Nyawanya Berharga!

Hazel melirik ke arah meja, tempat di mana biasanya ponsel dan tablet kerjanya berada. Kini kosong melompong bahkan kabel pengisi daya pun telah lenyap, Mama Vivian benar-benar memutus aksesnya dari dunia luar.

​"Tapi, gimana sama pasienku di rumah sakit, Bi? Hari ini aku ada jadwal kontrol untuk pasien pasca operasi," tanya Hazel.

​"Nyonya sudah menelepon pihak rumah sakit, Non. Kalau Non Hazel sedang sakit dan butuh istirahat total selama satu minggu, pihak rumah sakit... tidak ada yang berani membantah Nyonya," jawab Bi Hani lirih sebelum melangkah mundur dan keluar dari kamar, lalu pintu kembali ditutup dan dikunci.

​Hazel tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kepedihan. Rumah sakit tempatnya bekerja memang merupakan salah satu lini bisnis di bawah naungan yayasan milik keluarga besar Ibunya.

Di rumah sakit itu, posisi Hazel sebagai Dokter hanyalah status formalitas pelengkap pajangan keluarganya yang terpandang. Sumpah Dokter yang ia ucapkan dengan air mata, semuanya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nama besar keluarganya.

.

​Hari-hari berikutnya berubah menjadi siklus siksaan mental yang membosankan dan mencekik bagi Hazel. ​Tanpa ponsel, tanpa buku medis dan tanpa kanvas, karena semua alat lukisnya telah dibakar habis oleh Ibunya bertahun-tahun lalu saat Hazel masih berada di luar negeri. Hazel terjebak dalam ruang hampa, kamar yang luas dan dipenuhi perabotan mahal itu menjelma menjadi sel isolasi.

​Setiap pagi, siang dan malam, makanan akan diantarkan dengan pengawalan ketat. Hazel hanya menghabiskan waktunya dengan duduk di tepi ranjang, menatap dinding kamar yang kosong atau berdiri di dekat jendela dan memandangi gerbang tinggi rumahnya yang dijaga ketat. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, diberi makan dengan baik, dirawat dengan mewah. Tapi, sayapnya dipatahkan secara berkala agar tidak pernah bisa terbang.

​Di hari kedua, Hazel mencoba memprotes saat Mama Vivian sengaja membuka pintu kamar hanya untuk memeriksa keadaannya. Namun, protesnya juga percuma, karena suaranya tidak akan di dengar.

​"Sampai kapan Mama mau mengurungku seperti ini? Aku udah 31 tahun, Ma! Aku bukan anak kecil yang bisa Mama hukum setiap kali tidak menuruti kemauan Mama!" cecar Hazel dan berdiri menantang Mama Vivian dengan tubuh yang tampak lebih kurus.

​Mama Vivian yang tampil anggun dengan gaun rajut mahal dan perhiasan berlian di lehernya hanya menatap Hazel dengan pandangan dingin tanpa riak.

​"Sampai kamu sadar posisi kamu, Hazel," jawab Mama Vivian tenang, namun setiap katanya terdengar seperti maklumat yang tak terbantahkan.

"Ma," rengek Hazel.

"Semua yang Mama lakukan ini untuk kebaikan kamu, jika Mama membiarkan kamu memilih sendiri, kamu hanya akan mempermalukan nama keluarga ini. Seperti kemarin, kamu menolak seorang jaksa demi pasien, benar-benar membuang waktu," ucap Mama Vivian.

​"Pasien juga manusia, Ma! Nyawanya berharga!" teriak Hazel, air matanya mulai mengalir karena frustrasi.

​"Bagi Mama, yang berharga adalah masa depan dan martabat keluarga kita. Ingat itu, Hazel. Kamu itu anak Mama, jadi kamu harus tunduk pada aturan Mama," ucap Mama Vivian ketus sebelum berbalik dan memerintahkan penjaga untuk mengunci pintu.

​Ketika malam tiba, kegelapan menjadi satu-satunya teman Hazel. Di saat-saat paling sunyi itulah, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Rasa bosan yang teramat sangat menyiksa batinnya dan memicu rasa hampa yang perlahan menggerogoti kewarasannya, keinginan untuk bebas, untuk sekadar berjalan di bawah rintik hujan tanpa dilarang atau menggenggam kuas dan menumpahkan warna di atas kain putih, terasa begitu jauh dan mustahil.

​Hazel berjalan mendekati meja, satu-satunya benda yang tidak disentuh oleh tangan dingin Mama Vivian adalah lampu tidur berbentuk bola kaca dengan siluet pohon pinus di dalamnya. Ia menyalakan lampu tersebut, cahaya remang-remang berwarna kuning hangat langsung berpendar dan memantulkan bayangan pohon pinus ke langit-langit kamar.

​Hazel memeluk bola kaca itu di dadanya, membiarkan kehangatannya menyalur ke tubuhnya yang dingin. Di dalam sangkar emas ini, hanya benda inilah yang menjadi saksi bisu bahwa Hazel pernah memiliki hidup yang begitu berwarna.

Sementara Hazel mengarungi hari-hari penuh kehampaan di dalam kamarnya, di belahan kota yang lain, Mama Vivian sedang berada di puncak kejayaannya. Sebagai wanita bersosialita tinggi yang memegang kendali bisnis besar, menghadiri perjamuan makan malam dan pesta eksklusif adalah bagian dari rutinitas wajibnya untuk memperluas jaringan kekuasaan.

​Malam ini, sebuah hotel bintang lima di pusat kota menjadi saksi bisu kemegahan pesta perayaan hari jadi salah satu yayasan veteran dan petinggi militer. Ruangan ballroom dipenuhi oleh kilauan lampu kristal, wewangian parfum mahal, serta para tamu undangan yang terdiri dari pejabat tinggi, pengusaha sukses dan perwira militer berpangkat tinggi dengan seragam upacara mereka yang gagah.

​Mama Vivian berjalan dengan anggun, memegang segelas minuman sembari melempar senyum formal kepada setiap kolega yang menyapanya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sekelompok pria paruh baya berseragam militer dengan deretan tanda jasa di dada mereka sedang berkumpul di sudut ruangan, salah satu di antaranya adalah jenderal jenderal senior yang sangat berpengaruh dalam tatanan militer saat ini.

​Melihat kesempatan emas, Mama Vivian segera melangkah mendekat dengan senyuman terbaiknya. ​"Selamat malam, Jenderal Bayu," sapa Mama Vivian dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar karismatik namun tetap menghormati.

​Jenderal Bayu pun menoleh lalu tersenyum lebar mengenali sosok wanita berpengaruh di dunia bisnis tersebut, "Nyonya Vivian, selamat malam. Suatu kehormatan anda bisa hadir di acara kami malam ini," balas Jenderal Bayu.

​"Saya yang merasa terhormat karena berada di acara yang luar biasa seperti ini, Jenderal, " jawab Mama Vivian.

Mama Vivian memperhatikan sang Jenderal dan para perwira muda di sekelilingnya, ada aura ketegasan, disiplin dan kekuasaan yang terpancar dari seragam-seragam tersebut, sesuatu yang sangat disukai oleh Mama Vivian.

Seketika, sebuah ide kilat terlintas di benak Mama Vivian. Mengingat kegagalannya menjodohkan Hazel dengan Tommy, ia butuh opsi lain yang jauh lebih kuat untuk mengendalikan Hazel sekaligus menaikkan citra keluarganya.

Di dalam silsilah keluarga besarnya, belum ada satu pun yang berkecimpung di dunia militer atau memiliki menantu seorang tentara. Jika Hazel bisa mendapatkan suami seorang tentara dengan karier cemerlang, maka posisi keluarganya di kalangan elite akan semakin tidak tergoyahkan.

​"Jenderal, omong-omong tentang para perwira di sini... saya selalu kagum dengan kedisiplinan mereka. Kebetulan, putri saya seorang Dokter...," pancing Mama Vivian yang memulai taktiknya.

"Oh, ya? Putri anda seorang Dokter? Hebat sekali, di rumah sakit mana putri anda bekerja?" tanya Jenderal Bayu.

"Di rumah sakit Ganendra," jawab Mama Vivian.

"Keren, saya yakin anak Nyonya Vivian pasti akan jadi penerus yang hebat," puji Jenderal Bayu.

​"Tapi, saya merasa dia terlalu lama berada di zona nyaman rumah sakit. Saya ingin dia mendapatkan pengalaman yang lebih menantang, sesuatu yang bisa membentuk mentalnya menjadi lebih tangguh dan berdedikasi tinggi. Kira-kira, apa Jenderal bisa membantu anak saya...," ucap Mama Vivian dan menyembunyikan niat busuknya di balik topeng perhatian seorang Ibu.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

bingung banget tujuan dia nyuruh anak nya jd dokter ape kalo ngatur cuti seminggu 🥲 ibu nya paham gasih resiko pekerjaan dokter 😅

2026-08-21

0

Ayunda

Ayunda

nih emak2 gila harta n gila kehormtn pdhl bsk klw udh di dlm tanah semua g ad artinya cuma amal yg bakal dbwa jd bekal

2026-06-02

0

Nana Niez

Nana Niez

kebanyakan org kaya kyk gt, nomer satu uang dan kedudukan

2026-08-18

0

lihat semua
Episodes
1 Tidak Perlu Dilanjutkan
2 Ma!
3 Nyawanya Berharga!
4 Apa! Pengabdian?
5 Menolak?
6 Ingat Pesan Mama
7 Sudah Punya Pacar Belum?
8 Beda Dong!
9 Eh!
10 Syukurlah
11 Gavin...?
12 Pertemuan Pertama
13 Dokter Hazel!
14 Meminta Maaf?
15 Anda Tidak Perlu Khawatir
16 Hati-hati!
17 Aku Memang Tidak Tahu!
18 Sial?
19 Kamu Ikut?
20 Kapten Gavin!
21 Kamu Harus Sadar
22 Cocok Darimananya?
23 Saya Bisa Sendiri, Kapten
24 Saya Belum Punya Pacar
25 Kehilangan Keseimbangan
26 Fokus Pada Tugasmu
27 Maaf...
28 Si-Siapa Itu?
29 Ikut Saya Sebentar
30 Kamu Mau?
31 Bukanlah Hal Yang Sulit
32 Ayo Kita Semangat!
33 Siap, Kapten!
34 Romantis Banget!
35 Katakan!
36 Jujur Sama Saya!
37 Salah Paham Lagi
38 Tersenyum Penuh Misteri
39 Gavin!
40 Kenapa?
41 Dokter! Tolong, Dok!
42 Kondisinya Sudah Stabil
43 Aku Nggak Mau!
44 Pasangkan Untukku
45 Jangan Telat Makan!
46 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47 Mama, Hazel Pulang
48 Bagaimana Kelanjutannya?
49 Diam Kamu!
50 Menikah?
51 Aku Sudah Berjanji
52 Tanya Soal Apa?
53 Saya Sudah Punya Pacar
54 Halo? Gavin!
55 Itu Pesawatnya!
56 Abang!
57 Ma! Tolong buka, Ma!
58 Gavin... Tolong Aku
59 Kamu...
60 Ternyata Dunia Sekecil Ini
61 Cincinnya Bagus!
62 Lalu?
63 Jemput Calon Istriku
64 Ini... Hazel, Kan?
65 Abang... Ini Siapa?
66 Ada Apa Memangnya?
67 Jangan Terlalu Dipikirkan
68 Teman Dokter?
69 Dua Pilihan
70 Ibu Merestui Hubungan Kita
71 Urusan Penting Apa?
72 Meminang Hazel
73 Dua Bulan?
74 Heboh
75 Kebaya Pernikahan Terbaik
76 Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77 Gimana?
78 Sidang Prapernikahan
79 Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80 I Love You
81 Demi Apa! Dokter Hazel!
82 Istri Gavin
83 Gimana Ini?
84 Pura-pura Tidur Ternyata
85 Rileks
86 Ini Semua Gara-gara Kamu
87 Aku Kunci Dari Dalam!
88 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89 Yang Mana?
90 Selamat Istirahat
91 Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92 Anak Perempuan Ibu!
93 Ibu Gak Usah Khawatir
94 Rumah Baru
95 Perlu Dihangatkan Dulu
96 Capek Banget Ya?
97 Kangen
98 Mas Gavin!
99 Istriku Sudah Pulang Ternyata
100 Positif
101 Segera Menjadi Orang Tua
102 Cucu
103 Ada Apa Sayang?
104 Pelan-pelan Ya
105 Kita Jemput Anak Kita
106 Anak Kita
107 Braveindra Sagara
108 Perutku Jelek Sekarang
109 SELESAI
110 Cerita Baru - Cintai Aku
111 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Tidak Perlu Dilanjutkan
2
Ma!
3
Nyawanya Berharga!
4
Apa! Pengabdian?
5
Menolak?
6
Ingat Pesan Mama
7
Sudah Punya Pacar Belum?
8
Beda Dong!
9
Eh!
10
Syukurlah
11
Gavin...?
12
Pertemuan Pertama
13
Dokter Hazel!
14
Meminta Maaf?
15
Anda Tidak Perlu Khawatir
16
Hati-hati!
17
Aku Memang Tidak Tahu!
18
Sial?
19
Kamu Ikut?
20
Kapten Gavin!
21
Kamu Harus Sadar
22
Cocok Darimananya?
23
Saya Bisa Sendiri, Kapten
24
Saya Belum Punya Pacar
25
Kehilangan Keseimbangan
26
Fokus Pada Tugasmu
27
Maaf...
28
Si-Siapa Itu?
29
Ikut Saya Sebentar
30
Kamu Mau?
31
Bukanlah Hal Yang Sulit
32
Ayo Kita Semangat!
33
Siap, Kapten!
34
Romantis Banget!
35
Katakan!
36
Jujur Sama Saya!
37
Salah Paham Lagi
38
Tersenyum Penuh Misteri
39
Gavin!
40
Kenapa?
41
Dokter! Tolong, Dok!
42
Kondisinya Sudah Stabil
43
Aku Nggak Mau!
44
Pasangkan Untukku
45
Jangan Telat Makan!
46
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
47
Mama, Hazel Pulang
48
Bagaimana Kelanjutannya?
49
Diam Kamu!
50
Menikah?
51
Aku Sudah Berjanji
52
Tanya Soal Apa?
53
Saya Sudah Punya Pacar
54
Halo? Gavin!
55
Itu Pesawatnya!
56
Abang!
57
Ma! Tolong buka, Ma!
58
Gavin... Tolong Aku
59
Kamu...
60
Ternyata Dunia Sekecil Ini
61
Cincinnya Bagus!
62
Lalu?
63
Jemput Calon Istriku
64
Ini... Hazel, Kan?
65
Abang... Ini Siapa?
66
Ada Apa Memangnya?
67
Jangan Terlalu Dipikirkan
68
Teman Dokter?
69
Dua Pilihan
70
Ibu Merestui Hubungan Kita
71
Urusan Penting Apa?
72
Meminang Hazel
73
Dua Bulan?
74
Heboh
75
Kebaya Pernikahan Terbaik
76
Sudah Dibaca Surat Cintanya?
77
Gimana?
78
Sidang Prapernikahan
79
Selamat Untuk Gavin dan Hazel
80
I Love You
81
Demi Apa! Dokter Hazel!
82
Istri Gavin
83
Gimana Ini?
84
Pura-pura Tidur Ternyata
85
Rileks
86
Ini Semua Gara-gara Kamu
87
Aku Kunci Dari Dalam!
88
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
89
Yang Mana?
90
Selamat Istirahat
91
Tersenyum Penuh Kebahagiaan
92
Anak Perempuan Ibu!
93
Ibu Gak Usah Khawatir
94
Rumah Baru
95
Perlu Dihangatkan Dulu
96
Capek Banget Ya?
97
Kangen
98
Mas Gavin!
99
Istriku Sudah Pulang Ternyata
100
Positif
101
Segera Menjadi Orang Tua
102
Cucu
103
Ada Apa Sayang?
104
Pelan-pelan Ya
105
Kita Jemput Anak Kita
106
Anak Kita
107
Braveindra Sagara
108
Perutku Jelek Sekarang
109
SELESAI
110
Cerita Baru - Cintai Aku
111
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!