Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam

​Hujan turun dengan lebat, mengguyur halaman belakang Kediaman Klan Lin di Kota Awan Merah. Suara rintik hujan tersamarkan oleh bunyi hantaman keras yang berulang-ulang.

​Bruk! Bruk! Bruk!

​Seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun terus meninju tiang kayu besi yang tebal. Pakaiannya basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang kurus namun dipenuhi luka. Buku-buku jarinya telah robek, mengeluarkan darah segar yang bercampur dengan air hujan, tetapi ia seolah tidak merasakan sakit.

​Namanya Lin Chen.

​"Tiga tahun..." gumam Lin Chen dengan gigi terkatup. Matanya menatap tiang kayu itu dengan kebencian dan ketidakberdayaan yang mendalam. "Sudah tiga tahun sejak meridianku dihancurkan. Apakah aku benar-benar ditakdirkan menjadi sampah seumur hidupku?"

​Dulu, pada usia dua belas tahun, Lin Chen adalah kebanggaan Klan Lin. Ia menembus Ranah Pengumpulan Qi di usia yang sangat muda, dijuluki sebagai jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, sebuah serangan mendadak dari sosok bertopeng misterius di malam hari menghancurkan semua meridian di tubuhnya.

​Dalam dunia kultivasi, tanpa meridian yang utuh, seseorang tidak akan bisa menampung Qi spiritual alam. Dari seorang jenius yang dipuja, Lin Chen jatuh menjadi "sampah" yang dihina oleh semua orang, bahkan oleh keluarganya sendiri.

​"Yo, lihat siapa yang sedang berlatih. Bukankah ini mantan jenius kita, Saudara Sepupu Lin Chen?"

​Sebuah suara penuh nada ejekan terdengar dari koridor beratap di dekat halaman. Sekelompok remaja berpakaian sutra mewah berjalan mendekat. Pemimpinnya adalah seorang pemuda bertubuh tegap dengan senyum angkuh, Lin Lang.

​Lin Lang saat ini berada di Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 7, salah satu talenta terbaik generasi muda Klan Lin saat ini. Gelar yang dulu disandang oleh Lin Chen.

​Lin Chen menghentikan pukulannya, menatap dingin ke arah kelompok itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​"Masih bermimpi untuk memulihkan meridianmu?" Lin Lang tertawa sinis, melangkah menembus hujan dengan sebuah payung kertas minyak yang dipegang oleh pelayannya. "Terimalah kenyataan, Lin Chen. Kau sekarang hanyalah beban bagi klan. Tadi pagi, Tetua Klan telah memutuskan untuk memotong jatah sumber daya bulananmu menjadi nol. Ramuan obat tidak berguna untuk tubuh yang bocor sepertimu!"

​Mendengar itu, Lin Chen mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. "Keputusan Tetua? Atau akal-akalan ayahmu yang ingin mengambil jatah ramuanku untukmu?"

​Wajah Lin Lang menggelap. Ia mendengus dingin dan tiba-tiba melesat ke depan. Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti oleh mata Lin Chen yang tidak memiliki Qi.

​Brak!

​Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dada Lin Chen. Remaja itu terlempar ke belakang, menghantam dinding batu dan memuntahkan seteguk darah. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di dadanya, memperparah luka lama di meridiannya.

​"Jaga mulutmu, Sampah!" Lin Lang menatap jijik dari atas. "Jika bukan karena Paman Lin (ayah Lin Chen) masih menjabat sebagai Kepala Klan secara nominal, aku sudah melemparmu keluar dari kediaman ini. Ingat posisimu!"

​Setelah membuang ludah, Lin Lang berbalik dan pergi bersama pengikutnya yang tertawa terbahak-bahak.

​Lin Chen bersandar di dinding batu yang dingin, terbatuk beberapa kali. Hujan membasuh darah di wajahnya. Mata remajanya menyala dengan api ketidakadilan yang tak kunjung padam. Yang kuat memangsa yang lemah. Di dunia ini, tanpa kekuatan, kau bahkan tidak punya hak untuk bernapas!

​Dengan susah payah, ia bangkit dan menyeret tubuhnya kembali ke kamar kayunya yang usang.

​Begitu tiba di dalam, Lin Chen duduk bersila di atas ranjang yang keras. Ia mencoba bermeditasi, menarik Qi spiritual di sekitarnya. Namun, seperti menuangkan air ke dalam keranjang bambu, energi itu masuk ke tubuhnya dan langsung bocor keluar melalui meridiannya yang hancur.

​Lin Chen membuka matanya, tertawa getir. Keputusasaan mulai merayap di hatinya.

​Ia merogoh ke balik kerah bajunya, menarik sebuah benda yang tergantung di lehernya dengan seutas tali kain kasar. Itu adalah sebuah sisik hitam pekat seukuran telapak tangan. Permukaannya kasar dan tidak memancarkan aura apa pun. Ini adalah satu-satunya benda peninggalan ibunya sebelum sang ibu menghilang secara misterius saat ia masih bayi.

​"Ibu... apakah Surga benar-benar tidak menyisakan satu jalan pun untukku?" bisiknya parau.

​Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam meledak dari dadanya akibat tendangan Lin Lang tadi. Lin Chen terbatuk keras, memuntahkan darah segar pekat yang tidak sengaja jatuh tepat ke atas permukaan sisik hitam tersebut.

​Tring!

​Pada detik itu juga, sesuatu yang luar biasa terjadi.

​Darah Lin Chen tidak menetes ke lantai, melainkan terserap habis ke dalam sisik tersebut. Sisik hitam yang selama bertahun-tahun tampak seperti batu rongsokan itu tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Suhu di dalam ruangan melonjak drastis, seolah-olah ada gunung berapi yang meletus.

​Sebelum Lin Chen sempat bereaksi, cahaya keemasan itu melesat masuk ke tengah alisnya.

​ROAAAAARRRR!

​Sebuah raungan naga purba yang menggetarkan jiwa meledak di dalam pikiran Lin Chen, membuatnya nyaris pingsan. Dunia di sekitarnya menjadi gelap gulita, dan di tengah kegelapan itu, seekor naga emas raksasa yang besarnya melebihi pegunungan menatapnya dengan sepasang mata merah menyala.

​Pada saat yang bersamaan, sebuah suara kuno dan serak bergema di lautan kesadarannya.

​"Darah keturunan yang telah lama hilang... akhirnya terbangun. Meridian yang hancur? Hah! Meridian fana ini hanya menghambat potensi darah nagamu. Biarkan kursi ini membangun ulang pondasimu dengan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga!"

​Tubuh Lin Chen di dunia nyata melayang beberapa sentimeter dari ranjangnya. Energi spiritual berwarna keemasan menyerbu masuk secara brutal ke dalam tubuhnya, tidak untuk menghancurkan, melainkan untuk menyatukan dan memperbaiki setiap inci meridiannya yang terputus, membuatnya seratus kali lebih lebar dan lebih kokoh dari sebelumnya.

Terpopuler

Comments

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

Ranah Pengumpul Qi dibilang Jenius ?! itu sih Ranah Kultivasi masih Tingkat Rendah. Kalau Ranah Raja atau Ranah Inti Emas mungkin saja Jenius.

2026-07-08

0

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

harusnya kalo jenius itu ranahnya sudah di atas pengumpul Q...🔥🔥🔥🔥

2026-07-29

0

Nelias

Nelias

I don't know what to say. Kebanyakkan fantasi timur.

2026-07-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2 Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3 Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4 Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5 Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6 Bab 6: Ujian Klan
7 Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8 Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9 Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11 Bab 11: Arena Berdarah
12 Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13 Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14 Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15 Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16 Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17 Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18 Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19 Bab 19: Lembah Api Penyucian
20 Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21 Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22 Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23 Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24 Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25 Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26 Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27 Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28 Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29 Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30 Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31 Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32 Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33 Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34 Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35 Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36 Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37 Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38 Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39 Bab 39: Eliminasi Massal
40 Bab 40: Mematahkan Ilusi
41 Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42 Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43 43: Utusan dari Alam Atas
44 Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45 Bab 45: Danau Darah Korosif
46 Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47 Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48 Bab 48: Penghancuran Mutlak
49 Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50 Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51 Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52 Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53 Bab 53: Asosiasi Alkemis
54 Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55 Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56 Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57 Bab 57: Transaksi Berdarah
58 Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59 Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60 Bab 60: Ujian Bayangan
61 Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62 Bab 62: Penjaga Buta
63 Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64 Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65 Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66 Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67 Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68 Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69 Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70 Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71 Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72 Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73 Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74 Bab 74: Hadiah Dewi Es
75 Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76 Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77 Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78 Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79 Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80 Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81 Bab 81: Terowongan Bayangan
82 Bab 82: Sumur yang Kering
83 Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84 Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85 Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86 Bab 86: Lorong Berdarah
87 Bab 87: Gravitasi Neraka
88 Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89 Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90 Bab 90: Hantu Makam Pedang
91 Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92 Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93 Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94 Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95 Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96 Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97 Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98 Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99 Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100 Bab 100: Karya Seni Iblis
101 Bab 101: Darah di Fajar Hari
102 Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103 Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104 Bab 104: Pesan Berdarah
105 Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106 Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107 Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108 Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109 Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110 Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111 Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112 Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113 Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114 Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115 Kemegahan Dinasti Awan Emas
116 Kaisar Murka
117 Murka Dewa Pedang Bintang
118 Gurun Bintang Jatuh
119 Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120 Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121 Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122 Pembantaian Taman Surgawi
123 Tangan Dewa yang Runtuh
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2
Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3
Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4
Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5
Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6
Bab 6: Ujian Klan
7
Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8
Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9
Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11
Bab 11: Arena Berdarah
12
Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13
Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14
Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15
Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16
Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17
Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18
Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19
Bab 19: Lembah Api Penyucian
20
Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21
Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22
Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23
Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24
Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25
Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26
Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27
Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28
Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29
Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30
Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31
Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32
Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33
Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34
Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35
Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36
Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37
Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38
Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39
Bab 39: Eliminasi Massal
40
Bab 40: Mematahkan Ilusi
41
Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42
Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43
43: Utusan dari Alam Atas
44
Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45
Bab 45: Danau Darah Korosif
46
Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47
Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48
Bab 48: Penghancuran Mutlak
49
Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50
Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51
Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52
Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53
Bab 53: Asosiasi Alkemis
54
Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55
Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56
Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57
Bab 57: Transaksi Berdarah
58
Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59
Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60
Bab 60: Ujian Bayangan
61
Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62
Bab 62: Penjaga Buta
63
Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64
Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65
Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66
Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67
Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68
Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69
Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70
Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71
Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72
Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73
Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74
Bab 74: Hadiah Dewi Es
75
Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76
Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77
Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78
Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79
Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80
Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81
Bab 81: Terowongan Bayangan
82
Bab 82: Sumur yang Kering
83
Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84
Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85
Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86
Bab 86: Lorong Berdarah
87
Bab 87: Gravitasi Neraka
88
Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89
Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90
Bab 90: Hantu Makam Pedang
91
Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92
Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93
Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94
Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95
Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96
Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97
Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98
Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99
Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100
Bab 100: Karya Seni Iblis
101
Bab 101: Darah di Fajar Hari
102
Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103
Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104
Bab 104: Pesan Berdarah
105
Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106
Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107
Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108
Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109
Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110
Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111
Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112
Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113
Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114
Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115
Kemegahan Dinasti Awan Emas
116
Kaisar Murka
117
Murka Dewa Pedang Bintang
118
Gurun Bintang Jatuh
119
Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120
Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121
Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122
Pembantaian Taman Surgawi
123
Tangan Dewa yang Runtuh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!