Apa! Pengabdian?

Jenderal Bayu tampak mengangguk pelan, lalu menatap Mama Vivian dengan binar ketertarikan. Sebagai seorang jenderal senior, ia tahu persis bagaimana memanfaatkan relasi dengan kaum elite seperti Mama Vivian.

​"Nyonya Vivian, niat anda sungguh mulia. Jarang sekali ada orang tua dari kalangan terpandang yang mau membiarkan anaknya keluar dari zona nyaman... dan kebetulan sekali, kami baru saja memperbarui kerja sama dengan beberapa rumah sakit, termasuk rumah sakit Ganendra, untuk program kesehatan di daerah perbatasan luar," ucap Jenderal Bayu.

Mendengar hal itu, ​Mama Vivian menaikkan sebelah alisnya, "Program kesehatan?" tanya Mama Vivian.

​"Iya, semacam pengabdian. Nanti akan ditempatkan di distrik terpencil yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Di sana, kami memiliki pos komando taktis militer sekaligus pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Tempat yang sempurna untuk menempa mental putri Nyonya Vivian," ucap Jenderal Bayu tersenyum penuh arti.

Jenderal Bayu mendekat satu langkah lalu merendahkan suaranya, "Dan jika tujuan Nyonya Vivian adalah mencari menantu seorang perwira... di sana ada perwira andalan saya. Dia adalah seorang Kapten infanteri yang sangat berwibawa, tampan, cerdas dan memiliki karier yang sangat cemerlang, dia adalah komandan kompi di sana," bisik Jenderal Bayu.

​Mata Mama Vivian seketika berbinar, "Jenderal...," Belum sempat Mama Vivian menyelesaikan perkataannya, Jenderal Bayu kembali bersuara.

"Saya jamin anda tidak akan pernah menyesal jika berhasil mendekatkan putri anda dengannya, dia adalah aset berharga militer saat ini," ucap Jenderal Bayu.

​"Lalu, bagaimana dengan prosedurnya, Jenderal? Apakah pendaftarannya sulit?" tanya Mama Vivian yang mulai menyusun rencana di kepalanya.

​"Sama sekali tidak sulit, apalagi rumah sakit Ganendra sebenarnya sudah membuka pendaftaran sejak minggu lalu. Kuotanya terbatas dan akan berangkat dalam waktu dua minggu ke depan, Ibu Vivian cukup memberikan nama putri anda dan saya yang akan memastikan namanya berada di urutan paling atas daftar keberangkatan," ucap Jenderal Bayu.

​"Sempurna, saya percayakan hal ini kepada anda, Jenderal," ucap Mama Vivian dengan senyum kepuasan yang mengembang di bibirnya.

"Tentu saja, saya tidak akan mengecewakan Nyonya Vivian," balas Jenderal Bayu.

.

Lima hari berlalu. Bagi Hazel, satu minggu yang ia lalui terasa bagai satu dekade. Ponselnya baru dikembalikan pada malam ketujuh, itu pun setelah Mama Vivian memastikan bahwa Hazel sudah patuh.

​Pagi ini, saat Hazel melangkah memasuki lobi rumah sakit tempatnya bekerja, ia merasa seperti seorang narapidana yang baru saja mendapatkan remisi. Aroma karbol, desis mesin pendingin ruangan, hingga langkah terburu-buru para staf medis yang biasanya memuakkan, hari ini terasa seperti udara segar yang begitu ia rindukan.

"Dokter Hazel! Saya kira Dokter masih cuti," ucap Suster Dila.

​"Masih ada pasien yang harus saya kontrol, jadi saya tidak mungkin cuti lama-lama, Suster. Bagaimana kondisi pasien sekarang?" tanya Hazel dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

​"Sudah jauh lebih stabil, Dok. Sudah dua hari dipindahkan ke ruang perawatan biasa," jawab Suster Dila dan diangguki Hazel.

Siang harinya, Hazel melangkah menyusuri koridor bangsal mawar dengan langkah yang tenang dan senyum ramahnya. Di balik senyum ramah yang ia suguhkan kepada setiap pasien, ada rasa lelah mental yang luar biasa. Namun, setiap kali bertemu pasien, ia harus menghapus lelah itu.

​"Dokter Hazel!" panggil seorang pria paruh baya dan wajahnya langsung cerah begitu melihat Hazel masuk.

"Iya, Pak?" tanya Hazel.

"Terima kasih banyak, Dok. Suster bilang, kalau malam itu Dokter menunda kepulangan Dokter untuk mengoperasi saya, kalau tidak ada Dokter, saya mungkin sudah tidak ada di dunia ini," ucap pria tersebut.

Hazel mendekat dan memeriksa denyut nadi pria itu lalu tersenyum lembut, "Itu sudah menjadi kewajiban saya, Pak. Yang terpenting sekarang keadaan Bapak sudah pulih," ucap Hazel.

Ucapan tulus dari pasien tersebut setidaknya menjadi setetes embun di gurun pasir bagi batin Hazel yang gersang. Di tengah himpitan peraturan Ibunya yang sangat melelahkan, mengetahui bahwa keberadaannya masih berguna untuk nyawa seseorang adalah satu-satunya alasan Hazel bertahan.

Setelah itu, Hazel kembali beraktifitas seperti biasanya, namun baru saja ia menyelesaikan laporan visitasi terakhirnya, tiba-tiba pintu ruang praktiknya diketuk. Bukan perawat yang masuk, melainkan Dokter Julian, direktur utama rumah sakit, pemilik rumah sakit Ganendra sekaligus paman Hazel dari pihak Ibunya. Pria paruh baya itu masuk dengan wajah tegang, membawa sebuah map tebal berlogo resmi tentara angkatan darat dan kementerian kesehatan.

​"Dokter Hazel, bisa kita bicara sebentar?" ucap Dokter Julian, suaranya sarat akan rasa sungkan yang amat sangat.

​Hazel menegakkan punggungnya dan mendadak firasat buruk menyergap dadanya, "Ada apa, Dokter Julian? Apa ada masalah dengan pasien?" tanya Hazel.

​Dokter Julian menghela napas panjang lalu meletakkan map tebal itu di hadapan Hazel, "Ini mengenai surat tugasmu. Minggu depan, kamu dijadwalkan berangkat ke wilayah perbatasan utara. Kamu terpilih sebagai perwakilan Dokter dari rumah sakit ini untuk mengikuti program pengabdian kesehatan selama enam bulan," ucap Dokter Julian.

Mendengar perkataan Dokter Julian, m​ata Hazel membelalak dan jantungnya mencelos seketika. "Apa! Pengabdian? Dokter, saya tidak pernah mendaftar program itu! Bagaimana bisa saya berangkat ke sana?" tanya Hazel.

​Dokter Julian membuang muka, tidak berani menatap langsung mata keponakannya yang mulai berkaca-kaca. "Paman tahu, Hazel. Tapi... Ibumu yang mengurus semuanya. Entah apa yang sudah dia rencanakan, dia meminta seluruh berkasmu diproses dengan cepat dan pihak militer juga sudah memberikan kuota untukmu," ucap Dokter Julian.

​Hazel mencengkeram tepi meja kerjanya hingga kuku-kuku jarinya memutih. Napasnya memburu seketika, rasanya seperti baru saja terlempar dari tebing yang tinggi.

​"Mama... keterlaluan," gumam Hazel dengan suara bergetar menahan amarah yang membuncah.

"Aku ini manusia, Paman! Bukan boneka yang bisa dia lempar ke mana pun dia suka! Aku tidak mau pergi! Hidup di kota dengan fasilitas lengkap saja terkadang membuatku lelah, bagaimana bisa aku bertahan di daerah konflik yang terpencil seperti itu!" tolak Hazel.

​"Hazel, dengarkan Paman," Dokter Julian memegang pundak Hazel dengan iba.

"Kamu tahu persis bagaimana Ibumu, kekuasaan dan kekuatannya terlalu besar. Jika kamu menolak, dia bisa saja mencabut izin praktikmu di seluruh rumah sakit negeri ini. Paman tidak bisa berbuat apa-apa karena surat perintah dari markas besar militer sudah turun dan keberangkatanmu tinggal satu minggu lagi. Paman harap kamu bisa memikirkannya, Paman pergi dulu," ucap Dokter Julian.

Setelah Dokter Julian pergi, keheningan pun mulai menyergap dan terasa begitu mencekik bagi Hazel dan jauh lebih mengerikan daripada riuh rendah ruang IGD. Hazel menatap map tebal berlogo militer di atas mejanya dengan tangan yang sudah terasa kaku, lalu ia membuka lembar demi lembar berkas tersebut dan di sana, di kolom tanda tangan pemohon, tertera tanda tangan atas namanya yang telah dipalsukan dengan sangat rapi.

​"Mama benar-benar keterlaluan," gumam Hazel, air mata frustrasi yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh dan membasahi lembar kertas formal yang menentukan nasibnya enam bulan ke depan.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Mini Amora

Mini Amora

malahan 6 bulan bisa lepas tekanan dari seseorang yg katanya mama mu hazel...

aneh + kaget aja sih.. ada yaaa seorg ibu tp sikapnya bgtu...

2026-07-15

0

Hatijah Cantik

Hatijah Cantik

seharusnya hazel gembira bisa jauh dari ibunya walaupun hanya 6 bulan , itu bisa membuatnya bernafas .

2026-07-31

0

Valen Angelina

Valen Angelina

𝚐𝚙𝚙 𝚑𝚊𝚗𝚣𝚎𝚕.. 𝚗𝚗𝚝𝚒 𝚔𝚝𝚖𝚞 𝚜𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚊𝚗𝚝𝚊𝚗 𝚍𝚜𝚗𝚊 𝚠𝚔𝚔𝚠𝚔🤣

2026-06-02

1

lihat semua
Episodes
1 Tidak Perlu Dilanjutkan
2 Ma!
3 Nyawanya Berharga!
4 Apa! Pengabdian?
5 Menolak?
6 Ingat Pesan Mama
7 Sudah Punya Pacar Belum?
8 Beda Dong!
9 Eh!
10 Syukurlah
11 Gavin...?
12 Pertemuan Pertama
13 Dokter Hazel!
14 Meminta Maaf?
15 Anda Tidak Perlu Khawatir
16 Hati-hati!
17 Aku Memang Tidak Tahu!
18 Sial?
19 Kamu Ikut?
20 Kapten Gavin!
21 Kamu Harus Sadar
22 Cocok Darimananya?
23 Saya Bisa Sendiri, Kapten
24 Saya Belum Punya Pacar
25 Kehilangan Keseimbangan
26 Fokus Pada Tugasmu
27 Maaf...
28 Si-Siapa Itu?
29 Ikut Saya Sebentar
30 Kamu Mau?
31 Bukanlah Hal Yang Sulit
32 Ayo Kita Semangat!
33 Siap, Kapten!
34 Romantis Banget!
35 Katakan!
36 Jujur Sama Saya!
37 Salah Paham Lagi
38 Tersenyum Penuh Misteri
39 Gavin!
40 Kenapa?
41 Dokter! Tolong, Dok!
42 Kondisinya Sudah Stabil
43 Aku Nggak Mau!
44 Pasangkan Untukku
45 Jangan Telat Makan!
46 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47 Mama, Hazel Pulang
48 Bagaimana Kelanjutannya?
49 Diam Kamu!
50 Menikah?
51 Aku Sudah Berjanji
52 Tanya Soal Apa?
53 Saya Sudah Punya Pacar
54 Halo? Gavin!
55 Itu Pesawatnya!
56 Abang!
57 Ma! Tolong buka, Ma!
58 Gavin... Tolong Aku
59 Kamu...
60 Ternyata Dunia Sekecil Ini
61 Cincinnya Bagus!
62 Lalu?
63 Jemput Calon Istriku
64 Ini... Hazel, Kan?
65 Abang... Ini Siapa?
66 Ada Apa Memangnya?
67 Jangan Terlalu Dipikirkan
68 Teman Dokter?
69 Dua Pilihan
70 Ibu Merestui Hubungan Kita
71 Urusan Penting Apa?
72 Meminang Hazel
73 Dua Bulan?
74 Heboh
75 Kebaya Pernikahan Terbaik
76 Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77 Gimana?
78 Sidang Prapernikahan
79 Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80 I Love You
81 Demi Apa! Dokter Hazel!
82 Istri Gavin
83 Gimana Ini?
84 Pura-pura Tidur Ternyata
85 Rileks
86 Ini Semua Gara-gara Kamu
87 Aku Kunci Dari Dalam!
88 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89 Yang Mana?
90 Selamat Istirahat
91 Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92 Anak Perempuan Ibu!
93 Ibu Gak Usah Khawatir
94 Rumah Baru
95 Perlu Dihangatkan Dulu
96 Capek Banget Ya?
97 Kangen
98 Mas Gavin!
99 Istriku Sudah Pulang Ternyata
100 Positif
101 Segera Menjadi Orang Tua
102 Cucu
103 Ada Apa Sayang?
104 Pelan-pelan Ya
105 Kita Jemput Anak Kita
106 Anak Kita
107 Braveindra Sagara
108 Perutku Jelek Sekarang
109 SELESAI
110 Cerita Baru - Cintai Aku
111 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Tidak Perlu Dilanjutkan
2
Ma!
3
Nyawanya Berharga!
4
Apa! Pengabdian?
5
Menolak?
6
Ingat Pesan Mama
7
Sudah Punya Pacar Belum?
8
Beda Dong!
9
Eh!
10
Syukurlah
11
Gavin...?
12
Pertemuan Pertama
13
Dokter Hazel!
14
Meminta Maaf?
15
Anda Tidak Perlu Khawatir
16
Hati-hati!
17
Aku Memang Tidak Tahu!
18
Sial?
19
Kamu Ikut?
20
Kapten Gavin!
21
Kamu Harus Sadar
22
Cocok Darimananya?
23
Saya Bisa Sendiri, Kapten
24
Saya Belum Punya Pacar
25
Kehilangan Keseimbangan
26
Fokus Pada Tugasmu
27
Maaf...
28
Si-Siapa Itu?
29
Ikut Saya Sebentar
30
Kamu Mau?
31
Bukanlah Hal Yang Sulit
32
Ayo Kita Semangat!
33
Siap, Kapten!
34
Romantis Banget!
35
Katakan!
36
Jujur Sama Saya!
37
Salah Paham Lagi
38
Tersenyum Penuh Misteri
39
Gavin!
40
Kenapa?
41
Dokter! Tolong, Dok!
42
Kondisinya Sudah Stabil
43
Aku Nggak Mau!
44
Pasangkan Untukku
45
Jangan Telat Makan!
46
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47
Mama, Hazel Pulang
48
Bagaimana Kelanjutannya?
49
Diam Kamu!
50
Menikah?
51
Aku Sudah Berjanji
52
Tanya Soal Apa?
53
Saya Sudah Punya Pacar
54
Halo? Gavin!
55
Itu Pesawatnya!
56
Abang!
57
Ma! Tolong buka, Ma!
58
Gavin... Tolong Aku
59
Kamu...
60
Ternyata Dunia Sekecil Ini
61
Cincinnya Bagus!
62
Lalu?
63
Jemput Calon Istriku
64
Ini... Hazel, Kan?
65
Abang... Ini Siapa?
66
Ada Apa Memangnya?
67
Jangan Terlalu Dipikirkan
68
Teman Dokter?
69
Dua Pilihan
70
Ibu Merestui Hubungan Kita
71
Urusan Penting Apa?
72
Meminang Hazel
73
Dua Bulan?
74
Heboh
75
Kebaya Pernikahan Terbaik
76
Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77
Gimana?
78
Sidang Prapernikahan
79
Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80
I Love You
81
Demi Apa! Dokter Hazel!
82
Istri Gavin
83
Gimana Ini?
84
Pura-pura Tidur Ternyata
85
Rileks
86
Ini Semua Gara-gara Kamu
87
Aku Kunci Dari Dalam!
88
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89
Yang Mana?
90
Selamat Istirahat
91
Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92
Anak Perempuan Ibu!
93
Ibu Gak Usah Khawatir
94
Rumah Baru
95
Perlu Dihangatkan Dulu
96
Capek Banget Ya?
97
Kangen
98
Mas Gavin!
99
Istriku Sudah Pulang Ternyata
100
Positif
101
Segera Menjadi Orang Tua
102
Cucu
103
Ada Apa Sayang?
104
Pelan-pelan Ya
105
Kita Jemput Anak Kita
106
Anak Kita
107
Braveindra Sagara
108
Perutku Jelek Sekarang
109
SELESAI
110
Cerita Baru - Cintai Aku
111
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!