Ditelepon Cucu dari Masa Depan
Bab 1
Malam takbiran seharusnya berisik.
Di gang depan rumah, anak-anak berlari sambil membawa kembang api kecil. Dari masjid dekat kompleks terdengar suara takbir bersahut-sahutan. Beberapa tetangga sudah saling mengantar rantang, aroma opor ayam, rendang, dan sambal goreng kentang bercampur di udara yang lembap.
Di rumah nomor tujuh belas, semua lampu ruang tamu menyala.
Tapi Nadia Larasati duduk sendirian di meja makan.
Di depannya ada ketupat yang sudah dingin, opor yang santannya mulai mengental di pinggir panci, rendang yang tadi pagi ia masak perlahan sampai bumbunya hitam mengilap, juga nastar dan kastengel yang ia susun di toples kaca. Ia bahkan membuat sambal goreng ati, makanan kesukaan Farhan, walau sejak subuh matanya sudah perih karena kurang tidur.
Ponsel di samping piringnya gelap.
Pesan terakhir yang ia kirim ke grup keluarga masih menggantung tanpa balasan.
Nadia:
Aku tunggu pulang. Makan jam tujuh, ya.
Pesan itu dikirim pukul lima sore. Sekarang hampir pukul sembilan malam.
Tidak ada yang menjawab.
Farhan tidak menjawab. Mama Meri tidak menjawab. Pak Hendra tidak menjawab. Dimas dan Dinda juga tidak menjawab, padahal dua remaja itu biasanya paling cepat membuka ponsel kalau ada notifikasi.
Nadia mengambil gelas, meneguk air putih yang sudah tidak dingin lagi. Tenggorokannya terasa kering, tapi dadanya lebih kering lagi.
Pagi tadi, Mama Meri datang tanpa salam panjang. Ia hanya meletakkan beberapa kantong belanja di dapur, lalu berkata, “Nadia, ini semua dimasak buat nanti malam. Mama mau ajak Dimas dan Dinda cari baju Lebaran. Kamu di rumah saja. Toh, kamu paling telaten urusan dapur.”
Nadia tidak sempat menolak.
Dimas hanya menatap meja dengan wajah malas. Dinda bahkan sempat berbisik, cukup keras untuk didengar, “Lebaran kok makanannya itu-itu saja. Kalau Tante Rania yang masak, pasti lebih modern.”
Nadia pura-pura tidak dengar.
Ia sudah terlalu sering pura-pura.
Ia pura-pura tidak sakit saat Dimas memanggilnya “Bu” hanya di depan orang lain, tapi di rumah lebih sering memanggil “Nadia”. Ia pura-pura tidak peduli saat Dinda menolak bekal buatannya, lalu membeli makanan di luar. Ia pura-pura tidak tahu bahwa Farhan lebih sering tersenyum ketika menerima telepon dari Rania dibanding saat berbicara dengannya.
Rania.
Nama itu lewat begitu saja di kepalanya, lalu Nadia cepat-cepat menyingkirkannya.
Rania adalah janda dari teman lama Farhan. Begitu kata Farhan. Perempuan itu harus dibantu karena hidupnya berat. Begitu kata Mama Meri. Nadia sebagai sesama perempuan seharusnya punya hati. Begitu kata semua orang.
Nadia pernah mencoba percaya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nadia menoleh cepat. Bukan Farhan. Bukan Mama Meri. Di layar muncul nomor aneh.
020-2056-0000
Kening Nadia berkerut.
“Nomor apa ini?”
Ia menolak panggilan itu. Mungkin penipuan. Belakangan ini banyak sekali pesan palsu, undian palsu, paket palsu, bahkan orang mengaku dari bank.
Ponsel itu bergetar lagi.
Nomor yang sama.
Nadia menatap layar beberapa detik. Di luar, suara takbir terdengar makin jauh, seperti datang dari kota lain. Ia menekan tombol hijau.
“Halo?”
Hening sebentar.
Lalu terdengar suara musik pelan. Musik tua, serak, seperti berasal dari kotak musik yang diputar dengan engkol kecil. Nada itu membuat Nadia menoleh ke rak dekat jendela.
Kotak musik tua miliknya ada di sana.
Kotak kayu bermotif batik purnama itu sudah rusak bertahun-tahun. Dulu ibunya meninggalkannya begitu saja bersama beberapa barang lama sebelum menghilang dari hidup Nadia. Nadia menyimpannya bukan karena ibunya, melainkan karena ia pernah membayangkan mungkin ada tangan lain, tangan nenek yang tidak pernah ia kenal, yang dulu membeli benda itu dengan kasih sayang.
Tapi kotak musik itu diam.
Suara musik justru datang dari ponsel.
“Halo? Nenek?”
Nadia membeku.
Suara anak laki-laki terdengar gugup dan terlalu gembira. Di belakangnya ada suara anak perempuan yang menahan napas.
“Nenek Nadia? Ini benar Nenek Nadia?”
Nadia menjauhkan ponsel dari telinga, melihat layar, lalu mendekatkannya lagi.
“Maaf, kamu salah sambung.”
“Tidak salah!” seru anak laki-laki itu. “Rani, aku berhasil! Aku bisa menelepon Nenek!”
Suara anak perempuan langsung pecah. “Nenek? Nenek dengar aku? Aku Rani. Ini Kak Raka. Kami kangen sekali sama Nenek.”
Tangan Nadia mendingin.
Ia tidak punya cucu.
Ia bahkan tidak punya anak kandung.
Selama hampir dua puluh tahun, kata itu menjadi pisau yang digosok terus-menerus ke kulitnya. Mandul. Tidak bisa memberi keturunan. Perempuan kurang sempurna. Beruntung Farhan masih mau menerima.
Dimas dan Dinda pun bukan anak kandungnya. Farhan membawa mereka pulang bertahun-tahun lalu, mengatakan dua anak itu anak kerabat jauh yang tidak sanggup diurus. Nadia menerimanya karena ia merasa bersalah tidak bisa hamil. Ia membesarkan mereka, menyuapi saat sakit, mengantar sekolah, menabung untuk les, menangis diam-diam saat mereka memanggilnya ibu untuk pertama kali.
Sekarang ada dua anak asing memanggilnya nenek.
“Dengar, Nak,” kata Nadia pelan, berusaha lembut meski punggungnya tegang. “Kalian jangan bercanda seperti ini. Penipuan itu tidak baik.”
“Kami bukan penipu,” kata Rani cepat. Suaranya mulai basah. “Nenek selalu bilang jangan bohong, apalagi sama keluarga.”
Nadia memejamkan mata.
Keluarga.
Kata itu malam ini terasa kejam.
Raka mengambil alih telepon. “Nenek pasti sedang duduk di meja makan, kan? Lampu ruang tamu menyala, tapi Nenek belum makan. Di meja ada opor ayam, rendang, sambal goreng ati, ketupat, nastar, kastengel. Nenek bikin sambal goreng ati karena Kakek Farhan suka, padahal Nenek sendiri lebih suka opor yang kuahnya tidak terlalu kental.”
Nadia berdiri mendadak.
Kursinya terdorong ke belakang, menimbulkan bunyi keras.
Ia menatap meja makan.
Semua benar.
“Kalian siapa?” Suaranya berubah serak. “Kalian ada di mana?”
Rani terisak. “Kami di rumah, Nek. Tapi bukan rumah Nenek sekarang. Ini tahun 2056.”
Nadia hampir tertawa, tapi tidak ada suara yang keluar.
Tahun 2056.
Tiga puluh tahun dari sekarang.
“Cukup,” bisiknya. “Ini tidak lucu.”
“Nenek, kami tahu Nenek susah percaya,” kata Raka terburu-buru. “Tapi Nenek harus dengar. Kakek Farhan tidak lembur. Mama mertuamu juga tidak di rumah Bu Lilis. Mereka semua sedang makan malam Lebaran di restoran Bale Rasa.”
Nadia menggenggam ponsel makin erat.
Bale Rasa.
Itu restoran keluarga yang sering Farhan sebut ketika kantor mengadakan acara.
“Mereka bersama Tante Rania,” lanjut Raka. “Dimas dan Dinda juga ada di sana.”
Nadia merasa lantai di bawah kakinya bergerak.
“Tidak mungkin.”
Rani menangis lebih keras. “Nenek, lihat Instagram Tante Siska. Dia istri teman kantor Kakek Farhan. Dia unggah story. Ada foto mereka di meja besar. Tante Rania duduk di sebelah Kakek Farhan. Dinda pakai baju hijau. Dimas pakai hoodie hitam.”
Nama Siska membuat napas Nadia tertahan.
Siska memang istri rekan kerja Farhan. Mereka saling mengikuti di Instagram, walau jarang berinteraksi.
Nadia membuka aplikasi dengan tangan gemetar. Panggilan tetap tersambung. Ia mengetik nama Siska di kolom pencarian.
Story pertama muncul.
Layar kecil itu menampilkan meja panjang penuh makanan. Ada beberapa keluarga. Ada tawa. Ada ucapan “Takbiran bareng keluarga besar”.
Lalu kamera bergeser.
Farhan terlihat jelas.
Di sampingnya, Rania tersenyum cantik dengan kerudung krem. Dinda duduk terlalu dekat dengannya, memegang lengan Rania seperti anak memegang ibunya. Dimas tertawa ke arah Farhan. Mama Meri dan Pak Hendra duduk di seberang mereka, wajah mereka jauh lebih hangat daripada saat berada di rumah Nadia.
Ponsel hampir terlepas dari tangan Nadia.
Di telinganya, Raka berkata pelan, “Nenek, ada satu hal lagi. Dimas dan Dinda itu bukan anak kerabat jauh.”
Jantung Nadia berhenti satu detik.
“Mereka itu anak—”
Suara mendadak terputus.
“Halo?” Nadia berteriak kecil. “Raka? Rani? Anak siapa?”
Hanya terdengar bunyi putus.
Panggilan berakhir.
Nadia berdiri di tengah ruang makan, dikelilingi makanan Lebaran yang dingin dan kebohongan yang baru saja menjadi nyata.
Di luar, orang-orang masih bertakbir.
Di dalam rumah, sesuatu dalam diri Nadia akhirnya pecah.
Dan kali ini, ia tidak berniat memungut pecahannya untuk orang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
sukensri hardiati
dah baca wulan...lina....lia...sekarang nadia.....tp kok daftar karyamu masih kosong thor....?
2026-05-18
0
mommy
aneh, walopun itu dari masa depan, cucunya kan belum lahir, gimana caranya dia tau, kecuali kalo itu sebuah buku cerita
2026-06-27
0
Ilham
lanjut kapan madia bertemu sama cucu jya
2026-06-05
0