Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan

​Di atas dahan pohon raksasa yang rimbun, Lin Chen menekan napasnya hingga ke titik terendah. Tatapannya sedingin es, mengamati pembantaian yang terjadi di pelataran batu berlumut di bawahnya.

​"Sialan! Kenapa ada Binatang Iblis Tingkat 2 tahap awal di pinggiran pegunungan?!" umpat Wang Teng sambil memuntahkan darah. Seragam abu-abunya telah koyak, memperlihatkan zirah dalam bersisik perak yang penyok di bagian dada.

​Di depannya, Kera Berlengan Empat itu meraung buas. Tingginya mencapai tiga meter, dengan otot-otot yang menonjol seperti bongkahan batu granit. Tiga mayat murid Keluarga Wang tergeletak tak bernyawa dengan tubuh hancur di sekitar monster itu. Hanya tersisa Wang Teng dan dua pengikutnya yang gemetar ketakutan.

​Binatang Iblis Tingkat 2 setara dengan kultivator Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 7 hingga 9. Kera ini, meskipun masih di tahap awal, memiliki pertahanan fisik yang jauh melampaui manusia.

​"Tuan Muda, kita harus mundur! Monster ini sedang melindungi harta karunnya, ia akan membunuh siapa saja yang mendekat!" teriak salah satu pengikut Wang Teng dengan panik.

​"Mundur? Buah Kondensasi Tulang itu tepat ada di depan mata! Dengan buah itu, aku pasti bisa menembus Bintang 8 dan menginjak-injak Keluarga Lin di Turnamen Kota bulan depan!" Mata Wang Teng memerah penuh keserakahan. Ia menarik pedang panjangnya dan berteriak, "Kalian berdua, tahan monster itu dari kiri dan kanan! Aku akan mencari celah!"

​Kedua pengikut itu pucat pasi, namun tidak berani membantah. Mereka menerjang maju dengan senjata terhunus. Kera Berlengan Empat tertawa mengejek, mengayunkan dua lengannya yang setebal batang pohon.

​Brak! Brak!

​Tanpa ada perlawanan yang berarti, senjata kedua pengikut itu patah berkeping-keping, dan tubuh mereka terlempar menghantam tebing karang, mati seketika.

​Namun, pengorbanan mereka memberi Wang Teng celah setengah detik.

​"Mati kau, Binatang Bodoh! Pedang Angin Pembelah Awan!"

​Wang Teng melompat ke udara, memusatkan seluruh Qi Bintang 7-nya ke bilah pedangnya. Sebuah tebasan cahaya biru melesat dan menebas lurus ke arah dada kiri Kera Berlengan Empat.

​Crass!

​Darah hitam menyemprot deras. Pedang Wang Teng berhasil menembus jantung monster itu. Kera raksasa itu meraung melengking, dilanda rasa sakit yang tak tertahankan. Dalam detik-detik terakhir kematiannya, monster itu mengamuk, mengayunkan keempat lengannya secara membabi buta dan menghantam tubuh Wang Teng di udara.

​Bruk!

​Wang Teng terhempas keras ke tanah berbatu, tulang rusuknya terdengar patah berderak. Ia memuntahkan darah berkali-kali. Kera Berlengan Empat di depannya akhirnya ambruk ke tanah dengan dentuman keras, tak lagi bernapas.

​Pelataran air terjun itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara gemuruh air.

​Wang Teng tertawa serak sambil mencengkeram dadanya. Ia memaksakan diri untuk berdiri, menyeret kakinya selangkah demi selangkah mendekati celah air terjun di mana Buah Kondensasi Tulang itu bersinar menggoda.

​"Hahaha! Pada akhirnya... aku yang menang. Buah ini milikku!" tawanya pecah, dipenuhi kebanggaan.

​Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh tanaman spiritual itu, sesosok bayangan turun dari langit tanpa suara, mendarat dengan ringan tepat di antara Wang Teng dan buah tersebut.

​Tawa Wang Teng terhenti secara tiba-tiba. Ia mendongak, matanya melebar saat melihat wajah remaja yang berdiri santai di depannya.

​Pakaian yang compang-camping, rambut basah, dan luka-luka dangkal. Meski terlihat berantakan, aura yang dipancarkan remaja itu setajam pedang yang baru diasah.

​"Lin Chen?! Si Sampah dari Keluarga Lin?!" Wang Teng berseru tak percaya. "Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah meridianmu sudah cacat?"

​Lin Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Aku dengar semboyan dunia kultivasi adalah belalang sembah menangkap jangkrik, burung oriole mengintai dari belakang. Terima kasih telah membunuh kera itu untukku, Tuan Muda Wang."

​Wajah Wang Teng memerah karena marah. "Kau berani merampokku?! Seorang cacat sepertimu berani mencari mati di hadapanku?! Bahkan jika aku terluka parah, membunuh sampah sepertimu hanya butuh satu jari!"

​Wang Teng memaksakan sisa-sisa Qi di Dantiannya, mengarahkan telapak tangannya untuk menghancurkan kepala Lin Chen.

​Lin Chen bahkan tidak berkedip. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, memusatkan energi emas dari Meridian Naga, dan menyambut serangan itu dengan telapak tangan yang memancarkan kilat biru redup.

​Tapak Guntur Pecah!

​BAM!

​Dua telapak tangan berbenturan.

​Ekspektasi Wang Teng untuk melihat lengan Lin Chen hancur berantakan musnah seketika. Sebaliknya, kekuatan ledakan yang luar biasa ganas menyapu lengannya sendiri. Tulang-tulang lengan kanan Wang Teng remuk dari pergelangan hingga bahu seperti ranting kering yang diinjak gajah.

​"ARGGGHHH!" Wang Teng menjerit melengking, terpelanting ke belakang dan jatuh berlutut. Matanya dipenuhi teror dan ketidakpercayaan. "Kekuatan fisik ini... Kau... kau berada di Bintang 6?! Mustahil! Kau telah menipu semua orang!"

​"Tebakan yang bagus, tapi kau tidak punya kesempatan untuk menceritakannya kepada siapa pun," ucap Lin Chen dingin.

​Ia melangkah maju, tangannya mencengkeram leher Wang Teng dan mengangkatnya ke udara layaknya mengangkat seekor ayam.

​"Kau tidak bisa membunuhku! Jika ayahku tahu kau membunuhku, Keluarga Wang akan meratakan Keluarga Lin sampai rata dengan tanah!" ancam Wang Teng dengan napas tersengal-sengal.

​"Di Pegunungan Kabut Darah ini, jutaan tulang telah terkubur. Menambah satu mayat lagi bukanlah masalah besar," bisik Lin Chen di telinga Wang Teng. Cengkeramannya menguat, mematahkan leher pemuda itu dengan suara krak yang renyah.

​Mata Wang Teng membelalak kosong. Sang jenius Keluarga Wang mati di tempat yang tak dikenal, oleh tangan seseorang yang selama ini ia sebut sampah.

​Lin Chen melemparkan mayat Wang Teng ke sungai beraliran deras di bawah air terjun, membiarkan arus menghilangkan jejaknya. Ia kemudian berbalik, mengambil Buah Kondensasi Tulang beserta tanaman akarnya, dan menyeret bangkai Kera Berlengan Empat masuk ke dalam gua dangkal di balik tirai air terjun.

​"Kerja bagus. Kau tidak ragu mencabut rumput hingga ke akarnya. Belas kasihan hanya akan mengundang balas dendam di masa depan," puji Mo Xuan dari dalam lautan kesadarannya.

​Lin Chen tidak membuang waktu. Ia duduk bersila di samping bangkai kera. Pertama, ia menggunakan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga pada mayat monster tersebut. Energi sisa dari Binatang Iblis Tingkat 2 mengalir masuk bak ombak besar, merebus darah Lin Chen.

​Selanjutnya, ia menelan Buah Kondensasi Tulang ke dalam mulutnya. Buah itu meleleh menjadi cairan sejuk, bergejolak menembus tenggorokannya menuju Dantian.

​"Murnikan!" batin Lin Chen berteriak.

​Seni Pemakan Surga Sembilan Naga berputar dengan kecepatan maksimal. Energi panas dari kera dan energi dingin dari buah spiritual bertabrakan di dalam Meridian Naganya. Jika itu adalah meridian biasa, tubuh kultivator pasti sudah meledak. Namun, Meridian Naga justru menyerap ledakan energi itu dengan rakus, menggunakannya untuk memperkuat tulang, otot, dan kulit Lin Chen hingga ke tingkat seluler.

​Bum!

Lapisan penghalang di tubuhnya pecah.

Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 7!

​Energinya belum habis. Cairan perak dari Buah Kondensasi Tulang terus membungkus kerangka Lin Chen, mengubah tulangnya menjadi seputih giok dan sekeras baja murni. Qi di Dantiannya terus membengkak dan memadat.

​Tiga jam kemudian, diiringi suara letupan kecil dari dalam tulangnya...

​Bum!

Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 8!

​Lin Chen perlahan membuka matanya. Segumpal udara keruh yang ia hembuskan meluncur tajam seperti anak panah, menembus batu dinding gua sedalam beberapa sentimeter. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan monumental yang bisa meremukkan gunung kecil.

​Loncatan dari Bintang 6 langsung menuju Bintang 8 dalam semalam adalah sesuatu yang melanggar hukum alam. Namun, inilah tirani dari Seni Pemakan Surga Sembilan Naga.

​Di luar gua, hujan badai telah reda. Cahaya matahari fajar mulai menyinari kanopi hutan, membias menembus embun pagi.

​Hari Ujian Klan telah tiba.

​Lin Chen berdiri tegak. Sisa-sisa kepolosan remajanya telah hilang sempurna, digantikan oleh ketenangan mematikan seorang raja yang siap menuntut takhtanya.

​"Lin Lang, Tetua Pertama... sudah saatnya kalian membayar hutang kalian," gumam Lin Chen. Bayangannya melesat keluar dari balik air terjun, melesat bagai anak panah menuju arah Kota Awan Merah.

Terpopuler

Comments

Edi kurnaedi Kurnaedi

Edi kurnaedi Kurnaedi

udah mandi mau ganti baju nggak ada online, waduh

2026-06-17

1

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

🔥🔥🔥🔥😂😂😂😂😎😎

2026-07-29

0

Val's

Val's

MC mandi dulu lah,, ada sungai dsitu dicuekin aja 🤪🤪🤪

2026-06-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2 Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3 Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4 Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5 Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6 Bab 6: Ujian Klan
7 Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8 Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9 Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11 Bab 11: Arena Berdarah
12 Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13 Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14 Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15 Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16 Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17 Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18 Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19 Bab 19: Lembah Api Penyucian
20 Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21 Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22 Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23 Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24 Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25 Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26 Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27 Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28 Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29 Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30 Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31 Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32 Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33 Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34 Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35 Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36 Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37 Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38 Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39 Bab 39: Eliminasi Massal
40 Bab 40: Mematahkan Ilusi
41 Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42 Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43 43: Utusan dari Alam Atas
44 Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45 Bab 45: Danau Darah Korosif
46 Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47 Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48 Bab 48: Penghancuran Mutlak
49 Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50 Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51 Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52 Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53 Bab 53: Asosiasi Alkemis
54 Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55 Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56 Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57 Bab 57: Transaksi Berdarah
58 Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59 Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60 Bab 60: Ujian Bayangan
61 Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62 Bab 62: Penjaga Buta
63 Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64 Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65 Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66 Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67 Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68 Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69 Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70 Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71 Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72 Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73 Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74 Bab 74: Hadiah Dewi Es
75 Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76 Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77 Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78 Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79 Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80 Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81 Bab 81: Terowongan Bayangan
82 Bab 82: Sumur yang Kering
83 Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84 Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85 Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86 Bab 86: Lorong Berdarah
87 Bab 87: Gravitasi Neraka
88 Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89 Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90 Bab 90: Hantu Makam Pedang
91 Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92 Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93 Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94 Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95 Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96 Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97 Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98 Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99 Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100 Bab 100: Karya Seni Iblis
101 Bab 101: Darah di Fajar Hari
102 Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103 Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104 Bab 104: Pesan Berdarah
105 Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106 Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107 Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108 Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109 Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110 Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111 Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112 Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113 Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114 Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115 Kemegahan Dinasti Awan Emas
116 Kaisar Murka
117 Murka Dewa Pedang Bintang
118 Gurun Bintang Jatuh
119 Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120 Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121 Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122 Pembantaian Taman Surgawi
123 Tangan Dewa yang Runtuh
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2
Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3
Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4
Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5
Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6
Bab 6: Ujian Klan
7
Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8
Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9
Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11
Bab 11: Arena Berdarah
12
Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13
Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14
Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15
Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16
Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17
Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18
Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19
Bab 19: Lembah Api Penyucian
20
Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21
Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22
Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23
Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24
Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25
Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26
Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27
Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28
Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29
Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30
Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31
Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32
Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33
Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34
Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35
Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36
Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37
Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38
Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39
Bab 39: Eliminasi Massal
40
Bab 40: Mematahkan Ilusi
41
Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42
Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43
43: Utusan dari Alam Atas
44
Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45
Bab 45: Danau Darah Korosif
46
Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47
Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48
Bab 48: Penghancuran Mutlak
49
Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50
Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51
Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52
Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53
Bab 53: Asosiasi Alkemis
54
Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55
Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56
Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57
Bab 57: Transaksi Berdarah
58
Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59
Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60
Bab 60: Ujian Bayangan
61
Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62
Bab 62: Penjaga Buta
63
Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64
Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65
Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66
Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67
Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68
Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69
Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70
Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71
Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72
Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73
Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74
Bab 74: Hadiah Dewi Es
75
Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76
Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77
Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78
Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79
Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80
Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81
Bab 81: Terowongan Bayangan
82
Bab 82: Sumur yang Kering
83
Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84
Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85
Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86
Bab 86: Lorong Berdarah
87
Bab 87: Gravitasi Neraka
88
Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89
Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90
Bab 90: Hantu Makam Pedang
91
Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92
Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93
Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94
Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95
Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96
Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97
Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98
Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99
Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100
Bab 100: Karya Seni Iblis
101
Bab 101: Darah di Fajar Hari
102
Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103
Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104
Bab 104: Pesan Berdarah
105
Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106
Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107
Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108
Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109
Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110
Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111
Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112
Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113
Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114
Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115
Kemegahan Dinasti Awan Emas
116
Kaisar Murka
117
Murka Dewa Pedang Bintang
118
Gurun Bintang Jatuh
119
Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120
Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121
Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122
Pembantaian Taman Surgawi
123
Tangan Dewa yang Runtuh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!