Episode 5

Bab 5

Nadia baru sampai di lobi restoran ketika Farhan mengejarnya.

Langkah laki-laki itu cepat, napasnya tertahan, wajahnya masih menahan marah. Di belakangnya, Mama Meri ikut keluar bersama Pak Hendra, Dimas, Dinda, dan Rania. Mereka semua seperti rombongan keluarga yang baru saja kehilangan kendali atas panggungnya sendiri.

“Nad, berhenti.”

Nadia tetap berjalan.

Farhan meraih pergelangan tangannya.

Gerakan itu tidak keras, tapi cukup membuat Nadia berhenti. Ia menatap tangan Farhan di kulitnya, lalu pelan-pelan mengangkat mata.

“Lepaskan.”

Farhan tidak langsung melepas. “Kita bicara.”

“Tadi kamu bilang bicara di rumah.”

“Ya, kita pulang.”

“Rumah siapa?”

Farhan menahan rahang. “Jangan mulai lagi.”

Nadia menarik tangannya. Kali ini Farhan melepas, mungkin karena ada terlalu banyak orang melihat. Beberapa tamu di lobi pura-pura sibuk, tapi telinga mereka jelas mengarah ke sana.

Rania berdiri agak jauh, wajahnya pucat. Ia memegang tas mahalnya di depan perut, seolah tas itu bisa melindunginya dari tatapan orang.

Mama Meri melotot ke arah Nadia. “Kamu puas? Satu restoran sekarang melihat kita.”

“Bagus,” jawab Nadia. “Biasanya cuma aku yang melihat kebusukan kalian.”

“Mulutmu makin liar.”

“Karena selama ini terlalu sering dikunci.”

Dinda menangis pelan. “Papa, aku malu.”

Nadia menoleh. Ada bagian kecil di dirinya yang dulu pasti langsung luluh melihat Dinda menangis. Ia akan mendekat, menyeka air mata anak itu, meminta maaf meski bukan salahnya.

Tapi malam ini ia hanya bertanya, “Malu karena apa?”

Dinda tersentak.

Nadia melanjutkan, “Karena aku bicara, atau karena kamu ketahuan lebih memilih perempuan lain daripada orang yang membesarkanmu?”

Dinda menutup wajah. “Aku tidak memilih siapa-siapa.”

“Tanganmu dari tadi menggenggam Rania.”

Rania cepat berkata, “Mbak, jangan salahkan anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa.”

Nadia menatapnya. “Kamu yakin?”

Wajah Rania berubah sedikit.

Cepat sekali. Hanya sepersekian detik. Tapi Nadia melihatnya. Ada ketakutan kecil yang muncul ketika Nadia menekan kata anak-anak.

Jadi benar.

Ada sesuatu di sana.

Farhan berdiri di antara mereka. “Dimas dan Dinda tidak ada hubungannya dengan masalah orang dewasa.”

“Mereka ada di meja itu.”

“Mereka anak-anak.”

“Mereka sudah cukup besar untuk tahu ibunya ditinggal sendirian di rumah.”

Dimas tersinggung. “Kamu bukan ibu kandung kami!”

Kalimat itu meledak di lobi.

Orang-orang yang tadi berbisik langsung diam.

Nadia merasakan tubuhnya seperti ditampar dari dalam. Ia tahu Dimas bukan anak kandungnya. Ia selalu tahu. Tapi selama bertahun-tahun, ia memilih untuk tidak menjadikan darah sebagai ukuran. Ia yang mengurus makan mereka. Ia yang menghafal jadwal ujian. Ia yang duduk di depan ruang IGD saat Dinda sesak napas. Ia yang menangis diam-diam saat Dimas pertama kali mendapat ranking buruk karena merasa gagal mendampingi.

Dan sekarang, anak itu melempar kalimat itu seperti batu.

Nadia mengangguk pelan.

“Betul.”

Dimas tampak terkejut karena Nadia tidak menangis.

“Aku memang bukan ibu kandungmu,” lanjut Nadia. “Tapi semua bekal yang kamu buang, semua seragam yang kusetrika, semua malam saat kamu demam dan aku tidak tidur, itu tidak pernah palsu.”

Dimas memalingkan wajah.

Dinda menangis makin keras.

Mama Meri langsung memeluk cucunya. “Sudah, Sayang. Jangan dengarkan dia. Dia lagi emosi.”

Nadia tertawa pelan. “Tentu. Kalau aku terluka, namanya emosi. Kalau kalian berbohong, namanya demi kebaikan.”

Pak Hendra menunjuk pintu keluar. “Pulang. Semua pulang. Kita tidak perlu jadi tontonan.”

Farhan mendekati Nadia lagi, kali ini suaranya lebih rendah. “Aku antar kamu pulang.”

“Tidak perlu.”

“Jangan keras kepala.”

“Aku pesan ojek.”

“Malam-malam begini?”

“Waktu kalian meninggalkanku sendirian di rumah, tidak ada yang khawatir malam-malam begini.”

Farhan terdiam.

Rania mendadak maju. “Mbak Nadia, aku benar-benar minta maaf. Kalau Mbak mau marah, marahlah padaku. Jangan sampai Mas Farhan dan keluarga bertengkar karena aku.”

Nadia menatap perempuan itu.

Rania memang cantik. Wajahnya halus, kulitnya terawat, bajunya mahal tapi tidak mencolok. Ia tahu cara membuat diri terlihat pantas dikasihani. Kalau orang tidak tahu cerita lengkapnya, mereka mungkin akan melihat Rania sebagai perempuan lembut yang terjebak di tengah rumah tangga orang.

Tapi Nadia sekarang tahu.

Rania tidak terjebak.

Ia duduk nyaman di kursi yang disediakan.

“Kamu ingin aku marah padamu?” tanya Nadia.

Rania tampak bingung. “Aku hanya merasa bersalah.”

“Kalau merasa bersalah, menjauh dari suamiku.”

Rania menunduk. “Aku tidak pernah mengejar Mas Farhan.”

“Tapi kamu menerima saat dia datang.”

“Dia datang karena peduli.”

“Peduli itu bisa lewat transfer uang, lewat bantuan cari kerja, lewat mengenalkan ke komunitas janda, lewat banyak cara.” Nadia mendekat satu langkah. “Kenapa bentuk pedulinya harus makan malam Lebaran dengan seluruh keluarganya tanpa istrinya?”

Rania tidak menjawab.

Mama Meri membentak, “Karena kamu tidak akan mengerti. Kamu tidak pernah merasakan jadi ibu.”

Lobi mendadak sunyi.

Farhan memejamkan mata, seperti tahu kalimat ibunya kelewatan, tapi tidak cukup berani menegur.

Nadia menoleh ke Mama Meri.

Selama ini, kalimat itu sering muncul dalam berbagai bentuk.

Kamu belum punya anak, jadi tidak paham.

Kamu cuma ibu asuh, jangan merasa paling tahu.

Kalau kamu bisa melahirkan, Farhan tidak perlu sesedih ini.

Kata mandul jarang sekali diucapkan langsung di depan umum, tapi selalu berdiri di belakang setiap kalimat mereka.

Nadia mendekat kepada Mama Meri. “Mama benar. Saya belum pernah melahirkan.”

Mama Meri mengangkat dagu, merasa menang.

“Tapi Mama juga belum tentu pernah menjadi ibu yang baik.”

Wajah Mama Meri berubah.

Pak Hendra berkata keras, “Nadia!”

Nadia tidak berhenti. “Ibu yang baik tidak mengajari anaknya berbohong. Tidak membantu anaknya menyakiti istrinya. Tidak menjadikan perempuan lain sebagai alat untuk menghina menantunya.”

Mama Meri mengangkat tangan.

Semua terjadi cepat.

Tangan itu melayang ke arah wajah Nadia. Dulu Nadia mungkin akan diam. Malam ini, sebelum telapak itu menyentuh pipinya, Nadia menangkap pergelangan Mama Meri.

Orang-orang tersentak.

Mama Meri membelalak. “Kamu berani melawan orang tua?”

“Saya berani menghentikan orang yang mau menampar saya.”

Nadia melepaskan tangan itu dengan dorongan kecil. Mama Meri mundur setengah langkah, lebih karena kaget daripada sakit.

Farhan menarik ibunya. “Ma, sudah.”

“Kamu lihat istrimu?” Mama Meri berteriak. “Dia sudah kurang ajar!”

“Aku melihat,” kata Farhan, lalu menatap Nadia dengan marah. “Dan aku kecewa.”

Nadia hampir tersenyum.

Kecewa.

Laki-laki itu masih merasa punya hak kecewa.

“Bagus,” jawabnya. “Sekarang kita sama.”

Ponsel Nadia bergetar. Driver ojek sudah tiba.

Nadia berjalan ke pintu. Rania tiba-tiba berkata, suaranya cukup pelan, tapi masih terdengar.

“Mbak Nadia, kalau Mbak memang ingin bercerai, jangan jadikan anak-anak korban. Mereka sudah cukup menderita.”

Nadia berhenti.

Ia menoleh perlahan.

Rania menatapnya dengan mata merah, tapi di balik kesedihan itu ada kilatan sesuatu. Tantangan. Seolah ia yakin anak-anak akan menjadi tali yang menyeret Nadia kembali.

Nadia berkata, “Kamu benar. Anak-anak tidak boleh jadi korban.”

Rania tampak lega.

“Karena itu mulai malam ini, biarkan orang tua kandung mereka yang bertanggung jawab.”

Wajah Rania kehilangan warna.

Farhan langsung menegang. “Apa maksudmu?”

Nadia menatap mereka satu per satu.

Ia belum punya bukti resmi. Tapi ia punya naluri, dan sekarang ia melihat ketakutan di wajah Rania.

“Tidak usah takut,” kata Nadia pelan. “Aku belum mengatakan apa-apa.”

Rania menggenggam tasnya begitu kuat sampai buku jarinya memutih.

Nadia melanjutkan, “Belum.”

Lalu ia pergi.

Di luar restoran, udara malam menyentuh wajahnya. Driver ojek menunggu dengan helm cadangan. Nadia naik tanpa menoleh.

Saat motor bergerak, ia mendengar Mama Meri masih berteriak dari lobi. Farhan memanggil namanya sekali. Dinda menangis. Dimas memaki.

Nadia tidak melihat ke belakang.

Di sepanjang jalan pulang, ponselnya penuh notifikasi. Siska mengirim pesan. Bu Yayah bertanya. Nomor Farhan yang tadi mati mulai menelepon berkali-kali.

Nadia menolak semuanya.

Ia membuka aplikasi catatan, menulis daftar dengan tangan gemetar.

1. Simpan story Siska.

2. Cari bukti hubungan Farhan dan Rania.

3. Tes DNA Dimas dan Dinda.

4. Periksa ulang kesehatan sendiri.

5. Urus perceraian.

6. Jangan pulang sebagai orang yang sama.

Motor berhenti di depan gang rumah.

Nadia turun. Rumah nomor tujuh belas masih terang. Meja makan masih menunggu di dalam.

Tapi Nadia tidak lagi merasa rumah itu miliknya.

Ia membuka pintu, masuk, lalu mengunci dari dalam.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nadia tidak membereskan meja makan.

Ia membiarkan semua makanan dingin di sana.

Biar mereka pulang dan melihat sendiri apa yang sudah mereka buang.

Terpopuler

Comments

Maulidia Okta

Maulidia Okta

Setuju Nadia... udh jangan dibberesin... Dan jangan lupa pintu kamar di kunci

2026-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!