Ma!

Baru saja Hazel menghidupkan mesin mobil, ponselnya kembali bergetar dan nama Mama berkedip di layar. Hazel tidak mengangkatnya, ia tahu jika mengangkat telepon itu hanya akan membuat konsentrasinya buyar saat menyetir.

​Begitu Hazel menginjakkan kaki di ruang tamu rumahnya, sebuah vas bunga kristal melayang dan hancur berkeping-keping tepat di dekat kakinya hingga membuat Hazel mematung karena terkejut.

​"Berani kamu pulang!" teriak Mama Vivian dengan wajah merah padam.

Di sampingnya, Papa Darius hanya diam membisu, tidak berani membela putrinya jika sang istri sudah mengamuk. Itulah yang selalu dilakukan Papa Darius, ia tidak punya kuasa atas Mama Vivian, karena Papa Darius tidak pernah membela Hazel ketika Mama Vivian marah.

​"Ma, Hazel capek...," belum sempat Hazel menyelesaikan ucapannya, Mama Vivian sudah bersuara.

​"Capek? Kamu pikir Mama tidak capek mengatur semuanya demi masa depan kamu!" teriak Mama Vivian mendekat dan langkahnya terdengar mengerikan di atas lantai marmer.

"Tommy menelepon Mama, dia bilang kamu telat, tidak sopan, penampilan kamu berantakan dan kamu menghinanya! Kamu tahu siapa dia? Dia itu jaksa agung, kamu sudah menghancurkan koneksi keluarga kita!" bentak Mama Vivian.

​"Ma, tadi Hazel harus menyelamatkan pasien! Apa jabatan Tommy lebih penting daripada nyawa seseorang?" tanya Hazel.

Plak...

​Satu tamparan lagi mendarat di pipi Hazel, hingga sudut bibir Hazel berdar*h.

​"Jangan gunakan profesi doktermu sebagai alasan untuk membangkang! Mama menyekolahkan kamu jadi Dokter supaya kamu punya kelas dan status, supaya kamu dipandang tinggi, bukan supaya kamu jadi pahlawan kesiangan yang melupakan tata krama!" bentak Mama Vivian.

​Mama Vivian merampas tas Hazel dan mengambil kunci mobil serta ponselnya, ​"Mulai besok, kamu tidak boleh ke rumah sakit selama seminggu," ucap Mama Vivian.

​"Ma! Mama gak bisa kayak gitu dong, aku punya jadwal operasi dan pasien!" teriak Hazel.

"Mama gak peduli, sekarang kamu ke kamar dan Mama akan kunci kamar kamu selama satu minggu," ucap Mama Vivian.

"Ma...," belum sempat Hazel protes, Mama Vivian sudah kembali bersuara.

"Percuma kamu protes, Mama akan mengurus cuti kamu di rumah sakit. Kamu harus ingat, rumah sakit itu milik Pamanmu dan Mama akan mengatur semuanya," ucap Mama Vivian.

Hazel tidak bisa melakukan apa-apa, ia akhirnya pasrah dan naik ke kamarnya yang ada di lantai 2. Mau kabur pun percuma bagi Hazel, karena Mama Vivian akan menyuruh orang untuk membawa Hazel pulang.

Seperti yang dilakukan Hazel beberapa bulan lalu, di mana Hazel pergi dari rumah dan menginap di hotel pinggir kota, tapi belum sampai 1 jam, anak buah Mama Vivian sudah menemukan Hazel dan membawa Hazel pulang.

Di ruang tamu, Mama Vivian masih emosi karena Hazel. Papa Darius hanya bisa menghela napas panjang sembari menyesap kopi hitamnya yang sudah mendingin.

​"Ma, menurutku kamu terlalu keras sama Hazel. Dia seorang Dokter dan tiba-tiba ada keadaan darurat, itu hal yang wajar," ucap Papa Darius dan mencoba meredam amarah istrinya.

​Mama Vivian menoleh cepat, tatapannya yang tajam bak belati kini menghujam langsung ke arah suaminya, ia menggebrak meja di hadapannya hingga cangkir porselen di atasnya berdenting nyaring.

​"Terlalu keras, kamu bilang? Pa, kalau bukan karena caraku yang keras ini, Hazel tidak akan pernah menjadi Dokter! Dia itu keras kepala, jadi dia harus diatur. Dia mau jadi pelukis? Mau hidup luntang-lantung mengandalkan kuas dan kanvas? Mau jadi apa keluarga kita kalau anak tunggalnya cuma penjual gambar?" tanya Mama Vivian.

​Papa Darius terdiam, ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ketidakberdayaannya menghadapi sang istri menjadi makanan sehari-harinya, ia hanyalah pion yang bergerak sesuai papan catur yang dirancang oleh sang istri.

​Sementara itu, di lantai dua, Hazel merosot di balik pintu dan memeluk lututnya erat-erat seiring dengan air mata yang luruh tanpa suara. Sudut bibirnya yang terluka terasa perih, namun rasa perih itu tidak sebanding dengan kekosongan yang menganga di dalam dadanya.

​Selama ini, hidup Hazel tak ubahnya seperti robot. Pagi ke rumah sakit, malam menghadiri jamuan kelas atas lalu pulang ke rumah yang terasa seperti sangkar emas yang mencekik. Ia tidak memiliki teman dekat, tidak memiliki hobi dan dilarang menyentuh kuas lukisnya lagi.

​Hazel menatap tangannya yang gemetar, tangan yang tadi sore menjahit luka dan menyelamatkan nyawa seseorang, malam ini justru dianggap tidak berharga hanya karena gagal menyenangkan hati seorang pria pilihan Ibunya.

​"Aku cuma mau bebas, Tuhan... Aku cuma mau menikmati hidupku," gumam Hazel parau di tengah kegelapan kamarnya.

Di tengah kesedihannya, pandangan Hazel terpaku pada sebuah lampu tidur berbentuk bola kaca dengan siluet pohon pinus di dalamnya. Lampu tidur itu adalah hadiah ulang tahunnya dari seorang pria, di mana pria itu pernah membuat hidup Hazel yang abu-abu menjadi penuh warna. Pria itu mengajarkannya bahwa langit sore tidak hanya berwarna biru, melainkan perpaduan jingga, ungu dan merah muda yang indah, warna-warna yang selalu Hazel goreskan di atas kanvasnya dulu.

​Hazel menyentuh lampu tidur yang dingin itu dengan jemarinya yang gemetar, "Gimana kabar kamu? Sudah empat belas tahun ternyata hiks hiks...," gumam Hazel.

.

Pagi harinya, di kediaman keluarga Ganendra tidak pernah diawali dengan kicau burung yang menenangkan, melainkan ketukan sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer, seolah menjadi lonceng penanda bahwa sang penguasa telah datang.

​Di dalam kamarnya yang luas, Hazel terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra, menerangi kamar bernuansa putih yang terasa begitu dingin. Saat Hazel mencoba memutar knop pintu kamar untuk sekadar mengambil segelas air, namun pintu itu tetap terkunci rapat dari luar.

​Hazel menghela napas panjang, kepalanya bersandar pada daun pintu yang tebal. Sudut bibirnya yang robek akibat tamparan semalam kini telah mengering dan terasa kaku saat ia mencoba berbicara pada diri sendiri.

​"Sudah tiga puluh dua tahun dan Mama masih menggunakan cara yang sama," gumam Hazel parau.

​Tak berselang lama, terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Pintu terbuka sedikit, menampilkan sosok Bi Hani, kepala pelayan yang sudah bekerja di rumah itu bahkan sebelum Hazel lahir. Wanita paruh baya itu membawa nampan berisi sarapan, sup asparagus hangat, roti panggang dan segelas susu, terlihat jelas matanya memancarkan rasa iba yang mendalam yang berusaha ia sembunyikan. Di belakang Bi Hani, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam.

​"Non Hazel... ini sarapannya. Dimakan ya, Non," ucap Bi Hani dan meletakkan nampan di atas meja rias Hazel.

​"Bi, tolong bilang Papa. Hazel mau bicara," pinta Hazel dan matanya menatap Bi Hani penuh harap.

​Bi Hani hanya menunduk dan meremas celemeknya sendiri, "Tuan besar sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi, Non. Nyonya yang menyuruh Bapak berangkat lebih awal, dan... Nyonya juga berpesan, semua fasilitas Non Hazel disita untuk sementara waktu," ucap Bi Hani.

.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Nurwana

Nurwana

hazel... kau itu terlalu bego, sudah tau ibumu kejam, tidak mau kau punya inisiatif sendiri, pintar dikit kenapa,punya uangkan, gunakan uangmu untuk merekrut orang orang yang jago bela diri untuk menjagamu dan cari orang yang bertalenta dibadangnya, misal jago IT. kau juga belajar bela diri diam diam. jadi kalau memiliki orang orang tersebut gampang aja untuk kabur dan berdikari. masa selama 15 tahun kau hanya jadi diam ditempat Tanpa usaha.

2026-08-09

2

Hatijah Cantik

Hatijah Cantik

sebenarnya di cerita ini ada sedikit yg gak masuk akal seorang dokter yg punya ibu yg kejam padahal seorang dokter berpendidikan tinggi da terhormat tidak mudah di intimidasi ini yg sedikit melenceng dari harapan pembaca ,selebihnya sy rasa bagus 👍

2026-07-31

2

Farida Dalle

Farida Dalle

sekelas dokter lho ini, masak iya mshau dipukulin, mau diatur2, ank kcl aja zaman sekarang tdk bisa dikasi kekerasan fisik, duhh gak masuk akal banged, walaupum dunia halu tp jngn terlalu lh... 🙏✌️😕

2026-08-15

1

lihat semua
Episodes
1 Tidak Perlu Dilanjutkan
2 Ma!
3 Nyawanya Berharga!
4 Apa! Pengabdian?
5 Menolak?
6 Ingat Pesan Mama
7 Sudah Punya Pacar Belum?
8 Beda Dong!
9 Eh!
10 Syukurlah
11 Gavin...?
12 Pertemuan Pertama
13 Dokter Hazel!
14 Meminta Maaf?
15 Anda Tidak Perlu Khawatir
16 Hati-hati!
17 Aku Memang Tidak Tahu!
18 Sial?
19 Kamu Ikut?
20 Kapten Gavin!
21 Kamu Harus Sadar
22 Cocok Darimananya?
23 Saya Bisa Sendiri, Kapten
24 Saya Belum Punya Pacar
25 Kehilangan Keseimbangan
26 Fokus Pada Tugasmu
27 Maaf...
28 Si-Siapa Itu?
29 Ikut Saya Sebentar
30 Kamu Mau?
31 Bukanlah Hal Yang Sulit
32 Ayo Kita Semangat!
33 Siap, Kapten!
34 Romantis Banget!
35 Katakan!
36 Jujur Sama Saya!
37 Salah Paham Lagi
38 Tersenyum Penuh Misteri
39 Gavin!
40 Kenapa?
41 Dokter! Tolong, Dok!
42 Kondisinya Sudah Stabil
43 Aku Nggak Mau!
44 Pasangkan Untukku
45 Jangan Telat Makan!
46 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47 Mama, Hazel Pulang
48 Bagaimana Kelanjutannya?
49 Diam Kamu!
50 Menikah?
51 Aku Sudah Berjanji
52 Tanya Soal Apa?
53 Saya Sudah Punya Pacar
54 Halo? Gavin!
55 Itu Pesawatnya!
56 Abang!
57 Ma! Tolong buka, Ma!
58 Gavin... Tolong Aku
59 Kamu...
60 Ternyata Dunia Sekecil Ini
61 Cincinnya Bagus!
62 Lalu?
63 Jemput Calon Istriku
64 Ini... Hazel, Kan?
65 Abang... Ini Siapa?
66 Ada Apa Memangnya?
67 Jangan Terlalu Dipikirkan
68 Teman Dokter?
69 Dua Pilihan
70 Ibu Merestui Hubungan Kita
71 Urusan Penting Apa?
72 Meminang Hazel
73 Dua Bulan?
74 Heboh
75 Kebaya Pernikahan Terbaik
76 Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77 Gimana?
78 Sidang Prapernikahan
79 Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80 I Love You
81 Demi Apa! Dokter Hazel!
82 Istri Gavin
83 Gimana Ini?
84 Pura-pura Tidur Ternyata
85 Rileks
86 Ini Semua Gara-gara Kamu
87 Aku Kunci Dari Dalam!
88 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89 Yang Mana?
90 Selamat Istirahat
91 Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92 Anak Perempuan Ibu!
93 Ibu Gak Usah Khawatir
94 Rumah Baru
95 Perlu Dihangatkan Dulu
96 Capek Banget Ya?
97 Kangen
98 Mas Gavin!
99 Istriku Sudah Pulang Ternyata
100 Positif
101 Segera Menjadi Orang Tua
102 Cucu
103 Ada Apa Sayang?
104 Pelan-pelan Ya
105 Kita Jemput Anak Kita
106 Anak Kita
107 Braveindra Sagara
108 Perutku Jelek Sekarang
109 SELESAI
110 Cerita Baru - Cintai Aku
111 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Tidak Perlu Dilanjutkan
2
Ma!
3
Nyawanya Berharga!
4
Apa! Pengabdian?
5
Menolak?
6
Ingat Pesan Mama
7
Sudah Punya Pacar Belum?
8
Beda Dong!
9
Eh!
10
Syukurlah
11
Gavin...?
12
Pertemuan Pertama
13
Dokter Hazel!
14
Meminta Maaf?
15
Anda Tidak Perlu Khawatir
16
Hati-hati!
17
Aku Memang Tidak Tahu!
18
Sial?
19
Kamu Ikut?
20
Kapten Gavin!
21
Kamu Harus Sadar
22
Cocok Darimananya?
23
Saya Bisa Sendiri, Kapten
24
Saya Belum Punya Pacar
25
Kehilangan Keseimbangan
26
Fokus Pada Tugasmu
27
Maaf...
28
Si-Siapa Itu?
29
Ikut Saya Sebentar
30
Kamu Mau?
31
Bukanlah Hal Yang Sulit
32
Ayo Kita Semangat!
33
Siap, Kapten!
34
Romantis Banget!
35
Katakan!
36
Jujur Sama Saya!
37
Salah Paham Lagi
38
Tersenyum Penuh Misteri
39
Gavin!
40
Kenapa?
41
Dokter! Tolong, Dok!
42
Kondisinya Sudah Stabil
43
Aku Nggak Mau!
44
Pasangkan Untukku
45
Jangan Telat Makan!
46
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47
Mama, Hazel Pulang
48
Bagaimana Kelanjutannya?
49
Diam Kamu!
50
Menikah?
51
Aku Sudah Berjanji
52
Tanya Soal Apa?
53
Saya Sudah Punya Pacar
54
Halo? Gavin!
55
Itu Pesawatnya!
56
Abang!
57
Ma! Tolong buka, Ma!
58
Gavin... Tolong Aku
59
Kamu...
60
Ternyata Dunia Sekecil Ini
61
Cincinnya Bagus!
62
Lalu?
63
Jemput Calon Istriku
64
Ini... Hazel, Kan?
65
Abang... Ini Siapa?
66
Ada Apa Memangnya?
67
Jangan Terlalu Dipikirkan
68
Teman Dokter?
69
Dua Pilihan
70
Ibu Merestui Hubungan Kita
71
Urusan Penting Apa?
72
Meminang Hazel
73
Dua Bulan?
74
Heboh
75
Kebaya Pernikahan Terbaik
76
Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77
Gimana?
78
Sidang Prapernikahan
79
Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80
I Love You
81
Demi Apa! Dokter Hazel!
82
Istri Gavin
83
Gimana Ini?
84
Pura-pura Tidur Ternyata
85
Rileks
86
Ini Semua Gara-gara Kamu
87
Aku Kunci Dari Dalam!
88
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89
Yang Mana?
90
Selamat Istirahat
91
Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92
Anak Perempuan Ibu!
93
Ibu Gak Usah Khawatir
94
Rumah Baru
95
Perlu Dihangatkan Dulu
96
Capek Banget Ya?
97
Kangen
98
Mas Gavin!
99
Istriku Sudah Pulang Ternyata
100
Positif
101
Segera Menjadi Orang Tua
102
Cucu
103
Ada Apa Sayang?
104
Pelan-pelan Ya
105
Kita Jemput Anak Kita
106
Anak Kita
107
Braveindra Sagara
108
Perutku Jelek Sekarang
109
SELESAI
110
Cerita Baru - Cintai Aku
111
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!