Bab 02: Keluarga Ardion

Pagi di kediaman keluarga Ardion selalu dimulai suara kecil yang berlarian kesana kemari.

"Opaa pegi mana?" celetoh anak laki-laki berusia dua tahun.

"Opa mau pamit duluan, ya. Di kantor banyak kerjaan," jawab Ardion sambil menggendong cucunya.

"Keja, keja!"

Suara cempreng Renzino dari ruang makan.

Veyra baru saja turun dari tangga, lalu di susul Renzio yang memeluk kakinya.

"Mama!"

Veyra terkekeh kecil lalu mengangkat tubuh kecil putranya.

"Vey, Papa berangkat ya." Pamit Ardion sambil keluar dari ruang makan.

"Iya, Pah. Hati-hati." Jawab Veyra.

Tatapan Veyra langsung jatuh ke Renzio, ia menciumnya beberapa kali.

"Zio belum mandi ya?"

Anak kecil itu langsung menggeleng cepat sambil menyembunyikan wajah di leher ibunya.

"Gak mau ama, Mbak..."

"Terus maunya sama siapa?"

"Ama Papa."

Baru saja kalimat itu selesai... seseorang muncul dari arah ruang kerja sambil menggulung lengan kemeja putihnya.

"Siapa yang nyari Papa?"

Renzio langsung tertawa kecil. "Papaa!"

Alvero membawa anaknya dari pangkuan Veyra. Mengecup pipi anak itu berkali-kali sampai Renzio tertawa geli.

Veyra memperhatikan itu sambil tersenyum kecil. Pemandangan ini sudah menjadi favoritnya setiap pagi.

"Katanya gak mau mandi kalau sama, Mbak. Maunya sama Papa," ujar Veyra.

Alvero langsung mengangguk serius. "Oke, sebelum Papa berangkat. Papa siap bertugas memandikan Tuan muda."

Renzio tertawa sedikit lebih keras. "Papa ucuuu!"

"Papa emang lucu."

"Nggak," sahut Veyra cepat. "Papa kamu nyebelin."

"Loh..."

Belum sempat Alvero membela diri, suara Serena langsung terdengar dari arah dapur.

"Jangan ribut pagi-pagi. Mama pusing dengernya."

Serena tersenyum hangat sambil membawa sarapan ke meja makan. Tatapan wanita paruh baya itu jatuh pada Veyra beberapa detik. Ada lingkar hitam halus di kantung mata menantunya.

"Semalam kurang tidur lagi ya?"

Veyra mengangguk sambil tersenyum kecil. "Zio bangun jam dua pagi." Bibir Veyra seketika mengerucut.

"Zio kenapa bobonya gak nyenyak? Kasihan Mamanya jadi kurang tidur."

Renzio hanya menggeleng. Seolah memberi jawaban tidak tahu.

Setelah itu, Alvero pergi sambil membawa Renzio untuk dimandikan. Veyra dan Serena sarapan lebih dulu.

Suasana pagi hari di rumah itu selalu hangat, dipenuhi tawa dan ocehan dari Renzio. Bahkan semuanya terasa begitu tenang dan damai.

Serena yang tak banyak menghakimi atau ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Justru, dia selalu memperhatikan kesehatan Veyra. Selalu memastikan Veyra tidur nyenyak, makan lahap, dan tidak kecapean dalam hal apapun.

Dan bagi Veyra, itu semua adalah keberuntungan yang berhasil ia dapatkan. Memiliki ibu mertua seperti Serena, dan suami yang penuh kasih sayang, tanggung jawab seperti Alvero.

Di luar, matahari mulai naik ke tengah langit. Membuat hawa panas yang bikin gerah. Kontras dengan suasana di dalam kantor yang terasa sejuk karena pendingin ruangan.

Dari lorong menuju ruangan Alvero, Regan menenteng dua kantong cukup penuh. Wajahnya selalu tersenyum. Selalu menyapa siapapun yang berpapasan dengannya.

Di depan pintu, Regan menaruh satu kantong. Lalu mengetuk pintu.

"Alvero, buka pintunya!"

Sementara di dalam ruangan, Alvero mendengar samar suara yang begitu ia kenal. Tapi ia tak langsung membuka pintu, membiarkannya cukup lama.

Suara ketukan terus berlanjut, bahkan sekarang ketukan itu tanpa jeda. Membuat Alvero menarik napas, lalu menahannya sebentar.

"Ada apa lagi?" gumamnya sambil menutup telinganya.

Semakin dibiarkan, semakin kencang juga ketukannya. Membuat Alvero akhirnya membuka pintu.

Ia mematung satu detik, satu tangan dimasukan ke saku. Matanya menatap Regan dengan pasrah.

"Apa tidak ada tempat makan yang nyaman selain di ruanganku?"

Regan nyengir lebar. Lalu menggeleng cepat. "Tidak ada. Ruangan ini bahkan lebih nyaman dari hotel berbintang delapan."

Ia meraih satu kantong, lalu menerobos masuk. Alvero memijat pelipisnya. Ia kembali menutup pintu, dan duduk di kursinya.

Regan tengah sibuk menata makanan di atas meja. Dua burger, satu kentang goreng berukuran besar. Dua kotak pastry, rice bowl Jepang dan donat campur seabrek.

Dua iced americano, satunya. Ia simpan di meja kerja Alvero.

"Kalau kamu mati gara-gara ngurus laporan keuangan. Dady bisa marah besar."

Alvero menatap kopi itu, tatapannya kini mengikuti langkah Regan yang duduk di sofa dengan santai.

Aroma makanan di atas meja langsung menusuk ke penciuman Alvero. Yang berhasil mengundang rasa lapar.

"Kenapa cuma bengong? Kamu nggak ngiler?" tanya Regan dengan mulut penuh burger.

Alvero akhirnya tersenyum kecil, ia ikut duduk di sebelah Regan. Dan ikut menikmati makanan yang Regan bawa.

Itu bukan pertama kalinya Regan membawa makanan seabrek. Sering juga, Regan traktir seluruh karyawan kantor.

Dan itu jadi salah satu alasan, kenapa para karyawan menyukainya.

"Regan, kamu lupa? Tuan Raymond mengirimmu kesini untuk belajar, bukan untuk liburan!"

"Aku selalu ingat, Pak Direktur. Nanti aku akan belajar, sekarang makan dulu."

Mendengar jawaban Regan, Alvero hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

Setelah menghabiskan satu burger dan satu kotak pastry. Alvero kembali duduk di kursi kerjanya.

Ia menatap Regan sejenak. "Kalau tidak ingin aku usir, jangan ganggu. Kerjaanku masih banyak."

"Apakah sebanyak uangku yang tidak akan habis, Al?"

Alvero terkekeh, tak menjawab ocehan Regan yang mulai ngawur. Jemarinya kembali bergerak lincah di atas keyboard.

Beberapa menit, Regan nurut. Duduk diam dan hanya memainkan ponsel. Tapi semua itu tidak bertahan sampai satu jam.

Regan bangun dari duduknya, awalnya hanya berdiri di belakang Alvero. Memainkan rambutnya, niup lehernya, sampai akhirnya memutar kursi kerja yang diduduki Alvero. Membuat tubuh Alvero ikut berputar.

"Regan, diem!" bentak Alvero.

"Di ruangan ini terlalu kaku, Al. Apa kamu tidak bosan hanya berhadapan dengan laptop saja?"

Bukannya diam, Regan malah beralih ke samping meja. Menatap layar laptop dari jarak dekat.

"Al, kenapa kopinya belum kamu minum?" Regan mengangkat iced americano.

"Awas tumpah!" Kata Alvaro tanpa menoleh.

Regan mengangguk, kembali menyimpan minuman itu. Ia hendak kembali ke sofa, tapi entah bagaimana bisa tangannya menyenggol cup minuman itu.

Cairan kopi dingin meluber di atas meja, Alvero refleks angkat laptopnya. Regan mematung dengan mulut terbuka.

"Regan!" teriak Alvero. Matanya terbelalak saat melihat map merah sudah basah kuyup.

"Keluar!!" Alvero nunjuk ke arah pintu.

"Al, aku nggak sengaja." Regan nyengir kikuk.

"Aku udah bilang, Regan. Kalau mau di sini jangan ganggu. Berkas itu untuk meeting besok sore."

Alvero mengangkat berkas itu yang sekarang sudah bau kopi.

"Malam ini kamu lembur, tanggung jawab. Catat ulang semua isinya."

Regan membuang napas pasrah. "Kenapa gak di fotocopy aja?"

Alvero mendecak. "Hasilnya gak akan sebagus di print langsung, Regan."

Tatapan Alvero berubah kesal, ingin rasanya dia marah. Memaki-maki pria di dekatnya. Tapi kenyataan menyadarkan Alvero. Regan anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja sekarang.

Terpopuler

Comments

Renarenn

Renarenn

sabar Alvero...sejauh ini aku benar-benar di pihak muuuuuu!/Whimper//Whimper/

2026-08-18

1

mama Al

mama Al

apa itu perusahaan milik orangtuanya Regan?

2026-07-08

2

Nyai Aksara 👩‍🦯

Nyai Aksara 👩‍🦯

kayak bocil yang pengen di perhatiin

2026-07-09

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 01: Kabur Saat Meeting
2 Bab 02: Keluarga Ardion
3 Bab 03: Anak Spesial
4 Bab 04: Hukuman Regan
5 Bab 05: Negosiasi
6 Bab 06: Pamit Pulang
7 Bab 07: Anak Mamy
8 Bab 08: Salah Kirim File
9 Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10 Bab 10: Kepercayaan
11 Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12 Bab 12: Nyari Sarang
13 Bab 13: Puncak Dan Playground
14 Bab 14: Kecewa Lagi
15 Bab 15: Mulai Dari Mana
16 Bab 16: Mendadak Asing
17 Bab 17: Hanya Satu Kata
18 Bab 18: Mulai Goyah
19 Bab 19: Aku Masih Normal
20 Bab 20: Seorang Gay
21 Bab 21: Bikin Terbiasa
22 Bab 22: Seperti Hantaran
23 Bab 23: Perjaka Murni
24 Bab 24: Berusaha Profesional
25 Bab 25: Mau Pulang
26 Bab 26: Pengaruh Alkohol
27 Bab 27: Antre Protes
28 Bab 28: Rumah Veyra
29 Bab 29: Menentang Takdir
30 Bab 30: Jarak Yang Nyata
31 Bab 31: Ziarah
32 Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33 Bab 33: Target Pertama
34 Bab 34: Persentasi
35 Bab 35: Mulai Gengsi
36 Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37 Bab 37: Bermain Lego
38 Bab 38: Janji Dengan Renzio
39 Bab 39: Pasar Malam
40 Bab 40: Calon Investor
41 Bab 41: Perasaan Aneh
42 Bab 42: Bukan Salah Kamu
43 Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44 Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45 Bab 45: Inisiatif
46 Bab 46: Calon Mantu
47 Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48 Bab 48: Kesalahpahaman
49 Bab 49: Solusi Dari Regan
50 Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51 Bab 51: Klarifikasi
52 Bab 52: Hilang Kabar
53 Bab 53: Regan Sakit
54 Bab 54: Rasa Bersalah
55 Bab 55: Kondisinya Membaik
56 Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57 Bab 57: Cuma Hampir Mati
58 Bab 58: Penolakan Halus
59 Bab 59: Investor Ke Dua
60 Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61 Bab 61: Tidak Punya Alasan
62 Bab 62: Perasaan Yang Berat
63 Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64 Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65 Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66 Bab 66: Bukan Soal Harga
67 Bab 67: Bertemu Teman Lama
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 01: Kabur Saat Meeting
2
Bab 02: Keluarga Ardion
3
Bab 03: Anak Spesial
4
Bab 04: Hukuman Regan
5
Bab 05: Negosiasi
6
Bab 06: Pamit Pulang
7
Bab 07: Anak Mamy
8
Bab 08: Salah Kirim File
9
Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10
Bab 10: Kepercayaan
11
Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12
Bab 12: Nyari Sarang
13
Bab 13: Puncak Dan Playground
14
Bab 14: Kecewa Lagi
15
Bab 15: Mulai Dari Mana
16
Bab 16: Mendadak Asing
17
Bab 17: Hanya Satu Kata
18
Bab 18: Mulai Goyah
19
Bab 19: Aku Masih Normal
20
Bab 20: Seorang Gay
21
Bab 21: Bikin Terbiasa
22
Bab 22: Seperti Hantaran
23
Bab 23: Perjaka Murni
24
Bab 24: Berusaha Profesional
25
Bab 25: Mau Pulang
26
Bab 26: Pengaruh Alkohol
27
Bab 27: Antre Protes
28
Bab 28: Rumah Veyra
29
Bab 29: Menentang Takdir
30
Bab 30: Jarak Yang Nyata
31
Bab 31: Ziarah
32
Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33
Bab 33: Target Pertama
34
Bab 34: Persentasi
35
Bab 35: Mulai Gengsi
36
Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37
Bab 37: Bermain Lego
38
Bab 38: Janji Dengan Renzio
39
Bab 39: Pasar Malam
40
Bab 40: Calon Investor
41
Bab 41: Perasaan Aneh
42
Bab 42: Bukan Salah Kamu
43
Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44
Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45
Bab 45: Inisiatif
46
Bab 46: Calon Mantu
47
Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48
Bab 48: Kesalahpahaman
49
Bab 49: Solusi Dari Regan
50
Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51
Bab 51: Klarifikasi
52
Bab 52: Hilang Kabar
53
Bab 53: Regan Sakit
54
Bab 54: Rasa Bersalah
55
Bab 55: Kondisinya Membaik
56
Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57
Bab 57: Cuma Hampir Mati
58
Bab 58: Penolakan Halus
59
Bab 59: Investor Ke Dua
60
Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61
Bab 61: Tidak Punya Alasan
62
Bab 62: Perasaan Yang Berat
63
Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64
Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65
Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66
Bab 66: Bukan Soal Harga
67
Bab 67: Bertemu Teman Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!