Bab 03: Anak Spesial

Langit sudah mulai abu-abu tua, langkah orang-orang bersahutan dengan suara mesin mobil di area parkiran kantor.

"Aku minta Kamu buat tanggung jawab, Regan." Alvero berdiri dekat pintu mobil miliknya.

"Iya, akan aku catat ulang semua isi berkas itu." Jawab Regan santai, tubuhnya bersandar ke mobil.

Alvero tak langsung menjawab, ia menatap Regan dengan sorot yang sudah lelah. "Terus... kenapa kamu mengikutiku?"

Regan nyengir kecil, tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Aku gak mau lembur di kantor."

Alis Alvero bertaut, seolah menunggu kelanjutan ucapan rekan kerjanya itu. Lebih tepatnya, calon CEO yang lagi malas-malasan mengurus perusahaannya.

Regan menghela napas. "Kalau di rumahmu bagaimana, Al?"

Alvero terkekeh getir, pundaknya terasa berat. Aroma knalpot dan suara klakson membuat kepalanya semakin pening. Apalagi harus menghadapi Regan yang menyebalkan.

"Tidak mau gak papa," lanjut Regan. "Aku gak akan mengerjakannya sama sekali. Meeting besok urusanmu." Regan pergi dari hadapan Alvero. Tapi langkahnya dibuat lambat.

"Oke!"

Sesuai harapan Regan, suara Alvero kini menghentikannya. Regan langsung berbalik, alisnya mengernyit. "Kenapa gak dari tadi, Pak Direktur."

Regan langsung masuk ke kursi belakang. Sementara Alvero memijat pelan pelipisnya, sebelum duduk di kursi kemudi.

Jalanan menjelang malam kota Jakarta sedikit macet. Di dalam mobil, Regan duduk bersandar, tangan melingkar depan dada. Sementara Alvero meliriknya sesekali melalui kaca di depannya.

"Al, di supermarket depan berhenti dulu. Aku butuh banyak makanan." Ucapnya pelan.

Alvero hanya mendengus. Ia rasa hari ini Regan sangat menyebalkan. Ingin sesekali menghindarinya, tapi tak bisa. Semesta seolah sengaja mengirim Regan, untuk Alvero yang selalu serius bekerja.

Walaupun begitu, Alvero tetap menuruti apa yang Regan minta. Ia menepikan mobilnya di depan supermarket, mobil berhenti tapi mesin masih menyala.

"Regan, jangan lama-lama. Aku udah mau istirahat."

"Iya bawel," jawab Regan sambil keluar dari dalam mobil.

Setelah dipastikan Regan sudah jauh, Alvero menyalakan musik dari speaker mobil. Tubuhnya bersandar. Tangannya melingkar depan dada. Lalu, ia memejamkan matanya. Tidak ingin menyia-nyiakan kepergian Regan yang hanya sesaat itu, untuk merasa sedikit lebih tenang.

Sudah hampir dua puluh menit Regan pergi, sekarang dia kembali. Membuka pintu mobil, memasukan dua totebag yang isinya penuh makanan. Lalu, disusul dirinya.

"Udah, ayok jalan."

Tak ada reaksi. Tak ada jawaban. Kepala Regan nyembul dari belakang, menolah ke Alvero yang sudah tertidur lelap. Helaan napasnya terdengar stabil.

"Kasihan sekali kamu, Al," gumamnya. "Tapi gimana caranya aku mengambil alih stir, kalau kamu tidur di sana."

"Alvero," bisik Regan pelan.

Tangan Regan kini terulur ke atas stir mobil, lalu... Tiinn!!!

Suara klakson begitu nyaring, membuat Alvero terlonjak, ia reflek menginjak rem dan meraih stir. Napasnya terengah-engah.

Satu detik. Akhirnya Alvero ingat, dia langsung menoleh ke sampingnya. Regan sudah nyengir lebar, sekaligus menahan tawa agar tidak pecah. Alvero menghela napas panjang, campuran antara lega sekaligus kesal setengah mati.

"Kamu gak bisa bangunin dengan cara normal, Regan?" Suara Alvero sedikit meninggi. Matanya merah.

Melihat tatapan Alvero, senyum Regan langsung lenyap. Bibirnya mengatup rapat. "Maaf," katanya lirih. "Harusnya aku tidak bercanda saat kamu istirahat."

Melihat sorot mata Regan yang bersalah, Alvero hanya mengangguk. Lalu kembali melajukan mobilnya.

"Alvero, coba makan ini." Regan memberikan permen cokelat kecil. "Aku benar-benar minta maaf."

"Sudahlah. Aku juga salah tidur di mobil," jawab Alvero. Matanya melihat Regan dari kaca di depannya.

Alvero menggeleng, ia tahu Regan seusia dengannya. Tapi kenapa tingkah laku Regan seperti anak yang jauh lebih muda darinya. Alvero menatap Regan lagi, ada beberapa pertanyaan yang terbesit di kepalanya. 'Apakah anak remaja bertingkah seperti Regan? Atau jangan-jangan... Regan anak spesial?'

Ia cepat-cepat sadar. Tangannya pura-pura mengusap hidung, hanya untuk menutupi senyum tipis yang muncul.

Setelah beberapa menit, mobil Alvero masuk ke satu halaman rumah mewah. Lampu teras sudah menyala.

Alvero turun lebih dulu, lalu di susul Regan. Kedua tangannya heboh dengan tentengan yang ia bawa.

"Al, kamu gak punya inisiatif buat bantu aku?" Teriak kecil Regan.

Alvero berbalik sebentar. "Aku gak nyuruh kamu bawa makanan."

Regan mendecak, tatapannya berubah sinis. "Buat jagoan kecil aku lah."

Alvero membuka pintu pelan, aroma lavender yang khas di ruang tamu langsung menyambutnya. Regan mengekor di belakangnya.

"Zioo, Om Egan datang!" Suara Regan memenuhi ruangan. Jalannya cepat, mendahului langkah Alvero.

Begitu Regan muncul dari ruang tamu, semua mata langsung menoleh. Suara siaran anak-anak di televisi memenuhi ruang keluarga. Renzio langsung bangun, berlari kecil memeluk kaki Regan.

"Om Egan, bawa apa?" Celetoh anak laki-laki itu.

Regan langsung jongkok, tangannya mencubit gemas pipi gembul Renzio.

"Om bawain cemilan buat kamu," jawab Regan dengan senyum lebarnya, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Renzio. "Sama bawain mainan juga." Bisiknya, seolah menjaga rahasia.

"Mainan, mana? Aku mauu," Renzio melompat kecil.

Alvero masih berdiri di belakang Regan, seperti menunggu sebutan Renzio selanjutnya. Tapi tak ada, anak itu hanya fokus pada Regan sekarang.

"Zio, Papa dibiarin, nih?" tanya Alvero akhirnya.

Renzio mendongak. "Papa," katanya singkat.

"Regan, bawain mainan lagi?" Tanya Serena sambil mendekat.

"Iya Tante, cuma mobil-mobilan kecil kok." Regan kembali berdiri, setelah memberikan satu mobil kecil ke Renzino.

Setelah menerima mainan, Renzio kembali berlari menghampiri Veyra yang duduk di sofa.

"Ayok duduk," ajak Serena.

"Mau ngopi?" Tawar Ardion yang dari tadi hanya diam.

"Nanti aja, Om. Aku juga bawa banyak makanan buat temen nonton." Regan mengeluarkan semua makanan di dalam totebag.

Donat kecil karakter, dimsum mentai, chiken garage dan soft cafe caramel. Aromanya naik bercampur ke udara.

"Aku juga bawain dimsum mentai kesukaannya istri, Pak Direktur," kata Regan sambil mendongak menatap Alvero.

Alvero terkekeh. "Aku mandi dulu, udah lengket banget ini badan."

"Iya, Mas. Abis mandi makan ya." Veyra mengelus lengan suaminya.

Alvero tersenyum lembut, mengelus kepala Veyra sebelum akhirnya ia pergi ke kamarnya.

"Zio, makan donatnya sayang. Lucu kan, ada karakter princessmya tuh." Regan nunjuk ke salah satu donat.

Veyra menepis tangan Regan. "Enak aja, Zio itu cowok, mana ada suka princess."

Serena yang tengah mengunyah chiken garage langsung tertawa kecil, di susul tawa dari Ardion.

Ardion meraih satu cup soft cake caramel, begitu dibuka. Aroma itu seharusnya tercium menggiurkan. Tapi tidak untuk Veyra.

Aroma yang biasanya enak, kali ini seolah asing. Perutnya tiba-tiba melilit, rasa mual menjalar ke tenggorokannya.

Veyra berusaha menahan, wajahnya perlahan memucat. Regan yang duduk di sofa sebelahnya, langsung menyadari perubahan ekspresi pada Veyra.

"Vey, kamu baik-baik aja, kan?" Tanyanya, membuat Serena dan Ardion ikut menatap Veyra.

Veyra mengangguk, bibirnya dipaksa tersenyum. "Aku baik-baik aja..." Tapi begitu ia buka mulut, rasa mual itu justru semakin kuat. "Huweekk!!"

"Papa maaf," ucap Veyra sambil bangun dari duduknya, berlari cepat ke toilet.

Regan menatap lorong dapur, gerakan mengunyah seketika melambat, ada gurat khawatir halus di hatinya.

"Veyra kenapa?" gumamnya, tapi masih bisa di dengar.

"Kayaknya cuma masuk angin." Jawab Serena, walaupun sebenarnya ia juga merasa khawatir.

"Om, Mama, joyok. Mau muntah," celoteh Renzio sambil duduk di pangkuan Regan.

"Mama kamu lagi kurang enak badan." Regan terus mencium pucuk kepala anak itu.

Terpopuler

Comments

THE GIRL COOL😑

THE GIRL COOL😑

yahhhh ini mah hamil... aduhhhh semoga cuma asam lambung bukan hamillllll wuaaa kalau hamil gawat😭

2026-08-20

1

Addb_Rh

Addb_Rh

Regan... lu ngapain caper ke anak vreya mulu.. modus nih lama-lama.

vreya muntah napa, hamidun lagi kah

2026-06-06

1

Laila Sarifah

Laila Sarifah

Nyebelin banget Regan. Kalau aku jadi Alvero, udah aku keplak tuh kepalanya!😬

2026-06-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01: Kabur Saat Meeting
2 Bab 02: Keluarga Ardion
3 Bab 03: Anak Spesial
4 Bab 04: Hukuman Regan
5 Bab 05: Negosiasi
6 Bab 06: Pamit Pulang
7 Bab 07: Anak Mamy
8 Bab 08: Salah Kirim File
9 Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10 Bab 10: Kepercayaan
11 Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12 Bab 12: Nyari Sarang
13 Bab 13: Puncak Dan Playground
14 Bab 14: Kecewa Lagi
15 Bab 15: Mulai Dari Mana
16 Bab 16: Mendadak Asing
17 Bab 17: Hanya Satu Kata
18 Bab 18: Mulai Goyah
19 Bab 19: Aku Masih Normal
20 Bab 20: Seorang Gay
21 Bab 21: Bikin Terbiasa
22 Bab 22: Seperti Hantaran
23 Bab 23: Perjaka Murni
24 Bab 24: Berusaha Profesional
25 Bab 25: Mau Pulang
26 Bab 26: Pengaruh Alkohol
27 Bab 27: Antre Protes
28 Bab 28: Rumah Veyra
29 Bab 29: Menentang Takdir
30 Bab 30: Jarak Yang Nyata
31 Bab 31: Ziarah
32 Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33 Bab 33: Target Pertama
34 Bab 34: Persentasi
35 Bab 35: Mulai Gengsi
36 Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37 Bab 37: Bermain Lego
38 Bab 38: Janji Dengan Renzio
39 Bab 39: Pasar Malam
40 Bab 40: Calon Investor
41 Bab 41: Perasaan Aneh
42 Bab 42: Bukan Salah Kamu
43 Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44 Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45 Bab 45: Inisiatif
46 Bab 46: Calon Mantu
47 Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48 Bab 48: Kesalahpahaman
49 Bab 49: Solusi Dari Regan
50 Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51 Bab 51: Klarifikasi
52 Bab 52: Hilang Kabar
53 Bab 53: Regan Sakit
54 Bab 54: Rasa Bersalah
55 Bab 55: Kondisinya Membaik
56 Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57 Bab 57: Cuma Hampir Mati
58 Bab 58: Penolakan Halus
59 Bab 59: Investor Ke Dua
60 Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61 Bab 61: Tidak Punya Alasan
62 Bab 62: Perasaan Yang Berat
63 Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64 Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65 Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66 Bab 66: Bukan Soal Harga
67 Bab 67: Bertemu Teman Lama
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 01: Kabur Saat Meeting
2
Bab 02: Keluarga Ardion
3
Bab 03: Anak Spesial
4
Bab 04: Hukuman Regan
5
Bab 05: Negosiasi
6
Bab 06: Pamit Pulang
7
Bab 07: Anak Mamy
8
Bab 08: Salah Kirim File
9
Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10
Bab 10: Kepercayaan
11
Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12
Bab 12: Nyari Sarang
13
Bab 13: Puncak Dan Playground
14
Bab 14: Kecewa Lagi
15
Bab 15: Mulai Dari Mana
16
Bab 16: Mendadak Asing
17
Bab 17: Hanya Satu Kata
18
Bab 18: Mulai Goyah
19
Bab 19: Aku Masih Normal
20
Bab 20: Seorang Gay
21
Bab 21: Bikin Terbiasa
22
Bab 22: Seperti Hantaran
23
Bab 23: Perjaka Murni
24
Bab 24: Berusaha Profesional
25
Bab 25: Mau Pulang
26
Bab 26: Pengaruh Alkohol
27
Bab 27: Antre Protes
28
Bab 28: Rumah Veyra
29
Bab 29: Menentang Takdir
30
Bab 30: Jarak Yang Nyata
31
Bab 31: Ziarah
32
Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33
Bab 33: Target Pertama
34
Bab 34: Persentasi
35
Bab 35: Mulai Gengsi
36
Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37
Bab 37: Bermain Lego
38
Bab 38: Janji Dengan Renzio
39
Bab 39: Pasar Malam
40
Bab 40: Calon Investor
41
Bab 41: Perasaan Aneh
42
Bab 42: Bukan Salah Kamu
43
Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44
Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45
Bab 45: Inisiatif
46
Bab 46: Calon Mantu
47
Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48
Bab 48: Kesalahpahaman
49
Bab 49: Solusi Dari Regan
50
Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51
Bab 51: Klarifikasi
52
Bab 52: Hilang Kabar
53
Bab 53: Regan Sakit
54
Bab 54: Rasa Bersalah
55
Bab 55: Kondisinya Membaik
56
Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57
Bab 57: Cuma Hampir Mati
58
Bab 58: Penolakan Halus
59
Bab 59: Investor Ke Dua
60
Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61
Bab 61: Tidak Punya Alasan
62
Bab 62: Perasaan Yang Berat
63
Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64
Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65
Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66
Bab 66: Bukan Soal Harga
67
Bab 67: Bertemu Teman Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!