Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik

Vyan terdiam sejenak. Ia tidak tersinggung. Ia justru menatap balik mata Ibu Yasmin dengan ketenangan yang tidak wajar bagi remaja seusianya.

​"Ibu benar," ucap Vyan tenang. "Yasmin memang cantik, dan Ibu juga benar kalau dunia ini penuh orang yang mau membodohinya."

​Vyan mencondongkan tubuh, suaranya mengecil tapi terdengar sangat serius.

​"Tapi Ibu harus tanya satu hal pada diri Ibu sendiri: Sampai kapan Ibu bisa menjaga dia di dalam rumah ini? Setahun? Dua tahun? Setelah itu dia harus keluar, Bu. Dia harus bekerja, dia harus bersosialisasi."

​Ibu Yasmin hendak memotong, tapi Vyan mengangkat tangan dengan sopan.

​"Kalau sekarang Ibu melarang saya mengajari dia, Ibu sebenarnya sedang membiarkan Yasmin keluar ke dunia luar tanpa pertahanan. Orang jahat tidak butuh Yasmin jadi pintar, Bu. Mereka justru senang kalau Yasmin tetap seperti sekarang; polos, nggak tahu apa-apa, dan gampang ditipu. Itu yang mereka cari."

​Vyan menjeda, menatap meja kayu yang sudah kusam itu.

​"Ibu takut saya memanfaatkan dia? Kalau saya cuma mau tampangnya, saya nggak perlu capek-capek datang ke sini meminta izin, Bu. Saya nggak perlu repot-repot mikirin gimana cara dia paham pelajaran sekolah. Saya bisa saja ajak dia jalan ke Mall, belikan dia barang, dan dia pasti senang."

​Vyan kembali menatap Ibu Yasmin dengan tatapan yang sangat jujur, hampir dingin.

​"Tapi saya nggak mau itu. Saya mau Yasmin punya 'taring'. Saya mau dia punya isi di kepalanya supaya nanti kalau ada laki-laki brengsek atau bos yang jahat mau macam-macam, dia tahu cara melawannya. Saya mau dia nggak bisa lagi dihina 'cantik tapi bego' oleh teman-temannya."

​Vyan menarik napas pelan. "Saya bukan sedang mendekati Yasmin, Bu. Saya sedang mempersiapkan Yasmin supaya dia kelak bisa melindungi dirinya sendiri. Apa itu yang Ibu sebut memanfaatkan?"

​Ibu Yasmin bungkam. Bibirnya yang tadi bergetar hendak mengusir Vyan, kini terkatup rapat. Kalimat Vyan menghujam titik terlemahnya: ketakutan bahwa dia tidak akan selamanya ada untuk melindungi anak gadisnya yang "istimewa" itu.

​"Ibu tahu guru Fisika yang baru dipecat itu?" tanya Vyan tiba-tiba.

​Ibu Yasmin mengangguk ragu. "Iya, katanya ada masalah..."

​"Saya yang memastikan dia pergi," bisik Vyan pelan, membuat Ibu Yasmin tersentak. "Karena dia salah satu orang yang mencoba memanfaatkan Yasmin. Saya nggak cuma bicara, Bu. Saya bertindak. Sekarang pilihan ada di tangan Ibu: Biarkan saya membantu dia punya masa depan, atau biarkan dia tetap polos sampai orang jahat berikutnya datang menghampirinya."

​Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Yasmin muncul dengan senyum lebar, tidak tahu bahwa baru saja terjadi "perang" mental di ruang tamunya.

​"Sudah siap! Ayo Kak Vyan!"

​Ibu Yasmin menatap anaknya, lalu beralih menatap Vyan. Ia melihat ada sesuatu yang "berbahaya" dalam diri Vyan, tapi ia juga sadar, anak seperti Yasmin butuh pelindung yang berbahaya seperti pemuda ini.

​"Pergilah," ucap Ibu Yasmin akhirnya, suaranya parau.

​"Pepi... ayo!" Yasmin menggendong kucing kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.

​"Kalau suatu saat Ibu ingin berkunjung ke rumah saya, saya akan sangat senang," ucap Vyan sebelum berpamitan.

Ibu Yasmin mengangguk. ​"Insya Allah, lain kali," ucapnya diiringi senyum.

...****************...

Motor Vyan berhenti di depan sebuah rumah bertipe modern minimalis. Sekalipun mungil, bagi Yasmin, rumah itu tampak seperti istana dari majalah arsitektur. Garis-garis bangunannya tegas, dengan halaman depan yang tertata rapi dan sebuah garasi yang bersih. Vyan menyimpan motornya, lalu mengajak Yasmin masuk ke dalam rumah yang rupanya tidak dikunci.

​Begitu pintu terbuka, seorang wanita dengan pakaian sederhana dan kain pel di tangan menyambut mereka.

​"Assalamualaikum, Tante," sapa Yasmin dengan sopan, mengira wanita itu adalah ibu Vyan.

​Wanita itu tertawa renyah, menggelengkan kepala. "Panggil Bibi saja, Neng. Mas Vyan, Bibi pulang dulu ya, pekerjaan di belakang sudah beres!" serunya pada Vyan.

​"Iya, Bi. Makasih ya," jawab Vyan singkat. Wanita itu segera berpamitan, meninggalkan Yasmin yang masih terpaku.

​"Bukan Ibu Kak Vyan?" tanya Yasmin polos.

​"Bukan. Itu Bi Anah, beliau yang membantuku mengurus rumah," jawab Vyan sambil meletakkan tasnya.

​"Oh... Ibu sama Ayah Kak Vyan nggak ada ya?"

​Langkah Vyan terhenti sejenak. "Aku tinggal sendiri... maksudku, Ibuku belum datang ke sini. Sudah, duduk saja dulu."

​Yasmin menurut, ia segera duduk di sofa empuk sambil melepaskan Pepi dari gendongannya. Kucing itu segera berkeliling, mengendus-endus wilayah barunya dengan ekor tegak.

​Satu jam berlalu di ruang tengah. Yasmin dan Vyan kini duduk berdampingan di depan meja pendek. Sebuah buku matematika terbuka lebar, penuh dengan coretan angka yang bagi Yasmin tampak seperti bahasa asing. Di sudut meja, Pepi sedang asyik menjilati susu dari mangkuk kecil yang disediakan Vyan.

​"Nah, kalau variabelnya dipindah ke sini, hasilnya jadi dua. Mengerti?" Vyan menjelaskan dengan nada sabar yang dipaksakan.

​"Oh, iya..." Yasmin mengangguk-angguk mantap, meski matanya tampak kosong.

​Vyan menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa frustrasi yang mulai merayap. "Sekarang, coba kerjakan nomor lima belas. Sendiri."

​Lima belas menit berlalu dengan kesunyian yang mencekam. Pepi sudah selesai dengan susunya dan kini sibuk menjilati bulunya sendiri. Yasmin masih menatap buku itu dengan intensitas yang luar biasa, tangannya kaku memegang pensil. Vyan mengintip pekerjaan Yasmin; kertas itu masih hampir bersih, hanya ada coretan garis tak beraturan di pojok.

​Gemas dan kesal mulai bercampur di hati Vyan. "Pertama, jumlahkan dulu yang ada di dalam tanda kurung ini, Yasmin."

​"Oh, iya!" Yasmin baru bergerak. Ia menghitung manual menggunakan jari-jarinya di bawah meja, lalu menuliskan sebuah angka. Namun, sedetik kemudian ia menghapusnya lagi dengan panik. "Jadi berapa ya? Gimana ya caranya?"

​Vyan terpaksa kembali menerangkan soal yang sebenarnya identik dengan contoh sebelumnya. Ia merasa seperti sedang menjelaskan teori kuantum pada seekor burung nuri.

​"Nah, hasilnya nol koma lima, kan?"

​"Oh, ya..." Yasmin tersenyum lebar, seolah baru saja menemukan harta karun.

​Oh my God! Ini sih gue yang mengerjakan semua soalnya! batin Vyan berteriak.

​"Gimana kalau kita ganti pelajaran saja?" tawar Vyan, sudah menyerah pada matematika untuk hari ini.

​"Iya!" Yasmin langsung bersemangat, matanya berbinar. "Pelajaran apa?"

​"Selain matematika, pelajaran apa lagi yang nilainya... rendah?"

​Yasmin mengetuk-ngetuk dagunya dengan pensil. "Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi... terus Bahasa Indonesia juga..."

​Vyan memijat pangkal hidungnya. "Yasmin, maksud kamu... semuanya? Gimana kalau Bahasa Inggris dulu?" Vyan mengambil buku LKS Bahasa Inggris miliknya yang tersimpan di rak. "Coba lihat bagian mana yang tidak mengerti."

​Yasmin membuka-buka buku itu dengan takjub. "Wah! Buku Kak Vyan sudah diisi semua! Tulisannya rapi banget."

​"Iya, itu kan buku kelas sepuluh milikku."

​"Bukunya dipinjam saja ya, Kak? Habis aku nggak mengerti semuanya sih. Kalau ada buku Kak Vyan, aku tinggal lihat," ucap Yasmin dengan wajah tanpa dosa.

​"Itu namanya nyontek, Yasmin."

​"Ya setidaknya aku kan bisa mengerjakan PR tepat waktu. Boleh ya?"

​Vyan terdiam, menatap wajah Yasmin yang kini memasang ekspresi memelas—bibir bawah yang sedikit maju dan mata yang memohon. Vyan tersadar, mengajari Yasmin dengan cara konvensional hanya akan memakan waktu seumur hidup tanpa hasil.

​"Oke, Cantik. Ambil saja."

​"Oh ya? Makasih! Kak Vyan baik banget!"

​Vyan hanya bisa mengangguk pasrah, namun ia tidak bisa menahan senyum saat melihat wajah Yasmin yang mendadak berseri-seri, seolah beban hidupnya baru saja diangkat.

​"Semuanya saja ya, Kak? Sama pelajaran lain juga?" tambah Yasmin bersemangat.

​"Terserah deh..." gumam Vyan.

​"Berarti sekarang... main!" seru Yasmin tiba-tiba.

​"Main?"

​"Iya! Lihat, halaman belakang rumah Kak Vyan luas banget. Ada pohon belimbingnya lagi! Itu, ada yang sudah kuning di atas. Boleh ya buat aku?"

​"Iya, boleh. Ambil saja."

​Vyan berjalan ke gudang untuk mengambil alat pemetik buah agar Yasmin tidak kesulitan. Namun, saat ia kembali ke halaman belakang, Yasmin sudah tidak ada di tanah.

​"Cantik! Kamu di mana?"

​"Di sini...!" suara Yasmin terdengar dari atas.

​Vyan mendongak dan jantungnya nyaris copot. Yasmin sudah nangkring di salah satu dahan pohon belimbing yang cukup tinggi. Vyan segera memalingkan wajah yang seketika memerah panas.

​"Yasmin! Kenapa kamu naik pohon selagi pakai rok?!" tanya Vyan dengan suara tertahan, merasa canggung luar biasa.

​Yasmin tersentak, baru menyadari posisinya. Ia buru-buru mencoba turun, namun gerakannya yang panik justru membuatnya terpeleset. "Aaa!"

​Vyan hanya bisa menghela napas saat melihat Yasmin mendarat di rumput dengan posisi yang tidak elit. Yasmin segera bangkit, wajahnya menunduk dalam, tidak berani menatap Vyan karena malu yang luar biasa.

​"Sudah, tunggu di ayunan saja!" perintah Vyan. Yasmin menurut, ia segera berlari kecil menuju ayunan kayu dan duduk di sana sambil memeluk Pepi erat-erat.

​Beberapa saat kemudian, Vyan datang membawa beberapa buah belimbing yang sudah dicuci. Ia duduk di samping Yasmin karena ayunan itu cukup lebar untuk dua orang.

​"Ini belimbingnya..."

​Yasmin mengulurkan tangan tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada bulu Pepi. Vyan sengaja menjauhkan buah itu. Yasmin terus menggapai-gapai ke samping tanpa mau melihat ke arah Vyan. Karena tidak kunjung mendapatkan buahnya, Yasmin akhirnya terpaksa menoleh.

​Ia terhenyak. Wajah Vyan berada tepat di depan wajahnya, sangat dekat hingga napas mereka saling bersentuhan. Hidung mereka nyaris beradu. Detik itu, waktu seolah berhenti. Yasmin bisa melihat pantulan dirinya di mata bening Vyan.

​Yasmin segera menarik diri dengan gerakan kaget, berpaling memunggungi Vyan dengan jantung yang berdegup kencang. Vyan justru tertawa melihat reaksi itu.

​"Makanya, kalau mengambil sesuatu itu sambil dilihat. Ini, ambil..."

​"Aku... aku nggak suka belimbing," bisik Yasmin, suaranya bergetar.

​"Bohong banget. Terus siapa yang tadi sampai nekat naik pohon?" goda Vyan.

​Yasmin semakin mengerutkan tubuhnya ke pojok ayunan. Tanpa sengaja, ia mendekap Pepi terlalu erat. Kucing itu mengeong keras karena protes, lalu melompat dari pangkuan Yasmin dan lari menuju semak-semak.

​"Maaf, Pepi!" seru Yasmin panik.

​"Oh, Cantik... kamu tega sekali sama teman sendiri," tawa Vyan meledak.

​"Maaf Pepi! Nggak sengaja...!" Yasmin segera melompat dari ayunan dan mengejar kucingnya. Vyan hanya duduk bersandar, menikmati belimbing yang terasa manis dengan sedikit semburat kecut, sambil menonton Yasmin yang berlarian di bawah cahaya sore yang keemasan.

Terpopuler

Comments

Three Flowers

Three Flowers

astaga... berarti Vyan liat apaan coba😭

2026-05-12

0

Three Flowers

Three Flowers

hihi O'on juga si Yasmin, ya? tidak suka belajar, sukanya main ya?

2026-05-12

0

Miu.Nuha

Miu.Nuha

aik, aku kira ditangkap dn jatuh bersama...
uwuw~ 🤭🤭🤭 gemesh...

2026-05-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2 Bab 2 Pertemuan Pertama
3 Bab 3 Eksekusi Sempurna
4 Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5 Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6 Bab 6 Permohonan Dean
7 Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8 Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9 Bab 9 Otot Vs Otak
10 Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11 Bab 11 Pematik Api
12 Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13 Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14 Bab 14 Hukuman Pertama
15 Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16 Bab 16 Menjaga dari Jauh
17 Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18 Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19 Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20 Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21 Bab 21 Ortu yang Protektif
22 Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23 Bab 23 Main Bersama
24 Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25 Bab 25 Drama di Acara Kartini
26 Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27 Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28 Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29 Bab 29 Hari Setelah Badai
30 Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31 Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32 Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33 Bab 33 Hati yang Patah
34 Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35 Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36 Bab 36 Undangan Ultah
37 Bab 37 Zaki Mencari Archie
38 Bab 38 Dunia Agil
39 Bab 39 Terjebak di Pesta
40 Bab 40 Alasan untuk Membalas
41 Bab 41 Malam yang Sama
42 Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43 Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44 Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45 Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46 Bab 46 Kesepakatan
47 Bab 47 Kencan di Mall
48 Bab 48 Identitas Penguntit
49 Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50 Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51 Bab 51 Rencana Balas Dendam
52 Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53 Bab 53 Petaka di Mall
54 Bab 54 Tentang Yasmin
55 Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56 Bab 56 Perhatian Ray
57 Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58 Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59 Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60 Bab 60 Rencana Damai
61 Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62 Bab 62 Sedikit Gesekan
63 Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64 Bab 64 Di Antara Dua Rival
65 Bab 65 Penculikan Reka
66 Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67 Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68 Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69 Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70 Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71 Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72 Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73 Bab 73 Nasihat Sang Guru
74 Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75 Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76 Bab 76 Eksistensi Vyan
77 Bab 77 Titik Balik
78 Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79 Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80 Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81 Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82 Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83 Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84 Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85 Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86 Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87 Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88 Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89 Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90 Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91 Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92 Bab 92 Razia Dadakan
93 Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94 Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95 Bab 95 Mencari Vyan
96 Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97 Bab 97 Di Rumah Sakit
98 Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99 Bab 99 Tujuh Tahun
100 Bab 100 Keluarga yang Hangat
101 Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102 Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103 Bab 103 Akhir yang Baik
104 Bab Ekstra 1
105 Bab Ekstra 2
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2
Bab 2 Pertemuan Pertama
3
Bab 3 Eksekusi Sempurna
4
Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5
Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6
Bab 6 Permohonan Dean
7
Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8
Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9
Bab 9 Otot Vs Otak
10
Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11
Bab 11 Pematik Api
12
Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13
Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14
Bab 14 Hukuman Pertama
15
Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16
Bab 16 Menjaga dari Jauh
17
Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18
Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19
Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20
Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21
Bab 21 Ortu yang Protektif
22
Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23
Bab 23 Main Bersama
24
Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25
Bab 25 Drama di Acara Kartini
26
Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27
Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28
Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29
Bab 29 Hari Setelah Badai
30
Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31
Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32
Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33
Bab 33 Hati yang Patah
34
Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35
Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36
Bab 36 Undangan Ultah
37
Bab 37 Zaki Mencari Archie
38
Bab 38 Dunia Agil
39
Bab 39 Terjebak di Pesta
40
Bab 40 Alasan untuk Membalas
41
Bab 41 Malam yang Sama
42
Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43
Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44
Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45
Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46
Bab 46 Kesepakatan
47
Bab 47 Kencan di Mall
48
Bab 48 Identitas Penguntit
49
Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50
Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51
Bab 51 Rencana Balas Dendam
52
Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53
Bab 53 Petaka di Mall
54
Bab 54 Tentang Yasmin
55
Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56
Bab 56 Perhatian Ray
57
Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58
Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59
Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60
Bab 60 Rencana Damai
61
Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62
Bab 62 Sedikit Gesekan
63
Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64
Bab 64 Di Antara Dua Rival
65
Bab 65 Penculikan Reka
66
Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67
Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68
Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69
Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70
Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71
Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72
Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73
Bab 73 Nasihat Sang Guru
74
Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75
Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76
Bab 76 Eksistensi Vyan
77
Bab 77 Titik Balik
78
Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79
Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80
Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81
Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82
Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83
Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84
Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85
Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86
Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87
Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88
Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89
Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90
Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91
Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92
Bab 92 Razia Dadakan
93
Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94
Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95
Bab 95 Mencari Vyan
96
Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97
Bab 97 Di Rumah Sakit
98
Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99
Bab 99 Tujuh Tahun
100
Bab 100 Keluarga yang Hangat
101
Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102
Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103
Bab 103 Akhir yang Baik
104
Bab Ekstra 1
105
Bab Ekstra 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!