Episode 4

Bab 4

Orang yang paling cepat panik biasanya orang yang paling tahu dirinya salah.

Malam itu, yang paling panik bukan Rania.

Melainkan Farhan.

Nadia melihat cara suaminya menatap pintu, lalu menatap ponsel di tengah meja. Rahangnya mengeras, tapi matanya gelisah. Ia bukan takut Nadia terluka. Ia takut orang lain mendengar.

Itu membuat luka di dada Nadia terasa lebih dingin.

“Ambil ponselmu,” kata Farhan pelan.

Nadia tidak bergerak. “Kenapa?”

“Jangan bawa-bawa orang luar.”

“Orang luar yang mana?” Nadia memandang Rania. “Dia?”

Rania menunduk lagi. Air matanya sudah jatuh satu titik di pipi. Kalau Nadia tidak sedang marah, mungkin ia akan kagum. Perempuan itu menangis tanpa membuat riasannya rusak.

Mama Meri langsung memeluk bahu Rania. “Lihat, kamu membuat dia takut.”

“Saya bahkan belum menyentuh dia.”

“Kata-katamu itu lebih tajam daripada tangan.”

Nadia mengangguk pelan. “Bagus kalau tajam. Selama ini kata-kata Mama juga begitu.”

Wajah Mama Meri memerah. “Kamu kurang ajar.”

Pak Hendra akhirnya bicara. Suaranya berat, dibuat berwibawa seperti saat ia masih menjadi kepala sekolah. “Nadia, kamu perempuan dewasa. Jangan mempermalukan suami sendiri di depan umum.”

“Saya tidak mempermalukan dia, Pak.” Nadia menunjuk ponselnya. “Saya hanya menunjukkan apa yang dia lakukan.”

“Keluarga punya masalah, selesaikan di rumah.”

Nadia menatap Pak Hendra lama.

Di rumah.

Kalimat itu selalu menjadi pagar yang membuat perempuan seperti dia terkurung. Di rumah, ia diminta diam. Di rumah, ia diminta sabar. Di rumah, ia diminta memahami. Di rumah, semua orang bisa menginjaknya, lalu begitu keluar pintu, mereka memakai baju rapi dan disebut keluarga baik-baik.

“Tidak,” kata Nadia.

Pak Hendra mengernyit. “Apa?”

“Saya tidak mau menyelesaikan ini diam-diam lagi.”

Farhan menutup mata sebentar. “Kamu ini keras kepala sekali.”

“Aku baru mulai punya kepala, Mas.”

Dimas mendengus. “Bu, udahlah. Malu dilihat orang.”

Nadia menoleh. “Kamu malu karena aku datang, atau malu karena kalian ketahuan?”

Dimas membuka mulut, tapi tidak menemukan jawaban.

Dinda yang menjawab. “Kami cuma makan. Tante Rania itu sudah seperti keluarga sendiri.”

“Seperti keluarga?” Nadia mengulang.

Dinda mengangkat dagu. “Iya. Dia baik sama kami. Dia mengerti kami. Tidak seperti—”

“Tidak seperti aku?”

Dinda diam.

Nadia tersenyum tipis. “Teruskan.”

Dinda menatap Farhan, mencari dukungan. Farhan tidak bicara. Rania justru menyentuh tangan Dinda lagi, seolah menenangkan.

Gerakan kecil itu membuat sesuatu di kepala Nadia berbunyi.

Seorang anak tidak akan mencari perlindungan secepat itu kepada perempuan asing.

Kecuali perempuan itu bukan asing.

Nadia menarik napas pelan. Ia hampir membuka mulut untuk menanyakan hal itu, tapi menahannya. Tidak boleh. Kalau ia menuduh tanpa bukti, Farhan dan Rania akan memelintir semuanya.

Ia harus cerdas.

Malam ini bukan waktunya membongkar seluruh rahasia. Malam ini waktunya memastikan mereka semua tahu bahwa Nadia yang lama sudah mati.

Pintu ruang Melati terbuka sedikit lebih lebar.

Seorang perempuan setengah baya dari meja sebelah melongok. Di belakangnya ada dua pelayan. Salah satu memegang nampan, tapi tidak berani masuk.

Farhan melihat itu dan langsung berdiri. “Tutup pintunya.”

Pelayan gugup. “Maaf, Pak. Kami hanya mau mengantar pesanan tambahan.”

“Tidak perlu,” kata Farhan cepat.

Nadia mengangkat tangan. “Masuk saja. Biar ramai.”

Farhan menatapnya tajam. “Nadia.”

Nadia tersenyum ke pelayan. “Mas, di sini ada mikrofon?”

Semua orang terdiam.

Pelayan itu makin pucat. “Mikrofon, Bu?”

“Biasanya ruangan keluarga ada fasilitas karaoke atau acara kecil.”

“Ada, Bu. Tapi—”

“Tolong ambilkan.”

Farhan berjalan cepat menghampiri Nadia. “Kamu mau apa?”

“Bicara.”

“Bicara pakai mikrofon?”

“Iya. Biar jelas.”

Mama Meri hampir berteriak. “Kamu sudah gila?”

Nadia menatapnya. “Belum, Ma. Kalau gila, saya sudah melempar semua makanan ini dari tadi.”

Pelayan bingung melihat Farhan dan Nadia bergantian. Farhan hendak melarang, tapi tamu di luar sudah makin banyak memperhatikan. Kalau ia memaksa, suasana akan makin buruk.

Itu kesalahan Farhan.

Ia selalu lebih takut pada pandangan orang daripada pada luka istrinya.

Pelayan akhirnya membawa mikrofon kecil. Nadia menerimanya, menekan tombol. Speaker di sudut ruangan berdengung pelan.

“Selamat malam,” ucap Nadia.

Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup membuat orang-orang di luar pintu berhenti.

Farhan menutup wajah dengan satu tangan. “Ya Allah, Nad.”

“Saya Nadia Larasati,” lanjutnya. “Istri sah Farhan Pradipta. Malam ini saya datang ke Restoran Bale Rasa karena keluarga saya katanya tidak bisa pulang makan malam Lebaran. Mertua saya bilang mereka sedang di rumah tetangga. Suami saya mematikan ponsel. Anak-anak tidak menjawab pesan.”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Rania berdiri. “Mbak, tolong. Jangan begini.”

Nadia menoleh kepadanya. “Kenapa? Kamu malu?”

Rania menangis. “Aku tidak mau jadi penyebab keributan.”

“Tapi kamu mau jadi penyebab makan malam ini?”

Rania terdiam.

Nadia kembali bicara ke mikrofon. “Saya kira mereka semua sibuk. Ternyata mereka sedang makan bersama perempuan lain. Perempuan yang selama ini disebut janda kasihan, perempuan yang harus saya pahami, perempuan yang katanya tidak punya siapa-siapa.”

Mama Meri maju hendak merebut mikrofon, tapi Nadia mundur.

“Padahal malam ini dia punya suami saya di sebelahnya, mertua saya yang membela dia, dan dua anak yang saya besarkan memegang tangannya.”

Dinda mulai menangis, tapi bukan karena menyesal. Ia menangis karena malu.

Dimas berdiri. “Berhenti! Jangan bawa-bawa kami!”

Nadia memandangnya. “Selama ini aku selalu membawa kalian, Dimas. Ke dokter, ke sekolah, ke tempat les, ke mana pun kalian butuh. Malam ini baru namamu kusebut di depan orang, kamu sudah tidak kuat?”

Dimas pucat.

Beberapa tamu di luar berbisik lebih keras.

“Itu yang viral nanti, nih.”

“Pelakor?”

“Suaminya ganteng juga, tapi kelakuannya begitu.”

Farhan mendengar bisikan itu. Wajahnya berubah gelap.

“Cukup!” Ia merebut mikrofon dari tangan Nadia.

Nadia tidak melawan. Ia membiarkan Farhan mengambilnya. Semua orang melihat.

Farhan mematikan mikrofon, lalu berkata dengan suara rendah, “Kamu puas mempermalukan aku?”

Nadia menjawab tanpa berkedip. “Belum.”

Farhan seperti tidak percaya.

Nadia mengambil ponselnya dari meja. “Aku baru mulai.”

Rania mengusap air matanya, lalu berkata lirih, “Mas Farhan, biar aku yang pergi. Aku tidak mau hubungan rumah tangga Mas hancur karena aku.”

Kalimat itu indah sekali.

Terlalu indah.

Nadia tertawa.

Rania menatapnya, terluka. “Mbak Nadia menertawakan aku?”

“Iya.”

Ruangan kembali hening.

Nadia berjalan mendekati Rania. “Kamu tahu apa yang lucu? Kamu duduk di sebelah suamiku, makan bersama mertuaku, disentuh anak-anakku, lalu bilang tidak mau menghancurkan rumah tangga orang.”

Rania menggigit bibir. “Aku tidak pernah meminta Mas Farhan memilih aku.”

“Tapi kamu menikmati saat dia memilihmu.”

Farhan menegang. “Nadia, jangan menyerang Rania.”

Nadia berbalik menatapnya. “Aku istrimu. Tapi yang kamu lindungi dia.”

Farhan tidak menjawab.

Itulah jawabannya.

Nadia merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya sakit, tapi kepalanya jernih. Seolah selama ini ia berdiri di ruangan penuh asap, dan malam ini jendela akhirnya terbuka.

“Baik,” katanya.

Ia mengambil tas.

Mama Meri tampak lega, mengira Nadia akan pergi.

Nadia memang berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.

“Farhan.”

Farhan menatapnya.

“Besok setelah Lebaran, kita bicara soal perceraian.”

Rania membeku.

Mama Meri berteriak, “Jangan sembarangan bicara cerai!”

Nadia tersenyum. “Kenapa, Ma? Bukannya Mama selama ini bilang saya tidak berguna karena tidak bisa memberi keturunan?”

Pak Hendra berdiri. “Perceraian bukan mainan.”

“Betul,” jawab Nadia. “Makanya saya tidak main-main.”

Farhan menatapnya seperti baru pertama kali melihat dirinya.

Nadia membuka pintu.

Di luar, beberapa orang cepat-cepat pura-pura melihat ponsel. Ada yang sudah merekam. Ada yang menatap Rania dengan jijik. Ada yang berbisik menyebut kata pelakor.

Nadia berjalan melewati mereka dengan punggung tegak.

Seorang ibu tua yang berdiri dekat kasir menatapnya dengan mata iba. Seorang pelayan muda berbisik, "Bu, hati-hati di tangga." Kalimat kecil itu hampir membuat Nadia runtuh. Orang asing bisa memberinya kehati-hatian, sementara orang rumahnya sendiri memberinya pengkhianatan.

Ia berhenti di lobi, menarik napas panjang, lalu mengusap pipi sebelum air mata kedua jatuh. Di balik pintu ruang Melati, suara Mama Meri masih terdengar menyalahkannya. Nadia tidak kembali.

Untuk pertama kalinya malam itu, air matanya jatuh.

Tapi ia tidak berhenti.

Terpopuler

Comments

Setiawan

Setiawan

wooww aq suka nih , thor... lelaki / suami pengkhianat memang tak layak dipanggil mas / sebutan terhormat lain nya.. cukup panggil nama aja , biar keliatan jarak yg lebar , tnd kalo namanya udah dibuang2 jauh2 dr hati 😄😄😄

2026-06-16

0

Maulidia Okta

Maulidia Okta

Pelakor.......

2026-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!