BAB 5 Kecantikan Tersembunyi

Setelah selesai menyiapkan segala bumbu untuk masak besok subuh. Khusus  malam ini Dira menuju ke kamar Nimas untuk istirahat. Perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh Nimas, membuat Dira tidak mau kehilangan momen berharga itu. 

Krieee.

Ketika pintu kamar terbuka, hal pertama yang Dira lihat adalah sosok Nimas menatap ke arahnya. Sambil tersenyum, Dira menghampiri ibunya. 

“Ibu belum tidur?” tanya Dira.

“Malam ini Dira temani tidur Ibu, ya?” lanjut Dira.

“Pasti Ibu belum cuci tangan, kaki, dan juga gosok gigi?” tebak Dira tepat sekali. 

“Ayo ikut Dira!” 

Tanpa banyak kata, tanpa tanya maupun tanpa penolakan dari mulut Nimas. Perempuan paruh baya itu mengikuti ajakan putrinya menuju ke kamar mandi. 

“Ini sikat gigi Ibu yang warnanya merah muda. Ibu suka sekali kan dengan warna ini?” tanya Dira yang sama sekali tidak dijawab Nimas.

“Dira sengaja beli pasta gigi khusus untuk Ibu dengan aroma bunga. Biar aromanya harum dan semakin menambah aura kecantikan Ibu,” jelas Dira sambil mengajarkan Nimas gosok gigi.

“Sudah cukup.”

“Sekarang waktunya berwudhu sekalian cuci tangan dan kaki ya, Bu.” 

Meskipun kejiwaan Nimas mengalami gangguan. Tetap saja Mbah Sekar maupun Dira mencoba mendekatkan Nimas kepada Sang Pencipta. 

Meski reaksi yang diberikan hanya diam saja tanpa sepatah katapun. Tapi, harapan itu tetap ada. Siapa tahu suatu saat nanti Nimas ingat jika telah melahirkan putri cantik bernama Arundaya Dirandra. 

“Sudah cukup. Sekarang kita siap-siap tidur, ya, Bu.” 

Sambil menggandeng tangan Nimas. Dira membawa ibunya menuju ke kamar. 

Saat Dira melihat bayangan Nimas di kaca rias kamar. Senyum di wajah cantik Dira terbit sangat indah sekali.

“Dira sisir rambut Ibu, ya? Biar rapi dan tidak kusut.” 

Tanpa menunggu jawaban yang diberikan oleh Nimas, Dira mengambil sisir di atas meja rias. Lalu mengajak Nimas untuk duduk di depan kaca. 

“Ibu, ayo duduk sini,” ajak Dira penuh semangat. 

Dira menarik kursi untuk Nimas duduk tanpa ada penolakan. Matanya menatap ke arah kaca rias. Kini, Nimas bisa melihat langsung wajah cantiknya. 

“Rambut ibu hitam dan juga berkilau. Terlihat sangat bagus sekali.” 

Dengan sangat telaten Dira menyisir dan merapikan rambut panjang Nimas. Setelah selesai merapikan rambut Nimas. Tangan Dira terulur mengambil pelembab wajah untuk Nimas.

“Kita pakai pelembab wajah ya, Bu. Agar kulit ibu tidak kering dan tetap cantik.” 

Bagi Dira kebutuhan Nimas lebih penting dibandingkan dirinya. Dira rela menyisihkan tabungannya untuk kebutuhan Nimas. Sebab, Dira berharap saat Nimas sembuh, tidak ada perubahan berarti saat masih normal. 

Hal jauh berbeda yang Dira lakukan padanya. Dira memilih tanpa adanya polesan makeup. Tujuannya jelas ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. 

“Ibu cantik sekali,” puji Dira menatap bayangan Nimas di kaca rias. 

“Rambut hitam berkilau serta kulit halus ibu. Semakin menambah kecantikan Ibu,” puji Dira sambil memeluk Nimas dari belakang. 

“Apakah ibu tahu? Jika Dira bangga terlahir dari rahim Ibu,” ucap Dira. 

“Dira bangga mendapat kecantikan, rambut hitam dan halus, kepintaran, serta kulit putih bersih milik Ibu. Terima kasih banyak ya, Bu. Sudah menurunkan kelebihan itu ke Dira,” lanjut Dira. 

“Doa Dira hanya satu. Semoga ibu cepat sembuh. Karena Dira ingin dipeluk ibu.” 

Ungkapan kasih sayang Dira berikan untuk Nimas dari hati terdalam. Membuat hati dan perasaan mbah Sekar yang sedang mengintip terasa sangat nyeri. 

“Cepatlah sembuh Nimas. Putrimu sangat merindukan sentuhan kasih sayang dari ibunya, yang tidak pernah dirinya dapatkan sejak lahir,” lirih Mbah Sekar. 

“Dira tumbuh menjadi pribadi luar biasa. Dia lebih dewasa dibandingkan remaja seusianya. Cepatlah sembuh putriku,” ungkap Mbah Sekar penuh harap. 

Mbah Sekar yang tidak ingin mengganggu kedekatan Nimas dan Dira, memutuskan kembali ke kamarnya. Mengistirahatkan tubuhnya untuk menyambut esok hari. 

Kriiing! 

Suara bunyi alarm dari jam weker milik Dira. Menandakan jika aktivitas pagi buta mulai kembali menggelayut. Dira dan juga Mbah Sekar pergi ke dapur memasak nasi uduk beserta lauk pelengkap serta gorengan. 

“Untuk pesanan hari ini minta ditambah Mbah,” ucap Dira mengingatkan. 

“Iya, Nduk.” 

Hal paling menggembirakan bagi Dira dan Mbah Sekar adalah dagangan habis, hingga minta jumlahnya ditambah. 

Meskipun akan terasa capek. Tapi, rasa capek itu langsung menghilang berganti dengan rasa syukur atas nikmat rezeki yang diberikan. 

Allahu Akbar Allahu Akbar 

Suara adzan Subuh berkumandang menghentikan aktivitas Mbah Sekar. Pandangan perempuan yang masuk usia lansia itu kini menatap ke arah Dira. 

“Ayo kita siap-siap sholat berjamaah, Nduk!” 

“Maaf, Mbah. Hari ini tidak bisa sholat berjamaah. Karena Dira sedang datang bulan.” 

“Oh, ya sudah kalau begitu. Berarti kamu lanjut masak saja. Langsung mandi kalau sekiranya sudah siang.” 

“Siap, Mbah.” 

Mbah Sekar menuju ke ruang depan untuk sholat subuh. Sedangkan Dira melanjutkan menggoreng lauk sekaligus membungkus nasi uduk.

“Assalamualaikum warahmatullah.” 

“Assalamualaikum warahmatullah.” 

Setelah mengucap salam. Mbah Sekar melanjutkan berdzikir, lalu menadahkan kedua tangannya meminta keselamatan, kesehatan, dan juga kebaikan untuk keluarganya. 

Teg.

Greek.

Suara pagar rumah terbuka mengalihkan perhatian Mbah Sekar. 

“Suara apa itu? Apakah ada orang  masuk ke teras secara sembunyi-sembunyi?” 

Meskipun terdengar cukup samar. Namun, mampu mencuri perhatian Mbah Sekar. 

Mbah Sekar buru-buru melipat mukenanya lalu mengambil kerudung bergo miliknya.

Sambil berjalan pelan menuju jendela. Mbah Sekar mengawasi sosok bayangan seseorang di teras rumah. 

“Bukankah itu sepeda Dira?” tanya Mbah Sekar sambil mengintip melalui gorden jendela. 

Rasa penasaran terlalu tinggi tentang sosok tersebut. Mbah Sekar memutuskan membuka pintu untuk menghampiri. 

“Kamu siapa, Le?” tanya Mbah Sekar kepada pemuda di hadapannya. Yang kini menatap kearah Mbah Sekar sambil menundukkan sedikit kepalanya. 

“Kenapa kamu mengantar sepeda cucuku pagi-pagi buta? Sama sekali tidak mengucapkan salam,” tutur Mbah Sekar sambil mengawasi sosok pemuda di hadapannya. 

Jika dilihat dari penampilan dan juga parasnya. Jelas sosok pemuda tersebut bukanlah seorang maling. Meskipun tubuhnya tertutup jaket berwarna hitam. Tapi, tampangnya menunjukkan dari kalangan orang berada. 

“Assalamualaikum, Mbah,” salam Faza.

“Waalaikumsalam,” jawab Mbah Sekar datar.

“Maaf mengganggu waktunya, Mbah. Perkenalkan, nama saya Faza. Kedatangan saya ingin mengantar sepeda Dira,” tutur Faza. 

“Kebetulan rantainya sudah diganti lebih cepat dari waktu semestinya. Jadi, Dira tidak perlu mengambil ke bengkel,” jelas Faza sedikit terbata-bata. 

Sebab, Faza merasa dirinya seperti seorang maling yang pagi-pagi buta mengendap-endap di kediaman orang. 

“Memangnya harus diantar pagi-pagi buta seperti ini? Apalagi tanpa mengucap salam secara benar pula,” tanya mbah Sekar kurang nyaman atas sikap Faza. 

Mengingat di rumah kediaman Dira sama sekali tidak terdapat laki-laki. Jelas sangat kurang etis pagi-pagi buta ada laki-laki bertamu. 

“Maaf, membuat Mbah serta keluarga kurang nyaman. Saya mengantar pagi-pagi buta karena sepeda sudah selesai diperbaiki lebih cepat. Serta kebetulan juga saya ada keperluan penting di sekitar sini. Jadi, saya berinisiatif mengantar pagi-pagi buta.” 

Entah apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Faza. Tapi, yang jelas tindakan Faza benar-benar terlihat sangat janggal di mata Mbah Sekar. 

Membuat Mbah Sekar mengawasi Faza dengan sangat seksama. Mencoba mencari kejujuran atas ucapan dan juga tindakan yang dilakukan oleh Faza. 

“Kamu orang bengkel?” 

“Bukan, Mbah. Saya teman Dira.” 

“Lah kok bisa? Memangnya ada bengkel buka pagi buta?” tanya Mbah Sekar beruntun. 

“Kebetulan orang bengkel harus menemani istrinya di rumah sakit. Jadi, saya memutuskan mengambil sepeda Dira pagi-pagi buta.” 

Obrolan yang terjadi antara Mbah Sekar dengan seseorang. Mencuri perhatian Dira yang ada di dapur.

“Mbah bicara sama siapa?” gumam Dira berjalan ke arah teras. 

Tapi, niat untuk mencari tahu sosok yang sedang berbicara dengan Mbah Sekar harus diurungkan. Ketika matanya mengawasi jam dinding yang sebentar lagi menunjukkan waktu dimana Nimas akan berteriak histeris. 

“Ibu.” 

Dira yang menyadari reaksi marah sekaligus ketakutan Nimas. Dengan buru-buru menuju ke kamar Nimas. Jangan sampai kegaduhan yang terjadi membuat tetangga Dira datang sambil meluapkan kekesalan. 

Dan apa yang dikhawatirkan oleh Dira benar-benar kejadian. 

“ARRRRG!”

“PERGI!” 

PYARR! 

Teriakkan histeris dan juga barang pecah memenuhi kamar Nimas. Dira buru-buru masuk ke kamar mencoba menenangkan. 

“IBU!” 

Suara teriakan kencang Dira dari dalam rumah. Menghentikan Mbah Sekar dengan Faza. 

“Nduk!” 

Tanpa memperdulikan keberadaan Faza yang masih berdiri di teras. Mbah Sekar lari tergopoh-gopoh masuk ke rumah. Meninggalkan Faza yang tampak kebingungan. 

Jelas Faza merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Mengingat Mbah Sekar sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Jadi, jika Faza masuk di kediaman Mbah Sekar tanpa izin jelas semakin tidak sopan. 

“AARRGH!” 

“IBU BERHENTI! JANGAN PEGANG PECAHAN KACA ITU!” 

“Nimas!” 

Dengan segala kegalauan menyelimuti Faza. Apalagi teriakkan Dira dan juga Mbah Sekar. Faza memberanikan diri masuk di kediaman Mbah Sekar tanpa izin.

“Persetan dengan kemarahan mbahnya Dira padaku. Yang jelas keselamatan mereka paling utama dibandingkan apapun.” 

Faza langsung berlari masuk di kediaman Mbah Sekar. Mencari sumber suara yang ternyata berada di kamar belakang. 

“Ibu!” 

“Nduk, berhenti! Di depanmu ada pecahan kaca.” 

Karena Dira hanya fokus pada Nimas. Membuat Dira tidak menyadari jika di depan kakinya terdapat pecahan kaca. 

Dengan cepat Faza menarik selimut yang ada di atas ranjang untuk menutupi pecahan kaca. Agar kaki Dira terlindungi saat melangkah mendekati Nimas. 

“ARRRRG!” 

Nimas yang masih tampak histeris. Membuat Faza menarik selimut lain yang ada di atas ranjang. Lalu mendekati Nimas untuk membalut seluruh tubuhnya agar tidak berontak. 

“Peluk dan tidurkan di atas ranjang!” perintah Faza kepada Dira yang belum menyadari keberadaan laki-laki lain di kediamannya. Sebab, fokus Dira hanya pada ibunya. 

“Balutkan selimut agar tetap tenang!” perintah Faza kembali sambil membantu Dira mengikat Nimas. 

Saat Nimas sudah tampak tenang. Kini pandangan Dira dan Faza saling bertemu menatap satu sama lain. 

Deg.

Jantung Faza terasa terhenti saat itu juga. Saat matanya memperhatikan Dira. 

Faza jelas kaget. Sebab rambut hitam, panjang, tebal dan juga lurus. Tampak kontras dengan kulit putih bersih dengan bibir merah muda milik Dira. 

Dira sosok gadis sederhana berjilbab dalam kesehariannya. Ternyata memiliki kecantikan yang sangat terjaga hingga tidak ada satupun laki-laki melihatnya. 

Tapi, itu semua dulu sebelum Faza mampu melihatnya tanpa ada halangan sedikitpun. Membuat detak jantung Dira berdetak tidak karuan hingga sulit bernapas. 

“Dia,” gumam Dira tidak percaya dengan penglihatannya. Tangannya bergetar hebat hingga sulit dikendalikan.

Episodes
1 BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2 BAB 2 Murid Baru
3 BAB 3 Pacar Dadakan
4 BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5 BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6 BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7 BAB 7 Untaian Luka Dira
8 BAB 8 Hadiah Perkenalan
9 BAB 9 Miskin Itu Takdir
10 BAB 10 Di Hadapannya
11 BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12 BAB 12 Kamu?
13 BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14 BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15 BAB 15 Fazaku
16 BAB 16 Keturunan Haram
17 BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18 BAB 18 Skakmat
19 BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20 BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21 BAB 21 Pesan Video Berantai
22 BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23 BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24 BAB 24 BAKAR!
25 BAB 25 Laci Yang Terkunci
26 BAB 26 Wajah Itu
27 BAB 27 JANGAN!
28 BAB 28 Benar, Namanya Satria
29 BAB 29 Panggilan Satria
30 BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31 BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32 BAB 32 Aku Akan Kembali
33 BAB 33 Kencan Interogasi
34 BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35 BAB 35 Kretek!
36 BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37 BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38 BAB 38 Nama Pembuat Luka
39 BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40 BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41 BAB 41 Tisu di Trotoar
42 BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43 BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44 BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45 BAB 45 Kemenangan Siti
46 BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47 BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48 BAB 48 Drama Para Pemain
49 BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50 BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51 BAB 51 Mengambil Resiko
52 BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53 BAB 53 Usaha Baru
54 BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55 BAB 55 Penggrebekan
56 BAB 56 Histeris
57 BAB 57 Cobaan
58 BAB 58 Keadaan Kacau
59 BAB 59 Titik Keberadaan
60 BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61 BAB 61 Harapan
62 BAB 62 Penolakan
63 BAB 63 Bertemu Kembali
64 BAB 64 Stabil
65 BAB 65 Hilangnya Marwah
66 BAB 66 Kontras
67 BAB 67 Aku Kalah
68 BAB 68 Bergejolak
69 BAB 69 Barang Bukti
70 BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71 BAB 71 Letupan Kembang Api
72 BAB 72 Peristiwa Kelam
73 BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74 BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75 BAB 75 Hormat Terakhir
76 BAB 76 Rencana Dadakan
77 BAB 77 Jembatan Penghubung
78 BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79 BAB 79 Kehidupan Baru
80 BAB 80 Kehangatan Keluarga
81 BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82 BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83 BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84 BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85 BAB 85 Titipan Dari Kakek
86 BAB 86 Terselesaikan Janji
87 BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88 BAB 88 Tembakan Salvo
89 BAB 89 Semakin Gila
90 BAB 90 Zona Merah
91 BAB 91 Pelukan Penyembuh
92 BAB 92 Air Kehidupan
93 BAB 93 Keberangkatan
94 BAB 94 Petunjuk Arah
95 BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96 BAB 96 Nyicil Tipis-tipis
Episodes

Updated 96 Episodes

1
BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2
BAB 2 Murid Baru
3
BAB 3 Pacar Dadakan
4
BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5
BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6
BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7
BAB 7 Untaian Luka Dira
8
BAB 8 Hadiah Perkenalan
9
BAB 9 Miskin Itu Takdir
10
BAB 10 Di Hadapannya
11
BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12
BAB 12 Kamu?
13
BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14
BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15
BAB 15 Fazaku
16
BAB 16 Keturunan Haram
17
BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18
BAB 18 Skakmat
19
BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20
BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21
BAB 21 Pesan Video Berantai
22
BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23
BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24
BAB 24 BAKAR!
25
BAB 25 Laci Yang Terkunci
26
BAB 26 Wajah Itu
27
BAB 27 JANGAN!
28
BAB 28 Benar, Namanya Satria
29
BAB 29 Panggilan Satria
30
BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31
BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32
BAB 32 Aku Akan Kembali
33
BAB 33 Kencan Interogasi
34
BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35
BAB 35 Kretek!
36
BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37
BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38
BAB 38 Nama Pembuat Luka
39
BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40
BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41
BAB 41 Tisu di Trotoar
42
BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43
BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44
BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45
BAB 45 Kemenangan Siti
46
BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47
BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48
BAB 48 Drama Para Pemain
49
BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50
BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51
BAB 51 Mengambil Resiko
52
BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53
BAB 53 Usaha Baru
54
BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55
BAB 55 Penggrebekan
56
BAB 56 Histeris
57
BAB 57 Cobaan
58
BAB 58 Keadaan Kacau
59
BAB 59 Titik Keberadaan
60
BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61
BAB 61 Harapan
62
BAB 62 Penolakan
63
BAB 63 Bertemu Kembali
64
BAB 64 Stabil
65
BAB 65 Hilangnya Marwah
66
BAB 66 Kontras
67
BAB 67 Aku Kalah
68
BAB 68 Bergejolak
69
BAB 69 Barang Bukti
70
BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71
BAB 71 Letupan Kembang Api
72
BAB 72 Peristiwa Kelam
73
BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74
BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75
BAB 75 Hormat Terakhir
76
BAB 76 Rencana Dadakan
77
BAB 77 Jembatan Penghubung
78
BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79
BAB 79 Kehidupan Baru
80
BAB 80 Kehangatan Keluarga
81
BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82
BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83
BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84
BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85
BAB 85 Titipan Dari Kakek
86
BAB 86 Terselesaikan Janji
87
BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88
BAB 88 Tembakan Salvo
89
BAB 89 Semakin Gila
90
BAB 90 Zona Merah
91
BAB 91 Pelukan Penyembuh
92
BAB 92 Air Kehidupan
93
BAB 93 Keberangkatan
94
BAB 94 Petunjuk Arah
95
BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96
BAB 96 Nyicil Tipis-tipis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!