Episode 2

Bab 2

Nadia tidak langsung menangis.

Air mata seperti berhenti di satu tempat, terlalu penuh sampai tidak bisa jatuh. Ia hanya berdiri sambil menatap layar ponsel, melihat story Instagram Siska diputar ulang. Video itu berdurasi lima belas detik, tapi cukup untuk menghancurkan hampir dua puluh tahun kepercayaannya.

Farhan tersenyum.

Senyum yang sudah lama tidak Nadia lihat di rumah.

Di meja makan mereka, Farhan lebih sering diam. Kalau Nadia bertanya soal pekerjaan, ia menjawab pendek. Kalau Nadia menyodorkan teh, ia hanya mengangguk. Kalau Nadia meminta uang belanja tambahan karena Mama Meri butuh obat atau Dimas perlu bayar les, Farhan akan menghela napas seperti ia baru saja dibebani sesuatu yang tidak masuk akal.

Tapi di video itu, Farhan tertawa.

Tawanya ringan. Bahunya condong ke arah Rania. Jari Rania sempat menyentuh lengan Farhan saat perempuan itu mengambil lauk, dan Farhan tidak menghindar.

Dinda tertawa bersama mereka.

Dimas mengangkat gelas, seperti sedang bersulang.

Mama Meri menepuk tangan Rania, mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar. Tapi Nadia bisa menebak nadanya. Lembut. Hangat. Nada yang jarang sekali ia terima.

Nadia mematikan layar.

Ruangan menjadi sunyi.

Ia menoleh ke meja makan. Opor, rendang, ketupat, kue kering. Semua tampak seperti barang bukti. Seharian ia memasak untuk orang-orang yang ternyata tidak pernah berniat pulang.

Ponsel bergetar lagi.

Nadia terlonjak. Ia berharap nomor aneh itu kembali muncul, berharap Raka dan Rani menyelesaikan kalimat mereka. Tapi yang muncul adalah pesan suara dari Mama Meri di grup keluarga.

Nadia menekan tombol putar.

Suara Mama Meri terdengar ceria, seolah tidak ada yang salah.

“Nadia, kamu jangan tunggu kami, ya. Mama sama Papa masih di rumah Bu Lilis. Tadi sudah sekalian makan. Farhan juga sepertinya masih ada urusan kantor. Anak-anak ikut Mama. Kamu makan saja dulu. Jangan lebay kalau kami pulang agak malam.”

Nadia tertawa kecil.

Pendek. Kering.

Ia memutar video Siska lagi, lalu memutar pesan suara Mama Meri sekali lagi.

Pembohong.

Satu kata itu muncul begitu jelas sampai Nadia merasa seperti mendengarnya di ruangan.

Selama ini ia selalu mencari alasan untuk mereka.

Mama Meri keras karena sudah tua. Pak Hendra dingin karena memang wataknya kaku. Dimas dan Dinda kurang sopan karena masa remaja. Farhan jauh karena pekerjaan. Rania sering dibantu karena hidupnya kasihan.

Ternyata alasan itu semua ia buat sendiri agar bisa bertahan.

Nadia membuka daftar kontak dan menelepon Farhan.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Ia menelepon lagi.

Masih sama.

Ia membuka chat pribadi Farhan.

Nadia:

Kamu di mana?

Centang satu.

Ia mengirim foto tangkapan layar story Siska.

Centang satu.

Nadia menunggu beberapa detik, lalu tertawa lagi. Farhan mematikan ponsel bukan karena sibuk. Ia mematikannya agar tidak bisa dihubungi istrinya sendiri.

Nadia berjalan ke kamar. Gerakannya pelan, tapi pikirannya mulai berlari. Ia membuka lemari, mengambil kerudung hitam dan outer sederhana. Lalu ia berhenti di depan cermin.

Perempuan di cermin tampak pucat. Rambut di balik kerudung belum rapi. Wajah tanpa riasan. Mata lelah. Gamis rumahannya bersih, tapi sudah terlalu sering dicuci sampai warnanya pudar.

Nadia menatap dirinya lama.

Tadi pagi ia sebenarnya sempat memakai baju Lebaran baru. Warna dusty rose, sederhana tapi manis. Ia membelinya setelah berpikir hampir dua minggu. Setiap kali ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri, suara Farhan selalu terngiang.

“Belanja rumah kok besar sekali?”

“Kamu di rumah saja, kebutuhanmu apa?”

“Jangan boros, Nad. Aku kerja capek.”

Nadia akhirnya sering mengalah. Baju baru untuk Dinda. Sepatu untuk Dimas. Obat untuk Mama Meri. Rokok Pak Hendra, yang katanya tidak bisa berhenti karena sudah kebiasaan. Uang bensin Farhan. Uang iuran sekolah. Uang bingkisan tetangga.

Untuk dirinya sendiri, Nadia selalu bilang nanti.

Malam ini, ia tidak mau memakai baju pudar.

Nadia membuka kembali lemari, mengambil baju dusty rose itu. Ia mengganti pakaian, merapikan kerudung, lalu memakai bedak tipis. Tangannya sempat bergetar saat mengoles lipstik warna lembut.

Ia bukan hendak pergi merebut suami.

Ia hendak pergi mengambil kembali harga dirinya.

Ponselnya bergetar lagi.

Nomor aneh itu tidak muncul. Yang muncul kali ini pesan dari Siska.

Siska:

Mbak Nadia, maaf banget. Aku baru sadar Mbak enggak ada di acara. Tadi aku kira kalian memang datang bareng tapi Mbak pulang duluan.

Siska:

Mbak baik-baik saja?

Nadia menatap pesan itu. Beberapa detik kemudian, Siska mengirim satu foto lagi. Mungkin karena merasa tidak enak. Foto itu lebih jelas daripada story.

Farhan duduk di tengah. Rania di sebelahnya. Dinda bersandar ke bahu Rania. Dimas memegang piring sambil tertawa. Mama Meri dan Pak Hendra tampak puas.

Di meja itu ada satu kursi kosong di ujung.

Kursi itu bukan untuk Nadia.

Nadia mengetik perlahan.

Nadia:

Aku baik. Terima kasih sudah kirim foto.

Siska:

Mbak, aku sungguh enggak tahu.

Nadia:

Aku tahu. Tolong jangan hapus story itu dulu.

Siska tidak langsung membalas. Mungkin ia mulai mengerti bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Siska:

Iya, Mbak.

Nadia menaruh ponsel ke tas kecil. Ia mengambil kunci rumah, lalu menatap meja makan untuk terakhir kali.

Ada rasa sesak yang hampir membuatnya kembali duduk.

Selama bertahun-tahun, meja makan itu adalah tempat ia menunggu. Menunggu Farhan pulang. Menunggu anak-anak selesai main ponsel. Menunggu Mama Meri berhenti mengomel. Menunggu ada yang memuji makanannya. Menunggu ada yang menyadari ia juga manusia.

Malam ini, ia berhenti menunggu.

Nadia mematikan kompor, menutup semua makanan, lalu keluar rumah.

Di depan pagar, Bu Yayah, tetangga sebelah, sedang menyapu sisa kembang api. Perempuan itu menoleh ketika melihat Nadia.

“Mbak Nadia, mau ke mana malam-malam? Farhan belum pulang?”

Biasanya Nadia akan tersenyum dan berbohong. Biasanya ia akan berkata Farhan lembur, anak-anak bersama neneknya, semuanya baik-baik saja.

Tapi malam ini, mulutnya tidak mau lagi bekerja untuk menutupi kebusukan orang lain.

“Saya mau jemput keluarga saya, Bu,” jawab Nadia.

Bu Yayah menatap baju rapi dan wajah pucat Nadia, lalu pelan-pelan berhenti menyapu.

“Ada apa?”

Nadia tersenyum tipis. “Nanti juga Ibu dengar.”

Ia berjalan keluar gang dan memesan ojek online. Selama menunggu, Nadia membuka lagi pesan dari nomor aneh itu. Tidak ada riwayat yang bisa dibuka. Panggilan tadi seperti tidak pernah terjadi. Nomor 020-2056-0000 tidak bisa ditelepon balik.

Nadia mencoba menekan panggil.

Tidak tersambung.

Ia menatap layar. “Raka. Rani.”

Nama itu terasa asing di lidah, tapi anehnya membuat dadanya hangat.

Kalau semua yang mereka katakan benar, berarti ia punya masa depan. Bukan masa depan bersama Farhan. Bukan bersama Dimas dan Dinda. Masa depan lain, dengan anak-anak yang benar-benar mencintainya, cucu-cucu yang menangis karena merindukannya.

Pikiran itu membuat Nadia nyaris goyah.

Apa mungkin?

Apa mungkin perempuan yang bertahun-tahun disebut mandul ini suatu hari akan dipanggil ibu, lalu nenek, oleh darah dagingnya sendiri?

Motor ojek berhenti di depannya.

“Bu Nadia?”

Nadia mengangguk dan naik.

“Tujuan Restoran Bale Rasa, ya?”

“Iya.”

Motor melaju membelah jalan yang ramai. Lampu-lampu Lebaran berkelip di depan toko. Orang-orang tertawa membawa parsel. Beberapa keluarga keluar dari masjid dengan wajah bahagia.

Nadia memegang tasnya erat-erat.

Semakin dekat ke restoran, semakin dingin tangannya. Namun di balik dingin itu, ada sesuatu yang tumbuh.

Bukan ketakutan.

Amarah.

Ia teringat semua malam saat Farhan pulang terlambat dan ia memilih percaya. Semua pesan singkat yang dijawab dengan kata "rapat". Semua Lebaran ketika ia sibuk menyiapkan hidangan sementara namanya hilang dari foto keluarga. Potongan-potongan kecil itu dulu ia simpan sebagai ketidaksengajaan. Sekarang, di atas motor yang bergetar, semuanya tersusun menjadi satu garis lurus.

Jika malam ini ia tetap diam, besok mereka akan menyebut diamnya sebagai persetujuan.

Ketika motor berhenti di depan Bale Rasa, Nadia turun, membayar, lalu berdiri beberapa detik di depan pintu kaca.

Dari dalam terdengar tawa.

Ia mengenali tawa Farhan.

Nadia mendorong pintu.

Pelayan menyambutnya dengan senyum. “Selamat malam, Bu. Ada reservasi?”

Nadia menatap ke arah ruang keluarga di bagian dalam. Dari celah pintu setengah terbuka, ia melihat kerudung krem Rania.

“Ada,” jawab Nadia.

Suaranya tenang sekali.

“Saya istrinya Farhan Pradipta.”

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!