Bab 3: Balai Kitab Klan Lin

​Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar Lin Chen. Ia berdiri di tengah ruangan, melontarkan serangkaian pukulan ke udara kosong. Setiap tinjunya menghasilkan suara desingan angin yang tajam.

​"Kekuatan fisik murni dari Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 4 sungguh luar biasa," gumam Lin Chen sambil menatap kepalan tangannya. Ia merasa sepuluh kali lebih kuat dibandingkan masa kejayaannya dulu.

​"Hmph, jangan terlalu cepat berpuas diri," suara Mo Xuan tiba-seketika terdengar meremehkan di kepalanya. "Kau memang memiliki pondasi Qi yang kuat berkat Meridian Naga, tapi kau bertarung seperti anak kecil yang sedang mengamuk. Tanpa Teknik Bela Diri yang layak, kau hanya karung daging yang membuang-buang tenaga."

​Lin Chen mengangguk setuju. Dalam dunia kultivasi, Teknik Kultivasi (seperti Seni Pemakan Surga Sembilan Naga) digunakan untuk mengumpulkan dan memutar Qi, sedangkan Teknik Bela Diri adalah metode untuk melepaskan Qi tersebut menjadi serangan mematikan. Teknik bela dirinya yang lama sudah terlalu kaku dan tidak cocok dengan kekuatan ledakan yang ia miliki sekarang.

​"Aku akan pergi ke Balai Kitab Klan Lin untuk mencari teknik baru," putus Lin Chen.

​Setelah merapikan pakaiannya, Lin Chen melangkah keluar dari kediamannya yang usang. Kediaman Klan Lin sangat luas, menampung ratusan anggota keluarga utama dan cabang. Sepanjang perjalanan menuju Balai Kitab, beberapa pelayan dan murid klan menatapnya dengan pandangan merendahkan dan berbisik-bisik, namun Lin Chen mengabaikan mereka. Pandangannya lurus ke depan, tenang dan tak tergoyahkan.

​Bangunan Balai Kitab berdiri megah dengan tiga lantai. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula tingkatan teknik bela diri yang disimpan di dalamnya.

​Baru saja Lin Chen menginjakkan kaki di tangga batu menuju pintu masuk, sebuah suara yang melengking menghentikannya.

​"Berhenti di sana, Sampah! Apa kau buta huruf? Balai ini bukan tempat untuk orang cacat sepertimu!"

​Lin Chen menoleh dan melihat seorang pemuda kurus bermata licik berjalan menghampirinya. Itu adalah Lin Hai, salah satu pesuruh setia Lin Lang. Lin Hai berada di Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 3 dan selalu gemar mencari muka di hadapan tuannya dengan menindas Lin Chen.

​"Minggir, Lin Hai. Setiap anggota Klan Lin berhak masuk ke lantai pertama Balai Kitab. Tidak ada aturan yang melarangku," ucap Lin Chen datar.

​Lin Hai tertawa keras, menarik perhatian beberapa murid lain yang ada di sekitar pelataran. "Aturan? Tetua Pertama sudah memotong habis jatah sumber dayamu! Kau pikir kau masih dihitung sebagai anggota klan? Tuan Muda Lin Lang berpesan, setiap kali aku melihat wajahmu, aku harus memberimu pelajaran agar kau sadar diri!"

​Tanpa banyak bicara lagi, Lin Hai memadatkan Qi di lengan kanannya dan melayangkan tinju ke arah wajah Lin Chen. Tinju Pemecah Angin! Itu adalah teknik bela diri tingkat dasar yang cukup mematikan jika mengenai orang biasa.

​Murid-murid di sekeliling menahan napas, bersiap melihat Lin Chen kembali babak belur memuntahkan darah seperti biasanya.

​Namun, alih-alih menghindar atau meringkuk ketakutan, tatapan Lin Chen menajam. Ia tidak mundur satu inci pun. Ketika tinju Lin Hai hampir menyentuh hidungnya, Lin Chen mengangkat tangan kanannya dengan kecepatan kilat.

​Plak!

​Suara tamparan yang sangat keras dan renyah bergema di pelataran Balai Kitab.

​Tidak ada teknik bela diri yang rumit. Tidak ada gerakan mencolok. Hanya sebuah tamparan tangan kosong yang dilapisi oleh sedikit Qi dari Meridian Naga.

​"Arghhh!"

​Lin Hai menjerit histeris. Tubuhnya terpelanting di udara bagaikan layang-layang putus, berputar dua kali sebelum menghantam pilar batu dengan keras. Giginya rontok dan darah segar mengalir dari sudut mulutnya saat ia pingsan seketika.

​Keheningan mutlak menyelimuti pelataran. Rahang para murid yang menonton seolah jatuh menyentuh tanah.

​Lin Hai... seorang kultivator Bintang 3... dikalahkan dengan satu tamparan oleh si "Sampah" Lin Chen?!

​"Berisik sekali," gumam Lin Chen santai sambil mengibaskan debu dari telapak tangannya. Ia melangkahi tubuh Lin Hai yang pingsan dan berjalan masuk ke dalam Balai Kitab seolah tidak terjadi apa-apa.

​Di dalam balai, rak-rak kayu jati berjejer rapi, dipenuhi dengan ratusan gulungan bambu dan buku usang. Lin Chen mulai memilah-milah teknik tingkat dasar yang ada di rak lantai satu, mengabaikan tatapan tercengang dari Tetua Penjaga yang ternyata menyaksikan kejadian di luar dari balik jendela.

​"Buku-buku ini semuanya sampah," kritik Mo Xuan di dalam kepalanya, suaranya terdengar seperti bangsawan yang dipaksa makan makanan sisa. "Tinju Daun Gugur? Tendangan Kera Beruk? Astaga, apakah ini yang disebut teknik bela diri di era ini? Pergi ke sudut tenggara, di rak paling bawah yang tertutup debu itu."

​Mengikuti instruksi Mo Xuan, Lin Chen berjongkok dan menarik sebuah gulungan bambu hitam yang sudah setengah lapuk. Judulnya samar-samar terlihat: [Tapak Guntur Pecah - Tingkat Fana Menengah]

​"Tingkat Fana Menengah?" Mata Lin Chen berbinar. Di lantai satu, seharusnya hanya ada teknik Tingkat Fana Dasar.

​"Gulungan itu cacat dan tidak lengkap, makanya dibuang ke lantai satu," jelas Mo Xuan. "Bagi orang biasa, berlatih teknik yang tidak lengkap bisa membuat meridian meledak karena aliran Qi yang salah. Tapi dengan Meridian Nagamu, ledakan Qi sekecil itu hanya seperti gigitan nyamuk. Ambillah, teknik ini mengandalkan kekuatan ledakan brutal, sangat cocok dengan sifat kekuatanmu saat ini."

​Lin Chen mengangguk puas. Ia membawa gulungan itu ke meja pendaftaran. Tetua Penjaga menatap Lin Chen dengan penuh arti, lalu melihat judul gulungan tersebut.

​"Nak, gulungan ini tidak lengkap. Kau bisa melukai dirimu sendiri," peringat Tetua itu.

​"Saya mengerti risikonya, Tetua. Saya hanya ingin mempelajarinya untuk referensi," jawab Lin Chen sopan namun tegas.

​Setelah pendaftarannya dicatat, Lin Chen segera kembali ke kamarnya. Ia tahu bahwa mengalahkan anjing peliharaan seperti Lin Hai bukanlah pencapaian besar. Ketika Lin Lang mengetahui hal ini, pembalasannya pasti akan lebih kejam. Waktunya sebelum Ujian Klan hanya tersisa kurang dari sebulan.

​Lin Chen membuka gulungan Tapak Guntur Pecah dan mulai menghafal rute sirkulasi Qi-nya.

​"Jika kau hanya mengandalkan energi spiritual tipis di udara klan ini, bahkan dengan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga, kau tidak akan sempat mengejar Lin Lang," kata Mo Xuan memecah konsentrasi Lin Chen. "Teknikmu butuh asupan energi yang masif. Darah, daging, dan inti spiritual dari Binatang Iblis (Demonic Beasts) adalah makanan terbaik."

​Lin Chen menutup gulungan di tangannya, matanya menatap tajam ke arah jendela, menembus dinding kediaman klan menuju ke utara kota. Di sana, membentang pegunungan gelap yang diselimuti kabut tebal.

​"Pegunungan Kabut Darah," gumam Lin Chen. Tempat paling berbahaya di sekitar Kota Awan Merah, surga bagi para pemburu liar dan mimpi buruk bagi kultivator lemah. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita berburu."

Terpopuler

Comments

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

gini nih kalo jd mc tegas tanpa kompromi,langsung hajar siapa yang menghalangi.

2026-07-29

0

Val's

Val's

good job,,, MC yg kyak gini yg aku suka,, gak naif,, kalau ada yg rezee lnsung hajar aja,, 🤪

2026-06-12

2

yos helmi

yos helmi

👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪

2026-05-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2 Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3 Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4 Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5 Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6 Bab 6: Ujian Klan
7 Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8 Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9 Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11 Bab 11: Arena Berdarah
12 Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13 Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14 Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15 Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16 Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17 Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18 Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19 Bab 19: Lembah Api Penyucian
20 Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21 Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22 Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23 Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24 Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25 Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26 Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27 Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28 Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29 Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30 Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31 Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32 Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33 Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34 Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35 Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36 Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37 Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38 Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39 Bab 39: Eliminasi Massal
40 Bab 40: Mematahkan Ilusi
41 Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42 Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43 43: Utusan dari Alam Atas
44 Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45 Bab 45: Danau Darah Korosif
46 Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47 Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48 Bab 48: Penghancuran Mutlak
49 Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50 Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51 Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52 Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53 Bab 53: Asosiasi Alkemis
54 Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55 Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56 Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57 Bab 57: Transaksi Berdarah
58 Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59 Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60 Bab 60: Ujian Bayangan
61 Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62 Bab 62: Penjaga Buta
63 Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64 Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65 Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66 Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67 Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68 Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69 Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70 Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71 Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72 Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73 Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74 Bab 74: Hadiah Dewi Es
75 Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76 Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77 Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78 Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79 Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80 Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81 Bab 81: Terowongan Bayangan
82 Bab 82: Sumur yang Kering
83 Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84 Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85 Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86 Bab 86: Lorong Berdarah
87 Bab 87: Gravitasi Neraka
88 Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89 Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90 Bab 90: Hantu Makam Pedang
91 Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92 Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93 Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94 Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95 Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96 Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97 Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98 Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99 Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100 Bab 100: Karya Seni Iblis
101 Bab 101: Darah di Fajar Hari
102 Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103 Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104 Bab 104: Pesan Berdarah
105 Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106 Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107 Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108 Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109 Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110 Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111 Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112 Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113 Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114 Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115 Kemegahan Dinasti Awan Emas
116 Kaisar Murka
117 Murka Dewa Pedang Bintang
118 Gurun Bintang Jatuh
119 Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120 Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121 Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122 Pembantaian Taman Surgawi
123 Tangan Dewa yang Runtuh
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam
2
Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
3
Bab 3: Balai Kitab Klan Lin
4
Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
5
Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
6
Bab 6: Ujian Klan
7
Bab 7: Menghancurkan Kesombongan dalam Satu Serangan
8
Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
9
Bab 9: Penjelasan dan Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Mandi Darah Naga dan Terobosan Ranah Pengumpulan Qi
11
Bab 11: Arena Berdarah
12
Bab 12: Pedang Awan yang Patah
13
Bab 13: Menginjak Tiga Pedang, Mengguncang Kota
14
Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual
15
Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
16
Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau
17
Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
18
Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
19
Bab 19: Lembah Api Penyucian
20
Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
21
Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
22
Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama
23
Bab 23: Ujian Peringkat Luar
24
Bab 24: Menghancurkan Setengah Inti Emas
25
Bab 25: Gerbang Pelataran Dalam dan Puncak Pedang Patah
26
Bab 26: Angin Pedang Purba dan Pemadatan Emas
27
Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang
28
Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata
29
Bab 29: Ketenangan Sebelum Badai
30
Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh
31
Bab 31: Keadilan Pedang Berat
32
Bab 32: Bintang yang Melampaui Awan
33
Bab 33: Hutan Kutukan Iblis
34
Bab 34: Benturan Fisik Absolut
35
Bab 35: Menghancurkan Bayangan
36
Bab 36: Ibukota Bintang Surgawi
37
Bab 37: Lelang Bintang Jatuh
38
Bab 38: Pemurnian Teratai Matahari
39
Bab 39: Eliminasi Massal
40
Bab 40: Mematahkan Ilusi
41
Bab 41: Kemurkaan Kaisar
42
Bab 42: Penindasan Garis Keturunan
43
43: Utusan dari Alam Atas
44
Bab 44: Dunia Tulang Kuno
45
Bab 45: Danau Darah Korosif
46
Bab 46: Kejatuhan Jenius Alam Atas
47
Bab 47: Inti Emas Nirwana dan Penyergapan Seratus Ribu Pasukan
48
Bab 48: Penghancuran Mutlak
49
Bab 49: Merobek Langit dan Guncangan di Alam Atas
50
Bab 50: Hukum Alam Atas dan Skala Dunia yang Sesungguhnya
51
Bab 51: Menelan Kesombongan dan Karavan Ujung Hutan
52
Bab 52: Tembok Raksasa Seribu Awan
53
Bab 53: Asosiasi Alkemis
54
Bab 54: Eksperimen Gila Grandmaster Yan
55
Bab 55: Enam Bulan Penyamaran
56
Bab 56: Kapal Terbang Pedang Langit
57
Bab 57: Transaksi Berdarah
58
Bab 58: Samudra Tanpa Dasar
59
Bab 59: Gudang Herbal Tingkat Bumi
60
Bab 60: Ujian Bayangan
61
Bab 61: Perjamuan Pemadatan Pil
62
Bab 62: Penjaga Buta
63
Bab 63: Pergerakan dalam Bayangan
64
Bab 64: Kabut Hijau dan Pisau Sang Pembunuh
65
Bab 65: Pembantaian di Rawa Asam
66
Bab 66: Bayangan Mo Xuan dan Kematian di Tengah Malam
67
Bab 67: Kematian yang Wajar dan Bayangan Pedang Langit
68
Bab 68: Akar Naga Darah yang Mengamuk
69
Bab 69: Rencana Penyusupan Sekte
70
Bab 70: Kapal Angkasa Menuju Sarang Musuh
71
Bab 71: Hierarki Pelataran Luar
72
Bab 72: Amukan Singa Sisik Api
73
Bab 73: Dokter Hewan Iblis
74
Bab 74: Hadiah Dewi Es
75
Bab 75: Jurang Evolusi Dantian
76
Bab 76: Sang Penjinak Bayangan
77
Bab 77: Penjarahan Puncak Es
78
Bab 78: Sang Anak Surgawi dan Benturan Dua Tatapan
79
Bab 79: Investigasi Buta dan Runtuhnya Puncak Es
80
Bab 80: Kemegahan Puncak Matahari
81
Bab 81: Terowongan Bayangan
82
Bab 82: Sumur yang Kering
83
Bab 83: Parade Kehormatan dan Jatuhnya Sang Dewa Matahari
84
Bab 84: Tembusnya Sang Tiran
85
Bab 85: Umpan Hidup dan Pintu Gerbang Makam Kuno
86
Bab 86: Lorong Berdarah
87
Bab 87: Gravitasi Neraka
88
Bab 88: Hancurnya Kesombongan
89
Bab 89: Penjarahan Makam Kuno
90
Bab 90: Hantu Makam Pedang
91
Bab 91: Gerbang Keputusasaan dan Akting Kelas Surga
92
Bab 92: Kehancuran dari Dalam
93
Bab 93: Kiamat Spiritual dan Runtuhnya Surga Abadi
94
Bab 94: Gerbang Kota Dosa
95
Bab 95: Paviliun Lelang Bulan Hitam
96
Bab 96: Penyergapan di Malam Berdarah
97
Bab 97: Kejatuhan Sekte Racun Darah
98
Bab 98: Bangkitnya Sang Kaisar Iblis
99
Bab 99: Lahirnya Sembilan Naga
100
Bab 100: Karya Seni Iblis
101
Bab 101: Darah di Fajar Hari
102
Bab 102: Kedatangan Para Pemburu
103
Bab 103: Bisnis Darah dan Undangan Menuju Jurang
104
Bab 104: Pesan Berdarah
105
Bab 105: Penyatuan Kota Dosa dan Latihan di Ambang Neraka
106
Bab 106: Parade Kematian di Simpang Dosa
107
Bab 107: Berbarisnya Legiun Iblis
108
Bab 108: Hujan Darah di Puncak Suci
109
Bab 109: Benturan Dua Era dan Runtuhnya Fosil Dewa Pedang
110
Bab 110: Rahasia Benua Tengah dan Utusan Bintang Jatuh
111
Bab 111: Dermaga Ujung Langit
112
Bab 112: Mengarungi Lautan Void
113
Bab 113: Injakkan Kaki di Benua Tengah
114
Bab 114: Guncangan di Surga Barat
115
Kemegahan Dinasti Awan Emas
116
Kaisar Murka
117
Murka Dewa Pedang Bintang
118
Gurun Bintang Jatuh
119
Bab 119: Invasi ke Langit Bintang
120
Bab 120: Hujan Darah di Alam Langit Bintang
121
Kiamat Bintang dan Robeknya Tirai Keabadian
122
Pembantaian Taman Surgawi
123
Tangan Dewa yang Runtuh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!