Chapter 002: Mengusir Para Pengacau

Kegelapan malam masih memeluk seluruh penjuru sekte ketika Qin Xiang duduk bersila di tengah gubuknya.

Sunyi.

Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi oleh sesuatu—aliran-aliran tipis yang merayap di udara, di dinding lapuk, di sela-sela lantai tanah yang lembap. Energi langit dan bumi yang selama ini tak pernah ia perhatikan.

Kini ia bisa melihat semuanya.

Tatapannya bukan lagi tatapan remaja yang terbiasa menunduk.

Ada kedalaman di sana—

kedalaman yang lahir bukan dari usia tubuh ini, melainkan dari ribuan tahun yang pernah dilaluinya di kehidupan lain.

Tenang.

Berat.

Seperti danau yang tidak beriak di permukaannya, namun menyimpan arus bawah yang bisa menelan apa saja.

Ia habiskan berjam-jam menelusuri setiap inci meridiannya.

Dan akhirnya—ia sampai pada sebuah kesimpulan.

"Tubuh ini... cacat. Namun tidak sepenuhnya tak berguna."

Suaranya pelan, lebih seperti gumaman seseorang yang berbicara dengan dirinya sendiri setelah merenungkan sesuatu yang panjang.

Meridian dalam tubuh ini rapuh dan tipis seperti benang sutra yang sudah lapuk—satu tekanan berlebih bisa membuatnya retak.

Hal ini yang selama bertahun-tahun membuat Qin Xiang terjebak di Pemurnian Qi tahap satu, tidak mampu berkembang meski telah berusaha keras.

Namun, ada yang menarik.

Dantian-nya—pusat penyimpanan energi di pusar bawahnya—adalah hal yang sama sekali berbeda.

Ukurannya dua kali lipat manusia normal.

Paradoks yang kejam sekaligus menarik.

Seperti saluran air kecil yang hampir buntu yang dipaksa mengisi danau raksasa—bisa dilakukan, tapi membutuhkan waktu yang tidak masuk akal panjangnya.

Senyum pahit muncul di sudut bibirnya.

"Jika mengikuti metode biasa dunia ini, setidaknya butuh setahun lagi hanya untuk menembus Pemurnian Qi tahap kedua."

Namun ia bukan kultivator biasa.

Senyum pahit itu perlahan bergeser—dingin, tipis, dan mengandung sesuatu yang terasa jauh lebih tua dari wajah muda ini.

Qin Xiang memejamkan matanya.

Napasnya mulai berubah—bukan ritme orang yang bermeditasi biasa, melainkan pola kuno yang sudah tidak dikenal dunia ini sejak ribuan tahun lalu.

Setiap tarikan napas terasa seperti suara alam semesta yang menarik dirinya sendiri ke dalam satu titik.

"Teknik Pernapasan Langit dan Bumi."

Tidak ada suara ledakan. Tidak ada cahaya yang menyilaukan.

Yang terjadi justru sebaliknya—keheningan yang makin dalam, dan kemudian, tekanan.

Seluruh udara di dalam gubuk itu seolah bergerak serentak ke arahnya.

Pori-pori di kulitnya terbuka seperti pintu-pintu kecil yang selama ini terkunci, dan energi yang melayang-layang di atmosfer sekitar mulai mengalir masuk—

Tidak menetes, tidak mengalir, melainkan tersedot dengan kekuatan yang tidak proporsional dengan ukuran tubuh ini.

Energi itu kemudian dipaksa masuk.

Dikompresi.

Dimurnikan berkali-kali lipat.

Lalu dialirkan ke dalam Dantian yang luas itu seperti air bah yang menemukan muaranya.

Jerami-jerami di lantai bergetar pelan.

Retakan-retakan di dinding kayu mendadak mengeluarkan desiran angin meski di luar sana tidak ada angin yang bertiup.

Dan di dalam keheningan itu, di balik kelopak mata yang tertutup rapat—kilatan emas berpendar samar di kedalaman pupil yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Malam berlalu.

Semburat keemasan pertama matahari baru saja menembus celah-celah atap yang bocor ketika Qin Xiang membuka matanya.

Tidak ada kelelahan.

Ia bangkit berdiri, melangkah keluar dari gubuk, dan menghirup udara pagi yang dingin dan berbau tanah.

Lalu, dalam kesunyian halaman belakang yang masih diselimuti kabut tipis, ia mulai bergerak—bukan meditasi, bukan teknik pedang, melainkan gerakan-gerakan fisik yang lambat dan penuh kendali, membangun kembali koneksi antara jiwa kuno yang baru saja terbangun ini dan tubuh muda yang belum sepenuhnya siap menampungnya.

Tubuh ini harus ditempa.

Sebelum bisa memikul kembali beban langit, ia harus bisa berdiri tegak di atas bumi dulu.

"SAMPAH! KE SINI KAU!"

Teriakan itu membelah ketenangan pagi seperti batu yang dilempar ke kolam.

Qin Xiang berhenti bergerak.

Ia tidak terkejut.

Ia tidak menoleh dengan terburu-buru.

Hanya membalikkan badan dengan perlahan—

sangat perlahan seperti orang yang punya waktu tak terbatas di dunia ini.

Xiao Jing berdiri di ujung halaman dengan wajah merah padam, menggenggam pedang kayunya dengan kepalan yang terlalu erat.

Di belakangnya, dua pengikut setia berdiri seperti biasa.

Namun kali ini bukan hanya mereka—puluhan murid sekte luar berkerumun di belakang, berbisik-bisik dengan wajah yang antusias.

Rupanya kabar ini sudah tersebar.

Qin Xiang akan dihajar untuk kesekian kalinya.

Tontonan gratis. Tentu saja mereka tidak ingin melewatkannya.

"Xiao Jing."

Suara Qin Xiang keluar datar, tidak tinggi, tidak gemetar.

Namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat bisik-bisik di kerumunan belakang mendadak terhenti sejenak.

"Apa, sampah?"

Xiao Jing terkekeh.

Suaranya mengandung kepuasan yang tidak disembunyikan—kepuasan seorang penindas yang merasa kedudukannya tidak tergoyahkan.

"Hoh? Kau menjadi berani sekarang?"

Ia melangkah maju dengan angkuh, matanya menjelajahi sosok Qin Xiang dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang tidak menyembunyikan penghinaannya.

"Apa karena pelukan Senior Hu Xia kemarin telah menumbuhkan nyali di tubuh sampahmu?"

Tawa antek-anteknya pecah di belakang.

"Sayang sekali," lanjut Xiao Jing, senyumnya semakin melebar dengan cara yang menjijikkan, "dewi pelindungmu itu sedang pergi menjalankan misi sekte yang sangat jauh. Kali ini, tidak ada yang akan menyelamatkanmu."

Ia berhenti melangkah, jarak mereka kini hanya beberapa meter.

"Tikus kecil."

Di tempat lain dan di waktu lain—mungkin dua kata itu sudah cukup untuk membuat lutut Qin Xiang gemetar.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Sebuah senyum muncul di sudut bibir Qin Xiang.

Bukan senyum gugup.

Bukan senyum yang dipaksakan untuk menyembunyikan rasa takut.

Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang lucu di tengah situasi yang seharusnya serius: senyum kaisar yang sedang menonton badut mencoba tampil di istananya.

Xiao Jing menyipitkan matanya.

Ada sesuatu yang berbeda.

Naluri yang sudah sering ia abaikan mendadak berteriak pelan di sudut pikirannya. Namun kesombongannya, seperti biasa, lebih keras dari suara naluri itu.

"Auramu..."

Xiao Jing mengerutkan kening, mencoba membaca energi yang dipancarkan tubuh Qin Xiang.

"Pemurnian Qi tingkat kedua? Hah."

Tawanya terdengar seperti ejekan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

"Jadi setelah bertahun-tahun menjadi limbah, kau akhirnya berhasil merangkak naik satu tingkat? Tidak heran kau begitu sombong pagi ini."

Ia meludah ke tanah di depan kakinya sendiri.

"Satu tingkat di atasku adalah gunung yang tidak bisa kau panjat. Kau tetaplah semut di bawah kakiku, Qin Xiang. Itu tidak akan pernah berubah hanya karena kau tidur semalam."

"Apa kau ingin mencobanya?"

Kalimat itu keluar pelan.

Sangat pelan.

Namun menggantung di udara dengan berat yang tidak wajar, seperti langit mendung yang menahan hujan besar.

Xiao Jing membeku selama satu detik.

Lalu amarahnya menyapu semua sisanya.

"Mati kau!"

Ia menerjang maju dengan raung yang beringas, kepalan tangannya diselimuti energi Qi kebiruan yang berpendar redup—kekuatan seorang kultivator Qi Fondasi tahap dua yang tidak main-main jika menghantam tubuh biasa.

Qin Xiang tidak bergerak mundur.

Tidak satu langkah pun.

Ia tidak mengeluarkan teknik.

Tidak membacakan mantra.

Tidak mengambil kuda-kuda yang rumit.

Ia hanya memusatkan seluruh energi yang diserap sepanjang malam ke dalam satu kepalan tangan kanannya—memadatkannya, menekannya, sampai udara di sekitar kepalan itu mendadak terasa lebih berat dari seharusnya.

Saat Xiao Jing memasuki jarak serang—

Qin Xiang melangkah satu langkah ke depan dan melepaskan tinjunya.

BAMMM!!

Dentuman itu menggema di seluruh halaman seperti batu besar yang dijatuhkan dari langit.

Xiao Jing tidak sempat menyadari apa yang terjadi.

Tinju itu mendarat tepat di tengah wajahnya dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk tubuh sekecil Qin Xiang.

Tidak ada trik, tidak ada siasat, hanya kekuatan mentah yang telah dimurnikan semalaman penuh, dipadatkan dalam satu serangan tunggal.

Tubuh Xiao Jing terangkat dari tanah di atas tatapan semua orang dan terpelanting ke belakang.

Meluncur bermeter-meter di atas tanah yang keras sebelum akhirnya menghantam kerumunan penonton yang tidak sempat menghindar, menjatuhkan dua orang sekaligus sebelum tubuhnya berhenti bergerak.

Sunyi.

Keheningan yang sempurna menyelimuti seluruh halaman itu seperti selimut berat yang dijatuhkan sekaligus.

Puluhan pasang mata menatap tubuh Xiao Jing yang tergeletak tidak bergerak, lalu secara bersamaan mengalihkan pandangan ke sosok yang berdiri tenang di tempat yang sama—kepalan tangan yang perlahan dibuka, tatapan yang tidak mencerminkan kepuasan berlebihan maupun kemarahan yang membara.

Hanya dingin.

Seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang tidak terlalu menarik perhatiannya.

"Bos—!"

Kedua pengikut Xiao Jing berlari mendekati tubuh bos mereka dengan wajah pucat.

Namun saat mereka membalikkan tubuhnya—nyali mereka runtuh seketika.

Xiao Jing yang selama ini bertingkah seperti predator tak tertandingi kini pingsan dengan hidung yang remuk dan separuh wajahnya sudah membiru.

Pukulan itu begitu berat hingga menghancurkan kesadaran seorang kultivator Qi Fondasi dalam satu serangan saja.

"Ba-bagaimana mungkin..." bisik salah seorang penonton dengan suara yang bergetar hampir tidak terdengar. "Dia hanya sampah Pemurnian Qi—"

"Apa kalian berdua juga ingin merasakan hal yang sama?"

Suara Qin Xiang memecah keheningan itu seperti pisau.

Ia melangkah maju—satu langkah, dua langkah—dengan tenang.

Tidak terburu-buru, tidak menunjukkan amarah.

Tetapi di setiap langkahnya, ada sesuatu yang tidak kasat mata namun bisa dirasakan oleh kulit dan tulang siapa pun yang berdiri di sana.

Tekanan.

Bukan tekanan Qi yang besar—Qin Xiang belum memiliki kekuatan sebesar itu di tubuh ini.

Melainkan tekanan yang lahir dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar energi kultivasi.

Tekanan dari tatapan seseorang yang pernah berdiri di puncak langit dan menatap ke bawah, yang sudah melihat terlalu banyak pertempuran dan terlalu banyak kematian untuk takut pada ancaman kecil seperti ini.

Glup...

Kedua pengikut Xiao Jing menelan ludah secara bersamaan.

Pikiran mereka hanya menyisakan satu kata.

Lari.

"L-Lari! Bawa Bos dari sini—!"

Mereka merangkul tubuh pingsan Xiao Jing dengan terburu-buru, nyaris tersandung satu sama lain dalam kepanikan untuk menjauh secepatnya. Salah satu dari mereka mencoba menoleh dan berteriak, "Qin Xiang! Kau akan menyesal! Kami tidak akan melupakan penghinaan ini!"

Namun teriakan itu terdengar seperti gonggongan anjing yang berlari dari kucing—keras di mulut, namun kosong dari kekuatan.

Qin Xiang tidak menggubrisnya.

Ia berpaling ke arah kerumunan yang masih berdiri mematung.

Puluhan murid sekte luar menatapnya dengan berbagai campuran ekspresi—keterkejutan, kebingungan, ketakutan, dan sedikit rasa ingin tahu yang belum berani menunjukkan dirinya secara terang-terangan.

Qin Xiang menjelajahi mereka satu per satu dengan tatapan yang tidak tergesa.

Lalu, dengan sangat tenang, ia bertanya: "Apa kalian semua juga menunggu giliran?"

Wush—!

Dalam hitungan detik, halaman itu bersih.

Mereka berlarian ke segala arah seperti burung yang diusir dari pohon, saling sikut dan saling dorong dalam kepanikan yang sama sekali tidak anggun.

Qin Xiang menatap kepergian mereka.

Tidak tertawa. Tidak merasa puas secara berlebihan.

Hanya berdiri dengan tenang di tengah halaman yang kini sunyi, membiarkan angin pagi yang dingin menyapu debu yang beterbangan.

...

Beberapa saat kemudian, berita itu menyebar seperti bara yang ditiup angin—dalam hitungan jam, seluruh asrama murid sekte luar sudah membicarakannya.

Di kedai teh, di paviliun latihan, di lorong-lorong asrama yang sempit.

Sebagian memuji, tetapi lebih banyak yang meragukan.

Xiao Jing pasti sedang sakit.

Qin Xiang pasti menggunakan racun terlarang.

Tidak mungkin dia menang dengan cara yang jujur.

Bisik-bisik itu mengambang di udara dan akhirnya menghilang, karena tidak ada satu pun yang berani mengucapkannya langsung di hadapan orang yang bersangkutan.

Qin Xiang kini berdiri di depan gubuknya.

Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang masih menyimpan getaran energi yang meluap dari Dantian yang belum terbiasa dengan aliran sebesar ini.

Tangan yang lemah.

Tangan yang cacat.

Jika ia sedikit memaksa lagi, niscaya tangannya akan remuk saat memukul Xiao Jing barusan.

"Ini baru langkah pertama," gumamnya pelan—bukan kepada siapa pun, bukan untuk didengar siapa pun. Hanya pernyataan yang ia buat untuk dirinya sendiri, untuk jiwa tua yang baru saja memulai perjalanan panjang di dalam tubuh yang terlalu muda dan terlalu lemah ini.

Langkah yang sangat kecil.

Menuju jalan yang sangat panjang.

Ia tahu, dengan Hu Xia pergi menjalankan misi sekte, musuh-musuh yang lebih berbahaya dari Xiao Jing akan segera mendeteksi kekosongan itu dan datang mencari gara-gara.

Namun kali ini... ia tidak akan menunduk.

Tidak akan mundur.

Dan Tidak akan menunggu diselamatkan.

Qin Xiang mengangkat wajahnya, menatap langit pagi yang membentang luas di atas sana.

Langit yang sama yang pernah tunduk di bawah telapak tangannya.

Langit yang akan ia raih kembali—tidak peduli berapa lama, tidak peduli berapa jauh.

Sang Kaisar Agung telah kembali.

Dan kali ini, tidak akan ada pengkhianat yang dibiarkan hidup untuk menikamnya dari belakang.

...

Bersambung!

Terpopuler

Comments

Predi Siswanto

Predi Siswanto

yakin pasti pengarang nya waria..kataa katanya lebay dan muter muter

2026-06-26

1

Kazuma

Kazuma

👍

2026-08-20

0

Febrie Sukardi

Febrie Sukardi

lanjutkeun👍

2026-08-04

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 001: AKU ADALAH KAISAR AGUNG!
2 Chapter 002: Mengusir Para Pengacau
3 Chapter 003: Kota Giok dan Seorang Badut
4 Chapter 004: Hutan Kabut Senja
5 Chapter 005: Pengkhianatan dan Pertolongan
6 Chapter 006: Alkemis dan Toko Obat
7 Chapter 007: Menagih Bunga!
8 Chapter 008: Teman Kamar Tambun
9 Chapter 009: Ketakutan Qu Long
10 Chapter 010: Memukul Para Senior Preman
11 Chapter 011: Li Mei
12 Chapter 012: Menerobos ranah-Qi Fondasi!
13 Chapter 013: Tampan dan Sombong!
14 Chapter 014: Keadaan Darurat-Misi Baru!
15 Chapter 015: Desa Quang Dalam Bahaya
16 Chapter 016: Kuda Roh Herbal-Makhluk Langka
17 Chapter 017: Niat Jahat
18 Chapter 018: Mencari kematianmu sendiri!
19 Chapter 019: Berkah atau Kutukan?
20 Chapter 020: Kembali Ke Sekte
21 #21: Jenius Sekte
22 #22: Menguji Seekor Naga?
23 Chapter 023: Pengganggu di Lantai Dua
24 #24: Beberapa Serangga Pengganggu
25 #25: Menerobos tahap 2
26 #26: Tuan Muda Qin
27 #27: Teknik Pemurnian Pil
28 #28: Pemurnian Berhasil!
29 #29: Informasi Alam Rahasia
30 #30: Niat Membunuh di Tengah Hutan
31 #31: Perundungan
32 #32: Memainkan Trik di Depan Kaisar?
33 #33: Rencana Pembunuhan
34 #34: Tahap empat
35 #35: Mereka Lagi!
36 #36: Pedang Agung Menebas Bumi!
37 #37: Kamar Dagang Kai
38 #38: Menunjukkan Identitas
39 #39: Informasi Hutan Kematian Liar dan Hubungan Kerja Sama
40 #40: Hutan Kematian Liar
41 #41: Meremehkan Sang Kaisar?
42 #42: Kelompok Taring Serigala
43 #43: Persiapan dan Drama Murahan
44 #44: Pencurian di Bawah Hidung
45 #45: Penyerangan Zheng Lang
46 #46: Memotong Ikan di Talenan
47 #47: Inti Formasi Tahap 5
48 #48: Pedang Rusak
49 #49: Keluar dan Perselisihan Kamar Dagang Gong
50 #50: Pengepungan yang meriah
51 #51: Pembantaian
52 #52: Mengenang Masa Lalu
53 #53: Kapan kalian berpacaran?
54 #54: Puncak Abadi
55 #55: Master Sekte Pedang Giok!
56 #56: Persiapan
57 #57: Pengganggu di tengah hutan
58 #58: Lembah Tak Bertuan
59 #59: Alam Rahasia Misterius
60 Chapter 060: Pembantaian Seorang Diri
61 Chapter 061: Seratus ribu tahun lamanya
62 Chapter 062: Seorang manusia dan seekor banteng hitam
63 Chapter 063: Ketahuan!
64 Chapter 064: Pedang Agung Menebas Bumi - Fase Dua!
65 Chapter 065: Ujian seratus langkah
66 Chapter 066: Keinginan Naga Api dan Phoenix Es
67 Chapter 067: Tertinggal dan terjebak bersama
68 Chapter 068: Monster Tua
69 Chapter 069: Memanen tubuh Kaisar Monster
70 Chapter 070: Kekacauan di Kota Dagang Luo
71 Chapter 071: Ketakutan para pasukan
72 Chapter 072: Lari!
73 Chapter 073: Legenda Sang Kaisar
74 Chapter 074: Strategi cerdas Qin Xiang
75 Chapter 075: Telapak tangan agung
76 Chapter 076: Ketamakan Tetua Agung
77 Chapter 077: Prinsip Seorang Kaisar
78 Chapter 078: Sore yang berat
79 Chapter 079: Kedatangan Qin Xiang
80 Chapter 080: Syarat dan Penyelesaian Instan
81 Chapter 081: Ikatan masa lalu
82 Chapter 082: Raja Iblis dan ide buruknya
83 Chapter 083: Inti Naga!
84 Chapter 084: Suasana di teras paviliun
85 Chapter 085: Qu Xiao Lian dalam bahaya!
86 Chapter 086: Tuan Muda Ke-7
87 Chapter 087: Pengumuman Turnamen
88 Chapter 088: Rumah
89 Chapter 089: Politik dan Pertunangan
90 Chapter 090: Aku hanya ingin berkultivasi
91 Chapter 091: Merawat Orang Tua adalah Kewajiban!
92 Chapter 092: Keberanian Qin Xuan
93 Chapter 093: Kekacauan di Istana
94 Chapter 094: Hubungan buruk ayah dan anak
95 Chapter 095: Rencana Shu Lianmen
96 Chapter 096: Kenalan Qin Xiang
97 Chapter 097: Pembukaan Turnamen
98 Chapter 098: Pembukaan Turnamen II
99 Chapter 099: Pertaruhan
100 Chapter 100: Menunjukkan taring pada dunia
101 Chapter 101: Melawan Qin Huangli
102 Chapter 102: Rencana licik Ling Zhan
103 Chapter 103: Ilusi rendahan
104 Chapter 104: Qin Xiang melawan Qin Hua
105 Chapter 105: Qin Xiang melawan Qin Hua (II)
106 Chapter 106: Qin Xiang melawan Qin Hua (III)
107 Chapter 107: Tuan Muda Pertama dan Ketujuh
108 Chapter 108: Kemenangan
109 Chapter 109: Ulang Tahun ke-17 Tahun
110 Chapter 110: Bertemu Leluhur Agung
111 Chapter 111: Aku ingin Shu Rongrong!
112 Chapter 112: Aku akan menjadi raja
113 Chapter 113: Keputusan Leluhur
114 Chapter 114: Keputusan Terakhir dan Kesengsaraan Petir
115 Chapter 115: Naga Petir
116 Chapter 116: Kesengsaraan Ilahi
117 Chapter 117: Tanggapan Para Ahli Kuat
118 Chapter 118: Alkemis bermarga Wang dan Zong
119 Chapter 119: Pemanenan Tanaman Herbal
120 Chapter 120: Dicurangi
121 Chapter 121: Babak Pemurnian Pil
122 Chapter 122: Kau Lolos
123 Chapter 123: Istirahat dan Informasi
124 Chapter 124: Pemulihan Pil
125 Chapter 125: Persaingan
126 Chapter 126: Kelicikan Wang Shang
127 Chapter 127 : Pil Peringkat Bumi—2 Vein
128 Chapter 128: Kebencian Wang Shang
129 Chapter 129: Kerja Sama
130 Chapter 130: Penjudi buruk
131 Chapter 131: Percakapan Tentang Kondisi Saat Ini
132 Chapter 132: Rumah Judi
133 Chapter 133: Kemarahan Master Kong
134 Chapter 134: Diskon Master Kong
135 Chapter 135: Teknik Elemen
136 Chapter 136: Penempaan Senjata Rusak
137 Chapter 137: Membeli Master Pandai Besi
138 Chapter 138: Nona Muda
139 Chapter 139: Kecupan Manis
140 Chapter 140: Perkembangan Kedua Faksi
141 Chapter 141: Kekalahan Tuan Muda Pertama
142 Chapter 142: Perintah Pewaris Patriark
143 Chapter 143: 99 VS 1
144 Chapter 144: Diskusi Kecil (Pengajaran Agung)
145 Chapter 145: Meninggalkan Ibukota
146 Chapter 146: Harta Karun Langit & Bumi
147 Chapter 147: Lari jika tidak ingin mati
148 Chapter 148: Penyatuan Teratai Jiwa Abadi
149 Chapter 149: Kembali ke Kota Dagang Luo
150 Chapter 150: Kembali ke Sekte Pedang Giok
151 Chapter 151: Petunjuk dari Yu Shengren
152 Chapter 152: Sahabat dan Kekasih
153 Chapter 153: Berbagi Cerita
154 Chapter 154: Ayo!
155 Chapter 155: Tugas Untuk Qu Long
156 Chapter 156: Surat dari Ibukota
157 Chapter 157: Keberanian Qu Long atau...
158 Chapter 158: Trik Qu Long
159 Chapter 159: Qu Long Kembali
160 Chapter 160: Keputusan Wang Bai
161 Chapter 161: Kabar Terbaru
162 Chapter 162: Bawa aku menemui Patriark Xiao!
163 Chapter 163: Perbincangan dengan Xiao Chang'en
164 Chapter 164: Perbincangan dengan Xiao Chang'en (II)
165 Chapter 165: Mengungkapkan Hubungan Sebenarnya
166 Chapter 166: Xiao Jing Diabaikan
167 Chapter 167: Perjalanan Kembali
168 Chapter 168: Harga Kepala Qin Xiang
169 Chapter 169: Malam Mencekam
170 Chapter 170: Pengepungan Penginapan
171 Chapter 171: Pembantaian Dimulai
172 Chapter 172: Pembantaian Bulan Sabit Merah
173 Chapter 173: Lima Belas Kaki Naga Api
174 Chapter 174: Sosok Misterius
175 Chapter 175: Kembali Ke Keluarga Qin
176 Chapter 176: Rapat
177 Chapter 177: Kehadiran Petinggi Faksi Qin Xiang
178 Chapter 178: Kong Lie Lucu
179 Chapter 179: Laporan Darurat!
180 Chapter 180: Perbatasan Utara Jatuh
181 Chapter 181: Analisis Kaisar Agung
182 Chapter 182: Pertemuan Akbar
183 Chapter 183: Rapat Akbar
184 Chapter 184: Langkah Sang Pewaris
185 Chapter 185: Langkah Tersembunyi
Episodes

Updated 185 Episodes

1
Chapter 001: AKU ADALAH KAISAR AGUNG!
2
Chapter 002: Mengusir Para Pengacau
3
Chapter 003: Kota Giok dan Seorang Badut
4
Chapter 004: Hutan Kabut Senja
5
Chapter 005: Pengkhianatan dan Pertolongan
6
Chapter 006: Alkemis dan Toko Obat
7
Chapter 007: Menagih Bunga!
8
Chapter 008: Teman Kamar Tambun
9
Chapter 009: Ketakutan Qu Long
10
Chapter 010: Memukul Para Senior Preman
11
Chapter 011: Li Mei
12
Chapter 012: Menerobos ranah-Qi Fondasi!
13
Chapter 013: Tampan dan Sombong!
14
Chapter 014: Keadaan Darurat-Misi Baru!
15
Chapter 015: Desa Quang Dalam Bahaya
16
Chapter 016: Kuda Roh Herbal-Makhluk Langka
17
Chapter 017: Niat Jahat
18
Chapter 018: Mencari kematianmu sendiri!
19
Chapter 019: Berkah atau Kutukan?
20
Chapter 020: Kembali Ke Sekte
21
#21: Jenius Sekte
22
#22: Menguji Seekor Naga?
23
Chapter 023: Pengganggu di Lantai Dua
24
#24: Beberapa Serangga Pengganggu
25
#25: Menerobos tahap 2
26
#26: Tuan Muda Qin
27
#27: Teknik Pemurnian Pil
28
#28: Pemurnian Berhasil!
29
#29: Informasi Alam Rahasia
30
#30: Niat Membunuh di Tengah Hutan
31
#31: Perundungan
32
#32: Memainkan Trik di Depan Kaisar?
33
#33: Rencana Pembunuhan
34
#34: Tahap empat
35
#35: Mereka Lagi!
36
#36: Pedang Agung Menebas Bumi!
37
#37: Kamar Dagang Kai
38
#38: Menunjukkan Identitas
39
#39: Informasi Hutan Kematian Liar dan Hubungan Kerja Sama
40
#40: Hutan Kematian Liar
41
#41: Meremehkan Sang Kaisar?
42
#42: Kelompok Taring Serigala
43
#43: Persiapan dan Drama Murahan
44
#44: Pencurian di Bawah Hidung
45
#45: Penyerangan Zheng Lang
46
#46: Memotong Ikan di Talenan
47
#47: Inti Formasi Tahap 5
48
#48: Pedang Rusak
49
#49: Keluar dan Perselisihan Kamar Dagang Gong
50
#50: Pengepungan yang meriah
51
#51: Pembantaian
52
#52: Mengenang Masa Lalu
53
#53: Kapan kalian berpacaran?
54
#54: Puncak Abadi
55
#55: Master Sekte Pedang Giok!
56
#56: Persiapan
57
#57: Pengganggu di tengah hutan
58
#58: Lembah Tak Bertuan
59
#59: Alam Rahasia Misterius
60
Chapter 060: Pembantaian Seorang Diri
61
Chapter 061: Seratus ribu tahun lamanya
62
Chapter 062: Seorang manusia dan seekor banteng hitam
63
Chapter 063: Ketahuan!
64
Chapter 064: Pedang Agung Menebas Bumi - Fase Dua!
65
Chapter 065: Ujian seratus langkah
66
Chapter 066: Keinginan Naga Api dan Phoenix Es
67
Chapter 067: Tertinggal dan terjebak bersama
68
Chapter 068: Monster Tua
69
Chapter 069: Memanen tubuh Kaisar Monster
70
Chapter 070: Kekacauan di Kota Dagang Luo
71
Chapter 071: Ketakutan para pasukan
72
Chapter 072: Lari!
73
Chapter 073: Legenda Sang Kaisar
74
Chapter 074: Strategi cerdas Qin Xiang
75
Chapter 075: Telapak tangan agung
76
Chapter 076: Ketamakan Tetua Agung
77
Chapter 077: Prinsip Seorang Kaisar
78
Chapter 078: Sore yang berat
79
Chapter 079: Kedatangan Qin Xiang
80
Chapter 080: Syarat dan Penyelesaian Instan
81
Chapter 081: Ikatan masa lalu
82
Chapter 082: Raja Iblis dan ide buruknya
83
Chapter 083: Inti Naga!
84
Chapter 084: Suasana di teras paviliun
85
Chapter 085: Qu Xiao Lian dalam bahaya!
86
Chapter 086: Tuan Muda Ke-7
87
Chapter 087: Pengumuman Turnamen
88
Chapter 088: Rumah
89
Chapter 089: Politik dan Pertunangan
90
Chapter 090: Aku hanya ingin berkultivasi
91
Chapter 091: Merawat Orang Tua adalah Kewajiban!
92
Chapter 092: Keberanian Qin Xuan
93
Chapter 093: Kekacauan di Istana
94
Chapter 094: Hubungan buruk ayah dan anak
95
Chapter 095: Rencana Shu Lianmen
96
Chapter 096: Kenalan Qin Xiang
97
Chapter 097: Pembukaan Turnamen
98
Chapter 098: Pembukaan Turnamen II
99
Chapter 099: Pertaruhan
100
Chapter 100: Menunjukkan taring pada dunia
101
Chapter 101: Melawan Qin Huangli
102
Chapter 102: Rencana licik Ling Zhan
103
Chapter 103: Ilusi rendahan
104
Chapter 104: Qin Xiang melawan Qin Hua
105
Chapter 105: Qin Xiang melawan Qin Hua (II)
106
Chapter 106: Qin Xiang melawan Qin Hua (III)
107
Chapter 107: Tuan Muda Pertama dan Ketujuh
108
Chapter 108: Kemenangan
109
Chapter 109: Ulang Tahun ke-17 Tahun
110
Chapter 110: Bertemu Leluhur Agung
111
Chapter 111: Aku ingin Shu Rongrong!
112
Chapter 112: Aku akan menjadi raja
113
Chapter 113: Keputusan Leluhur
114
Chapter 114: Keputusan Terakhir dan Kesengsaraan Petir
115
Chapter 115: Naga Petir
116
Chapter 116: Kesengsaraan Ilahi
117
Chapter 117: Tanggapan Para Ahli Kuat
118
Chapter 118: Alkemis bermarga Wang dan Zong
119
Chapter 119: Pemanenan Tanaman Herbal
120
Chapter 120: Dicurangi
121
Chapter 121: Babak Pemurnian Pil
122
Chapter 122: Kau Lolos
123
Chapter 123: Istirahat dan Informasi
124
Chapter 124: Pemulihan Pil
125
Chapter 125: Persaingan
126
Chapter 126: Kelicikan Wang Shang
127
Chapter 127 : Pil Peringkat Bumi—2 Vein
128
Chapter 128: Kebencian Wang Shang
129
Chapter 129: Kerja Sama
130
Chapter 130: Penjudi buruk
131
Chapter 131: Percakapan Tentang Kondisi Saat Ini
132
Chapter 132: Rumah Judi
133
Chapter 133: Kemarahan Master Kong
134
Chapter 134: Diskon Master Kong
135
Chapter 135: Teknik Elemen
136
Chapter 136: Penempaan Senjata Rusak
137
Chapter 137: Membeli Master Pandai Besi
138
Chapter 138: Nona Muda
139
Chapter 139: Kecupan Manis
140
Chapter 140: Perkembangan Kedua Faksi
141
Chapter 141: Kekalahan Tuan Muda Pertama
142
Chapter 142: Perintah Pewaris Patriark
143
Chapter 143: 99 VS 1
144
Chapter 144: Diskusi Kecil (Pengajaran Agung)
145
Chapter 145: Meninggalkan Ibukota
146
Chapter 146: Harta Karun Langit & Bumi
147
Chapter 147: Lari jika tidak ingin mati
148
Chapter 148: Penyatuan Teratai Jiwa Abadi
149
Chapter 149: Kembali ke Kota Dagang Luo
150
Chapter 150: Kembali ke Sekte Pedang Giok
151
Chapter 151: Petunjuk dari Yu Shengren
152
Chapter 152: Sahabat dan Kekasih
153
Chapter 153: Berbagi Cerita
154
Chapter 154: Ayo!
155
Chapter 155: Tugas Untuk Qu Long
156
Chapter 156: Surat dari Ibukota
157
Chapter 157: Keberanian Qu Long atau...
158
Chapter 158: Trik Qu Long
159
Chapter 159: Qu Long Kembali
160
Chapter 160: Keputusan Wang Bai
161
Chapter 161: Kabar Terbaru
162
Chapter 162: Bawa aku menemui Patriark Xiao!
163
Chapter 163: Perbincangan dengan Xiao Chang'en
164
Chapter 164: Perbincangan dengan Xiao Chang'en (II)
165
Chapter 165: Mengungkapkan Hubungan Sebenarnya
166
Chapter 166: Xiao Jing Diabaikan
167
Chapter 167: Perjalanan Kembali
168
Chapter 168: Harga Kepala Qin Xiang
169
Chapter 169: Malam Mencekam
170
Chapter 170: Pengepungan Penginapan
171
Chapter 171: Pembantaian Dimulai
172
Chapter 172: Pembantaian Bulan Sabit Merah
173
Chapter 173: Lima Belas Kaki Naga Api
174
Chapter 174: Sosok Misterius
175
Chapter 175: Kembali Ke Keluarga Qin
176
Chapter 176: Rapat
177
Chapter 177: Kehadiran Petinggi Faksi Qin Xiang
178
Chapter 178: Kong Lie Lucu
179
Chapter 179: Laporan Darurat!
180
Chapter 180: Perbatasan Utara Jatuh
181
Chapter 181: Analisis Kaisar Agung
182
Chapter 182: Pertemuan Akbar
183
Chapter 183: Rapat Akbar
184
Chapter 184: Langkah Sang Pewaris
185
Chapter 185: Langkah Tersembunyi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!