Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh

Allahu Akbar Allahu Akbar.

Suara adzan subuh berkumandang, langsung membuat seorang perempuan renta menghampiri cucu kesayangannya. Lalu menggenggam punggung tangan sang cucu yang saat ini menghadap ke arah penggorengan.

“Subuh berjamaah dulu! Baru nanti dilanjut lagi buat goreng tempenya,” ucap perempuan renta bernama Sekar kepada cucunya.

“Iya, Mbah,” jawab perempuan cantik berhijab bernama Arundaya Dirandra atau Akrab dipanggil Dira. Sesuai dengan perintah yang diucapkan oleh Sekar. Dira meletakkan adonan tempe goreng di atas bata merah yang berfungsi sebagai tatakan samping kompor.

“Ayo Dira!” ajak Mbah Sekar kepada cucu kesayangannya sambil berjalan ke keran samping kamar mandi.

“Bismillahirrahmanirrahim, nawaitul ….”

Setelah selesai bersuci, Mbah Sekar bersama dengan Dira langsung menuju ke bilik untuk sholat berjamaah. Kebiasaan rutin yang selalu dilakukan Dira bersama Mbahnya.

“Dira, kali ini jadi imam, ya,” pinta Mbah Sekar kepada cucunya yang langsung membuat Dira terdiam. Lalu menggelengkan kepalanya perlahan sebagai tanda penolakan.

“Tidak, Mbah. Dira jadi makmum atau kita sholat masing-masing saja,” tolak Dira yang saat ini matanya sudah mulai berkaca-kaca.

Entah sudah berapa kali Sekar meminta Dira untuk menjadi imam shalat berjamaah di rumah untuknya. Namun, sebanyak itu pun Dira selalu menolak.

“Hukumnya mubah, yang terpenting hafalan bacaan dan pemahaman paling utama. Bukan status kelahiran,” jelas Sekar yang langsung membuat Dira memalingkan wajahnya. Menatap jam dinding di kontrakannya yang sebentar lagi akan membuat tetangga samping rumah datang untuk komplain.

“Ayo Dira! Keburu habis waktunya.”

Atas dasar keyakinan yang diberikan oleh Mbah Sekar. Membuat Dira bersedia untuk menjadi imam shalat subuh untuk sang nenek. Namun, sepertinya yang pertama dan terakhir. Karena Dira tidak nyaman karena merasa tak pantas.

“Allahuakbar.”

“Allahuakbar.”

Suara merdu dengan bacaan sholat yang tepat membuat hati Sekar menjadi tenang. Karena alasan itulah Sekar menginginkan Dira untuk menjadi imam shalat berjamaah setiap waktu. Meskipun terkadang Dira harus pulang terlambat karena kerja paruh waktu sebagai guru les musiman.

“Assalamualaikum warahmatullah.”

“Aaaaaaa!”

“ARRRRG!

Suara teriakkan yang berasal dari dalam kamar belakang, berbarengan dengan salam. Langsung menghentikan aktivitas Dira dan juga Mbah Sekarang.

Dira menundukkan kepalanya dalam-dalam. Membuat Mbah Sekar yang ada di samping menggenggam erat punggung tangan cucunya.

“Dira, percayalah. Jika semua yang terjadi saat ini pasti akan berlalu. Ibumu pasti akan sembuh,” ucap Mbah Sekar mencoba meyakinkan sang cucu.

“Setiap subuh ibu selalu berteriak, Mbah. Dira gak tahu apa yang membuat ibu berteriak di waktu sama dan selalu berulang-ulang.”

“Sabar, Nduk!” pinta Mbah Sekar.

Dira langsung menyesali perbuatannya, yang tidak sengaja perbuatannya menyakiti Mbah Sekar.

Apa yang dialami Dira saat ini. Tidak sebanding dengan Mbah Sekar alami.

Neneknya itu sudah menahan sedih selama belasan tahun. Jelas apa yang dirinya tunjukkan kurang pantas.

“Maafkan Dira, Mbah.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Cucu Mbah yang cantik ini tidak pernah melakukan kesalahan,” ungkap Mbah Sekar jujur dengan pandangannya tentang Dira yang selalu membuat dirinya bangga.

Meskipun tidak ada air mata yang jatuh membasahi wajah keriput Sekar. Tapi, Dira sangat yakin sangking dalamnya luka itu sampai membuat air mata sudah kering belasan tahun silam.

Tok… Tok!

Jika sudah ada teriakan dari kamar belakang. Maka, sang tetangga samping rumah akan datang untuk menegur Mbah Sekar maupun Dira. Seperti saat ini yang terjadi teras kontrakan Dira.

“MBAH SEKAR!” teriak seseorang dari depan pintu hingga menembus semua ruangan tanpa terkecuali.

“Kamu disini saja, Nduk! Biarkan aku saja yang keluar menemui tetangga kita,” pinta Sekar cepat lalu berjalan menuju pintu kontrakan. Meninggalkan Dira yang hanya diam mendengar mbahnya kembali diomelin tetangga samping rumah.

Krieeet!

“Mbah Sekar, aku kan sudah bilang berkali-kali Nimas itu dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa . Kasihan para tetangga yang keberisikan dengan teriaknya setiap subuh,” geram Siti saat pintu rumah terbuka.

“Kalau Mbah Sekar kesulitan memasukkan Nimas ke rumah sakit jiwa. Biarkan aku dan masyarakat membantu untuk menghubungi dinas sosial,” jelas Siti beruntun dengan wajah kesal.

“Maafkan putriku, Siti. Aku janji Nimas tidak akan teriak-teriak dan mengganggu warga lagi.”

“Mbah Sekar itu sudah sering janji ke warga. Tetap saja si Nimas itu teriak-teriak setiap subuh,” potong cepat Siti sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

“Sudah ribuan kali aku bilang ke Mbah Sekar. Jika Nimas itu gila dan butuh penanganan medis. Gak bisa jika hanya dikurung di dalam kamar saja. Sampai hari kiamat pun Nimas tetap teriak-teriak. Itupun kalau masih hidup orangnya,” sindir Siti yang langsung membuat Sekar terdiam.

“Kenapa Mbah diam saja? Benar kan apa yang aku katakan barusan,” geram Siti sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan bersedekap.

Wajah tidak bersahabat Siti sangat menggambarkan rasa kesalnya. Membuat Sekar hanya bisa berdoa semoga Nimas tidak membuat keributan lagi.

“Pokoknya ya, Mbah. Kalau Nimas masih teriak-teriak lagi seperti hari ini. Aku dan juga para warga akan membawa paksa Nimas ke rumah sakit jiwa,” geram Siti sambil melotot ke arah Sekar.

“Biar wilayah sini tentram dan tidak gadung seperti saat ini. Waktunya istirahat malah teriak-teriak gak jelas. Permisi.”

Tanpa menunggu tanggapan yang diberikan oleh Sekar. Siti pamit pergi dengan wajah kesal. Meninggalkan Mbah Sekar yang langsung menghembuskan nafasnya untuk mengurangi kegundahan di hati.

Pikiran Mbah Sekar berkecamuk jika sampai yang diucapkan oleh Siti benar-benar kejadian. Membuat tubuhnya terdiam tanpa merubah posisi. Hingga suara langkah kaki menyadarkannya.

“Ayo masuk, Mbah. Biarkan Dira tutup pintunya,” ucap Dira sambil menggandeng Sekar untuk melanjutkan aktivitas di dapur.

“Sudah siang. Kalau tidak cepat-cepat dimasak tempe dan bahan yang lainnya. Nasi uduknya gak habis,” ucap Dira selama menuju dapur.

“Hari ini Dira masuk lebih pagi dari sebelumnya. Kalau terlambat meski satu detik, pintu gerbang akan ditutup,” lanjut Dira.

“Ayo kita selesaikan!” ajak Dira dengan senyum manis di wajah cantiknya.

“Terima kasih banyak ya, Ndok.”

“Terima kasih buat apa? Justru Dira yang harus berterima kasih kepada Mbah yang selalu percaya semua akan baik-baik saja. Termasuk kondisi ibu di dalam kamar,” ucap Dira sambil tersenyum mencoba menghibur diri sendiri. Padahal hati Dira saat ini tidak baik-baik saja.

“Bukankah Mbah selalu yakin jika ibu akan sembuh suatu saat nanti?” lanjut Dira kembali dengan mata berkaca-kaca.

“Iya Mbah yakin jika ibumu suatu saat nanti akan sembuh.”

“Itupun juga keyakinan Dira saat ini. Terima kasih banyak ya Mbah selama belasan tahun menggantikan peran ibu untuk Dira.”

“Dira kan cucu Mbah satu-satunya. Jadi, apapun yang terbaik untuk Dira akan Mbah lakukan.”

“Iya, Dira percaya. Ayo kita selesaikan semuanya!” ajak Dira penuh semangat. .

“Udah, sekarang kamu siap-siap saja. Mbah gak mau kamu terlambat,” ucap Mbah Sekar saat tahu waktu sudah siang.

“Baik, Mbah.”

Dira langsung menuju ke kamarnya, untuk bersiap-siap berangkat. Namun, saat melewati kamar belakang.

Langkah kaki Dira terhenti. Berdiri sejenak dengan perasaan campur aduk.

Tangannya sudah di gagang pintu. Pintu kamar itu menunggu untuk dibuka.

Krieeet!

Saat pintu kamar terbuka, sudut mata Dira menangkap sosok perempuan cantik paruh baya dengan kelompok mata menghitam sedang duduk di pinggir ranjang.

Tangannya dalam keadaan terikat kain sedang menulis sesuatu di tembok kamar yang Dira tidak paham maksudnya.

“Nduk!”

“Iya, Mbah.”

Panggilan Mbah Sekar dari dapur menghentikan langkahnya. Menatap ke arah belakang yang saat ini tampak ada Mbah Sekar.

“Kenapa kamu diam saja di depan kamar ibumu? Ayo cepat ganti baju! Keburu kesiangan.”

“Iya, Mbah.”

Sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Sekar. Dira langsung keluar dari kamar Nimas menuju ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap. Sedangkan Nimas, langsung menengokkan kepalanya saat melihat bayangan Dira menghilang dari kamarnya.

“Di... ra,” gumam Nimas dengan suara sangat pelan hingga tak terdengar. Lalu kembali mencoret-coret dinding kamar.

Dira yang ada di kamar langsung bersiap-siap untuk berangkat ke tempat menuntut ilmu. Tidak ketinggalan beberapa buku dirinya masukkan kedalam tas.

Setelah memasang peniti di kerudungnya. Dira langsung keluar sambil mencangklong tasnya.

“Apakah bungkusan nasi uduknya sudah siap, Mbah?” tanya Dira memastikan.

“Yang ini untuk warung Bu Narti dan juga Bu Ida. Sedangkan yang ini buat kantin sekolahmu. Didalam sudah ada kertas berisi jumlah. Semuanya sudah pas. Antarkan ke Bu Ida terlebih dahulu karena pesanan pagi. Baru antar ke Bu Narti.”

“Siap, Dira berangkat dulu ya, Mbah,” pamit Dira sambil mencium punggung tangan Mbah Sekar.

“Hati-hati di jalan!”

“Iya, assalamualaikum,” salam Dira sambil membawa dagangannya.

“Wa'alaikumussalam.”

“Iya, eh.”

Suara Dira langsung terhenti saat dirinya melupakan seseorang. Membuat Dira kembali masuk ke rumah kontrakan yang sudah ditempati selama puluhan tahun.

“Loh, kenapa balik lagi, Nduk?” tanya Mbah Sekar heran.

“Belum pamitan sama Ibu.”

“Ya sudah, sana cepetan pamitan. Keburu kesiangan.”

“Iya, Mbah.”

Karena tidak ingin terlambat. Dira langsung berjalan cepat menuju ke kamar Nimas.

Krieeet!

Senyum cantik di wajah Dira langsung tergambar jelas saat melihat Nimas tengah tertidur di atas ranjangnya.

Setelah tenang, Nimas akan tidur sendiri di ranjangnya. Membuat Dira cepat-cepat mendekat lalu memegang punggung tangan Nimas.

“Dira berangkat ke sekolah ya, Bu. Dira sayang sama Ibu. Semoga Ibu cepat sembuh. Assalamualaikum,” pamit Dira.

Cup.

Setelah mencium punggung tangan Nimas. Tidak ketinggalan memberikan kecupan di kening perempuan paruh baya itu. Dira berlari keluar dari kamar untuk mengayuh sepedanya. Meninggalkan Nimas yang saat ini matanya terbuka dengan air mata membasahi wajah cantiknya.

Entah hal buruk apa yang terjadi pada Nimas. Hingga membuat jiwa dan raganya hancur secara bersamaan.

Membuat luka menganga hingga sangat sulit untuk disembuhkan. Luka sejak Dira masih berada di dalam kandungan hingga tumbuh besar.

Tanpa disadari oleh Dira, jika di ujung gang sempit kontrakannya ada sosok laki-laki bertubuh tinggi sedang mengawasi. Sosok laki-laki berseragam dalam balutan jaket hitam sambil menggenggam kertas di tangannya.

Hah.

“Akhirnya aku menemukannya,” ucap laki-laki misterius itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Terpopuler

Comments

Rasya Dzikri

Rasya Dzikri

👍

2026-08-11

0

Hatijah Cantik

Hatijah Cantik

lanjut

2026-06-10

0

Bunaya

Bunaya

Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍

2026-05-27

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2 BAB 2 Murid Baru
3 BAB 3 Pacar Dadakan
4 BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5 BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6 BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7 BAB 7 Untaian Luka Dira
8 BAB 8 Hadiah Perkenalan
9 BAB 9 Miskin Itu Takdir
10 BAB 10 Di Hadapannya
11 BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12 BAB 12 Kamu?
13 BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14 BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15 BAB 15 Fazaku
16 BAB 16 Keturunan Haram
17 BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18 BAB 18 Skakmat
19 BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20 BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21 BAB 21 Pesan Video Berantai
22 BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23 BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24 BAB 24 BAKAR!
25 BAB 25 Laci Yang Terkunci
26 BAB 26 Wajah Itu
27 BAB 27 JANGAN!
28 BAB 28 Benar, Namanya Satria
29 BAB 29 Panggilan Satria
30 BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31 BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32 BAB 32 Aku Akan Kembali
33 BAB 33 Kencan Interogasi
34 BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35 BAB 35 Kretek!
36 BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37 BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38 BAB 38 Nama Pembuat Luka
39 BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40 BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41 BAB 41 Tisu di Trotoar
42 BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43 BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44 BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45 BAB 45 Kemenangan Siti
46 BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47 BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48 BAB 48 Drama Para Pemain
49 BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50 BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51 BAB 51 Mengambil Resiko
52 BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53 BAB 53 Usaha Baru
54 BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55 BAB 55 Penggrebekan
56 BAB 56 Histeris
57 BAB 57 Cobaan
58 BAB 58 Keadaan Kacau
59 BAB 59 Titik Keberadaan
60 BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61 BAB 61 Harapan
62 BAB 62 Penolakan
63 BAB 63 Bertemu Kembali
64 BAB 64 Stabil
65 BAB 65 Hilangnya Marwah
66 BAB 66 Kontras
67 BAB 67 Aku Kalah
68 BAB 68 Bergejolak
69 BAB 69 Barang Bukti
70 BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71 BAB 71 Letupan Kembang Api
72 BAB 72 Peristiwa Kelam
73 BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74 BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75 BAB 75 Hormat Terakhir
76 BAB 76 Rencana Dadakan
77 BAB 77 Jembatan Penghubung
78 BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79 BAB 79 Kehidupan Baru
80 BAB 80 Kehangatan Keluarga
81 BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82 BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83 BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84 BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85 BAB 85 Titipan Dari Kakek
86 BAB 86 Terselesaikan Janji
87 BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88 BAB 88 Tembakan Salvo
89 BAB 89 Semakin Gila
90 BAB 90 Zona Merah
91 BAB 91 Pelukan Penyembuh
92 BAB 92 Air Kehidupan
93 BAB 93 Keberangkatan
94 BAB 94 Petunjuk Arah
95 BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96 BAB 96 Nyicil Tipis-tipis
Episodes

Updated 96 Episodes

1
BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2
BAB 2 Murid Baru
3
BAB 3 Pacar Dadakan
4
BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5
BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6
BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7
BAB 7 Untaian Luka Dira
8
BAB 8 Hadiah Perkenalan
9
BAB 9 Miskin Itu Takdir
10
BAB 10 Di Hadapannya
11
BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12
BAB 12 Kamu?
13
BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14
BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15
BAB 15 Fazaku
16
BAB 16 Keturunan Haram
17
BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18
BAB 18 Skakmat
19
BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20
BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21
BAB 21 Pesan Video Berantai
22
BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23
BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24
BAB 24 BAKAR!
25
BAB 25 Laci Yang Terkunci
26
BAB 26 Wajah Itu
27
BAB 27 JANGAN!
28
BAB 28 Benar, Namanya Satria
29
BAB 29 Panggilan Satria
30
BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31
BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32
BAB 32 Aku Akan Kembali
33
BAB 33 Kencan Interogasi
34
BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35
BAB 35 Kretek!
36
BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37
BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38
BAB 38 Nama Pembuat Luka
39
BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40
BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41
BAB 41 Tisu di Trotoar
42
BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43
BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44
BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45
BAB 45 Kemenangan Siti
46
BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47
BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48
BAB 48 Drama Para Pemain
49
BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50
BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51
BAB 51 Mengambil Resiko
52
BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53
BAB 53 Usaha Baru
54
BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55
BAB 55 Penggrebekan
56
BAB 56 Histeris
57
BAB 57 Cobaan
58
BAB 58 Keadaan Kacau
59
BAB 59 Titik Keberadaan
60
BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61
BAB 61 Harapan
62
BAB 62 Penolakan
63
BAB 63 Bertemu Kembali
64
BAB 64 Stabil
65
BAB 65 Hilangnya Marwah
66
BAB 66 Kontras
67
BAB 67 Aku Kalah
68
BAB 68 Bergejolak
69
BAB 69 Barang Bukti
70
BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71
BAB 71 Letupan Kembang Api
72
BAB 72 Peristiwa Kelam
73
BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74
BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75
BAB 75 Hormat Terakhir
76
BAB 76 Rencana Dadakan
77
BAB 77 Jembatan Penghubung
78
BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79
BAB 79 Kehidupan Baru
80
BAB 80 Kehangatan Keluarga
81
BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82
BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83
BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84
BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85
BAB 85 Titipan Dari Kakek
86
BAB 86 Terselesaikan Janji
87
BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88
BAB 88 Tembakan Salvo
89
BAB 89 Semakin Gila
90
BAB 90 Zona Merah
91
BAB 91 Pelukan Penyembuh
92
BAB 92 Air Kehidupan
93
BAB 93 Keberangkatan
94
BAB 94 Petunjuk Arah
95
BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96
BAB 96 Nyicil Tipis-tipis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!