BAB 2 Murid Baru

Waktu mulai beradu dengan Dira. Ketika sinar matahari mulai meninggi menandakan jika dirinya kesiangan. 

Kriet… kriet! 

Suara ayunan sepeda tua yang rantainya membutuhkan olesan oli. Selalu menemani keseharian Dira mulai dari mengantar makanan hingga ke sekolah. 

“Waaaah, akhirnya Dira datang juga,” teriakan Narti pemilik warung saat melihat kedatangan Dira mengalihkan para pembeli. 

“Ayo cepetan bawa kesini nasi uduknya, Dira! Ini orang-orang sudah pada ngantri nasi uduk bikinan mbahmu.” 

Mungkin bagi orang lain ucapan Narti terdengar berlebihan. Namun, tidak bagi warga yang memang sudah langganan. 

“Nasi uduk bikinan Mbah Sekar sudah ditunggu-tunggu sama pembeli dari tadi. Ibu kirain hari ini gak jualan. Gak biasanya kesiangan,” ucap Narti sambil kantong kresek berisi nasi uduk. 

“Maaf, Bu,” ucap Dira tidak enak hati. 

“Semua ini ada berapa?” tanya Narti memastikan 

“Dua puluh bungkus.” 

“Besok ditambah lagi nasi uduknya. Banyak yang suka, katanya nasi uduk Mbah Sekar wangi dan tentu rasanya mantap,” puji Narti sambil menunjukkan dua jempolnya. Lalu menghitung nasi uduk untuk diberikan pada pembeli. 

“Insyaallah ya, Bu. Dira sampaikan ke Mbah.” 

“Iya, ini lihat sendiri. Orang-orang pada berebut,” balas Narti. 

“Tuh lihat, nasi uduknya tinggal dua,” ucap Bu Narti senang sambil menunjuk bingkisan nasi uduk tinggal dua. 

“Ibu kasih uangnya sekarang saja ya. Tinggal dua ini,” lanjut Bu Narti sambil memberikan uang ke Dira. 

“Boleh, Bu. Terserah Bu Narti saja.” 

“Ini uangnya 160 ribu rupiah.” 

“Terima kasih banyak Bu. Assalamualaikum.” 

“Wa'alaikumussalam, hati-hati naik sepedanya, Dira!” 

“Iya, Bu.” 

Setelah selesai mengantar pesanan Bu Ida dan juga titipan di warung Bu Narti. Kini Dira kembali mengayuh sepedanya menuju ke sekolah. 

Karena waktu sudah siang dan bahaya jika sampai pintu gerbang tertutup. Dira semakin cepat mengayuh sepedanya. Hingga akhirnya pintu gerbang menjulang tinggi mengelilingi sekolah tempat Dira belajar terlihat. 

“Alhamdulillah belum ditutup,” ucap Dira semakin cepat mengayuh. 

Jika dilihat dari bentuk bangunannya, jelas tidak akan ada yang menyangka Dira bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. 

Karena faktor biaya yang dikenal sangat mahal. Jadi, hanya dari kalangan orang kaya lah yang mampu bersekolah di tempat tersebut. 

Namun, untuk Dira jelas hal berbeda. Dira bisa sekolah di tempat itu karena beasiswa prestasi. 

“Bapak, jangan ditutup dulu!” teriak Dira dari kejauhan. 

“Waduh, baru datang, Neng Dira. Ayo cepat masuk!” pinta satpam sekolah. 

“Terima kasih banyak, Bapak.” 

“Gak biasanya Neng Dira kesiangan,” ucap satpam sekolah. 

“Nganterin nasi uduk dulu, Pak. Banyak pesanan,” ucap Dira. 

“Iya, nasi uduk bikinan Mbah Sekar rasanya memang mantap.” 

“Terima kasih  banyak atas pujiannya, Pak.” 

“Bukan pujian. Namun, kenyataannya memang seperti itu.” 

Karena tidak ingin terlambat masuk kelas. Dira langsung menuju ke kantin terlebih dahulu. 

“Ibu, ini nasi uduknya ada 20 bungkus. Dira taruh di meja sini ya,” teriak Dira. 

“Iya, Neng.” 

Setelah mengantar nasi uduk ke kantin. Dengan langkah kaki cepat Dira menuju ke kelasnya. 

Bugh… bugh!

Suara langkah kaki terdengar cukup keras saat Dira berlari. Takut jika sampai menerima hukuman saat terlambat masuk. 

“Alhamdulillah,” syukur Dira saat guru belum masuk ke kelas. Lalu cepat-cepat duduk di kursinya. 

Huff… huff! 

Bunyi nafas terdengar cukup jelas keluar dari mulut Dira. Lalu berjalan menuju ke bangkunya. Duduk sambil mengatur nafasnya. 

Hingga suara langkah kaki mendekat. Membuat Dira langsung duduk siap. Karena tahu betul suara langkah kaki siapa itu. 

“Selamat pagi semua. 

“Selamat pagi, Miss Panda.” 

“Miss senang melihat semangat kalian di pagi ini. Tetap pertahankan.”

“Siap, Miss Panda.”

“Mari kita awali pagi cerah ini dengan doa. Silahkan ketua kelas dipimpin.”

“Baik, Miss.” 

“Sebelum kita memulai aktivitas pembelajaran mari berdoa bersama-sama sesuai keyakinan masing-masing. Berdoa mulai!” 

“Selesai.” 

“Ucapkan salam.” 

“Selamat pagi lagi “ jawab Miss Panda dengan senyum berkembang. 

“Sebelum pelajaran dimulai. Miss ingin mengenalkan teman baru kalian.”

“Laki-laki atau perempuan, Miss?” tanya murid centil di kelas Dira dengan penuh semangat. 

“Nanti kalian akan tahu sendiri,” jawab Miss Panda sambil tersenyum melihat semangat muridnya. Lalu mengarahkan pandangan matanya ke pintu masuk. 

“Silahkan masuk!” 

Semua murid yang ada di kelas langsung mengarahkan pandangan matanya ke pintu kelas tanpa terkecuali. Saat pintu mulai terbuka, tampak sosok laki-laki dengan tubuh tinggi serta wajah tampan masuk ke kelas. 

Karena tidak ingin membuang kesempatan emas. Para murid perempuan langsung bersikap centil merapikan penampilan. Sedangkan sosok laki-laki yang baru masuk ke kelas, hanya bersikap biasa saja tanpa ekspresi. 

“Ganteng banget, Miss,” ucap murid paling centil di kelas tersebut. Lalu mengusir teman samping bangkunya untuk memberikan tempat duduk ke murid baru. 

“Cepat pergi sana!” usir murid centil yang diketuai bernama Sisil. 

“Rese banget jadi orang. Gantengan juga aku,” gerutu laki-laki yang diusir dari tempat duduknya. 

“Dasar gak punya cermin di rumah.” 

“Punya.” 

“Pergi, gak?”

“Iya.”

“Asal kamu tahu aja. Yang duduk di sampingku hanya orang ganteng saja. Kalau wajahnya pas-pasan minggir!” usir Sisil.

Tok… tok! 

“Tolong jangan ribut kalian semua!” 

“Maaf, Miss,” ucap semua murid di kelas tersebut. 

Setelah kondisi di kelas sudah mulai kondusif. Miss Panda langsung mengarahkan pandangan matanya ke murid baru. 

“Silahkan perkenalkan namamu.” 

“Baik, Miss,” ucap laki-laki itu yang kini menatap semua siswa di kelas itu. 

“Perkenalkan nama saya Faza.” 

“Kok irit banget sih namanya. Yang lengkap dong,” potong Sisil cepat. Membuat Miss Panda langsung menengahi. 

“Faza, tolong sebutkan nama lengkapmu.” 

“Baik, Miss. Perkenalkan nama lengkap saya Faza Idam Manggala. Kalian bisa memanggil Faza.” 

“Aaaaaaa!” teriak Sisil saat tahu nama lengkap Faza. 

“Kenapa Sisil?” tanya cepat Miss Panda saat mendengar Sisil menjerit. 

“Tidak kenapa-kenapa, Miss. Namanya secakep orangnya. Tinggi, ganteng, dan tentunya gak buluk,” jawab Sisil sambil melirik laki-laki yang sebelumnya di di sampingnya. 

“Faza silakan duduk di…”

“Di sebelah saya saja, Miss,” potong cepat Sisil sebelum Miss Panda menyelesaikan ucapannya. 

“Ya sudah, Faza silakan duduk di samping...” 

“Saya duduk disini saja, Miss,” potong cepat Faza menuju kursi kosong di sebelah Dira. Membuat Sisil yang sudah menyiapkan tempat duduk langsung cemberut. 

“Aduh neng Sisil, Abang Faza ingin duduk disamping Dira. Kasihan deh,” goda teman bangku Sisil yang sebelumnya diusir secara paksa. 

“DIAM KAMU!” geram Sisil.

Tok… tok! 

“Sudah jangan berisik! Semuanya menghadap kedepan! Kita mulai pembelajaran. Faza silakan duduk di bangku sebelah Dira.”

“Baik, Miss.”

“Maaf Miss, tapi bangku ini sudah ada yang menempati. Lebih baik di bangku samping Sisil saja,” ucap Dira yang enggan mencari masalah dengan Sisil. Mengingat Sisil merupakan putri pejabat yang memiliki pengaruh. 

“Untuk sementara, Dira,” potong Miss Panda tidak ingin dibantah. Mengingat waktu terus berjalan dan tak ingin terbuang begitu saja. 

“Baik, Miss.” 

Sesuai dengan arahan dari Miss Panda. Faza langsung duduk di bangku samping Dira. Tangannya terulur untuk mencoba mengenal teman sampingnya. 

“Namaku Faza, kalau boleh tahu. Siapa namamu?”

“Pelajaran sudah dimulai,” potong Dira tanpa sedikitpun menatap kearah Faza. 

“Oke,” ucap Faza sambil tersenyum. Lalu menarik lagi tangannya. 

Kini perhatian semua murid menuju ke arah Miss Panda. Tapi, tidak dengan Faza yang lebih memilih mengawasi sekitar. 

Tapi, saat pandangan mata itu tidak sengaja mengarah ke Sisil. Faza langsung melonjak kaget. 

“Astaga,” gumam Faza kembali fokus dengan pelajaran. Membuat perhatian Dira teralihkan sebentar untuk menatap laki-laki tampan di sebelahnya. Lalu kembali fokus ke pelajaran lagi.

Teet… teet! 

Bunyi bel istirahat menandakan jika pelajaran sudah selesai. Para murid langsung merapikan buku maupun alat tulis. 

“Untuk pertemuan selanjutnya kita akan membahas tentang kalor dan termodinamika. Tolong dipelajari dan kita akan membahas di pertemuan selanjutnya.” 

“Baik, Miss.” 

“Sampai ketemu kembali. Selamat pagi.” 

“Selamat pagi menjelang siang Miss Panda yang cantik.” 

Setelah keluarnya Miss Panda dari kelas. Dira langsung membuka kotak bekalnya. Menikmati makanan yang selalu membutuhkan para pelanggan ketagihan. 

Sedangkan Faza masih enggan berpindah dari tempat duduknya. Karena dirinya masih merasa nyaman di dalam kelas. Hingga perhatiannya teralihkan saat Sisil kembali mendekati mejanya. 

“Dira, bolehkah aku duduk di bangkumu?” tanya Sisil sambil menatap ke arah Faza. Membuat Dira langsung menghentikan suapan nasi uduk ke mulutnya.

“Bolehkah aku menyelesaikan makananku terlebih dahulu?” tanya Dira merasa enggan menghentikan acara makannya yang masih berjalan. 

“Tapi aku ingin sekarang, Dira,” ucap Sisil dengan suara lembut namun tatapan matanya tajam. Membuat Dira mencoba menghembuskan nafasnya. Karena tahu maksud dari tatapan Sisil. 

“Baik, aku akan pindah.”

“Kamu tetap makan saja,” potong cepat Faza yang langsung menghentikan Dira. 

“Biarkan aku yang pindah bangku,” lanjut Faza sambil mencangklongkan tasnya ke bahu. 

“Bangku sebelah kamu masih kosong, bukan?” tanya Faza kepada Sisil. Tapi, pandangan matanya ke Dira. 

“Tentu saja kosong. Karena aku sengaja mengosongkan bangku itu untukmu.” 

“Aku akan duduk di bangku itu.” 

Sambil mencangklong tasnya, Faza langsung duduk di kursi sebelah Sisil. Tentu saja hal tersebut membuat Sisil bahagia. 

“Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan,” gumam Sisil sambil tersenyum yang masih dengan jelas didengar oleh Dira. 

Karena tidak ingin mencari masalah dengan Sisil. Dira memilih melanjutkan makannya, meskipun rasanya sudah berbeda dari sebelumnya. 

Sedangkan Faza langsung keluar kelas setelah meletakkan tasnya. Melewati bangku Dira tanpa sedikitpun menoleh ke siapapun. Entah pergi ke kantin atau ke tempat yang lainnya Dira tidak tahu. 

“Ingat, Faza itu sudah aku teken menjadi milikku. Jangan pernah tebar pesona maupun mencari perhatian padanya!” tekan Sisil. 

“Kalau sedikit saja kamu tebar pesona padanya. Aku akan membuat semua orang tahu tentang identitasmu yang…,” Sisil tidak menyelesaikan ucapannya. Sebagai tanda tekanan jika dirinya bisa berbuat nekad. 

“Tenang saja. Jangan khawatir. Karena aku sama sekali tidak tertarik padanya,” potong cepat Dira sambil menahan nafas. Sebab, tahu arah pembicaraan Sisil. 

“Baguslah kamu tahu diri. Jadi orang miskin dan keturunan haram memang harus tahu diri.” 

Dengan wajah penuh senyum Sisil melangkahkan kakinya keluar kelas untuk menyusul Faza. Meninggalkan Dira yang diam sambil memegang sendok.  

Rasa lapar serta enaknya nasi uduk yang disukai banyak orang. Kini berubah rasa menjadi hambar, serta rasa lapar itu menghilang meninggalkan rasa kenyang. 

Meskipun baru satu sendok nasi masuk ke mulutnya. Karena Dira tahu, jika ancaman itu bukan hanya sebatas gertakan semata.

“Tenang saja, sejak kakiku menginjakkan tempat ini. Aku tahu diri siapa diriku sebenarnya,” gumam Dira tertahan. Lalu memasukkan kembali bekal makanannya. 

Mengalihkah kesedihannya dengan menatap ke arah jendela. Tanpa sengaja arah pandangannya menatap sosok laki-laki yang menjadi bahan pembicaraan dengan Sisil. 

Faza, laki-laki tampan yang sudah mencuri hati Sisil. Laki-laki tampan yang sudah membuat dirinya dalam masalah sejak pertama bertemu. 

Terpopuler

Comments

Hatijah Cantik

Hatijah Cantik

semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.

2026-06-10

0

Susy Koes

Susy Koes

keren othor ceritanya, suka banget

2026-05-22

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2 BAB 2 Murid Baru
3 BAB 3 Pacar Dadakan
4 BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5 BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6 BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7 BAB 7 Untaian Luka Dira
8 BAB 8 Hadiah Perkenalan
9 BAB 9 Miskin Itu Takdir
10 BAB 10 Di Hadapannya
11 BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12 BAB 12 Kamu?
13 BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14 BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15 BAB 15 Fazaku
16 BAB 16 Keturunan Haram
17 BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18 BAB 18 Skakmat
19 BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20 BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21 BAB 21 Pesan Video Berantai
22 BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23 BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24 BAB 24 BAKAR!
25 BAB 25 Laci Yang Terkunci
26 BAB 26 Wajah Itu
27 BAB 27 JANGAN!
28 BAB 28 Benar, Namanya Satria
29 BAB 29 Panggilan Satria
30 BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31 BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32 BAB 32 Aku Akan Kembali
33 BAB 33 Kencan Interogasi
34 BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35 BAB 35 Kretek!
36 BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37 BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38 BAB 38 Nama Pembuat Luka
39 BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40 BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41 BAB 41 Tisu di Trotoar
42 BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43 BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44 BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45 BAB 45 Kemenangan Siti
46 BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47 BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48 BAB 48 Drama Para Pemain
49 BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50 BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51 BAB 51 Mengambil Resiko
52 BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53 BAB 53 Usaha Baru
54 BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55 BAB 55 Penggrebekan
56 BAB 56 Histeris
57 BAB 57 Cobaan
58 BAB 58 Keadaan Kacau
59 BAB 59 Titik Keberadaan
60 BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61 BAB 61 Harapan
62 BAB 62 Penolakan
63 BAB 63 Bertemu Kembali
64 BAB 64 Stabil
65 BAB 65 Hilangnya Marwah
66 BAB 66 Kontras
67 BAB 67 Aku Kalah
68 BAB 68 Bergejolak
69 BAB 69 Barang Bukti
70 BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71 BAB 71 Letupan Kembang Api
72 BAB 72 Peristiwa Kelam
73 BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74 BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75 BAB 75 Hormat Terakhir
76 BAB 76 Rencana Dadakan
77 BAB 77 Jembatan Penghubung
78 BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79 BAB 79 Kehidupan Baru
80 BAB 80 Kehangatan Keluarga
81 BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82 BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83 BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84 BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85 BAB 85 Titipan Dari Kakek
86 BAB 86 Terselesaikan Janji
87 BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88 BAB 88 Tembakan Salvo
89 BAB 89 Semakin Gila
90 BAB 90 Zona Merah
91 BAB 91 Pelukan Penyembuh
92 BAB 92 Air Kehidupan
93 BAB 93 Keberangkatan
94 BAB 94 Petunjuk Arah
95 BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96 BAB 96 Nyicil Tipis-tipis
Episodes

Updated 96 Episodes

1
BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2
BAB 2 Murid Baru
3
BAB 3 Pacar Dadakan
4
BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5
BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6
BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7
BAB 7 Untaian Luka Dira
8
BAB 8 Hadiah Perkenalan
9
BAB 9 Miskin Itu Takdir
10
BAB 10 Di Hadapannya
11
BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12
BAB 12 Kamu?
13
BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14
BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15
BAB 15 Fazaku
16
BAB 16 Keturunan Haram
17
BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18
BAB 18 Skakmat
19
BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20
BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21
BAB 21 Pesan Video Berantai
22
BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23
BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24
BAB 24 BAKAR!
25
BAB 25 Laci Yang Terkunci
26
BAB 26 Wajah Itu
27
BAB 27 JANGAN!
28
BAB 28 Benar, Namanya Satria
29
BAB 29 Panggilan Satria
30
BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31
BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32
BAB 32 Aku Akan Kembali
33
BAB 33 Kencan Interogasi
34
BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35
BAB 35 Kretek!
36
BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37
BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38
BAB 38 Nama Pembuat Luka
39
BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40
BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41
BAB 41 Tisu di Trotoar
42
BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43
BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44
BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45
BAB 45 Kemenangan Siti
46
BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47
BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48
BAB 48 Drama Para Pemain
49
BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50
BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51
BAB 51 Mengambil Resiko
52
BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53
BAB 53 Usaha Baru
54
BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55
BAB 55 Penggrebekan
56
BAB 56 Histeris
57
BAB 57 Cobaan
58
BAB 58 Keadaan Kacau
59
BAB 59 Titik Keberadaan
60
BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61
BAB 61 Harapan
62
BAB 62 Penolakan
63
BAB 63 Bertemu Kembali
64
BAB 64 Stabil
65
BAB 65 Hilangnya Marwah
66
BAB 66 Kontras
67
BAB 67 Aku Kalah
68
BAB 68 Bergejolak
69
BAB 69 Barang Bukti
70
BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71
BAB 71 Letupan Kembang Api
72
BAB 72 Peristiwa Kelam
73
BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74
BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75
BAB 75 Hormat Terakhir
76
BAB 76 Rencana Dadakan
77
BAB 77 Jembatan Penghubung
78
BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79
BAB 79 Kehidupan Baru
80
BAB 80 Kehangatan Keluarga
81
BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82
BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83
BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84
BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85
BAB 85 Titipan Dari Kakek
86
BAB 86 Terselesaikan Janji
87
BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88
BAB 88 Tembakan Salvo
89
BAB 89 Semakin Gila
90
BAB 90 Zona Merah
91
BAB 91 Pelukan Penyembuh
92
BAB 92 Air Kehidupan
93
BAB 93 Keberangkatan
94
BAB 94 Petunjuk Arah
95
BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96
BAB 96 Nyicil Tipis-tipis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!