Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa

Li Tianming masih kecil. Mungkin baru dua ratus tahun, usia yang masih sangat belia untuk ukuran seorang murid Alam Dewa. Mereka berdua duduk di bawah pohon besar di halaman perguruan, dengan cangkir teh herbal di antara mereka yang sudah lama dingin karena tidak ada yang ingat untuk meminumnya. Li Tianming sedang berlatih membentuk qi di telapak tangannya, lidahnya sedikit terjulur keluar karena konsentrasi, dan Zhao Fei yang duduk di seberangnya harus menahan senyum agar tidak tertawa keras.

"Guru, kenapa Guru tersenyum?" tanya Li Tianming setelah konsentrasinya buyar.

"Tidak ada," kata Zhao Fei. "Lanjutkan."

Li Tianming cemberut, tapi lanjut berlatih. Kali ini wajahnya bahkan lebih serius dari tadi, sampai keningnya berkerut seperti orang tua yang memikirkan hutang. Zhao Fei benar-benar tidak bisa menahan tertawanya kali ini.

Tapi hari ini, langit di Alam Bawah terlihat sangat biru kala Zhao Fei membuka matanya. Merasakan dada tubuh ini yang masih terasa seperti sakit, meski lukanya sudah mulai menutup perlahan berkat sisa qi yang mengalir dari rohnya.

Dia hendak berdiri ketika sesuatu menghantamnya dari dalam lebih buruk dari serangan fisik. Segala memori tentang pemilik asli tubuh ini datang sekaligus, seperti bendungan yang jebol dan melepaskan seluruh isinya tanpa peringatan. Ribuan momen dalam satu waktu, berdesakan masuk ke dalam pikirannya yang sudah terbiasa tenang selama sepuluh ribu tahun.

Anak kecil yang duduk di sudut ruangan saat kakak-kakaknya dipuji. Pemuda yang berdiri di pesta pernikahan saudaranya sambil menunduk karena tidak tahu harus menaruh tangan ke mana. Malam-malam panjang di kamar sempit mendengar ibunya terbatuk-batuk dari balik dinding. Setiap hinaan dan siksaan yang diingat satu per satu, tidak ada yang terlupakan, seperti koleksi luka yang disimpan rapi karena tidak ada tempat lain untuk meletakkannya.

Seketika itu juga, air mata keluar dari sudut matanya.

Zhao Fei tidak menangis. Dia tidak pernah menangis sejak tiga ribu tahun terakhir. Tapi tubuh ini menangis untuk pemiliknya, dan dia tidak bisa menghentikannya. Air mata mengalir bukan dari dadanya, melainkan dari ingatan yang bukan miliknya, dari kehidupan yang bukan kehidupannya, dari rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sendiri tapi entah mengapa terasa sangat nyata.

Dia hanya duduk di sana, membiarkan tubuh ini melakukan apa yang perlu dilakukannya.

Kau hidup dalam kegelapan yang cukup panjang, pikirnya untuk arwah yang sudah pergi. Dan tidak ada satu pun yang mengulurkan tangan untukmu.

Ketika air mata berhenti, pikirannya kembali jernih seperti biasa.

Zhao Fei mulai menyortir memori-memori itu dengan metodis. Dari sekian ribu kenangan yang masuk, dia mencari apa yang paling penting. Kemudian di antara semua kesakitan yang tersimpan di sana, ada tiga hal yang berulang kali muncul seperti bintang dalam kegelapan.

Menyembuhkan Ibunya. Membuat Ibunya bangga. Menemukan seseorang wanita yang mau menerimanya.

Tiga keinginan yang sederhana sekali, terlalu sederhana untuk seorang dewa yang terbiasa menginginkan hal-hal sebesar langit. Tapi justru karena kesederhanaannya itulah sesuatu di dalam dada Zhao Fei bergerak dengan cara yang tidak biasa.

Baiklah, putusnya. Aku akan menyelesaikan semua itu untukmu.

Alih-alih berdiam terlalu lama dengan perasaan itu, dia langsung beralih ke hal yang lebih mendesak seperti kondisi Ming Lianhua atau ibunya. Lalu dari memori pemilik tubuh yang asli, dia mengumpulkan semua informasi tentang penyakit wanita itu. Gejalanya dia bandingkan dengan pengetahuan medis yang dikumpulkannya selama ribuan tahun di Alam Dewa.

Hasilnya cukup untuk membuat dirinya menghela napas santai.

Penyakit itu bisa disembuhkan. Di Alam Dewa, cukup dengan beberapa lembar daun Darah Naga Abadi yang direndam dalam air embun pagi selama tujuh hari. Mudah sekali, bahkan untuk murid tingkat pemula. Sayangnya, tanaman itu tidak tumbuh di dunia ini. Dia perlu mencari alternatif, entah itu resep lain atau tabib yang benar-benar paham dengan kondisi seperti ini. Bagaimanapun, ada jalan. Selalu ada jalan.

Yang menjadi pertanyaan lain adalah kekuatannya sendiri.

Dia mencoba memanggil petir birunya lagi. Mengalirkan kesadaran ke dalam titik-titik meridian di tubuh ini, mencari jalur qi yang seharusnya ada, namun malah tidak seperti yang dia pikirkan.

Lebih tepatnya, ada, tapi sangat sedikit. Seperti mencoba mengisi lautan dengan setetes embun, hasilnya tidak ada yang bisa dilihat dengan mata biasa. Tubuh ini belum pernah dikultivasi sama sekali. Meridiannya seperti jalan setapak yang sudah lama tidak dilalui, tertutup semak belukar dari segala sisi.

Rupanya Sang Pencipta merasa aku terlalu sombong, pikirnya dengan datar yang bahkan dalam kepalanya sendiri terdengar seperti sindiran. Maka diberikan lah kehidupan kedua yang dimulai dari nol.

Lantas dia berdiri. Tubuh ini masih sakit, tapi cukup untuk bergerak.

Seekor rusa besar di depannya tidak akan pergi ke mana-mana setelah dia lempar dengan bambu yang telah dia runcingkan dengan pisau yang sejak awal memang dia bawa ke sini.

Zhao Fei menaksir beratnya sebentar, lalu mengangkatnya ke pundak dengan gerakan yang lebih mudah dari yang dia perkirakan, karena ternyata tubuh ini, meski kurus, cukup terbiasa dengan kerja keras. Dari memori pemilik aslinya, dia mengikuti jalur sungai kecil di balik pohon-pohon besar itu. Beberapa menit kemudian, sekarung ikan sudah menemaninya. Dia juga memetik beberapa tanaman herbal di sepanjang jalan yang dia kenali dari pengetahuannya sendiri, bukan dari memori pemilik asli.

Perjalanan kembali ke Klan Zhao tidak jauh. Tapi cukup panjang untuk dia habiskan dalam keheningan pikirannya sendiri, membuat daftar hal-hal yang perlu dilakukan, menyusun prioritas satu per satu. Kultivasi. Obat untuk ibunya. Masuk sekte. Menjadi kuat.

Dan suatu hari nanti, kembali ke Alam Dewa.

Teras rumah keluarga Zhao ramai dengan suara orang tertawa.

Zhao Kun dan Zhao Jie duduk berhadapan dengan kartu di tangan, wajah mereka memerah karena mabuk. Istri Zhao Kun duduk di samping suaminya sambil mengipasi dengan malas. Sementara istri Zhao Jie menuangkan minuman ke cangkir yang sudah hampir kosong.

Ketika Zhao Fei muncul dari kegelapan dengan rusa besar di pundaknya, semua suara berhenti.

Zhao Kun memandangnya dengan ekspresi yang berubah dari terkejut menjadi tidak senang dalam waktu yang sangat singkat. Zhao Jie menelan ludah. Istri Zhao Kun, yang paling cepat menguasai diri, langsung memasang senyum paling manisnya.

"Adik ipar pulang," katanya dengan kehangatan yang terlalu sempurna. "Wah, membawa banyak sekali. Pasti capek sekali ya, sudah susah payah ke hutan."

Matanya menatap rusa itu seperti seseorang yang sudah menghitung berapa porsi yang bisa dibagi.

Sementara Zhao Fei berhenti di depan teras. Matanya menatap dua saudara yang menyuruhnya pergi ke tempat kematiannya dengan senyuman yang sama seperti tadi, hanya dengan wajah yang berbeda.

"Tentu saja untuk semua orang," kata istri Zhao Kun lagi. "Cukup untuk satu keluarga kan?"

Zhao Fei hampir mengatakan apa yang benar-benar ada di pikirannya. Tapi dia ingat bahwa tubuh ini masih level nol. Dia masih butuh atap ini untuk beberapa waktu. Perang tidak dimenangkan oleh orang yang menyerang terlalu cepat sebelum siap.

"Aku yang akan memasak," katanya, meski suaranya datar. "Kalian tentu saja juga akan kebagian."

Zhao Kun mendengus. Dia melempar kartu di tangannya ke meja dengan lebih keras dari yang diperlukan. "Bisa berbicara lebih sopan sedikit? Ayo cepat masak! Jangan sampai gosong seperti biasanya."

Zhao Jie ikut tertawa, wajahnya masih kemerahan karena mabuk.

Adapun Zhao Fei masuk ke dalam tanpa menambahkan apa pun.

Kemudian saat di dapur, tangannya bergerak dengan presisi yang tidak pernah dimiliki pemilik asli tubuh ini.

Pengetahuan tentang rempah dan teknik memasak ternyata tidak berbeda jauh antara Alam Dewa dengan dunia ini. Api yang tepat. Waktu yang tepat. Bumbu yang tidak berlebihan tapi tidak juga kurang. Hasilnya adalah aroma yang bahkan membuat istri Zhao Kun menengok dua kali dari luar pintu.

Setelah semua piring tersaji untuk seluruh rumah, Zhao Fei mengambil satu porsi terbaik dan membawanya ke kamar di ujung koridor.

Ming Lianhua duduk di ranjangnya dengan punggung bersandar pada dinding. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, tapi matanya menyala begitu melihat anak bungsunya masuk membawa makanan.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya segera. "Tidak ada yang melukaimu di hutan?"

"Semuanya baik-baik saja, Ibu," kata Zhao Fei. Dia duduk di sisi ranjang dan mulai menyendok makanan.

"Tapi kau terlihat berbeda."

Zhao Fei berhenti saat matanya bertemu dengan mata wanita yang sudah menjadi satu-satunya cahaya dalam kehidupan pemuda itu selama dua puluh tahun. Ada sesuatu yang dia rasakan ketika bertatapan dengan wanita ini, sesuatu yang bukan miliknya tapi tetap terasa seperti miliknya.

"Ibu, tentu saja tidak ada yang berubah dari anakmu ini," katanya pelan. "Hanya saja... sekarang aku terasa lebih yakin dalam mengambil keputusan."

Dia menyuapi ibunya dengan sabar. Ming Lianhua makan dengan perlahan tapi matanya terus memandang anaknya dengan pertanyaan yang tidak diucapkan.

Ketika piring sudah setengah kosong, Zhao Fei meletakkan sendok dan berkata dengan tenang, "Ibu pasti akan sembuh seperti dulu bahkan lebih baik. Aku berjanji."

Ming Lianhua sampai dibuat bisu olehnya. Dua puluh tahun, tidak pernah satu kali pun dia mendengar anaknya berbicara dengan nada seperti itu. Sebuah pernyataan yang terdengar seperti keputusan yang sudah dibuat dan tidak bisa dibatalkan.

"Aku juga akan masuk Sekte Garuda Putih," lanjutnya. "Dan aku akan berhasil masuk."

"Nak..." Ming Lianhua mengangkat tangannya yang kurus dan menyentuh pipi anaknya dengan lembut. "Sekte itu sangat sulit. Banyak orang berbakat yang gagal di seleksinya."

"Aku tahu." Zhao Fei tidak mengelak dari sentuhan itu. "Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak akan gagal."

Ada jeda panjang di antara mereka, sebelum Ming Lianhua merangkul anaknya. Pelukannya itu ringan karena tubuhnya memang tidak punya banyak tenaga, tapi Zhao Fei diam saja di sana, membiarkan tubuh ini merasakan apa yang sudah lama tidak dirasakannya.

Dalam hati, dalam bagian terdalam kesadarannya yang tenang itu, dia mengulang janjinya sekali lagi, kali ini bukan untuk Ming Lianhua, melainkan untuk arwah pemuda yang memberikan tubuh ini padanya.

Semua yang kau impikan akan terwujud. Itu janji seorang dewa.

Terpopuler

Comments

Aman Wijaya

Aman Wijaya

jooooz jiiizz Zhao Fei lanjut

2026-06-18

2

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

Mantap 👍

2026-07-08

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2 Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3 Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4 Bab 4: Ujian Kedua
5 Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6 Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7 Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8 Bab 8: Tabib Wen
9 Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10 Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11 Bab 11: Keraguan
12 Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13 Bab 13: Misteri Cincin
14 Bab 14: Pedang yang Kembali
15 Bab 15: Tabib Dadakan
16 Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17 Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18 Bab 18: Para Pencari Masalah
19 Bab 19: Satu Lawan Tiga
20 Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21 Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22 Bab 22: Kembali ke Sekte
23 Bab 23: Divisi Legendaris
24 Bab 24: Sungai Naga Hijau
25 Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26 Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27 Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28 Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29 Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30 Bab 30: Pil
31 Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32 Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33 Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34 Bab 34: Salah Tangkap
35 Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36 Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37 Bab 37: Dua Api
38 Bab 38: Kembalinya Diriku
39 Bab 39: Menuju Puncak
40 Bab 40: Jejak Naga
41 Bab 41: Kamar yang Sama
42 Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43 Bab 43: Naga Giok Biru
44 Bab 44: Kombinasi Baru
45 Bab 45: Tiga di Perbatasan
46 Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47 Bab 47: Domain Itu Lagi
48 Bab 48: Tameng Terakhir
49 Bab 49: Gerbang Terakhir
50 Bab 50: Danau Haitian
51 Bab 51: Pemberi Kabar
52 Bab 52: Guci Giok
53 Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54 Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55 Bab 55: Kejutan Maut
56 Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57 Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58 Bab 58: Kolam Terlarang
59 Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60 Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61 Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62 Bab 62: Lari atau Mati
63 Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64 Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65 Bab 65: Selir yang Setia
66 Bab 66: Xiao Ling
67 Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68 Bab 68: Tragedi Long Dian
69 Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70 Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71 Bab 71: Di Balik Benteng
72 Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73 Bab 73: Membangun Kebencian
74 Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75 Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76 Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77 Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78 Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79 Bab 79: Tahun Penantian
80 Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81 Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82 Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83 Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84 Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85 Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86 Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87 Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88 Bab 88 : Panah Terakhir
89 Bab 89: Segel Terakhir
90 Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91 Bab 91: Percikan Pertama
92 Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93 Bab 93: Neraka yang Padam
94 Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95 Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96 Bab 96: Jangkar yang Hilang
97 Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98 Bab 98: Cermin Kematian
99 Bab 99: Cincin Kedua
100 Bab 100: Babak yang Baru
101 Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102 Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103 Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104 Bab 104: Tipuan di Atas Air
105 Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106 Bab 106: Catatan Takdir
107 Bab 107: Yin dan Yang
108 Bab 108: Tugas adalah Tugas
109 Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110 Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111 Bab 111: Lompatan Iman
112 Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113 Bab 113: Api Pembalasan
114 Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115 Bab 115: Tawaran dan Darah
116 Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117 Bab 117: Angin dari Timur
118 Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119 Bab 119: Serigala di Kegelapan
120 Bab 120: Pulang dengan Selamat
121 Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122 Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123 Bab 123: Toko Sejarawan
124 Bab 124: Koin Roh
125 Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126 Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127 Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128 Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129 Bab 129: Usai Gerimis
130 Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131 Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132 Bab 132: Tarian Penyesalan
133 Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134 Bab 134: Langit Mendung
135 Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136 Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137 Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138 Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139 Bab 139: Dari Tebing Kosong
140 Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141 Bab 141: Singgasana Perkenalan
142 Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143 Bab 143: Ilusi Berduri
144 Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145 Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146 Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147 Bab 147: Lautan Kerangka
148 Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149 Bab 149: Pedang Jeongyun
150 Bab 150: Aura yang Berbeda
151 Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152 Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153 Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154 Bab 154: Konsolidasi
155 Bab 155: Mata yang Mengawasi
156 Bab 156: Bukan Senior
157 Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158 Bab 158: Kejutan
159 Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160 Bab 160: Diizinkan Hidup
161 Bab 161: Negosiator
162 Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163 Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164 Bab 164: Pedang Phoenix
165 Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166 Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167 Bab 167: Perang Telah Dimulai
168 Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169 Bab 169: Di Kandang Harimau
170 Bab 170: Kalah Jumlah
171 Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172 Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173 Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174 Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175 Bab 175: Feng
176 Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177 Bab 177: Yang Paling Spesial
178 Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179 Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180 Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181 Bab 181: Klan Tang
182 Bab 182: Duel Bambu
183 Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab
Episodes

Updated 183 Episodes

1
Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2
Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3
Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4
Bab 4: Ujian Kedua
5
Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6
Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7
Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8
Bab 8: Tabib Wen
9
Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10
Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11
Bab 11: Keraguan
12
Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13
Bab 13: Misteri Cincin
14
Bab 14: Pedang yang Kembali
15
Bab 15: Tabib Dadakan
16
Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17
Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18
Bab 18: Para Pencari Masalah
19
Bab 19: Satu Lawan Tiga
20
Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21
Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22
Bab 22: Kembali ke Sekte
23
Bab 23: Divisi Legendaris
24
Bab 24: Sungai Naga Hijau
25
Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26
Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27
Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28
Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29
Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30
Bab 30: Pil
31
Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32
Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33
Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34
Bab 34: Salah Tangkap
35
Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36
Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37
Bab 37: Dua Api
38
Bab 38: Kembalinya Diriku
39
Bab 39: Menuju Puncak
40
Bab 40: Jejak Naga
41
Bab 41: Kamar yang Sama
42
Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43
Bab 43: Naga Giok Biru
44
Bab 44: Kombinasi Baru
45
Bab 45: Tiga di Perbatasan
46
Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47
Bab 47: Domain Itu Lagi
48
Bab 48: Tameng Terakhir
49
Bab 49: Gerbang Terakhir
50
Bab 50: Danau Haitian
51
Bab 51: Pemberi Kabar
52
Bab 52: Guci Giok
53
Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54
Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55
Bab 55: Kejutan Maut
56
Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57
Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58
Bab 58: Kolam Terlarang
59
Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60
Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61
Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62
Bab 62: Lari atau Mati
63
Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64
Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65
Bab 65: Selir yang Setia
66
Bab 66: Xiao Ling
67
Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68
Bab 68: Tragedi Long Dian
69
Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70
Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71
Bab 71: Di Balik Benteng
72
Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73
Bab 73: Membangun Kebencian
74
Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75
Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76
Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77
Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78
Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79
Bab 79: Tahun Penantian
80
Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81
Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82
Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83
Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84
Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85
Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86
Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87
Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88
Bab 88 : Panah Terakhir
89
Bab 89: Segel Terakhir
90
Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91
Bab 91: Percikan Pertama
92
Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93
Bab 93: Neraka yang Padam
94
Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95
Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96
Bab 96: Jangkar yang Hilang
97
Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98
Bab 98: Cermin Kematian
99
Bab 99: Cincin Kedua
100
Bab 100: Babak yang Baru
101
Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102
Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103
Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104
Bab 104: Tipuan di Atas Air
105
Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106
Bab 106: Catatan Takdir
107
Bab 107: Yin dan Yang
108
Bab 108: Tugas adalah Tugas
109
Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110
Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111
Bab 111: Lompatan Iman
112
Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113
Bab 113: Api Pembalasan
114
Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115
Bab 115: Tawaran dan Darah
116
Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117
Bab 117: Angin dari Timur
118
Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119
Bab 119: Serigala di Kegelapan
120
Bab 120: Pulang dengan Selamat
121
Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122
Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123
Bab 123: Toko Sejarawan
124
Bab 124: Koin Roh
125
Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126
Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127
Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128
Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129
Bab 129: Usai Gerimis
130
Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131
Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132
Bab 132: Tarian Penyesalan
133
Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134
Bab 134: Langit Mendung
135
Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136
Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137
Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138
Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139
Bab 139: Dari Tebing Kosong
140
Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141
Bab 141: Singgasana Perkenalan
142
Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143
Bab 143: Ilusi Berduri
144
Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145
Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146
Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147
Bab 147: Lautan Kerangka
148
Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149
Bab 149: Pedang Jeongyun
150
Bab 150: Aura yang Berbeda
151
Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152
Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153
Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154
Bab 154: Konsolidasi
155
Bab 155: Mata yang Mengawasi
156
Bab 156: Bukan Senior
157
Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158
Bab 158: Kejutan
159
Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160
Bab 160: Diizinkan Hidup
161
Bab 161: Negosiator
162
Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163
Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164
Bab 164: Pedang Phoenix
165
Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166
Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167
Bab 167: Perang Telah Dimulai
168
Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169
Bab 169: Di Kandang Harimau
170
Bab 170: Kalah Jumlah
171
Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172
Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173
Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174
Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175
Bab 175: Feng
176
Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177
Bab 177: Yang Paling Spesial
178
Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179
Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180
Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181
Bab 181: Klan Tang
182
Bab 182: Duel Bambu
183
Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!