah, jalan ke kampung mahoni terlalu jauh dan warga di sini tidak ada yang mau meminjamkan delman ataupun gerobak sapi mereka.

"Ini salahku, harusnya saat Kaelan mengatakan kalian di musuhi di sini aku meminta tetua kampung Mahoni membawa kalian" ungkap Rumi mencoba menyadarkan Maryani yang semakin lemah denyut nadinya.

"Lalu bagaimana Mbah?"

"Panggil Nurdin"

"Baik Mbah"

Saidah kembali berdiri untuk keluar kamar, dia memanggil Nurdin yang sedang mengobrol dengan Jamal, setelah Nurdin masuk dia langsung memeriksa kondisi tekanan darah dan jantung Maryani. Semuanya dia cek dengan alat yang dia bawa.

Matanya terbelalak karena dari hasil pemeriksaan yang dia lakukan, jantung Maryani sudah berhenti berdetak dan bisa di bilang meninggal.

"Maaf Bu, biar Nurdin periksa detak jantung bayinya" ucap Nurdin dan Rumi yang sedang menyelimuti Maryani bergeser.

"Bagaimana?"

"Detak jantung bayi masih ada, maaf Bu Saidah saya harus menyampaikan ini, tapi Maryani sudah meninggal" ucap Nurdin

"Tidak, itu tidak mungkin! Tadi dia masih membaca tasbih bersama saya" kaget Saidah bahkan Jamal juga ikut masuk ke dalam.

"Ada apa Mbah?" tanya Jamal

"Maryani meninggal, tapi bayinya masih bisa di selamatkan" jawab Rumi

"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, bagaimana ini Mbah, adat di sini kalau seorang ibu hamil meninggal, maka bayinya harus di kubur bersama ibunya" ucap Jamal menitikkan air matanya bahkan Saidah sudah menangis sambil memeluk Maryani yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.

"Maryani bangun nak, kamu harus melahirkan anak kamu, merawatnya sampai besar, Kaelan akan marah kalau kamu pergi Maryani" panggil Saidah

"Saidah... Jangan berteriak nanti tetangga dengar, mereka bisa tahu kalau Maryani meninggal" bisik Jamal

Terpopuler

Comments

neni nuraeni

neni nuraeni

slmt DTG thor,,, iih pst deh ceritanya seruu baru baca aja udah seru bnget,,, lnjuttt

2026-04-26

0

Ridwan01

Ridwan01

Selamat datang di cerita baruku☺️🙏

2026-04-25

3

Laila Zayn

Laila Zayn

weeehh ini mbah rumi istri nya kakek abidin/mbah karso yaa thor???

lanjut baca aaah 🤭

2026-04-27

0

lihat semua
Episodes
1 Maryani
2 Masalah
3 Menyusun rencana
4 Penggalian
5 Kemarahan Kaelan
6 Siasat Narno
7 Tertipu
8 Solusi
9 Kembali ke kampung cadas
10 Mulai di ikuti
11 Mencoba menolong
12 Sosok berbahaya
13 Mulai tahu
14 Draft
15 Gangguan pertama
16 Terlihat
17 Bersedia membantu
18 Ulah Kaelan
19 Cemburu
20 Menunggu kabar
21 Tak bisa menahan diri
22 Kecurigaan Kaelan
23 Kecerobohan
24 Rencana jahat
25 Kebingungan
26 Bentrokan
27 Masih belum pasti
28 Jebakan Karna
29 Salbiah keluar
30 Jebakan untuk Salbiah
31 Salbiah terjebak
32 Anak Kunti
33 Bisa keluar
34 Penyelesaian dari Karman
35 Narno pasrah
36 Gangguan saat pesta
37 Angin Rana
38 Suasana canggung
39 Kaelan mulai curiga
40 Mencoba menghasut Narno
41 Narno melawan
42 Tiga tahun berlalu
43 Kemampuan Kalingga
44 Membujuk Narno
45 Aksi pertama Kalingga
46 Narsih ketahuan
47 Sisa pengaruh
48 Anak monyet
49 Membalikkan fitnah
50 Terjebak
51 Target selanjutnya
52 Nasib Jayandanu
53 Gangguan lain
54 Tujuan awal Narno dulu
55 Pasar cadas
56 Kepanikan Kaelan.
57 Berusaha keluar
58 Mencari jalan
59 Menggunakan pilihan terakhir
60 Kalingga lemah
61 Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62 kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63 Jin teman Kaivalya
64 Memaksa Malak mundur
65 Kekhawatiran Karman
66 Narsih diam Asih keluar
67 Celetukan Kalingga
68 Siasat baru Narsih
69 Badriah
70 Kalingga mau pacaran
71 Kalingga waspada
72 Kedatangan Narsih dan Asih
73 Kemarahan Narsih
74 Kaelan Arsana
75 Drama Kaelan
76 Hasutan Malak
77 Tirta terjerat
78 Menghilangkan Pelet
79 Menolong Tirta
80 Asih sekarat
81 Pelet Tirta
82 Kedatangan Badriah
83 semakin terikat
84 Jebakan Malak
85 Kinanti hilang
86 Rencana baru Malak
87 Penyerangan
88 Perang gaib di mulai
89 Perang gaib 2
90 membebaskan Kinanti
91 Memulihkan diri
92 Membujuk bocah dewasa
93 Tak ada jalan sembuh
94 Terbebani
95 Kalung hitam
96 Masalah Maryani
97 Banyak waktu berlalu
98 Mencari sosok dalam kabut
99 Dugaan
100 Sehelai rambut merah
101 Akhirnya....
102 Ekstra bab
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Maryani
2
Masalah
3
Menyusun rencana
4
Penggalian
5
Kemarahan Kaelan
6
Siasat Narno
7
Tertipu
8
Solusi
9
Kembali ke kampung cadas
10
Mulai di ikuti
11
Mencoba menolong
12
Sosok berbahaya
13
Mulai tahu
14
Draft
15
Gangguan pertama
16
Terlihat
17
Bersedia membantu
18
Ulah Kaelan
19
Cemburu
20
Menunggu kabar
21
Tak bisa menahan diri
22
Kecurigaan Kaelan
23
Kecerobohan
24
Rencana jahat
25
Kebingungan
26
Bentrokan
27
Masih belum pasti
28
Jebakan Karna
29
Salbiah keluar
30
Jebakan untuk Salbiah
31
Salbiah terjebak
32
Anak Kunti
33
Bisa keluar
34
Penyelesaian dari Karman
35
Narno pasrah
36
Gangguan saat pesta
37
Angin Rana
38
Suasana canggung
39
Kaelan mulai curiga
40
Mencoba menghasut Narno
41
Narno melawan
42
Tiga tahun berlalu
43
Kemampuan Kalingga
44
Membujuk Narno
45
Aksi pertama Kalingga
46
Narsih ketahuan
47
Sisa pengaruh
48
Anak monyet
49
Membalikkan fitnah
50
Terjebak
51
Target selanjutnya
52
Nasib Jayandanu
53
Gangguan lain
54
Tujuan awal Narno dulu
55
Pasar cadas
56
Kepanikan Kaelan.
57
Berusaha keluar
58
Mencari jalan
59
Menggunakan pilihan terakhir
60
Kalingga lemah
61
Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62
kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63
Jin teman Kaivalya
64
Memaksa Malak mundur
65
Kekhawatiran Karman
66
Narsih diam Asih keluar
67
Celetukan Kalingga
68
Siasat baru Narsih
69
Badriah
70
Kalingga mau pacaran
71
Kalingga waspada
72
Kedatangan Narsih dan Asih
73
Kemarahan Narsih
74
Kaelan Arsana
75
Drama Kaelan
76
Hasutan Malak
77
Tirta terjerat
78
Menghilangkan Pelet
79
Menolong Tirta
80
Asih sekarat
81
Pelet Tirta
82
Kedatangan Badriah
83
semakin terikat
84
Jebakan Malak
85
Kinanti hilang
86
Rencana baru Malak
87
Penyerangan
88
Perang gaib di mulai
89
Perang gaib 2
90
membebaskan Kinanti
91
Memulihkan diri
92
Membujuk bocah dewasa
93
Tak ada jalan sembuh
94
Terbebani
95
Kalung hitam
96
Masalah Maryani
97
Banyak waktu berlalu
98
Mencari sosok dalam kabut
99
Dugaan
100
Sehelai rambut merah
101
Akhirnya....
102
Ekstra bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!