Bab 05: Negosiasi

Di rumah besar keluarga Ardion, pagi itu semua orang sudah sibuk dengan urusannya masing-masing.

Ardion yang selalu pergi paling awal. Di susul Alvero, dan bahkan Serena pun hari ini ikut pergi untuk arisan bulanan.

"Pagi-pagi udah pada heboh," gumam Veyra sambil meringkuk di sudut sofa.

Ia baru saja bangun, masih terus nguap kecil berkali-kali. Pandangannya masih kosong saat tatapannya jatuh ke lantai.

"Mama, Mama," suara Renzio membuat lamunan Veyra buyar.

Ia tersenyum ke arah anaknya yang di gendong Mbak Rini. "Hai jagoan, Mama. Udah bangun," Veyra mencium pipi anaknya.

"Hari ini mandinya sama, Mbak ya. Papa udah berangkat," kata Veyra.

Sudah dua hari ini Renzio menolak untuk dimandikan pengasuhnya. Tempo hari, Renzio tersedak saat keramas. Dan sampai hari ini, ia masih ngambek sama pengasuhnya itu.

"Ama, Mama aja!" Celetoh Renzio.

"No! Mama mandinya pengen nyantai. Kamu bisa masuk angin kalau mandi sama, Mama." Jawab Veyra sambil manyun dramatis.

"Zio, sama Mbak aja, ya. Hari ini kan gak keramas," ucap Mbak Rini, mencoba membujuk Renzio.

"No, no," Renzio menggeleng cepat.

"Zio, jangan gitu dong. Mama mau berendam santai," rengek Veyra, seolah anak itu akan mengerti.

Dari arah tangga, suara langkah terdengar mendekat. Membuat Veyra menoleh.

"Om Egan!" teriak Renzio, tubuhnya berontak kecil di pangkuan. Mbak Rini langsung menurunkannya.

"Hai jagoan." Regan mencolek hidungnya. "Om denger kamu gak mau mandi, ya?"

Renzio mengangguk. "Takut."

"Gak perlu takut, Mbak kan gak sengaja. Tapi sekarang... Zio mandinya sama Om Egan dulu, gimana?"

"Ayo!"

"Tapi kamu bakal telat ke kantor, Regan." Cegah Veyra.

"Santai aja gak sih, lagian aku belum bisa apa-apa hari ini." Jawab Regan sambil melangkah pergi. "Ayo kita mandii!"

Suara tawa kecil Renzio memenuhi ruangan.

Veyra kembali meringkuk di sofa, sementara Mbak Rini naik ke lantai atas. Menyiapkan baju Renzio.

Dari kamar mandi belakang, suara tawa Renzio terdengar lepas. Bercampur dengan suara air mengalir dari keran.

Di celah pintu yang sedikit terbuka, Veyra ngintip. Senyum di wajahnya mengembang begitu saja. Di saat seperti ini, Regan terlihat seperti seseorang yang serius. Tingkah randomnya itu seperti menghilang entah kemana.

Regan meniup pelan busa sabun di tangannya, membuat Renzio tertawa girang.

Tawa mereka berbaur, membuat dada Veyra sedikit menghangat.

"Kenapa dia belum mau menikah, ya?" Gumam Veyra pelan. Ia kembali nutup pintu. lalu melangkah ke dapur.

Setelah itu, Veyra mengambil sereal dan susu di dalam kulkas. Di ruang makan hanya dia sendiri, ada beberapa buah-buahan dan sanwidch sisa sarapan di meja.

Setelah beberapa menit, Regan selesai memandikan Renzio. Dan tugas memakaikan baju kembali di pegang oleh Mbak Rini.

"Bi Alin!" Teriak Regan dari kamar mandi. Beberapa detik, tak ada jawaban.

"Bi, aku mau minta tolong!" Teriknya lagi. Tapi tetap tidak ada yang menjawab.

Regan membuang napas kasar. "Masa harus basah-basahan ke rumah. Kasihan Bi Alin."

"Bi Alin!"

"Ada apa, Regan?" Tanya Veyra. "Bi Alin lagi bersihin halaman depan."

"Vey, celana aku basah kuyup. Aku pinjam baju suamimu, boleh?" Regan mengedipkan matanya.

"Yaudah tunggu!" Veyra pergi dari sana.

Beberapa menit berlalu, Regan sudah duduk santai di ruang makan. Mengenakan kemeja putih, dan celana panjang hitam. Rambutnya sedikit berantakan, tapi entah kenapa membuat Regan terlihat... satu tingkat lebih tampan.

Di seberangnya, Veyra duduk sambil memperhatikan Regan yang tengah makan sandwich.

Menyadari hal itu, Regan menaik-turunkan alisnya. "Jangan sampai kamu tergoda sama aku, Veyra."

Veyra mendecak. "Jangan terlalu percaya diri." Ia bangun dari duduknya, membantu Bi Alin menyiapkan bahan untuk masak.

Setelah semuanya selesai, Bi Alin memasukkan irisan bawang putih dan bawang merah ke dalam wajan. Asap tipis mengepul ke udara, aroma bawang mulai menyebar.

Tapi Veyra, ia mematung satu detik. Merasakan mual yang kembali menjalar ke tenggorokannya.

Veyra langsung berlari ke kamar mandi. Suara muntahnya membuat Regan dan Bi Alin saling pandang, lalu menyusul Veyra.

"Veyra, kamu sakit?" Tanya Bi Alin, sambil memijat leher belakang Veyra.

"Aku tiba-tiba mual, Bi."

"Veyra, dari semalam kamu mual. Sebaiknya kita periksa sekarang, jangan dibiarkan," sahut Regan dari arah pintu.

"Bilang Mas Al, dulu."

"Nanti aku kabarin dia setelah kita jalan ke rumah sakit."

Veyra akhirnya setuju. Regan membantu Veyra berjalan dan masuk ke mobil.

Di dalam mobil, Veyra hanya diam. Menahan rasa mual yang masih kuat. Wajahnya memucat, tangannya dingin.

Regan terus menoleh ke arahnya. "Kamu gak bilang ke Alvero, kalau kamu lagi kurang sehat hari ini?"

Veyra hanya menggeleng.

"Kenapa? Kalau kamu kurang fit, dan lagi butuh ditemani. Kamu bilang aja, aku bisa handle kerjaan dia sementara."

Tak ada jawaban, ucapan Regan tidak benar-benar Veyra dengar. Ia hanya terus menahan mual dan kram yang kembali sakit di perutnya.

Setibanya di rumah sakit, Regan langsung meminta tolong ke petugas. Dengan cepat mereka langsung menangani Veyra.

Dan tak lama, mobil Alvero juga baru saja datang. Alvero turun cepat, berlari menyusul Regan.

"Regan!" Teriak Alvero di lorong rumah sakit.

Langkah Regan berhenti, ia menoleh. "Al, Veyra lagi ditangani."

"Dia kenapa?" Tanya Alvero dengan napas terengah.

"Aku gak tahu, dia muntah-muntah gitu aja."

Alvero menarik napas panjang. Tangannya menarik rambutnya sendiri. "Bentar lagi aku harus meeting. Klien gak mau sore."

"Kamu pantau aja kondisi Veyra. Meeting kali ini biar aku yang urus." Regan menepuk pundak Alvero.

"Tapi... kamu bisa? Kamu harus meyakinkan dia untuk mau berinvestasi di perusahaan."

Regan terkekeh, "kamu meragukan kemampuanku. Baiklah, biar aku buktikan kali ini."

Dengan perasaan tak sepenuhnya yakin. Alvero akhirnya setuju.

Regan segera pergi dari rumah sakit, langsung menuju ke restoran, dimana tempat klien menentukan untuk bertemu.

Setelah beberapa jam... Di restoran VIP, suara piano mengalun terdengar samar. Regan kini sudah berhadapan dengan calon investornya. Dia sudah terlihat bosan mendengar pertanyaan dan penjelasan-penjelasan dari lawan bicaranya.

Ingin rasanya dia kabur, tapi kali ini bisa jadi masalah. Regan memilih untuk bersabar, sambil menatap lawan klien itu. Sampai akhirnya, matanya terpaku lama ke stiker kecil di laptop orang itu.

Regan menegakkan duduknya, membetulkan dasinya. Lalu berdehem kecil. "Pak, sepertinya anda suka F1."

Suasana yang awalnya terasa kaku, pelahan mencair.

"Iya, saya suka. Kenapa?"

Regan mengangguk. "Kita sama, Pak. Saya juga suka."

Sekarang, obrolan inti meeting sudah beralih membahas F One.

Sudah dua jam lebih Regan terkurung di restoran ruang VIP. Dan sekarang, dia sudah keluar. Bisa menghirup udara segar lagi.

Tangannya bergerak lincah di atas layar ponsel. Ia menghubungi Alvero, menanyakan keberadaannya sekarang

Setelah mendapat jawaban, Regan mengendari mobil Alvero. Karena kemarin dia tidak membawa mobilnya.

Keberadaan Alvero saat ini sudah kembali di kantor. Jadi Regan menyusul ke sana.

Ruangan Alvero selalu terlihat tenang dan dingin. Ada aroma vanilla tipis yang bercampur dengan aroma kopi hitam.

Alvero duduk bersandar di kursi kerjanya. Tangannya membuka berkas hasil meeting yang Regan bawa. Ia terkejut sesaat.

"Kamu berhasil bikin dia tanda tangan?" Tanya Alvero yang masih belum percaya.

Regan mengangguk bangga, tangannya menyilang depan dada. Alisnya di naik-turunkan. "Menurutmu, Al? Bukti sudah jelas."

"Caranya?"

"Negosiasi."

"Regan, aku gak yakin kamu bisa bernegosiasi dengan mudah. Aku tahu kamu paling tidak suka itu!" Tatapan Alvero berubah menyelidik.

Regan akhirnya menghela napas panjang. Ada senyum kecil di wajahnya. "Aku hanya memberikannya tiket VIP Singapore Grand Prix Paddock club!"

Alvero ternganga, matanya melebar. Napasnya seolah berhenti sesaat. "Regan, kamu menyogoknya dengan seharga satu unit mobil?" Alvero menelan ludah.

"Tapi aku dapat investor." Regan tersenyum luas. "Sekarang dia masuk investasi lima tahun. Untungnya lebih gede."

Alvero menghela napas panjang. Entah ingin marah atau kagum.

"Tapi kamu gak bisa terus-menerus menyelesaikan semuanya pakai cara begitu."

"Kenapa nggak?" Regan duduk lebih tegak. "Bisnis itu bukan cuma angka dan presentasi, Al. Kadang orang cuma mau dianggap spesial."

Alvero tak bisa menjawab. Sialnya... ia merasa ucapan Regan ada benarnya.

Terpopuler

Comments

Renarenn

Renarenn

sekali lagi, kayaknya meski sahabatan kalau itu aku. enggak setuju anakku mandi sama orang lain.
beda ya kalau memang pengasuh🙏

2026-08-21

1

ginevra

ginevra

kenapa kamu nyerahin urusan istri kamu ke Regan sih.... walaupun dia sahabat yang udah kayak saudara, tapi kalau urusan istri ya tanggung jawabmu. ihhh sebel aku tuh

2026-08-03

0

🍒⃞⃟🦅 CACASTAR

🍒⃞⃟🦅 CACASTAR

mmmm udah ada modus dia kayaknya dari awal ini...edan emang si Regan, udah tinggal di rumah itu, malah pengen istri orang lain pula

2026-07-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01: Kabur Saat Meeting
2 Bab 02: Keluarga Ardion
3 Bab 03: Anak Spesial
4 Bab 04: Hukuman Regan
5 Bab 05: Negosiasi
6 Bab 06: Pamit Pulang
7 Bab 07: Anak Mamy
8 Bab 08: Salah Kirim File
9 Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10 Bab 10: Kepercayaan
11 Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12 Bab 12: Nyari Sarang
13 Bab 13: Puncak Dan Playground
14 Bab 14: Kecewa Lagi
15 Bab 15: Mulai Dari Mana
16 Bab 16: Mendadak Asing
17 Bab 17: Hanya Satu Kata
18 Bab 18: Mulai Goyah
19 Bab 19: Aku Masih Normal
20 Bab 20: Seorang Gay
21 Bab 21: Bikin Terbiasa
22 Bab 22: Seperti Hantaran
23 Bab 23: Perjaka Murni
24 Bab 24: Berusaha Profesional
25 Bab 25: Mau Pulang
26 Bab 26: Pengaruh Alkohol
27 Bab 27: Antre Protes
28 Bab 28: Rumah Veyra
29 Bab 29: Menentang Takdir
30 Bab 30: Jarak Yang Nyata
31 Bab 31: Ziarah
32 Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33 Bab 33: Target Pertama
34 Bab 34: Persentasi
35 Bab 35: Mulai Gengsi
36 Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37 Bab 37: Bermain Lego
38 Bab 38: Janji Dengan Renzio
39 Bab 39: Pasar Malam
40 Bab 40: Calon Investor
41 Bab 41: Perasaan Aneh
42 Bab 42: Bukan Salah Kamu
43 Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44 Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45 Bab 45: Inisiatif
46 Bab 46: Calon Mantu
47 Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48 Bab 48: Kesalahpahaman
49 Bab 49: Solusi Dari Regan
50 Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51 Bab 51: Klarifikasi
52 Bab 52: Hilang Kabar
53 Bab 53: Regan Sakit
54 Bab 54: Rasa Bersalah
55 Bab 55: Kondisinya Membaik
56 Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57 Bab 57: Cuma Hampir Mati
58 Bab 58: Penolakan Halus
59 Bab 59: Investor Ke Dua
60 Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61 Bab 61: Tidak Punya Alasan
62 Bab 62: Perasaan Yang Berat
63 Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64 Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65 Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66 Bab 66: Bukan Soal Harga
67 Bab 67: Bertemu Teman Lama
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 01: Kabur Saat Meeting
2
Bab 02: Keluarga Ardion
3
Bab 03: Anak Spesial
4
Bab 04: Hukuman Regan
5
Bab 05: Negosiasi
6
Bab 06: Pamit Pulang
7
Bab 07: Anak Mamy
8
Bab 08: Salah Kirim File
9
Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10
Bab 10: Kepercayaan
11
Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12
Bab 12: Nyari Sarang
13
Bab 13: Puncak Dan Playground
14
Bab 14: Kecewa Lagi
15
Bab 15: Mulai Dari Mana
16
Bab 16: Mendadak Asing
17
Bab 17: Hanya Satu Kata
18
Bab 18: Mulai Goyah
19
Bab 19: Aku Masih Normal
20
Bab 20: Seorang Gay
21
Bab 21: Bikin Terbiasa
22
Bab 22: Seperti Hantaran
23
Bab 23: Perjaka Murni
24
Bab 24: Berusaha Profesional
25
Bab 25: Mau Pulang
26
Bab 26: Pengaruh Alkohol
27
Bab 27: Antre Protes
28
Bab 28: Rumah Veyra
29
Bab 29: Menentang Takdir
30
Bab 30: Jarak Yang Nyata
31
Bab 31: Ziarah
32
Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33
Bab 33: Target Pertama
34
Bab 34: Persentasi
35
Bab 35: Mulai Gengsi
36
Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37
Bab 37: Bermain Lego
38
Bab 38: Janji Dengan Renzio
39
Bab 39: Pasar Malam
40
Bab 40: Calon Investor
41
Bab 41: Perasaan Aneh
42
Bab 42: Bukan Salah Kamu
43
Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44
Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45
Bab 45: Inisiatif
46
Bab 46: Calon Mantu
47
Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48
Bab 48: Kesalahpahaman
49
Bab 49: Solusi Dari Regan
50
Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51
Bab 51: Klarifikasi
52
Bab 52: Hilang Kabar
53
Bab 53: Regan Sakit
54
Bab 54: Rasa Bersalah
55
Bab 55: Kondisinya Membaik
56
Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57
Bab 57: Cuma Hampir Mati
58
Bab 58: Penolakan Halus
59
Bab 59: Investor Ke Dua
60
Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61
Bab 61: Tidak Punya Alasan
62
Bab 62: Perasaan Yang Berat
63
Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64
Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65
Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66
Bab 66: Bukan Soal Harga
67
Bab 67: Bertemu Teman Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!