Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Bab 1 Si Cantik yang Dirundung

​Di SMA Tunas Bangsa, ketertiban hanyalah ilusi yang dipelihara dengan sangat hati-hati. Bukan karena aturan sekolah yang kaku, melainkan karena sepasang mata yang mengawasi setiap gerak-gerik dari balik meja Ketua OSIS.

​Skandal di sekolah ini tidak dilarang—hanya perlu dikelola. Ada rahasia yang sengaja dibiarkan membusuk, tapi ada pula dosa besar yang lenyap dalam semalam seolah-olah sejarah baru saja dihapus. Semuanya terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena sang Mastermind sedang menggerakkan bidak-bidaknya.

​Ia bukan pahlawan yang datang memberantas kejahatan. Ia juga bukan monster yang menebarkan teror secara buta. Ia hanya memiliki aturannya sendiri—prinsip yang tak seorang pun tahu apa alasan di baliknya.

​Bagi ribuan pasang mata, ia adalah sosok yang tampak ramah namun tak tergapai. Ia bisa menyapa dengan senyum paling tulus, namun di saat yang sama, ia membangun jurang tak kasat mata yang membuat mereka tak bisa menyentuh dunianya. Hanya segelintir orang yang tahu siapa dia sebenarnya; mereka yang berakhir menjadi korban, atau mereka yang bertugas sebagai eksekutor.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pintu kelas terbanting keras, memutus keriuhan jam istirahat. Atikah melangkah masuk dengan napas terengah yang memburu. Wajahnya merah padam, bukan karena lelah, melainkan oleh amarah yang membakar hingga ke ujung sarafnya. Matanya yang sembap dan berair menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya terkunci pada satu titik: Yasmin.

​Yasmin yang sedang merapikan buku di bangkunya mendongak, namun belum sempat ia menyapa, bayangan Atikah sudah menjulang di depannya.

​PLAK!

​Tamparan keras itu menggema, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kelas. Yasmin terhuyung, tangannya refleks mendekap pipinya yang seketika berdenyut panas. Matanya membelalak, nanar menatap sahabatnya sendiri.

​"Dasar cewek tukang rebut pacar orang!" Teriak Atikah. Suaranya pecah, antara benci dan isak tangis yang tertahan.

​"A..apa?" Yasmin tergagap. Lidahnya mendadak kelu saat menyadari puluhan pasang mata kini tertuju padanya.

​Reka maju satu langkah, menyilangkan tangan di dada dengan senyum sinis yang menghina. "Ah, ternyata kejadian juga. Bahkan sama Atikah, teman sebangku elu pun, lu tega ngerebut pacarnya!" umpatnya, memanaskan suasana.

​"Gue bilang juga apa?" Cecil menimpali dari sudut kelas, suaranya melengking penuh kemenangan. "Udah kelihatan dari gayanya."

​"Gue nggak nyangka, Yasmin!" Atikah masih menatap dengan kebencian murni, tangannya mengepal gemetar di sisi tubuh.

​"Tidak, Atikah! Aku... aku nggak ngerebut pacar kamu. Si... siapa pacar kamu?" Suara Yasmin mencicit, ia berusaha mencari pegangan pada pinggiran meja.

​"Lu keterlaluan!"

Tanpa peringatan, Atikah merangsek maju, tangannya terjulur hendak menjambak rambut Yasmin.

​Yasmin memekik dan menghindar dengan gerakan kikuk. Tegar, yang sedari tadi menyaksikan dengan ragu, akhirnya melompat dari kursinya untuk menengahi. "Sudah-sudah! Kalian jangan ribut di kelas! Malu dilihat kelas lain!"

​"Lu jangan ikut campur, Gar!" bentak Atikah, tak sudi langkahnya dihentikan.

​"Tapi ini bukan caranya menyelesaikan masalah—"

​"Ah, cowok memang sama saja!" Cecil memotong dengan nada sengit, melirik Tegar dengan pandangan merendahkan. "Begitu melihat cewek modelan Yasmin, langsung mau jadi pahlawan kesiangan!"

​Tepat saat itu, Dhini melangkah masuk. Ia mengernyit melihat Cecil yang tengah menghardik kekasihnya. "Cil! Ngapain lu teriak-teriak sama Tegar?"

​"Cowok lu ngebela si Yasmin, Dhin! Padahal si Yasmin sudah tega mengkhianati Atikah," adu Cecil dengan nada yang penuh provokasi.

​Wajah Dhini berubah seketika. Ia menoleh pada Tegar, matanya melotot tajam penuh ancaman. "Tegar! Kalau lu berani ngebela si Yasmin, lu gue putusin sekarang juga!"

​Tegar mendadak mengkerut, nyalinya menciut di bawah intimidasi Dhini. Ia mundur perlahan, tak berani lagi mengeluarkan suara. Di sudut kelas, bisik-bisik para siswa laki-laki mulai terdengar, namun tak ada satu pun yang cukup berani untuk berdiri di samping Yasmin.

​"Atikah, aku tidak merebut pacar kamu. Beneran..." Yasmin mencoba menjelaskan. Air mata mulai mengaburkan pandangannya.

​Atikah hendak menyerang lagi, tapi kali ini Reka dan Cecil memegangi lengannya—bukan untuk melindungi Yasmin, tapi untuk mencegah Atikah terkena masalah.

​"Sabar, Atikah. Jangan sampai tangan kamu kotor karena dia. Kamu bisa dilaporkan ke guru kalau sampai luka," bisik Cecil dengan nada rendah yang beracun. "Mulai sekarang, kita punya cara yang lebih baik. Kita kucilkan Yasmin."

​Reka menyeringai, matanya menyapu seisi kelas seperti seorang komandan.

"Benar. Kita sebarluaskan ini ke seluruh sekolah. Biar semua cewek tahu siapa dia sebenarnya. Dan buat para cowok..."

Reka menjeda, memberikan tekanan pada setiap kata.

"Siapa pun yang mencoba mendekati atau membela Yasmin, dia akan jadi musuh semua cewek di sekolah ini. Kita lihat, sampai kapan si bodoh ini bisa bertahan!"

​Yasmin terpaku. Hening yang mengikuti ucapan Reka terasa lebih menyakitkan daripada tamparan tadi. Tidak ada yang membantah. Semua orang menunduk atau membuang muka.

​Bel tanda masuk berbunyi, memecah ketegangan yang menyesakkan. Atikah segera menyambar tas Yasmin dan melemparkannya ke lantai.

​"Pergi lu! Gue nggak mau duduk sama pengkhianat lagi!"

​Yasmin yang terhuyung saat mencoba mengambil tasnya hampir saja jatuh terjerembap. Yana, yang duduk paling dekat, secara refleks menangkap lengan Yasmin. Namun, saat Yana merasakan tatapan tajam dari Cecil dan gerombolannya, ia seolah tersengat listrik. Dengan cepat, ia melepaskan tangan Yasmin seolah gadis itu adalah wabah penyakit.

​"Terima kasih..." bisik Yasmin lirih.

​Yana melirik Yasmin sekilas. Melihat wajah Yasmin yang begitu cantik sekaligus rapuh, Yana sempat tersipu dan melempar senyum tipis yang tulus.

"Tidak apa-apa..."

​"Yana, lu pikir kita main-main?" Cecil menggertak, membuat Yana tersentak. "Nggak bakal ada yang bantu lu nyontek atau kerja kelompok lagi kalau lu berurusan sama dia. Lu juga jangan mimpi bisa dapat pacar di sini!"

​Wajah Yana pias. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sangat sibuk membolak-balik buku teksnya yang sebenarnya sudah terbuka di halaman yang benar.

​Pak Andi masuk ke kelas, memecah kabut permusuhan yang masih menggantung. "Selamat siang, anak-anak!"

​"Siang, Pak...!" jawab kelas serempak, meski nadanya terasa hambar.

​Pak Andi menyesuaikan letak kacamatanya, matanya tertuju pada Yasmin yang masih berdiri kaku di tengah jalan. "Yasmin, kenapa tidak duduk?"

​Yasmin melirik Atikah. Sahabatnya itu memberinya tatapan maut selama beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan muka dengan angkuh.

​"E... saya... saya mau pindah tempat duduk, Pak."

​"Memangnya kenapa?"

​"E... Atikah... saya ingin duduk sendiri saja..."

​Pak Andi tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil.

"Kalau begitu, duduk di depan saja, di depan meja Bapak. Yohan, Joni, kalian berdua pindah ke belakang."

​Kedua siswa itu berdiri tanpa protes, tapi mereka sempat memberikan cibiran pelan saat berpapasan dengan Yasmin. Yasmin duduk tepat di depan meja guru, tapi dia merasa sangat terekspos. Pak Andi tersenyum, sebuah senyuman yang terasa terlalu ramah dan mencurigakan.

​"Sekarang, keluarkan buku PR kalian..."

​Semua murid mulai merogoh tas. Pak Andi bangkit dari kursinya, mendekati meja Yasmin dengan langkah perlahan.

"Yasmin, coba Bapak lihat PR kamu?" tanyanya dengan suara yang lembut—terlalu lembut bagi seorang guru di depan kelas yang berisik.

​Cibiran dan decakan sinis terdengar dari bangku belakang. Yasmin memberikan bukunya dengan tangan gemetar. Pak Andi membuka halaman demi halaman, keningnya berkerut, tapi ada binar aneh di matanya.

​"Ayo semuanya, mana PR-nya?" Pak Andi berdehem, kembali ke mode formal.

​Tegar mengumpulkan buku-buku teman sekelasnya dan menyerahkannya ke meja guru. Sesi pembahasan dimulai. Reka dan Yohan diminta mengerjakan soal di depan, sebuah tugas yang disambut Reka dengan wajah cemberut.

​"Pak, kalau gitu buku saya, saya pinjam buat lihat soal," pinta Reka ketus.

​"Tidak perlu. Kerjakan saja sendiri. Kalau kalian menyontek, di sini akan ketahuan. Soalnya kan ada di buku cetak," jawab Pak Andi tegas.

​Reka melangkah maju, sesekali melirik sinis ke arah Pak Andi yang bukannya memperhatikan papan tulis, malah terus menatap ke arah Yasmin sambil sesekali tersenyum tipis.

​Sepulang sekolah, suasana kantor guru sudah mulai sepi. Yasmin berdiri di ambang pintu ruangan Pak Andi dengan perasaan tidak menentu.

​"Masuk, Yasmin. Saya sudah menunggu kamu," sambut Pak Andi. Ia duduk di balik meja besarnya, menyandarkan punggung dengan santai.

​Yasmin melangkah ragu, meremas tali tasnya. "E... kenapa Bapak meminta saya datang? Apa nilai saya begitu buruk sampai harus remidial?"

​Pak Andi tertawa kecil, suara yang entah mengapa membuat bulu kuduk Yasmin sedikit meremang.

"Kita kan belum ulangan. Ini tentang PR tadi. Kenapa kamu mengerjakannya dengan asal-asalan? Banyak yang kosong."

​"Oh... e... saya benar-benar tidak tahu jawabannya, Pak."

​"Harusnya kamu minta bantuan orang lain kalau memang kesulitan. Teman sebangku, misalnya?"

​Yasmin menunduk dalam, menatap ujung sepatunya. "Tidak ada yang mau membantu saya, Pak."

​Mendengar itu, wajah Pak Andi tampak berseri-seri, seolah itu adalah jawaban yang paling ia nantikan.

"Kalau begitu, saya akan bantu kamu. Bagaimana kalau kamu ambil les privat di rumah saya? Bapak punya banyak referensi soal di sana."

​"Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk les privat," jawab Yasmin jujur.

​"Tidak mahal, Yasmin," Pak Andi condong ke depan, suaranya merendah dan intens. "Dibayar semampunya saja. Bapak hanya tidak tega melihat nilai murid secantik kamu jadi hancur. Saya tulus ingin membantu."

​Yasmin terdiam, merasakan tekanan yang tak kasat mata dari tawaran itu. "Saya... saya bicarakan dengan orang tua dulu ya, Pak."

​Pak Andi tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Yasmin, bilang pada orang tuamu, kamu bisa ga lulus kalau nggak privat... maksud Bapak, kalau nilaimu jelek. Biaya bukan masalah. Bapak, cuma mau bantu."

Tangan Yasmin semakin berkeringat. Dia mengangguk, mundur dan cepat-cepat pergi dengan jatung yang bertalu kencang.

Terpopuler

Comments

Kartika Candrabuwana

Kartika Candrabuwana

kok seperti ada modus tersembunyi

2026-08-19

1

fhallenopsis amabilis

fhallenopsis amabilis

Ini memakai semi berarti ya kalimatnya... Aku pernah ikut seminar menulis. [Tulisan yang di awali puitis setelahnya harus kayak kejutan gitu. biar pembaca tidak cepat bosan...] jujur aku belum bisa menerapkan itu karena belum bisa puitis 🤭 dan aku melihat nya di halaman ini..

2026-06-12

0

Ali

Ali

Ohoo, secakep apa sih pacarmu itu, Atika? eh, tapii aku juga notice beberapa kata sih, ada kamu-aku, lu-gue.. agak aneh di aku tapi tetep nyambung sih ke ceritanya

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2 Bab 2 Pertemuan Pertama
3 Bab 3 Eksekusi Sempurna
4 Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5 Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6 Bab 6 Permohonan Dean
7 Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8 Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9 Bab 9 Otot Vs Otak
10 Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11 Bab 11 Pematik Api
12 Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13 Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14 Bab 14 Hukuman Pertama
15 Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16 Bab 16 Menjaga dari Jauh
17 Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18 Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19 Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20 Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21 Bab 21 Ortu yang Protektif
22 Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23 Bab 23 Main Bersama
24 Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25 Bab 25 Drama di Acara Kartini
26 Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27 Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28 Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29 Bab 29 Hari Setelah Badai
30 Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31 Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32 Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33 Bab 33 Hati yang Patah
34 Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35 Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36 Bab 36 Undangan Ultah
37 Bab 37 Zaki Mencari Archie
38 Bab 38 Dunia Agil
39 Bab 39 Terjebak di Pesta
40 Bab 40 Alasan untuk Membalas
41 Bab 41 Malam yang Sama
42 Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43 Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44 Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45 Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46 Bab 46 Kesepakatan
47 Bab 47 Kencan di Mall
48 Bab 48 Identitas Penguntit
49 Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50 Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51 Bab 51 Rencana Balas Dendam
52 Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53 Bab 53 Petaka di Mall
54 Bab 54 Tentang Yasmin
55 Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56 Bab 56 Perhatian Ray
57 Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58 Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59 Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60 Bab 60 Rencana Damai
61 Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62 Bab 62 Sedikit Gesekan
63 Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64 Bab 64 Di Antara Dua Rival
65 Bab 65 Penculikan Reka
66 Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67 Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68 Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69 Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70 Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71 Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72 Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73 Bab 73 Nasihat Sang Guru
74 Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75 Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76 Bab 76 Eksistensi Vyan
77 Bab 77 Titik Balik
78 Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79 Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80 Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81 Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82 Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83 Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84 Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85 Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86 Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87 Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88 Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89 Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90 Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91 Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92 Bab 92 Razia Dadakan
93 Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94 Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95 Bab 95 Mencari Vyan
96 Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97 Bab 97 Di Rumah Sakit
98 Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99 Bab 99 Tujuh Tahun
100 Bab 100 Keluarga yang Hangat
101 Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102 Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103 Bab 103 Akhir yang Baik
104 Bab Ekstra 1
105 Bab Ekstra 2
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2
Bab 2 Pertemuan Pertama
3
Bab 3 Eksekusi Sempurna
4
Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5
Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6
Bab 6 Permohonan Dean
7
Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8
Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9
Bab 9 Otot Vs Otak
10
Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11
Bab 11 Pematik Api
12
Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13
Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14
Bab 14 Hukuman Pertama
15
Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16
Bab 16 Menjaga dari Jauh
17
Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18
Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19
Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20
Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21
Bab 21 Ortu yang Protektif
22
Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23
Bab 23 Main Bersama
24
Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25
Bab 25 Drama di Acara Kartini
26
Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27
Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28
Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29
Bab 29 Hari Setelah Badai
30
Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31
Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32
Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33
Bab 33 Hati yang Patah
34
Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35
Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36
Bab 36 Undangan Ultah
37
Bab 37 Zaki Mencari Archie
38
Bab 38 Dunia Agil
39
Bab 39 Terjebak di Pesta
40
Bab 40 Alasan untuk Membalas
41
Bab 41 Malam yang Sama
42
Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43
Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44
Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45
Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46
Bab 46 Kesepakatan
47
Bab 47 Kencan di Mall
48
Bab 48 Identitas Penguntit
49
Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50
Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51
Bab 51 Rencana Balas Dendam
52
Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53
Bab 53 Petaka di Mall
54
Bab 54 Tentang Yasmin
55
Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56
Bab 56 Perhatian Ray
57
Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58
Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59
Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60
Bab 60 Rencana Damai
61
Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62
Bab 62 Sedikit Gesekan
63
Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64
Bab 64 Di Antara Dua Rival
65
Bab 65 Penculikan Reka
66
Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67
Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68
Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69
Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70
Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71
Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72
Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73
Bab 73 Nasihat Sang Guru
74
Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75
Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76
Bab 76 Eksistensi Vyan
77
Bab 77 Titik Balik
78
Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79
Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80
Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81
Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82
Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83
Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84
Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85
Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86
Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87
Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88
Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89
Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90
Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91
Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92
Bab 92 Razia Dadakan
93
Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94
Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95
Bab 95 Mencari Vyan
96
Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97
Bab 97 Di Rumah Sakit
98
Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99
Bab 99 Tujuh Tahun
100
Bab 100 Keluarga yang Hangat
101
Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102
Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103
Bab 103 Akhir yang Baik
104
Bab Ekstra 1
105
Bab Ekstra 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!