Bab 2--Mafia Sampah Lahan Yang Terambil

Aris berdiri di depan sebuah bengkel motor tua di pinggiran kota. Tabungan sekarang nol hampi kinclong, untuk kembali ke desa itu artinya dia butuh uang, dan sampingnya, motor bebek—satu-satunya kawan setianya selama mengadu nasib—kini berpindah tangan.

"Tiga juta, Ris. Itu sudah harga paling tinggi karena mesinnya sudah sering mati," ucap pemilik bengkel sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah.

Aris menghela napas, menatap motor itu untuk terakhir kali. "Nggak apa-apa, Pak. Terima kasih."

Dengan uang itu, Aris membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju Desa Sukacita. Sisanya? Hanya cukup untuk makan beberapa minggu ke depan. Untuk membeli bibit unggul, traktor tangan, atau sistem irigasi yang ia impikan, uang itu tidak ada harganya. Ia butuh modal banyak lagi.

Dia agak malu untuk melakukan ini, namun satu-satunya harapan adalah pinjaman dari bank untuk modal usaha. Dia percaya diri dengan kemampuan bertani semoga dengan bantuan pinjaman dia bisa merintis.

"Aku butuh modal bank. Sertifikat lahan ini adalah jaminan terbaikku," gumam Aris sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya yang berisi surat tanah kakeknya.

Tanah itu lahan yang subur, pasti pihak bank sangat setuju dengan permintaan peminjaman bisnisnya.

Keesokan Harinya, Kantor Bank Cabang Kecamatan.

Setelah menempuh perjalanan panjang dan menginap semalam di stasiun karena dia gak punya uang untuk menginap, Aris tiba di bank saat pintu baru saja dibuka. Tentu saja dengan jalan kaki, sepanjang jalan dia menyeret koper yag isinya baju-baju ganti, jarak antar stasiun dan desa suka cita jauhnya kayak bumi dan bulan.

Butuh beberapa jam. Panas yang menyengat membuat Aris mengumpat mengatakan kata-kata kasar dalam hati. Ponsel dia mati total, dia gak bisa hubungi adiknya Emi untuk membantu mejemput.

Setelah berjalan kurang lebih satu jam, ia sampai di pinggir desa. Sebuah bank, dia datang kesini dulu saja.

Ia mengenakan kemeja terbaiknya—yang meski bersih, tetap terlihat usang.

"Selamat pagi, saya ingin mengajukan kredit usaha rakyat untuk sektor pertanian. Saya punya jaminan lahan satu hektar di blok utara Desa Sukacita," ucap Aris sopan kepada petugas di meja kredit.

Petugas itu, seorang pria dengan kacamata berbingkai emas, mengambil sertifikat tanah yang disodorkan Aris. 

Ia memasukkan data nomor lahan tersebut ke komputer. Tak butuh waktu lama sampai dahi petugas itu berkerut, lalu ia menatap Aris dengan tatapan yang sangat familiar bagi Aris Tatapan merendahkan

"Mas Aris... Anda bercanda?" petugas itu terkekeh sinis, lalu memutar layar monitornya ke arah Aris.

Aris tertengun, perasaan tidak ada yang aneh dengan lahan milik kakek dia terus kenapa gerutan si petugas seolah mengatakan bahwa ini tidak layak untuk dipertimbangkan sebagai peminjam bisnis.

"Maksud Bapak?"

"Lihat ini. Lahan yang Anda jaminkan ini masuk dalam red zone. Secara administratif memang lahan pertanian, tapi statusnya saat ini adalah 'Lahan Mati Non-Produktif'. Berdasarkan laporan penilaian terbaru, tanah di sana sudah terkontaminasi limbah kimia berat."

Petugas itu menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada. "Bank tidak akan memberikan pinjaman bahkan seribu rupiah pun untuk tanah yang sudah jadi TPA liar. Mas mau bertani apa di sana? Menanam plastik? Atau memanen ban bekas?"

Beberapa orang di antrean belakang mulai berbisik sambil tertawa. 

“Apaan itu?”

“Orang miskin yang mencoba beradu nasib?”

“Sungguh merusak suasana, coba panggil petugas keamanan, sudah membuat antrean panjang menganggu suana pula.”

Aris merasakan terhina. Ini semua salah, dia terpaku dan membantah.  "Tapi Pak, itu lahan subur... kakek saya dulu—"

"Dulu itu beberapa tahun yang lalu, Mas!" potong petugas itu kasar

. "Sekarang lahan itu ladang sampah!”

Ladang sampah? Mustahil. Dia punya sertifikatnya dan meski dia tidak mejaga untuk waktu lama, masih ada keluarganya di sana. Emi dan ibu, gak mungkin ada orang yang berani main-main.

Kecuali jika itu selevel orang bos dan pejabat korup!

Aris menyambar sertifikatnya. Ia tidak percaya dengan perkataan pemilik bank karena dia rasa gak mask akal sama sekali!

Aris melangkah keluar dari bank dengan napas yang memburu. Tawa para nasabah di dalam tadi masih terngiang, menusuk-nusuk harga dirinya yang sudah compang-camping.

"Penipu! Mana mungkin tanah Kakek jadi ladang sampah!" maki Aris tertahan.

Ia kembali menyeret kopernya di atas jalanan aspal yang panas. Kakinya yang lecet tidak lagi ia rasakan. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: rumah. Ia ingin melihat Ibu dan Emi, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bank bisa berkata sekeji itu tentang tanah mereka?

Langkah Aris melambat saat ia memasuki gapura Desa Sukacita. Namun, ada yang aneh. Desa yang dulu asri dan sejuk itu kini terasa pengap. 

“Apa-apaan bau ini!?!”

Bau menyengat seperti karet terbakar dan amonia tercium samar di udara. Beberapa warga yang duduk di depan rumah menatap Aris dengan pandangan iba, seolah mereka dia melihat hantu yang baru pulang dari kubur.

"Aris? Itu kamu, le?" tanya seorang tetangga tua, Wak Darmo, dengan suara gemetar.

"Iya, Wak. Aris pulang," jawabnya singkat. Aris ingin bertanya, tapi wajah Wak Darmo tampak ketakutan seolah ada yang mengawasi mereka. 

Pria tua itu segera masuk ke rumah dan mengunci pintu. “Maaf, nak. Kurasa saya gak bisa bicara panjang lebar dengan kamu, le maaf. Nanti kamu bakal paham sendiri.”

Ha!? Apaan coba absurd juga ada batasnya. Wak darmo terkenal dengan orang paling ramah di desa dan sekarang bersikap gini?

Aneh sesuatu makin gak beres!

Perasaan tidak enak itu makin menjadi-jadi. Aris mempercepat langkahnya menuju rumah peninggalan Kakek yang berada tak jauh dari batas lahan satu hektar tersebut. Begitu sampai di depan pagar, jantung Aris mencelos.

Rumahnya tampak kusam. Kaca jendela samping pecah dan hanya ditutup dengan karton bekas. Di teras, ibunya duduk di kursi bambu dengan kain basah yang menutupi hidung dan mulutnya. Dia berdarah dan penuh luka. Tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka melakukan panggilan video.

"Ibu!" Aris melemparkan kopernya dan berlari memeluk wanita tua itu.

"Aris? Kamu... kamu pulang, Nak?" Ibu Aris terbatuk hebat, suaranya parau. "Kenapa nggak kabar-kabar?"

"Ponsel Aris mati, Bu. Ada apa ini? Kenapa Ibu sakit? Dan tadi di bank..." Aris menggantung kalimatnya, matanya memerah menahan amarah. "Mereka bilang tanah Kakek jadi ladang sampah? APA MAKSUDNYA IBU!?”

Ibunya hanya bisa menunduk, air mata jatuh mengenai punggung tangan Aris. Tepat saat itu, pintu rumah terbuka. Emi, adik perempuannya, keluar dengan wajah yang kusam karena debu. Matanya yang dulu ceria kini redup dan penuh rasa lelah.

"Kak Aris sudah tahu?" tanya Emi pelan. "Emi mau cerita, tapi Ibu melarang. Ibu takut Mas Aris nekat pulang dan malah celaka di tangan mereka."

"Mereka siapa, Mi?!" bentak Aris, tidak sabar.

Emi menunjuk ke arah belakang rumah, ke arah lahan satu hektar milik Kakek. “Kalau kakak lihat sendiri, mungkin kakak tahu maksudku.”

 "Mafia sampah, kak. Sejak setahun lalu, truk-truk besar datang setiap seminggu sekali. Mereka menyuap orang-orang penting di sini. Saat Ibu dan aku protes, mereka melempari rumah kita dengan batu, bahkan ibu dihajar kak!. Mereka mengancam akan membakar rumah juga kalau kita lapor polisi. Tapi Mau lapor juga percuma orang kayak kita sejak awal gak punya kuasa, kak! Polisi mah gampang banget disuap sama duit.”

Aris tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia berlari menuju lahan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana. Begitu melewati pagar pembatas, langkah Aris terhenti total.

Dunianya serasa runtuh.

Lahan hijau yang dulu penuh dengan pohon buah dan rumput segar kini telah lenyap. Berganti menjadi lembah limbah yang mengerikan. plastik setinggi dua meter berjejer. Di tengahnya, terdapat kubangan air hitam pekat yang mengeluarkan asap tipis berbau kimia menyengat. Tanah itu tidak lagi cokelat, melainkan hitam berminyak dan mati.

"Woi! Siapa itu?! Dilarang masuk!"

Sebuah bentakan keras datang dari sebuah gubuk beton permanen yang berdiri di sudut lahan. Tiga pria kekar dengan tato di lengan dan wajah sangar keluar sambil membawa balok kayu berlubang paku. Di belakang mereka, sebuah truk tangki sedang membuang cairan keruh langsung ke tanah Aris.

"Ini tanah saya!" teriak Aris dengan suara parau, urat lehernya menegang. "Keluar kalian dari sini!"

Salah satu preman itu maju, meludah tepat di depan kaki Aris. "Tanahmu? Telat, Tong! Tanah ini sudah dikontrak oleh Boss Malik untuk kepentingan 'pembangunan'. Kalau kamu pemiliknya, mana bukti kamu bisa bayar uang keamanan selama lahan ini kami jaga?"

"Persetan dengan Boss Malik! Siapa pula dia! Saya tidak pernah mengizinkan sampah ini ada di sini!"

*Brakk!*

Sebuah dorongan keras di dada membuat Aris terjungkal ke belakang, jatuh tepat di atas tumpukan botol plastik dan cairan limbah yang lengket.

"Dengar ya, bocah miskin," preman itu berjongkok di depan Aris, menatapnya dengan pandangan buas. "Polisi sudah kami suap, pejabat desa sudah makan uang kami. Keluarga kamu itu cuma debu. Pergi sekarang, atau besok Ibu dan adikmu akan kami timbun hidup-hidup di bawah sampah ini!"

Aris terdiam di tengah genangan limbah. Bau busuk plastik terbakar seolah membakar otaknya. Di kota ia menjadi sampah, dan di sini pun hartanya dijadikan tempat sampah. Rasa benci dan keputusasaan yang luar biasa mendidih di dalam dadanya.

Kenapa orang besar selalu bertindak seenaknya ini tanah dia! Bakan penjabat dan orang orang penting disuap, keluarga dia yang miskin bahkan gak punya kausa untuk melawan.

Aris merasa sangat gagal. Di kota dia gak berhasil mengadu nasib, disini pun gak bisa? Asw emang. Dunia gak ada keadilan sama sekali!

*Kakek... maafkan Aris... Aris benar-benar tak berguna...*

Tepat saat ia meremas tanah hitam yang beracun itu, sebuah kilatan cahaya biru terang menyambar penglihatannya. Suara mekanis yang dingin namun berwibawa bergema di kepalanya.

[Ding! Mendeteksi Kondisi Inang yang Mencapai Titik terendah...]

[Sinkronisasi Sistem 'Petani Sultan' Proses penggunaan sistem: 20 % … 40%]

Terpopuler

Comments

Maul

Maul

ini orang-orang cialan semua/Curse//Panic//Curse//Panic/

2026-05-26

0

Nat🥜

Nat🥜

aduhai 🗿terang banget faktanya 🤣

2026-05-29

0

VirgoRaurus 31Smile

VirgoRaurus 31Smile

asw ...apa ini Thor artinya

2026-07-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1--Reuni Terkutut Memutusan Dari Jaringan Toxic
2 Bab 2--Mafia Sampah Lahan Yang Terambil
3 Bab 3--Alat Penyuling Cairan Emas
4 Bab 4—Kebangkitan Lahan Tandus 50% Bersih
5 Bab 4.5--Mengusir Dua Preman Bringas Dan Kemakmuran Desa
6 Bab 5—Laporan Ke Malik Dan Gadis Kembang Desa
7 Bab 6--Hasil Dari Gotong Royong Warga
8 Bab 7--Ketertarikan si Gadis Kembang Desa
9 Bab 8--Hasil panen pertama
10 Bab 9--Pembeli Pertama Seorang chef
11 Bab 10—Penjualan Pertama
12 Bab 11--Keberuntungan Datang Vina Sang Anak Komandan Polisi
13 Bab 12--Keterkejutan Sang Vina Dan Gangguan Para Hama
14 Bab 13--Malik Kepergok
15 Bab 14--Runtuhnya Kesombongan Malik
16 Bab 15--Jasa Angkut sampah
17 Bab 16--Pemandangan Cantik Si Kembang Desa
18 Bab 17--Hasil Panen Tomat
19 Bab 18--Pak Kobayashi Lihat Murid Lokalmu Kaya Ini!
20 Bab 19--Transaksi Tomat
21 Bab 20—Beli Gudang
22 Bab 21--Otak Ngeres Si Adik
23 Bab 22--Semangka Kristal
24 Bab 23--Semangka Harga Selangit ... Edan
25 Bab 23.5--Semangka Harga Selangit
26 Bab 24--Tuan Putri Dari Kota
27 Bab 25--Saatnya Kerja Bakti
28 Bab 26--KRL Dan Mbak-Mbak Galak
29 Bab 27--Sampai Di Pusat Kota
30 Bab 28--Event Sampah
31 Bab 29--Penyulingan
32 Bab 30--"Loh Mas Flanel" "Loh Mbak KRL"
33 Bab 31--Pertemuan Tak Terduga
34 Bab 32--Tuan Putri Mengekor
35 Bab 33--Tuan Putri Bertamu
36 Bab 34--Masakan Si Aninda
37 Bab 35--Membuka Lapak Kejujuran
38 Bab 36--Pahlawan Pangan Dan Bu Tejo
39 Bab 37--Runtuhnya Rasa Iri Bu Tejo
40 Bab 38--Lahan Wingit
41 Bab 38.5--Kesepakatan Dengan Wak Darmo
42 Bab 39—Membeli Lahan Setan
43 Bab 40—Saatnya Raja Tani Bereaksi
44 Bab 41—Mensucikan Lahan Setan
45 Bab 42--Gendis Dan Bara
46 Bab 43—Bos Kita Dukon Tani
47 Bab 44--Hasil Panen Lahan Wingit
48 Bab 45—Tawaran Pak Gubernur
49 Bab 46—Asisten Junaeda
50 Bab 47—Chef Vania
51 Bab 48--Kasih Paham
52 Bab 49--Rencana Renovasi Rumah
53 Bab 50--Menginap Di Hotel Maharta
54 Bab 51--Renovasi Selesai
55 Bab 52--Fitur Mancing Mania
56 Bab 53--Mencoba fitur Mancing
57 Bab 54--Mendapatkan Ikan Langka
58 Bab 55
59 Bab 56--Mencari Buruh
60 Bab 57--Membangun Kolam Dewa
61 Ba 58--
62 Bab 59--Bagi Hasil
63 Bab 60--Ajakan Duel
64 Bab 61—Saya Akan Lawan
65 Bab 62—Pagar Frekuensi
66 Bab 63--Kesepakatan Setan
67 bab 64--Razia dadakan
68 Bab 65—Lahan Kejujuran
69 Bab 66—Adik Yang semakin Manja
70 Bab 67—Gaz
71 Bab 68—
72 Bab 69—Festival Dimulai
73 Bab 70—Festival dimulai 2
74 Bab 71--
75 bab 72--
76 Bab 73--Main kerumah
77 Bab 73.5--Pengikut Baru
78 bab 74--mancing Mania lagi
79 bab 75--dua cheft kepo
80 bab 75.5
81 Bab 76—Fitur Pertenakan Ayam terbuka
82 Bab 77—Mendapatkan Ayam
83 Bab 78—Pakan Pitek
84 Bab 79--Mencari tukang
85 Bab 80
86 Bab 81
87 Bab 82
88 Bab 83—Drama Ayam Palsu
89 Bab 84—Membawa Ke Lahan Wingit
90 Bab 85—Buka harga
91 Ban 86—Membangun Ternak
92 Bab 87—Membsngun Ternak #2
93 Bab 88—Vania Berkunjung
94 Bab 89
95 Bab 90
96 Bab 91
97 Bab 92
98 Bab 93
99 Bab 94--Surat Alay
100 Bab 95—Rencana Penguntitan
101 Bab 96
102 Bab 97
103 Bab 98
104 bab 99
105 Bab 100
106 Bab 101--Tawaran Zain
107 Bab 102--Menenangkan rasa cemburu
108 Bab 103--Bertemu Relasi Lama
109 Bab 104--Serangan Triandi
110 Bab 105--Melawan
111 Bab 106—Ketangkap
112 Bab 107—Muculnya Ular Baru
113 Bab 108—Target Sari
114 Bab 109—Sari dlm Bahaya
115 Bab 110—Selamatkan Sari
116 Bab 111—Mampus
117 Bab 112
118 Bab 113—Bab 114
119 Bab 115—Lamaran (END)
120 PROMOSI NOVEL BARU
121 PROMO NOVEL BARU #2
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Bab 1--Reuni Terkutut Memutusan Dari Jaringan Toxic
2
Bab 2--Mafia Sampah Lahan Yang Terambil
3
Bab 3--Alat Penyuling Cairan Emas
4
Bab 4—Kebangkitan Lahan Tandus 50% Bersih
5
Bab 4.5--Mengusir Dua Preman Bringas Dan Kemakmuran Desa
6
Bab 5—Laporan Ke Malik Dan Gadis Kembang Desa
7
Bab 6--Hasil Dari Gotong Royong Warga
8
Bab 7--Ketertarikan si Gadis Kembang Desa
9
Bab 8--Hasil panen pertama
10
Bab 9--Pembeli Pertama Seorang chef
11
Bab 10—Penjualan Pertama
12
Bab 11--Keberuntungan Datang Vina Sang Anak Komandan Polisi
13
Bab 12--Keterkejutan Sang Vina Dan Gangguan Para Hama
14
Bab 13--Malik Kepergok
15
Bab 14--Runtuhnya Kesombongan Malik
16
Bab 15--Jasa Angkut sampah
17
Bab 16--Pemandangan Cantik Si Kembang Desa
18
Bab 17--Hasil Panen Tomat
19
Bab 18--Pak Kobayashi Lihat Murid Lokalmu Kaya Ini!
20
Bab 19--Transaksi Tomat
21
Bab 20—Beli Gudang
22
Bab 21--Otak Ngeres Si Adik
23
Bab 22--Semangka Kristal
24
Bab 23--Semangka Harga Selangit ... Edan
25
Bab 23.5--Semangka Harga Selangit
26
Bab 24--Tuan Putri Dari Kota
27
Bab 25--Saatnya Kerja Bakti
28
Bab 26--KRL Dan Mbak-Mbak Galak
29
Bab 27--Sampai Di Pusat Kota
30
Bab 28--Event Sampah
31
Bab 29--Penyulingan
32
Bab 30--"Loh Mas Flanel" "Loh Mbak KRL"
33
Bab 31--Pertemuan Tak Terduga
34
Bab 32--Tuan Putri Mengekor
35
Bab 33--Tuan Putri Bertamu
36
Bab 34--Masakan Si Aninda
37
Bab 35--Membuka Lapak Kejujuran
38
Bab 36--Pahlawan Pangan Dan Bu Tejo
39
Bab 37--Runtuhnya Rasa Iri Bu Tejo
40
Bab 38--Lahan Wingit
41
Bab 38.5--Kesepakatan Dengan Wak Darmo
42
Bab 39—Membeli Lahan Setan
43
Bab 40—Saatnya Raja Tani Bereaksi
44
Bab 41—Mensucikan Lahan Setan
45
Bab 42--Gendis Dan Bara
46
Bab 43—Bos Kita Dukon Tani
47
Bab 44--Hasil Panen Lahan Wingit
48
Bab 45—Tawaran Pak Gubernur
49
Bab 46—Asisten Junaeda
50
Bab 47—Chef Vania
51
Bab 48--Kasih Paham
52
Bab 49--Rencana Renovasi Rumah
53
Bab 50--Menginap Di Hotel Maharta
54
Bab 51--Renovasi Selesai
55
Bab 52--Fitur Mancing Mania
56
Bab 53--Mencoba fitur Mancing
57
Bab 54--Mendapatkan Ikan Langka
58
Bab 55
59
Bab 56--Mencari Buruh
60
Bab 57--Membangun Kolam Dewa
61
Ba 58--
62
Bab 59--Bagi Hasil
63
Bab 60--Ajakan Duel
64
Bab 61—Saya Akan Lawan
65
Bab 62—Pagar Frekuensi
66
Bab 63--Kesepakatan Setan
67
bab 64--Razia dadakan
68
Bab 65—Lahan Kejujuran
69
Bab 66—Adik Yang semakin Manja
70
Bab 67—Gaz
71
Bab 68—
72
Bab 69—Festival Dimulai
73
Bab 70—Festival dimulai 2
74
Bab 71--
75
bab 72--
76
Bab 73--Main kerumah
77
Bab 73.5--Pengikut Baru
78
bab 74--mancing Mania lagi
79
bab 75--dua cheft kepo
80
bab 75.5
81
Bab 76—Fitur Pertenakan Ayam terbuka
82
Bab 77—Mendapatkan Ayam
83
Bab 78—Pakan Pitek
84
Bab 79--Mencari tukang
85
Bab 80
86
Bab 81
87
Bab 82
88
Bab 83—Drama Ayam Palsu
89
Bab 84—Membawa Ke Lahan Wingit
90
Bab 85—Buka harga
91
Ban 86—Membangun Ternak
92
Bab 87—Membsngun Ternak #2
93
Bab 88—Vania Berkunjung
94
Bab 89
95
Bab 90
96
Bab 91
97
Bab 92
98
Bab 93
99
Bab 94--Surat Alay
100
Bab 95—Rencana Penguntitan
101
Bab 96
102
Bab 97
103
Bab 98
104
bab 99
105
Bab 100
106
Bab 101--Tawaran Zain
107
Bab 102--Menenangkan rasa cemburu
108
Bab 103--Bertemu Relasi Lama
109
Bab 104--Serangan Triandi
110
Bab 105--Melawan
111
Bab 106—Ketangkap
112
Bab 107—Muculnya Ular Baru
113
Bab 108—Target Sari
114
Bab 109—Sari dlm Bahaya
115
Bab 110—Selamatkan Sari
116
Bab 111—Mampus
117
Bab 112
118
Bab 113—Bab 114
119
Bab 115—Lamaran (END)
120
PROMOSI NOVEL BARU
121
PROMO NOVEL BARU #2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!