Chapter 004: Hutan Kabut Senja

Xiao Jing saat ini berlari kencang seolah seluruh iblis neraka sedang mengejarnya dari belakang. Napasnya memburu kacau, dadanya naik turun tanpa irama saat akhirnya ia tiba di pusat Kota Giok yang ramai oleh para pedagang dan kultivator pengembara.

Seragam Sekte Pedang Giok yang biasanya selalu ia jaga rapi kini dipenuhi keringat dan debu, membuat penampilannya jauh dari kesan tuan muda sombong seperti biasanya.

Di bawah sebuah paviliun kayu besar di tepi jalan utama, dua sosok telah menunggunya sejak tadi.

Seorang wanita cantik berdiri dengan tenang sambil memainkan pita kupu-kupu di rambut hitam panjangnya. Wajahnya lembut, tetapi sorot matanya dingin dan sulit didekati. Gadis itu adalah Li Mei, salah satu murid sekte luar yang cukup terkenal karena kecantikan sekaligus bakat pedangnya.

Sementara di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh besar dengan kapak raksasa tersandar di punggungnya. Tubuhnya seperti beruang, penuh tekanan yang membuat orang biasa enggan menatap terlalu lama. Han.

Berbeda dengan Li Mei yang terlihat santai, ekspresi Han jelas menunjukkan ketidaksabaran.

“Senior Li Mei, Senior Han... maaf aku sedikit terlambat!” ujar Xiao Jing cepat sambil berusaha mengatur napasnya.

Li Mei hanya mengangguk kecil tanpa benar-benar peduli.

Namun Han mendengus pelan.

“Tuan Muda Xiao ternyata benar-benar sibuk,” katanya dengan nada menyindir. “Sampai membuat seniornya menunggu cukup lama.”

Rahang Xiao Jing langsung mengeras.

Jika orang lain yang mengatakan itu, mungkin ia sudah membentak balik sejak tadi. Sayangnya, Han bukan seseorang yang bisa ia ganggu sesuka hati. Status pria itu di sekte luar jauh lebih tinggi dibanding dirinya.

Karena itu, Xiao Jing hanya bisa menelan kesal sambil memaksakan senyum.

Tidak lama kemudian, dua pengikutnya akhirnya muncul dari kejauhan dalam keadaan lebih mengenaskan. Napas keduanya hampir putus, pakaian mereka kusut dan robek, sementara wajah mereka pucat seperti baru saja lolos dari maut.

Begitu melihat Xiao Jing, mereka segera mendekat dengan tergesa.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Dan tanpa perlu banyak bicara, Xiao Jing langsung mengerti apa yang terjadi.

“Apa kalian bertemu dengan bocah itu?” bisiknya pelan.

Salah satu pengikutnya menelan ludah keras sebelum menjawab dengan suara gemetar.

“Kami sengaja memutar lewat gang sempit, Bos... kalau sampai bertemu monster itu lagi, mungkin kami benar-benar tamat.”

Wajah Xiao Jing sedikit berkedut.

Monster?

Dulu mereka menyebut Qin Xiang sebagai sampah.

Namun sekarang, hanya mendengar namanya saja sudah cukup membuat mereka ketakutan setengah mati.

“Apa yang kalian bisikkan seperti tikus?” bentak Han tiba-tiba. “Kalau sudah selesai, ayo pergi. Kita bukan datang ke sini untuk mengobrol.”

Keduanya langsung tersentak.

“Baik, Senior Han!”

Tanpa membuang waktu lagi, kelompok kecil itu segera meninggalkan Kota Giok menuju Hutan Kabut Senja.

Ironisnya—

Orang yang mereka takuti justru sedang berjalan menuju tempat yang sama dengan langkah santai.

...

Setelah meninggalkan Kota Giok cukup jauh, Qin Xiang akhirnya tiba di wilayah Hutan Kabut Senja.

Kabut tipis berwarna kemerahan menyelimuti seluruh area hutan, membuat suasana di sana terlihat suram sekaligus indah. Pepohonan besar menjulang seperti raksasa tua yang diam memandangi dunia, sementara suara binatang buas sesekali terdengar samar dari kejauhan.

Qin Xiang berjalan perlahan melewati jalur berbatu sambil memperhatikan kondisi sekitarnya.

“Mawar Giok Darah biasanya tumbuh di tempat dengan energi bumi yang padat...” gumamnya pelan.

Tatapannya terus menyapu bukit batu, akar pohon tua, dan mulut-mulut gua yang tersembunyi di balik semak.

Dengan pengalaman ribuan tahun yang tertanam dalam jiwanya, pencarian seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sulit baginya. Ia memahami aliran energi alam jauh lebih baik dibanding kebanyakan kultivator dunia bawah.

Sayangnya—

Memahami bukan berarti semuanya akan berjalan mulus.

Satu gua demi satu gua mulai ia telusuri.

Kosong.

Gua berikutnya juga kosong.

Dan setelah itu tetap sama.

Yang ia temukan hanyalah tanaman herbal kualitas rendah yang bahkan tidak layak dilirik oleh kultivator kuat.

Meski begitu, Qin Xiang tetap mengumpulkan beberapa tanaman berguna untuk memperkuat tubuhnya saat ini. Sesekali ia memasukkan akar spiritual atau daun obat ke dalam tas kulit di pinggangnya sambil terus melanjutkan perjalanan.

Hingga akhirnya langkahnya berhenti.

Tatapannya jatuh pada permukaan tanah lembap di depan sana.

“Jejak kaki?”

Bekas pijakan itu masih baru. Bahkan ranting kecil di dekatnya tampak seperti baru saja patah beberapa waktu lalu.

Qin Xiang berjongkok perlahan sambil memperhatikan arah jejak tersebut.

“Sepertinya ada kelompok lain di area ini.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi sorot matanya sedikit berubah waspada.

Di dunia kultivasi, manusia sering kali lebih berbahaya dibanding monster.

Membunuh demi harta.

Menghabisi saksi mata.

Atau sekadar menindas yang lemah untuk kesenangan.

Semua itu terlalu biasa.

Karena itulah Qin Xiang memilih mengambil jalan memutar. Ia datang ke sini untuk Mawar Giok Darah, bukan mencari masalah yang tidak perlu.

...

Tiga hari berlalu begitu saja.

Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kembali ingatan Kaisar Agungnya, Qin Xiang benar-benar merasa lelah.

Tubuh ini masih terlalu lemah.

Meridiannya terus dipaksa bekerja tanpa henti selama beberapa hari terakhir, membuat otot-ototnya terasa berat dan kepalanya sedikit pening akibat terlalu sering menggunakan indra spiritual.

Saat menemukan sebuah gua kecil yang tertutup akar pohon tua, Qin Xiang bahkan sempat berhenti cukup lama di depan pintu masuknya.

Ia menghela napas pelan.

Kejujuran sederhana mulai muncul di dalam pikirannya.

Ia sebenarnya tidak terlalu berharap lagi.

Puluhan gua sebelumnya hanya memberinya harapan kosong. Sebagian hanyalah sarang monster biasa, sementara sisanya benar-benar tidak memiliki apa pun.

“Kalau tempat ini juga kosong...” gumam Qin Xiang sambil mengusap pelipisnya, “aku mungkin harus pindah area besok.”

Nada suaranya terdengar lelah.

Namun setelah terdiam beberapa saat, ia tetap melangkah masuk.

Karena jauh di dalam dirinya, naluri seorang Kaisar Agung tidak pernah benar-benar mau menyerah.

Dan tepat saat ia memasuki bagian dalam gua—

Hidungnya menangkap aroma yang sangat familiar.

Manis.

Pekat.

Bercampur bau amis seperti darah segar.

Mata Qin Xiang langsung menyipit tajam.

Rasa lelah yang tadi memenuhi tubuhnya seolah menghilang dalam sekejap.

“Ini dia...”

Jantungnya bahkan berdetak sedikit lebih cepat.

Namun Qin Xiang tidak gegabah. Ia justru semakin menahan keberadaannya sambil berjalan lebih hati-hati menuju bagian dalam gua yang gelap dan lembap itu.

Cahaya samar dari kristal alami di dinding membuat suasana di sana terlihat menyeramkan.

Dan tidak lama kemudian—

Tatapannya menangkap puluhan bayangan hitam yang bergelantungan di langit-langit.

Kelelawar Pelahap Aura.

Monster jenis ini sangat sensitif terhadap fluktuasi energi Qi. Begitu merasakan energi asing, mereka akan menyerbu bersama-sama dan menghisap habis energi korbannya sampai kering.

Namun Qin Xiang hanya mendengus pelan.

Tanpa ragu, ia segera menjalankan teknik penyembunyian aura tingkat tinggi yang tersimpan dalam ingatannya.

Dalam sekejap, napasnya menghilang.

Aliran Qi di tubuhnya membeku sempurna.

Keberadaannya terasa menyatu dengan lingkungan sekitar.

Ia kemudian berjalan melewati koloni monster itu dengan santai, seolah sedang berjalan-jalan di halaman rumahnya sendiri.

Dan akhirnya—

Pemandangan di ujung gua membuat matanya sedikit berbinar.

Sebuah kolam alami terbentang di tengah ruangan bawah tanah. Airnya jernih dan memancarkan cahaya spiritual samar.

Di tengah kolam terdapat gundukan tanah kecil yang diterangi cahaya kristal dari atas gua.

Dan di atas gundukan itu—

Beberapa bunga merah darah tumbuh dengan indah.

Kelopaknya merah pekat seperti darah segar, sementara batangnya bening menyerupai giok transparan.

“Mawar Giok Darah...”

Namun sesaat kemudian, perhatian Qin Xiang justru tertarik pada air kolam tersebut.

“Mata air spiritual?”

Tatapannya langsung berubah.

Nilai mata air itu bahkan lebih tinggi dibanding Mawar Giok Darah yang ia cari sejak awal.

Tanpa membuang waktu, Qin Xiang mengangkat tangan kanannya perlahan. Air spiritual di kolam mulai terangkat ke udara mengikuti kendali Qi miliknya.

Perlahan air itu dipadatkan.

Dikompresi.

Terus dipadatkan hingga akhirnya berubah menjadi bola cair kecil sebesar kelereng yang memancarkan energi spiritual sangat murni.

Setelah menyimpannya dengan hati-hati, Qin Xiang melompat ringan menuju gundukan tanah di tengah kolam.

Gerakan tangannya sangat hati-hati saat mulai mencabut Mawar Giok Darah satu per satu agar akarnya tidak rusak.

“Semuanya berkualitas tinggi...” gumamnya puas.

Air spiritual di tempat ini rupanya telah memelihara bunga-bunga tersebut selama bertahun-tahun hingga kualitasnya jauh melampaui mawar biasa.

Namun tepat saat Mawar terakhir tercabut—

Aroma darah yang sebelumnya tertahan mulai menyebar ke seluruh gua.

Dan hampir bersamaan dengan itu, beberapa kelelawar di atas mulai bergerak gelisah.

Qin Xiang tersenyum tipis sambil berguman pelan, “Sepertinya tuan rumah di sini mulai sadar tamunya hendak kabur.”

Detik berikutnya, tubuhnya langsung melesat keluar dari gua tanpa ragu sedikit pun.

Terpopuler

Comments

Aloy Winaryo

Aloy Winaryo

kabur

2026-06-21

0

Ibad Moulay

Ibad Moulay

Hutan Kabut Senja

2026-05-30

2

Devourer_2021

Devourer_2021

Jangan ragu untuk marah (kritik) author jika ada yang kurang berkenan di hati🙏😄

2026-05-07

7

lihat semua
Episodes
1 Chapter 001: AKU ADALAH KAISAR AGUNG!
2 Chapter 002: Mengusir Para Pengacau
3 Chapter 003: Kota Giok dan Seorang Badut
4 Chapter 004: Hutan Kabut Senja
5 Chapter 005: Pengkhianatan dan Pertolongan
6 Chapter 006: Alkemis dan Toko Obat
7 Chapter 007: Menagih Bunga!
8 Chapter 008: Teman Kamar Tambun
9 Chapter 009: Ketakutan Qu Long
10 Chapter 010: Memukul Para Senior Preman
11 Chapter 011: Li Mei
12 Chapter 012: Menerobos ranah-Qi Fondasi!
13 Chapter 013: Tampan dan Sombong!
14 Chapter 014: Keadaan Darurat-Misi Baru!
15 Chapter 015: Desa Quang Dalam Bahaya
16 Chapter 016: Kuda Roh Herbal-Makhluk Langka
17 Chapter 017: Niat Jahat
18 Chapter 018: Mencari kematianmu sendiri!
19 Chapter 019: Berkah atau Kutukan?
20 Chapter 020: Kembali Ke Sekte
21 #21: Jenius Sekte
22 #22: Menguji Seekor Naga?
23 Chapter 023: Pengganggu di Lantai Dua
24 #24: Beberapa Serangga Pengganggu
25 #25: Menerobos tahap 2
26 #26: Tuan Muda Qin
27 #27: Teknik Pemurnian Pil
28 #28: Pemurnian Berhasil!
29 #29: Informasi Alam Rahasia
30 #30: Niat Membunuh di Tengah Hutan
31 #31: Perundungan
32 #32: Memainkan Trik di Depan Kaisar?
33 #33: Rencana Pembunuhan
34 #34: Tahap empat
35 #35: Mereka Lagi!
36 #36: Pedang Agung Menebas Bumi!
37 #37: Kamar Dagang Kai
38 #38: Menunjukkan Identitas
39 #39: Informasi Hutan Kematian Liar dan Hubungan Kerja Sama
40 #40: Hutan Kematian Liar
41 #41: Meremehkan Sang Kaisar?
42 #42: Kelompok Taring Serigala
43 #43: Persiapan dan Drama Murahan
44 #44: Pencurian di Bawah Hidung
45 #45: Penyerangan Zheng Lang
46 #46: Memotong Ikan di Talenan
47 #47: Inti Formasi Tahap 5
48 #48: Pedang Rusak
49 #49: Keluar dan Perselisihan Kamar Dagang Gong
50 #50: Pengepungan yang meriah
51 #51: Pembantaian
52 #52: Mengenang Masa Lalu
53 #53: Kapan kalian berpacaran?
54 #54: Puncak Abadi
55 #55: Master Sekte Pedang Giok!
56 #56: Persiapan
57 #57: Pengganggu di tengah hutan
58 #58: Lembah Tak Bertuan
59 #59: Alam Rahasia Misterius
60 Chapter 060: Pembantaian Seorang Diri
61 Chapter 061: Seratus ribu tahun lamanya
62 Chapter 062: Seorang manusia dan seekor banteng hitam
63 Chapter 063: Ketahuan!
64 Chapter 064: Pedang Agung Menebas Bumi - Fase Dua!
65 Chapter 065: Ujian seratus langkah
66 Chapter 066: Keinginan Naga Api dan Phoenix Es
67 Chapter 067: Tertinggal dan terjebak bersama
68 Chapter 068: Monster Tua
69 Chapter 069: Memanen tubuh Kaisar Monster
70 Chapter 070: Kekacauan di Kota Dagang Luo
71 Chapter 071: Ketakutan para pasukan
72 Chapter 072: Lari!
73 Chapter 073: Legenda Sang Kaisar
74 Chapter 074: Strategi cerdas Qin Xiang
75 Chapter 075: Telapak tangan agung
76 Chapter 076: Ketamakan Tetua Agung
77 Chapter 077: Prinsip Seorang Kaisar
78 Chapter 078: Sore yang berat
79 Chapter 079: Kedatangan Qin Xiang
80 Chapter 080: Syarat dan Penyelesaian Instan
81 Chapter 081: Ikatan masa lalu
82 Chapter 082: Raja Iblis dan ide buruknya
83 Chapter 083: Inti Naga!
84 Chapter 084: Suasana di teras paviliun
85 Chapter 085: Qu Xiao Lian dalam bahaya!
86 Chapter 086: Tuan Muda Ke-7
87 Chapter 087: Pengumuman Turnamen
88 Chapter 088: Rumah
89 Chapter 089: Politik dan Pertunangan
90 Chapter 090: Aku hanya ingin berkultivasi
91 Chapter 091: Merawat Orang Tua adalah Kewajiban!
92 Chapter 092: Keberanian Qin Xuan
93 Chapter 093: Kekacauan di Istana
94 Chapter 094: Hubungan buruk ayah dan anak
95 Chapter 095: Rencana Shu Lianmen
96 Chapter 096: Kenalan Qin Xiang
97 Chapter 097: Pembukaan Turnamen
98 Chapter 098: Pembukaan Turnamen II
99 Chapter 099: Pertaruhan
100 Chapter 100: Menunjukkan taring pada dunia
101 Chapter 101: Melawan Qin Huangli
102 Chapter 102: Rencana licik Ling Zhan
103 Chapter 103: Ilusi rendahan
104 Chapter 104: Qin Xiang melawan Qin Hua
105 Chapter 105: Qin Xiang melawan Qin Hua (II)
106 Chapter 106: Qin Xiang melawan Qin Hua (III)
107 Chapter 107: Tuan Muda Pertama dan Ketujuh
108 Chapter 108: Kemenangan
109 Chapter 109: Ulang Tahun ke-17 Tahun
110 Chapter 110: Bertemu Leluhur Agung
111 Chapter 111: Aku ingin Shu Rongrong!
112 Chapter 112: Aku akan menjadi raja
113 Chapter 113: Keputusan Leluhur
114 Chapter 114: Keputusan Terakhir dan Kesengsaraan Petir
115 Chapter 115: Naga Petir
116 Chapter 116: Kesengsaraan Ilahi
117 Chapter 117: Tanggapan Para Ahli Kuat
118 Chapter 118: Alkemis bermarga Wang dan Zong
119 Chapter 119: Pemanenan Tanaman Herbal
120 Chapter 120: Dicurangi
121 Chapter 121: Babak Pemurnian Pil
122 Chapter 122: Kau Lolos
123 Chapter 123: Istirahat dan Informasi
124 Chapter 124: Pemulihan Pil
125 Chapter 125: Persaingan
126 Chapter 126: Kelicikan Wang Shang
127 Chapter 127 : Pil Peringkat Bumi—2 Vein
128 Chapter 128: Kebencian Wang Shang
129 Chapter 129: Kerja Sama
130 Chapter 130: Penjudi buruk
131 Chapter 131: Percakapan Tentang Kondisi Saat Ini
132 Chapter 132: Rumah Judi
133 Chapter 133: Kemarahan Master Kong
134 Chapter 134: Diskon Master Kong
135 Chapter 135: Teknik Elemen
136 Chapter 136: Penempaan Senjata Rusak
137 Chapter 137: Membeli Master Pandai Besi
138 Chapter 138: Nona Muda
139 Chapter 139: Kecupan Manis
140 Chapter 140: Perkembangan Kedua Faksi
141 Chapter 141: Kekalahan Tuan Muda Pertama
142 Chapter 142: Perintah Pewaris Patriark
143 Chapter 143: 99 VS 1
144 Chapter 144: Diskusi Kecil (Pengajaran Agung)
145 Chapter 145: Meninggalkan Ibukota
146 Chapter 146: Harta Karun Langit & Bumi
147 Chapter 147: Lari jika tidak ingin mati
148 Chapter 148: Penyatuan Teratai Jiwa Abadi
149 Chapter 149: Kembali ke Kota Dagang Luo
150 Chapter 150: Kembali ke Sekte Pedang Giok
151 Chapter 151: Petunjuk dari Yu Shengren
152 Chapter 152: Sahabat dan Kekasih
153 Chapter 153: Berbagi Cerita
154 Chapter 154: Ayo!
155 Chapter 155: Tugas Untuk Qu Long
156 Chapter 156: Surat dari Ibukota
157 Chapter 157: Keberanian Qu Long atau...
158 Chapter 158: Trik Qu Long
159 Chapter 159: Qu Long Kembali
160 Chapter 160: Keputusan Wang Bai
161 Chapter 161: Kabar Terbaru
162 Chapter 162: Bawa aku menemui Patriark Xiao!
163 Chapter 163: Perbincangan dengan Xiao Chang'en
164 Chapter 164: Perbincangan dengan Xiao Chang'en (II)
165 Chapter 165: Mengungkapkan Hubungan Sebenarnya
166 Chapter 166: Xiao Jing Diabaikan
167 Chapter 167: Perjalanan Kembali
168 Chapter 168: Harga Kepala Qin Xiang
169 Chapter 169: Malam Mencekam
170 Chapter 170: Pengepungan Penginapan
171 Chapter 171: Pembantaian Dimulai
172 Chapter 172: Pembantaian Bulan Sabit Merah
173 Chapter 173: Lima Belas Kaki Naga Api
174 Chapter 174: Sosok Misterius
175 Chapter 175: Kembali Ke Keluarga Qin
176 Chapter 176: Rapat
177 Chapter 177: Kehadiran Petinggi Faksi Qin Xiang
178 Chapter 178: Kong Lie Lucu
179 Chapter 179: Laporan Darurat!
180 Chapter 180: Perbatasan Utara Jatuh
181 Chapter 181: Analisis Kaisar Agung
182 Chapter 182: Pertemuan Akbar
183 Chapter 183: Rapat Akbar
184 Chapter 184: Langkah Sang Pewaris
185 Chapter 185: Langkah Tersembunyi
Episodes

Updated 185 Episodes

1
Chapter 001: AKU ADALAH KAISAR AGUNG!
2
Chapter 002: Mengusir Para Pengacau
3
Chapter 003: Kota Giok dan Seorang Badut
4
Chapter 004: Hutan Kabut Senja
5
Chapter 005: Pengkhianatan dan Pertolongan
6
Chapter 006: Alkemis dan Toko Obat
7
Chapter 007: Menagih Bunga!
8
Chapter 008: Teman Kamar Tambun
9
Chapter 009: Ketakutan Qu Long
10
Chapter 010: Memukul Para Senior Preman
11
Chapter 011: Li Mei
12
Chapter 012: Menerobos ranah-Qi Fondasi!
13
Chapter 013: Tampan dan Sombong!
14
Chapter 014: Keadaan Darurat-Misi Baru!
15
Chapter 015: Desa Quang Dalam Bahaya
16
Chapter 016: Kuda Roh Herbal-Makhluk Langka
17
Chapter 017: Niat Jahat
18
Chapter 018: Mencari kematianmu sendiri!
19
Chapter 019: Berkah atau Kutukan?
20
Chapter 020: Kembali Ke Sekte
21
#21: Jenius Sekte
22
#22: Menguji Seekor Naga?
23
Chapter 023: Pengganggu di Lantai Dua
24
#24: Beberapa Serangga Pengganggu
25
#25: Menerobos tahap 2
26
#26: Tuan Muda Qin
27
#27: Teknik Pemurnian Pil
28
#28: Pemurnian Berhasil!
29
#29: Informasi Alam Rahasia
30
#30: Niat Membunuh di Tengah Hutan
31
#31: Perundungan
32
#32: Memainkan Trik di Depan Kaisar?
33
#33: Rencana Pembunuhan
34
#34: Tahap empat
35
#35: Mereka Lagi!
36
#36: Pedang Agung Menebas Bumi!
37
#37: Kamar Dagang Kai
38
#38: Menunjukkan Identitas
39
#39: Informasi Hutan Kematian Liar dan Hubungan Kerja Sama
40
#40: Hutan Kematian Liar
41
#41: Meremehkan Sang Kaisar?
42
#42: Kelompok Taring Serigala
43
#43: Persiapan dan Drama Murahan
44
#44: Pencurian di Bawah Hidung
45
#45: Penyerangan Zheng Lang
46
#46: Memotong Ikan di Talenan
47
#47: Inti Formasi Tahap 5
48
#48: Pedang Rusak
49
#49: Keluar dan Perselisihan Kamar Dagang Gong
50
#50: Pengepungan yang meriah
51
#51: Pembantaian
52
#52: Mengenang Masa Lalu
53
#53: Kapan kalian berpacaran?
54
#54: Puncak Abadi
55
#55: Master Sekte Pedang Giok!
56
#56: Persiapan
57
#57: Pengganggu di tengah hutan
58
#58: Lembah Tak Bertuan
59
#59: Alam Rahasia Misterius
60
Chapter 060: Pembantaian Seorang Diri
61
Chapter 061: Seratus ribu tahun lamanya
62
Chapter 062: Seorang manusia dan seekor banteng hitam
63
Chapter 063: Ketahuan!
64
Chapter 064: Pedang Agung Menebas Bumi - Fase Dua!
65
Chapter 065: Ujian seratus langkah
66
Chapter 066: Keinginan Naga Api dan Phoenix Es
67
Chapter 067: Tertinggal dan terjebak bersama
68
Chapter 068: Monster Tua
69
Chapter 069: Memanen tubuh Kaisar Monster
70
Chapter 070: Kekacauan di Kota Dagang Luo
71
Chapter 071: Ketakutan para pasukan
72
Chapter 072: Lari!
73
Chapter 073: Legenda Sang Kaisar
74
Chapter 074: Strategi cerdas Qin Xiang
75
Chapter 075: Telapak tangan agung
76
Chapter 076: Ketamakan Tetua Agung
77
Chapter 077: Prinsip Seorang Kaisar
78
Chapter 078: Sore yang berat
79
Chapter 079: Kedatangan Qin Xiang
80
Chapter 080: Syarat dan Penyelesaian Instan
81
Chapter 081: Ikatan masa lalu
82
Chapter 082: Raja Iblis dan ide buruknya
83
Chapter 083: Inti Naga!
84
Chapter 084: Suasana di teras paviliun
85
Chapter 085: Qu Xiao Lian dalam bahaya!
86
Chapter 086: Tuan Muda Ke-7
87
Chapter 087: Pengumuman Turnamen
88
Chapter 088: Rumah
89
Chapter 089: Politik dan Pertunangan
90
Chapter 090: Aku hanya ingin berkultivasi
91
Chapter 091: Merawat Orang Tua adalah Kewajiban!
92
Chapter 092: Keberanian Qin Xuan
93
Chapter 093: Kekacauan di Istana
94
Chapter 094: Hubungan buruk ayah dan anak
95
Chapter 095: Rencana Shu Lianmen
96
Chapter 096: Kenalan Qin Xiang
97
Chapter 097: Pembukaan Turnamen
98
Chapter 098: Pembukaan Turnamen II
99
Chapter 099: Pertaruhan
100
Chapter 100: Menunjukkan taring pada dunia
101
Chapter 101: Melawan Qin Huangli
102
Chapter 102: Rencana licik Ling Zhan
103
Chapter 103: Ilusi rendahan
104
Chapter 104: Qin Xiang melawan Qin Hua
105
Chapter 105: Qin Xiang melawan Qin Hua (II)
106
Chapter 106: Qin Xiang melawan Qin Hua (III)
107
Chapter 107: Tuan Muda Pertama dan Ketujuh
108
Chapter 108: Kemenangan
109
Chapter 109: Ulang Tahun ke-17 Tahun
110
Chapter 110: Bertemu Leluhur Agung
111
Chapter 111: Aku ingin Shu Rongrong!
112
Chapter 112: Aku akan menjadi raja
113
Chapter 113: Keputusan Leluhur
114
Chapter 114: Keputusan Terakhir dan Kesengsaraan Petir
115
Chapter 115: Naga Petir
116
Chapter 116: Kesengsaraan Ilahi
117
Chapter 117: Tanggapan Para Ahli Kuat
118
Chapter 118: Alkemis bermarga Wang dan Zong
119
Chapter 119: Pemanenan Tanaman Herbal
120
Chapter 120: Dicurangi
121
Chapter 121: Babak Pemurnian Pil
122
Chapter 122: Kau Lolos
123
Chapter 123: Istirahat dan Informasi
124
Chapter 124: Pemulihan Pil
125
Chapter 125: Persaingan
126
Chapter 126: Kelicikan Wang Shang
127
Chapter 127 : Pil Peringkat Bumi—2 Vein
128
Chapter 128: Kebencian Wang Shang
129
Chapter 129: Kerja Sama
130
Chapter 130: Penjudi buruk
131
Chapter 131: Percakapan Tentang Kondisi Saat Ini
132
Chapter 132: Rumah Judi
133
Chapter 133: Kemarahan Master Kong
134
Chapter 134: Diskon Master Kong
135
Chapter 135: Teknik Elemen
136
Chapter 136: Penempaan Senjata Rusak
137
Chapter 137: Membeli Master Pandai Besi
138
Chapter 138: Nona Muda
139
Chapter 139: Kecupan Manis
140
Chapter 140: Perkembangan Kedua Faksi
141
Chapter 141: Kekalahan Tuan Muda Pertama
142
Chapter 142: Perintah Pewaris Patriark
143
Chapter 143: 99 VS 1
144
Chapter 144: Diskusi Kecil (Pengajaran Agung)
145
Chapter 145: Meninggalkan Ibukota
146
Chapter 146: Harta Karun Langit & Bumi
147
Chapter 147: Lari jika tidak ingin mati
148
Chapter 148: Penyatuan Teratai Jiwa Abadi
149
Chapter 149: Kembali ke Kota Dagang Luo
150
Chapter 150: Kembali ke Sekte Pedang Giok
151
Chapter 151: Petunjuk dari Yu Shengren
152
Chapter 152: Sahabat dan Kekasih
153
Chapter 153: Berbagi Cerita
154
Chapter 154: Ayo!
155
Chapter 155: Tugas Untuk Qu Long
156
Chapter 156: Surat dari Ibukota
157
Chapter 157: Keberanian Qu Long atau...
158
Chapter 158: Trik Qu Long
159
Chapter 159: Qu Long Kembali
160
Chapter 160: Keputusan Wang Bai
161
Chapter 161: Kabar Terbaru
162
Chapter 162: Bawa aku menemui Patriark Xiao!
163
Chapter 163: Perbincangan dengan Xiao Chang'en
164
Chapter 164: Perbincangan dengan Xiao Chang'en (II)
165
Chapter 165: Mengungkapkan Hubungan Sebenarnya
166
Chapter 166: Xiao Jing Diabaikan
167
Chapter 167: Perjalanan Kembali
168
Chapter 168: Harga Kepala Qin Xiang
169
Chapter 169: Malam Mencekam
170
Chapter 170: Pengepungan Penginapan
171
Chapter 171: Pembantaian Dimulai
172
Chapter 172: Pembantaian Bulan Sabit Merah
173
Chapter 173: Lima Belas Kaki Naga Api
174
Chapter 174: Sosok Misterius
175
Chapter 175: Kembali Ke Keluarga Qin
176
Chapter 176: Rapat
177
Chapter 177: Kehadiran Petinggi Faksi Qin Xiang
178
Chapter 178: Kong Lie Lucu
179
Chapter 179: Laporan Darurat!
180
Chapter 180: Perbatasan Utara Jatuh
181
Chapter 181: Analisis Kaisar Agung
182
Chapter 182: Pertemuan Akbar
183
Chapter 183: Rapat Akbar
184
Chapter 184: Langkah Sang Pewaris
185
Chapter 185: Langkah Tersembunyi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!