Bab 5 Misi bersama

Gala benar-benar menunduk malu, mimpi apa dia semalam. Hari ini ketiban apes membersamai dua manusia random member sirkus Rusia ini.

Yang satu gendong-gendong anak gadis orang, persis atraksi ice skating berpasangan, yang satu komat kamit mengeluarkan sumpah serapahnya.

Gue sumpahin anu lo loyo!

Gue sumpahin mata lo picek!

Ya Allah, semoga orang ini mendadak kesamber petir!

Semoga badan Lo borokan sebadan-badan.

Lama-lama Gala tertawa juga mendengarnya, ia hanya tak menyangka sosok seorang Pravita Ayudisa serandom ini aslinya. Dimana wajahnya yang ayu jelita dambaan mahasiswa UNJANA, ia selalu nampak kalem karena memang ia adalah salah satu calon guru diantara puluhan mahasiswa FKIP.

Pernah ia melihat wajahnya terpampang di spanduk kampus, di beberapa linimasa kampus dan ah tentu saja...terlibat program non akademik kampus bersama HIMA dan BEM. Bukan sosok yang leadership tapi sosoknya cukup umum dan sering ditemui karena ia yang memang humble dan royalitas terhadap kegiatan sosial.

Rambutnya yang panjang sepunggung menjuntai bergerak bersamaan dengan dirinya yang terhuyung-huyung di gendongan Panji. Si alan dirinya diangkut macam karung gabah.

Panji akhirnya menurunkan Ivy yang kali ini tidak melawan, hanya saja gadis dengan wajah memerah itu tak mau menatap Hanoman di depannya, yang tengah memakai helm.

"Bawa motor, La?" tanya nya pada istri adik sepupunya itu.

Gala mengangguk, menunjuk ke arah salah satu motor matic.

"Langsung balik ke rumah dinas?"

Lagi, Gala mengangguk, "iya." Lantas Gala menatap Ivy, "are you oke, Vy?" ringisnya. "Ngga apa-apa, ngga usah takut nih orang baik kok.."

Tentu saja Ivy menolak mentah-mentah ucapan Gala itu, "baik apanya?! Yang bener aja!" sembur Ivy tak ada ampun.

Dan Panji, ia justru membuat gerakan menggeram memajukan wajahnya tengil pada Ivy dengan sengaja seperti serigala, "Rawwrrr!"

Ivy refleks menampar pipinya meski itu tak berarti apapun, plak! "apaan sih?" desisnya, dan Gala masih meledakan tawanya, melihat kerandoman Pravita juga Panji, interaksi mereka ini lucu saja....baru mengenal 5 menit yang lalu tapi sudah bisa menciptakan hiburan yang hakiki.

"Saya baik kalau kamu kooperatif. Tapi kalo kamu ngeyelan----" Panji membuat pistol yang langsung menyasar pelipis Ivy, "dor!"

Ivy menghindar dan menepis tangan Panji, "ssshhh, ngga usah pegang-pegang Lo! Bang--ke banget deh ah! Gue aduin sama Koramil terdekat, angkatan apa Lo," Ivy bahkan menarik lengan baju Panji demi mencari identitas pribadi Panji.

"Ini namanya arogansi aparat. Jangan mentang-mentang Lo aparat bisa seenaknya. Gue rakyat gue yang gaji Lo. Jadi jangan kurang ajar ya, bisa gue laporin loh!"

Ctak!

Ivy melotot, dan awww!

"Berisik." Panji menjitak kening Ivy yang mengoceh seperti bebek, wekk--wekk-wekk... Gala benar-benar sudah tak bisa menahan tawanya, "dah lah, aku balik bang Nji. Hati-hati."

"Yoo! Ati-ati La, salam buat Ucel. Sorry ngga anter masih ada urusan."

Gala berlalu sembari mengangkat tangannya dan membenarkan tas kain yang tersampir di pundak ke arah motor.

Panji menyerahkan helm pada Ivy, untuk gadis itu pakai ..awalnya helm itu untuk Mayra...tapi----ck. Urat-urat kencang terlihat di sekitar pelipis dan rahang Panji yang kembali mengeras, bayangan Mayra yang memeluk pinggang lelaki tadi itu. Mendadak ia kembali mendidih, rasanya ingin menghantam sesuatu.

Ivy menerima tapi yang dilakukannya pertama kali adalah menciumi bau helm Panji terlebih dahulu.

"Ini helm udah dicuci kan?"cebiknya sinis, "kok bau sih?"

"Pakai." Titahnya tak mau didebat. Ia hanya sedang merasa jika Ivy tengah mengulur waktunya.

"Baru saya bubuhi racun ikan buntal disitu."

Ivy melotot mendaratkan sejenak helm ke arah badan Panji, "cowok stress!"

Ngapain juga gue mesti punya urusan sama Lo... apes, sial!

"Saya tau kamu sedang bohong, menyembunyikan dan melindungi seseorang yang sedang melakukan kesalahan. Jadi, anggap ini cara kamu untuk mengurangi hukuman atau setidaknya menebus kesalahan kamu yang sudah berani-beraninya terlibat urusan dengan saya..."

Ivy mengernyit, "Lo nuduh?!" sengit Ivy mendongak menantang. Panji, wajahnya malas sekali menghadapi ke-ngeyelan Ivy sekarang, jujur saja ia sedang kesal, jengkel, emosi dan ingin sekali melampiaskan itu sekarang, tapi ia cukup sadar diri untuk tidak melampiaskannya pada Ivy, "jangan memancing-mancing di air keruh kalo kamu ngga mau dapat ikan piranha."

Panji merebut helm yang masih ada di tangan Ivy, memasukan itu ke dalam kepalanya pluk! Membuat helm tanpa kaca itu langsung menutupi kepala Ivy hampir sepenuhnya dalam sekejap mata, heuk! Panji langsung menahan ledakan tawa dalam sekali waktu.

Emosi yang berkobar seolah langsung reda dan padam saat melihat wajah Ivy mendadak seperti tokoh kartun aneh dan lucu dalam sesaat sebab jenis dan modelan---helm perusak ketampanan-- helm yang ukurannya lebih besar, cembung ke depan atau batok, dan garis batasnya langsung berbatas alis Ivy.

Panji mengetuk batoknya sekali membuat gadis ini mengaduh.

"Naik."

Ivy mele nguh berkali-kali berada di boncengan Panji. Ia benar-benar memberi jarak, tak ingin berdekatan dan mepet. Ada tas sebagai penghalangnya. Tak ada pembicaraan berarti sepanjang jalan selain dari Ivy yang menunjukan arah jalanan ke kost-an Mayra.

"Lo aneh banget. Pacar tapi ngga tau kost-an May." Ivy cemberut, sisa waktunya hari ini terbuang sia-sia demi mengantar si Hanoman ini bertemu Mayra. Selain dari itu, mungkin Mayra akan mengamuk juga padanya karena telah mengadukannya, bodo amat...ia sudah tak peduli, lagipula, Mayra juga cukup tega padanya. Katanya teman tapi justru mengumpankannya pada lelaki ini.

Ivy menatap punggung Panji dengan bibir julid, punggung bidang terbalut jaket yang sepertinya cukup enak untuk dipakai bersandar. Punggung model-model pelabuhan.

"Saya pacaran dengan Mayra baru 3 bulan, waktu saya juga banyak dihabiskan untuk bertugas, bertemu di luar sekedarnya, itu pun bisa dihitung jari, belum sampai ke tahap sering mengantar ke kost-an. Wajar...." Suara Panji beradu dengan angin, tapi cukup jelas di telinga Ivy.

"Wajar, ya wajarlah May ngga betah...hari gini siapa juga yang mau ditinggal-tinggal, pasti bakalan nyari kenyamanan, nyari yang sering ketemu..." cebik Ivy sebal, mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan kernyitan. Beberapa kali ia temukan pengguna jalan lain memperhatikannya lalu tertawa sendiri, Ivy mendesis...*apa sih*?!

Sebuah kost-kostan perempuan yang rapi, diantara pemukiman sepi tapi teratur.

"Itu kost-kostan putri?"

Ivy mengangguk melepas helm, "kalau begitu kamu yang ketuk."

Ivy mencebik, lagi-lagi menatap Panji sebal, "nyusahin ya...Lo berdua yang pacaran gue yang susah. Hah! Ganti rugi, hari ini harusnya gue ke salon buat cat kuku!" sengitnya galak mendorong helm itu hingga membentur dada Panji kasar, tapi tentu saja, sekali lagi Panji tak keberatan dengan itu, ia justru terkekeh melihat wajah lucu Ivy.

Ia menunggu di luar bangunan rumah bertingkat dengan cat tembok berwarna lemon itu, cukup terang untuk hari yang terang. Sejenak ia berpikir setelah mematikan mesin motor...apa yang dilakukan Mayra, apa yang dikatakan Ivy barusan....resiko pekerjaan. Apa ia harus mulai memikirkan usul umi? Yang akan mengenalkannya dengan anak teman? Minimalnya jika begitu pasangannya nanti sudah tau bagaimana seluk beluk profesi dan resiko.

Bersama risau yang terbawa angin, langkah seseorang menghampiri, "ngga ada. Mayra ngga ada di kost-an."

Panji mengernyit, "lah, tadi kamu bilang?!"

"Mana gue tau!" kini sentak Ivy, "urusan gue cuma sampe di nyampein pesan dari Mayra yang bilang alasan sakit. Done! Gue balik..." kini amarah Ivy tak lagi tertolong dan Panji, kini menahan lengan Ivy, "please, kali ini aja bantu saya, hanya itu. Minimalnya saya menuntaskan urusan saya dengan Mayra, jika memang hanya sampai disini saja."

Ivy memandang wajah masak Panji, sinar mentari benar-benar membuatnya overcook memang..."hah! Nyusahin, bikin repot."

"Kost-an Zein. Abis ini gue balik...eh anter ke salon. Sebagai tanda terimakasih!" cecar Ivy diangguki Panji, "saya bayar layanan cat kuku kamu."

Ivy tertawa tergelak tapi kemudian menunjuk wajah Panji, "bener? Ini cat kuku gue mahal loh...ngga bisa dikasih cat pelitur buat tank baja."

Panji tertawa, "berapa?"

"Ngabisin sepertiga gaji lo sebulan deh kayanya."

Panji terlihat berpikir, tapi ia mengangguk, "sebagai rasa terimakasih."

"Oke. Gue pegang kata-kata seorang prajurit. Sekali-kali kan, ya...pajak gue sama negara cashback..." Ucapnya tengil naik kembali ke boncengan motor, "Jalan Adipura."

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Attaya Zahro

Attaya Zahro

Visualnya seperti apa ini teh,sampe² Bang Nji bisa ngakak 🤔🤔

2026-05-02

6

jumirah slavina

jumirah slavina

jan jangan saat mereka smp sana s' Zin lagi kuda²n ma iMay...

ya ampun Aku gak sabar liat pertengkaran gak banget ini

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2026-05-02

3

ieda1195

ieda1195

jgn gitu vy, ntar ada masanya kmu lihat nji digigit nyamuk ae kmu ngelus-ngelusnya sehari semalem, lhat tangan nji kegaris piso ae kmu merbannya ngabisin segulung,

bolehlah sekarang kmu sumpah serapan nji sesukamu, sebelum kena virus bucin

2026-05-02

5

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Nenek moyangku seorang pelaut
2 Bab 2 Mendua
3 Bab 3 Terjerat pinjol
4 Bab 4 Residivis kasus penculikan
5 Bab 5 Misi bersama
6 Bab 6 Say goodbye
7 Bab 7 Ananta gen 2
8 Bab 8 Back to normality
9 Bab 9 om-om nanny
10 Bab 10 Pengabdian
11 Bab 11 Hallo dek vs hallo setan
12 Bab 12 Jangan nakal ya mami Veve
13 Bab 13 Tanjung komodo
14 Bab 14 Ingat nama
15 Bab 15 Hay!
16 Bab 16 Cewek sombong
17 Bab 17 Itu namanya Komodo
18 Bab 18 Mengabdi untuk negri
19 Bab 19 Mulai nyaman?
20 Bab 20 Sosok lembut di balik tampang gahar
21 Bab 21 Mencari sarapan
22 Bab 22 Orang bilang tanah kita tanah surga
23 Bab 23 Sing a song
24 Bab 24 Bertolak belakang
25 Bab 25 Falling in love
26 Bab 26 Kondisi yang kontras dan ironis
27 Bab 27 Kebimbangan ka'e Ivy
28 Bab 28 Nervous, geli, gemas
29 Bab 29 Berlari dan mengejar
30 Bab 30 Belanja
31 Bab 31 Jatuh cinta bikin repot
32 Bab 32 Good night, dek...
33 Bab 33 Based learning
34 Bab 34 Berjuang atau mati
35 Bab 35 Walau dunia [tak] seindah surga
36 Bab 36 Pengepungan
37 Bab 37 Sulit dihubungi
38 Bab 38 Aku dan kamu
39 Bab 39 Saya sukanya kamu
40 Bab 40 Bimbang
41 Bab 41 Tenggelam dalam pelukmu
42 Bab 42 Gimme a change
43 Bab 43 Selami aku
44 Bab 44 Pagar makan tanaman?
45 Bab 45 Ciri-ciri calon mantu
46 Bab 46 Induk ayam
47 Bab 47 KTP mana KTP?
48 Bab 48 Kecintaan
49 Bab 49 Closed minded
50 Bab 50 Menikmati prosesnya
51 Bab 51 Gebrakan Ivy
52 Bab 52 Sunshine
53 Bab 53 Not Government
54 Bab 54 Ema Joan
55 Bab 55 Tidak seperti yang terlihat
56 Bab 56 Siapa Panji?
57 Bab 57 Terlalu banyak bermimpi
58 Bab 58 Akal bulus
59 Bab 59 Penolakan
60 Bab 60 Duri dalam daging
61 Bab 61 Hari indah terakhir?
62 Bab 62 Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya
63 Bab 63 Manusia manusia lak nat.
64 Bab 64 Memanggilmu dalam tangis
65 Bab 65 I just need you, only you
66 Bab 66 Pantang mundur barang sejengkal
67 Bab 67 Dia ahlinya dialah tempat berlabuh
68 Bab 68 Oh my God!
69 Bab 69 Sales marketing
70 Bab 70 Ketiga kalinya
71 Bab 71 One step closer
72 Bab 72 Saingan Panji
73 Bab 73 Usaha tak akan mengkhianati hasil
74 Bab 74 Pengawalan
75 Bab 75 Oleh-oleh
76 Bab 76 Tak ada kata indah untuk sebuah perpisahan
77 Bab 77 Diragukan
78 Bab 78 Little Ivy, kesayangan...
79 Bab 79 Pertemuan pertama
80 Bab 80 Pertemuan kedua
81 Bab 81 Ananta's home
82 Bab 82 Behind the scene
83 Bab 83 Always, everything...for you
84 Bab 84 Amarah yang terpendam
85 Bab 85 Mengatasi ketantruman
86 Bab 86 Bukan sosok istri idaman
87 Bab 87 Lavender girl
88 Bab 88 Nostalgia bersama Ivy dan umma
89 Bab 89 Metode Mirroring
90 Bab 90 Antara aku dan kamu ada setan kecil
91 Bab 91. Posesif dari akar
92 Bab 92 Lamaran?
93 Bab 93 Ba Ranup---Ba Tanda
94 Bab 94 Mini zoo
95 Bab 95 No time
96 Bab 96 Ada yang hilang
97 Bab 97 Shinee--Shimmer
98 Bab 98 Tergiur
99 Bab 99 First quarrel
100 Bab 100 Saat bunga berguguran
101 Bab 101 Mimpiku bukan disana
102 Bab 102 Bukan Spek adek-adek
103 Bab 103 Dicicil
104 Bab 104 Jalur fighter
105 Bab 105 Kapten Teuku Pandjie Ikram
106 Bab 106 Kontrak seumur hidup
107 Bab 107 Menuju sakinah
108 Bab 108 Kecupan halal
109 Bab 109 Bridesmaid
110 Bab 110 Pengantin lawas
111 Bab 111 Kado terindah
112 Bab 112 Pesta bujang
113 Bab 113 Senjata rahasia perempuan
114 Bab 114. Selamat berbuka puasa
115 Bab 115 Sampai jumpa, kapten!
116 Bab 116 LDM bagian 1
117 Bab 117 LDM bagian 2
118 Bab 118 Memaafkan
119 Bab 119 Selamat datang ibu Pravita Ayudisa
120 Bab 120 Ijin, ibu...
121 Bab 121 Siluman beruk
122 Bab 122 Pasangan otak mesumm
123 Bab 123 Palai....
124 Bab 124 Diracun
125 Bab 125 Begini rasanya, hanya tau secara teori...
126 Bab 126 Support system
127 Bab 127 Suka duka bersama
128 Bab 128 See you again
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 1 Nenek moyangku seorang pelaut
2
Bab 2 Mendua
3
Bab 3 Terjerat pinjol
4
Bab 4 Residivis kasus penculikan
5
Bab 5 Misi bersama
6
Bab 6 Say goodbye
7
Bab 7 Ananta gen 2
8
Bab 8 Back to normality
9
Bab 9 om-om nanny
10
Bab 10 Pengabdian
11
Bab 11 Hallo dek vs hallo setan
12
Bab 12 Jangan nakal ya mami Veve
13
Bab 13 Tanjung komodo
14
Bab 14 Ingat nama
15
Bab 15 Hay!
16
Bab 16 Cewek sombong
17
Bab 17 Itu namanya Komodo
18
Bab 18 Mengabdi untuk negri
19
Bab 19 Mulai nyaman?
20
Bab 20 Sosok lembut di balik tampang gahar
21
Bab 21 Mencari sarapan
22
Bab 22 Orang bilang tanah kita tanah surga
23
Bab 23 Sing a song
24
Bab 24 Bertolak belakang
25
Bab 25 Falling in love
26
Bab 26 Kondisi yang kontras dan ironis
27
Bab 27 Kebimbangan ka'e Ivy
28
Bab 28 Nervous, geli, gemas
29
Bab 29 Berlari dan mengejar
30
Bab 30 Belanja
31
Bab 31 Jatuh cinta bikin repot
32
Bab 32 Good night, dek...
33
Bab 33 Based learning
34
Bab 34 Berjuang atau mati
35
Bab 35 Walau dunia [tak] seindah surga
36
Bab 36 Pengepungan
37
Bab 37 Sulit dihubungi
38
Bab 38 Aku dan kamu
39
Bab 39 Saya sukanya kamu
40
Bab 40 Bimbang
41
Bab 41 Tenggelam dalam pelukmu
42
Bab 42 Gimme a change
43
Bab 43 Selami aku
44
Bab 44 Pagar makan tanaman?
45
Bab 45 Ciri-ciri calon mantu
46
Bab 46 Induk ayam
47
Bab 47 KTP mana KTP?
48
Bab 48 Kecintaan
49
Bab 49 Closed minded
50
Bab 50 Menikmati prosesnya
51
Bab 51 Gebrakan Ivy
52
Bab 52 Sunshine
53
Bab 53 Not Government
54
Bab 54 Ema Joan
55
Bab 55 Tidak seperti yang terlihat
56
Bab 56 Siapa Panji?
57
Bab 57 Terlalu banyak bermimpi
58
Bab 58 Akal bulus
59
Bab 59 Penolakan
60
Bab 60 Duri dalam daging
61
Bab 61 Hari indah terakhir?
62
Bab 62 Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya
63
Bab 63 Manusia manusia lak nat.
64
Bab 64 Memanggilmu dalam tangis
65
Bab 65 I just need you, only you
66
Bab 66 Pantang mundur barang sejengkal
67
Bab 67 Dia ahlinya dialah tempat berlabuh
68
Bab 68 Oh my God!
69
Bab 69 Sales marketing
70
Bab 70 Ketiga kalinya
71
Bab 71 One step closer
72
Bab 72 Saingan Panji
73
Bab 73 Usaha tak akan mengkhianati hasil
74
Bab 74 Pengawalan
75
Bab 75 Oleh-oleh
76
Bab 76 Tak ada kata indah untuk sebuah perpisahan
77
Bab 77 Diragukan
78
Bab 78 Little Ivy, kesayangan...
79
Bab 79 Pertemuan pertama
80
Bab 80 Pertemuan kedua
81
Bab 81 Ananta's home
82
Bab 82 Behind the scene
83
Bab 83 Always, everything...for you
84
Bab 84 Amarah yang terpendam
85
Bab 85 Mengatasi ketantruman
86
Bab 86 Bukan sosok istri idaman
87
Bab 87 Lavender girl
88
Bab 88 Nostalgia bersama Ivy dan umma
89
Bab 89 Metode Mirroring
90
Bab 90 Antara aku dan kamu ada setan kecil
91
Bab 91. Posesif dari akar
92
Bab 92 Lamaran?
93
Bab 93 Ba Ranup---Ba Tanda
94
Bab 94 Mini zoo
95
Bab 95 No time
96
Bab 96 Ada yang hilang
97
Bab 97 Shinee--Shimmer
98
Bab 98 Tergiur
99
Bab 99 First quarrel
100
Bab 100 Saat bunga berguguran
101
Bab 101 Mimpiku bukan disana
102
Bab 102 Bukan Spek adek-adek
103
Bab 103 Dicicil
104
Bab 104 Jalur fighter
105
Bab 105 Kapten Teuku Pandjie Ikram
106
Bab 106 Kontrak seumur hidup
107
Bab 107 Menuju sakinah
108
Bab 108 Kecupan halal
109
Bab 109 Bridesmaid
110
Bab 110 Pengantin lawas
111
Bab 111 Kado terindah
112
Bab 112 Pesta bujang
113
Bab 113 Senjata rahasia perempuan
114
Bab 114. Selamat berbuka puasa
115
Bab 115 Sampai jumpa, kapten!
116
Bab 116 LDM bagian 1
117
Bab 117 LDM bagian 2
118
Bab 118 Memaafkan
119
Bab 119 Selamat datang ibu Pravita Ayudisa
120
Bab 120 Ijin, ibu...
121
Bab 121 Siluman beruk
122
Bab 122 Pasangan otak mesumm
123
Bab 123 Palai....
124
Bab 124 Diracun
125
Bab 125 Begini rasanya, hanya tau secara teori...
126
Bab 126 Support system
127
Bab 127 Suka duka bersama
128
Bab 128 See you again

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!