Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Bab 01: Kabur Saat Meeting

Lampu-lampu restoran malam itu memantul di halaman. Angin lembut membawa hawa dingin yang menusuk kulit.

Veyra melangkah masuk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin malam Jakarta.

"Mas Al belum selesai kayaknya," ucapnya pelan.

Tangannya mendorong pintu restoran, suara piano langsung menyambutnya pelan. Matanya menyapu sekitar, mencari kursi kosong.

Laki-laki yang sedang ia cari sekarang masih berada di ruang VIP bersama beberapa klient asing dengan setumpuk dokumen dan laptop di atas meja.

Veyra menghela napas kecil. "Belum selesai rupanya."

Saat Veyra hendak mengirim pesan untuk suaminya, seseorang tiba-tiba menarik kursi di depannya.

"Kalau langsung manyun kayak gitu, nanti orang mikir kamu lagi galau."

Veyra langsung menoleh. Regan. Lelaki itu duduk di depannya dengan senyum khas yang selalu lebar.

"Kamu ngaggetin." Veyra tersenyum tipis.

"Bagus. Berarti aku punya bakat jadi hantu."

Veyra terkekeh. Regan memang seperti itu, selalu ceria dan mudah akrab. Bahkan hampir semua karyawan di perusahaannya dekat dengan dia.

Entah kenapa, rasa canggung itu seolah tidak pernah ada saat bersama Regan.

"Alvero masih belum selesai?" tanya Veyra sambil melirik ke ruang VIP.

Regan ikut melihat ke arah yang sama, lalu mengangguk. "Kayaknya masih lama."

"Ya udah deh... aku tunggu aja."

"Yakin?" Regan meyakinkan perempuan di depannya. "Masih lama lho, nggak mau pulang aja?"

Veyra menggeleng. "Nggak, terlanjur di sini juga."

"Kalau mau pulang, biar aku antar." Tawar Regan sambil menatapnya lama.

Veyra kembali menggeleng. Sementara Regan hanya mengangguk.

Cukup lama mereka hanya diam. Regan memperhatikan wajah bosan Veyra beberapa detik sebelum akhirnya menjentikkan jarinya pelan.

"Daripada bengong, keliling mau?"

"Hah?" Veyra mengernyit.

"Ada taman di belakang restoran. Lumayan buat bunuh bosan." Regan menaik-turunkan alisnya beberapa kali.

Veyra ragu sesaat.

Namun sebelum ia menjawab, Regan sudah bangun lebih dulu sambil merapikan kemejanya.

"Ayo. Daripada nanti pingsan nunggu Pak Direktur tercinta."

Veyra mendengus tapi juga tertawa kecil. Akhirnya, Veyra ikut bangun. Mengikuti langkah Regan yang sudah berjalan lebih dulu.

Lampu-lampu gantung kecil menghiasi jalan setapak di sekitar air mancur belakang restoran.

Sekarang Regan berjalan santai di sisi Veyra, sambil menceritakan hal random yang bahkan tidak penting.

"Vey, kamu tahu nggak, Alvero pernah ketiduran waktu meeting," celetuk Regan lagi.

"Terus?" tanya Veyra sambil menoleh.

"Gak aku bangunin. Tapi... aku juga ikut tidur..."

"Serius? Sumpah ya, gak guna banget," potong Veyra cepat, lalu ia ketawa sedikit kencang.

Tatapan Regan jatuh lama ke wajah Veyra yang kini penuh tawa, padahal tadi hanya ditekuk yang membuat bibirnya manyun.

Ada rasa hangat menyelinap ke dada Regan. Dia merasa berhasil menghilangkan rasa bosan pada Veyra. Tatapannya semakin dalam, semakin lembut.

Veyra membalas tatapan Regan sebentar. "Kenapa kamu ikutan tidur juga?"

"Yaa... biar suamimu gak ditegur sendirian. Gimana?"

"Gimana apanya?"

"Baik, kan aku?"

Veyra terkekeh. "Nggak," jawabnya cepat.

Regan tertawa kecil, lalu ia memasukan tangannya ke kolam kecil yang ada di sana. Dan dengan sengaja, airnya dicipratkan ke arah Veyra.

"Regan!" Veyra berteriak kecil.

Bukannya berhenti, Regan justru semakin menjadi. "Rasain!"

"Regan awas, ya. Aku balas." kini Veyra ikut memainkan air kolam dari air mancur.

Regan menghindar dengan cepat, tapi Veyra mengejarnya.

"Ampun!" Teriak Regan dramatis.

Veyra akhirnya berhenti, tawanya lepas saat melihat Regan berlari menjauh darinya.

Dari kejauhan, langkah Alvero seketika melambat, ada senyum kecil yang tiba-tiba muncul di wajahnya saat melihat tingkah istri dan rekannnya.

Alvero tidak merasa cemburu, karena ia tahu Regan bersikap seperti itu bukan pada Veyra saja. Jadi Alvero tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Vey," panggilnya.

Veyra langsung menoleh, senyumnya semakin lebar. Ia berlari kecil menghampiri Alvero.

"Mas, udahan meetingnya?" tanya Veyra dengan binar bahagia di matanya.

Alvero mengangguk, tangannya melingkar ke pinggang Veyra. Lalu, mencium lembut pucuk kepala istrinya.

"Dari tadi nunggu?" tanya Alvero.

"Iya, tadi sempat bosen. Untung ada Regan." Veyra menjawab dengan nada sedikit merengek.

"Mas kan udah bilang, kamu nggak perlu nyusul ke sini. Kasihan Renzio ditinggalin."

"Aku udah ajak, tapi dia mau main sama Omanya." Veyra sedikit mendongak, menatap wajah suaminya.

Alvero menggenggam tangan Veyra, mereka mendekati Regan yang masih berdiri di dekat air mancur.

Sisa tawa masih ada di wajahnya, rambut berantakan dan sedikit basah karena cipratan air.

"Udah beres kan?" tanya Regan santai, seolah kerjaan barusan tidak ada sangkutan dengan dirinya.

Alvero mendengus. "Ini harusnya tugas kamu, Regan."

Regan hanya tertawa kecil. Meeting malam ini sebenarnya tugas Regan. Dia meminta Alvero untuk menenmani, namun saat pertengahan meeting, Regan pergi dengan alasan mengambil barang di mobil.

Regan Han Sebastian. Anak tunggal dari Raymond Han Sebastian, pengusaha asal Singapura yang memiliki beberapa perusahaan di Indonesia. Dan paling mencolok adalah perusahaan Reimore Group.

Perusahaan itu berkembang pesat yang menaungi hotel berbintang, kawasan properti elite, serta investasi internasional yang tersebar di berbagai negara.

Karena itulah, Raymond mempercayakan posisi Direktur Operasional kepada Ardion Halim, orang yang dianggapnya lebih dari sekedar rekan bisnis.

Sementara Alvero Halim Winata, putra Ardion, memegang jabatan Direktur Keuangan.

"Aku kesini cuma untuk belajar dari kamu, kenapa harus ikut meeting." Ucapnya dengan ekspresi santai.

"Justru itu, kamu harus..."

Regan menaruh jari telunjuk di bibir Alvero. "Diem! Aku malas jika harus meeting, Alvero. Itu sangat membosankan."

Alvero menepis tangan Regan. Ia mendecak.

Regan tersenyum miring. "Emangnya... kamu mau jabatannya beralih ke aku?"

"Alihkan saja kalau Tuan Raymond setuju," jawab Alvero sambil pergi.

"Al, istrimu ketinggalan!" Teriak Regan. Lalu, ia meraih tangan Veyra dan menariknya pergi dari sana.

Alvero berbalik. "Regan, lepas!" teriaknya.

"Jangan banyak tingkah, aku harus cepet pulang. Kasihan anakku pasti nunggu." Omel Veyra, sambil membuka paksa tangannya dari genggaman Regan.

Regan akhirnya melepaskan tangan Veyra. Dia nyengir lebar, lalu dadah-dadah dengan ekspresi jahil.

Veyra mendelik geli, tapi juga tertawa. "Kalau bukan Regan, males aku ketemu lagi." Katanya.

"Hm," balas Alvero cepat.

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam mobil. Mesin mobil meraung halus, meninggalkan halaman restoran yang perlahan mulai ramai.

Sementara Regan kembali masuk ke restoran, memesan beberapa makanan dan minuman.

"Rencananya kabur dari meeting tuh mau makan. Malah ketemu Veyra yang lagi bosen," gumamnya sambil mengunyah.

Regan menyendok makanan dengan pura-pura gemetar, lalu merekamnya hanya untuk dikirim kepada Raymond.

'Dadyyy, aku meeting sampai kelaperan.'

Regan tertawa sendiri, lalu kembali makan dengan santai. Tanpa memikirkan beban apapun, apalagi beban perusahaan yang ditanggung, Ardion.

Raymond sengaja mengirim Regan ke Indonesia, bukan tanpa alasan. Raymond rasa, kalau Regan belajar dari Alvero dia tidak akan sungkan. Karena Alvero seumuran dengannya.

Tapi semua ini malah membuat Alvero kewalahan, Regan kadang terlalu banyak bercanda untuk orang-orang perusahaan yang selalu serius.

Terpopuler

Comments

RahmaYesi

RahmaYesi

Hmmm, bagaimana ini. Harusnya sih sebagai suami harus lebih tegas memberi batas antara istri dan sahabatnya agar jangan terlalu dekat, meski memang punya hubungan baik. Tapi ya sudahlah...

2026-08-05

0

mama Al

mama Al

si Regan perhatian amat sama istri temannya. semoga ini bukan ada maksud lain ya

2026-07-08

2

Mutia Kim🍑

Mutia Kim🍑

Duhhh walaupun Regan kamu anggap sebagai sahabat, jangan terlalu percaya Al😌

2026-07-08

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 01: Kabur Saat Meeting
2 Bab 02: Keluarga Ardion
3 Bab 03: Anak Spesial
4 Bab 04: Hukuman Regan
5 Bab 05: Negosiasi
6 Bab 06: Pamit Pulang
7 Bab 07: Anak Mamy
8 Bab 08: Salah Kirim File
9 Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10 Bab 10: Kepercayaan
11 Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12 Bab 12: Nyari Sarang
13 Bab 13: Puncak Dan Playground
14 Bab 14: Kecewa Lagi
15 Bab 15: Mulai Dari Mana
16 Bab 16: Mendadak Asing
17 Bab 17: Hanya Satu Kata
18 Bab 18: Mulai Goyah
19 Bab 19: Aku Masih Normal
20 Bab 20: Seorang Gay
21 Bab 21: Bikin Terbiasa
22 Bab 22: Seperti Hantaran
23 Bab 23: Perjaka Murni
24 Bab 24: Berusaha Profesional
25 Bab 25: Mau Pulang
26 Bab 26: Pengaruh Alkohol
27 Bab 27: Antre Protes
28 Bab 28: Rumah Veyra
29 Bab 29: Menentang Takdir
30 Bab 30: Jarak Yang Nyata
31 Bab 31: Ziarah
32 Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33 Bab 33: Target Pertama
34 Bab 34: Persentasi
35 Bab 35: Mulai Gengsi
36 Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37 Bab 37: Bermain Lego
38 Bab 38: Janji Dengan Renzio
39 Bab 39: Pasar Malam
40 Bab 40: Calon Investor
41 Bab 41: Perasaan Aneh
42 Bab 42: Bukan Salah Kamu
43 Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44 Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45 Bab 45: Inisiatif
46 Bab 46: Calon Mantu
47 Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48 Bab 48: Kesalahpahaman
49 Bab 49: Solusi Dari Regan
50 Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51 Bab 51: Klarifikasi
52 Bab 52: Hilang Kabar
53 Bab 53: Regan Sakit
54 Bab 54: Rasa Bersalah
55 Bab 55: Kondisinya Membaik
56 Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57 Bab 57: Cuma Hampir Mati
58 Bab 58: Penolakan Halus
59 Bab 59: Investor Ke Dua
60 Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61 Bab 61: Tidak Punya Alasan
62 Bab 62: Perasaan Yang Berat
63 Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64 Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65 Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66 Bab 66: Bukan Soal Harga
67 Bab 67: Bertemu Teman Lama
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 01: Kabur Saat Meeting
2
Bab 02: Keluarga Ardion
3
Bab 03: Anak Spesial
4
Bab 04: Hukuman Regan
5
Bab 05: Negosiasi
6
Bab 06: Pamit Pulang
7
Bab 07: Anak Mamy
8
Bab 08: Salah Kirim File
9
Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10
Bab 10: Kepercayaan
11
Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12
Bab 12: Nyari Sarang
13
Bab 13: Puncak Dan Playground
14
Bab 14: Kecewa Lagi
15
Bab 15: Mulai Dari Mana
16
Bab 16: Mendadak Asing
17
Bab 17: Hanya Satu Kata
18
Bab 18: Mulai Goyah
19
Bab 19: Aku Masih Normal
20
Bab 20: Seorang Gay
21
Bab 21: Bikin Terbiasa
22
Bab 22: Seperti Hantaran
23
Bab 23: Perjaka Murni
24
Bab 24: Berusaha Profesional
25
Bab 25: Mau Pulang
26
Bab 26: Pengaruh Alkohol
27
Bab 27: Antre Protes
28
Bab 28: Rumah Veyra
29
Bab 29: Menentang Takdir
30
Bab 30: Jarak Yang Nyata
31
Bab 31: Ziarah
32
Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33
Bab 33: Target Pertama
34
Bab 34: Persentasi
35
Bab 35: Mulai Gengsi
36
Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37
Bab 37: Bermain Lego
38
Bab 38: Janji Dengan Renzio
39
Bab 39: Pasar Malam
40
Bab 40: Calon Investor
41
Bab 41: Perasaan Aneh
42
Bab 42: Bukan Salah Kamu
43
Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44
Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45
Bab 45: Inisiatif
46
Bab 46: Calon Mantu
47
Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48
Bab 48: Kesalahpahaman
49
Bab 49: Solusi Dari Regan
50
Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51
Bab 51: Klarifikasi
52
Bab 52: Hilang Kabar
53
Bab 53: Regan Sakit
54
Bab 54: Rasa Bersalah
55
Bab 55: Kondisinya Membaik
56
Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57
Bab 57: Cuma Hampir Mati
58
Bab 58: Penolakan Halus
59
Bab 59: Investor Ke Dua
60
Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61
Bab 61: Tidak Punya Alasan
62
Bab 62: Perasaan Yang Berat
63
Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64
Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65
Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66
Bab 66: Bukan Soal Harga
67
Bab 67: Bertemu Teman Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!