Wei Long masih suka caranya berceramah tanpa jeda. Itu lebih mirip kijang yang melompat dari kata ke kata, dia menjelaskan semuanya tanpa lelah.
Pedangnya masih menembus perut Zhao Fei. Darah terus terjun ke air sungai, menyebar dalam pola merah yang perlahan melebar. Namun alih-alih menghabisi lawannya, Long Wei justru mulai bicara.
“Tempat ini,” matanya menerawang ke arah mulut gua di atas mereka, “aku merawatnya sendiri. Aku yang membersihkan debu dari gulungan-gulungan itu. Aku yang memastikan lilin abadi tetap menyala tanpa padam. Aku yang menjaga tempat ini, tanpa sepengetahuan Sekte Naga Hitam, tanpa sepengetahuan siapa pun.”
Suaranya melembut sedikit. “Klan ini penting baginya. Jadi klan ini penting bagiku.”
Zhao Fei mendengarkan semuanya dengan pedang masih tertancap di perutnya. Wajahnya pucat biru, keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Namun dia tidak menjerit. Tidak pula memohon. Sebagai gantinya, dia malah tertawa getir nan parau menahan sakit yang luar biasa.
“Kalau kau benar-benar peduli,” kata Zhao Fei, “kenapa Klan Long membiarkan semua keburukan itu terjadi dulu? Kenapa kalian hanya diam saja saat Klan Liu dan Klan Zhao saling menghancurkan satu sama lain?”
Long Wei mendorong pedangnya lebih dalam. “Jangan bicara seolah kau tahu segalanya.”
“Tadi kau bilang ayahmu tidak pernah berbohong,” lanjut Zhao Fei, tidak gentar sedikit pun. “Tapi kurasa... ayah dan anak sama-sama menyukai omong kosong.”
Long Wei pun berteriak, emosi yang selama ini dia tahan membara seketika. Urat-urat di lehernya menonjol jelas. Tangannya yang menggenggam pedang bergetar hebat saat mendorong pedang itu lebih kuat, lebih dalam, seolah ingin membungkam kalimat sinis yang baru saja keluar.
Namun Zhao Fei tersenyum di tengah rasa sakit itu. “Omong kosongmu itu... memakan waktu,” bisiknya. “Dan waktu itu... cukup untukku mengumpulkan kekuatan.”
Mata Long Wei terbuka lebar. Terlambat sudah. Petir biru meledak dari tubuh Zhao Fei, dari darah yang bercampur dengan air sungai di sekelilingnya. Aliran listrik itu menjalar cepat melalui pedang yang masih menembus tubuhnya, merambat ke tangan Long Wei, lalu ke seluruh tubuh pria itu tanpa ampun.
Long Wei terpental jauh. Tubuhnya menghantam permukaan sungai lalu tenggelam ke dalam air yang masih hitam pekat.
Sementara Zhao Fei berdiri seorang diri di sana. Pedang Long Wei masih menembus perutnya dan dia tidak berani mencabutnya sekarang lantaran khawatir pendarahan akan semakin parah. Dia pun terhuyung disusul pandangannya mulai mengabur di tepi-tepinya. Masalahnya Yang Mulia tidak boleh kehilangan kesadaran sekarang. Bukan di sini. Pertarungan belum tentu selesai.
Namun tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi lebih lama. Lututnya melemas seketika. Dia mulai jatuh ke depan, ke arah air yang mengalir tenang tepat sebelum auman menggelegar keras di seluruh jurang.
Zhao Fei, yang sudah setengah sadar, merasakan sesuatu mencengkeram kerah bajunya. Gigi besar yang kuat kala dirinya ditarik naik, keluar dari air, ke atas punggung sesuatu yang hangat dan berbulu tebal.
Matanya sempat menangkap sekilas, bulu putih bersih. Garis-garis hitam tegas. Tubuh sebesar kerbau dewasa.
Di atas punggung harimau itu, seseorang duduk tenang. Seseorang yang sudah lama sekali tidak dia temui. Namun sebelum dia sempat memastikan siapa orang itu dengan pasti, kesadarannya lenyap sepenuhnya, tenggelam ke dalam kegelapan.
Zhao Fei membuka matanya perlahan entah berapa lama setelah pertarungan itu.
Bau rempah herbal langsung menyerbu penciumannya, menyengat tapi terasa familiar. Dia mengenali aroma ini karena pernah menciumnya sebelumnya di sebuah rumah kayu di lereng Gunung Cemara.
Dia melihat ke bawah. Tubuhnya diperban rapi, di perut, di dada, di lengan. Perban itu diikat dengan simpul yang dia kenali betul. Simpul khas seorang tabib tua yang eksentrik.
Zhao Fei menoleh demi menatap dinding kayu yang mengelilinginya. Ranjang dilapisi bulu domba dan bulu beruang yang terasa menghangatkan tubuhnya. Jendela kecil memperlihatkan pepohonan hijau di luar sana, berayun ditiup angin.
Adapun dari balik pintu itu, terdengar dengkuran yang hanya mungkin berasal dari seekor harimau putih raksasa.
“BaoBao! Sudah kubilang jangan tidur di depan pintu! Bagaimana aku mau masuk kalau kau melintang seperti itu?!”
Pintu terbuka, atau lebih tepatnya didorong paksa sambil menggerutu kesal. Tabib Wen masuk dengan semangkuk bubur di tangannya, melihat Zhao Fei yang sudah duduk di ranjang. Wajahnya yang penuh kerutan langsung berubah, dari kesal pada harimau kesayangannya menjadi sesuatu yang jauh lebih lembut.
“Oh,” ucapnya, meletakkan mangkuk di meja kecil dekat ranjang. “Kau sudah bangun rupanya.”
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi
Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 184 Episodes
Comments