Bab 04: Hukuman Regan

"Zio udah tidur?" Alvero setengah bangun saat melihat Veyra masuk ke kamar.

"Udah, Mas."

Veyra naik ke atas ranjang, ia duduk bersandar ke bantal. Beberapa detik Veyra hanya diam, merasakan kram perut yang cukup kuat.

Keringat dingin keluar dari telapak tangannya, ada rasa pusing yang membuat kepalanya sedikit berkunang.

Alvero mendongak, menatap bingung ke wajah istrinya. "Sayang, kamu baik-baik aja, kan?" Ia langsung bangun, duduk menghadap Veyra.

"Kamu kacapekan jagain Zio? Ada yang sakit? Wajah kamu pucet, sayang." Alvero langsung memberikan beberapa pertanyaan, bahkan saat Veyra belum menjawab satu pun.

Veyra tertawa kecil. Entah kenapa, ekpresi Alvero saat merasa khawatir seperti ini justru terlihat gemas dimatanya.

Alvero memiringkan kepalanya. "Kenapa kamu hanya tertawa?"

"Bener kata Zio, Mas. Kamu lucu." Veyra menempelkan tangannya di pipi Alvero.

"Sayang, jawab dulu aku. Kamu kenapa? Hari ini beda, kayak lemes banget?" Suara Alvero turun satu inci.

Veryta menghela napas kecil. "Kayaknya hormon aku lagi gak stabil. Perut aku kram, Mas."

"Dari kapan? Kita periksa ke rumah sakit!" Alvero hendak bangun dari duduknya.

Tapi tangan Veyra cepat-cepat menariknya. "Dari sore. Gak perlu ke rumah sakit, mungkin ini efek mau datang bulan aja, Mas. Minggu ini kan jadwalnya."

Alvero hanya menatap lekat mata istrinya. Di sana selalu ada sorot teduh yang khas dari Veyra.

"Sayang, aku minta maaf, ya. Setelah naik jabatan aku makin sibuk." Tangan Alvero merapikan sedikit rambut Veyra yang jatuh menutupi sebagian wajahnya.

"Gak papa, Mas. Kan kita masih sering liburan kalau weekend."

Alvero tengkurep di atas kaki Veyra yang selonjoran, tangannya melingkar ke pinggang Veyra.

"Sayang, hari ini Regan ngeselin banget," keluhnya dengan suara lirih.

Veyra tersenyum lebar. Ini bukan pertama kalinya Alvero mengeluh hal serupa. Tangannya memainkan rambut suaminya.

"Ngeselin kenapa? Bukannya setiap hari juga dia bikin ulah."

Alvero mengeratkan pelukannya. "Dia numpahin es kopi di meja kerja aku, tumpahannya kena berkas buat meeting besok."

Alvero berhenti sebentar, lalu menelan ludah keras. "Kamu tahu apa yang bikin aku jantungan?" Wajah Alvero mendongak, menatap Veyra sebentar.

"Apa?"

"Dia neken klakson waktu aku ketiduran di mobil. Aku bener-bener kaget, karena aku pikir mobilnya sedang melaju."

Veyra tertawa sedikit lebih keras, antara merasa lucu dan kasihan. Ia langsung bisa membayangkan bagaimana reaksi wajah Alvero saat itu.

"Sayang, aku pengen bilang ke Tuan Raymond. Aku lebih milih nyari inverstor lagi, daripada harus ngajarin anaknya."

"Kamu yakin, Mas? Narik inverstor lebih sulit loh, tegang juga. Justru... Regan orangnya rame, cocok buat hidup kamu yang monoton di kantor."

Alvero menghela napas panjang. Menikmati sentuhan lembut dari Veyra yang perlahan menurun ke tengkuknya. Ia memejamkan matanya sebentar.

Sentuhan sederhana itu, mampu membangkitkan desir aneh pada diri Alvero. Ia menelan ludah lagi, tenggorokannya seolah mengering.

"Sayang, tangan kamu jangan ngelus-ngelus leher aku kayak gitu. Kamu siap kalau aku minta jatah."

"Kenapa nggak? Aku kan istri kamu, Mas." Jawab Veyra dengan nada sedikit menantang.

Alvero langsung bangun. "Nakal kamu, ya." Tangannya menyusup masuk ke baju Veyra, mengusap lembut punggung istrinya.

Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Veyra, "aku terima tantangan kamu, sayang." Bisiknya. Hembusan dari mulutnya membuat Veyra sedikit menggeliat karena geli.

Jarak di anatara mereka kini semakin dekat, napas saling bersahutan, bercampur dengan detak jantung yang berdegup cepat.

Perlahan tapi pasti, bibir Alvero meraup bibir kecil Veyra. Tidak kasar, tapi menuntut untuk lebih dalam.

Di dalam kamar bernuansa putih tulang. Dan di bawah cahaya kuning lembut. Suara desahan kecil mulai keluar memenuhi ruangan.

Sementara di ruangan lain... Regan sudah merasa hampir mati di ruangan kerja Alvero. Ruangan berwarna cokelat kayu tua, dengan beraroma vanilla yang bercampur dengan wangi kopi dingin.

Regan menatap map merah yang sekarang sudah hampir warna cokelat. Deretan huruf di setiap lembar kertas membuatnya merasa pusing. Huruf-huruf itu seolah bergerak di matanya.

"Hukuman seperti apa ini? Kenapa begitu menyiksa!" Suara Regan lirih, campuran antara capek dan bosan.

Sudah dua jam lamanya, Alvero mengurung Regan di sana. Dengan harapan ia bisa menyelesaikan kerjaannya dengan cepat. Tapi hasilnya nihil, Regan belum mendapatkan hasil satu lempar pun.

Ia hanya duduk bersandar, tiduran di sofa, bahkan tengkurep di lantai marmer. Keadaannya saat ini seperti neraka baginya.

Tak lama, suara kunci terdengar dibuka dari luar. Membuat Regan refleks menegakkan duduknya, pura-pura fokus mengetik.

Dari arah pintu, Alvero berjalan menghampiri. Mengintip sebentar, lalu duduk di sofa kecil. Punggung bersandar, kaki menyilang.

Regan berdehem kecil, memutarkan kursinya supaya berhadapan dengan Alvero. Regan memperhatikan dalam-dalam.

Alis Alvero bertaut, mulutnya terkatup rapat menahan senyum yang ingin muncul.

"Aku rasa... aura kamu berbeda, Al?"

Alvero mendecak kecil, tapi juga tersenyum. "Ngawur kamu!"

"Ini... muka orang yang habis recharge." Regan menunjuk Alvero.

Alvero terkekeh kecil, ia melemparkan bantal sofa ke wajah Regan. "Gak usah bahas kemana-mana, sekarang beresin apa yang harus kamu kerjakan, Regan!"

"Siap, Pak Direktur," jawab Regan. Suaranya dibuat selemas mungkin.

Setelah cukup lama Alvero memantau Regan. Tapi tiba-tiba perutnya terasa lapar, Alvero bangun dari duduknya.

"Regan, kamu mau makan?" Tanyanya sebelum pergi.

Regan menggeleng sambil nguap kecil. "Aku gak lapar, Al."

Tak ada ucapan apapun lagi, Alvero kembali meninggalkan ruangan itu.

Cahaya laptop masih menyala terang. Jemari Regan masih bergerak di atas keyboard, mengetik catatan untuk meeting besok yang belum selesai.

Tapi semakin lama, gerakannya mulai melambat. Kepalanya terasa berat. Beberapa kali ia memijat pelipis, membukakan matanya lebar, mencoba fokus pada huruf-huruf di layar. Tapi tatapannya terus mengabur.

Sampai akhirnya... tanpa sadar, kepala Regan jatuh pelan di atas lengannya sendiri. Napasnya mulai teratur. Laptop di depannya masih menyala. Sementara berkas masih berserakan di atas meja.

Suasana malam semakin sunyi, hanya semilir angin tipis yang berhembus. Dan suara jangkrik yang memecah hening.

Dari arah dapur, langkah Alvero santai saat menaiki anak tangga satu persatu. Selanjutnya, ia berbelok ke ruang kerjanya untuk memeriksa.

Tapi, begitu pintu di buka pandangannya langsung jatuh ke sosok Regan. Alvero mendekat pelan. Ia melihat hasil salinan yang sudah Regan catat. Hasilnya belum sampai lima lembar.

Alvero menghela napas panjang, ia tersenyum kecil. Lalu meraih laptop dengan hati-hati. Alvero duduk di sofa, kaki selonjoran. Laptop di pangkuannya.

"Regan, Regan. Tuan Raymond hanya ingin kamu pahan dalam mengelola perusahaan. Kamu anak satu-satunya. Pewaris tunggal." Gumam Alvero pelan. Jemari Alvero mulai menari-nari di atas keyboard.

Lebih dari satu jam ia menyelesaikan salinan itu, jam sudah menunjukkan pukul 23:45 malam. Saat Alvero benar-benar selesai. Karena ngantuk yang sudah tidak tertahankan lagi, Alvero tertidur di sofa ruang kerjanya.

Terpopuler

Comments

Its me

Its me

dan kalau baca sinopsisnya kayak Regan bakal jadi pengacau rumah tangga Alvero

2026-06-06

1

Miu.Nuha

Miu.Nuha

lo dihukum, Al malah asik2 sama istrinya
kasihan kamu regan 🤭 dah pokokny jgn punya niat ngerebut istri olang! dosa!

2026-08-20

0

Renarenn

Renarenn

aku nggak tahu memang begini candaan orang dewasa tapi aku nggak suka
itu kan tetap aja privasi

2026-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 01: Kabur Saat Meeting
2 Bab 02: Keluarga Ardion
3 Bab 03: Anak Spesial
4 Bab 04: Hukuman Regan
5 Bab 05: Negosiasi
6 Bab 06: Pamit Pulang
7 Bab 07: Anak Mamy
8 Bab 08: Salah Kirim File
9 Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10 Bab 10: Kepercayaan
11 Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12 Bab 12: Nyari Sarang
13 Bab 13: Puncak Dan Playground
14 Bab 14: Kecewa Lagi
15 Bab 15: Mulai Dari Mana
16 Bab 16: Mendadak Asing
17 Bab 17: Hanya Satu Kata
18 Bab 18: Mulai Goyah
19 Bab 19: Aku Masih Normal
20 Bab 20: Seorang Gay
21 Bab 21: Bikin Terbiasa
22 Bab 22: Seperti Hantaran
23 Bab 23: Perjaka Murni
24 Bab 24: Berusaha Profesional
25 Bab 25: Mau Pulang
26 Bab 26: Pengaruh Alkohol
27 Bab 27: Antre Protes
28 Bab 28: Rumah Veyra
29 Bab 29: Menentang Takdir
30 Bab 30: Jarak Yang Nyata
31 Bab 31: Ziarah
32 Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33 Bab 33: Target Pertama
34 Bab 34: Persentasi
35 Bab 35: Mulai Gengsi
36 Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37 Bab 37: Bermain Lego
38 Bab 38: Janji Dengan Renzio
39 Bab 39: Pasar Malam
40 Bab 40: Calon Investor
41 Bab 41: Perasaan Aneh
42 Bab 42: Bukan Salah Kamu
43 Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44 Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45 Bab 45: Inisiatif
46 Bab 46: Calon Mantu
47 Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48 Bab 48: Kesalahpahaman
49 Bab 49: Solusi Dari Regan
50 Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51 Bab 51: Klarifikasi
52 Bab 52: Hilang Kabar
53 Bab 53: Regan Sakit
54 Bab 54: Rasa Bersalah
55 Bab 55: Kondisinya Membaik
56 Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57 Bab 57: Cuma Hampir Mati
58 Bab 58: Penolakan Halus
59 Bab 59: Investor Ke Dua
60 Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61 Bab 61: Tidak Punya Alasan
62 Bab 62: Perasaan Yang Berat
63 Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64 Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65 Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66 Bab 66: Bukan Soal Harga
67 Bab 67: Bertemu Teman Lama
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 01: Kabur Saat Meeting
2
Bab 02: Keluarga Ardion
3
Bab 03: Anak Spesial
4
Bab 04: Hukuman Regan
5
Bab 05: Negosiasi
6
Bab 06: Pamit Pulang
7
Bab 07: Anak Mamy
8
Bab 08: Salah Kirim File
9
Bab 09: Bukan Kesalahan Fatal
10
Bab 10: Kepercayaan
11
Bab 11: Mau Jadi Yang Ke Dua
12
Bab 12: Nyari Sarang
13
Bab 13: Puncak Dan Playground
14
Bab 14: Kecewa Lagi
15
Bab 15: Mulai Dari Mana
16
Bab 16: Mendadak Asing
17
Bab 17: Hanya Satu Kata
18
Bab 18: Mulai Goyah
19
Bab 19: Aku Masih Normal
20
Bab 20: Seorang Gay
21
Bab 21: Bikin Terbiasa
22
Bab 22: Seperti Hantaran
23
Bab 23: Perjaka Murni
24
Bab 24: Berusaha Profesional
25
Bab 25: Mau Pulang
26
Bab 26: Pengaruh Alkohol
27
Bab 27: Antre Protes
28
Bab 28: Rumah Veyra
29
Bab 29: Menentang Takdir
30
Bab 30: Jarak Yang Nyata
31
Bab 31: Ziarah
32
Bab 32: Kembali Ke Jakarta
33
Bab 33: Target Pertama
34
Bab 34: Persentasi
35
Bab 35: Mulai Gengsi
36
Bab 36: Penyebab Kepergian Vania
37
Bab 37: Bermain Lego
38
Bab 38: Janji Dengan Renzio
39
Bab 39: Pasar Malam
40
Bab 40: Calon Investor
41
Bab 41: Perasaan Aneh
42
Bab 42: Bukan Salah Kamu
43
Bab 43: Jangan Bergosip Di Sini
44
Bab 44: Izin Pergi Ke Sukabumi
45
Bab 45: Inisiatif
46
Bab 46: Calon Mantu
47
Bab 47: Kembali Ke Jakarta
48
Bab 48: Kesalahpahaman
49
Bab 49: Solusi Dari Regan
50
Bab 50: Aku Baik-baik Aja
51
Bab 51: Klarifikasi
52
Bab 52: Hilang Kabar
53
Bab 53: Regan Sakit
54
Bab 54: Rasa Bersalah
55
Bab 55: Kondisinya Membaik
56
Bab 56: Seperti Keluarga Kecil
57
Bab 57: Cuma Hampir Mati
58
Bab 58: Penolakan Halus
59
Bab 59: Investor Ke Dua
60
Bab 60: Tidak Bisa Dicurigai
61
Bab 61: Tidak Punya Alasan
62
Bab 62: Perasaan Yang Berat
63
Bab 63: Jangan Tunggu Terlambat
64
Bab 64: Harus Pamit Sekarang
65
Bab 65: Jangan Tinggalin Zio
66
Bab 66: Bukan Soal Harga
67
Bab 67: Bertemu Teman Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!