Menolak?

Di sisa jam kerjanya, Hazel tidak lagi fokus. Pikirannya melayang-layang pada lembar kertas di dalam map tebal yang kini tersimpan di dalam tasnya. Setiap kali ia melangkah melewati koridor, menyapa pasien atau menulis resep, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di rumah sakit itu tiba-tiba menipis.

​Hazel ingin segera pulang dan berteriak di depan wajah Mama Vivian, menuntut sisa-sisa hak hidup yang masih ia miliki. Namun, separuh dari dirinya tahu, semuanya hanya akan berakhir dengan tamparan lain, makian lain atau kurungan yang lebih lama.

​Ketika jam menunjukkan pukul lima sore, Hazel melangkah keluar dari rumah sakit. Alih-alih langsung pulang ke rumah, ia mengemudikan mobilnya tanpa arah dan membelah kemacetan kota yang mulai mengular, air matanya mengalir dalam diam dan membasahi pipi hingga kerah blus kerjanya.

Di usia 31 tahun, saat wanita lain mungkin sedang menikmati puncak karier atas pilihan hidupnya sendiri atau menimang anak, Hazel justru terjebak dalam kekangan Ibunya.

​Hazel menghentikan mobilnya di tepi sebuah taman kota yang sepi. Di bawah rintik gerimis yang mulai turun membasahi kaca mobil, Hazel merogoh tasnya, mengeluarkan map berlogo militer itu dan membacanya sekali lagi dengan detail.

Hazel pun segera mencari lokasi tersebut melalui ponselnya. Begitu hasil pencarian keluar, jantungnya berdegup kencang, karena daerah tersebut adalah daerah pedalaman yang dikelilingi hutan, jalur transportasinya sulit dan fasilitasnya sangat terbatas.

Hazel tidak habis pikir dengan Mama Vivian, Hazel yang sejak lahir dibesarkan dengan kemewahan, kamarnya selalu ber-ac dan pakaiannya yang selalu disetrika rapi oleh pelayan harus berada di tempat seperti itu. Pikiran tentang serangga, air bersih yang terbatas dan sinyal langsung membuat kepalanya pusing.

"Mama bener-bener ya, sebenarnya apa yang ada di pikiran Mama?" gumam Hazel.

Setelah menenangkan diri, Hazel pun melanjutkan perjalanannya, ia mencengkeram kemudi mobilnya begitu erat. Di bawah guyuran gerimis yang kian menderu membasahi kaca depan, bayangan tentang hutan belantara, barak-barak pengungsian yang kumuh dan malam-malam tanpa listrik membuat sekujur tubuhnya meremang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang selama 31 tahun ini selalu terkikis habis oleh kekuatan ibunya.

​"Cukup, kali ini aku harus menolaknya," gumam Hazel pada dirinya sendiri, ia menyeka air mata yang menghalangi pandangannya sebelum kembali menginjak pedal gas menuju kediaman Ganendra.

​Sesampainya di rumah, suasana tegang langsung menyambut Hazel saat ia melangkah melewati pintu. Di ruang keluarga, Mama Vivian sedang duduk anggun di sofa beludru sembari membolak-balik majalah bisnis kelas atas. Di seberangnya, Papa Darius tampak duduk terdiam, pura-pura sibuk dengan beberapa berkas kantor.

​Melihat Mama Vivian, tanpa basa-basi lagi Hazel melangkah lebar mendekati meja kaca di hadapan Mama Vivian. Dengan tangan yang sudah berkeringat, ia membanting map tebal berlogo militer tepat di atas majalah yang sedang dibaca Mama Vivian.

​Brak!

​Bunyi benturan itu menggema di ruangan yang luas hingga membuat Papa Darius tersentak kaget, sementara Mama Vivian hanya mengangkat pandangannya perlahan dan menatap map tersebut lalu beralih menatap wajah Hazel dengan tatapan yang sangat tenang.

"Apa-apaan ini, Hazel? Di mana sopan santunmu?" tanya Mama Vivian, suaranya masih tampak tenang.

​"Justru Hazel yang mau tanya, apa-apaan ini, Ma?" tanya Hazel dan menunjuk map itu dengan telunjuknya yang bergetar.

"Pengabdian kesehatan ke daerah perbatasan utara? Enam bulan di daerah pedalaman? Mama memalsukan tanda tangan Hazel dan mendaftarkan Hazel tanpa persetujuan Hazel!" lanjut Hazel.

​Mama Vivian menutup majalahnya dengan gerakan perlahan lalu bersandar pada sofa, "Oh, jadi Om kamu sudah memberitahumu. Baguslah, itu menghemat waktu Mama untuk menjelaskan," balas Mama Vivian.

​"Hazel gak mau ikut, Ma! Hazel menolaknya!" tolak Hazel tegas.

"Menolak?" tanya Mama Vivian yang masih tenang.

"Mama tahu sendiri gimana Hazel, sejak kecil Hazel dibesarkan di lingkungan yang nyaman. Memikirkan daerahnya saja sudah membuat Hazel nggak nyaman! Jalur transportasi sulit, dikelilingi hutan, fasilitas terbatas... Hazel tidak akan sanggup, Ma!" ucap Hazel.

​Mama Vivian berdiri dari duduknya dan membuat tinggi badannya kini sejajar dengan Hazel, aura intimidasi langsung menguar kuat dari tubuh wanita paruh baya itu.

​"Kamu sanggup atau tidak sanggup, kamu tetap harus berangkat. Mama melakukan ini buat kebaikan kamu, supaya pengalamanmu sebagai Dokter bertambah dan mental kamu yang lembek bisa ditempa jadi lebih tangguh. Ini saat yang tepat, biar kamu tidak menjadi wanita manja!" ucap Mama Vivian penuh penekanan.

​"Kebaikan Hazel? Mama selalu mengatur hidup Hazel sejak kecil. Hazel jadi Dokter ini juga karena keputusan Mama, padahal Mama tahu Hazel takut d*r*h dan Hazel pengennya jadi pelukis! Sekarang, setelah Hazel menuruti kemauan Mama menjadi Dokter, Mama masih mau melempar Hazel ke hutan terpencil? Hazel bukan boneka, Ma! Hazel punya batas!" ucap Hazel.

​Melihat perdebatan yang kian memanas, Papa Darius akhirnya meletakkan berkasnya dan mencoba memberikan solusi. "Ma, sudahlah... Hazel ada benarnya. Daerah perbatasan itu terlalu berbahaya untuk dia, fasilitas di sana sangat minim, bagaimana kalau Hazel sakit atau terjadi sesuatu karena konflik di sana?" bela Papa Darius.

​Mama Vivian menoleh tajam ke arah suaminya dan membuat Papa Darius seketika bungkam, "Diam, Pa! Jangan ikut campur, kamu tidak tahu apa-apa tentang rencana masa depan yang sudah Mama susun untuk anak ini!" ucap Mama Vivian.

Mama Vivian ​kembali menatap Hazel, ia melipat kedua tangannya di dada. "Tidak ada bantahan, Hazel. Surat keputusan dari markas besar militer sudah turun atas namamu, semua berkas sudah selesai. Kalau kamu nekat menolak atau kabur, Mama pastikan izin praktik medismu dicabut di seluruh rumah sakit di negara ini. Kamu tidak akan pernah bisa menjadi Dokter lagi dan jangan harap kamu bisa menyentuh kuas lukismu karena Mama akan mengawasimu dua puluh empat jam, bahkan Mama akan dengan senang hati mengambil seluruh hidupmu," ancam Mama Vivian.

​Hazel terpaku mendengarnya, ancaman Mama Vivian bukan sekadar gertakan, ia tahu betul seberapa besar kekuatan dan relasi kekuasaan yang dimiliki Mama Vivian, menghancurkan karier seorang Dokter Umum seperti dirinya adalah perkara mudah bagi sang pewaris konglomerat.

"Kenapa Mama tega sama Hazel? Kenapa hidup Hazel harus seburuk ini di tangan Ibu kandung sendiri?" tanya Hazel parau, seluruh tenaganya seolah menguap begitu saja.

​"Suatu hari nanti kamu akan berterima kasih sama Mama, sekarang kamu masuk ke kamar dan mulai kemasi barang-barang yang sekiranya kamu butuhkan, karena satu minggu lagi kamu harus berangkat," jawab Mama Vivian tanpa belas kasihan.

​Hazel tidak menjawab lagi. Dengan sisa-sisa harga diri yang hancur, ia membalikkan badan dan melangkah lemah masuk kedalam lift menuju kamarnya di lantai dua.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Titik Subekti

Titik Subekti

tdk smua keputusan org tua pst baik utk anak2 nya
sbg org tua jg hrs mendengar keinginan anak2 nya

2026-06-03

0

nur atika

nur atika

kurang Thor LG dong yg bnyk🤭🤭🤭
aku taburin mawar ni

2026-06-02

0

lihat semua
Episodes
1 Tidak Perlu Dilanjutkan
2 Ma!
3 Nyawanya Berharga!
4 Apa! Pengabdian?
5 Menolak?
6 Ingat Pesan Mama
7 Sudah Punya Pacar Belum?
8 Beda Dong!
9 Eh!
10 Syukurlah
11 Gavin...?
12 Pertemuan Pertama
13 Dokter Hazel!
14 Meminta Maaf?
15 Anda Tidak Perlu Khawatir
16 Hati-hati!
17 Aku Memang Tidak Tahu!
18 Sial?
19 Kamu Ikut?
20 Kapten Gavin!
21 Kamu Harus Sadar
22 Cocok Darimananya?
23 Saya Bisa Sendiri, Kapten
24 Saya Belum Punya Pacar
25 Kehilangan Keseimbangan
26 Fokus Pada Tugasmu
27 Maaf...
28 Si-Siapa Itu?
29 Ikut Saya Sebentar
30 Kamu Mau?
31 Bukanlah Hal Yang Sulit
32 Ayo Kita Semangat!
33 Siap, Kapten!
34 Romantis Banget!
35 Katakan!
36 Jujur Sama Saya!
37 Salah Paham Lagi
38 Tersenyum Penuh Misteri
39 Gavin!
40 Kenapa?
41 Dokter! Tolong, Dok!
42 Kondisinya Sudah Stabil
43 Aku Nggak Mau!
44 Pasangkan Untukku
45 Jangan Telat Makan!
46 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47 Mama, Hazel Pulang
48 Bagaimana Kelanjutannya?
49 Diam Kamu!
50 Menikah?
51 Aku Sudah Berjanji
52 Tanya Soal Apa?
53 Saya Sudah Punya Pacar
54 Halo? Gavin!
55 Itu Pesawatnya!
56 Abang!
57 Ma! Tolong buka, Ma!
58 Gavin... Tolong Aku
59 Kamu...
60 Ternyata Dunia Sekecil Ini
61 Cincinnya Bagus!
62 Lalu?
63 Jemput Calon Istriku
64 Ini... Hazel, Kan?
65 Abang... Ini Siapa?
66 Ada Apa Memangnya?
67 Jangan Terlalu Dipikirkan
68 Teman Dokter?
69 Dua Pilihan
70 Ibu Merestui Hubungan Kita
71 Urusan Penting Apa?
72 Meminang Hazel
73 Dua Bulan?
74 Heboh
75 Kebaya Pernikahan Terbaik
76 Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77 Gimana?
78 Sidang Prapernikahan
79 Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80 I Love You
81 Demi Apa! Dokter Hazel!
82 Istri Gavin
83 Gimana Ini?
84 Pura-pura Tidur Ternyata
85 Rileks
86 Ini Semua Gara-gara Kamu
87 Aku Kunci Dari Dalam!
88 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89 Yang Mana?
90 Selamat Istirahat
91 Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92 Anak Perempuan Ibu!
93 Ibu Gak Usah Khawatir
94 Rumah Baru
95 Perlu Dihangatkan Dulu
96 Capek Banget Ya?
97 Kangen
98 Mas Gavin!
99 Istriku Sudah Pulang Ternyata
100 Positif
101 Segera Menjadi Orang Tua
102 Cucu
103 Ada Apa Sayang?
104 Pelan-pelan Ya
105 Kita Jemput Anak Kita
106 Anak Kita
107 Braveindra Sagara
108 Perutku Jelek Sekarang
109 SELESAI
110 Cerita Baru - Cintai Aku
111 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Tidak Perlu Dilanjutkan
2
Ma!
3
Nyawanya Berharga!
4
Apa! Pengabdian?
5
Menolak?
6
Ingat Pesan Mama
7
Sudah Punya Pacar Belum?
8
Beda Dong!
9
Eh!
10
Syukurlah
11
Gavin...?
12
Pertemuan Pertama
13
Dokter Hazel!
14
Meminta Maaf?
15
Anda Tidak Perlu Khawatir
16
Hati-hati!
17
Aku Memang Tidak Tahu!
18
Sial?
19
Kamu Ikut?
20
Kapten Gavin!
21
Kamu Harus Sadar
22
Cocok Darimananya?
23
Saya Bisa Sendiri, Kapten
24
Saya Belum Punya Pacar
25
Kehilangan Keseimbangan
26
Fokus Pada Tugasmu
27
Maaf...
28
Si-Siapa Itu?
29
Ikut Saya Sebentar
30
Kamu Mau?
31
Bukanlah Hal Yang Sulit
32
Ayo Kita Semangat!
33
Siap, Kapten!
34
Romantis Banget!
35
Katakan!
36
Jujur Sama Saya!
37
Salah Paham Lagi
38
Tersenyum Penuh Misteri
39
Gavin!
40
Kenapa?
41
Dokter! Tolong, Dok!
42
Kondisinya Sudah Stabil
43
Aku Nggak Mau!
44
Pasangkan Untukku
45
Jangan Telat Makan!
46
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47
Mama, Hazel Pulang
48
Bagaimana Kelanjutannya?
49
Diam Kamu!
50
Menikah?
51
Aku Sudah Berjanji
52
Tanya Soal Apa?
53
Saya Sudah Punya Pacar
54
Halo? Gavin!
55
Itu Pesawatnya!
56
Abang!
57
Ma! Tolong buka, Ma!
58
Gavin... Tolong Aku
59
Kamu...
60
Ternyata Dunia Sekecil Ini
61
Cincinnya Bagus!
62
Lalu?
63
Jemput Calon Istriku
64
Ini... Hazel, Kan?
65
Abang... Ini Siapa?
66
Ada Apa Memangnya?
67
Jangan Terlalu Dipikirkan
68
Teman Dokter?
69
Dua Pilihan
70
Ibu Merestui Hubungan Kita
71
Urusan Penting Apa?
72
Meminang Hazel
73
Dua Bulan?
74
Heboh
75
Kebaya Pernikahan Terbaik
76
Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77
Gimana?
78
Sidang Prapernikahan
79
Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80
I Love You
81
Demi Apa! Dokter Hazel!
82
Istri Gavin
83
Gimana Ini?
84
Pura-pura Tidur Ternyata
85
Rileks
86
Ini Semua Gara-gara Kamu
87
Aku Kunci Dari Dalam!
88
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89
Yang Mana?
90
Selamat Istirahat
91
Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92
Anak Perempuan Ibu!
93
Ibu Gak Usah Khawatir
94
Rumah Baru
95
Perlu Dihangatkan Dulu
96
Capek Banget Ya?
97
Kangen
98
Mas Gavin!
99
Istriku Sudah Pulang Ternyata
100
Positif
101
Segera Menjadi Orang Tua
102
Cucu
103
Ada Apa Sayang?
104
Pelan-pelan Ya
105
Kita Jemput Anak Kita
106
Anak Kita
107
Braveindra Sagara
108
Perutku Jelek Sekarang
109
SELESAI
110
Cerita Baru - Cintai Aku
111
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!