Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga

​Cahaya keemasan yang memenuhi ruangan sempit itu perlahan meredup, menyisakan keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh suara rintik hujan di luar jendela.

​Lin Chen membuka matanya. Sepasang manik mata yang biasanya dipenuhi keputusasaan itu kini memancarkan kilatan cahaya emas yang tajam sebelum kembali normal. Ia menarik napas dalam-dalam, dan seketika wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya.

​Rasa sakit yang menyiksa dadanya setiap kali ia bernapas telah hilang sepenuhnya. Lebih dari itu, ia bisa merasakan aliran energi yang kuat berdesir di dalam tubuhnya. Lin Chen buru-buru memeriksa kondisi internalnya dan menahan napas.

​Meridiannya yang dulu terputus dan hancur berkeping-keping kini telah menyatu kembali. Tidak hanya pulih, urat-urat meridiannya kini bercahaya keemasan, sepuluh kali lebih lebar dan lebih kokoh dari baja! Jika meridian manusia biasa diibaratkan seperti parit kecil, maka meridian Lin Chen saat ini adalah sungai besar yang menderu.

​"Hmph, jangan bertingkah seperti orang udik yang baru pertama kali melihat dunia."

​Suara kuno yang serak itu kembali bergema di dalam pikiran Lin Chen.

​Lin Chen terkesiap, segera melihat ke sekeliling ruangan sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari dalam kepalanya. "Siapa di sana? Keluar!"

​"Bocah bodoh, aku ada di dalam Lautan Kesadaranmu, tepat di dalam sisik hitam yang selama ini kau gantung di lehermu," dengus suara itu, terdengar sedikit arogan. "Kau bisa memanggilku Mo Xuan. Aku adalah roh sisa yang tertidur di dalam Sisik Naga Primordial ini selama ribuan tahun, sampai darahmu membangunkanku."

​"Mo Xuan? Sisik Naga Primordial?" Lin Chen menyentuh dadanya. Sisik hitam usang itu kini telah menghilang, menyatu dengan tubuhnya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku?"

​"Meridian fanamu yang rapuh itu telah kuhancurkan sepenuhnya dan kuganti dengan Meridian Naga," jelas Mo Xuan. "Ibumu bukanlah manusia biasa, bocah. Ia meninggalkan sisik ini untuk melindungimu, tapi butuh darah yang mengandung keputusasaan dan keinginan membunuh yang ekstrim untuk memecahkan segelnya."

​Mendengar kata 'ibu', hati Lin Chen bergetar. Selama ini ayahnya selalu bungkam mengenai identitas ibunya.

​"Kau tahu di mana ibuku?" tanya Lin Chen dengan nada mendesak.

​"Dengan kekuatanmu yang bahkan tidak mencapai Ranah Pengumpulan Qi, mengetahui hal itu sekarang hanya akan mengantarmu pada kematian," jawab Mo Xuan dingin, menyiramkan air es ke harapan Lin Chen. "Dunia ini jauh lebih luas dari yang kau bayangkan. Jika kau ingin mencari ibumu, dan jika kau ingin membalas dendam pada orang-orang yang menginjak-injakmu, kau harus menjadi kuat!"

​Lin Chen terdiam, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mo Xuan benar. Tanpa kekuatan, ia hanyalah serangga yang bisa diinjak siapa saja, seperti yang dilakukan Lin Lang padanya hari ini.

​"Bagaimana caranya? Meridianku memang sudah pulih, tapi aku telah tertinggal tiga tahun dari generasi sebayaku," ucap Lin Chen.

​Mo Xuan tertawa keras, tawanya menggetarkan jiwa Lin Chen. "Tertinggal? Dengan Meridian Naga dan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga, kau akan menelan mereka semua bulat-bulat! Tutup matamu dan fokuskan pikiranmu."

​Lin Chen segera duduk bersila dan menutup matanya. Tiba-tiba, aliran informasi yang sangat besar membanjiri otaknya. Barisan aksara emas kuno melayang di dalam kesadarannya, membentuk sebuah gulungan teknik kultivasi.

​[Seni Pemakan Surga Sembilan Naga]

​Teknik ini bukanlah metode kultivasi biasa yang menyerap Qi spiritual alam secara perlahan. Sesuai namanya, teknik ini memakan segala bentuk energi di langit dan bumi secara paksa. Pil, tanaman obat, racun, bahkan aura pertarungan—semuanya dapat ditelan dan diubah menjadi Qi murni di dalam tubuh penggunanya!

​"Teknik yang mengerikan..." gumam Lin Chen, keringat dingin menetes dari dahinya. Di dunia kultivasi ortodoks, teknik yang menelan kekuatan secara paksa sering dianggap sebagai ilmu iblis.

​"Iblis atau dewa, itu hanya sebutan yang dibuat oleh mereka yang lemah!" cemooh Mo Xuan. "Cobalah putar sirkulasi Qi-mu sesuai dengan bait pertama teknik itu."

​Lin Chen membuang keraguannya. Ia mulai mengatur napasnya dan menjalankan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga.

​Seketika itu juga, udara di dalam kamarnya bergejolak. Energi spiritual yang tipis di udara malam tiba-tiba tersedot dengan ganas ke arah tubuhnya, membentuk pusaran angin kecil. Qi spiritual itu masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir ke dalam Meridian Naga dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Krak!

​Suara tulang yang bergeser dan otot yang mengencang terdengar dari dalam tubuh Lin Chen.

​Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 1!

​Lin Chen tidak berhenti. Meridian naganya seperti lubang hitam yang tak pernah puas, terus melahap energi dari sekitarnya. Tiga tahun tertahan tanpa kemajuan, energi yang selama ini terbuang seolah terkompresi dan kini meledak keluar.

​Bum!

Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 2!

​Bum!

Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 3!

​Hanya dalam waktu satu jam bernapas, Lin Chen berhasil menembus tiga tingkatan sekaligus, berhenti tepat di puncak Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 4.

​Ketika ia membuka mata, energi berlebih menghempas perabotan kayu di kamarnya hingga bergeser. Lin Chen menghela napas panjang, mengeluarkan uap keruh dari mulutnya. Ia merasakan kekuatan ledakan di setiap otot tubuhnya. Pukulan biasa darinya sekarang bisa dengan mudah menghancurkan batu karang.

​Namun, bau busuk yang menyengat segera menyadarkannya. Ia menunduk dan melihat seluruh permukaan kulitnya tertutup oleh cairan kental berwarna hitam pekat. Itu adalah kotoran dan racun yang mengendap di dalam tubuhnya selama bertahun-tahun, yang kini dipaksa keluar oleh Qi murni.

​Lin Chen bergegas keluar kamar menembus hujan malam, menuju ke sumur tua di halaman belakang. Ia menimba air es dan mengguyurkannya ke sekujur tubuhnya, membersihkan lapisan hitam tersebut.

​Di bawah cahaya bulan yang mulai menyingsing dari balik awan, kulit Lin Chen yang sebelumnya pucat dan penuh bekas luka kini berubah menjadi bersih, kencang, dan sekuat tembaga. Tubuh kurusnya telah tergantikan oleh otot-otot ramping yang proporsional.

​Ia menatap pantulan dirinya di genangan air hujan. Kilat tekad memancar kuat dari matanya.

​"Lin Lang, Tetua Klan... kalian pikir kalian bisa membuangku begitu saja?" Lin Chen menyeringai dingin, hawa membunuh tipis menguar dari tubuhnya. "Ujian Klan bulan depan akan menjadi panggung di mana aku mengambil kembali semua yang menjadi milikku."

Terpopuler

Comments

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

🐲🐲🐲🐲🐲🐲🔥🔥🔥🔥

2026-07-29

0

GEDE JAYANEGARA

GEDE JAYANEGARA

ngeen

2026-06-27

0

Jade Meamoure

Jade Meamoure

koq aneh masa' anak ketua klan d jahatin gitu trus ayahnya ngapain aja anak d biarin gitu ya

2026-05-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2 Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3 Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4 Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5 Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6 Bab 6: Ujian Klan
7 Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8 Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9 Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11 Bab 11: Arena Berdarah
12 Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13 Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14 Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15 Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16 Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17 Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18 Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19 Bab 19: Lembah Api Penyucian
20 Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21 Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22 Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23 Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24 Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25 Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26 Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27 Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28 Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29 Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30 Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31 Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32 Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33 Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34 Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35 Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36 Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37 Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38 Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39 Bab 39: Eliminasi Massal
40 Bab 40: Mematahkan Ilusi
41 Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42 Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43 43: Utusan dari Alam Atas
44 Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45 Bab 45: Danau Darah Korosif
46 Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47 Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48 Bab 48: Penghancuran Mutlak
49 Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50 Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51 Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52 Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53 Bab 53: Asosiasi Alkemis
54 Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55 Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56 Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57 Bab 57: Transaksi Berdarah
58 Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59 Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60 Bab 60: Ujian Bayangan
61 Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62 Bab 62: Penjaga Buta
63 Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64 Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65 Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66 Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67 Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68 Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69 Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70 Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71 Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72 Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73 Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74 Bab 74: Hadiah Dewi Es
75 Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76 Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77 Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78 Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79 Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80 Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81 Bab 81: Terowongan Bayangan
82 Bab 82: Sumur yang Kering
83 Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84 Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85 Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86 Bab 86: Lorong Berdarah
87 Bab 87: Gravitasi Neraka
88 Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89 Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90 Bab 90: Hantu Makam Pedang
91 Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92 Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93 Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94 Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95 Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96 Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97 Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98 Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99 Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100 Bab 100: Karya Seni Iblis
101 Bab 101: Darah di Fajar Hari
102 Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103 Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104 Bab 104: Pesan Berdarah
105 Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106 Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107 Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108 Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109 Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110 Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111 Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112 Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113 Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114 Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115 Kemegahan Dinasti Awan Emas
116 Kaisar Murka
117 Murka Dewa Pedang Bintang
118 Gurun Bintang Jatuh
119 Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120 Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121 Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122 Pembantaian Taman Surgawi
123 Tangan Dewa yang Runtuh
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2
Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3
Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4
Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5
Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6
Bab 6: Ujian Klan
7
Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8
Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9
Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11
Bab 11: Arena Berdarah
12
Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13
Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14
Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15
Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16
Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17
Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18
Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19
Bab 19: Lembah Api Penyucian
20
Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21
Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22
Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23
Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24
Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25
Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26
Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27
Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28
Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29
Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30
Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31
Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32
Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33
Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34
Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35
Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36
Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37
Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38
Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39
Bab 39: Eliminasi Massal
40
Bab 40: Mematahkan Ilusi
41
Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42
Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43
43: Utusan dari Alam Atas
44
Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45
Bab 45: Danau Darah Korosif
46
Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47
Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48
Bab 48: Penghancuran Mutlak
49
Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50
Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51
Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52
Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53
Bab 53: Asosiasi Alkemis
54
Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55
Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56
Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57
Bab 57: Transaksi Berdarah
58
Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59
Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60
Bab 60: Ujian Bayangan
61
Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62
Bab 62: Penjaga Buta
63
Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64
Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65
Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66
Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67
Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68
Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69
Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70
Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71
Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72
Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73
Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74
Bab 74: Hadiah Dewi Es
75
Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76
Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77
Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78
Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79
Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80
Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81
Bab 81: Terowongan Bayangan
82
Bab 82: Sumur yang Kering
83
Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84
Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85
Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86
Bab 86: Lorong Berdarah
87
Bab 87: Gravitasi Neraka
88
Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89
Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90
Bab 90: Hantu Makam Pedang
91
Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92
Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93
Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94
Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95
Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96
Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97
Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98
Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99
Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100
Bab 100: Karya Seni Iblis
101
Bab 101: Darah di Fajar Hari
102
Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103
Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104
Bab 104: Pesan Berdarah
105
Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106
Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107
Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108
Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109
Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110
Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111
Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112
Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113
Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114
Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115
Kemegahan Dinasti Awan Emas
116
Kaisar Murka
117
Murka Dewa Pedang Bintang
118
Gurun Bintang Jatuh
119
Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120
Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121
Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122
Pembantaian Taman Surgawi
123
Tangan Dewa yang Runtuh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!