Bab 3 Terjerat pinjol

"Sakit Lo, Mayyy!" salak Ivy, alih-alih tersinggung Mayra justru terkekeh.

"Bilang aja gue sakit, ngga masuk. Bye Vy...thanks mamet. Nanti gue traktir."

"Lo yang jamet." Wajah Ivy tak bisa lebih kusut dan keruh lagi menatap sepasang sejoli yang tengah saling bergandengan tangan menuju gerbang lain dari fakultas teknik. Seolah sedang melakukan dosa indah bersama.

"Ihh, si alan. Pacar siapa, yang repot siapa...so laku banget Mayra.." lebih tepatnya, Ivy merasa harga dirinya tercolek saja, toh dibandingkan dengan Mayra ia jelas lebih cantik, lebih kece, lebih segalanya. Mayra adalah bentuk nyata--jika tak selamanya wajah oke itu bernasib mujur, punya banyak kekasih. Buktinya, pacar Mayra berserakan dimana-mana, seperti sampah plastik, sementara dirinya? Terlalu pemilih.

Lelaki jorok, ia tak mau. Lelaki tengil, ia tak mau. Lelaki galak, pelit, tidak penyayang, seram, apalagi tak punya dompet mencukupi alias mokon do, Ivy menutup pintu mata dan hatinya.

Apalagi jika ia tak memiliki wajah rupawan yang bisa Ivy pamerkan di museum, ia akan langsung menghempasnya, menolaknya mentah-mentah.

Dan benar saja, nomor tak tersave memanggil dirinya tak lama setelah itu. Ivy berdecak, jengkel, sebal...

"Mayra ngeselin ahh! Dia yang enak enakan punya pacar, gue yang repotnya begini. Tumbal banget..."

Ia menatap sekeliling, dimana tak ada ide yang bisa ia temukan sekarang. Kata psycho itu...ah! Seolah Mayra sedang mengatakan---tuh, gue kasih maut buat Lo! Mayra memang harus ia tendang ke neraka.

Ivy memutuskan untuk tidak mengangkat panggilannya, membiarkan itu terus menggelepar di dalam tasnya.

Panji berdecak kesal di tempat ia bersandar, tepat di samping motornya. Dimana riak gelombang mahasiswa mulai terlihat lalu lalang sibuk keluar masuk tanda bubarnya beberapa sesi prodi fakultas. Oke, ia terpikirkan Gala.

Bang Panji

La, ini gue. Lo tau Mayra kan? FKIP semester 6?

Jenggala

Oh, Mayra? FKIP semester 6? Ngga tau 😅 sorry. Soalnya aku jarang nyolek anak anak yang ambil S1. Beda gedung bang.

Bang Panji

Kalo Ivy, temennya. Pravita Ayudisa FKIP juga.

Jenggala

Pravita Ayudisa, oh kalo itu tau. Soalnya pernah beberapa kali dia ikut program kampus, relawan, dia juga pernah jadi kandidat Miss kampus.

Bang Panji

Bisa bantu?

Jenggala melambai, dari lain arah. Jenggala memang tengah mengambil gelar magisternya disini, jadi ia datang dari gedung yang cukup berbeda dan jaraknya pun lumayan mengingat luasnya area kampus UNJANA yang telah mengalami renovasi beberapa tahun belakangan ini.

"Bang, udah ketemu?"

Panji menggeleng, "bantu cari bisa ngga?"

Gala, bumil Russel yang belum kentara terlihat membuncit ini meringis, "duh, ngga tau jadwalnya sih tapi ntar dicoba deh...nyari siapanya Ivy bang?"

Dan kini Gala membawa Panji yang terlihat dengan wajah---waw tak bisa dijabarkan, cukup keruh, resah juga sedikit berkeringat diantara kulit yang sudah matang cenderung over cook itu.

"Makin eksotis aja bang, mateng ya di laut?" Dan hahahah mereka bercanda sepanjang perjalanan ke arah gedung FKIP setelah Panji memarkirkan motornya terlebih dahulu.

Panji tertawa, "matengan gue apa Ucel?"

Gala berdecak, "matengan Abang lah. Duta air mineral banyaknya main di hutan, di lapang, di kamar." Keduanya tertawa sepanjang ayunan langkah yang sesekali diperhatikan orang-orang disana.

Beberapa mungkin mengenal siapa Jenggala yang kini tengah berjalan dengan Hanoman from Tanah Abang.

Mata Panji yang seperti elang itu mengedar, memperhatikan area dalam radarnya, jiwa prajurit, Intel dan anggota unit khususnya tentu tak terbantahkan. Sementara Gala mencari seraya mengoceh, "aku ngga begitu hafal juga sih, soalnya jarang kesini."

/

Ivy menghela nafas, lalu membuangnya kasar, menghelanya lagi kemudian membuangnya lagi, "ah dasar bucin si alan! Ck!"

"Ngapain juga gue yang mesti repot dan takut sih. Elah..."

"Vy...jalan sendirian aja?" bukan Mayra bukan Julian bukan pula Arga, yang selalu mencari perhatiannya melainkan Imel yang kini berjalan menyamai langkahnya, "hey Mel, dari mana?"

"Pak Drajat. Dosen pembimbing."

Oh! Ivy mengangguk ingat, ia pun seharusnya sudah mulai mendaftarkan namanya.

"Daftar?" Langkahnya mengayun santai, menjejak setiap lantai koridor kampus, dimana cuaca hari ini terlalu sayang jika dilewatkan dengan segala ke-tergesaan.

Imel mengangguk, "harusnya Lo juga kan?"

"Besok kayanya, ini baru rehat bentar abis nyerahin tugas makalah sama Bu Dara."

Oh iya....Angguk Imel.

"Oke deh kalo gitu gue duluan ya, Vy..."

"Bye..."

Bye! Ivy bergumam dan melambai, tapi kemudian langkah yang sempat terhenti itu kini kembali terhenti sempurna kala suara seorang perempuan tak asing memanggilnya, "Ivy! Pravita Ayudisa!"

Ia dapati Kahiyang Jenggala mahasiswi fakultas seni yang tengah bersama seorang lelaki tegap, berbadan atletis bak----tatapan Ivy tentu saja tidak sedang mencermati Gala atau matahari yang sedang menyengat-menyengatnya membakar bumi. Tapi pada sosok asing yang seketika membuatnya kedinginan, merasa dilucuti meski wajahnya nampak ada manis-manisnya, membuatnya merasa ditusuk padahal tidak sedang membawa pisau.

Seketika instingnya menajam dan mengatakan jika ia adalah ancaman, feeling-nya berkata jika itu....Ivy membalikan badannya, "ngga bener nih!" entah kenapa kaki-kakinya itu mengajaknya untuk....lariiii!

Mammaaaa !!!!

Tentu saja Panji yang menyadari gelagat aneh Ivy langsung mengambil langkah seribu mengejar Ivy.

"Excuse me...excuse me....sorry kasih jalan buat air panasss!" ia membelah koridor yang mendadak ramai menurutnya.

"Vy! Weyyy, Lo yang namanya Ivy! Temennya Mayra?!" Panji berteriak memanggil-manggil tapi sosok gadis dengan perawakan semampai, berambut panjang itu justru berlari menghindar.

Fix, Panji merasa semua kejanggalan itu beralasan. Ia bukan orang biasa yang tak tau gelagat penjahat begini.

Sementara Gala di belakang justru mengernyit meski tak urung ikut mengejar, menyusul dengan langkah cepat tanpa berlari mengingat kondisinya yang tengah berbadan dua, "ada apa sih ini?"

"Mam pus, kemana nih?!" Ivy celingukan mencari celah berlari saat angin justru membawa langkahnya ke tempat mentok, oke...jadi salahkan angin! Angin yang membawa langkahnya ke tempat mentok, angin juga yang menghembuskan si buta dalam cerita rakyat Timun Mas ke UNJANA.

Langkahnya sedikit buntu, terlalu lama berpikir efek sarapan pake pasta, agree! Pasta bikin dia lemot. Salahkan pasta juga.

Grepp!

Ivy terhenyak saat tangannya diraih seseorang, "Mayra, saya hanya mau bertanya tentang Mayra. Kenapa kamu harus lari?" Panji nafasnya cukup diburu pagi ini, meski itu tak ada seujung kukunya latihan fisiknya di kesatuan atau Puslatpur.

"Ampun mas, bang, akang, aa...gue----"

"Kamu tau sesuatu tentang Mayra, makanya kamu kabur? Atau apa alasan kamu kabur, apa kamu tau siapa saya?"

Ivy berusaha melepas cengkraman tangan besar dan kuat di tangannya, matanya cukup tajam menatap tangannya terkunci, tangan putih yang kontras dengan tangan coklat Panji.

"Sorry buat ini, bukan saya mau kurang ajar tapi----"

Bugh!

Ivy melayangkan tas selempangnya ke arah Panji yang di halau si anggota pasukan khusus militer negri ini hingga tasnya hanya mentok dan jatuh terkulai lagi karena menabrak lengan Panji.

"Pergi Lo!"

Tentu saja sasaran yang tak kooperatif begini sangat dipahami Panji, menurut SOP jika seseorang tak bisa bekerja sama itu harus dibekuk...

"Lah, saya pernah bikin salah sampai kamu harus berlari, kabur? Coba katakan kenapa kamu harus kabur? Kamu tau siapa saya?"

Ivy langsung tersentak, iya juga! Kenapa harus kabur ...ketauan sekali ia tau sesuatu, pasta---salah pasta dan susu kambing. Tapi dia Ivy, yang Mayra percaya jika ia bisa diandalkan.

"Ekhem." Ivy masih berontak dan berusaha melepas tangannya dari genggaman Panji, membuang wajah ke arah dedaunan pucuk merah yang sempat berguguran tertiup angin siang lalu jatuh berserakan menyatu dengan debu terinjak-injak dan tergilas ban ban kendaraan warga kampus.

"Gue kira..." ia menelan saliva sulit, tapi kemudian memberanikan diri memandang sepasang mata dengan iris coklat tua yang indah, anjirrrr! Nih mata cowok indah bangettt. Bisa-bisanya Ivy dong-dong!

Dan retina dengan sorot tajam tapi tak sepenuhnya itu memandang Ivy, tepat, menyergap penuh intimidasi.

Wajahnya sedikit mendongak menunjukan jika ia tak mudah untuk digertak, diintimidasi dan, angkuh...gengsinya setinggi Himalaya.

"Gue tebak Lo debt collector pinjol kan?!"

Ada kernyitan di alis tajam Panji, ada sedikit rasa geli juga yang menggelitik, "kamu terjerat pinjol?"

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

ditambah lagi sayang ... kalau untuk jangka panjang ...jangan mau yg punya dia segedhe mlinjo, dipake miring dikit aja lepas, baru assalamualaikum udah waalaikumsalam

2026-05-01

6

🌸 queen 🍁

🌸 queen 🍁

over cook kasian lu njii

2026-05-01

4

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

iya bener
sok laku banget... padahal mah dia barang reject yg dibutuhkan sama customer yg minim budget, gk perduli kualitas dan kerusakan barang

2026-05-01

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Nenek moyangku seorang pelaut
2 Bab 2 Mendua
3 Bab 3 Terjerat pinjol
4 Bab 4 Residivis kasus penculikan
5 Bab 5 Misi bersama
6 Bab 6 Say goodbye
7 Bab 7 Ananta gen 2
8 Bab 8 Back to normality
9 Bab 9 om-om nanny
10 Bab 10 Pengabdian
11 Bab 11 Hallo dek vs hallo setan
12 Bab 12 Jangan nakal ya mami Veve
13 Bab 13 Tanjung komodo
14 Bab 14 Ingat nama
15 Bab 15 Hay!
16 Bab 16 Cewek sombong
17 Bab 17 Itu namanya Komodo
18 Bab 18 Mengabdi untuk negri
19 Bab 19 Mulai nyaman?
20 Bab 20 Sosok lembut di balik tampang gahar
21 Bab 21 Mencari sarapan
22 Bab 22 Orang bilang tanah kita tanah surga
23 Bab 23 Sing a song
24 Bab 24 Bertolak belakang
25 Bab 25 Falling in love
26 Bab 26 Kondisi yang kontras dan ironis
27 Bab 27 Kebimbangan ka'e Ivy
28 Bab 28 Nervous, geli, gemas
29 Bab 29 Berlari dan mengejar
30 Bab 30 Belanja
31 Bab 31 Jatuh cinta bikin repot
32 Bab 32 Good night, dek...
33 Bab 33 Based learning
34 Bab 34 Berjuang atau mati
35 Bab 35 Walau dunia [tak] seindah surga
36 Bab 36 Pengepungan
37 Bab 37 Sulit dihubungi
38 Bab 38 Aku dan kamu
39 Bab 39 Saya sukanya kamu
40 Bab 40 Bimbang
41 Bab 41 Tenggelam dalam pelukmu
42 Bab 42 Gimme a change
43 Bab 43 Selami aku
44 Bab 44 Pagar makan tanaman?
45 Bab 45 Ciri-ciri calon mantu
46 Bab 46 Induk ayam
47 Bab 47 KTP mana KTP?
48 Bab 48 Kecintaan
49 Bab 49 Closed minded
50 Bab 50 Menikmati prosesnya
51 Bab 51 Gebrakan Ivy
52 Bab 52 Sunshine
53 Bab 53 Not Government
54 Bab 54 Ema Joan
55 Bab 55 Tidak seperti yang terlihat
56 Bab 56 Siapa Panji?
57 Bab 57 Terlalu banyak bermimpi
58 Bab 58 Akal bulus
59 Bab 59 Penolakan
60 Bab 60 Duri dalam daging
61 Bab 61 Hari indah terakhir?
62 Bab 62 Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya
63 Bab 63 Manusia manusia lak nat.
64 Bab 64 Memanggilmu dalam tangis
65 Bab 65 I just need you, only you
66 Bab 66 Pantang mundur barang sejengkal
67 Bab 67 Dia ahlinya dialah tempat berlabuh
68 Bab 68 Oh my God!
69 Bab 69 Sales marketing
70 Bab 70 Ketiga kalinya
71 Bab 71 One step closer
72 Bab 72 Saingan Panji
73 Bab 73 Usaha tak akan mengkhianati hasil
74 Bab 74 Pengawalan
75 Bab 75 Oleh-oleh
76 Bab 76 Tak ada kata indah untuk sebuah perpisahan
77 Bab 77 Diragukan
78 Bab 78 Little Ivy, kesayangan...
79 Bab 79 Pertemuan pertama
80 Bab 80 Pertemuan kedua
81 Bab 81 Ananta's home
82 Bab 82 Behind the scene
83 Bab 83 Always, everything...for you
84 Bab 84 Amarah yang terpendam
85 Bab 85 Mengatasi ketantruman
86 Bab 86 Bukan sosok istri idaman
87 Bab 87 Lavender girl
88 Bab 88 Nostalgia bersama Ivy dan umma
89 Bab 89 Metode Mirroring
90 Bab 90 Antara aku dan kamu ada setan kecil
91 Bab 91. Posesif dari akar
92 Bab 92 Lamaran?
93 Bab 93 Ba Ranup---Ba Tanda
94 Bab 94 Mini zoo
95 Bab 95 No time
96 Bab 96 Ada yang hilang
97 Bab 97 Shinee--Shimmer
98 Bab 98 Tergiur
99 Bab 99 First quarrel
100 Bab 100 Saat bunga berguguran
101 Bab 101 Mimpiku bukan disana
102 Bab 102 Bukan Spek adek-adek
103 Bab 103 Dicicil
104 Bab 104 Jalur fighter
105 Bab 105 Kapten Teuku Pandjie Ikram
106 Bab 106 Kontrak seumur hidup
107 Bab 107 Menuju sakinah
108 Bab 108 Kecupan halal
109 Bab 109 Bridesmaid
110 Bab 110 Pengantin lawas
111 Bab 111 Kado terindah
112 Bab 112 Pesta bujang
113 Bab 113 Senjata rahasia perempuan
114 Bab 114. Selamat berbuka puasa
115 Bab 115 Sampai jumpa, kapten!
116 Bab 116 LDM bagian 1
117 Bab 117 LDM bagian 2
118 Bab 118 Memaafkan
119 Bab 119 Selamat datang ibu Pravita Ayudisa
120 Bab 120 Ijin, ibu...
121 Bab 121 Siluman beruk
122 Bab 122 Pasangan otak mesumm
123 Bab 123 Palai....
124 Bab 124 Diracun
125 Bab 125 Begini rasanya, hanya tau secara teori...
126 Bab 126 Support system
127 Bab 127 Suka duka bersama
128 Bab 128 See you again
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 1 Nenek moyangku seorang pelaut
2
Bab 2 Mendua
3
Bab 3 Terjerat pinjol
4
Bab 4 Residivis kasus penculikan
5
Bab 5 Misi bersama
6
Bab 6 Say goodbye
7
Bab 7 Ananta gen 2
8
Bab 8 Back to normality
9
Bab 9 om-om nanny
10
Bab 10 Pengabdian
11
Bab 11 Hallo dek vs hallo setan
12
Bab 12 Jangan nakal ya mami Veve
13
Bab 13 Tanjung komodo
14
Bab 14 Ingat nama
15
Bab 15 Hay!
16
Bab 16 Cewek sombong
17
Bab 17 Itu namanya Komodo
18
Bab 18 Mengabdi untuk negri
19
Bab 19 Mulai nyaman?
20
Bab 20 Sosok lembut di balik tampang gahar
21
Bab 21 Mencari sarapan
22
Bab 22 Orang bilang tanah kita tanah surga
23
Bab 23 Sing a song
24
Bab 24 Bertolak belakang
25
Bab 25 Falling in love
26
Bab 26 Kondisi yang kontras dan ironis
27
Bab 27 Kebimbangan ka'e Ivy
28
Bab 28 Nervous, geli, gemas
29
Bab 29 Berlari dan mengejar
30
Bab 30 Belanja
31
Bab 31 Jatuh cinta bikin repot
32
Bab 32 Good night, dek...
33
Bab 33 Based learning
34
Bab 34 Berjuang atau mati
35
Bab 35 Walau dunia [tak] seindah surga
36
Bab 36 Pengepungan
37
Bab 37 Sulit dihubungi
38
Bab 38 Aku dan kamu
39
Bab 39 Saya sukanya kamu
40
Bab 40 Bimbang
41
Bab 41 Tenggelam dalam pelukmu
42
Bab 42 Gimme a change
43
Bab 43 Selami aku
44
Bab 44 Pagar makan tanaman?
45
Bab 45 Ciri-ciri calon mantu
46
Bab 46 Induk ayam
47
Bab 47 KTP mana KTP?
48
Bab 48 Kecintaan
49
Bab 49 Closed minded
50
Bab 50 Menikmati prosesnya
51
Bab 51 Gebrakan Ivy
52
Bab 52 Sunshine
53
Bab 53 Not Government
54
Bab 54 Ema Joan
55
Bab 55 Tidak seperti yang terlihat
56
Bab 56 Siapa Panji?
57
Bab 57 Terlalu banyak bermimpi
58
Bab 58 Akal bulus
59
Bab 59 Penolakan
60
Bab 60 Duri dalam daging
61
Bab 61 Hari indah terakhir?
62
Bab 62 Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya
63
Bab 63 Manusia manusia lak nat.
64
Bab 64 Memanggilmu dalam tangis
65
Bab 65 I just need you, only you
66
Bab 66 Pantang mundur barang sejengkal
67
Bab 67 Dia ahlinya dialah tempat berlabuh
68
Bab 68 Oh my God!
69
Bab 69 Sales marketing
70
Bab 70 Ketiga kalinya
71
Bab 71 One step closer
72
Bab 72 Saingan Panji
73
Bab 73 Usaha tak akan mengkhianati hasil
74
Bab 74 Pengawalan
75
Bab 75 Oleh-oleh
76
Bab 76 Tak ada kata indah untuk sebuah perpisahan
77
Bab 77 Diragukan
78
Bab 78 Little Ivy, kesayangan...
79
Bab 79 Pertemuan pertama
80
Bab 80 Pertemuan kedua
81
Bab 81 Ananta's home
82
Bab 82 Behind the scene
83
Bab 83 Always, everything...for you
84
Bab 84 Amarah yang terpendam
85
Bab 85 Mengatasi ketantruman
86
Bab 86 Bukan sosok istri idaman
87
Bab 87 Lavender girl
88
Bab 88 Nostalgia bersama Ivy dan umma
89
Bab 89 Metode Mirroring
90
Bab 90 Antara aku dan kamu ada setan kecil
91
Bab 91. Posesif dari akar
92
Bab 92 Lamaran?
93
Bab 93 Ba Ranup---Ba Tanda
94
Bab 94 Mini zoo
95
Bab 95 No time
96
Bab 96 Ada yang hilang
97
Bab 97 Shinee--Shimmer
98
Bab 98 Tergiur
99
Bab 99 First quarrel
100
Bab 100 Saat bunga berguguran
101
Bab 101 Mimpiku bukan disana
102
Bab 102 Bukan Spek adek-adek
103
Bab 103 Dicicil
104
Bab 104 Jalur fighter
105
Bab 105 Kapten Teuku Pandjie Ikram
106
Bab 106 Kontrak seumur hidup
107
Bab 107 Menuju sakinah
108
Bab 108 Kecupan halal
109
Bab 109 Bridesmaid
110
Bab 110 Pengantin lawas
111
Bab 111 Kado terindah
112
Bab 112 Pesta bujang
113
Bab 113 Senjata rahasia perempuan
114
Bab 114. Selamat berbuka puasa
115
Bab 115 Sampai jumpa, kapten!
116
Bab 116 LDM bagian 1
117
Bab 117 LDM bagian 2
118
Bab 118 Memaafkan
119
Bab 119 Selamat datang ibu Pravita Ayudisa
120
Bab 120 Ijin, ibu...
121
Bab 121 Siluman beruk
122
Bab 122 Pasangan otak mesumm
123
Bab 123 Palai....
124
Bab 124 Diracun
125
Bab 125 Begini rasanya, hanya tau secara teori...
126
Bab 126 Support system
127
Bab 127 Suka duka bersama
128
Bab 128 See you again

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!