Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin

​"Vyan, gue... gue... sebenarnya gue udah punya pacar. Dia di Cirebon. Kita masih berhubungan sekalipun jarak jauh..."

​"Lu ngebohongin gue, kan? Kalau iya, kenapa nggak cerita dari awal?"

​"Buat apa gue cerita? Lu juga nggak pernah nanya. Vyan, sorry. Pokoknya maafin gue. Gue tahu banyak cewek yang mimpiin elu jadi pacarnya, tapi lu bukan tipe gue. Kalau gue jadi pacar lu, gue pasti selalu takut..."

​"Yan! Lo mau ke mana? Sekarang kan ada rapat OSIS!"

​Seruan Agil memutus rekaman suara masa lalu yang berputar di kepala Vyan. Vyan menghentikan langkahnya, menarik napas panjang untuk mengusir sisa-sisa sesak dari penolakan itu. Ia memejamkan mata sejenak, menata kembali topeng "Ketua OSIS" yang sempurna sebelum berbalik menghadap Agil.

​"Gue udah minta Dean memimpin rapat. Kan dia ketua pelaksananya. Biar dia belajar tanggung jawab," ucap Vyan datar, melanjutkan langkahnya menuju gerbang. "Gue udah bosan terkurung di ruang OSIS. Lu ke sana saja, awasi Dean."

​Agil hanya bisa melongo, menatap punggung sahabatnya dengan penuh tanda tanya. Ia tahu ada yang salah, tapi Vyan adalah tipe orang yang akan semakin menjauh jika didesak.

​Vyan berjalan menuju gerbang sekolah, dan tepat di sana, ia melihat sosok yang ia cari. Yasmin sedang berjalan pelan, kepalanya menunduk seolah sedang menghitung retakan di aspal. Begitu menyadari keberadaan Vyan, Yasmin terlonjak kaget.

​"Kebetulan ketemu di sini. Ayo pergi," ajak Vyan tanpa basa-basi.

​"Ke mana?" tanya Yasmin bingung.

​"Pulang bareng."

​Mata Yasmin membelalak. Ia refleks menoleh ke belakang, di mana Atikah, Reka, dan Cecil sedang berdiri terpaku, memperhatikan mereka dengan tatapan yang bisa membunuh. Yasmin meremas tali tasnya, diliputi kecemasan yang nyata.

​"Bareng mereka juga, ya?" bisik Yasmin sambil menunjuk ke arah gerombolan Atikah.

​Vyan melirik sekilas ke arah tiga gadis itu. Tatapannya dingin dan tajam, membuat Atikah dan kawan-kawannya segera membuang muka, pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.

​"Nggak mungkinlah. Masa naik motor berlima?" Vyan mendengus geli. Tanpa menunggu jawaban lagi, ia menggenggam pergelangan tangan Yasmin—lembut namun tegas—dan menuntunnya menuju tempat parkir.

​Yasmin hanya bisa pasrah, meski hatinya mencelos melihat wajah Atikah yang kini berubah drastis menjadi masam. Ia tahu, esok hari di sekolah akan menjadi lebih berat, tapi entah mengapa, genggaman tangan Vyan membuatnya merasa sedikit lebih aman.

​"Aku kan sudah janji mau mengajarimu," ucap Vyan setelah mereka sampai di depan motornya. Ia menyodorkan sebuah helm pada Yasmin.

​"Nggak perlu, Kak Vyan. Merepotkan..."

​"Kenapa? Bukannya kamu mau pintar? Biar kamu tahu kenapa kita harus sekolah, bukan cuma buat mengeluh di buku tulis," goda Vyan.

​Wajah Yasmin seketika merona merah. Ia teringat coretan jujurnya yang dibaca Vyan tadi di kelas. "Tapi aku bodoh dan susah pintarnya, Kak. Aku juga... sebenarnya nggak begitu ingin pintar."

​Vyan menghentikan gerakannya memakai sarung tangan. Ia menatap Yasmin dengan dahi berkerut, sedikit kesal dengan rasa rendah diri gadis itu yang berlebihan. "Sudahlah, ikut saja. Kita ke rumahmu dulu, minta izin."

​"Tapi aku punya janji."

​Vyan yang sudah naik ke atas motor menoleh penasaran. "Janji? Sama siapa?"

​"Aku sudah janji mengajak Pepi jalan-jalan."

​"Pepi itu siapa? Pacar kamu?" tanya Vyan, nada suaranya entah mengapa sedikit berubah.

​"Temanku. Di antara semua temanku, Pepilah yang terbaik. Pepi selalu menemaniku dan menghiburku kalau aku sedang sedih."

​Vyan terdiam sejenak. Jadi dia sangat baik, ya? batinnya, membandingkan Pepi dengan sosok di masa lalunya yang baru saja menghantui pikirannya.

​"Iya," lanjut Yasmin polos. "Kalau Rama dan Sinta kadang nggak peduli sama aku kalau mereka lagi asyik berdua. Terry lucu, manis, dan lincah, tapi dia sering menghilang dan nggak datang kalau dipanggil. Terus Kori... dia nggak bebas pergi."

​Vyan mulai menangkap sesuatu. Nama-nama itu... terdengar tidak seperti nama manusia. "Bagaimana kalau kita bawa Pepi jalan-jalan ke rumahku saja?"

​Mata Yasmin seketika berbinar, seolah baru saja dijanjikan seluruh isi toko permen. "Benar nggak apa-apa, Kak?"

​Vyan mengangguk. "Pepi pasti senang!" seru Yasmin penuh semangat. Tanpa ragu lagi, ia naik ke boncengan motor Vyan, memegang jaket cowok itu dengan ujung jemarinya.

​Motor Vyan berhenti di depan sebuah rumah kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan asri. Pagarnya hijau oleh tanaman rambat, memberikan kesan sejuk namun juga menutupi usia bangunan yang sebenarnya sudah cukup tua.

​Begitu mereka memasuki pekarangan, dua ekor burung nuri terbang rendah dari dahan pohon, berkicau nyaring seolah sedang menyambut kepulangan sang pemilik. Yasmin mengulurkan tangannya dengan lincah.

​"Aku pulang, Rama, Sinta. Apa kabar kalian hari ini?"

​Vyan terpaku. Kedua burung nuri itu benar-benar hinggap di lengan Yasmin, mematuk lembut jemarinya sebelum terbang dan hinggap sejenak di atas kepala gadis itu. Mereka terbang bebas, tanpa kandang, tanpa rantai.

​"Mereka itu Rama dan Sinta, Kak Vyan. Mereka sepasang kekasih yang sangat setia."

​"Ya, aku bisa melihatnya," gumam Vyan takjub.

​Tiba-tiba, sebuah bayangan kecil bergerak secepat kilat ke arah lehernya. Vyan merasakan sesuatu yang hangat dan berbulu menyelinap masuk ke balik kemejanya, tepat di bagian perut.

​"Waduh! Apa ini?!" Vyan kaget bukan main, dia mencoba meraba-raba di balik kain bajunya yang bergerak-gerak.

​"Terry! Nggak sopan!" teriak Yasmin.

Dia segera mendekati Vyan. Dia segera mendekati Vyan lalu mengulurkan tangannya dan menangkap sesuatu dari luar baju Vyan di bagian perut.

​"Apa itu, Yasmin?!" Vyan panik sekaligus merasa geli yang aneh.

​"Terry, si tupai kecil," jawab Yasmin fokus. "Aku ambil dulu, ya."

​Vyan terkejut karena tangan kecil Yasmin masuk ke dalam bajunya melalui celah antar kancing kemeja. Dia menahan napas, merasakan jemari Yasmin yang dingin menyentuh kulit perutnya saat mengambil tupai itu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

​"Biar... biar aku saja," ucap Vyan gugup, wajahnya mulai panas. Dia memegang lengan Yasmin.

​"Sudah dapat, Kak... tapi aku tidak bisa mengeluarkan tanganku...," Yasmin mendongak, wajahnya agak panik, menatap Vyan dengan mata bulatnya yang jernih.

​Vyan tertegun melihat jarak wajah mereka yang sangat dekat.

"Tanganku nyangkut... " ucap Yasmin lirih. Wajahnya kini merona.

Vyan buru-buru membuka satu kancing kemejanya hingga tangan Yasmin terbebas. Tangannya memegang seekor tupai kecil yang tampak menggemaskan namun nakal. Vyan menghela napas lega saat tupai itu melompat kembali ke pohon.

​"Yasmin, sedang apa kamu?" sebuah suara berat memecah suasana.

Vyan refleks mundur karena jarak mereka terlalu dekat. ​Di ambang pintu, seorang wanita paruh baya berdiri dengan tatapan menyelidik. Wajahnya tampak keras dan sedikit judes.

​"Kamu pulang sama teman?"

​"Iya, Ibu. Ini Kak Vyan, ketua OSIS di sekolahku."

​"Assalamualaikum, Bu..." Vyan memberikan salam dengan senyum paling sopan yang ia miliki. Ajaibnya, gurat kemarahan di wajah ibu Yasmin sedikit melunak.

​"Waalaikum salam. Silakan masuk."

Mata wanita itu melirik ke arah kancing baju Vyan yang terlepas satu. Vyan segera mengancingkan jas sekolahnya.

​Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang sederhana, seekor kucing abu-abu berbulu lebat langsung menyambut Yasmin, menggesekkan tubuhnya di kaki gadis itu.

​"Pepi! Hari ini kita akan jalan-jalan ke rumah Kak Vyan. Ibu, boleh kan aku dan Pepi pergi?"

"E, begini Bu. Saya sudah janji sama Yasmin mau ngajarin Yasmin pelajaran sekolah. Karena itu saya minta ijin ke Ibu mau ngajak Yasmin ke rumah saya."

"Ibu, boleh kan, Bu?" tanya Yasmin.

"Yasmin, ganti baju dulu sana."

"Baik, Bu!" ucap Yasmin tampak senang dan bersemangat. Ia segera masuk ke dalam.

Ibu Yasmin menatap Vyan tajam, suaranya rendah tapi penuh penekanan.

​"Nak, tolong tinggalkan Yasmin. Orang mungkin menganggapnya bodoh, tapi jangan anggap aku bodoh. Aku ibunya, tidak mau Yasmin cuma dibodoh-bodohi dan dimanfaatkan karena kecantikannya."

Terpopuler

Comments

-Thiea-

-Thiea-

Mungkin dia udah di bully duluan kali ya, makanya takut deket vyan. Secara si vyan kayaknya cowok populer.

2026-05-14

0

fhallenopsis amabilis

fhallenopsis amabilis

aku tau tipe gadis kyk begini.. aku bisa menebaknya. [munafik] benar ga thor?

2026-06-14

0

Mega Siregar

Mega Siregar

yakin yas, gak mau ama vyan?
nanti nyesel lho, kan gak ada yg berani bully lho kalo loe sama vyan sekalian injak2 si bully

2026-05-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2 Bab 2 Pertemuan Pertama
3 Bab 3 Eksekusi Sempurna
4 Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5 Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6 Bab 6 Permohonan Dean
7 Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8 Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9 Bab 9 Otot Vs Otak
10 Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11 Bab 11 Pematik Api
12 Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13 Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14 Bab 14 Hukuman Pertama
15 Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16 Bab 16 Menjaga dari Jauh
17 Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18 Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19 Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20 Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21 Bab 21 Ortu yang Protektif
22 Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23 Bab 23 Main Bersama
24 Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25 Bab 25 Drama di Acara Kartini
26 Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27 Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28 Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29 Bab 29 Hari Setelah Badai
30 Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31 Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32 Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33 Bab 33 Hati yang Patah
34 Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35 Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36 Bab 36 Undangan Ultah
37 Bab 37 Zaki Mencari Archie
38 Bab 38 Dunia Agil
39 Bab 39 Terjebak di Pesta
40 Bab 40 Alasan untuk Membalas
41 Bab 41 Malam yang Sama
42 Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43 Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44 Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45 Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46 Bab 46 Kesepakatan
47 Bab 47 Kencan di Mall
48 Bab 48 Identitas Penguntit
49 Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50 Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51 Bab 51 Rencana Balas Dendam
52 Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53 Bab 53 Petaka di Mall
54 Bab 54 Tentang Yasmin
55 Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56 Bab 56 Perhatian Ray
57 Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58 Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59 Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60 Bab 60 Rencana Damai
61 Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62 Bab 62 Sedikit Gesekan
63 Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64 Bab 64 Di Antara Dua Rival
65 Bab 65 Penculikan Reka
66 Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67 Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68 Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69 Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70 Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71 Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72 Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73 Bab 73 Nasihat Sang Guru
74 Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75 Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76 Bab 76 Eksistensi Vyan
77 Bab 77 Titik Balik
78 Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79 Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80 Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81 Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82 Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83 Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84 Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85 Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86 Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87 Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88 Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89 Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90 Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91 Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92 Bab 92 Razia Dadakan
93 Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94 Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95 Bab 95 Mencari Vyan
96 Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97 Bab 97 Di Rumah Sakit
98 Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99 Bab 99 Tujuh Tahun
100 Bab 100 Keluarga yang Hangat
101 Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102 Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103 Bab 103 Akhir yang Baik
104 Bab Ekstra 1
105 Bab Ekstra 2
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 Si Cantik yang Dirundung
2
Bab 2 Pertemuan Pertama
3
Bab 3 Eksekusi Sempurna
4
Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
5
Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
6
Bab 6 Permohonan Dean
7
Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
8
Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos
9
Bab 9 Otot Vs Otak
10
Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
11
Bab 11 Pematik Api
12
Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
13
Bab 13 Kaki Tangan Sang Ketos
14
Bab 14 Hukuman Pertama
15
Bab 15 Kedekatan dengan Ray
16
Bab 16 Menjaga dari Jauh
17
Bab 17 Ikan Memakan Umpan
18
Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
19
Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
20
Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
21
Bab 21 Ortu yang Protektif
22
Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak
23
Bab 23 Main Bersama
24
Bab 24 Persiapan Acara Kartini
25
Bab 25 Drama di Acara Kartini
26
Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan
27
Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung
28
Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan
29
Bab 29 Hari Setelah Badai
30
Bab 30 Tidak Seperti Dulu
31
Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos
32
Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit
33
Bab 33 Hati yang Patah
34
Bab 34 Archie dan Zi-Chan
35
Bab 35 Sosok di Belakang Zia
36
Bab 36 Undangan Ultah
37
Bab 37 Zaki Mencari Archie
38
Bab 38 Dunia Agil
39
Bab 39 Terjebak di Pesta
40
Bab 40 Alasan untuk Membalas
41
Bab 41 Malam yang Sama
42
Bab 42 Hubungan Kalangan Elit yang Rumit
43
Bab 43 Domba yang Menghampiri Penjagal
44
Bab 44 Sang Ketos di Kelasnya
45
Bab 45 Pertemuan dengan Steel Wolf
46
Bab 46 Kesepakatan
47
Bab 47 Kencan di Mall
48
Bab 48 Identitas Penguntit
49
Bab 49 Kecupan sebagai Obat
50
Bab 50 Perasaan yang Sekarang
51
Bab 51 Rencana Balas Dendam
52
Bab 52 Rahasia yang Terbongkar
53
Bab 53 Petaka di Mall
54
Bab 54 Tentang Yasmin
55
Bab 55 Ray Mencari Yasmin
56
Bab 56 Perhatian Ray
57
Bab 57 Rumah Keluarga Hadyanata
58
Bab 58 Anak Tiri Vs Ibu Tiri
59
Bab 59 Keluarga yang Sulit Akur
60
Bab 60 Rencana Damai
61
Bab 61 Pengumuman Penyerangan pada Yasmin
62
Bab 62 Sedikit Gesekan
63
Bab 63 Tantangan Gila Vyan
64
Bab 64 Di Antara Dua Rival
65
Bab 65 Penculikan Reka
66
Bab 66 Domba-domba yang Masuk Perangkap
67
Bab 67 Konflik yang Berputar Mengelilingi Vyan
68
Bab 68 Interupsi Pak Yoga
69
Bab 69 Ekosistem Sang Monster
70
Bab 70 Calon Ayah Tiri?
71
Ban 71 Jadi Foto Model Dulu
72
Bab 72 Diluar Prediksi Sang Mastermind
73
Bab 73 Nasihat Sang Guru
74
Bab 74 Kekejaman yang Terkuak
75
Bab 75 Masa Lalu yang Menampar
76
Bab 76 Eksistensi Vyan
77
Bab 77 Titik Balik
78
Bab 78 Akhir Kesepakatan dengan Zia
79
Bab 79 Oase yang Menjadi Fatamorgana
80
Bab 80 Luka yang Harus Ditahan
81
Bab 81 Pecahnya Persahabatan
82
Bab 82 Runtuhnya Pilar Bayangan
83
Bab 83 Hilangnya Oase di Tengah Dahaga
84
Bab 84 Pergulatan dengan Ray
85
Bab 85 Kekecewaan yang Sulit Dibendung
86
Bab 86 Kehilangan Tongkrongan di Jalan
87
Bab 87 Kepergian Sang Ketos yang Terluka
88
Bab 88 Sepeninggal Sang Ketos
89
Bab 89 Telepon Terakhir Vyan
90
Bab 90 Kebenaran yang Mulai Terungkap
91
Bab 91 Penyesalan yang Merayap
92
Bab 92 Razia Dadakan
93
Bab 93 Jalannya Sidang yang Alot
94
Bab 94 Ultimatum Pak Rizal
95
Bab 95 Mencari Vyan
96
Bab 96 Pertemuan yang Menyayat
97
Bab 97 Di Rumah Sakit
98
Bab 98 SMA Tunas Bangsa Tanpa Vyan
99
Bab 99 Tujuh Tahun
100
Bab 100 Keluarga yang Hangat
101
Bab 101 Hal-hal yang Berubah
102
Bab 102 Keseruan Main di Dufan
103
Bab 103 Akhir yang Baik
104
Bab Ekstra 1
105
Bab Ekstra 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!