Kemarahan Kaelan

"Kaelan bayimu bisa meninggal berikan dia padaku" ucap Rumi tapi Kaelan tetap mengusap pipi Maryani agar terbangun.

Prawira akhirnya turun dan mengambil bayi itu dari tangan Kaelan, dia memberikan langsung pada Rumi yang langsung mengurus bayi itu supaya tidak kedinginan di bantu Saidah, dan Prawira meminta Kaelan untuk sadar karena Maryani sudah meninggal.

‎"Ayo kak sebelum Jayandanu datang dan Malak juga tahu kita ke sini, bawa jasad kak Maryani ke atas" ucap Prawira akhirnya menyadarkan Kaelan.

‎"Segera bawa anakku, aku akan menyusul dengan membawa jasad Maryani, aku harus membuat kuburan ini seolah tidak di gali" ucap Kaelan

‎"Aku akan membantumu kak" ucap Prawira

‎"Tidak, kamu lindungilah bayiku, dia pasti terus menangis dan kamu harus melindungi kedua orang tuaku juga" jawab Kaelan

‎"Kaelan benar Wira, ayo kita pergi sebelum makhluk bernama Malak itu muncul dan mengacaukan rencana kita, Jamal dan Saidah akan pulang ke rumah mereka dan berpura pura tidak pernah terjadi apapun" jawab Abidin

‎Akhirnya Prawira menyerah, dia membawa Jamal dan Saidah pulang ke rumah mereka terlebih dahulu, menyimpan arang bekas penerangan makam supaya orang mengira kalau mereka sudah lama kembali dari makam, dan setelah itu Prawira menyusul Rumi juga Abidin ke perbatasan kampung dengan menggunakan kain hitam supaya tidak di ketahui warga.

‎Di makam Maryani, Kaelan melepaskan semua jarum yang menancap di kaki, tangan, kepala dan juga perut Maryani, pucuk kantil yang di masukkan Rumi tetap dia biarkan karena itu supaya tubuh Maryani tetap utuh. tapi di tengah usahanya membawa jasad Maryani naik ke atas, Kaelan sedikit kesulitan karena tanah yang begitu licin akibat hujan dan tubuh Maryani yang sudah kaku.

‎"Ggrrrr.... sssrrrttttt"

‎"Innailaihi, itu Jayandanu" panik Kaelan memejamkan matanya dan mencoba mengeluarkan ilmu yang dia miliki untuk menyamarkan baunya.

‎"Makanan, makananku sudah tersedia" suaranya terdengar menggelegar

‎"Ya Allah, tolong hamba"

‎Suara tanah bergerak itu semakin mendekat dan tepat sebelum makhluk itu mencapai Kaelan, sebuah tangan mengusap rambut panjang Kaelan. Saat menolah Kaelan melihat Maryani sedang tersenyum ke arahnya tapi tidak memakai kain kafan, melainkan memakai pakaian yang di sumbangkan Saidah atas namanya, sebuah kebaya putih dengan kain berwarna hijau.

‎"Pulanglah kang, rawat anak kita dan kubur kembali jasad ku di sini, tapi lakukan secara islam, biarkan tubuhku ada di tanah ini karena aku harus tetap di sini bersama bapak dan ibu, pergilah" ucapnya

‎"Tidak, tidak kamu harus ikut denganku, aku tidak mau kamu di sini dan jadi santapan makhluk itu!" jawab Kaelan

‎"Aku tidak hilang kang, hanya jasadku yang hilang tapi aku akan tetap ada di hatimu, percayalah aku tidak akan pergi jauh" jawabnya menurunkan kembali jasadnya ke dalam liang kubur.

‎"Lakukan kang, demi anak kita" bujuk Maryani tersenyum manis.

‎Kaelan menatap jasad Itu, dia juga menatap arwah Maryani dan mengangguk, semua tata cara pemakaman jenazah secara Islam dia lakukan meskipun Maryani tidak di mandikan lagi karena kondisi yang darurat, tapi Kaelan sudah yakin kalau Maryani sudah di makamkan dengan layak bahkan Kaelan sudah mengganti kain kafan dan nisannya dengan sebuah pohon bunga kantil yang di berikan Abidin padanya sebelum mereka pergi.

‎"Tadinya pohon ini adalah untuk mengelabui Narno, tapi malah jadi penanda kalau kamu memang ada di sini" gumam Kaelan yang pakaiannya sudah kotor bahkan penuh dengan tanah kuburan.

Cangkul yang dia bawa juga dia kubur di samping makam Maryani supaya mahluk bernama Jayandanu itu tidak curiga padanya. Dan untungnya saat Jayandanu terus mendekat, Kaelan sudah selesai dan berpura pura duduk di depan pusara Maryani.

‎"Hrrrr.... penyusup!" bentak Jayandaru

‎"Penyusup apa? aku sedang menemani Istriku di sini, dia kedinginan" jawab Kaelan merebahkan badannya dan memeluk gundukan makam Maryani.

"Pergi dari sini atau kamu akan aku hancurkan, aku penjaga di tanah makam ini" ucap Jayandanu

"Tidak, aku akan tetap di sini sampai besok, aku tidak akan membiarkan istriku sendirian di sini!" jawab Kaelan

"Kaelan! kamu mau mati!" bentak sosok hitam tinggi dengan wujud manusia tapi berkepala kerbau. Dialah Malak.

"Aku sudah mati saat istriku kalian kubur tanpa ijinku, dan sekarang aku tidak akan mengijinkan kalian memakan jasadnya ataupun anakku!" bentak Kaelan

"Berani kamu menantang kami!" bentak keduanya berdiri di depan Kaelan.

"Ya, aku Kaelan Arsana keturunan panglima gaib Arsana yang merupakan penjaga hutan keramat Sagara tidak akan tunduk pada siapapun termasuk mahluk hina seperti kalian!" bentak Kaelan

"Kurang ajar!" bentak Malak maju dan menyerang Kaelan.

Bugh. Bugh.

Banyak pukulan di layangkan Malak pada Kaelan, sementara Jayandanu menyusup masuk ke dalam gundukan makam Maryani untuk memakan jasad Maryani, tapi saat kepalanya sudah masuk, tiba tiba dia keluar lagi karena merasakan kalau tanah makam Maryani begitu panas.

"Apa yang kamu lakukan dengan tanah makam itu!" bentak Malak

"Sesuatu yang pastinya akan membuat kalian tidak akan mendapatkan tumbal malam ini" jawab Kaelan tersenyum sinis.

"Jangan kalian pikir aku tidak tahu ulah Narno di kampung ini sejak puluhan tahun lalu, dan sekarang aku sedang melindungi satu satunya kenangan istriku meskipun itu hanya berupa jasadnya ataupun tengkoraknya saja!" jawabnya lagi

Malak murka, harusnya bayi yang di kandung Maryani adalah bagiannya tapi malam ini dia harus kembali dengan tangan kosong bahkan membuat Narno mencarikan tumbal baru untuknya, jadi Malak melayangkan tombak miliknya ke arah Kaelan.

"Matilah kamu!" bentak Malak

Srak.

Jleb.

"Aarrgghh Malak!"

Tombak itu memang menancap, tapi bukan ke arah dada Kaelan melainkan ke arah Jayandanu yang sekarang tertusuk tombak sekutunya sendiri, karena sebelum tombak itu mengenai Kaelan, sosok kingkong berwarna putih sudah berdiri di belakang Kaelan.

"Jayandanu pergi ke rumah Narno, dia akan mengobati kamu" ucap Malak

"Ar.. Arsana..." kaget Malak

"Aku mungkin bukan penguasa daerah ini Malak! Tapi keturunanku ada di sini dan aku punya hak untuk melindungi dia, jangan berani kamu menyentuh Kaelan seujung rambut pun atau perang gaib akan aku tujukan padamu dan pasukanmu!" bentak Arsana sosok kingkong putih pelindung hutan keramat Sagara.

"Tapi ini adalah tanahku, hanya aku yang punya kuasa di sini jadi jangan ikut campur dan membuat peperangan terjadi!" jawab Malak

"Aku akan pergi, tapi aku akan pergi dengan Kaelan! Dan kalian jangan pernah mengganggu tanah kuburan milik Maryani karena tanah ini sekarang sudah aku tandai" jawab Arsana menancapkan satu bulunya di atas kuburan Maryani.

"Ayo nak, jangan khawatir karena istrimu aman di sini" bujuk Arsana menjulurkan tangannya yang bahkan lebih besar dari rumah rumah di sana.

"Tapi kakek, bagaimana kalau mereka mengganggu orang tuaku?" tanya Kaelan

"Aku sendiri yang akan melenyapkan keturunan Malak di kampung ini" jawab Arsana membuat Malak semakin kesal

Terpopuler

Comments

nurul supiati

nurul supiati

ini cerita lanjutan atau sebelm ada sahara

2026-04-28

1

Nurr Tika

Nurr Tika

seru ceritanya

2026-04-28

0

neni nuraeni

neni nuraeni

weehhh mntaaaapp.... lnjutt

2026-04-28

0

lihat semua
Episodes
1 Maryani
2 Masalah
3 Menyusun rencana
4 Penggalian
5 Kemarahan Kaelan
6 Siasat Narno
7 Tertipu
8 Solusi
9 Kembali ke kampung cadas
10 Mulai di ikuti
11 Mencoba menolong
12 Sosok berbahaya
13 Mulai tahu
14 Draft
15 Gangguan pertama
16 Terlihat
17 Bersedia membantu
18 Ulah Kaelan
19 Cemburu
20 Menunggu kabar
21 Tak bisa menahan diri
22 Kecurigaan Kaelan
23 Kecerobohan
24 Rencana jahat
25 Kebingungan
26 Bentrokan
27 Masih belum pasti
28 Jebakan Karna
29 Salbiah keluar
30 Jebakan untuk Salbiah
31 Salbiah terjebak
32 Anak Kunti
33 Bisa keluar
34 Penyelesaian dari Karman
35 Narno pasrah
36 Gangguan saat pesta
37 Angin Rana
38 Suasana canggung
39 Kaelan mulai curiga
40 Mencoba menghasut Narno
41 Narno melawan
42 Tiga tahun berlalu
43 Kemampuan Kalingga
44 Membujuk Narno
45 Aksi pertama Kalingga
46 Narsih ketahuan
47 Sisa pengaruh
48 Anak monyet
49 Membalikkan fitnah
50 Terjebak
51 Target selanjutnya
52 Nasib Jayandanu
53 Gangguan lain
54 Tujuan awal Narno dulu
55 Pasar cadas
56 Kepanikan Kaelan.
57 Berusaha keluar
58 Mencari jalan
59 Menggunakan pilihan terakhir
60 Kalingga lemah
61 Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62 kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63 Jin teman Kaivalya
64 Memaksa Malak mundur
65 Kekhawatiran Karman
66 Narsih diam Asih keluar
67 Celetukan Kalingga
68 Siasat baru Narsih
69 Badriah
70 Kalingga mau pacaran
71 Kalingga waspada
72 Kedatangan Narsih dan Asih
73 Kemarahan Narsih
74 Kaelan Arsana
75 Drama Kaelan
76 Hasutan Malak
77 Tirta terjerat
78 Menghilangkan Pelet
79 Menolong Tirta
80 Asih sekarat
81 Pelet Tirta
82 Kedatangan Badriah
83 semakin terikat
84 Jebakan Malak
85 Kinanti hilang
86 Rencana baru Malak
87 Penyerangan
88 Perang gaib di mulai
89 Perang gaib 2
90 membebaskan Kinanti
91 Memulihkan diri
92 Membujuk bocah dewasa
93 Tak ada jalan sembuh
94 Terbebani
95 Kalung hitam
96 Masalah Maryani
97 Banyak waktu berlalu
98 Mencari sosok dalam kabut
99 Dugaan
100 Sehelai rambut merah
101 Akhirnya....
102 Ekstra bab
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Maryani
2
Masalah
3
Menyusun rencana
4
Penggalian
5
Kemarahan Kaelan
6
Siasat Narno
7
Tertipu
8
Solusi
9
Kembali ke kampung cadas
10
Mulai di ikuti
11
Mencoba menolong
12
Sosok berbahaya
13
Mulai tahu
14
Draft
15
Gangguan pertama
16
Terlihat
17
Bersedia membantu
18
Ulah Kaelan
19
Cemburu
20
Menunggu kabar
21
Tak bisa menahan diri
22
Kecurigaan Kaelan
23
Kecerobohan
24
Rencana jahat
25
Kebingungan
26
Bentrokan
27
Masih belum pasti
28
Jebakan Karna
29
Salbiah keluar
30
Jebakan untuk Salbiah
31
Salbiah terjebak
32
Anak Kunti
33
Bisa keluar
34
Penyelesaian dari Karman
35
Narno pasrah
36
Gangguan saat pesta
37
Angin Rana
38
Suasana canggung
39
Kaelan mulai curiga
40
Mencoba menghasut Narno
41
Narno melawan
42
Tiga tahun berlalu
43
Kemampuan Kalingga
44
Membujuk Narno
45
Aksi pertama Kalingga
46
Narsih ketahuan
47
Sisa pengaruh
48
Anak monyet
49
Membalikkan fitnah
50
Terjebak
51
Target selanjutnya
52
Nasib Jayandanu
53
Gangguan lain
54
Tujuan awal Narno dulu
55
Pasar cadas
56
Kepanikan Kaelan.
57
Berusaha keluar
58
Mencari jalan
59
Menggunakan pilihan terakhir
60
Kalingga lemah
61
Kedatangan Kaivalya dan Sagara
62
kedudukan Sagara di kampung Mahoni
63
Jin teman Kaivalya
64
Memaksa Malak mundur
65
Kekhawatiran Karman
66
Narsih diam Asih keluar
67
Celetukan Kalingga
68
Siasat baru Narsih
69
Badriah
70
Kalingga mau pacaran
71
Kalingga waspada
72
Kedatangan Narsih dan Asih
73
Kemarahan Narsih
74
Kaelan Arsana
75
Drama Kaelan
76
Hasutan Malak
77
Tirta terjerat
78
Menghilangkan Pelet
79
Menolong Tirta
80
Asih sekarat
81
Pelet Tirta
82
Kedatangan Badriah
83
semakin terikat
84
Jebakan Malak
85
Kinanti hilang
86
Rencana baru Malak
87
Penyerangan
88
Perang gaib di mulai
89
Perang gaib 2
90
membebaskan Kinanti
91
Memulihkan diri
92
Membujuk bocah dewasa
93
Tak ada jalan sembuh
94
Terbebani
95
Kalung hitam
96
Masalah Maryani
97
Banyak waktu berlalu
98
Mencari sosok dalam kabut
99
Dugaan
100
Sehelai rambut merah
101
Akhirnya....
102
Ekstra bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!