Episode 3

Bab 3

Pelayan itu tampak ragu.

Senyumnya tetap ada, tapi matanya bergerak cepat dari wajah Nadia ke ruang keluarga di dalam. Mungkin ia sudah melihat rombongan Farhan sejak tadi. Mungkin ia juga mendengar mereka tertawa seperti keluarga utuh.

“Bapak Farhan ada di ruang Melati, Bu,” katanya akhirnya.

“Saya tahu.”

Nadia berjalan melewatinya.

Setiap langkah terasa aneh. Tidak berat, tidak ringan. Seperti tubuhnya bergerak sendiri sementara pikirannya berdiri beberapa meter di belakang, mengamati semuanya dari jauh.

Ruang Melati punya pintu kayu dengan kaca buram. Dari luar, suara tawa terdengar jelas. Suara Mama Meri paling keras. Suara Dinda menyusul. Lalu suara Rania, lembut, dibuat sedikit manja.

“Mas Farhan, jangan ambilkan aku banyak-banyak. Aku nanti gemuk.”

“Kamu dari dulu begitu,” jawab Farhan.

Nadia berhenti.

Dari dulu.

Dua kata itu kecil, tapi menusuk.

Berapa lama “dari dulu” itu? Sebelum Farhan menikah dengannya? Saat ia masih percaya bahwa Farhan memilihnya karena tulus? Saat ia menggendong Dimas yang demam semalaman, sementara Farhan katanya lembur?

Nadia mendorong pintu.

Semua suara berhenti hampir bersamaan.

Ruang itu luas, meja bundar besar di tengahnya penuh makanan. Ada gurame bakar, sate maranggi, sop iga, udang saus Padang, beberapa piring yang sudah kosong, dan kue-kue Lebaran. Di sudut ruangan ada speaker kecil memutar lagu religi pelan.

Farhan duduk di kursi utama, kemejanya rapi, wajahnya segar. Rania di sebelah kanan Farhan. Mama Meri di sebelah kiri Rania. Pak Hendra duduk dengan santai, tusuk gigi di tangan. Dimas dan Dinda berdampingan, masih memegang ponsel.

Mereka semua menatap Nadia seperti melihat hantu.

Yang pertama berdiri adalah Dinda.

“Nadia?”

Panggilan itu keluar begitu saja. Bukan “Bu”. Bukan “Mama”. Hanya Nadia.

Rania cepat-cepat menurunkan sendok. Wajahnya berubah kaget, lalu sedih, lalu canggung. Pergantian ekspresi itu begitu rapi sampai Nadia hampir ingin bertepuk tangan.

Farhan berdiri setengah. “Nad? Kamu kenapa ke sini?”

Nadia menatapnya.

Pertanyaan bagus.

Seharusnya ia yang bertanya begitu. Kenapa suaminya ada di sini? Kenapa keluarganya makan malam Lebaran bersama perempuan lain? Kenapa ia dibiarkan sendirian dengan masakan dingin?

Tapi Nadia tidak menjawab.

Ia berjalan masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Mama Meri langsung pulih lebih dulu. “Nadia, kamu ini apa-apaan? Datang tidak bilang-bilang. Bikin kaget orang saja.”

Nadia tersenyum tipis. “Kalau bilang dulu, nanti Mama sempat pindah tempat.”

Wajah Mama Meri mengeras.

Pak Hendra menaruh tusuk gigi. “Jaga bicaramu. Ini malam Lebaran.”

“Saya tahu, Pak.” Nadia melihat meja. “Makanya saya masak dari subuh.”

Tidak ada yang menjawab.

Dimas mendengus. “Kalau sudah masak, ya makan saja di rumah. Kenapa harus nyusul ke sini?”

Nadia menoleh kepadanya.

Anak laki-laki itu sudah hampir setinggi Farhan. Dulu, saat pertama kali datang ke rumah, Dimas kecil takut tidur sendiri. Nadia duduk di samping kasurnya tiga malam berturut-turut sampai anak itu berani memejamkan mata. Ia pernah memandikan Dimas saat campak, pernah menjual gelang emas tipisnya untuk membayar uang pangkal sekolah.

Sekarang Dimas menatapnya seperti pengganggu.

“Karena keluarga saya ada di sini,” jawab Nadia.

Dinda memutar mata. “Drama banget.”

Rania cepat menyentuh tangan Dinda. “Dinda, jangan begitu. Bagaimanapun, Tante Nadia sudah membesarkan kalian.”

Tante.

Nadia mendengar kata itu dengan jelas.

Dinda tidak membantah Rania. Ia hanya menunduk, bibirnya mengerucut.

Nadia mengalihkan pandangan ke Rania. “Terima kasih sudah mengingatkan dia.”

Rania tersenyum lemah. “Mbak Nadia, aku bisa jelaskan. Ini bukan seperti yang Mbak pikirkan.”

“Aku belum bilang apa yang kupikirkan.”

Senyum Rania membeku.

Farhan menarik napas. “Nad, jangan mulai. Kita bicara di rumah.”

“Kita punya rumah?” tanya Nadia pelan.

Farhan mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Rumah itu tempat orang pulang,” kata Nadia. “Malam ini kalian semua memilih pulang ke sini.”

Mama Meri memukul meja pelan. “Sudah. Jangan bikin malu. Rania ini sendirian. Kasihan. Tidak ada keluarga yang menemani malam takbiran. Kami cuma makan bersama.”

“Rania sendirian?” Nadia menatap Rania dari ujung kerudung sampai tas mahal di kursinya. “Bukannya ada suami orang, dua anak orang, dan mertua orang di sini?”

Rania langsung menunduk. Matanya berkaca-kaca.

Hebat, pikir Nadia.

Air mata perempuan itu cepat sekali datang.

“Mbak, aku tidak pernah bermaksud mengambil siapa pun,” ucap Rania lirih. “Aku cuma diundang Mama. Aku juga tidak enak menolak.”

Mama Meri langsung membela. “Betul. Mama yang ajak. Kamu jangan salahkan Rania. Dia perempuan baik-baik.”

Nadia tertawa kecil. “Perempuan baik-baik duduk di sebelah suami orang saat istrinya ditinggal sendirian di rumah?”

“Nadia!” Farhan membentak.

Ruangan hening.

Nadia menatap suaminya. Dulu, bentakan Farhan cukup untuk membuatnya diam. Ia akan langsung takut suasana memburuk. Ia akan meminta maaf meski tidak tahu salahnya apa.

Malam ini, bentakan itu hanya terdengar lucu.

“Kenapa?” tanya Nadia. “Takut aku bicara terlalu jelas?”

Farhan mendekat satu langkah. “Kamu salah paham.”

“Kalau begitu jelaskan.”

“Rania istri almarhum sahabatku. Aku punya tanggung jawab moral.”

“Tanggung jawab moral itu mematikan ponsel, membohongi istri, dan membawa seluruh keluarga makan Lebaran bersama dia?”

Farhan terdiam.

Mama Meri berdiri. “Kamu itu tidak punya hati. Rania sudah menderita. Suaminya meninggal, hidupnya tidak mudah.”

“Saya juga tidak mudah, Ma.”

“Kamu punya suami!”

Nadia menatap Farhan. “Punya?”

Satu kata itu membuat Farhan memalingkan wajah.

Rania mengusap sudut matanya. “Mbak Nadia, kalau kehadiranku membuat Mbak tidak nyaman, aku minta maaf. Aku bisa pulang sekarang.”

Ia bergerak seperti hendak berdiri.

Dinda langsung memegang tangannya. “Tante Rania jangan pergi. Tante enggak salah.”

Dimas ikut bicara. “Iya. Yang bikin ribut bukan Tante.”

Nadia melihat tangan Dinda yang menggenggam tangan Rania.

Terlalu akrab.

Terlalu alami.

Kalimat Raka kembali berdengung di telinganya.

Dimas dan Dinda itu bukan anak kerabat jauh. Mereka itu anak—

Nadia menelan rasa pahit.

Belum. Ia belum punya bukti.

Malam ini cukup satu luka dulu.

Ia berjalan ke kursi di sebelah Farhan, kursi yang tadi dipakai Rania. Semua orang mengikuti gerakannya dengan mata.

“Bangun,” kata Nadia.

Rania mendongak. “Maksud Mbak?”

“Itu kursiku.”

Rania pucat. “Aku tidak tahu.”

“Sekarang sudah tahu.”

Farhan meraih lengan Nadia. “Jangan kekanak-kanakan.”

Nadia menatap tangan Farhan di lengannya, lalu menatap mata suaminya. “Lepaskan.”

Nada suaranya tidak keras. Justru karena terlalu tenang, Farhan tampak terkejut. Perlahan ia melepas.

Rania berdiri dengan mata basah. “Tidak apa-apa, Mas. Biar aku pindah.”

Mas.

Nadia duduk di kursi itu sebelum emosinya meledak. Ia mengambil gelas kosong, menuang air, lalu minum seteguk.

Semua orang masih berdiri atau membeku.

“Silakan lanjut makan,” kata Nadia. “Katanya ini cuma makan biasa, kan?”

Tidak ada yang bergerak.

Nadia menaruh gelas.

“Atau memang ada yang tidak biasa?”

Di luar ruang Melati, beberapa pelayan mulai melirik karena suara mereka meninggi. Dari celah pintu, Nadia melihat seseorang berhenti. Mungkin tamu lain. Mungkin Siska. Mungkin siapa saja.

Bagus.

Selama bertahun-tahun, semua penghinaan terjadi di balik pintu rumah.

Malam ini, pintunya terbuka.

Nadia melihat Dinda menggenggam ujung taplak meja. Anak itu takut, tapi tidak berani membantah siapa pun. Dimas menatap piringnya, rahang keras seperti Farhan saat marah. Rania justru menunduk dengan wajah terluka, seolah Nadia yang datang merampas kebahagiaannya.

Pemandangan itu membuat Nadia semakin sadar: mereka semua sudah punya peran. Ia satu-satunya orang yang baru membaca naskahnya malam ini.

Mama Meri menunjuk Nadia. “Kalau kamu masih punya malu, pulang sekarang.”

Nadia tersenyum.

“Malu itu seharusnya milik orang yang berbohong, Ma.”

Farhan menahan rahang. “Nadia, cukup.”

“Belum,” kata Nadia.

Ia mengambil ponsel, membuka story Siska, lalu meletakkannya di tengah meja.

“Aku mau dengar satu orang saja di meja ini menjelaskan. Kenapa aku, istri sah Farhan, diminta makan sendiri di rumah, sementara kalian merayakan malam Lebaran di sini bersama Rania?”

Tidak ada jawaban.

Hanya wajah-wajah yang dulu ia sebut keluarga, kini menatapnya seperti musuh.

Nadia tahu, setelah malam ini, tidak ada jalan pulang.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!