BAB 5

SELAMAT MEMBACA !!!

Luna bersama adik dan sahabatnya berada di mobil perjalanan ke arah rumah kakek Ilham. Tanpa sengaja Luna melihat ada dua anak kecil yang duduk di bawah pohon dengan baju yang sangat lusuh.

Luna menghentikan mobilnya secara mendadak dan itu membuat kedua orang yang didalam mobil kaget.

"Ada apa, Kak?" tanya Yana.

"Dek, lihat anak kecil itu yang dibawah pohon. Kasian sekali Dek, aku mau turun dulu ya," jawab Luna tanpa menunggu jawaban dari adik dan sahabatnya.

Luna berjalan menghampiri dua anak kecil itu. "Adik-adik lagi ngapain di sini?" tanya Luna dan itu membuat mereka berdua ketakutan.

"Jangan takut, Sayang. Kakak bukan orang jahat, perkenalkan Kakak namanya Luna. Adik kenapa disini ?" tanya Luna lagi.

"Kami lapar, Kak. Dari semalam belum makan," jawab polos anak yang kecil.

Deg jantung Luna sakit merasakan kemalangan kedua anak ini. "Kemana orang tua kalian, Dek?"

"Kami sudah nggak punya orang tua, Kak. Kami diusir paman kami sendiri, karena setelah meninggalnya kedua orang tua kami, mereka mengambil alih semua yang ditinggalkan kedua orang tua kami. Mereka jahat, Kak," jawab Kakaknya yang diperkirakan baru umur delapan tahun.

"Astagfirullah, ya Allah. Terus kalian mau kemana, Dek?" tanya Luna lagi.

Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunduk. Memang dia hidupnya juga di jalan nggak tau arah tujuan mereka.

Yana dan Sindy yang melihat Kakaknya berjongkok di depan kedua anak itu lama sekali, mereka turun dan menghampiri Luna dan kedua anak kecil itu.

Sang adik langsung memeluk tubuh kakaknya takut melihat kedatangan kedua orang yang berjalan ke arahnya.

"Jangan takut, Dek. Mereka adik dan sahabatnya Kakak. Kami bukan orang jahat," ucap Luna menenangkan mereka.

"Ada apa Lun?" tanya Sindy.

"Mereka anak yatim piatu yang diusir pamannya sendiri atas keserakahan mereka, kasian mereka kelaparan Sin. Apa sebaiknya kita bawa dulu ke rumahnya Kakek, untuk selanjutnya kita pikirkan nanti, Sin, Dek," ucap Luna meminta solusi ke mereka berdua.

"Astagfirullah, kasian sekali. Kok ada orang yang serakah kepada keluarganya sendiri dan ini kepada anak kecil, astagfirullah. Bawa saja ke rumah Kakek, Kak. Kasian mereka kelaparan dan sebaiknya kita belikan makanan dulu. Rumah Kakek masih satu jam an lagi, Kak!" seru Yana kepada kakaknya.

"Adik mau ikut sama kami? Kami akan membawa adik ke tempat Kakek kami. Jangan khawatir, Dek. Kami bukan orang jahat?" tanya Luna lagi.

Anak kecil itu saling pandang, " Ikut, Kakaknya saja ya , Kak. Adik lapar sudah nggak kuat untuk berjalan lagi hik, hik, hik," tangis anak yang kecil itu.

Dada Luna, Yana dan Sindy kayak di tusuk jarum yang sangat besar, nyeri banget. Luna mengusap rambutnya yang sudah kumal, mungkin nggak pernah mandi.

"Ayo ikut, Kakak. Kasian adik sudah lapar, nanti di jalan sana kalau ada warung, Kakak akan belikan makanan buat kalian. Yuk ikut ya, Kakak berjanji nggak akan menyakiti kalian berdua. Ikut ya, Dek !" bujuk Luna ke mereka berdua dan alhamdulillah mereka mau ikut dengan Luna.

Luna menggendong anak yang berumur lima tahun, jiwa dokter anaknya beraksi. Luna merasa sangat sedih sekali melihat anak yang diterlantarkan begini. Bagaimana ya kalau dirinya tau kalau sebenarnya dia juga anak panti.

           *********

"Yang duduk dipojok, memakai baju biru! Kalau boleh tau siapa namanya dan dari Divisi mana?" tanya Arya. Semua orang langsung menoleh ke pojokan dengan baju biru.

Orang yang dimaksud Arya mendongakan kepalanya.

"Maaf namanya saya Azizah dari Divisi keuangan, yang kebetulan Bu Salma nggak bisa ikut rapat hari ini, karena lagi sakit," jawab Azizah tanpa takut, karena memang dia nggak bersalah.

Arya tersenyum sedikit, nggak ada yang menyadarinya kecuali sang ayahnya. Dia belum pernah melihat putranya itu mau mengurusi hal sepele seperti ini.

"Baik, masih adakah yang mau kasih ide yang lain?" tanya Arya lagi ke petinggi Perusahaan.

"Kami setuju dengan yang di Villa, Tuan. Keamanannya buat keluarga juga lebih terjaga, kalau di pantai takutnya yang membawa anak kecil lebih berbahaya," ucap yang lain.

"Baik, berarti setuju yang di Villa. Untuk Divisi keuangan dan Divisi perencanaan mohon, untuk segela membuat proposal dan menjadi Villa yang aman buat rombongan karyawan Perusahaan!" perintah Arya kepada kepala Divisi yang sudah di tunjuk tadi.

"Baik, Tuan. Akan kami siapkan segera ," seru kepala Divisi perencaan.

Mereka pamit undur kembali ke ruangannya masing-masing. Arya sama Vindra ayahnya masih tetap tinggal diruangan itu.

"Siapa dia, Nak?" tanya Vindra kepada Putranya.

Arya menoleh kepada ayahnya bingung siapa yang dimaksud ayahnya.

"Siapa yang Daddy maksud?" tanya balik Arya bingung.

"Hahahaha, gadis yang pakai baju biru, yang bisa membuat putra Daddy tersenyum di area Perusahaan," jawab Vindra dengan tertawa.

"Hmmm...Dia teman aku waktu di SMP, Dad. Dia dulu pindah kemana nggak ada yang tau. Tapi sekarang dia muncul lagi di sini," jawab Arya sambil mengenang gadis yang dulu pernah dekat dengannya.

Vindra menganggukan kepalanya mengerti, dia tau bagaimana watak putranya. "Ya sudah, ditanya baik-baik tapi kok kayaknya dia nggak mengenal kamu, Nak. Yuk kembali keruangan!?"

\*\*\*\*\*\*\*

Di dalam mobil Luna kasih minum dan kue yang diberikan mommynya dulu.

"Dek, kalian makan kue ini dulu ya pelan-pelan. Dan ini minumnya ya, nanti kalau ada warung nasi, Kakak akan belikan nasi untuk kalian!" seru Luna kepada dua anak kecil yang baru duduk di kursi mobilnya. Sementara mobil dikendarai oleh Yana.

Mereka menganggukan kepalanya, "Terima kasih, Kakak," ucap mereka, Luna membantu membersihkan tangan mereka menggunakan tisu basah. Dan mereka memulai makan kue yang dibuat Freya untuk menemani perjalanan mereka.

Mobil mulai berjalan ke arah desa milik kakeknya. Yana membelokan mobilnya ke depan toko baju dan disebelahnya ada warung nasi.

"Kak, aku turun cari baju buat mereka. Dan Kakak beli nasinya, Mbak Sindy tunggu di mobil bersama mereka!" perintah Yana bagi tugas, takut kelamaan di jalan. Namanya Yana yang desainer pasti bisa memperkirakan ukuran baju buat mereka berdua.

"Sin! Mau dibelikan makanan nggak?" tanya Luna kepada sahabat itu.

"Nggak sah, aku mau makan di warungnya Tante Linda saja. Aku penasaran sama masakan desa yang enak, seperti yang kamu sering ceritakan ," jawab Sindy sudah nggak sabar ingin mencoba masakannya tantenya Luna.

Dua puluh menit kemudian Yana membawa dua kantong plastik besar di tangan kanan dan kirinya. Sindy berinisiatif membukakan bagasi belakang.

Luna juga bawa dua kantong plastik kecil dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

"Semua sudah siap untuk pulang ke Desa?" tanya Yana dengan penuh semangat.

Mereka hanya menganggukan kepalanya dengan tersenyum, dua anak kecil itu juga sekarang sudah nggak takut lagi sama mereka.

Terpopuler

Comments

Erna Fkpg

Erna Fkpg

emang didikan orang tua itu nomor satu untuk anak apa yg diajarkan dan tertanam dlm jiwa anak-anak maka anak akan mengikuti salut dengan jiwa Freya yg mempunyai sifat pengasih dan penyayang

2026-06-05

1

Sri Supriatin

Sri Supriatin

Wah jiwa anak2 Freya yg suka menolong 🙏🙏🙏 itu namanya tanam tuai 💪💪💪 kalau bc karyamu thor brebes mili mataku

2026-06-05

1

_Cherryl🍒

_Cherryl🍒

Bagaimana nanti kalau Luna sampai tau kalau dia dari panti. pasti sedih.

2026-07-18

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 PERKENALAN TOKOH
2 BAB 2 MISI PENYELIDIKAN
3 BAB 3 TERBONGKARNYA PERSELINGKUHAN
4 BAB 4
5 BAB 5
6 BAB 6
7 BAB 7
8 BAB 8 KETAKUTAN RENA
9 BAB 9 KAMAR KEBAHAGIAAN
10 BAB 10 KEKESALAN KAVINDRA
11 BAB 11 MENGAGUMI LUNA
12 BAB 12 DOKTER MIRA
13 BAB 13 BERTEMU DENGAN KELUARGA BESAR ADHITAMA
14 BAB 14 DIPINDAH TUGAS
15 BAB 15 BINTANG KECILKU
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20
21 BAB 21
22 BAB 22
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 BAB 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 BAB 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 59
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 BAB 61
63 BAB 62
64 BAB 63
65 BAB 64
66 BAB 65
67 BAB 66
68 BAB 67
69 BAB 68
70 BAB 69
71 BAB 70
72 BAB 71
73 BAB 72
74 BAB 73
75 BAB 74
76 BAB 75
77 BAB 76
78 BAB 77
79 BAB 78
80 BAB 79
81 BAB 80
82 BAB 81
83 BAB 82
84 BAB 83
85 BAB 84
86 BAB 85
87 BAB 86
88 BAB 87
89 BAB 88
90 BAB 89
91 BAB 90
92 BAB 91
93 BAB 92
94 BAB 93
Episodes

Updated 94 Episodes

1
BAB 1 PERKENALAN TOKOH
2
BAB 2 MISI PENYELIDIKAN
3
BAB 3 TERBONGKARNYA PERSELINGKUHAN
4
BAB 4
5
BAB 5
6
BAB 6
7
BAB 7
8
BAB 8 KETAKUTAN RENA
9
BAB 9 KAMAR KEBAHAGIAAN
10
BAB 10 KEKESALAN KAVINDRA
11
BAB 11 MENGAGUMI LUNA
12
BAB 12 DOKTER MIRA
13
BAB 13 BERTEMU DENGAN KELUARGA BESAR ADHITAMA
14
BAB 14 DIPINDAH TUGAS
15
BAB 15 BINTANG KECILKU
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20
21
BAB 21
22
BAB 22
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
BAB 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
BAB 41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 59
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
BAB 61
63
BAB 62
64
BAB 63
65
BAB 64
66
BAB 65
67
BAB 66
68
BAB 67
69
BAB 68
70
BAB 69
71
BAB 70
72
BAB 71
73
BAB 72
74
BAB 73
75
BAB 74
76
BAB 75
77
BAB 76
78
BAB 77
79
BAB 78
80
BAB 79
81
BAB 80
82
BAB 81
83
BAB 82
84
BAB 83
85
BAB 84
86
BAB 85
87
BAB 86
88
BAB 87
89
BAB 88
90
BAB 89
91
BAB 90
92
BAB 91
93
BAB 92
94
BAB 93

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!