Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Jia Li

Suasana di Rumah Sakit Huayuan malam itu berubah menjadi medan pertempuran hidup dan mati. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar kacau, berpadu dengan suara sirine ambulans yang berhenti kasar di depan lobi. Suara roda brankar bergesekan nyaring dengan lantai, bersahutan dengan jeritan histeris dan derai air mata para korban kecelakaan beruntun.

Di tengah kekacauan itu, Jia Li, seorang dokter spesialis kardiotoraks, berlari sigap menuju ruang gawat darurat. Matanya menatap tajam pada seorang wanita dewasa yang baru saja diturunkan dari brankar. Dengan stetoskop di telinga dan jemari yang menekan dada pasien, ia memejamkan mata seolah 'melihat' detak yang tak kasatmata.

"Suara detak jantungnya sangat tidak beraturan, ada aliran darah yang tersumbat ke otot jantung," desis Jia Li, membuka mata dengan sorot tegas. "Suster, segera siapkan ruang operasi sekarang! Kita akan melakukan Operasi Bypass Jantung," titahnya.

"Baik, Dok!" sahut perawat dengan langkah seribu.

Tak lama kemudian, suasana tegang berpindah ke dalam ruang operasi yang dingin dan steril. Ruangan itu hanya diterangi cahaya terang dari Ceiling Mounted Lamp, menyorot meja operasi di mana peralatan bedah telah tertata rapi. Ahli anestesi, seorang asisten, dan beberapa perawat bersiap di posisinya masing-masing. Namun, asisten dokter Jia Li tiba-tiba menatap sang spesialis dengan raut khawatir.

"Dokter Jia Li... Anda baik-baik saja?" bisik asisten itu pelan, takut mengganggu konsentrasi. "Wajah Anda terlihat sangat pucat, Dok. Anda baru saja menangani 6 operasi hari ini."

Meski rasa pusing mulai menderanya akibat kelelahan yang luar biasa, Jia Li menoleh dan memberikan senyuman tipis yang menenangkan. "Aku baik-baik saja," jawab Jia Li mantap, mengatur napasnya. "Kelelahan ku bukan apa-apa. Nyawa pasien di meja ini jauh lebih penting. Kita lakukan operasinya sekarang."

"Baik, Dok! Persiapan anestesi selesai," lapor ahli anestesi.

Jia Li mengangguk. Ia meraih pisau bedah dan menatap bagian tengah dada pasien dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan. Semua orang di ruangan itu menahan napas, bersiap membantu.

Sayatan pertama...

Sayatan tegas itu menembus kulit di bagian tengah dada. Suara monitor detak jantung berdengung nyaring di ruangan itu. Semua mata kini tertuju pada satu titik, fokus dan siap bertaruh dengan waktu demi menyelamatkan nyawa di hadapan mereka.

"Skalpel," kata Jia Li dengan nada suara yang terkontrol, memecah keheningan yang mencekam di dalam ruang operasi. Asisten bedah dengan cekatan menyerahkan instrumen tersebut ke tangan Jia Li yang terbalut sarung tangan steril. "Retraktor sternum, pasang perlahan. Kita harus membuka rongga dada dengan sangat hati-hati karena tekanan darah pasien terus berfluktuasi."

Suara monitor jantung beralih ritme, berbunyi bip-bip-bip dengan tempo yang semakin cepat dan tidak beraturan. "Dokter Jia Li, tekanan darahnya merosot tajam! 80/50 dan terus turun!" seru ahli anestesi dengan nada panik yang tertahan, matanya terpaku pada layar monitor vital. "Pasien mengalami syok kardiogenik, detak jantungnya fibrilasi!"

Jia Li tidak membiarkan rasa pusing di kepalanya mengacaukan fokusnya, meskipun keringat dingin mulai membasahi dahinya di balik masker bedah. "Tenang semua, jangan panik. Naikkan dosis epinefrin sekarang. Suster, siapkan mesin heart-lung bypass (CPB), kita harus mengalihkan sirkulasi darahnya ke mesin sebelum jantungnya benar-benar berhenti berdenyut," perintah Jia Li dengan tegas, suaranya menjadi jangkar ketenangan di ruangan yang mulai tegang itu.

"Asisten, bantu aku mengisolasi arteri mamaria interna untuk dijadikan graf penyumbat. Kita berkejaran dengan waktu, sel-sel otot jantungnya mulai mati karena kekurangan oksigen."

"Baik, Dok! Epinefrin masuk, mesin CPB siap dihubungkan," sahut perawat instrumen dan ahli anestesi hampir bersamaan, tangan mereka bergerak secepat kilat mengikuti ritme instruksi Jia Li.

Asisten bedah yang mengamati wajah Jia Li yang semakin memucat berbisik pelit, "Dokter Jia, Anda yakin masih kuat? Tangan Anda... sedikit gemetar saat memegang klem."

Jia Li menarik napas dalam-dalam melalui hidung, memaksakan pasokan oksigen masuk ke otaknya yang mulai kelelahan akibat sif malam yang panjang. "Aku tidak apa-apa, fokus pada bidang bedah mu. Jahitan pertama untuk kanulasi aorta dimulai sekarang. Jika aku lengah satu detik saja, wanita di atas meja ini tidak akan pernah bangun untuk melihat keluarganya lagi. Naikkan pencahayaan lampu ceiling, aku butuh visibilitas maksimum pada arteri koronernya yang menyempit."

Setelah berjuang selama 2 jam sebagai rekor waktu tercepat, operasi itu pun selesai. Semua mata berbinar, dan napas lega terhembus dari dada setiap tim medis yang bertugas.

"Anda benar-benar luar biasa, Dokter Jia Li. Operasi rumit seperti ini biasanya memakan waktu hingga 3 atau 6 jam, tapi Anda mampu menyelesaikannya hanya dalam 2 jam saja. Tidak heran jika Anda selalu menjadi dokter spesialis bedah terbaik di rumah sakit ini," puji asistennya dengan mata berbinar, yang di angguki kagum oleh seluruh perawat.

Dengan wajah yang masih pucat pasi dan peluh yang membasahi dahi, Jia Li hanya tersenyum tipis merespons pujian itu. "Terima kasih banyak atas kerja keras kalian dalam operasi ini. Tapi ingat, nyawa pasien selalu berada di tangan dokter, dan satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal," ujarnya lembut namun tegas.

Jia Li pun melangkah keluar dari ruang operasi sambil perlahan melepas masker bedah hijaunya. Namun, baru saja ia melangkah keluar dari batas steril, udara segar langsung digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan. Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipinya.

PLAK!

Dunia seakan berhenti berputar. Jia Li tersentak mundur, tubuhnya gemetar hebat. Bekas tamparan itu terasa panas membakar pipinya, membuat pandangannya sedikit mengabur. Saat ia mengangkat wajah dan melihat siapa pelakunya, dunianya seolah runtuh. Ternyata di hadapannya berdiri keluarganya sendiri dengan sorot mata penuh kebencian.

"Anak tidak berguna!" teriak sang ibu histeris, menunjuk-nunjuk wajah Jia Li yang masih syok. "Kau menyelamatkan nyawa orang lain di dalam sana, sementara Kakakmu sekarat dan kritis di ruang UGD!"

Jia Li memejamkan matanya, menahan perih yang seolah merambat hingga ke ulu hati. "Ibu... Ayah..." panggil Jia Li lirih, suaranya tercekat. Kepalanya terasa jauh lebih sakit dari sebelumnya.

Alih-alih mereda, kemarahan sang ayah justru semakin memuncak. "Aku membiayai sekolahmu menjadi dokter tinggi-tinggi bukan untuk menyelamatkan nyawa orang asing, tapi untuk melindungi keluargamu sendiri saat mereka butuh bantuan! Tapi lihat apa yang kau lakukan?! Kau benar-benar anak yang tidak tahu diuntung. Beraninya kau menyelamatkan orang lain saat keluargamu sendiri sedang berjuang menahan rasa sakit di ambang maut," bentak sang ayah murka, menggelegar di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi.

"Membiayai?" tanya Jia Li lirih. Sebuah tawa getir hampir saja lolos dari tenggorokannya yang tercekat. Dia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kosong sekaligus hancur. "Aku bisa berada di posisi ini, memakai jas putih ini, dan bersekolah di universitas kedokteran terbaik karena hasil payahku sendiri melalui beasiswa penuh... Ibu, Ayah, kalian tidak pernah mengeluarkan sepeser pun uang untuk pendidikanku," kata Jia Li, suaranya semakin pelan, nyaris tenggelam oleh isak tangis yang dia tahan di ujung lidah.

Namun, pembelaannya sama sekali tidak didengar. Kata-kata makian baru terus meluncur dari bibir kedua orang tuanya.

Tidak berguna! Tidak berguna! Anak egois tidak berguna!

Kedua kata laknat itu terus berputar-putar di dalam kepalanya seperti gema yang tak kunjung usai, membuat kepalanya terasa sangat pening seolah-olah mau pecah saat itu juga.

Pertahanan mentalnya runtuh total. Bayangan di depannya, wajah marah ayahnya, telunjuk ibunya yang menunjuk-nunjuk, perlahan menjadi kabur dan buram. Telinganya berdenging hebat, membuat semua suara makian di sekitarnya hanya terdengar seperti bisikan samar yang menjauh.

Dunia seolah berputar terbalik. Sampai tiba-tiba, seluruh energi di dalam dirinya habis terkuras, dan dia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.

Bruk!

Kesadarannya tercabut paksa. Tubuh itu ambruk ke lantai koridor yang dingin. Semuanya gelap seketika.

Terpopuler

Comments

Erna Masliana

Erna Masliana

loh kalo dokter lelah terus melakukan operasi bukankah akan fatal untuk pasien??

2026-08-17

0

JJ opa

JJ opa

semangat Thor semoga awal yang baik dalam cerita ini🙏💪

2026-07-26

0

Amiera Syaqilla

Amiera Syaqilla

hi

2026-08-10

0

lihat semua
Episodes
1 Jia Li
2 Transmigrasi
3 Misi Pertama
4 Perdebatan Di Depan Kamar
5 Percaya Padaku, Ayah
6 Racun Yang Sama
7 Penawar
8 Misi Berhasil
9 Kesembuhan Selir Kedua Dan Pangeran Lin Tian
10 Pasar
11 Pencuri Misterius
12 Misi Penangkapan
13 Kekalahan Besar
14 Kegagalan Putra Mahkota
15 Keputusan Kaisar
16 Gosip Menyebar
17 Jebakan
18 Tertangkap
19 Hukuman
20 Misi Ketiga
21 Hari Perburuan
22 Elemen Tanah Aktif
23 Misi Keempat
24 Sistem Bantuan
25 Elemen Cahaya Aktif
26 Pria Misterius
27 Kaisar Yun Shang
28 Pembunuh Bayaran
29 Bertemu Pangeran Lin Tian
30 Elemen Api Dan Tanaman Aktif
31 Membagi Energi
32 Tujuh Elemen
33 Kontrak
34 Hewan Roh Naga
35 Misi Ketujuh
36 Kontrak Jiwa
37 Heboh
38 Fitnah
39 Tantangan Duel
40 Keputusan Kaisar Yun Shang
41 Persiapan
42 Pertarungan
43 Menegangkan
44 Pertarungan 2
45 Kecantikan Lin Jia
46 Kemenangan Mutlak
47 Tuduhan
48 Guru Xu
49 Menuju Pembuktian
50 Terkejut
51 Harus Di Hukum
52 Hukuman Dari Lin Jia
53 Guru Xu Dan Selir Kedua
54 Pang
55 Kedai Teh
56 Nyonya Besar Li
57 Persiapan
58 Kedatangan Nyonya Besar Li
59 Memanas
60 Mulut Racun Lin Jia
61 Nyonya Li Dan Permaisuri Li
62 Yun Shang VS Guru Xu
63 Wanitaku
64 Meracik Obat
65 Paviliun Chaguan
66 Kedatangan Lin Jia
67 Adu Mulut
68 Rencana
69 Rencana Membuka Klinik
70 Membeli Kediaman
71 Alat - Alat Modern
72 Kediaman Keluarga Li
73 Li Jihan
74 Masa Lalu
75 Misi Selanjutnya
76 Ketahuan
77 Penderitaan Lin Dui Dan Lin Ju
78 Membuktikan
79 Lamaran Tak Terduga
80 Calon Suami?
81 Lin Tian Dan Yun Shang
82 Penyusupan
83 Terkejut Nya Lin Tian
84 Tabib Hong
85 Amarah Kaisar Lin Dong
86 Kekacauan
87 Penangkapan Besar-Besaran
88 Keputusan Tegas Kaisar Lin Dong
89 Permaisuri Li Dan Selir Gu
90 Permaisuri Li VS Selir Gu
91 Lin Zhang
92 Permohonan Lin Zhang
93 Cinta Terlarang
94 Memanggil Kembali Pilar Pendukung Keluarga Xu
95 Meminta Izin
96 Yu An
97 Memberitahu Lin Zhang
98 Menjadi Pengikut Setia
99 Misi Selesai
100 Kembalinya Lin Dui Dan Lin Ju
101 Surat
102 Rencana Pembunuhan
103 Serangan Musuh
104 Bantuan Lin Jia
105 Dendam Masa Lalu
106 Keraguan Rui
107 Pil Pemurni Jiwa
108 Tempat Musuh
109 Bendera Penghinaan
110 Kedatangan Jenderal Mei
111 Keputusan
112 Senjata Rahasia
113 Persiapan
114 Malam Acara
115 Hadiah Spesial
116 Kedatangan Yun Shang
117 Permainan Di Mulai
118 Fitnah Yang Terucap
119 Pemeriksaan
120 Racun
121 Video Kebenaran
122 Kebenaran Yang Membuat Syok
123 Kemarahan Kaisar Lin Dong Dan Keputusan
124 Serangan Balasan
125 Kesaksian
126 Menuju Peperangan
127 Perang 1
128 Identitas Feng
129 Pertarungan 2
130 Perang 3
131 Rahasia Yu An
132 Serangan Nyonya Li
133 Permaisuri Li Terjebak
134 Sayap Emas
135 Pertarungan 4
136 Serangan Gabungan Lin Jia Dan Yu An
137 Kecurigaan Yu An
138 Berakhir
139 Hukuman Mati
140 Kursi Yang Kosong
141 Selir Gu Mengalah
142 Anak Lin Zhang
143 Pilihan
144 Penobatan
145 Ikatan Batin
146 Lamaran Yang Membuat Syok
147 Kebenaran Yang Tersembunyi
148 Lin Jia Menerima
149 Pilihan Yang Terbaik
150 Hari Pernikahan
151 Proses Pernikahan
152 Malam Pertama
153 Sebuah Lukisan
154 Dia Putriku!
155 Masa Lalu Yu An
156 Permintaan Terakhir
157 Air Mata
158 Ancaman Lin Jia
159 Selir?
160 Misi Terakhir
161 Kabar Bahagia
162 Kelahiran Tiga Pewaris
163 Pilihan Dari Sistem
164 Tetap Tinggal
165 Yun Sheren
166 Takdir Yun Sheren
167 Promosi Novel Baru
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Jia Li
2
Transmigrasi
3
Misi Pertama
4
Perdebatan Di Depan Kamar
5
Percaya Padaku, Ayah
6
Racun Yang Sama
7
Penawar
8
Misi Berhasil
9
Kesembuhan Selir Kedua Dan Pangeran Lin Tian
10
Pasar
11
Pencuri Misterius
12
Misi Penangkapan
13
Kekalahan Besar
14
Kegagalan Putra Mahkota
15
Keputusan Kaisar
16
Gosip Menyebar
17
Jebakan
18
Tertangkap
19
Hukuman
20
Misi Ketiga
21
Hari Perburuan
22
Elemen Tanah Aktif
23
Misi Keempat
24
Sistem Bantuan
25
Elemen Cahaya Aktif
26
Pria Misterius
27
Kaisar Yun Shang
28
Pembunuh Bayaran
29
Bertemu Pangeran Lin Tian
30
Elemen Api Dan Tanaman Aktif
31
Membagi Energi
32
Tujuh Elemen
33
Kontrak
34
Hewan Roh Naga
35
Misi Ketujuh
36
Kontrak Jiwa
37
Heboh
38
Fitnah
39
Tantangan Duel
40
Keputusan Kaisar Yun Shang
41
Persiapan
42
Pertarungan
43
Menegangkan
44
Pertarungan 2
45
Kecantikan Lin Jia
46
Kemenangan Mutlak
47
Tuduhan
48
Guru Xu
49
Menuju Pembuktian
50
Terkejut
51
Harus Di Hukum
52
Hukuman Dari Lin Jia
53
Guru Xu Dan Selir Kedua
54
Pang
55
Kedai Teh
56
Nyonya Besar Li
57
Persiapan
58
Kedatangan Nyonya Besar Li
59
Memanas
60
Mulut Racun Lin Jia
61
Nyonya Li Dan Permaisuri Li
62
Yun Shang VS Guru Xu
63
Wanitaku
64
Meracik Obat
65
Paviliun Chaguan
66
Kedatangan Lin Jia
67
Adu Mulut
68
Rencana
69
Rencana Membuka Klinik
70
Membeli Kediaman
71
Alat - Alat Modern
72
Kediaman Keluarga Li
73
Li Jihan
74
Masa Lalu
75
Misi Selanjutnya
76
Ketahuan
77
Penderitaan Lin Dui Dan Lin Ju
78
Membuktikan
79
Lamaran Tak Terduga
80
Calon Suami?
81
Lin Tian Dan Yun Shang
82
Penyusupan
83
Terkejut Nya Lin Tian
84
Tabib Hong
85
Amarah Kaisar Lin Dong
86
Kekacauan
87
Penangkapan Besar-Besaran
88
Keputusan Tegas Kaisar Lin Dong
89
Permaisuri Li Dan Selir Gu
90
Permaisuri Li VS Selir Gu
91
Lin Zhang
92
Permohonan Lin Zhang
93
Cinta Terlarang
94
Memanggil Kembali Pilar Pendukung Keluarga Xu
95
Meminta Izin
96
Yu An
97
Memberitahu Lin Zhang
98
Menjadi Pengikut Setia
99
Misi Selesai
100
Kembalinya Lin Dui Dan Lin Ju
101
Surat
102
Rencana Pembunuhan
103
Serangan Musuh
104
Bantuan Lin Jia
105
Dendam Masa Lalu
106
Keraguan Rui
107
Pil Pemurni Jiwa
108
Tempat Musuh
109
Bendera Penghinaan
110
Kedatangan Jenderal Mei
111
Keputusan
112
Senjata Rahasia
113
Persiapan
114
Malam Acara
115
Hadiah Spesial
116
Kedatangan Yun Shang
117
Permainan Di Mulai
118
Fitnah Yang Terucap
119
Pemeriksaan
120
Racun
121
Video Kebenaran
122
Kebenaran Yang Membuat Syok
123
Kemarahan Kaisar Lin Dong Dan Keputusan
124
Serangan Balasan
125
Kesaksian
126
Menuju Peperangan
127
Perang 1
128
Identitas Feng
129
Pertarungan 2
130
Perang 3
131
Rahasia Yu An
132
Serangan Nyonya Li
133
Permaisuri Li Terjebak
134
Sayap Emas
135
Pertarungan 4
136
Serangan Gabungan Lin Jia Dan Yu An
137
Kecurigaan Yu An
138
Berakhir
139
Hukuman Mati
140
Kursi Yang Kosong
141
Selir Gu Mengalah
142
Anak Lin Zhang
143
Pilihan
144
Penobatan
145
Ikatan Batin
146
Lamaran Yang Membuat Syok
147
Kebenaran Yang Tersembunyi
148
Lin Jia Menerima
149
Pilihan Yang Terbaik
150
Hari Pernikahan
151
Proses Pernikahan
152
Malam Pertama
153
Sebuah Lukisan
154
Dia Putriku!
155
Masa Lalu Yu An
156
Permintaan Terakhir
157
Air Mata
158
Ancaman Lin Jia
159
Selir?
160
Misi Terakhir
161
Kabar Bahagia
162
Kelahiran Tiga Pewaris
163
Pilihan Dari Sistem
164
Tetap Tinggal
165
Yun Sheren
166
Takdir Yun Sheren
167
Promosi Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!