BAB 3 Pacar Dadakan

Jam pelajaran yang berlangsung hingga sore. Terasa sangat lama buat Dira. Apalagi saat mengingat ucapan Sisil tadi siang. Tentang status sosial dirinya yang hanya orang rendahan serta kotor.

“Dira,” panggil guru matematika yang sama sekali tidak mengalihkan perhatian perempuan cantik berhijab itu.

“Dira,” panggil guru matematika kembali yang lagi-lagi tidak ditanggapi.

Panggilan beberapa kali guru matematika yang sama sekali tidak ditanggapi Dira. Jelas saja membuat Dira menjadi pusat perhatian semua teman sekelasnya, tanpa terkecuali Faza.

Karena tidak ada tanggapan dari Dira yang hanya diam sambil melamun. Membuat guru matematika memutuskan menghampiri Dira. Mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Dira.

Puk.

“Eh, ada apa, Bu?” tanya Dira cepat dengan menampilkan wajah kaget. Serta pandangan matanya mengawasi sekitar yang saat ini mengawasinya.

“Kamu sakit?” tanya guru matematika khawatir.

“Saya sehat, Bu. Saya baik-baik saja,” jawab Dira memastikan kesehatannya.

“Tapi wajah kamu pucat, Dira. Kamu juga tidak menanggapi panggilan Ibu berulang kali.”

“Maaf, Bu.”

“Apakah ada hal yang kamu pikirkan, hingga tidak mendengar Ibu memanggil?”

“Tidak, Bu. Saya baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir,” ucap Dira.

“Maafkan saya, Bu. Lain kali tidak akan terjadi lagi,” lanjut Dira.

Jawaban yang diberikan oleh Dira membuat Faza langsung menyunggingkan senyumnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Lalu menggelengkan kepalanya sebagai reaksi atas penuturan Dira.

“Dasar pembohong amatir! Mencari alasan masuk akal saja tidak bisa,” gumam Faza yang bisa didengar sangat jelas oleh Sisil.

Mendengar ucapan serta tatapan mata Faza kearah Dira. Jelas membuat Sisil mengepalkan tangannya kuat. Hingga kuku-kukunya memutih.

Meskipun saat ini Faza tengah duduk di sampingnya. Namun, tetap saja Dira lah yang menjadi perhatian Faza.

‘Dasar perempuan tidak tahu malu,’ geram Sisil dalam hatinya. Karena tidak mungkin dirinya berkata terang-terangan. Apalagi ada Faza di sampingnya.

‘Dia benar-benar sangat pintar mencari perhatian para laki-laki. Dasar orang miskin menjijikan. Benar-benar harus dikasih pelajaran. Awas kamu,’ batin Sisil tidak menyukai Dira sejak awal kenal.

Mungkin karena kecantikan, kelembutan maupun sikap manis yang dimiliki. Pada awal tahun pelajaran banyak laki-laki tertarik pada Dira.

Namun, karena sikap Dira yang cuek dan tidak pernah menanggapi godaan dari teman sebaya. Membuat para laki-laki itu silih berganti menyerah.

Apalagi saat Sisil mulai memberikan peringatan keras pada Dira. Karena bagi Sisil, hanya dia lah yang pantas menjadi pusat perhatian.

“Dira, pimpin doa pulang.”

“Baik, Bu.”

“Perhatian semua, sebelum pulang mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai!”

“Berdoa selesai!”

“Beri salam!”

“Selamat sore, Bu.”

“Selamat sore, sampai ketemu esok hari.”

Setelah kepergian guru matematika, para siswa silih berganti keluar dari kelas. Sedangkan Dira memilih untuk tetap berada di kelas menunggu sampai semua pergi.

Sedangkan Faza juga memilih hal sama seperti Dira lakukan. hal itu tentu membuat Sisil merasa kesal atas tindakan yang dilakukan oleh Dira. Menganggap Dira sengaja mencari perhatian pada Faza.

“Faza, maukah kamu pulang dengan…?”

“Tidak bisa, aku ada keperluan,” potong cepat Faza sambil mencangklong tasnya.

Dengan langkah panjang Faza keluar dari kelas. Meninggalkan Sisil yang tampak sangat kesal. Sebab, rasa penasarannya terhadap Faza masih sangat besar. Karena belum berhasil mendapatkan perhatian laki-laki itu.

“Benar-benar bikin kesal,” gerutu Sisil saat keinginannya tidak terlaksana. Lalu memilih pulang dengan perasaan kesal.

Setelah kelas sudah tampak sepi. Dira baru mengambil tasnya.

Sebelum pulang, seperti biasa terlebih dahulu pergi ke kantin untuk mengambil hasil penjualan nasi uduk beserta gorengan hari ini.

“Neng Dira ini uang nasi bungkusnya. Besok kalau bisa ditambah lagi. Banyak yang suka sama nasi uduk bikinan Mbah Sekar.”

“Baik, Bu. Nanti saya sampaikan ke Mbah.”

Setelah mendapatkan uang hasil penjualan nasi uduk. Dira langsung menuju ke parkiran tempat sepedanya berada.

Dari kejauhan tampak sepeda tua yang rantainya tampak berkarat. Hingga akan terasa berat bila dikayuh.

“Alhamdulillah, nasi uduknya habis. Sepertinya aku harus membeli banyak bahan hari ini. Lumayan hasil penjualan nasi uduk bisa untuk menabung biaya ganti rantai sepeda,” ucap Dira dengan penuh semangat.

Senyum cantik yang selalu menghiasi wajah Dira. Membuat aura yang ditampilkan semakin bertambah.

Meskipun tanpa adanya polesan makeup. Serta ayunan sepeda tua yang sangat jarang ada remaja seusianya mau menggunakan.

“Semangat Dira,” ucap Dira menyemangati dirinya sendiri.

Kriet… kriet!

Dira mengayuh sepeda tuanya menuju ke toko bahan sembako. Lagi dan lagi suara rantai yang terdengar cukup nyaring selalu menemani Dira.

Ceklek.

Setelah menstandarkan sepedanya di samping toko. Dira menuju toko siap untuk berbelanja.

“Mau beli apa, Dira?” tanya ibu penjaga toko saat melihat kedatangan pelanggannya.

“Mau beli beras 6 liter, bihun 5 bungkus, garam 1 bungkus, telur setengah kilogram,...”

“Wah, sepertinya ada pesanan ini,” goda pemilik toko.

“Alhamdulillah, iya, Bu.”

Dira menyebutkan barang-barang yang sekiranya akan dirinya butuhkan untuk pembuatan nasi uduk spesial. Tidak hanya nasi uduk saja. Melainkan bahan pembuatan gorengan sebagai teman makan nasi uduk.

“Total semua belanjaan 120 ribu rupiah.”

“Ini uangnya, Bu.”

“Ibu terima pas dari kamu ya, Dira.”

“Terima kasih banyak, Bu, assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam, Dira. Semoga dagangan Mbah Sekar semakin laris manis.”

“Aamiin, terima kasih banyak doanya.”

Setelah mendapatkan bahan sembako. Dira kini beralih untuk membeli tempe, sayuran, maupun bahan masakan lainnya. Setelah dirasa semua bahan yang dibutuhkan sudah didapatkan. Dira langsung pulang menuju ke rumah.

Kriet! Kriet!

“Kenapa hari ini ayunan sepeda terasa semakin berat?” gumam Dira bertanya-tanya.

“Setelah sampai di rumah aku harus mengolesi rantai sepeda ini menggunakan oli. Baru besok setelah pulang sekolah ke bengkel ganti rantai.”

Jelas Dira merasa lebih berat dari biasanya. Selain karena faktor rantai yang sudah kering. Juga disebabkan beban yang dibawa oleh Dira. Membuat peluh keringat terlihat jelas di wajah cantiknya.

TEG!

“Eh, rantainya putus,” keluh Dira kaget sambil terus memperhatikan rantai sepedanya.

“Hurrff! Rumah masih jauh dan bengkel juga tidak terlihat,” keluh Dira sebentar. Lalu kembali tersenyum karena tidak ingin putusnya rantai menjadi beban untuknya.

“Sepertinya aku kurang berolahraga. Mumpung rantainya putus. Jadi, semangat jalan kaki,” ucap Dira menyemangati dirinya sendiri.

Sambil mengawasi sekitar mencari bengkel sepeda. Dira menuntun sepedanya menuju ke arah pulang. Namun, hingga setengah perjalanan Dira belum ketemu dengan bengkel sepeda.

“Seingatku di sekitar tempat ini ada bengkel yang bisa memperbaiki sepeda. Kenapa tiba-tiba aku tidak melihatnya? Apakah aku hanya berimajinasi saja karena kelelahan?” gumam Dira merasa heran atas pandangan matanya sendiri.

“Semoga aku menemukan bengkel itu. Agar sepeda ini bisa digunakan esok hari,” ucap Dira penuh harap.

Tit!

Baru juga Dira menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah belakang.

Karena menganggap banyak motor yang lalu-lalang membuat Dira tidak menghiraukan suara tersebut. Kembali melangkahkan kakinya sambil mendorong sepeda serta memegangi barang belanjaan.

Tit!

Lagi-lagi Dira tidak menanggapi suara klakson itu. Kembali melangkahkan kakinya mengingat waktu sore sudah mulai berganti dengan langit gelap.

TIT!

Rasa kesal langsung menyelimuti Dira. Senyum dan semangat yang sebelumnya masih menggebu. Kini, hilang karena suara klakson mengganggu.

“Seperti dia satu-satunya orang punya motor di negara ini. Benar-benar tidak sopan klakson berulang kali,” gerutu Dira tanpa sedikit pun menengokkan kepalanya ke sumber suara.

“Benar-benar batu!”

Suara yang terdengar cukup familiar membuat Dira menghentikan langkah kakinya sejenak.

“Seperti kenal suaranya. Seperti suara laki-laki itu. Ah, gak mungkin.”

Dira kembali melangkahkan kakinya. Mencoba membuang pemikiran tentang sosok pemilik suara yang sudah mulai masuk dan menyelimuti pikirannya.

TIIIIIT… TIIIIT!

Suara kencang yang berasal dari motor milik seseorang, langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar tersebut. Membuat salah seorang ibu-ibu paruh baya berinisiatif menghampiri Dira.

“Neng, kalau berantem sama pacarnya jangan dijalan raya! Bikin malu jadi pusat perhatian semua orang yang ada di jalan.”

Ungkapan kekesalan yang diucapkan oleh sosok perempuan paruh baya tentu saja membuat Dira heran. Sehingga pandangannya langsung menengok ke arah belakang.

“Aku antar kamu pulang,” ucap sosok laki-laki dengan helm full face menutupi wajahnya.

“Kamu siapa?” tanya Dira memastikan. Meskipun sosok tersebut memiliki tipe suara tidak asing untuk Dira.

Tapi, tetap saja Dira harus memastikan praduganya. Membuat sosok tersebut harus membuka kaca helmnya.

Sreeet!

“Ini aku,” ucap Faza cepat dengan wajah sedikit kesal.

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Neng! Jangan berantem di jalan!” potong ibu paruh baya itu kembali dengan perasaan sedikit kesal. Lalu kembali pergi meninggalkan Dira dan Faza yang kini saling menatap.

“Aku tidak bisa meninggalkan sepedaku disini,” ucap Dira mencoba menolak pertolongan dari Faza.

“Aku yang dorong sampai ke bengkel. Cepat naik!”

“Aku...”

“Cepet naik!” potong Faza cepat.

“Jok motormu terlalu tinggi untukku.”

Badan Dira memang tergolong pendek. Sangat jauh berbeda dengan Faza yang memiliki badan menjulang tinggi. Membuat Faza harus menstandarkan motornya untuk membantu Dira. Karena saat ini Faza menggunakan motor laki-laki

“Mau ngapain kamu?” tanya Dira gugup saat Faza menarik pergelangan tangannya.

“Cepetan naik! Aku akan membantumu.”

“Terus, bagaimana dengan barang belanjaanku?”

“Tinggal dibawa seperti biasa saja. Kenapa dibuat ribet sendiri?” gerutu Faza sambil menstandarkan sepeda Dira.

Setelah memastikan barang belanjaan Dira dirasa sudah aman. Faza kembali menarik Dira.

“Cepat naik! Memangnya kamu mau menjadi pusat perhatian semua orang?”

Dengan perasaan enggan karena belum mengenal baik Faza. Membuat Dira hanya bisa menampilkan wajah cemberut.

“Pegangan!”

“Iya,” jawab kesal Dira.

Setelah Dira sudah dipastikan naik ke jok motor. Kini Faza mengambil barang belanjaan Dira yang tidak sedikit.

“Bawa ini di pangkuanmu!”

“Iya.”

“Pegangan di pundakku!”

“Tidak mau.”

“Terserah kamu saja.”

GREEEENG!

ARGH!

“Jangan seperti itu! Aku mau jatuh,” gerutu Dira saat Faza ngegas motornya lalu ngerem mendadak.

“Makanya pegangan.”

“Tidak mau,” tolak Dira.

“Dasar batu!”

Setelah memastikan Dira sudah dalam keadaan aman beserta barang belanjaannya. Faza mengendarai motornya sambil mendorong sepeda Dira untuk menuju ke bengkel terdekat.

Membuat Faza harus berkonsentrasi karena membawa beban berlebih dengan tangan sebelah mendorong sepeda Dira, tidaklah mudah.

Ternyata suara klakson motor kencang milik Faza. Tidak hanya menjadi pusat perhatian warga sekitar.

Melainkan juga sosok perempuan di dalam mobil mewah. Sosok perempuan yang seharian kesal dengan Dira. Kini semakin bertambah kesal saat melihat secara langsung kedekatan antara Dira dan Faza.

“Dasar perempuan haram tidak tahu malu. Bisa-bisanya menggoda Faza ku. Benar-benar harus dikasih pelajaran biar tidak kecentilan,” geram sosok perempuan di dalam mobil.

“Tunggulah, aku pastikan kamu tidak akan pernah tersenyum lagi,” lanjut sosok tersebut.

Episodes
1 BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2 BAB 2 Murid Baru
3 BAB 3 Pacar Dadakan
4 BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5 BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6 BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7 BAB 7 Untaian Luka Dira
8 BAB 8 Hadiah Perkenalan
9 BAB 9 Miskin Itu Takdir
10 BAB 10 Di Hadapannya
11 BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12 BAB 12 Kamu?
13 BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14 BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15 BAB 15 Fazaku
16 BAB 16 Keturunan Haram
17 BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18 BAB 18 Skakmat
19 BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20 BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21 BAB 21 Pesan Video Berantai
22 BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23 BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24 BAB 24 BAKAR!
25 BAB 25 Laci Yang Terkunci
26 BAB 26 Wajah Itu
27 BAB 27 JANGAN!
28 BAB 28 Benar, Namanya Satria
29 BAB 29 Panggilan Satria
30 BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31 BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32 BAB 32 Aku Akan Kembali
33 BAB 33 Kencan Interogasi
34 BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35 BAB 35 Kretek!
36 BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37 BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38 BAB 38 Nama Pembuat Luka
39 BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40 BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41 BAB 41 Tisu di Trotoar
42 BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43 BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44 BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45 BAB 45 Kemenangan Siti
46 BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47 BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48 BAB 48 Drama Para Pemain
49 BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50 BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51 BAB 51 Mengambil Resiko
52 BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53 BAB 53 Usaha Baru
54 BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55 BAB 55 Penggrebekan
56 BAB 56 Histeris
57 BAB 57 Cobaan
58 BAB 58 Keadaan Kacau
59 BAB 59 Titik Keberadaan
60 BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61 BAB 61 Harapan
62 BAB 62 Penolakan
63 BAB 63 Bertemu Kembali
64 BAB 64 Stabil
65 BAB 65 Hilangnya Marwah
66 BAB 66 Kontras
67 BAB 67 Aku Kalah
68 BAB 68 Bergejolak
69 BAB 69 Barang Bukti
70 BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71 BAB 71 Letupan Kembang Api
72 BAB 72 Peristiwa Kelam
73 BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74 BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75 BAB 75 Hormat Terakhir
76 BAB 76 Rencana Dadakan
77 BAB 77 Jembatan Penghubung
78 BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79 BAB 79 Kehidupan Baru
80 BAB 80 Kehangatan Keluarga
81 BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82 BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83 BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84 BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85 BAB 85 Titipan Dari Kakek
86 BAB 86 Terselesaikan Janji
87 BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88 BAB 88 Tembakan Salvo
89 BAB 89 Semakin Gila
90 BAB 90 Zona Merah
91 BAB 91 Pelukan Penyembuh
92 BAB 92 Air Kehidupan
93 BAB 93 Keberangkatan
94 BAB 94 Petunjuk Arah
95 BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96 BAB 96 Nyicil Tipis-tipis
Episodes

Updated 96 Episodes

1
BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
2
BAB 2 Murid Baru
3
BAB 3 Pacar Dadakan
4
BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
5
BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
6
BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
7
BAB 7 Untaian Luka Dira
8
BAB 8 Hadiah Perkenalan
9
BAB 9 Miskin Itu Takdir
10
BAB 10 Di Hadapannya
11
BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup
12
BAB 12 Kamu?
13
BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
14
BAB 14 Kucing Kecil, Ndan
15
BAB 15 Fazaku
16
BAB 16 Keturunan Haram
17
BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan
18
BAB 18 Skakmat
19
BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
20
BAB 20 Kamu Akan Menyesal
21
BAB 21 Pesan Video Berantai
22
BAB 22 Aku Bangga Terlahir Dari Rahimnya
23
BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari
24
BAB 24 BAKAR!
25
BAB 25 Laci Yang Terkunci
26
BAB 26 Wajah Itu
27
BAB 27 JANGAN!
28
BAB 28 Benar, Namanya Satria
29
BAB 29 Panggilan Satria
30
BAB 30 Menungguku Datang Kembali
31
BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
32
BAB 32 Aku Akan Kembali
33
BAB 33 Kencan Interogasi
34
BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
35
BAB 35 Kretek!
36
BAB 36 Kebenaran Menyakitkan
37
BAB 37 Detak Jantung Melebihi Operasi
38
BAB 38 Nama Pembuat Luka
39
BAB 39 Amarah 18 Tahun Lalu
40
BAB 40 Mulut Membisu Coretan Tangan
41
BAB 41 Tisu di Trotoar
42
BAB 42 Pegangan Yang Kencang
43
BAB 43 Suara Klakson Lampu Merah
44
BAB 44 Pindah Hari Ini Juga
45
BAB 45 Kemenangan Siti
46
BAB 46 Mencoba Merayu Tuhan
47
BAB 47 Tempat Tinggal Baru
48
BAB 48 Drama Para Pemain
49
BAB 49 Harga Sebuah Informasi
50
BAB 50 Kesamaan Tak Disengaja
51
BAB 51 Mengambil Resiko
52
BAB 52 Kesamaan Semakin Mirip
53
BAB 53 Usaha Baru
54
BAB 54 Hancurnya Kepercayaan
55
BAB 55 Penggrebekan
56
BAB 56 Histeris
57
BAB 57 Cobaan
58
BAB 58 Keadaan Kacau
59
BAB 59 Titik Keberadaan
60
BAB 60 Kehancuran Mental Dira
61
BAB 61 Harapan
62
BAB 62 Penolakan
63
BAB 63 Bertemu Kembali
64
BAB 64 Stabil
65
BAB 65 Hilangnya Marwah
66
BAB 66 Kontras
67
BAB 67 Aku Kalah
68
BAB 68 Bergejolak
69
BAB 69 Barang Bukti
70
BAB 70 Keadilan Untuk Nimas
71
BAB 71 Letupan Kembang Api
72
BAB 72 Peristiwa Kelam
73
BAB 73 Kehilangan Kewarasan
74
BAB 74 Insiden di Kantor Polisi
75
BAB 75 Hormat Terakhir
76
BAB 76 Rencana Dadakan
77
BAB 77 Jembatan Penghubung
78
BAB 78 Melimpahkan Tanggung Jawab
79
BAB 79 Kehidupan Baru
80
BAB 80 Kehangatan Keluarga
81
BAB 81 Rencana Busuk dan Pembalasan
82
BAB 82 Amunisi Tambahan Orang Tercinta
83
BAB 83 Titipan Pesan Orang Tersayang
84
BAB 84 Biarkan Waktu Menjawab
85
BAB 85 Titipan Dari Kakek
86
BAB 86 Terselesaikan Janji
87
BAB 87 Penguat Saat Rapuh
88
BAB 88 Tembakan Salvo
89
BAB 89 Semakin Gila
90
BAB 90 Zona Merah
91
BAB 91 Pelukan Penyembuh
92
BAB 92 Air Kehidupan
93
BAB 93 Keberangkatan
94
BAB 94 Petunjuk Arah
95
BAB 95 Syarat Adik Untuk Dira
96
BAB 96 Nyicil Tipis-tipis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!