Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Chapter 001: AKU ADALAH KAISAR AGUNG!

Angin musim semi bertiup dari timur, membawa aroma dedaunan basah dan tanah yang habis diguyur hujan semalam.

Seharusnya terasa menenangkan.

Namun di halaman asrama murid magang Sekte Pedang Giok, tidak ada yang peduli dengan angin.

Yang ada hanyalah hawa panas yang menghimpit, lingkaran penonton yang haus tontonan, dan di tengah semuanya—

Qin Xiang berdiri.

Berdarah. Terluka. Namun belum tumbang.

Bugh!

Tubuhnya kembali terpental beberapa meter sebelum menghantam tanah berbatu dengan keras. Debu beterbangan tinggi, dan rasa sakit menjalar seperti aliran listrik dari tulang rusuknya ke seluruh sisi tubuh.

Dari sudut bibirnya yang pecah, darah segar menetes perlahan ke tanah.

Napasnya kacau.

Pandangannya sedikit buram di tepinya.

Setiap kali ia mencoba menarik napas, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa ikut terjepit—seperti tulang yang protes keras karena sudah terlalu banyak dihajar.

Namun kedua lututnya yang gemetar tetap mendorongnya ke atas.

Ia bangkit.

Pelan. Goyah. Tetapi bangkit!

"Masih belum mau menyerah, Sampah?"

Xiao Jing mencibir dari tempatnya berdiri, mengayunkan pedang kayunya dengan santai seperti orang yang mengusir lalat. Wajahnya memancarkan kesenangan yang menjijikkan—kesenangan seorang pengecut yang menikmati pertunjukan yang tidak berisiko apa-apa bagi dirinya sendiri.

"Aku akui, ketekunanmu memang mengagumkan. Sayang sekali ketekunan saja tidak bisa menggantikan bakat."

Di belakangnya, para pengikut meledak dalam tawa.

"Hahaha! Dasar sampah keras kepala!"

"Pemurnian Qi tahap satu selama bertahun-tahun, tapi masih bermimpi jadi kultivator hebat?"

"Bahkan anjing penjaga sekte mungkin bisa berkultivasi lebih cepat dari dia!"

Kata-kata itu menghantam seperti palu besi yang dipukulkan bertubi-tubi tanpa jedah. Dan yang paling menyiksa dari semuanya—

Qin Xiang tidak mampu membantah satu pun.

Karena semuanya benar.

Di Sekte Pedang Giok yang dipenuhi para jenius berbakat, ia hanyalah noda hitam di atas kain putih bersih. Bakatnya buruk sejak lahir, dan kultivasinya nyaris tidak bergerak satu langkah pun selama bertahun-tahun—terjebak di Pemurnian Qi tahap satu seperti batu yang tertancap di lumpur.

Sementara Xiao Jing sudah menjejak Qi Fondasi tahap dua.

Jurang di antara mereka bukan lagi sekadar perbedaan.

Ia adalah penghinaan yang terwujud nyata.

Namun...

Qin Xiang mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia tidak mau berlutut.

Tidak di hadapan Xiao Jing. Tidak di hadapan siapa pun.

"Haaaah—!"

Dengan raungan rendah yang lahir dari kedalaman harga diri yang tersisa, ia kembali menerjang maju. Tidak ada teknik pedang yang indah, tidak ada langkah kaki yang mengalir.

Yang ada hanyalah tubuh yang menolak rebah dan jiwa yang terlalu keras kepala untuk menyerah.

Sayangnya, di mata seorang kultivator Qi Fondasi—

Itu tidak lebih dari pemandangan yang menyedihkan.

"Menyedihkan," gumam Xiao Jing.

Ia bahkan tidak perlu mundur. Satu miring kecil ke samping, sangat malas, sangat santai—dan pukulan Qin Xiang hanya membelah udara kosong.

Detik berikutnya, Xiao Jing membalas.

BUGH!

Tendangan yang dibalut Qi menghantam tulang rusuk Qin Xiang secara telak. Suara retakan samar terdengar jelas—krak—dan Qin Xiang merasakannya sebelum otaknya sempat memproses rasa sakitnya.

Tubuhnya terangkat dari tanah.

Melayang sesaat di udara seperti boneka yang dilempar.

Lalu terhempas dengan keras, berguling tiga kali di atas kerikil tajam, meninggalkan jejak darah tipis di tanah berdebu.

Sistem sarafnya menjerit.

Namun jauh di kedalaman dadanya, rasa malu terasa jauh lebih menyakitkan dari itu semua.

"Hahaha! Lihat ekspresinya! Persis anjing liar yang masih ingin menggonggong padahal sudah tidak punya gigi!"

Gelak tawa memenuhi halaman dari segala penjuru.

Xiao Jing berjalan mendekati dengan langkah yang pelan dan teratur.

Tap... tap... tap...

Setiap langkahnya seperti paku yang ditancapkan ke dalam dada Qin Xiang—menghancurkan apa yang tersisa dari harga dirinya, sedikit demi sedikit, perlahan dan metodis.

Tepat saat Xiao Jing berhenti di hadapannya, pemuda itu berjongkok dengan gerakan yang terlalu santai—seperti orang yang sedang mengamati serangga yang lucu.

Jarinya meraih rambut Qin Xiang yang berlumuran debu.

Lalu memaksanya mendongak dengan kasar.

Kedua mata mereka bertemu.

"Kau tahu apa bagian paling menyedihkan darimu?" ujar Xiao Jing dengan suara rendah, hampir berbisik. "Bukan karena kau lemah. Bukan karena bakatmu yang buruk. Tetapi karena kau masih berpura-pura punya harga diri."

Mata Qin Xiang menatap balik.

Bergetar, tapi tidak memalingkan pandang.

Sorot itu membuat Xiao Jing mendadak kesal dengan cara yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu di tatapan itu yang menolak dihancurkan—seperti nyala api kecil yang terus bertahan di tengah hujan deras.

Menyebalkan.

"Bajingan..." Xiao Jing menggertakkan giginya. Tangannya bergerak hendak membanting wajah itu ke tanah—

"Hentikan."

Suara itu tidak keras. Tidak berteriak.

Namun ia menggema di seluruh halaman seperti lonceng langit yang berdentang—dingin, tajam, dan penuh otoritas yang tidak bisa ditawar.

Semua kepala serentak menoleh.

Seorang gadis muda berjalan cepat dari arah lorong timur. Jubah putihnya bergerak mengikuti angin yang seolah sengaja mengiringinya, rambut hitam panjangnya mengalir bebas, wajahnya cantik dengan kemarahan yang tidak disembunyikan.

Dan dari tubuhnya—aura Inti Formasi menyebar pelan namun pasti.

Seperti tangan tak kasat mata yang mencengkeram tengkuk setiap orang yang ada di sana.

"S-Senior Hu Xia—!"

Wajah para pengikut Xiao Jing seketika berubah pucat pasi.

Hu Xia bukan sekadar gadis cantik dari sekte dalam. Ia adalah murid inti dengan bakat langit yang telah mencapai ranah Inti Formasi di usia yang membuat para senior muda pun merasa malu. Namanya disebut dengan hormat oleh orang-orang yang bahkan tidak berani menatap bayangannya secara langsung.

Xiao Jing segera melepaskan rambut Qin Xiang dan mundur beberapa langkah. Ia berusaha terlihat tenang—dan hampir berhasil—kecuali rahangnya yang sedikit mengencang.

"Tsk."

Ia meludah ke samping dengan gaya yang dipaksakan, lalu melirik Qin Xiang dengan tatapan yang mengandung jijik sekaligus kepuasan.

"Dasar sampah. Bahkan sekarang pun masih harus diselamatkan oleh seorang wanita."

Kalimat itu menghujam lebih dalam dari tendangan mana pun yang ia layangkan hari ini.

Karena Qin Xiang tahu—

Itu benar.

"Pergi!"

Hanya satu kata dari Hu Xia, diucapkan dengan nada dingin seperti permukaan batu di tengah malam. Aura Inti Formasi-nya mengembang perlahan, dan tekanan yang ditimbulkannya langsung menghimpit pundak Xiao Jing beserta para pengikutnya—tidak kasat mata, namun tidak bisa diabaikan.

Tanpa satu pun berani membuka mulut, mereka bergerak pergi.

Namun di ambang jalan keluar, Xiao Jing sempat menoleh satu kali dengan sebuah senyum dingin yang tersungging di sudut bibirnya.

"Keberuntunganmu tidak akan bertahan selamanya, Qin Xiang!"

Kemudian mereka menghilang, dan halaman itu kembali sepi.

Hu Xia akhirnya sampai dan berlutut di samping Qin Xiang tanpa berkata apa-apa dulu.

Tangannya yang lembut membantu pemuda itu duduk perlahan, kemudian ia mengeluarkan sapu tangan sutra—putih bersih, beraroma bunga yang samar—dan mulai membersihkan darah serta debu di wajah Qin Xiang dengan gerakan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa.

"Kenapa kau selalu membiarkan mereka melakukan ini padamu..."

Suaranya lirih. Hampir seperti bicara pada diri sendiri.

Di sudut mata Hu Xia, ada kilatan sesuatu yang terlihat seperti air mata yang belum memutuskan untuk jatuh.

Melihat itu, Qin Xiang justru ingin tertawa pahit.

Gadis seperti Hu Xia—berbakat, kuat, dikagumi seluruh sekte—tidak seharusnya berlutut di tanah kotor demi mengusap darah dari wajah seorang pecundang sepertinya.

Tenggorokannya terasa tercekat sesaat. Ia ingin menjawab, namun rasa malu telah menumpuk terlalu berat di dalam dadanya hingga tidak ada ruang tersisa untuk kata-kata.

Ia membenci ini.

Ia membenci dirinya sendiri yang harus terus-menerus diselamatkan oleh gadis yang bagaikan langit tinggi di atas kepalanya.

Tanpa sepatah kata pun, Qin Xiang memaksakan dirinya berdiri dan berjalan pergi—langkahnya berat dan goyah, langkah seseorang yang tubuhnya hampir tidak mampu lagi menopang beban harga diri yang ia pertahankan.

"Qin Xiang..."

Suara Hu Xia mengikutinya dari belakang, lirih dan penuh sesuatu yang tidak terucapkan.

Namun pemuda itu tidak berhenti.

Ia tidak punya keberanian untuk menoleh dan menatap wajah itu.

...

Langkah kaki yang berat itu akhirnya membawa Qin Xiang sampai di depan gubuk tua di pinggiran wilayah sekte—jauh dari paviliun-paviliun indah tempat para murid berbakat tinggal.

Gubuk tua itu bahkan hampir tidak layak disebut tempat tinggal.

Atapnya bocor di beberapa bagian. Dinding kayunya dipenuhi retakan yang membiarkan angin malam masuk dengan bebas. Udara lembap yang menetap di dalam ruangan sempit itu terasa seperti pelukan dari sesuatu yang sudah mati lama.

Tidak ada kehangatan di sini.

Hanya kesunyian yang dingin dan abu-abu.

Qin Xiang menjatuhkan tubuhnya di atas kasur jerami, tatapannya kosong ke arah langit-langit reyot di atasnya.

Tulang rusuknya terus berdenyut dengan ritme yang menyakitkan, namun rasa sakit itu hanyalah debu kecil jika  dibandingkan dengan kehancuran yang menggerogoti jauh di dalam dadanya.

'Kenapa hidupku bisa jadi seperti ini...' batinnya sedih hingga tanpa sadar air mata mengalir perlahan tanpa suara.

Bukan air mata anak kecil. Bukan pula air mata yang dramatis.

Hanya air mata seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja.

'Tidak...'

Di suatu sudut gelap dalam dirinya, sebuah suara kecil berbisik untuk menyerah—untuk berbaring dan tidak lagi bangkit. Namun di sudut lainnya, sesuatu yang lebih tua dan lebih keras menolak mendengarnya.

Dua kekuatan yang saling bertarikan itu perlahan menguras sisa tenaganya, hingga akhirnya kelelahan yang telah menumpuk bertahun-tahun menyeret kesadarannya turun, semakin dalam— ke dalam kegelapan yang hangat dan tak berbentuk.

Dan di sanalah segalanya berubah.

WOSHHH—!!!

Dunianya berputar.

Saat Qin Xiang membuka mata kembali, ia tidak lagi berada di gubuk reotnya.

Langit darah menggantung di atas sana, dipenuhi awan hitam yang berputar seperti pusaran neraka. Di bawahnya, lautan mayat membentang ke segala arah—tidak bisa dihitung, tidak bisa diukur. Sungai darah mengalir di antara celah tanah yang retak dan hangus. Bau besi dan abu memenuhi udara seperti kabut yang pekat.

Dan di setiap sudutnya, aura kematian menggantung berat.

Di atas cakrawala, ratusan ribu kultivator bertarung seperti dewa yang ada dalam catatan-catatan dongeng. Setiap benturan mereka meruntuhkan puncak gunung seperti tanah lempung. Setiap teknik yang dilepaskan merobek langit merah seperti kertas tipis. Petir hitam terus-menerus memenuhi cakrawala, dan di tengah semuanya, hujan darah turun tanpa henti di seluruh penjuru dunia—seperti ratapan langit itu sendiri.

Namun Qin Xiang tidak merasa takut.

Yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih aneh, seolah tanah berdarah ini sudah lama mengenalnya.

"Kaisar Xiang!!!"

Suara itu menggelegar dari langit seperti petir yang berbicara, membelah seluruh kebisingan medan perang dengan satu teriakan tunggal.

"TERIMA KEMATIANMU!!!"

Dari kegelapan awan, seorang raksasa turun dengan zirah perak yang memancarkan aura kehancuran. Di tangannya, kapak berukuran gunung diayunkan ke bawah—dan gelombang energi dari ayunan tunggal itu saja sudah meretakkan tanah sejauh ribuan meter.

Qin Xiang tidak sempat berpikir, tetapi tubuhnya bergerak sendiri tanpa perintahnya.

Sebilah pedang hitam kuno tiba-tiba telah berada dalam genggamannya—dingin, berat, dan familiar seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Di sepanjang bilahnya, rune emas berpendar hidup, berdenyut seperti jantung yang baru terbangun dari tidur panjang.

DENTANGGG—!!!

Benturan antara kapak dan pedang itu bukan sekadar suara keras. Melainkan getaran yang mengguncang ruang dan waktu, meratakan seluruh pegunungan di radius belasan kilometer menjadi dataran dalam sekejap, mengangkat debu yang menutupi langit seperti badai kosmik.

Dan di tengah kehancuran itu, Qin Xiang merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Kekuatan.

Aura.

Hukum langit.

Dominasi yang tidak meminta persetujuan siapa pun untuk menjadi nyata.

Pertarungan itu berlangsung tiga hari tiga malam. Raksasa berzirah perak yang memanggul kekuatan penghancur dunia dikalahkan perlahan hingga akhirnya tumbang. Namun begitu tubuhnya jatuh, para penggantinya sudah menunggu di cakrawala.

Puluhan, bahkan ratusan.

Semua menatap ke arah tubuh berjubah hitam itu dengan tatapan yang sama—campuran ketakutan dan ambisi yang tidak bisa disembunyikan.

"Sekelompok semut..."

Bukan Qin Xiang yang berkata, suara itu keluar dari mulut tubuh itu dengan sendirinya—rendah, berat, terdengar seperti goresan batu kuno yang dibaca setelah ribuan tahun terkubur.

Tidak ada kemarahan di dalamnya.

Hanya fakta yang diucapkan dengan cara yang terasa lebih dingin dari kemarahan mana pun.

Pedang hitam itu mulai bergerak lagi.

Menari di antara jari-jari tangan itu seperti naga kuno yang baru terbangun dari dasar samudra—perlahan pada awalnya, lalu semakin cepat, semakin liar, namun tidak pernah kehilangan kendali.

Satu tebasan membelah lautan manusia seperti pisau panas yang mengiris lilin.

Satu langkah mengguncang langit hingga awan-awan terbelah.

Dan satu lirikan dari mata emas dingin itu membuat barisan kultivator di garis terdepan mundur tanpa sadar karena jiwa mereka menjerit dalam bahaya.

Di tengah hujan darah dan kehancuran itu, Qin Xiang akhirnya melihatnya.

Sebuah wajah.

Atau lebih tepatnya—wajah yang persis seperti dirinya sendiri.

Pria berjubah hitam dengan rahang yang tegas dan sepasang mata emas yang terasa seperti bintang-bintang dingin di langit. Mata yang menyimpan jutaan tahun kejadian di dalamnya. Mata yang bisa membuat jiwa siapa pun membeku hanya dengan satu lirikan tak sengaja.

Wajah yang sama dengan wajahnya, namun dengan kedalaman yang tidak terukur di baliknya.

Puluhan ribu musuh terus mengalir dari cakrawala tanpa henti, dan tubuh berjubah hitam itu perlahan mengambil posisi—kaki kiri maju, pedang hitam terangkat diagonal, rune emas di bilahnya menyala semakin terang hingga sinarnya memotong kabut merah di sekeliling.

"Pedang Agung Menebas Langit..."

Suara itu bergema berat di seluruh penjuru medan perang, menakuti seluruh jiwa yang mendengarnya.

Aura hitam dan emas meledak keluar seperti fajar yang tiba-tiba lahir di tempat yang salah—memenuhi dunia, menekan langit, membuat tanah di bawah kaki ribuan kultivator retak hanya karena kehadiran energi itu saja.

"...Fase Ketiga!"

SUUUUNGGG—!!!

Langit merah darah terbelah.

Bukan sedikit. Bukan retak.

Terbelah—dari satu ujung cakrawala ke ujung lainnya, seperti tirai raksasa yang dirobek oleh tangan yang tidak peduli pada batas-batas dunia.

Gelombang pedang hitam pekat menyapu seluruh langit, melumat ribuan kultivator yang ada di jalurnya menuju alam baka—dalam waktu yang bahkan tidak cukup untuk sebuah jeritan terdengar.

Tanah berguncang sekali lagi.

Lautan darah terbelah menjadi dua, memperlihatkan kerak hangus di dasarnya.

Gunung-gunung yang tersisa di kejauhan runtuh satu per satu seperti orang tua yang kehilangan kekuatan untuk berdiri tegak.

Hanya sosok berjubah hitam itu  yang tetap berdiri di tengah semua kehancuran.

Tidak bergerak. Tidak tergores. Jubahnya bahkan tidak berkibar.

Seperti penguasa absolut yang keberadaannya sendiri sudah cukup untuk menekan seluruh era di bawah kakinya.

"Guru Kaisar!"

Seorang pemuda berzirah rusak berlutut di tengah lautan mayat, wajahnya mendongak dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan kekaguman yang menyeluruh—kekaguman yang lahir dari kedalaman tulang, bukan dari bibir.

"Kita menang! Para saudara yang lain juga telah mengamankan wilayah timur dan barat!"

Sosok Kaisar Agung berbalik perlahan, sebuah senyum tipis terpancar dari pembawaannya yang terkenal dingin dan kejam.

"Bagus." Suaranya rendah, tenang, dan penuh wibawa yang tidak membutuhkan volume untuk memenuhi ruang. "Bersihkan sisanya dan ayo pulang ke Puncak Surgawi, muridku."

"Ya, Guru Kaisar."

Pemuda itu menangkupkan kedua tangan dengan hormat yang dalam dan tulus.

Namun tepat saat Kaisar Agung berbalik untuk berjalan pergi—

Jiwa Qin Xiang merasakan kecemasan.

Bukan suara. Bukan penglihatan.

Sebuah firasat yang dingin dan mutlak, seperti keinginan batin yang ingin menghindari maut.

Ia mencoba menggerakkan tubuh itu. Mencoba memaksanya berhenti, membalik, bersiap.

Tetapi tidak bisa, semuanya telah terlambat.

'Tidak—'

Tsuk.

Suara tusukan itu terdengar sangat pelan.

Hampir terlalu pelan untuk sebuah momen yang kelak akan mengubah segalanya.

Dan dalam sekejap, seluruh medan perang—seluruh dunia—jatuh ke dalam keheningan yang mematikan.

Sebilah pedang putih bermandi api suci telah menembus dada Kaisar Agung dari belakang.

Dari ujung bilahnya, darah emas menetes jatuh perlahan. Setiap tetesnya memukul tanah dengan berat yang tidak proporsional, dan di tempat jatuhnya, ruang di sekitarnya bergetar samar—seolah alam semesta sendiri menolak menerima kenyataan itu.

Langit merah yang retak mendadak terasa sunyi.

Angin berhenti tanpa suara.

Bahkan gemuruh pertarungan yang masih tersisa di kejauhan seolah tercekik oleh ketidakpercayaan.

Kaisar Agung menundukkan pandangan ke bilah yang menembus dadanya.

Lalu—ia menoleh ke belakang.

Pemuda berzirah yang kini berdiri di belakangnya menggenggam gagang pedang itu dengan tenang. Wajahnya datar. Matanya dingin. Dan di kedalaman kedua matanya, ambisi yang sudah lama disembunyikan akhirnya muncul ke permukaan tanpa malu-malu.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada rasa bersalah.

Hanya ketamakan yang sudah terlalu lama sudah disembunyikan.

"Murid ini sudah menunggu hari ini sangat lama, Guru."

Suaranya tenang. Teratur. Hampir sopan.

Tetapi ketenangan itulah yang terasa lebih dingin dari pisau mana pun.

Tatapan Kaisar Agung tidak lepas dari wajah muridnya. Sepasang mata emas yang sudah menyaksikan ribuan tahun dan ratusan ribu pertempuran kini menatap satu wajah yang selama ini ia percaya, seolah mempertanyakan segalanya saat ini.

"Murid ini tidak akan pernah bisa melangkah lebih jauh selama Guru masih berdiri di atas langit."

Darah emas terus menetes.

Di atas tanah merah, bunga-bunga cahaya kecil bermekaran—lahir dari tetesan darah sang Kaisar, bercahaya indah selama beberapa detik, lalu layu dan padam dalam sekejap, membuatnya terasa seperti perpisahan yang ditulis oleh alam semesta itu sendiri.

Indah... dan tragis.

Kaisar Agung terus memandang muridnya cukup lama. Lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk menerima pengkhianatan. Hingga akhirnya, dengan perlahan, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.

Senyum itu tidak mengandung kemarahan.

Tidak pula tangisan.

Hanya sebuah kekecewaan yang begitu dalam dan matang hingga ia tidak lagi terasa seperti emosi—melainkan seperti kesimpulan.

"Jadi begitu..."

Suaranya pelan dan berat, seperti angin terakhir sebelum badai tiba.

"Rupanya aku telah membesarkan seekor serigala di sisiku sendiri."

Murid itu tidak menjawab.

Tatapannya tetap datar. Tangannya justru mendorong pedangnya lebih dalam.

Tsuk...

Aura Sang Kaisar Agung—yang bahkan di ambang kematian masih terasa seperti gunung yang tidak mau rubuh—mulai perlahan melemah.

Namun tidak satu pun dari ribuan orang yang masih hidup di medan perang itu berani bergerak, bahkan untuk bernapas terlalu keras..

Karena bahkan di saat seperti ini, dengan pedang di dadanya dan darah di kakinya—sosok itu masih terasa seperti penguasa tertinggi dunia.

Kaisar Agung mulai memejamkan matanya yang terlihat lesuh.

Punggung yang selama ribuan tahun tidak pernah membungkuk, perlahan—untuk pertama dan terakhir kalinya—mulai condong dan jatuh ke bawah dengan lambat, seperti pohon berusia seribu tahun yang akhirnya memutuskan untuk beristirahat di tengah hujan darah yang tidak berhenti, sementara langit merah di atasnya merekahkan retakan-retakan baru seolah ikut berduka dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh alam.

DHUARRR!!!

Qin Xiang tersentak bangun.

Napasnya memburu kasar dan tidak beraturan. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin, dan jantungnya berdegup keras dengan ritme panik yang tidak kunjung mereda.

Tangan pemuda itu dengan cepat menangkap dadanya sendiri—merasakan detak di balik tulang rusuk yang masih nyeri—seolah memastikan bahwa ia masih utuh, bahwa tidak ada pedang yang menembus dari belakang.

Kemudian semuanya datang. Segala sesuatu yang telah terkubur jauh di dalam jiwanya.

Ingatan yang tidak terhitung jumlahnya mulai membanjiri otaknya sekaligus bak sebuah bendungan raksasa yang jebol— ratusan teknik pedang yang dilupakan ribuan tahun, hukum langit yang tersembunyi di ruang-ruang buta dunia kultivasi, rahasia-rahasia yang bahkan para dewa tidak ketahui keberadaannya.

Dan di antara semuanya—

Wajah seorang pemuda berzirah dengan pedang di tangan dan ambisi di matanya.

Wajah yang tidak akan pernah ia lupakan.

"Arghhhh—!!!"

Qin Xiang menekan kepalanya dengan kedua tangan, berlutut di lantai gubuk yang dingin dengan gigi terkatup menahan teriakan. Rasa sakit di kepalanya bukan sakit fisik biasa—ia seperti cangkir kecil yang dipaksa menampung samudra, setiap detiknya terasa seperti tengkorak yang hendak dibelah dari dalam.

Di sekelilingnya, udara mulai bergetar.

Jerami-jerami di lantai terangkat satu per satu tanpa disentuh, melayang dalam pola yang melingkar. Retakan kecil muncul di dinding kayu yang sudah reyot. Angin yang tidak ada sumbernya mulai berputar di dalam ruangan sempit itu, membawa debu dan serpihan dalam pusaran yang semakin rapat.

Lalu perlahan—sepasang mata Qin Xiang terbuka.

Di kedalaman pupilnya, kilatan emas samar berpendar.

Bukan seperti cahaya lilin yang hangat. Lebih seperti bintang yang sudah mati ribuan tahun lalu namun cahayanya baru sampai sekarang—dingin, jauh, dan mengandung kedalaman yang tidak bisa diukur oleh ukuran manusia biasa.

Tatapan yang dulu lemah dan penuh ketakutan serta rasa malu yang tersimpan rapat, kini terasa seperti sesuatu yang berbeda sepenuhnya. Seperti monster tua yang baru saja terbangun dari tidurnya di dalam tubuh yang terlalu muda.

"Aku..."

Suaranya keluar pelan. Berat. Tidak bergetar.

Bukan suara seorang pecundang yang terbiasa dihantam. Bukan pula suara murid magang yang tidak punya tempat di sekte ini. Melainkan suara seseorang yang pernah berdiri di puncak langit dan menatap ke bawah dengan tatapan yang tidak membeda-bedakan antara semut dan dewa.

"Aku adalah Kaisar Agung."

Kata-kata itu jatuh di dalam kegelapan gubuk itu seperti batu yang dilempar ke dalam sumur yang sangat dalam.

Sederhana, namun bergema jauh melampaui ukurannya.

Di luar, langit malam yang sebelumnya cerah mendadak dihembus angin kencang yang tidak punya asal usul yang jelas. Bintang-bintang berkedip seolah terganggu. Dan di dalam gubuk reot yang tidak pernah dipandang siapa pun dengan hormat itu—

Seorang pemuda yang lemah, terluka, dan terhina baru saja menemukan kembali sesuatu yang sudah hilang selama ini.

Malam itu akan menjadi awal dari sesuatu yang tidak akan bisa dibendung oleh apapun.

Sang Kaisar Agung yang pernah menaruh langit di bawah kakinya kini telah kembali.

Dan kali ini, semua akan mulai berubah!

....

Bersambung!

Urutan ranah & tingkatan:

- Kultivasi:

Pemurnian Qi

Qi Fondasi

Inti Formasi

Kesengsaraan Ilahi

???

Setiap ranah memiliki 9 tingkatan, tahap 1-3 (awal), 4-6 (menengah), 7-9 (tinggi).

- Artefak (senjata, pelindung, dan lain-lain), Teknik, dan Pil Obat:

Rendah

Menengah

Tinggi

Misterius

Bumi

???

- Binatang Buas:

Tingkat 1

Tingkat 2

Tingkat 3

Tingkat 4 (RAJA MONSTER)

???

Setiap tingkat terbagi menjadi tiga tahap: Awal, Menengah, Tinggi.

Terpopuler

Comments

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

Hadir Thor..
Awal cerita sudah bagus 👍 Saran dariku : Kata ilahi diganti dengan Dewa, biar enak dibaca dan tambah menarik. Semoga Novel ini sukses Amiin 🤲

2026-06-08

2

sasip

sasip

mantab ei.. keren bisa nulis sedemikian banyak neh.. 👍🏻💪🏻

2026-06-03

2

Alvredo Naibaho

Alvredo Naibaho

Indonesian and English hand phone yang tidak
untuk anak usia dini tidak
foto Saya bisa gini
kbobr bisa di sini untuk lebih meningkatkan
Honda jazz dan Torneo

2026-06-09

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 001: AKU ADALAH KAISAR AGUNG!
2 Chapter 002: Mengusir Para Pengacau
3 Chapter 003: Kota Giok dan Seorang Badut
4 Chapter 004: Hutan Kabut Senja
5 Chapter 005: Pengkhianatan dan Pertolongan
6 Chapter 006: Alkemis dan Toko Obat
7 Chapter 007: Menagih Bunga!
8 Chapter 008: Teman Kamar Tambun
9 Chapter 009: Ketakutan Qu Long
10 Chapter 010: Memukul Para Senior Preman
11 Chapter 011: Li Mei
12 Chapter 012: Menerobos ranah-Qi Fondasi!
13 Chapter 013: Tampan dan Sombong!
14 Chapter 014: Keadaan Darurat-Misi Baru!
15 Chapter 015: Desa Quang Dalam Bahaya
16 Chapter 016: Kuda Roh Herbal-Makhluk Langka
17 Chapter 017: Niat Jahat
18 Chapter 018: Mencari kematianmu sendiri!
19 Chapter 019: Berkah atau Kutukan?
20 Chapter 020: Kembali Ke Sekte
21 #21: Jenius Sekte
22 #22: Menguji Seekor Naga?
23 Chapter 023: Pengganggu di Lantai Dua
24 #24: Beberapa Serangga Pengganggu
25 #25: Menerobos tahap 2
26 #26: Tuan Muda Qin
27 #27: Teknik Pemurnian Pil
28 #28: Pemurnian Berhasil!
29 #29: Informasi Alam Rahasia
30 #30: Niat Membunuh di Tengah Hutan
31 #31: Perundungan
32 #32: Memainkan Trik di Depan Kaisar?
33 #33: Rencana Pembunuhan
34 #34: Tahap empat
35 #35: Mereka Lagi!
36 #36: Pedang Agung Menebas Bumi!
37 #37: Kamar Dagang Kai
38 #38: Menunjukkan Identitas
39 #39: Informasi Hutan Kematian Liar dan Hubungan Kerja Sama
40 #40: Hutan Kematian Liar
41 #41: Meremehkan Sang Kaisar?
42 #42: Kelompok Taring Serigala
43 #43: Persiapan dan Drama Murahan
44 #44: Pencurian di Bawah Hidung
45 #45: Penyerangan Zheng Lang
46 #46: Memotong Ikan di Talenan
47 #47: Inti Formasi Tahap 5
48 #48: Pedang Rusak
49 #49: Keluar dan Perselisihan Kamar Dagang Gong
50 #50: Pengepungan yang meriah
51 #51: Pembantaian
52 #52: Mengenang Masa Lalu
53 #53: Kapan kalian berpacaran?
54 #54: Puncak Abadi
55 #55: Master Sekte Pedang Giok!
56 #56: Persiapan
57 #57: Pengganggu di tengah hutan
58 #58: Lembah Tak Bertuan
59 #59: Alam Rahasia Misterius
60 Chapter 060: Pembantaian Seorang Diri
61 Chapter 061: Seratus ribu tahun lamanya
62 Chapter 062: Seorang manusia dan seekor banteng hitam
63 Chapter 063: Ketahuan!
64 Chapter 064: Pedang Agung Menebas Bumi - Fase Dua!
65 Chapter 065: Ujian seratus langkah
66 Chapter 066: Keinginan Naga Api dan Phoenix Es
67 Chapter 067: Tertinggal dan terjebak bersama
68 Chapter 068: Monster Tua
69 Chapter 069: Memanen tubuh Kaisar Monster
70 Chapter 070: Kekacauan di Kota Dagang Luo
71 Chapter 071: Ketakutan para pasukan
72 Chapter 072: Lari!
73 Chapter 073: Legenda Sang Kaisar
74 Chapter 074: Strategi cerdas Qin Xiang
75 Chapter 075: Telapak tangan agung
76 Chapter 076: Ketamakan Tetua Agung
77 Chapter 077: Prinsip Seorang Kaisar
78 Chapter 078: Sore yang berat
79 Chapter 079: Kedatangan Qin Xiang
80 Chapter 080: Syarat dan Penyelesaian Instan
81 Chapter 081: Ikatan masa lalu
82 Chapter 082: Raja Iblis dan ide buruknya
83 Chapter 083: Inti Naga!
84 Chapter 084: Suasana di teras paviliun
85 Chapter 085: Qu Xiao Lian dalam bahaya!
86 Chapter 086: Tuan Muda Ke-7
87 Chapter 087: Pengumuman Turnamen
88 Chapter 088: Rumah
89 Chapter 089: Politik dan Pertunangan
90 Chapter 090: Aku hanya ingin berkultivasi
91 Chapter 091: Merawat Orang Tua adalah Kewajiban!
92 Chapter 092: Keberanian Qin Xuan
93 Chapter 093: Kekacauan di Istana
94 Chapter 094: Hubungan buruk ayah dan anak
95 Chapter 095: Rencana Shu Lianmen
96 Chapter 096: Kenalan Qin Xiang
97 Chapter 097: Pembukaan Turnamen
98 Chapter 098: Pembukaan Turnamen II
99 Chapter 099: Pertaruhan
100 Chapter 100: Menunjukkan taring pada dunia
101 Chapter 101: Melawan Qin Huangli
102 Chapter 102: Rencana licik Ling Zhan
103 Chapter 103: Ilusi rendahan
104 Chapter 104: Qin Xiang melawan Qin Hua
105 Chapter 105: Qin Xiang melawan Qin Hua (II)
106 Chapter 106: Qin Xiang melawan Qin Hua (III)
107 Chapter 107: Tuan Muda Pertama dan Ketujuh
108 Chapter 108: Kemenangan
109 Chapter 109: Ulang Tahun ke-17 Tahun
110 Chapter 110: Bertemu Leluhur Agung
111 Chapter 111: Aku ingin Shu Rongrong!
112 Chapter 112: Aku akan menjadi raja
113 Chapter 113: Keputusan Leluhur
114 Chapter 114: Keputusan Terakhir dan Kesengsaraan Petir
115 Chapter 115: Naga Petir
116 Chapter 116: Kesengsaraan Ilahi
117 Chapter 117: Tanggapan Para Ahli Kuat
118 Chapter 118: Alkemis bermarga Wang dan Zong
119 Chapter 119: Pemanenan Tanaman Herbal
120 Chapter 120: Dicurangi
121 Chapter 121: Babak Pemurnian Pil
122 Chapter 122: Kau Lolos
123 Chapter 123: Istirahat dan Informasi
124 Chapter 124: Pemulihan Pil
125 Chapter 125: Persaingan
126 Chapter 126: Kelicikan Wang Shang
127 Chapter 127 : Pil Peringkat Bumi—2 Vein
128 Chapter 128: Kebencian Wang Shang
129 Chapter 129: Kerja Sama
130 Chapter 130: Penjudi buruk
131 Chapter 131: Percakapan Tentang Kondisi Saat Ini
132 Chapter 132: Rumah Judi
133 Chapter 133: Kemarahan Master Kong
134 Chapter 134: Diskon Master Kong
135 Chapter 135: Teknik Elemen
136 Chapter 136: Penempaan Senjata Rusak
137 Chapter 137: Membeli Master Pandai Besi
138 Chapter 138: Nona Muda
139 Chapter 139: Kecupan Manis
140 Chapter 140: Perkembangan Kedua Faksi
141 Chapter 141: Kekalahan Tuan Muda Pertama
142 Chapter 142: Perintah Pewaris Patriark
143 Chapter 143: 99 VS 1
144 Chapter 144: Diskusi Kecil (Pengajaran Agung)
145 Chapter 145: Meninggalkan Ibukota
146 Chapter 146: Harta Karun Langit & Bumi
147 Chapter 147: Lari jika tidak ingin mati
148 Chapter 148: Penyatuan Teratai Jiwa Abadi
149 Chapter 149: Kembali ke Kota Dagang Luo
150 Chapter 150: Kembali ke Sekte Pedang Giok
151 Chapter 151: Petunjuk dari Yu Shengren
152 Chapter 152: Sahabat dan Kekasih
153 Chapter 153: Berbagi Cerita
154 Chapter 154: Ayo!
155 Chapter 155: Tugas Untuk Qu Long
156 Chapter 156: Surat dari Ibukota
157 Chapter 157: Keberanian Qu Long atau...
158 Chapter 158: Trik Qu Long
159 Chapter 159: Qu Long Kembali
160 Chapter 160: Keputusan Wang Bai
161 Chapter 161: Kabar Terbaru
162 Chapter 162: Bawa aku menemui Patriark Xiao!
163 Chapter 163: Perbincangan dengan Xiao Chang'en
164 Chapter 164: Perbincangan dengan Xiao Chang'en (II)
165 Chapter 165: Mengungkapkan Hubungan Sebenarnya
166 Chapter 166: Xiao Jing Diabaikan
167 Chapter 167: Perjalanan Kembali
168 Chapter 168: Harga Kepala Qin Xiang
169 Chapter 169: Malam Mencekam
170 Chapter 170: Pengepungan Penginapan
171 Chapter 171: Pembantaian Dimulai
172 Chapter 172: Pembantaian Bulan Sabit Merah
173 Chapter 173: Lima Belas Kaki Naga Api
174 Chapter 174: Sosok Misterius
175 Chapter 175: Kembali Ke Keluarga Qin
176 Chapter 176: Rapat
177 Chapter 177: Kehadiran Petinggi Faksi Qin Xiang
178 Chapter 178: Kong Lie Lucu
179 Chapter 179: Laporan Darurat!
180 Chapter 180: Perbatasan Utara Jatuh
181 Chapter 181: Analisis Kaisar Agung
182 Chapter 182: Pertemuan Akbar
183 Chapter 183: Rapat Akbar
184 Chapter 184: Langkah Sang Pewaris
185 Chapter 185: Langkah Tersembunyi
Episodes

Updated 185 Episodes

1
Chapter 001: AKU ADALAH KAISAR AGUNG!
2
Chapter 002: Mengusir Para Pengacau
3
Chapter 003: Kota Giok dan Seorang Badut
4
Chapter 004: Hutan Kabut Senja
5
Chapter 005: Pengkhianatan dan Pertolongan
6
Chapter 006: Alkemis dan Toko Obat
7
Chapter 007: Menagih Bunga!
8
Chapter 008: Teman Kamar Tambun
9
Chapter 009: Ketakutan Qu Long
10
Chapter 010: Memukul Para Senior Preman
11
Chapter 011: Li Mei
12
Chapter 012: Menerobos ranah-Qi Fondasi!
13
Chapter 013: Tampan dan Sombong!
14
Chapter 014: Keadaan Darurat-Misi Baru!
15
Chapter 015: Desa Quang Dalam Bahaya
16
Chapter 016: Kuda Roh Herbal-Makhluk Langka
17
Chapter 017: Niat Jahat
18
Chapter 018: Mencari kematianmu sendiri!
19
Chapter 019: Berkah atau Kutukan?
20
Chapter 020: Kembali Ke Sekte
21
#21: Jenius Sekte
22
#22: Menguji Seekor Naga?
23
Chapter 023: Pengganggu di Lantai Dua
24
#24: Beberapa Serangga Pengganggu
25
#25: Menerobos tahap 2
26
#26: Tuan Muda Qin
27
#27: Teknik Pemurnian Pil
28
#28: Pemurnian Berhasil!
29
#29: Informasi Alam Rahasia
30
#30: Niat Membunuh di Tengah Hutan
31
#31: Perundungan
32
#32: Memainkan Trik di Depan Kaisar?
33
#33: Rencana Pembunuhan
34
#34: Tahap empat
35
#35: Mereka Lagi!
36
#36: Pedang Agung Menebas Bumi!
37
#37: Kamar Dagang Kai
38
#38: Menunjukkan Identitas
39
#39: Informasi Hutan Kematian Liar dan Hubungan Kerja Sama
40
#40: Hutan Kematian Liar
41
#41: Meremehkan Sang Kaisar?
42
#42: Kelompok Taring Serigala
43
#43: Persiapan dan Drama Murahan
44
#44: Pencurian di Bawah Hidung
45
#45: Penyerangan Zheng Lang
46
#46: Memotong Ikan di Talenan
47
#47: Inti Formasi Tahap 5
48
#48: Pedang Rusak
49
#49: Keluar dan Perselisihan Kamar Dagang Gong
50
#50: Pengepungan yang meriah
51
#51: Pembantaian
52
#52: Mengenang Masa Lalu
53
#53: Kapan kalian berpacaran?
54
#54: Puncak Abadi
55
#55: Master Sekte Pedang Giok!
56
#56: Persiapan
57
#57: Pengganggu di tengah hutan
58
#58: Lembah Tak Bertuan
59
#59: Alam Rahasia Misterius
60
Chapter 060: Pembantaian Seorang Diri
61
Chapter 061: Seratus ribu tahun lamanya
62
Chapter 062: Seorang manusia dan seekor banteng hitam
63
Chapter 063: Ketahuan!
64
Chapter 064: Pedang Agung Menebas Bumi - Fase Dua!
65
Chapter 065: Ujian seratus langkah
66
Chapter 066: Keinginan Naga Api dan Phoenix Es
67
Chapter 067: Tertinggal dan terjebak bersama
68
Chapter 068: Monster Tua
69
Chapter 069: Memanen tubuh Kaisar Monster
70
Chapter 070: Kekacauan di Kota Dagang Luo
71
Chapter 071: Ketakutan para pasukan
72
Chapter 072: Lari!
73
Chapter 073: Legenda Sang Kaisar
74
Chapter 074: Strategi cerdas Qin Xiang
75
Chapter 075: Telapak tangan agung
76
Chapter 076: Ketamakan Tetua Agung
77
Chapter 077: Prinsip Seorang Kaisar
78
Chapter 078: Sore yang berat
79
Chapter 079: Kedatangan Qin Xiang
80
Chapter 080: Syarat dan Penyelesaian Instan
81
Chapter 081: Ikatan masa lalu
82
Chapter 082: Raja Iblis dan ide buruknya
83
Chapter 083: Inti Naga!
84
Chapter 084: Suasana di teras paviliun
85
Chapter 085: Qu Xiao Lian dalam bahaya!
86
Chapter 086: Tuan Muda Ke-7
87
Chapter 087: Pengumuman Turnamen
88
Chapter 088: Rumah
89
Chapter 089: Politik dan Pertunangan
90
Chapter 090: Aku hanya ingin berkultivasi
91
Chapter 091: Merawat Orang Tua adalah Kewajiban!
92
Chapter 092: Keberanian Qin Xuan
93
Chapter 093: Kekacauan di Istana
94
Chapter 094: Hubungan buruk ayah dan anak
95
Chapter 095: Rencana Shu Lianmen
96
Chapter 096: Kenalan Qin Xiang
97
Chapter 097: Pembukaan Turnamen
98
Chapter 098: Pembukaan Turnamen II
99
Chapter 099: Pertaruhan
100
Chapter 100: Menunjukkan taring pada dunia
101
Chapter 101: Melawan Qin Huangli
102
Chapter 102: Rencana licik Ling Zhan
103
Chapter 103: Ilusi rendahan
104
Chapter 104: Qin Xiang melawan Qin Hua
105
Chapter 105: Qin Xiang melawan Qin Hua (II)
106
Chapter 106: Qin Xiang melawan Qin Hua (III)
107
Chapter 107: Tuan Muda Pertama dan Ketujuh
108
Chapter 108: Kemenangan
109
Chapter 109: Ulang Tahun ke-17 Tahun
110
Chapter 110: Bertemu Leluhur Agung
111
Chapter 111: Aku ingin Shu Rongrong!
112
Chapter 112: Aku akan menjadi raja
113
Chapter 113: Keputusan Leluhur
114
Chapter 114: Keputusan Terakhir dan Kesengsaraan Petir
115
Chapter 115: Naga Petir
116
Chapter 116: Kesengsaraan Ilahi
117
Chapter 117: Tanggapan Para Ahli Kuat
118
Chapter 118: Alkemis bermarga Wang dan Zong
119
Chapter 119: Pemanenan Tanaman Herbal
120
Chapter 120: Dicurangi
121
Chapter 121: Babak Pemurnian Pil
122
Chapter 122: Kau Lolos
123
Chapter 123: Istirahat dan Informasi
124
Chapter 124: Pemulihan Pil
125
Chapter 125: Persaingan
126
Chapter 126: Kelicikan Wang Shang
127
Chapter 127 : Pil Peringkat Bumi—2 Vein
128
Chapter 128: Kebencian Wang Shang
129
Chapter 129: Kerja Sama
130
Chapter 130: Penjudi buruk
131
Chapter 131: Percakapan Tentang Kondisi Saat Ini
132
Chapter 132: Rumah Judi
133
Chapter 133: Kemarahan Master Kong
134
Chapter 134: Diskon Master Kong
135
Chapter 135: Teknik Elemen
136
Chapter 136: Penempaan Senjata Rusak
137
Chapter 137: Membeli Master Pandai Besi
138
Chapter 138: Nona Muda
139
Chapter 139: Kecupan Manis
140
Chapter 140: Perkembangan Kedua Faksi
141
Chapter 141: Kekalahan Tuan Muda Pertama
142
Chapter 142: Perintah Pewaris Patriark
143
Chapter 143: 99 VS 1
144
Chapter 144: Diskusi Kecil (Pengajaran Agung)
145
Chapter 145: Meninggalkan Ibukota
146
Chapter 146: Harta Karun Langit & Bumi
147
Chapter 147: Lari jika tidak ingin mati
148
Chapter 148: Penyatuan Teratai Jiwa Abadi
149
Chapter 149: Kembali ke Kota Dagang Luo
150
Chapter 150: Kembali ke Sekte Pedang Giok
151
Chapter 151: Petunjuk dari Yu Shengren
152
Chapter 152: Sahabat dan Kekasih
153
Chapter 153: Berbagi Cerita
154
Chapter 154: Ayo!
155
Chapter 155: Tugas Untuk Qu Long
156
Chapter 156: Surat dari Ibukota
157
Chapter 157: Keberanian Qu Long atau...
158
Chapter 158: Trik Qu Long
159
Chapter 159: Qu Long Kembali
160
Chapter 160: Keputusan Wang Bai
161
Chapter 161: Kabar Terbaru
162
Chapter 162: Bawa aku menemui Patriark Xiao!
163
Chapter 163: Perbincangan dengan Xiao Chang'en
164
Chapter 164: Perbincangan dengan Xiao Chang'en (II)
165
Chapter 165: Mengungkapkan Hubungan Sebenarnya
166
Chapter 166: Xiao Jing Diabaikan
167
Chapter 167: Perjalanan Kembali
168
Chapter 168: Harga Kepala Qin Xiang
169
Chapter 169: Malam Mencekam
170
Chapter 170: Pengepungan Penginapan
171
Chapter 171: Pembantaian Dimulai
172
Chapter 172: Pembantaian Bulan Sabit Merah
173
Chapter 173: Lima Belas Kaki Naga Api
174
Chapter 174: Sosok Misterius
175
Chapter 175: Kembali Ke Keluarga Qin
176
Chapter 176: Rapat
177
Chapter 177: Kehadiran Petinggi Faksi Qin Xiang
178
Chapter 178: Kong Lie Lucu
179
Chapter 179: Laporan Darurat!
180
Chapter 180: Perbatasan Utara Jatuh
181
Chapter 181: Analisis Kaisar Agung
182
Chapter 182: Pertemuan Akbar
183
Chapter 183: Rapat Akbar
184
Chapter 184: Langkah Sang Pewaris
185
Chapter 185: Langkah Tersembunyi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!