BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik

Langit senja mulai hilang ke peraduan. Namun, jarak rumah masih jauh. Serta sepanjang jalan mata Dira sama sekali tidak melihat keberadaan bengkel sepeda. 

“Tolong antarkan aku ke bengkel sepeda saja,” pinta Dira yang memang enggan diantar oleh Faza sampai rumah. 

“Aku belum mengenal baik daerah ini. Jadi, jangan seenaknya menyuruhku.” 

“Maksudku, kalau ada bengkel di sepanjang jalan yang kita lewati. Tolong mampir."

“Hem.” 

Entah karena malas berkomunikasi panjang lebar Faza hanya berdehem saja. Jelas membuat Dira cemberut karena harus mengikuti Faza. Hingga Dira memutuskan untuk menajamkan indera penglihatan mengawasi sekitar mencari keberadaan bengkel sepeda. 

“Itu sepertinya ada bengkel. Tolong menepi!” pinta Dira tanpa sedikitpun ditanggapi Faza.

“Tolong menepi, Faza,” pinta Dira yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh Faza. 

Tentu saja Dira merasa kesal dengan laki-laki yang saat ini tengah memboncengnya. 

Plak! 

“Aduh!” 

“Hei! Tolong menepi!” geram Dira setelah menepuk pundak Faza penuh tenaga karena tidak ada reaksi sama sekali atas permintaannya.

“Ada apa?” 

“Tolong menepi di bengkel itu!” ucap Dira mengulangi kata-katanya hingga tiga kali, sambil menunjuk bengkel sepeda yang sudah mulai tutup. 

Dira yang kekeh ingin pulang menggunakan sepedanya sendiri. Membuat Faza memutuskan untuk mampir ke bengkel sebentar. 

“Bengkel itu sudah mau tutup.” 

“Biarkan aku turun untuk memastikan.” 

Huff! 

Hanya hembusan nafas kasar yang bisa diberikan oleh Faza atas sikap keras kepala Dira. Faza memutuskan mengikuti permintaan Dira. 

Dira cepat-cepat loncat dari motor Faza tanpa peduli keselamatannya. Lalu berlari menghampiri bapak pemilik bengkel, sambil membawa barang belanjaan di kedua tangannya. 

Dira terlihat memohon-mohon ke bapak bengkel. Faza langsung menstandarkan motornya, lalu berjalan menyusul Dira sambil mendorong sepeda.

“Apakah bisa diselesaikan hari ini Pak?” tanya Dira kekeh meminta agar sepedanya cepat diperbaiki. 

Meskipun Faza sudah menawarkan bantuan untuk mengantar sampai ke rumah. Namun, tidak diterima oleh Dira. Benar-benar sesuai dengan dugaan Faza jika Dira memang keras kepala.

“Sepeda Neng harus ganti rantai baru. Sebenarnya bisa diganti hari ini juga. Masalahnya istri saya sedang sakit,” jelas pemilik bengkel sambil mengawasi sepeda Dira. 

“Saya minta...” 

“Ganti aja, Pak. Besok sebelum jam 6 pagi bisa diambil?” tanya Faza memotong ucapan Dira. 

“InsyaAllah bisa. Saya usahakan langsung diganti dengan rantai baru.” 

“Baik, Pak. Sepedanya diambil esok pagi.” potong cepat Faza. 

“Saya izin masukin sepeda Neng ke dalam.” 

“Silakan, terima kasih banyak, Pak.” 

“Iya, Mas.”

Setelah pemilik bengkel membawa masuk sepeda Dira. Faza yang memang tengah terburu-buru ingin pergi ke suatu tempat. Faza menepuk pelan lengan Dira. 

“Ayo pulang sekarang! Aku buru-buru.” 

“Memangnya kamu tahu tempat tinggalku?” 

Faza terdiam sejenak mendengar penuturan Dira. Rasa kesal benar-benar menyelimuti pemuda tampan itu. 

“Belum tahu. Bukankah ada kamu sebagai penunjuk arah? Kenapa hal seperti ini harus ditanyakan oleh seorang yang katanya juara kelas?” 

“Kamu tahu darimana aku juara kelas?” 

“Gak penting. Yang terpenting saat ini kamu cepat naik.” 

“Iya, iya, lagipula aku tidak memintamu mengantarku pulang.” 

Tanpa menanggapi ucapan Dira yang dianggap tidak penting. Faza langsung melajukan motornya ke rumah Dira. Tentu saja sesuai dengan petunjuk arah dari Dira. 

Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan berarti diantara Faza dan Dira. Hanya kata belok kanan, belok kiri, putar balik, hingga akhirnya kata…

“Stop! Berhenti di sini saja!” 

Hanya kerutan di kening yang diberikan Faza saat Dira meminta berhenti di gardu gang cukup sempit. Karena hanya sepeda maupun motor saja yang bisa masuk. 

“Disini?” tanya Faza memastikan. 

“Iya.” 

“Kamu tinggal di gapura ini?” 

Pertanyaan tidak masuk akal yang diucapkan oleh Faza. Membuat Dira menatap tajam kearah laki-laki tampan itu. 

“Mulai sejak kapan gapura menjadi hunian?”

“Siapa tahu saja kamu tinggal di gapura sambil bergelantungan.” 

“Emang kamu pikir aku ini monyet.” 

“Sejak kapan monyet tinggal di gapura. Yang ada Mbak Kunti.” 

Ssst.

“Bisa diam gak?” 

Geram Dira saat menyadari dirinya dan Faza menjadi pusat perhatian para tetangga. Apalagi saat sudut matanya menangkap keberadaan Siti yang tengah berjalan mendekat. Tetangga samping rumah yang tadi pagi mencari keributan. 

“Tempat tinggalku sudah dekat. Kamu bisa pulang sekarang,” ucap cepat Dira sambil berlari meninggalkan Faza begitu saja. Tanpa ada ucapan terima kasih. 

Entah karena menghindari tatapan Siti atau memang enggan mengatakan terima kasih. Tapi yang jelas Faza menggelengkan kepalanya di balik helm full face sambil melihat perilaku Dira. 

“Ternyata sikapnya benar-benar sangat buruk,” gumam Faza sambil membelokkan motornya. 

Namun, saat berpapasan dengan Siti. Faza memutuskan untuk berhenti sejenak. Mencari tahu apa yang akan dikatakan perempuan paruh baya di hadapannya. 

“Ibu dan juga putrinya sama-sama murahan. Pasti sebentar lagi ada kabar hamil diluar nikah. Aku sangat yakin sekali dengan pemikiran ini,” lanjut Siti sambil bergantian melihat kearah Faza dan juga punggung Dira yang mulai menjauh. 

“Jual tubuhnya murah hanya untuk bisa dibonceng motor gede. Benar-benar sangat menjijikan,” ucap Siti sambil menatap tajam kembali ke arah Faza serta tatapan merendahkan. 

Karena Faza menggunakan jaket kulit dan juga celana serta helm full face. Membuat Siti tidak bisa melihat wajah Faza yang dikira bandot tua. 

“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Dasar bandot tua!” maki Siti kepada Faza.  

“Dasar sakit ini orang,” sindir Faza tepat di hadapan Siti. Faza sama sekali gak habis pikir dengan sikap maupun perilaku Siti. 

Sambil menggas motornya tepat di hadapan Siti. Faza pergi  meninggalkan kampung tempat tinggal Dira sambil geleng-geleng kepala. 

GREEEENG! 

“Dasar tidak sopan kamu!” maki Siti ke Faza. 

Sedangkan di tempat lain, Dira yang sudah masuk di teras rumahnya. Langsung buru-buru keluar pagar untuk menemui Faza kembali. 

“Yaaah, dia sudah pergi. Aku lupa mengucapkan terima kasih padanya.” 

“Nduk, kenapa kamu hanya berdiri di pagar saja? Kamu cari siapa?” 

Suara Mbah Sekar dari arah dalam rumah membuat Dira gelagapan. Sebab, Faza laki-laki pertama yang mengantar pulang. 

“Gak cari siapa-siapa, Mbah,” jawab Dira sambil berjalan mendekati Mbah Sekar sambil mencium punggung tangan. 

Tangan orang tua yang merawatnya mulai bayi. Lebih tepatnya saat masih berada di dalam kandungan. Karena Nimas mengalami gangguan jiwa saat tengah mengandung Dira. 

“Assalamualaikum, Mbah.” 

“Wa'alaikumussalam,” balas Mbah Sekar. 

Saat Dira tiba-tiba masuk ke rumah. Rasa penasaran menyelimuti Mbah Sekar. Karena merasa ada yang janggal.

“Nduk.” 

“Iya, Mbah.” 

“Sepedamu mana?” 

“Di bengkel, tadi rantainya putus dan harus ganti baru.”

“Memang sudah waktunya diganti. Mbah dengar sebulan terakhir suaranya sangat nyaring,” ucap Mbah Sekar membenarkan keadaan rantai sepeda Dira yang menyedihkan. 

“Yaudah sekarang kamu makan dulu. Takut keburu dingin.” 

Saat mendengar ajakan makan dari Mbah Sekar. Dira tampak diam saja saat mengingat bekal miliknya belum habis.  

“Nduk, kenapa diam saja? Ayo cepat makan lalu sholat. Keburu waktu Magrib habis.” 

“Maaf Mbah, Dira gak habisin bekal tadi pagi.” 

Hanya senyum tipis yang diberikan Mbah Sekar. Tapi, sudut matanya tampak terlihat lelah. Serta ada sendu yang menyelimuti. 

“Gak usah dipikirin. Mbah sama sekali gak marah. Mungkin kamu sedang bosan ingin makan makanan berbeda. Maafkan Mbah yang belum bisa memberikan makanan enak untukmu.” 

“Kenapa Mbah ngomong seperti itu? Justru nasi uduk bikinan Mbah banyak yang suka,” jawab cepat Dira.  

“Jumlahnya pun minta ditambah lagi. Makanya tadi Dira beli beras dan bahan makanan lebih banyak dari sebelumnya.” 

Wajah sendu yang sebelumnya tergambar jelas kini berubah menjadi senyuman cantik. Membuat hati Mbah Sekar semakin sakit melihat keadaan cucu satu-satunya. 

“Ayo kita makan bareng, Mbah! Apakah ibu sudah makan?” tanya Dira mencoba mengalihkan topik pembicaraan. 

“Sudah, barusan makan sendiri.” 

“Benarkah?” tanya Dira dengan mata berbinar. Mengingat Nimas sebelumnya mengalami kesulitan saat makan sendiri. Biasanya makanan yang sudah disiapkan diberantakin. 

“Benar, makannya sudah bisa pakai sendok.” 

“Alhamdulillah, Dira seneng banget Ibu sudah banyak perkembangan.” 

“Berarti jauh didalam lubuk hati ibumu memiliki keinginan cepat sembuh.” 

“Benar ini kabar baik. Dira malam ini izin tidur bareng sama ibu ya, Mbah.” 

“Iya, terserah kamu.” 

Kabar perkembangan yang dialami oleh Nimas. Benar-benar membuat perasaan Dira hanya ada bahagia saja. Rasa kesal menyelimuti saat bersama Faza langsung hilang. Sebab, dari rasa bahagia itu akan menciptakan energi positif. 

 

“Semoga semua ini awal yang baik.” 

“Aamiin.” 

Setelah makan, ibadah lalu dilanjutkan membersihkan diri. Kini Dira tengah sibuk membantu Mbah Sekar menyiapkan bahan maupun bumbu untuk esok hari. 

“Berarti tadi kamu pulang jalan kaki?” tanya Mbah Sekar tiba-tiba disaat Dira melupakan kejadian tadi sore dengan Faza. 

Jelas saja Dira langsung terdiam sejenak. Mencari tatanan bahasa untuk menjawab pertanyaan Mbah Sekar. 

“Tidak,” jawab Dira dengan suara pelan. Hingga hampir tak terdengar. 

“Naik ojek?” 

“Tidak.” 

“Naik angkot?” 

“Tidak  juga.” 

Jawaban tidak yang diberikan oleh Dira sambil menggelengkan kepala. Tentu saja Mbah Sekar bingung. 

“Jika tidak jalan kaki, naik ojek maupun angkot. Terus tadi pulang naik apa?” 

“Diantar teman sekelas naik motor.” 

Jawaban yang diberikan oleh Dira membuat Mbah Sekar tersenyum. Mengingat selama ini Dira tidak memiliki teman sebaya. 

“Kenapa Mbah senyum?” tanya Dira sambil cemberut. 

“Mbah sangat senang. Akhirnya kamu memiliki teman sepantaran. Karena seharusnya memang seperti itu sejak dulu.”

Hanya senyuman yang diberikan oleh Dira. Karena tidak ingin merusak kebahagiaan Mbah Sekar. Membuat Dira tidak lagi menanggapi pembahasan tentang sosok Faza. 

‘Bukannya aku tidak ingin memiliki teman. Hanya saja bagiku, mereka sangat jauh dari jangkauan. Membuatku lebih memilih fokus saja ke pendidikan menjadi dokter spesialis kejiwaan untuk Ibu,’ batin Dira. 

‘Dan untuk Faza, mungkin dia mengantarku untuk pertama dan terakhir. Karena aku tidak ingin bermasalah dengan Sisil,’ batin Dira kembali. 

Tidak mencari masalah dengan Sisil adalah pilihan paling tepat. Mengingat keluarga Sisil memilih pengaruh yang dengan gampang menyingkirkan orang lain yang tidak disuka, termasuk Dira. 

Episodes
1 BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2 BAB 2 Murid Baru
3 BAB 3 Pacar Dadakan
4 BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5 BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6 BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7 BAB 7 Untaian Luka Dira
8 BAB 8 Hadiah Perkenalan
9 BAB 9 Miskin Itu Takdir
10 BAB 10 Di Hadapannya
11 BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12 BAB 12 Kamu?
13 BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14 BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15 BAB 15 Fazaku
16 BAB 16 Keturunan Haram
17 BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18 BAB 18 Skakmat
19 BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20 BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21 BAB 21 Pesan Video Berantai
22 BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23 BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24 BAB 24 BAKAR!
25 BAB 25 Laci Yang Terkunci
26 BAB 26 Wajah Itu
27 BAB 27 JANGAN!
28 BAB 28 Benar, Namanya Satria
29 BAB 29 Panggilan Satria
30 BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31 BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32 BAB 32 Aku Akan Kembali
33 BAB 33 Kencan Interogasi
34 BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35 BAB 35 Kretek!
36 BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37 BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38 BAB 38 Nama Pembuat Luka
39 BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40 BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41 BAB 41 Tisu di Trotoar
42 BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43 BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44 BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45 BAB 45 Kemenangan Siti
46 BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47 BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48 BAB 48 Drama Para Pemain
49 BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50 BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51 BAB 51 Mengambil Resiko
52 BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53 BAB 53 Usaha Baru
54 BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55 BAB 55 Penggrebekan
56 BAB 56 Histeris
57 BAB 57 Cobaan
58 BAB 58 Keadaan Kacau
59 BAB 59 Titik Keberadaan
60 BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61 BAB 61 Harapan
62 BAB 62 Penolakan
63 BAB 63 Bertemu Kembali
64 BAB 64 Stabil
65 BAB 65 Hilangnya Marwah
66 BAB 66 Kontras
67 BAB 67 Aku Kalah
68 BAB 68 Bergejolak
69 BAB 69 Barang Bukti
70 BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71 BAB 71 Letupan Kembang Api
72 BAB 72 Peristiwa Kelam
73 BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74 BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75 BAB 75 Hormat Terakhir
76 BAB 76 Rencana Dadakan
77 BAB 77 Jembatan Penghubung
78 BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79 BAB 79 Kehidupan Baru
80 BAB 80 Kehangatan Keluarga
81 BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82 BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83 BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84 BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85 BAB 85 Titipan Dari Kakek
86 BAB 86 Terselesaikan Janji
87 BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88 BAB 88 Tembakan Salvo
89 BAB 89 Semakin Gila
90 BAB 90 Zona Merah
91 BAB 91 Pelukan Penyembuh
92 BAB 92 Air Kehidupan
93 BAB 93 Keberangkatan
94 BAB 94 Petunjuk Arah
95 BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96 BAB 96 Nyicil Tipis-tipis
Episodes

Updated 96 Episodes

1
BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2
BAB 2 Murid Baru
3
BAB 3 Pacar Dadakan
4
BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5
BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6
BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7
BAB 7 Untaian Luka Dira
8
BAB 8 Hadiah Perkenalan
9
BAB 9 Miskin Itu Takdir
10
BAB 10 Di Hadapannya
11
BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12
BAB 12 Kamu?
13
BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14
BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15
BAB 15 Fazaku
16
BAB 16 Keturunan Haram
17
BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18
BAB 18 Skakmat
19
BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20
BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21
BAB 21 Pesan Video Berantai
22
BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23
BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24
BAB 24 BAKAR!
25
BAB 25 Laci Yang Terkunci
26
BAB 26 Wajah Itu
27
BAB 27 JANGAN!
28
BAB 28 Benar, Namanya Satria
29
BAB 29 Panggilan Satria
30
BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31
BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32
BAB 32 Aku Akan Kembali
33
BAB 33 Kencan Interogasi
34
BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35
BAB 35 Kretek!
36
BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37
BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38
BAB 38 Nama Pembuat Luka
39
BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40
BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41
BAB 41 Tisu di Trotoar
42
BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43
BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44
BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45
BAB 45 Kemenangan Siti
46
BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47
BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48
BAB 48 Drama Para Pemain
49
BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50
BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51
BAB 51 Mengambil Resiko
52
BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53
BAB 53 Usaha Baru
54
BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55
BAB 55 Penggrebekan
56
BAB 56 Histeris
57
BAB 57 Cobaan
58
BAB 58 Keadaan Kacau
59
BAB 59 Titik Keberadaan
60
BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61
BAB 61 Harapan
62
BAB 62 Penolakan
63
BAB 63 Bertemu Kembali
64
BAB 64 Stabil
65
BAB 65 Hilangnya Marwah
66
BAB 66 Kontras
67
BAB 67 Aku Kalah
68
BAB 68 Bergejolak
69
BAB 69 Barang Bukti
70
BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71
BAB 71 Letupan Kembang Api
72
BAB 72 Peristiwa Kelam
73
BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74
BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75
BAB 75 Hormat Terakhir
76
BAB 76 Rencana Dadakan
77
BAB 77 Jembatan Penghubung
78
BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79
BAB 79 Kehidupan Baru
80
BAB 80 Kehangatan Keluarga
81
BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82
BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83
BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84
BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85
BAB 85 Titipan Dari Kakek
86
BAB 86 Terselesaikan Janji
87
BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88
BAB 88 Tembakan Salvo
89
BAB 89 Semakin Gila
90
BAB 90 Zona Merah
91
BAB 91 Pelukan Penyembuh
92
BAB 92 Air Kehidupan
93
BAB 93 Keberangkatan
94
BAB 94 Petunjuk Arah
95
BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96
BAB 96 Nyicil Tipis-tipis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!