Bab 2 Mendua

Panji baru saja menginjak ibukota malam itu. Berbeda jalur dari kawan-kawannya yang sudah berjalan atau berkendara menuju mess masing-masing, Panji tetap tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah dinas Abi Rayyan.

Tapi rupanya putaran jarum jam yang menunjuk angka 8 belum cukup malam untuk keramaian di rumahnya.

Sorakan seru menggema di carport rumah perwira angkatan bersenjata ini, diantara sunyinya malam batalyon.

"Umma, Abang Arraznya!" jerit bocah perempuan yang tak asing di pendengaran Panji.

"Apa! Cuma dipegang doang juga...Seera lebay abba!" kini adu si jagoan tak mau kalah.

"Ehh---kebiasaan kalo udah berantem begini. Hayoo udah malam, kata ayah pulang." Clemira bahkan sudah menenteng dua tas sekolah kecil berwarna pink dan biru bukti jika ia sudah disini sesiang tadi.

"Dianter siapa, Tama ngga jemput kah?" dan suara bass nan dalam itu adalah om Pramudya. Sementara seruan mengaduh diantara suara beradunya koin karambol di atas papan kayu, "sahhh! Ahhh, dikit lagi padahal."

"Dijemput om Irsyad barusan." Tunjuk Clemira ke arah gawang pintu dimana bawahan Tama baru saja keluar dari toilet.

"Misi ndan." ia membungkuk ketika melintas, "ya. Hati-hati bawa mobilnya Syad. Lecet kamu ditembak Tama." Itu Langit yang berseloroh.

"Mas Tama kayanya baru balik nugas luar. Katanya masih di jalan."

"Om Njiii!" Farraz adalah sosok pertama yang notice kedatangannya, disusul tatapan-tatapan lain penghuni disana.

"Weheyy kamu ngapain ke rumah aku terus, ngga punya rumah pasti!" selorohnya yang memancing tawa si jagoan, lantas lengkingan suara cerewet tak mau kalah menyeru dari dalam, "om Njiiii!"

Ia langsung menyambut dan menggendong Farraz, "berat lah." meski kemudian menurunkannya lagi, "masa? Ayah aja gendong aku ngga keberatan. Katanya tentara....tapi loyo."

Rayyan tertawa dan menunjuk Panji, "loyo..."

"Nah, bang Toyib baru balik juga..." cibir Cle melihat adiknya itu.

"Bukan, Nji brand ambassador kue kaleng lebaran..." kini Rayyan telah menepuk-nepuk bubuk putih di tangannya untuk kemudian menjitak koin karambol.

Panji menggeleng, memang seenggak ada kerjaan itu para perwira tua ini, waktu malam bukannya dipakai ngaji kaya Abi Fath...

"Nih gue pasti masuk." Lagi, aki-aki dengan dua cucu itu mulai fokus pada koin karambolnya, bersiap mencetak poin, dimana Pramudya mengganggunya dengan mencibir.

"Masih juga nih main beginian, udah siap dihisab ngga ada niatan ngaji di masjid komplek? Sama mantan-mantan jendral?" cibir Panji membuat Rayyan menggeleng, "besok."

Eyi datang dan tertawa mendengar jawaban template sang suami, "besoknya Abi kamu itu tahun gajah, biasanya justru yang begini yang panjang umur, disisain buat liat dunia kiamat."

Hahaha! Langit tertawa, memang antara suami---istri---anak tak ada yang benar-benar waras, kalem, pendiam, "umur boleh kaya mantan jendral, tapi jiwa muda .." bahkan kini opa-opa bercucu satu itu sudah menepuk-nepuk dada dengan kepalan tangan.

"Mana oleh-oleh..." kini Yaseera menengadahkan tangannya pada Panji, yang memancing Panji untuk menaruh ranselnya di depan sang keponakan, "nih, cuciin ya..."

Hahahah! Farraz tertawa sementara wajah Seera kecut tanpa ampun, "es krim om Nji bukan ini...."

"Besok. Es krim terus nanti batuk."

"Kata abba yang bikin batuk itu merokok, makan permen sama makanin dedak ayam." Jawab Seera, Rayyan menjempoli cucu perempuannya itu, "bener cucu abba."

Panji berdecak, ck!

"Emang sesat nih abi. Ngajarin anak aku..." Clemira mencebik.

"Ahhh cape ahh!! Kelonin aku yukkk, pengen bobo .." ajaknya pada Seera.

"Ihhhh, kaya aku dikelonin bunda!" tawa Seera.

Ia melengos ke dalam setelah salam pada umi, meski masih samar terdengar gerutuan kakanya, Cle... yang mengomeli Abi Ray sebab bedak milik anak-anaknya justru dipakai bermain karambol.

"Abi ihhh, ini sampe habis begini bedak Seera..."

Benar, ia terlalu lelah bertugas. Jika tugas luar begini, sudah pasti ia akan kencan terlebih dahulu dengan kasurnya, hoamm....

Sampai pagi menjelang, Panji mendengar sayup-sayup adzan berkumandang mengisi pendengarannya.

Ada umi yang masih sibuk mengikat rambut, mencepol satu atas sambil mengerjakan tugas harian ibu-ibu. Lantas bibirnya mencebik sebal kala pacar ibunya itu mengganggunya dengan memeluk dari belakang, cihhh! Dunianya diciptakan emang ngga jauh-jauh dari pasangan bucin itu.

"Mi, bilang dong pacarnya. Udah tua jangan begitu, malu kalo diliat cucu..." cibirnya.

"Ngga usah di dengerin sayang, jomblo abadi. Sirik tanda tak mampu. Lagian Seera sama Arraz belum datang lagi." Kecupan terakhir Rayyan sarangkan di tengkuk Eyi dan ia bergegas menikmati kopi paginya di meja.

Di usia yang sudah tak muda lagi itu, memang kedua orangtuanya kadang tak sadar tempat untuk mesra mesraan begitu, melebihi anak muda yang tengah kasmaran.

Meski tak ia pungkiri lebih senang melihat mereka begitu, tak jarang keduanya itu layaknya ABG labil yang masih berpacaran dan tak punya buntut, bertengkar meributkan hal sepele dan tak penting di depan anak-anaknya terutama Panji, berujung baikan dan mesra-mesraan lagi.

Ngga inget sudah ada uban. Apa memang begitu kehidupan berumah tangga?

Eyi tersenyum, "jangan bilang kamu putus lagi, hubungan rumit? Makin jauh, Ucel udah siap jadi bapak loh. Ini yang paling tua pacar aja masih ngambang, mau dicariin jodoh?"

Rayyan terkekeh hampir tersedak kopi miliknya, "kaya botol plastik, ngambang....tenang, sayang ngga usah buru-buru. Stok wanita di muka bumi masih bejibun. Bibit unggul Abang ngga akan kebuang percuma. Umur anak kita baru menginjak kepala tiga, belum mau menginjak kepala orang." Ia menyendok nasi lalu berpindah ke gorengan jagung.

"Siapa pacar kamu sekarang? Ajak main ke rumah lah..." ujar Rayyan, "kalo bisa langsung ketemu umma, kira-kira ACC engga, kalo Yang Mulia Umma sudah ACC, udah ngga usah dilamain...."

Eyi menaikan kedua alisnya terkejut, "gampang banget kaya ngawinin anak ayam. Jangan langsung ke umma lah. Kesini dulu, ini Nji lagi mau cari calon mantu buat Eyi bukan calon indukan kambing, kalo zonk, Abang sama Eyi yang malu...Panji bawa-bawa hadiah ciki ke rumah umi." Ia tak terima jika harus langsung berhadapan dengan sang mertua. Setidaknya ia dulu yang menyeleksi layak ataukah tidak untuk diboyong ke keluarga besar mereka.

"Minimal cewek baik-baik. Beneran sayang dan mau terima profesi Panji. Cewek jaman sekarang susah loh yang mau sama prajurit. Takut ditinggal nugas...takut di luar dia jajan. Takut kdrt, lebih milih cari aman."

Panji, dengan kaos yang masih kusut itu sudah duduk di sebrang Rayyan, pusing mendengarkan keduanya berdebat pasal calon pendamping. Entahlah ia malas membahas Mayra. Terakhir ia dan Mayra----

Dan hari ini ia akan menyambangi kampus UNJANA, kampus pacarnya itu sekaligus dimana Gala sedang menuntut ilmu.

"Iya." Tanpa mendebat Panji menyanggupinya. Toh Mayra perempuan berpendidikan dan lahir dari keluarga yang bisa dibilang adem ayem.

Tanpa mengabari terlebih dahulu sebelumnya, ia melakukan motor trail miliknya ke arah UNJANA siang itu. Biasanya jam-jam makan siang Mayra baru selesai mengikuti sesi materi, cocok juga untuk makan siang bersama seraya membicarakan hal serius.

**Panji** ❤️‍🔥

*Sayang, aku ada di depan*.

Ivy masih memperhatikan kuku-kukunya, "ini gue mumpung lagi haid, bagusnya bunga sakura atau bunga Lily ya motifnya?"

"Lagi pada happening bikin abstrak loh Vy...coba deh cocok kayanya." Angguk Mayra, berjalan diantara fakultas pendidikan dan FP MIPA.

Dan Ivy sempat terkejut dengan kehadiran seseorang dari belakang, pasalnya bukan hanya menyasar pada Mayra saja melainkan, lelaki itu nyosor di tengah-tengah antara dirinya dan Mayra, "sayang."

"Bang ke ihhh!" umpat Ivy refleks, ia bahkan menjauh dan mendorong bahu Zein pelan yang malah terkekeh memeluk Mayra dari belakang. Keduanya itu---*ishh ngga punya malu*! Tempat umum nih, bukan kamar.

Mayra tertawa melihat aksi kekasihnya itu dan refleks sang teman.

"Sorry." Senyumnya seperti ada makna terselubung, dan Ivy sungguh tak suka.

"Ck, Lo kalo mau begitu posisi Lo langsung ke May dong, ah gimana sih! Kaget gue!" omel Ivy. Pasalnya Zein cukup membuatnya sebal karena telah ikut mencolek pinggangnya juga, dasar cowok mesum! Bisa-bisanya Mayra memiliki kekasih semesum itu.

"Jadi jalan sekarang?" alis Zein naik turun.

"Jadi."

Alis Ivy berkerut melihat mereka, jijik deh ah! Ia sudah bergidik.

Namun tiba-tiba, langkah Mayra tersentak, "mampus..."

"Kenapa?" kompaknya dan Zein.

Mayra menurunkan ponsel dan menariknya sejenak.

"Vy, tolongin gue..."

"Cowok gue yang tentara itu tiba-tiba datang..."

"Hah?! Lo---" Ivy melirik Panji di belakang Mayra, benar mereka menepi, hampir merapat diantara tanaman rambat yang ada di taman kampus dengan sesekali Ivy menepis dahan dan daunnya yang mengenai badan, *ishhh risih*!

"Lo punya cowok berapa May?" tanya Ivy sewot.

Mayra malah meringis, "nanti gue ceritain, tapi...please! Ini orang psycho udah di depan. Gue sebenernya udah pengen putus sih, tapi---"

"May, baby..." panggil Zein membuat May dan Ivy ikut menoleh, "ntar dulu! Babyy Lo masih ada urusan sama gue elah!" omel Ivy.

"Ngga mau ahhh!" cebik Ivy.

"Please, gue tau lo bisa diandalkan zeyenggg..." wajah Mayra memelas memasang tampang menyedihkan membuat Ivy menggaruk kepalanya mendadak gatal.

"Gue mesti bilang gimana? Repot amat sih, ya udah sih ngga usah ditemuin..."

"Tapi dia pasti cari Lo."

"Hah?!" Ivy kembali terkejut dengan kenyataan jika Mayra telah memberikan nomornya pada Panji dan rupanya Mayra sering beralasan sedang bersama Ivy selama ini pada Panji jika sedang tak ingin menemui perwira itu.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Kh2103💙

Kh2103💙

Waah...mayra kayaknya belum tau siapa panji sebenarnya, makanya berani mendua begitu...kalo tau, kamu bakal shick shack shock.... secara keluarga ananta gituh...
kamu bakal nyesel deh nanti mayra...🙄🙄

2026-04-30

1

Trituwani

Trituwani

duh masih ad ya teh karambol.. ditempatku udah g ad kyaknya.. padahal jaman kecilku dulu nih mainan ngedatengin temen.. yg punya mesti rumahe rame

2026-04-30

4

Nuraisyah

Nuraisyah

yg di anggep psycho siapa maksudlu Panji??😠 ga terima akuuuh😠👊

2026-04-30

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Nenek moyangku seorang pelaut
2 Bab 2 Mendua
3 Bab 3 Terjerat pinjol
4 Bab 4 Residivis kasus penculikan
5 Bab 5 Misi bersama
6 Bab 6 Say goodbye
7 Bab 7 Ananta gen 2
8 Bab 8 Back to normality
9 Bab 9 om-om nanny
10 Bab 10 Pengabdian
11 Bab 11 Hallo dek vs hallo setan
12 Bab 12 Jangan nakal ya mami Veve
13 Bab 13 Tanjung komodo
14 Bab 14 Ingat nama
15 Bab 15 Hay!
16 Bab 16 Cewek sombong
17 Bab 17 Itu namanya Komodo
18 Bab 18 Mengabdi untuk negri
19 Bab 19 Mulai nyaman?
20 Bab 20 Sosok lembut di balik tampang gahar
21 Bab 21 Mencari sarapan
22 Bab 22 Orang bilang tanah kita tanah surga
23 Bab 23 Sing a song
24 Bab 24 Bertolak belakang
25 Bab 25 Falling in love
26 Bab 26 Kondisi yang kontras dan ironis
27 Bab 27 Kebimbangan ka'e Ivy
28 Bab 28 Nervous, geli, gemas
29 Bab 29 Berlari dan mengejar
30 Bab 30 Belanja
31 Bab 31 Jatuh cinta bikin repot
32 Bab 32 Good night, dek...
33 Bab 33 Based learning
34 Bab 34 Berjuang atau mati
35 Bab 35 Walau dunia [tak] seindah surga
36 Bab 36 Pengepungan
37 Bab 37 Sulit dihubungi
38 Bab 38 Aku dan kamu
39 Bab 39 Saya sukanya kamu
40 Bab 40 Bimbang
41 Bab 41 Tenggelam dalam pelukmu
42 Bab 42 Gimme a change
43 Bab 43 Selami aku
44 Bab 44 Pagar makan tanaman?
45 Bab 45 Ciri-ciri calon mantu
46 Bab 46 Induk ayam
47 Bab 47 KTP mana KTP?
48 Bab 48 Kecintaan
49 Bab 49 Closed minded
50 Bab 50 Menikmati prosesnya
51 Bab 51 Gebrakan Ivy
52 Bab 52 Sunshine
53 Bab 53 Not Government
54 Bab 54 Ema Joan
55 Bab 55 Tidak seperti yang terlihat
56 Bab 56 Siapa Panji?
57 Bab 57 Terlalu banyak bermimpi
58 Bab 58 Akal bulus
59 Bab 59 Penolakan
60 Bab 60 Duri dalam daging
61 Bab 61 Hari indah terakhir?
62 Bab 62 Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya
63 Bab 63 Manusia manusia lak nat.
64 Bab 64 Memanggilmu dalam tangis
65 Bab 65 I just need you, only you
66 Bab 66 Pantang mundur barang sejengkal
67 Bab 67 Dia ahlinya dialah tempat berlabuh
68 Bab 68 Oh my God!
69 Bab 69 Sales marketing
70 Bab 70 Ketiga kalinya
71 Bab 71 One step closer
72 Bab 72 Saingan Panji
73 Bab 73 Usaha tak akan mengkhianati hasil
74 Bab 74 Pengawalan
75 Bab 75 Oleh-oleh
76 Bab 76 Tak ada kata indah untuk sebuah perpisahan
77 Bab 77 Diragukan
78 Bab 78 Little Ivy, kesayangan...
79 Bab 79 Pertemuan pertama
80 Bab 80 Pertemuan kedua
81 Bab 81 Ananta's home
82 Bab 82 Behind the scene
83 Bab 83 Always, everything...for you
84 Bab 84 Amarah yang terpendam
85 Bab 85 Mengatasi ketantruman
86 Bab 86 Bukan sosok istri idaman
87 Bab 87 Lavender girl
88 Bab 88 Nostalgia bersama Ivy dan umma
89 Bab 89 Metode Mirroring
90 Bab 90 Antara aku dan kamu ada setan kecil
91 Bab 91. Posesif dari akar
92 Bab 92 Lamaran?
93 Bab 93 Ba Ranup---Ba Tanda
94 Bab 94 Mini zoo
95 Bab 95 No time
96 Bab 96 Ada yang hilang
97 Bab 97 Shinee--Shimmer
98 Bab 98 Tergiur
99 Bab 99 First quarrel
100 Bab 100 Saat bunga berguguran
101 Bab 101 Mimpiku bukan disana
102 Bab 102 Bukan Spek adek-adek
103 Bab 103 Dicicil
104 Bab 104 Jalur fighter
105 Bab 105 Kapten Teuku Pandjie Ikram
106 Bab 106 Kontrak seumur hidup
107 Bab 107 Menuju sakinah
108 Bab 108 Kecupan halal
109 Bab 109 Bridesmaid
110 Bab 110 Pengantin lawas
111 Bab 111 Kado terindah
112 Bab 112 Pesta bujang
113 Bab 113 Senjata rahasia perempuan
114 Bab 114. Selamat berbuka puasa
115 Bab 115 Sampai jumpa, kapten!
116 Bab 116 LDM bagian 1
117 Bab 117 LDM bagian 2
118 Bab 118 Memaafkan
119 Bab 119 Selamat datang ibu Pravita Ayudisa
120 Bab 120 Ijin, ibu...
121 Bab 121 Siluman beruk
122 Bab 122 Pasangan otak mesumm
123 Bab 123 Palai....
124 Bab 124 Diracun
125 Bab 125 Begini rasanya, hanya tau secara teori...
126 Bab 126 Support system
127 Bab 127 Suka duka bersama
128 Bab 128 See you again
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 1 Nenek moyangku seorang pelaut
2
Bab 2 Mendua
3
Bab 3 Terjerat pinjol
4
Bab 4 Residivis kasus penculikan
5
Bab 5 Misi bersama
6
Bab 6 Say goodbye
7
Bab 7 Ananta gen 2
8
Bab 8 Back to normality
9
Bab 9 om-om nanny
10
Bab 10 Pengabdian
11
Bab 11 Hallo dek vs hallo setan
12
Bab 12 Jangan nakal ya mami Veve
13
Bab 13 Tanjung komodo
14
Bab 14 Ingat nama
15
Bab 15 Hay!
16
Bab 16 Cewek sombong
17
Bab 17 Itu namanya Komodo
18
Bab 18 Mengabdi untuk negri
19
Bab 19 Mulai nyaman?
20
Bab 20 Sosok lembut di balik tampang gahar
21
Bab 21 Mencari sarapan
22
Bab 22 Orang bilang tanah kita tanah surga
23
Bab 23 Sing a song
24
Bab 24 Bertolak belakang
25
Bab 25 Falling in love
26
Bab 26 Kondisi yang kontras dan ironis
27
Bab 27 Kebimbangan ka'e Ivy
28
Bab 28 Nervous, geli, gemas
29
Bab 29 Berlari dan mengejar
30
Bab 30 Belanja
31
Bab 31 Jatuh cinta bikin repot
32
Bab 32 Good night, dek...
33
Bab 33 Based learning
34
Bab 34 Berjuang atau mati
35
Bab 35 Walau dunia [tak] seindah surga
36
Bab 36 Pengepungan
37
Bab 37 Sulit dihubungi
38
Bab 38 Aku dan kamu
39
Bab 39 Saya sukanya kamu
40
Bab 40 Bimbang
41
Bab 41 Tenggelam dalam pelukmu
42
Bab 42 Gimme a change
43
Bab 43 Selami aku
44
Bab 44 Pagar makan tanaman?
45
Bab 45 Ciri-ciri calon mantu
46
Bab 46 Induk ayam
47
Bab 47 KTP mana KTP?
48
Bab 48 Kecintaan
49
Bab 49 Closed minded
50
Bab 50 Menikmati prosesnya
51
Bab 51 Gebrakan Ivy
52
Bab 52 Sunshine
53
Bab 53 Not Government
54
Bab 54 Ema Joan
55
Bab 55 Tidak seperti yang terlihat
56
Bab 56 Siapa Panji?
57
Bab 57 Terlalu banyak bermimpi
58
Bab 58 Akal bulus
59
Bab 59 Penolakan
60
Bab 60 Duri dalam daging
61
Bab 61 Hari indah terakhir?
62
Bab 62 Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya
63
Bab 63 Manusia manusia lak nat.
64
Bab 64 Memanggilmu dalam tangis
65
Bab 65 I just need you, only you
66
Bab 66 Pantang mundur barang sejengkal
67
Bab 67 Dia ahlinya dialah tempat berlabuh
68
Bab 68 Oh my God!
69
Bab 69 Sales marketing
70
Bab 70 Ketiga kalinya
71
Bab 71 One step closer
72
Bab 72 Saingan Panji
73
Bab 73 Usaha tak akan mengkhianati hasil
74
Bab 74 Pengawalan
75
Bab 75 Oleh-oleh
76
Bab 76 Tak ada kata indah untuk sebuah perpisahan
77
Bab 77 Diragukan
78
Bab 78 Little Ivy, kesayangan...
79
Bab 79 Pertemuan pertama
80
Bab 80 Pertemuan kedua
81
Bab 81 Ananta's home
82
Bab 82 Behind the scene
83
Bab 83 Always, everything...for you
84
Bab 84 Amarah yang terpendam
85
Bab 85 Mengatasi ketantruman
86
Bab 86 Bukan sosok istri idaman
87
Bab 87 Lavender girl
88
Bab 88 Nostalgia bersama Ivy dan umma
89
Bab 89 Metode Mirroring
90
Bab 90 Antara aku dan kamu ada setan kecil
91
Bab 91. Posesif dari akar
92
Bab 92 Lamaran?
93
Bab 93 Ba Ranup---Ba Tanda
94
Bab 94 Mini zoo
95
Bab 95 No time
96
Bab 96 Ada yang hilang
97
Bab 97 Shinee--Shimmer
98
Bab 98 Tergiur
99
Bab 99 First quarrel
100
Bab 100 Saat bunga berguguran
101
Bab 101 Mimpiku bukan disana
102
Bab 102 Bukan Spek adek-adek
103
Bab 103 Dicicil
104
Bab 104 Jalur fighter
105
Bab 105 Kapten Teuku Pandjie Ikram
106
Bab 106 Kontrak seumur hidup
107
Bab 107 Menuju sakinah
108
Bab 108 Kecupan halal
109
Bab 109 Bridesmaid
110
Bab 110 Pengantin lawas
111
Bab 111 Kado terindah
112
Bab 112 Pesta bujang
113
Bab 113 Senjata rahasia perempuan
114
Bab 114. Selamat berbuka puasa
115
Bab 115 Sampai jumpa, kapten!
116
Bab 116 LDM bagian 1
117
Bab 117 LDM bagian 2
118
Bab 118 Memaafkan
119
Bab 119 Selamat datang ibu Pravita Ayudisa
120
Bab 120 Ijin, ibu...
121
Bab 121 Siluman beruk
122
Bab 122 Pasangan otak mesumm
123
Bab 123 Palai....
124
Bab 124 Diracun
125
Bab 125 Begini rasanya, hanya tau secara teori...
126
Bab 126 Support system
127
Bab 127 Suka duka bersama
128
Bab 128 See you again

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!