Perdebatan Di Depan Kamar

Lin Jia mengangkat tangan kanan-nya. Dengan satu kibasan lembut namun bertenaga, udara di sekitarnya berdesir hebat. Detik itu juga, realitas seolah terlipat. Dinding-dinding kayu berukir khas kekaisaran kuno memudar, digantikan oleh hamparan tanah rumput hijau yang sangat luas, bergoyang pelan ditiup angin yang membawa aroma embun segar.

Suasana di dalam Ruang Ajaib itu begitu tenteram, diselimuti oleh aura spiritual yang murni dan menenangkan jiwa.

Di hadapan Lin Jia, sebuah bangunan megah berdiri kokoh, menjulang dengan arsitektur menyerupai istana megah.

Namun, pemandangan di sekelilingnya sungguh kontras. Pepohonan raksasa yang belum pernah ia lihat di dunia nyata tumbuh tinggi mengitari tempat itu, dengan daun-daun yang memancarkan pendar cahaya redup. Mata Lin Jia terperangah, pupilnya melebar menatap Ruangan Ajaib yang baru pertama kali ia masuki ini.

Di sana, langit selalu berwarna senja keunguan yang hangat, memayungi sebidang tanah subur yang ditumbuhi tanaman herbal langka berkhasiat magis, yang berpendar lembut dalam kegelapan.

Sebuah mata air abadi mengalir jernih di bagian tengah, memancarkan kabut tipis berbau harum yang mampu menyembuhkan segala rasa lelah dan luka fisik dalam sekejap. Udara di dalam dimensi ini terasa begitu sejuk dan kaya akan energi kehidupan.

Di sudut utara, bunga Sembilan Kelopak Surgawi mekar dengan anggun, memancarkan pendar cahaya keemasan, berdampingan dengan Rumput Roh Pemurni Jiwa yang daunnya bergetar lembut mengeluarkan aroma terapi yang menenangkan.

Lin Jia menganga. Sangat takjub.

"Tempat ini... benar-benar nyata? Rasanya seperti melangkah masuk ke dalam negeri dongeng," gumam Lin Jia dengan suara bergetar, masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

Ketika gerbang besar bangunan di depan nya itu perlahan terbuka tanpa suara, Lin Jia memberanikan diri melangkah masuk. Awalnya, ia mengira hanya akan menemukan satu bangunan utama di dalam kompleks istana ini.

Namun, langkah kakinya mendadak terhenti begitu pandangannya menyapu area halaman dalam. Matanya menangkap beberapa plang nama bangunan yang berjejer rapi. Ada Bangunan Laboratorium, Bangunan Persenjataan, Perpustakaan Pusat, dan beberapa fasilitas lain yang tampak begitu canggih.

Langkah nya menuntun kakinya menuju bangunan dengan papan nama bertuliskan Laboratorium. Begitu mendorong pintu masuk, Lin Jia serasa dilempar kembali ke dimensi asalnya di zaman modern.

Bau khas antiseptik, jajaran peralatan medis canggih, dan pencahayaan lampu LED putih yang terang benderang langsung menyambutnya. Atmosfer tempat ini persis seperti rumah sakit tempat ia biasa berjuang menyelamatkan nyawa para pasien kritis dulu.

Lin Jia berjalan cepat di antara lorong meja lab, hingga langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah meja panjang berbahan stainless steel. Jari-jemarinya dengan cekatan membuka laci demi laci, mencari instrumen yang sangat ia butuhkan saat ini.

"Ketemu!" gumamnya lega, menyunggingkan senyum tipis.

Ia mengangkat sebuah jarum suntik steril dan beberapa tabung hampa udara kecil. Alat-alat modern inilah yang akan ia gunakan untuk mengambil sampel darah Selir Dua dan Pangeran Lin Tian secara diam-diam. Setelah memastikan semua peralatan medisnya siap di dalam genggaman, Lin Jia menarik napas dalam-dalam. Ia kembali mengibaskan tangannya dengan satu sentakan cepat.

Wusss!

Ruang ajaib itu lenyap dalam sekejap. Tubuh Lin Jia kembali bergeming di hadapan ranjang mewah milik Selir Kedua, menatap tubuh sang ibu yang terbaring lemah dengan wajah sepucat kertas.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menyingsingkan lengan baju sang ibu, lalu menusukkan jarum suntik dengan presisi seorang ahli medis profesional.

Cairan merah pekat mengalir mengisi tabung kaca. Ia harus bergerak cepat mencari tahu jenis racun mematikan apa yang sedang menggerogoti pembuluh darah ibunya saat ini.

Sembari mendekap tabung darah itu di dadanya, Lin Jia menatap wajah sayu ibunya di zaman kuno dengan mata yang sulit di artikan.

"Aku pastikan... kau akan selamat." gumam Lin Jia dengan nada rendah yang sarat akan janji kematian bagi musuh-musuhnya.

Sementara di luar kamar Selir Dua mendadak mencekam, dihantam oleh ketegangan yang kian memuncak antara para penguasa takhta dan seorang gadis yang berdiri kokoh bak dinding batu.

Mei Mei, dengan gaun sederhananya namun memiliki sorot mata yang tidak bisa diremehkan, sedang terlibat perdebatan sengit dengan dua wanita paling berkuasa di Istana Dalam: Permaisuri Li dan Putri Mahkota Lin Ju.

"Lancang sekali pelayan rendahan sepertimu menghalangi Kaisar untuk masuk!" bentak Putri Mahkota Lin Ju.

Suaranya yang melengking tinggi memecah kesunyian malam, sementara jemarinya yang berhias kuku emas menunjuk tepat ke arah wajah Mei Mei dengan kemarahan yang meluap-luap.

Permaisuri Li melangkah maju, jubah kebesarannya yang bersulam benang emas bergemerisik tipis di atas lantai pualam. "Menyingkir... biarkan Kaisar masuk," titah Permaisuri Li dengan nada dingin yang menusuk tulang, matanya menatap tajam Mei Mei yang masih bergeming menghadang daun pintu besar di belakangnya.

Di sekitar mereka, tidak ada satu pun pengawal yang tersisa. Dua prajurit berbaju zirah yang seharusnya berjaga di pintu masuk tersebut sudah disuruh pergi oleh Mei Mei beberapa saat lalu.

Semua orang di istana tau bahwa Mei Mei sebenarnya bukanlah pelayan biasa, melainkan putri kandung dari Jenderal Besar Kekaisaran yang memegang komando tertinggi militer. Itulah alasan mengapa dua prajurit tadi sama sekali tidak berani membantah ataupun melawan perintah Mei Mei saat diminta pergi.

Melihat keributan itu, Kaisar Lin Dong akhirnya mengangkat sebelah tangannya perlahan. Isyarat mutlak yang seketika menghentikan perdebatan tersebut. Wajah sang penguasa tertinggi tampak datar, menatap tanpa emosi sedikit pun, namun aura kepemimpinannya terasa begitu menekan.

"Jelaskan padaku... kenapa aku tidak boleh masuk ke dalam?" tanya Kaisar Lin Dong. Nada suaranya pelan dan rendah, namun setiap suku kata yang diucapkannya membawa tuntutan jawaban yang tidak boleh diabaikan.

Mei Mei segera merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat, meski kakinya sama sekali tidak bergeser satu inci pun dari posisinya.

"Mohon ampun dan maaf yang sebesar-besarnya, Yang Mulia... Namun, Tuan Putri Lin Jia sendiri yang secara langsung meminta hamba untuk menjaga pintu ini. Beliau memberi titah agar hamba tidak membiarkan siapapun, tanpa terkecuali, untuk melangkah masuk ke dalam kamar ini," jawab Mei Mei dengan suara pelan namun penuh ketegasan yang sarat rasa hormat.

Putri Mahkota Lin Ju mengambil satu langkah lebar ke depan, menghentakkan kakinya kesal. "Tapi yang berdiri tepat di hadapanmu saat ini adalah Kaisar tertinggi! Beraninya kau menyamakan kedudukan orang lain dengan Beliau?!" bentaknya lagi, mencoba mengintimidasi.

Permaisuri Li mengangguk anggun, mendukung ucapan putrinya demi menjaga wibawa kekaisaran. "Benar apa yang dikatakannya. Di seluruh wilayah Kekaisaran Naga Langit yang membentang luas ini, tidak ada satu pun jiwa yang memiliki hak atau kuasa untuk melawan kehendak langit dari seorang Kaisar," tegas Permaisuri Li.

Namun, di luar dugaan semua orang, Mei Mei tetap bergeming di tempatnya bak patung batu yang setia. Menyaksikan keteguhan gadis di depannya, Kaisar Lin Dong justru menghela napas panjang. Guratan lelah tampak samar di sudut matanya yang tegas.

"Tadi aku sengaja mendatangi Paviliun Musim Semi demi melihat bagaimana keadaan putriku. Namun, setelah sampai di sana, dia tidak ada di tempatnya. Karena kekhawatiran itulah, aku datang kesini untuk memastikan." ujar Kaisar dengan nada suara yang melunak, menyiratkan sisi seorang ayah di balik jubah naga yang dikenakannya.

Mei Mei mendongak sedikit, memastikan suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Putri Lin Jia dalam keadaan baik-baik saja dan aman, Yang Mulia. Anda sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan kondisi kesehatan ataupun keselamatan beliau saat ini," tutur Mei Mei.

Mendengar penuturan yang tulus itu, Kaisar Lin Dong pun mengangguk perlahan, menerima penjelasan tersebut dengan bijaksana. "Kalo begitu, aku akan berdiri di sini dan menunggu sampai dia selesai," putus Kaisar dengan tenang.

Keputusan spontan sang penguasa sontak membuat Permaisuri Li dan Putri Mahkota Lin Ju membelalakkan mata mereka karena terkejut.

"Tapi, Suamiku... tidak sepatutnya dan sangat tidak pantas bagi seorang Kaisar agung untuk berdiri menunggu di luar kamar seperti ini!" protes Permaisuri Li dengan nada yang tertahan, mencoba mengingatkan suaminya tentang martabat takhta.

Putri Mahkota Lin Ju menimpali dengan cibiran yang gagal disembunyikannya. "Benar, Ayahanda. Hanya rakyat jelata dan kaum rendahan yang pantas menghabiskan waktu mereka untuk menunggu!" sambungnya berapi-api.

Seketika itu juga, atmosfer disana berubah menjadi sedingin es. Kaisar Lin Dong memalingkan wajahnya, lalu menatap langsung ke arah mata Putri Mahkota Lin Ju dengan pandangan yang sangat tajam dan menghujam, seolah bisa menguliti kesombongan gadis itu dalam sekejap.

"Jaga ucapanmu, Lin Ju," desis Kaisar dengan nada peringatan yang teramat dingin.

Mendengar teguran langsung dari sang ayah, Putri Mahkota Lin Ju langsung memucat. Ia terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal dan malu yang membakar dadanya.

Terpopuler

Comments

ainie lee

ainie lee

putri mahkota kan ank dr permaisuri..ank slir jd putri mahkota

2026-06-29

0

Dwi Agustin N Muftie

Dwi Agustin N Muftie

semua sebutannya putri mahkota

2026-08-18

0

Seven Wann

Seven Wann

putri mahkota ada 2 hmm

2026-06-20

1

lihat semua
Episodes
1 Jia Li
2 Transmigrasi
3 Misi Pertama
4 Perdebatan Di Depan Kamar
5 Percaya Padaku, Ayah
6 Racun Yang Sama
7 Penawar
8 Misi Berhasil
9 Kesembuhan Selir Kedua Dan Pangeran Lin Tian
10 Pasar
11 Pencuri Misterius
12 Misi Penangkapan
13 Kekalahan Besar
14 Kegagalan Putra Mahkota
15 Keputusan Kaisar
16 Gosip Menyebar
17 Jebakan
18 Tertangkap
19 Hukuman
20 Misi Ketiga
21 Hari Perburuan
22 Elemen Tanah Aktif
23 Misi Keempat
24 Sistem Bantuan
25 Elemen Cahaya Aktif
26 Pria Misterius
27 Kaisar Yun Shang
28 Pembunuh Bayaran
29 Bertemu Pangeran Lin Tian
30 Elemen Api Dan Tanaman Aktif
31 Membagi Energi
32 Tujuh Elemen
33 Kontrak
34 Hewan Roh Naga
35 Misi Ketujuh
36 Kontrak Jiwa
37 Heboh
38 Fitnah
39 Tantangan Duel
40 Keputusan Kaisar Yun Shang
41 Persiapan
42 Pertarungan
43 Menegangkan
44 Pertarungan 2
45 Kecantikan Lin Jia
46 Kemenangan Mutlak
47 Tuduhan
48 Guru Xu
49 Menuju Pembuktian
50 Terkejut
51 Harus Di Hukum
52 Hukuman Dari Lin Jia
53 Guru Xu Dan Selir Kedua
54 Pang
55 Kedai Teh
56 Nyonya Besar Li
57 Persiapan
58 Kedatangan Nyonya Besar Li
59 Memanas
60 Mulut Racun Lin Jia
61 Nyonya Li Dan Permaisuri Li
62 Yun Shang VS Guru Xu
63 Wanitaku
64 Meracik Obat
65 Paviliun Chaguan
66 Kedatangan Lin Jia
67 Adu Mulut
68 Rencana
69 Rencana Membuka Klinik
70 Membeli Kediaman
71 Alat - Alat Modern
72 Kediaman Keluarga Li
73 Li Jihan
74 Masa Lalu
75 Misi Selanjutnya
76 Ketahuan
77 Penderitaan Lin Dui Dan Lin Ju
78 Membuktikan
79 Lamaran Tak Terduga
80 Calon Suami?
81 Lin Tian Dan Yun Shang
82 Penyusupan
83 Terkejut Nya Lin Tian
84 Tabib Hong
85 Amarah Kaisar Lin Dong
86 Kekacauan
87 Penangkapan Besar-Besaran
88 Keputusan Tegas Kaisar Lin Dong
89 Permaisuri Li Dan Selir Gu
90 Permaisuri Li VS Selir Gu
91 Lin Zhang
92 Permohonan Lin Zhang
93 Cinta Terlarang
94 Memanggil Kembali Pilar Pendukung Keluarga Xu
95 Meminta Izin
96 Yu An
97 Memberitahu Lin Zhang
98 Menjadi Pengikut Setia
99 Misi Selesai
100 Kembalinya Lin Dui Dan Lin Ju
101 Surat
102 Rencana Pembunuhan
103 Serangan Musuh
104 Bantuan Lin Jia
105 Dendam Masa Lalu
106 Keraguan Rui
107 Pil Pemurni Jiwa
108 Tempat Musuh
109 Bendera Penghinaan
110 Kedatangan Jenderal Mei
111 Keputusan
112 Senjata Rahasia
113 Persiapan
114 Malam Acara
115 Hadiah Spesial
116 Kedatangan Yun Shang
117 Permainan Di Mulai
118 Fitnah Yang Terucap
119 Pemeriksaan
120 Racun
121 Video Kebenaran
122 Kebenaran Yang Membuat Syok
123 Kemarahan Kaisar Lin Dong Dan Keputusan
124 Serangan Balasan
125 Kesaksian
126 Menuju Peperangan
127 Perang 1
128 Identitas Feng
129 Pertarungan 2
130 Perang 3
131 Rahasia Yu An
132 Serangan Nyonya Li
133 Permaisuri Li Terjebak
134 Sayap Emas
135 Pertarungan 4
136 Serangan Gabungan Lin Jia Dan Yu An
137 Kecurigaan Yu An
138 Berakhir
139 Hukuman Mati
140 Kursi Yang Kosong
141 Selir Gu Mengalah
142 Anak Lin Zhang
143 Pilihan
144 Penobatan
145 Ikatan Batin
146 Lamaran Yang Membuat Syok
147 Kebenaran Yang Tersembunyi
148 Lin Jia Menerima
149 Pilihan Yang Terbaik
150 Hari Pernikahan
151 Proses Pernikahan
152 Malam Pertama
153 Sebuah Lukisan
154 Dia Putriku!
155 Masa Lalu Yu An
156 Permintaan Terakhir
157 Air Mata
158 Ancaman Lin Jia
159 Selir?
160 Misi Terakhir
161 Kabar Bahagia
162 Kelahiran Tiga Pewaris
163 Pilihan Dari Sistem
164 Tetap Tinggal
165 Yun Sheren
166 Takdir Yun Sheren
167 Promosi Novel Baru
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Jia Li
2
Transmigrasi
3
Misi Pertama
4
Perdebatan Di Depan Kamar
5
Percaya Padaku, Ayah
6
Racun Yang Sama
7
Penawar
8
Misi Berhasil
9
Kesembuhan Selir Kedua Dan Pangeran Lin Tian
10
Pasar
11
Pencuri Misterius
12
Misi Penangkapan
13
Kekalahan Besar
14
Kegagalan Putra Mahkota
15
Keputusan Kaisar
16
Gosip Menyebar
17
Jebakan
18
Tertangkap
19
Hukuman
20
Misi Ketiga
21
Hari Perburuan
22
Elemen Tanah Aktif
23
Misi Keempat
24
Sistem Bantuan
25
Elemen Cahaya Aktif
26
Pria Misterius
27
Kaisar Yun Shang
28
Pembunuh Bayaran
29
Bertemu Pangeran Lin Tian
30
Elemen Api Dan Tanaman Aktif
31
Membagi Energi
32
Tujuh Elemen
33
Kontrak
34
Hewan Roh Naga
35
Misi Ketujuh
36
Kontrak Jiwa
37
Heboh
38
Fitnah
39
Tantangan Duel
40
Keputusan Kaisar Yun Shang
41
Persiapan
42
Pertarungan
43
Menegangkan
44
Pertarungan 2
45
Kecantikan Lin Jia
46
Kemenangan Mutlak
47
Tuduhan
48
Guru Xu
49
Menuju Pembuktian
50
Terkejut
51
Harus Di Hukum
52
Hukuman Dari Lin Jia
53
Guru Xu Dan Selir Kedua
54
Pang
55
Kedai Teh
56
Nyonya Besar Li
57
Persiapan
58
Kedatangan Nyonya Besar Li
59
Memanas
60
Mulut Racun Lin Jia
61
Nyonya Li Dan Permaisuri Li
62
Yun Shang VS Guru Xu
63
Wanitaku
64
Meracik Obat
65
Paviliun Chaguan
66
Kedatangan Lin Jia
67
Adu Mulut
68
Rencana
69
Rencana Membuka Klinik
70
Membeli Kediaman
71
Alat - Alat Modern
72
Kediaman Keluarga Li
73
Li Jihan
74
Masa Lalu
75
Misi Selanjutnya
76
Ketahuan
77
Penderitaan Lin Dui Dan Lin Ju
78
Membuktikan
79
Lamaran Tak Terduga
80
Calon Suami?
81
Lin Tian Dan Yun Shang
82
Penyusupan
83
Terkejut Nya Lin Tian
84
Tabib Hong
85
Amarah Kaisar Lin Dong
86
Kekacauan
87
Penangkapan Besar-Besaran
88
Keputusan Tegas Kaisar Lin Dong
89
Permaisuri Li Dan Selir Gu
90
Permaisuri Li VS Selir Gu
91
Lin Zhang
92
Permohonan Lin Zhang
93
Cinta Terlarang
94
Memanggil Kembali Pilar Pendukung Keluarga Xu
95
Meminta Izin
96
Yu An
97
Memberitahu Lin Zhang
98
Menjadi Pengikut Setia
99
Misi Selesai
100
Kembalinya Lin Dui Dan Lin Ju
101
Surat
102
Rencana Pembunuhan
103
Serangan Musuh
104
Bantuan Lin Jia
105
Dendam Masa Lalu
106
Keraguan Rui
107
Pil Pemurni Jiwa
108
Tempat Musuh
109
Bendera Penghinaan
110
Kedatangan Jenderal Mei
111
Keputusan
112
Senjata Rahasia
113
Persiapan
114
Malam Acara
115
Hadiah Spesial
116
Kedatangan Yun Shang
117
Permainan Di Mulai
118
Fitnah Yang Terucap
119
Pemeriksaan
120
Racun
121
Video Kebenaran
122
Kebenaran Yang Membuat Syok
123
Kemarahan Kaisar Lin Dong Dan Keputusan
124
Serangan Balasan
125
Kesaksian
126
Menuju Peperangan
127
Perang 1
128
Identitas Feng
129
Pertarungan 2
130
Perang 3
131
Rahasia Yu An
132
Serangan Nyonya Li
133
Permaisuri Li Terjebak
134
Sayap Emas
135
Pertarungan 4
136
Serangan Gabungan Lin Jia Dan Yu An
137
Kecurigaan Yu An
138
Berakhir
139
Hukuman Mati
140
Kursi Yang Kosong
141
Selir Gu Mengalah
142
Anak Lin Zhang
143
Pilihan
144
Penobatan
145
Ikatan Batin
146
Lamaran Yang Membuat Syok
147
Kebenaran Yang Tersembunyi
148
Lin Jia Menerima
149
Pilihan Yang Terbaik
150
Hari Pernikahan
151
Proses Pernikahan
152
Malam Pertama
153
Sebuah Lukisan
154
Dia Putriku!
155
Masa Lalu Yu An
156
Permintaan Terakhir
157
Air Mata
158
Ancaman Lin Jia
159
Selir?
160
Misi Terakhir
161
Kabar Bahagia
162
Kelahiran Tiga Pewaris
163
Pilihan Dari Sistem
164
Tetap Tinggal
165
Yun Sheren
166
Takdir Yun Sheren
167
Promosi Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!