Mencari rumah Bi Nina

Beberapa menit berlalu,bus akhirnya berhenti tepat di depan pintu gerbang desa. Beberapa orang yang sedang berjalan sedikit tergesa menoleh. Mereka menatap Fitri dengan tatapan yang sama.

Aneh...

Setelah turun dari bus,Fitri melambaikan tangannya pada bus yang mulai kembali melaju. Meninggalkan nya sendiri di tempat yang baru dan asing. Fitri menghela nafas panjang lalu menatap sekelilingnya. Pohon-pohon bergoyang kecil tertiup angin,udara yang segar melegakan pernafasan. Kicauan burung terdengar saling bersahutan. Cukup lama Fitri berdiri merasakan udara desa,kini tatapan nya tertuju pada orang-orang yang berdiri memperhatikan nya.

Melihat ekspresi orang-orang seperti itu,membuat nya menunduk memperhatikan penampilannya.

"Apa ada yang salah ya,apa gue terlihat aneh?" Pikir nya

Dengan sedikit rasa kikuk,gadis itu menyapa,"Selamat pagi,pak...Bu...!" Ucap nya sambil mengangguk kecil.

Mereka saling bertukar pandang,wajah mereka nampak bingung dan aneh.

"Kok gak dijawab ya ? Masa iya mereka gak ngerti bahasa gue ?" Gumam Fitri dalam hati.

"Assalamualaikum...." Ucap Fitri kikuk.

"Waalaikumsalam....nah gitu dong,ucap salam " Ucap seorang ibu.

"Oh iya,gue lupa ngucap salam " Batin nya. "Pagi pak...Bu ..." Sapa Fitri lagi.

"Sekarang dah hampir petang neng"  Ujar salah satu warga

"Hah ? Petang ?" Kening Fitri berkerut ,gadis itu terdiam memeriksa jam di ponsel hp nya.

"Lah iya,udah jam 4 lewat 15 menit,itu artinya sekarang sudah sore. Perasaan tadi kayanya masih pagi deh" Gumam gadis itu nampak bingung. Bagaimana tidak bingung,ia menghabiskan waktu semalaman hanya untuk naik bus,ia juga masih ingat jika subuh tadi dirinya menumpang sholat di mushola sebelum kembali melanjutkan perjalanan,harusnya saat ini masih pagi ketika dia sampai di desa tersebut.

"Kamu ini siapa dan darimana ? Mau apa datang ke desa ini ? Terus tadi kamu dadah-dadah sama siapa ?" Tanya seorang ibu-ibu

"Nama saya Fitri Bu. Tadi saya dadah ke bus yang sudah mengantar saya hingga sampai di desa ini "Jawab Fitri

"Bus ? Bus apa ? Orang tadi kami lihat kamu datang jalan kaki kok ,abis itu dadah-dadah gak jelas " Ujar seorang ibu

Fitri mengerutkan keningnya," masa sih ?" Tanya Fitri

Orang-orang nampak saling bertukar pandang,namun tiba-tiba mereka terperanjat saat Fitri tiba-tiba menepuk tangan nya sendiri.

Plak...

"Berarti bener dong gue naik bus hantu "Gumam gadis itu pelan.

"Neng...! Sebenarnya kamu itu dari mana ? Kenapa bisa sampai di desa ini ?"

"Saya dari Jakarta mau bertemu dengan bibi Nina " Jawab Fitri memperkenalkan diri.

"Nina ?" Tanya yang lain.

"Iya Bu,bibi Nina sepupu bapak saya " Jawab Fitri lagi,semua orang nampak berpikir ,Nina siapa yang gadis itu maksud.

"Memangnya siapa nama bapak kamu ? Di sini nama Nina lumayan banyak,istri pak kades namanya Nina, tetangga saya Nina,mertua saya Nina,anaknya pak Rudi Nina,adik saya juga Nina namanya " Tanya ibu tadi mulai merasa gemas

"Iwan,Bu. Kata bapak ada rumah peninggalan keluarga nya di desa ini,saya mau minta kuncinya pada bibi Nina " Ujar Fitri

"Iwan ?"

"Iwan mana ? Nama Iwan juga banyak,suami saya Iwan. Jangan-jangan kamu anak suami saya dari perempuan lain,datang mau minta pengakuan ! Ayo ngaku !" Tuduh ibu itu sambil menunjuk.

Fitri terkesiap," Ehh...bukan ! Bapak saya baru saja meninggal,saya datang juga karena pesan bapak. Lagi pula nama bapak saya Iwan Iwana "Terang Fitri sedikit gelagapan karena terkejut.

"Iwan Iwana ? Kamu anak nya Wana ?" Seru seorang pria paruh baya yang ditaksir seumuran ayah nya.

"Wana ?" Gumam Fitri dengan kening berkerut.

"Iya,Iwan Iwana bapak kamu " Ucap pria itu lagi

"Tapi nama bapak saya Iwan Setiawan pak,bukan Iwan Iwana " Ucap Fitri

"Hah ? Ikan sariawan?" Seru seorang kakek yang memang pendengaran nya sudah mulai terganggu.

"Bukan kek,bukan ikan sariawan,tapi Iwan Setiawan " Ucap Fitri membenarkan.

"Kenapa bisa ikan nya sariawan? Terus mana sekarang ikan nya ? Kamu bawa gak ? Saya ahlinya menangani ikan sariawan " Ucap si kakek begitu percaya diri.

"Eh kek,apaan sih ? Gak ada yang sariawan apalagi ikan. Kakek salah denger !" Seru si ibu yang tadi bertanya pada Fitri.

"Hehehe...gampang sih, tinggal belah saja ikan nya lalu dibersihkan,habis itu dilumuri bumbu lalu digoreng,dijamin sariawan nya hilang terus ikan nya bisa langsung dinikmati" ucap kakek itu sambil terkekeh sendiri.

Fitri meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Oh...jadi maksudnya kakek ini bercanda kali ya,tapi garing amat " Bisik hati nya.

"Sudahlah jangan tanggepin,kakek Mul memang seperti itu" Ucap si ibu

"Ayo ikut saya ! Sepertinya saya tahu Nina yang kamu maksud " Ucap ibu itu seraya menarik lengan Fitri.

Orang-orang di sana seketika membubarkan diri saat matahari kian condong ke barat,termasuk si kakek yang langsung lari terbirit-birit menuju rumah nya. Di usianya yang sudah senja kakek yang sering dipanggil kakek Mul itu memang masih gesit dan lincah hanya saja pendengarannya yang bermasalah.

Fitri berjalan cepat mengikuti langkah kaki ibu-ibu yang mengantar nya.

"Buset...pada cepet banget jalan mereka. Kakek tadi juga larinya kenceng banget ,pada gak takut jatuh apa " batin Fitri heran.

"Ayo cepetan sedikit jalan nya ! Kita gak punya banyak waktu ,sebelum Maghrib saya harus sudah berada di rumah " kata si ibu tanpa menghentikan langkahnya.

"Iya Bu, ini juga udah cepet" Jawab Fitri dengan nafas ngos-ngosan.

"Kamu masih muda harus punya stamina yang kuat,masa baru jalan segini saja udah ngos-ngosan" Ucap si ibu tanpa menoleh.

"Gimana gak ngos-ngosan,orang jalan nya udah kaya dikejar babi jantan lagi birahi " Batin Fitri menggerutu.

"Oh iya, nama saya Wati padahal nama asli saya Wartinah tapi warga di sini lebih suka manggil Wati " Ucap si ibu itu akhirnya memperkenal kan dirinya.

"Iya Bu Wartinah,salam kenal " Sahut Fitri.

"Kenapa gak manggil Wati seperti warga desa di sini ?" Tanya Bu Wati bingung.

"Karena aku bukan warga sini Bu,jadi lebih suka manggil nama asli ibu " Jawab Fitri sambil nyengir.

"Bener juga ya...." Gumam Bu Wati sambil menganggukkan kepalanya.

Tak lama mereka pun sampai di sebuah rumah sederhana dengan dinding warna biru cerah yang mulai mengelupas cat nya.

"Ini rumah nya,sudah ya saya mau pulang takut keburu Maghrib " Bu Wati langsung ngacir tanpa menoleh lagi.

"Iya Bu. Makasih ya udah berbaik hati nganterin !" Ucap Fitri setengah berteriak. Bu Wati tak menyahut karena sudah terlalu jauh dan mungkin tak terdengar oleh nya.

"Buseettt...lari nya kenceng banget,atlet pelari internasional aja kalah ini mah " Gumam Fitri.

"Huuuhhh...." Fitri menghela nafas panjang,lalu beralih menatap rumah di depan nya. Diperhatikan nya setiap jendela,semua nampak tertutup rapat.

"Ini rumah ada penghuninya gak sih ? Kok sepi banget,mana jendela nya pada tutup " Gumam nya terus bermonolog.

"Bener gak sih ini rumahnya" Tanya nya pada diri sendiri.

"Rumah-rumah lain juga nampak kosong,masa iya pada gak ada orangnya. Sayang banget padahal rumah-rumah nya bagus-bagus " Ucap Fitri terus bermonolog memperhatikan rumah-rumah lain yang terlihat kosong tak berpenghuni.

Saat tengah terdiam,gadis itu menoleh dan tak sengaja melihat seseorang yang mengintip di samping rumah.

"Eh siapa tuh ?"

Fitri seketika menghampiri nya,namun sesampainya di sana dia tak menemukan siapapun.

"Kok gak ada ? Cepet banget ngilang nya " Gumam nya pelan.

Hari mulai gelap saat matahari hendak terbenam,cahaya jingga kemerahan mulai menghiasi langit. Fitri kembali menuju pintu dan segera mengetuk nya meski ia ragu jika di rumah itu ada penghuninya.

Tok...tok...tok....!

"Asalamualaikum......"

Tak ada sahutan.

Tok.... tok....tok....!

"Assalamualaikum....."

Masih tak ada sahutan dari dalam.

"Astaga...gue kena prank Bu Wati. Rumah kosong begini kok " Keluh Fitri yang merasa ditipu.

"Mana udah mau gelap,masa iya gue luntang-lantung gak jelas. Mau tidur dimana gue malam ini " Gadis itu berdecak kesal.

Saat itu pintu tiba-tiba terbuka sedikit,mendengar suara berderit Fitri segera menoleh. Akan tetapi, seseorang dibalik pintu segera menarik nya,hingga Fitri tersentak kaget dan refleks menarik lengan nya dan menjauh.

"Ayo masuk ! Di luar berbahaya kalau sudah gelap !" seru seorang wanita dari balik pintu.

"Astaga...malah diem. Ayo masuk !" Seorang wanita paruh baya terpaksa keluar dan langsung menarik paksa Fitri membawanya masuk.

"Eh Bu....!" Kejut Fitri

"Dibilangin kok ngeyel !" Perempuan itu mengomel. Terlihat sekali gurat kekesalan dan juga takut bercampur di wajahnya.

"Maaf bu,memang nya ada apa ya ?" Tanya Fitri penasaran.

"Haduh ,jangan nanya sekarang deh. Besok saja. Oh iya kamu siapa ? Kenapa datang bertamu ke rumah saya ?" Tanya perempuan itu memperhatikan Fitri dari ujung kepala sampai kaki. Ia juga memperhatikan tas ransel yang dibawanya.

"Maaf Bu ,jangan tanya sekarang besok saja " Ucap Fitri membalas ucapan nya.

Perempuan itu mendelik tajam," hehehe...maaf bercanda " cengir Fitri

......

Terpopuler

Comments

Kardi Kardi

Kardi Kardi

give up miss fir😍

2026-05-17

2

Nurr Tika

Nurr Tika

fitri keren ya ga tkut ma setan

2026-05-16

2

Sekti Ibue'BilFa

Sekti Ibue'BilFa

petualangan Fitri baru dimulai💪

2026-05-16

1

lihat semua
Episodes
1 Awal cerita
2 Rencana Fitri
3 Naik bus hantu
4 Mencari rumah Bi Nina
5 Menginap di rumah Bi Nina
6 Di datangi pocong
7 Kerasukan
8 Mengganggu
9 Mengintimidasi
10 Kembali ke Jakarta
11 Tertabrak kereta
12 Kuntilanak bau
13 Maria
14 Membantu Maria
15 Tuyul seceng
16 Kembali ke Desa
17 Sampai di Desa
18 Kembalinya Fitri
19 Ngeyel
20 Gombalan maut
21 Seutas tali
22 Suara gamelan
23 Pemakaman Mamat
24 Terkejut
25 Mimpi aneh
26 Pertanyaan Fitri
27 Kebaikan Fitri
28 Takut karena tingkah sendiri
29 Mimpi lagi
30 Ridho dalam bahaya
31 Menyelamatkan Ridho
32 Dipaksa menikah
33 Alasan pernikahan
34 Serba salah
35 Diajak curhat
36 Pengorbanan
37 Hari pertama suami istri
38 Ridho kecelakaan
39 Penangkal kakek Mul
40 Tak ingat masa lalu
41 Ketakutan Fitri
42 Mencurigakan
43 Rencana Ibu mertua
44 Prank puding
45 Mencari rumah kakek Mul.
46 Tak ingin membalas
47 Drama ibu mertua
48 Usaha Fitri meluluhkan ibu mertua
49 Calon menantu kesayangan yang gagal
50 Dianggap remeh
51 Cinta yang sudah menyatu
52 Niat jahat
53 Dihadang preman
54 Pembalasan dendam Wulan
55 Melihat sesuatu yang mengerikan
56 Ridho cemburu
57 Menemui seseorang
58 Cucu sultan
59 Tentang Ridho dan Pak Hartono
60 Bantuan Hartono
61 Bantuan Adnan
62 Mimpi Fitri
63 Pulang ke desa
64 Bertemu ibunya Lucinta
65 Kondisi Kakek Mul
66 Kakek Mul
67 Mengungkap misteri
68 Mantra
69 Bisikan
70 Fitri kemana ?
71 Dedatangan Adnan
72 Memulai pencarian
73 Kantong ajaib Doraemon
74 Wagino alias Nitis Kala Sura
75 Kecolongan
76 Pertarungan
77 Tamat nya riwayat Ki Raguma
78 Kondisi Fitri
79 Kembali
80 Pulang ke rumah
81 Ngidam
82 Pernyataan cinta Fitri
83 Nina tak percaya
84 Persiapan
85 Meyakinkan warga
86 Dikira stres
87 Salah sasaran
88 Ridho emosi
89 Baik-baik saja
90 Rencana Lucinta
91 Tingkah trio kuntilanak
92 Santet yang gagal
93 Kondisi Kojek
94 Ngidam cilok
95 Tamu tak diundang
96 Membantu Lucinta
97 Keusilan Fitri
98 Memberi pelajaran
99 Mengerjai Bu Ria
100 Pulang ke Jakarta
101 Ngidam lagi
102 Mencari mangga muda
103 Hal tak diduga.
104 Pertemuan Kojek dan Lita
105 Jualan Bakso ?
106 Tiba-tiba nembak
107 Keputusan Ali (end)
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Awal cerita
2
Rencana Fitri
3
Naik bus hantu
4
Mencari rumah Bi Nina
5
Menginap di rumah Bi Nina
6
Di datangi pocong
7
Kerasukan
8
Mengganggu
9
Mengintimidasi
10
Kembali ke Jakarta
11
Tertabrak kereta
12
Kuntilanak bau
13
Maria
14
Membantu Maria
15
Tuyul seceng
16
Kembali ke Desa
17
Sampai di Desa
18
Kembalinya Fitri
19
Ngeyel
20
Gombalan maut
21
Seutas tali
22
Suara gamelan
23
Pemakaman Mamat
24
Terkejut
25
Mimpi aneh
26
Pertanyaan Fitri
27
Kebaikan Fitri
28
Takut karena tingkah sendiri
29
Mimpi lagi
30
Ridho dalam bahaya
31
Menyelamatkan Ridho
32
Dipaksa menikah
33
Alasan pernikahan
34
Serba salah
35
Diajak curhat
36
Pengorbanan
37
Hari pertama suami istri
38
Ridho kecelakaan
39
Penangkal kakek Mul
40
Tak ingat masa lalu
41
Ketakutan Fitri
42
Mencurigakan
43
Rencana Ibu mertua
44
Prank puding
45
Mencari rumah kakek Mul.
46
Tak ingin membalas
47
Drama ibu mertua
48
Usaha Fitri meluluhkan ibu mertua
49
Calon menantu kesayangan yang gagal
50
Dianggap remeh
51
Cinta yang sudah menyatu
52
Niat jahat
53
Dihadang preman
54
Pembalasan dendam Wulan
55
Melihat sesuatu yang mengerikan
56
Ridho cemburu
57
Menemui seseorang
58
Cucu sultan
59
Tentang Ridho dan Pak Hartono
60
Bantuan Hartono
61
Bantuan Adnan
62
Mimpi Fitri
63
Pulang ke desa
64
Bertemu ibunya Lucinta
65
Kondisi Kakek Mul
66
Kakek Mul
67
Mengungkap misteri
68
Mantra
69
Bisikan
70
Fitri kemana ?
71
Dedatangan Adnan
72
Memulai pencarian
73
Kantong ajaib Doraemon
74
Wagino alias Nitis Kala Sura
75
Kecolongan
76
Pertarungan
77
Tamat nya riwayat Ki Raguma
78
Kondisi Fitri
79
Kembali
80
Pulang ke rumah
81
Ngidam
82
Pernyataan cinta Fitri
83
Nina tak percaya
84
Persiapan
85
Meyakinkan warga
86
Dikira stres
87
Salah sasaran
88
Ridho emosi
89
Baik-baik saja
90
Rencana Lucinta
91
Tingkah trio kuntilanak
92
Santet yang gagal
93
Kondisi Kojek
94
Ngidam cilok
95
Tamu tak diundang
96
Membantu Lucinta
97
Keusilan Fitri
98
Memberi pelajaran
99
Mengerjai Bu Ria
100
Pulang ke Jakarta
101
Ngidam lagi
102
Mencari mangga muda
103
Hal tak diduga.
104
Pertemuan Kojek dan Lita
105
Jualan Bakso ?
106
Tiba-tiba nembak
107
Keputusan Ali (end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!