Bab 2 Pertemuan Pertama

Matahari siang itu memang terik, namun di area belakang sekolah, udara terasa lebih lembap dan berat. Seorang siswa berseragam rapi dengan langkah tenang mendekati sebuah bangunan tua yang nyaris terlupakan: gudang sekolah. Di jemarinya, terselip sebuah kunci kecil yang berkilat tertimpa cahaya.

​Ia masuk ke dalam, disambut oleh aroma debu yang menari-nari di bawah celah ventilasi. Tangannya mendekap sebuah guci keramik putih. Guci itu tidak simetris—miring dan tampak seperti produk gagal—tapi ada keindahan ganjil di sana. Di permukaannya, goresan tangan membentuk gambar burung yang seolah hendak mengejar bunga di baliknya.

​Cowok itu, Vyan, mendekati sebuah lemari tua dengan engsel yang sudah berderit karat. Ia mengusap permukaan guci itu dengan ibu jarinya, tepat di bagian bawah di mana nama ‘ZiVy’ terukir kasar. Ia menatap benda itu dengan tatapan yang sulit diartikan, penuh kerinduan sekaligus luka. Saat ia hendak mendekatkan guci itu ke wajahnya, sebuah suara memecah keheningan.

​Suara tangisan. Lirih, namun sangat pedih.

​Vyan tersentak. Ia segera meletakkan guci itu di dalam lemari, menutup pintunya dengan hati-hati, lalu melangkah menuju pintu gudang yang sedikit terbuka.

​Dari balik celah kayu, ia melihat seorang gadis duduk di atas rumput liar. Gadis itu menangis sesenggukan, bahunya naik turun, namun anehnya, ia menangis dengan cara yang sangat murni—seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Itulah Yasmin. Dalam cahaya matahari yang menyilaukan, kecantikannya tetap tampak nyata meski air mata membasahi pipinya.

​Tiba-tiba, sebuah benda kecil jatuh tepat di atas kepala Yasmin.

​"Aduh!" Yasmin terkesiap. Tangisnya berhenti seketika. Ia meraba kepalanya dan menemukan seekor burung kecil yang tampak kebingungan di sana.

​"Kenapa kamu jatuh?" tanya Yasmin dengan suara serak pasca-tangis. Ia mengangkat burung itu ke depan wajahnya. "Jangan-jangan kamu lupa caranya terbang? Hihi... kamu lebih bodoh dari aku ya."

​Vyan yang memperhatikan dari balik pintu tertegun. Perubahan ekspresi itu begitu cepat. Kesedihan yang baru saja meluap seolah sirna begitu saja, digantikan oleh senyum tulus yang kekanak-kanakan.

​"Belajar ya! Belajar! Belajar! Biar orang nggak ngetawain kamu..." Yasmin berdiri, lalu dengan hati-hati ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membiarkan burung itu mengambil ancang-ancang untuk mengepakkan sayap. Burung itu berkicau sekali sebelum akhirnya terbang menuju dahan pohon yang lebih tinggi.

​"Ya! Kamu bisa. Bagus. Kamu pintar...!" Yasmin bertepuk tangan kecil.

​Tawa Vyan pecah begitu saja dari dalam gudang. Ia tidak bisa menahannya lagi. Suasana yang tadinya melankolis mendadak terasa jenaka karena tingkah gadis itu.

​Yasmin tersentak, matanya yang bulat menatap ke arah gudang yang gelap. "Si... siapa itu?"

​"Kamu lucu. Kelihatannya kamu anak baik ya?" Suara Vyan terdengar berat namun ramah dari balik bayangan.

​Wajah Yasmin memucat. Ia mundur selangkah. "Ja... jangan-jangan kamu hantu...?"

​Vyan tertawa lagi, kali ini mencoba meredam suaranya. "Bagaimana kalau aku memang hantu? Apa kamu takut?"

​Yasmin tampak berpikir keras. Alisnya bertaut, bibirnya mengerucut sejenak. "Seperti manusia, hantu juga ada yang baik dan jahat. Kelihatannya kamu hantu baik, jadi aku tidak takut."

​"Kamu tidak takut? Bukannya hantu selalu seram?"

​"Iya sih seram... tapi kamu kan nggak bisa keluar dari sana. Soalnya ini siang hari. Hantu nggak berkeliaran di siang hari," sahut Yasmin dengan nada yakin seolah sedang menjelaskan teori ilmiah. "Kalau kamu kesepian di dalam sana, aku bisa jadi teman ngobrol kamu kalau lagi jam istirahat."

​Vyan terdiam. Ada sesuatu di dada kirinya yang berdesir. Gadis ini bukan hanya cantik, tapi dia benar-benar... berbeda.

​"Kamu memang baik. Sekarang ceritakan, kenapa tadi kamu menangis?"

​"Oh itu... nggak apa-apa. Aku menangis karena aku terlalu bodoh. Semua orang mengatakan aku bodoh."

​"Cantik, kalau merasa bodoh ya belajar. Jangan menangis."

​"Iya sih, tapi tidak ada yang mau mengajari aku. Malah Pak Andi, ternyata dia... dia hidung belang..."

​"Apa? Pak Andi guru Fisika?" Suara Vyan mendadak berubah tajam.

​"I..iya. Kok hantu tahu?"

"Apa yang dia lakukan padamu?"

"Pak Andi memaksaku les privat. Ibu tidak mengizinkan tapi... tapi... Pak Andi marah... dia pegang-pegang tanganku... "

Yasmin tampak bergidik membayangkan pengalaman buruknya. Pak Andi memegang dan mengelus tangannya. Mata itu membuatnya merinding.

​Pintu gudang itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit panjang. Mengalihkan perhatian Yasmin dari pengalaman buruknya.

Yasmin menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia setengah berharap melihat sosok transparan atau menyeramkan, tapi yang keluar justru seorang cowok dengan seragam rapi dan wajah yang sangat tampan.

​"Aku kenal semua guru di sekolah ini...," ucap Vyan sambil berjalan mendekat.

​Vyan berhenti tepat beberapa langkah di depan Yasmin. Dari jarak sedekat ini, Vyan menyadari bahwa kata 'cantik' sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan gadis di depannya. Matanya bening dengan bulu mata lebat yang masih basah, pipinya putih mulus dengan semburat merah karena panas matahari.

​Yasmin sendiri tampak gelagapan. Ia mendongak menatap langit, lalu menatap Vyan, lalu menatap bayangan Vyan di tanah.

"Ka...kamu tidak apa-apa kena sinar matahari...?"

​Vyan tertegun sejenak, lalu menyadari apa yang dipikirkan gadis itu. Ya ampun... Jadi dia benar-benar percaya aku hantu?

​"Aku Vyan, Cantik. Kelas XI IPA 3. Aku ketua OSIS. Kamu nggak tahu?"

​Yasmin menggeleng polos. Wajahnya penuh tanda tanya.

​Oh, ternyata aku tidak cukup terkenal di mata gadis ini, batin Vyan, ada sedikit rasa jengkel yang geli di hatinya.

​"Nggak apa-apa. Aku butuh laporanmu tentang Pak Andi nanti," ujar Vyan serius.

​"Aku pikir kamu hantu, makanya aku mau cerita, tapi sekarang..." Yasmin tampak bingung dan sedikit malu.

​"Ya sudahlah. Begini saja. Kamu kelas berapa?"

​"Kelas sepuluh tujuh."

​"Belajar privatnya sama aku saja, ya?"

​"Eh... kenapa?"

​"Jadi kamu merasa sudah cukup pintar?" Vyan menggoda. "Aku cuma mau bantu karena tadi kelihatannya kamu sedih sekali. Dan tenang saja, aku tidak seperti Pak Andi."

​"Memang... Kak Vyan pintar?" tanya Yasmin polos, matanya menatap jujur ke arah Vyan.

​Ya ampun! Dia menanyakannya? Dia apa nggak pernah dengar aku ini siswa teladan dan juara umum se-kotamadya? Vyan menarik napas panjang, berusaha mempertahankan senyumnya meskipun egonya sedikit tergores.

​"Setidaknya lebih pintar dari kamu. Aku kan kelas sebelas," jawab Vyan akhirnya.

​"Oh... iya juga ya. Tapi..."

​Masih ada tapi? Vyan semakin gemas.

​"Aku janji kamu tidak akan melihat Pak Andi lagi. Kita akan cari guru yang lebih baik. Setuju?" Vyan memotong pembicaraan sebelum Yasmin memberikan alasan lain. "Besok pulang sekolah, aku jemput ke kelas kamu. Siap-siap saja."

​"Vyan!" Sebuah teriakan memecah momen itu.

​Seorang cowok berambut cepak, Agil, muncul dari balik koridor dengan wajah gusar. "Ngapain di sini? Pakai matiin HP segala lagi. Semua orang sudah nunggu di ruang OSIS!"

​"Lu cerewet, Gil. Kan ada Dean yang bisa handle dulu," sahut Vyan santai.

​"Tetap saja!" Agil melirik Yasmin dengan tatapan menyelidik, lalu segera menarik lengan Vyan. "Ayo pergi sekarang!"

​"Sampai nanti, Cantik!" Vyan melambaikan tangan, meninggalkan Yasmin yang masih berdiri bengong seperti patung.

​Begitu menjauh, Agil langsung berbisik dengan nada mendesak. "Ngapain lu berduaan di tempat sepi kayak gitu sama cewek itu?"

​"Kebetulan saja. Memang kenapa?"

​"Lu nggak tahu ya? Dia itu Yasmin! Lu nggak boleh dekat-dekat sama dia, Vyan. Lu itu ketua OSIS!"

​Vyan mengernyit. "Apa hubungannya?"

​"Lu nggak dengar kabarnya? Dia itu 'Yasmin si Bodoh'."

​"Dia 'Si Cantik'...," koreksi Vyan tenang.

​"Ya, tapi bodoh!"

​"Tapi cantik..."

​Agil mendengus frustrasi. "Ya ampun, Vyan! Lu pasti pernah dengar kalau orang-orang menjauhi dia. Dia itu dituduh suka merebut pacar orang. Karena itu semua cewek di sekolah ini memusuhinya. Cowok yang mendekati dia bakal jadi musuh publik!"

​"Ya, gue pernah dengar rumornya. Jadi dia orangnya?" Vyan menoleh sekilas ke belakang, melihat sosok kecil Yasmin yang mulai menjauh. "Gue mengerti kenapa banyak cowok naksir dia, tapi dia nggak kelihatan seperti tipe tukang rebut pacar orang. Dia terlalu... polos."

​"Sudah! Pokoknya jangan terlibat. Lu harus jaga reputasi!"

​"Lu lebih cerewet dari Bunda gue, Gil," gumam Vyan sambil berjalan menuju ruang OSIS, namun pikirannya masih tertinggal pada guci miring di gudang dan gadis yang menyangka dirinya hantu.

 

Hallo! Selamat datang di karya baruku.

Tapi sebenarnya bukan karya baru. Ini udah lama jadi draft di komputer. Karya lama yang kuperbaharui.

Kalau rasanya beda, harap maklum. Dan lagi, kalau karya ini terasa jadul dan agak berantakan, mohon maaf.

Terpopuler

Comments

Sarifah_Aini97

Sarifah_Aini97

Maaf kak, aku mau tanya soalnya aku gak begitu mengerti tentang tanda seperti ini (—), dalam kondisi apa saja tanda (—) wajib digunakan dalam sebuah kalimat resmi?

2026-06-30

0

Miu.Nuha

Miu.Nuha

moga aja vyan bukan cowok popuer, tkut yasmin kena bully sama para fansnya /Whimper/

2026-05-12

0

Miu.Nuha

Miu.Nuha

harusny kamu yg hantu, nangis kek kunti gitu 🤭 ,, kukira respon vyan agk dingin, tpi humble juga...

2026-05-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2 Bab 2 Pertemuan Pertama
3 Bab 3 Eksekusi Sempurna
4 Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5 Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6 Bab 6 Permohonan Dean
7 Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8 Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9 Bab 9 Otot Vs Otak
10 Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11 Bab 11 Pematik Api
12 Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13 Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14 Bab 14 Hukuman Pertama
15 Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16 Bab 16 Menjaga dari Jauh
17 Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18 Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19 Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20 Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21 Bab 21 Ortu yang Protektif
22 Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23 Bab 23 Main Bersama
24 Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25 Bab 25 Drama di Acara Kartini
26 Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27 Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28 Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29 Bab 29 Hari Setelah Badai
30 Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31 Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32 Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33 Bab 33 Hati yang Patah
34 Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35 Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36 Bab 36 Undangan Ultah
37 Bab 37 Zaki Mencari Archie
38 Bab 38 Dunia Agil
39 Bab 39 Terjebak di Pesta
40 Bab 40 Alasan untuk Membalas
41 Bab 41 Malam yang Sama
42 Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43 Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44 Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45 Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46 Bab 46 Kesepakatan
47 Bab 47 Kencan di Mall
48 Bab 48 Identitas Penguntit
49 Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50 Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51 Bab 51 Rencana Balas Dendam
52 Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53 Bab 53 Petaka di Mall
54 Bab 54 Tentang Yasmin
55 Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56 Bab 56 Perhatian Ray
57 Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58 Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59 Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60 Bab 60 Rencana Damai
61 Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62 Bab 62 Sedikit Gesekan
63 Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64 Bab 64 Di Antara Dua Rival
65 Bab 65 Penculikan Reka
66 Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67 Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68 Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69 Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70 Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71 Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72 Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73 Bab 73 Nasihat Sang Guru
74 Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75 Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76 Bab 76 Eksistensi Vyan
77 Bab 77 Titik Balik
78 Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79 Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80 Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81 Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82 Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83 Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84 Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85 Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86 Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87 Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88 Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89 Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90 Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91 Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92 Bab 92 Razia Dadakan
93 Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94 Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95 Bab 95 Mencari Vyan
96 Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97 Bab 97 Di Rumah Sakit
98 Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99 Bab 99 Tujuh Tahun
100 Bab 100 Keluarga yang Hangat
101 Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102 Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103 Bab 103 Akhir yang Baik
104 Bab Ekstra 1
105 Bab Ekstra 2
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2
Bab 2 Pertemuan Pertama
3
Bab 3 Eksekusi Sempurna
4
Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5
Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6
Bab 6 Permohonan Dean
7
Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8
Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9
Bab 9 Otot Vs Otak
10
Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11
Bab 11 Pematik Api
12
Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13
Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14
Bab 14 Hukuman Pertama
15
Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16
Bab 16 Menjaga dari Jauh
17
Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18
Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19
Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20
Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21
Bab 21 Ortu yang Protektif
22
Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23
Bab 23 Main Bersama
24
Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25
Bab 25 Drama di Acara Kartini
26
Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27
Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28
Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29
Bab 29 Hari Setelah Badai
30
Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31
Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32
Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33
Bab 33 Hati yang Patah
34
Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35
Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36
Bab 36 Undangan Ultah
37
Bab 37 Zaki Mencari Archie
38
Bab 38 Dunia Agil
39
Bab 39 Terjebak di Pesta
40
Bab 40 Alasan untuk Membalas
41
Bab 41 Malam yang Sama
42
Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43
Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44
Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45
Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46
Bab 46 Kesepakatan
47
Bab 47 Kencan di Mall
48
Bab 48 Identitas Penguntit
49
Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50
Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51
Bab 51 Rencana Balas Dendam
52
Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53
Bab 53 Petaka di Mall
54
Bab 54 Tentang Yasmin
55
Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56
Bab 56 Perhatian Ray
57
Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58
Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59
Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60
Bab 60 Rencana Damai
61
Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62
Bab 62 Sedikit Gesekan
63
Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64
Bab 64 Di Antara Dua Rival
65
Bab 65 Penculikan Reka
66
Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67
Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68
Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69
Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70
Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71
Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72
Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73
Bab 73 Nasihat Sang Guru
74
Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75
Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76
Bab 76 Eksistensi Vyan
77
Bab 77 Titik Balik
78
Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79
Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80
Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81
Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82
Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83
Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84
Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85
Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86
Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87
Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88
Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89
Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90
Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91
Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92
Bab 92 Razia Dadakan
93
Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94
Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95
Bab 95 Mencari Vyan
96
Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97
Bab 97 Di Rumah Sakit
98
Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99
Bab 99 Tujuh Tahun
100
Bab 100 Keluarga yang Hangat
101
Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102
Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103
Bab 103 Akhir yang Baik
104
Bab Ekstra 1
105
Bab Ekstra 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!